Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

ANALISIS POTENSI BAHAYA DAN PENILAIAN RISIKO PADA AREA QUARRY (TAMBANG BATU KAPUR) PT. SEMEN BOSOWA MAROS TAHUN 2015 Hasbi Ibrahim; Syahrul Basri; Aswarin Prastiani
Al-Sihah : The Public Health Science Journal Volume 7, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (402.798 KB) | DOI: 10.24252/as.v7i2.2011

Abstract

Kasus kecelakaan kerja pada skala nasional relatif tinggi dan semakin meningkat tiap tahunnya. PT. Semen Bosowa Maros merupakan industri yang tempat kerjanya memiliki ragam potensi bahaya, dikarenakan banyaknya alur proses produksi yang terdapat pada industri ini. Dimulai dari penambangan batu kapur hingga pengemasan. Tujuan penelitian ini ialah untuk menganalisis potensi bahaya serta menilai risiko pada area Quarry (tambang) PT. Semen Bosowa Maros. Penelitian ini merupakan Survey Deskriptif, dengan metode analisis risiko berdasarkan ISO 31000:2009 tentang Manajemen Risiko. Populasi adalah seluruh karyawan di area Quarry (Tambang Batu Kapur) PT. Semen Bosowa Maros dengan jumlah 74 karyawan dan sampel diambil secara total sampling, sampel pada penelitian ini berjumlah 74 pekerja, di unit Planning berjumlah 24 pekerja, unit Produksi berjumlah 30 pekerja, dan unit Hauling berjumlah 20 pekerja. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa di departemen quarry pada unit planning level risiko tertinggi adalah high sebesar 40% dengan potensi bahaya tingginya intensitas debu dan dozer terguling, sedangkan level risiko terendah adalah low sebesar 20% dengan potensi bahaya tidak menggunakan safety belt. Pada unit produksi level risiko tertinggi adalah extreme sebesar 11,1% dengan potensi bahaya kebakaran pada alat bor, sedangkan level risiko terendah adalah medium sebesar 66,7% dengan potensi bahaya yaitu, heat rash, drum truk terguling, material menggantung, operator tidak menggunakan earplug dan earmuff, dan sebagainya. Selanjutnya pada unit Hauling, level risiko tertinggi adalah extreme sebesar 12,5% dengan potensi bahaya operator tidak menggunakan helm, sedangkan level risiko terendah adalah medium sebesar 75% dengan potensi bahaya, yaitu heat rash, dan sebagainya. Diharapkan bagi peneliti selanjutnya perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang analisis potensi bahaya dan penilaian risiko, dengan melanjutkannya hingga ketahap manajemen risiko berikuttnya yaitu evaluasi risiko dan pengendalian risiko
Faktor-Faktor yang Berhubungan Dengan Stres Kerja Pada Pekerja Factory 2 PT. Maruki Internasional Indonesia Makassar Tahun 2016 Hasbi Ibrahim; Munawir Amansyah; Githa Nurfaridha Yahya
Al-Sihah : The Public Health Science Journal Volume 8, Nomor 1, Tahun 2016
Publisher : Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (414.555 KB) | DOI: 10.24252/as.v8i1.2082

Abstract

Penyebab utama stres kerja adalah tuntutan pekerjaan yang tidak sesuai dengan kemampuan atau keterampilan pekerja, keinginan atau aspirasi yang tidak tersalurkan dan ketidakpuasan dalam bekerja. Dari potensi terjadinya stres kerja perlu dilakukan uji hubungan untuk melihat faktor apa saja yang berhubungan dengan stres kerja. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan stres kerja pada pekerja factory 2 PT. Maruki Internasional Indonesia Makassar. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan deskriptif dengan populasinya adalah seluruh pekerja yang bekerja di factory 2. Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh dari pekerja yang ada di factory 2. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa pekerja yang mengalami stres kerja berat sebesar 11 orang (34,4%) dan mengalami stres ringan sebanyak 21 orang (65,6%). Kemudian dari hasil analisis bivariat, diperoleh tidak ada faktor yang berhubungan dengan stres kerja. Hubungan umur dengan stres kerja p=0,70, hubungan masa kerja dengan stres kerja p=0,70, hubungan beban kerja dengan stres kerja p=0,13, hubungan upah kerja dengan stres kerja p=0,70, hubungan risiko lingkungan kerja dengan stres kerja p=0,50, hubungan antara hubungan kerja dengan stres kerja p=0,70. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, maka ada beberapa saran yang dapat direkomendasikan kepada pihak perusahaan agar melakukan teknik manajemen stres yang tepat dan sesuai, berupa pengaturan fasilitas dalam ruangan kerja secara memadai untuk lingkungan kerja dan beban kerja. Pihak instansi dapat menyediakan tempat kerja dibagian mengukir yang pencahayaannya sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. 
Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Keluhan Gangguan Pendengaran Pada Tenaga Kerja Bagian Produksi PT. Japfa Comfeed Indonesia, Tbk. Unit Makassar Tahun 2014 Hasbi Ibrahim; Syahrul Basri; Zainal Hamzah
Al-Sihah : The Public Health Science Journal Volume 8, Nomor 2, Tahun 2016
Publisher : Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (699.432 KB) | DOI: 10.24252/as.v8i2.2659

Abstract

Kemajuan teknologi di sektor industri, telah berhasil menciptakan berbagai macam produk mesin yang dalam pengoperasiannya seringkali menghasilkan polusi suara atau timbulnya bising di tempat kerja. Suara bising, salah satu efek dari sektor industri dapat menimbulkan gangguan pendengaran atau ketulian pada seseorang yang bekerja atau berada di lingkungan industri. Setiap pekerja yang terpajan kebisingan mempunyai risiko untuk mengalami gangguan pendengaran.Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui hubungan antara faktor risiko dengan keluhan gangguan pendengaran pada tenaga kerja bagian produksi PT. JAPFA Comfeed Indonesia, Tbk. Unit Makassar Tahun 2014.Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan desain penelitian cross sectional yaitu suatu penelitian dimana faktor independen dan dependennya diteliti secara bersamaan, dalam periode waktu yang sama. Untuk memperoleh data di lapangan dilakukan dengan cara pengukuran intensitas kebisingan pada area kerja produksi dan penyebaran kuesioner kepada 46 responden yang sedang bekerja pada bagian produksi PT. Japfa Comfeed Indonesia, Tbk. Unit Makassar tahun 2014.Hasil penelitian menunjukkan bahwa  terdapat hubungan antara intensitas kebisingan (P=0,000), lama kerja (P=0,05), masa kerja (P=0,002), umur pekerja (P=0,003) dan pemakaian alat pelindung telinga (P=0,029) dengan keluhan gangguan pendengaran pada tenaga kerja bagian produksi PT. Japfa Comfeed Indonesia, Tbk. Unit Makassar tahun 2014.Untuk mengurangi risiko keluhan gangguan pendengaran pada pekerja bagian produksi, maka direkomendasikan untuk menggunakan alat pelindung telinga (APT) yang sesuai standar (safety ear plug dan ear muff). 
Gambaran Faktor Risiko Kecelakaan Kerja Pada Departemen Produksi Bahan Baku di PT. Semen Tonasa Kabupaten Pangkep Tahun 2016 Hasbi Ibrahim; Munawir Amansyah; Nur Amalia Wahyuni Tahir
Al-Sihah : The Public Health Science Journal Volume 9, Nomor 1, Tahun 2017
Publisher : Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (324.294 KB) | DOI: 10.24252/as.v9i1.3145

Abstract

Faktor risiko merupakan hal-hal yang terkait dengan kemungkinan kecelakaan kerja akan terjadi dan dapat mengakibatkan kerusakan. Kecelakaan akibat kerja pada dasarnya disebabkan oleh tiga faktor yaitu faktor manusia, pekerjaanya dan faktor lingkungan di tempat kerja. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui gambaran setiap variabel yang diteliti sebagai faktor risiko kecelakaan kerja pada departemen produksi bahan baku (tambang)  PT.Semen Tonasa desa biringere, kecamatan bungoro, kabupaten pangkep. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain studi deskriptif yang bertujuan untuk mengetahui kisaran frekuesi atau distribusi dari variabel yang diteliti. Dengan populasi 146 responden dengan menggunakan teknik total sampling yaitu jumlah populasi sama dengan jumlah sampel. Adapun instrument penelitian yaitu menggunakan kuesioner yang diberikan kepada responden serta menggunakan lembar observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa umur muda (<30 tahun) lebih banyak mengalami kecelakaan kerja yaitu 35,6%,  masa kerja lama (>3tahun) lebih banyak mengalami kecelakaan kerja yaitu 46,6%, yang menggunakan APD lebih banyak mengalami kecelakaan kerja yaitu 32,9%, shift kerja yang mengalami kecelakaan kerja yaitu 30,1%, lama kerja dengan waktu kerja sebanyak 14 jam yang mengalami kecelakaan kerja yaitu 60,3%. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, maka ada beberapa saran yang dapat direkomendasikan kepada pihak perusahaan yaitu pentingnya perusahaan melakukan pengecekkan alat-alat penunjang keselamatan pekerja, menambah pekerja diarea tambang khusunya untuk sopir sehingga dapat melakukan pergantian waktu kerja, pentingnya memberikan rambu-rambu jalan sepanjang area tambang, serta pentingnya meningkatkan pengawasan mengenai kedisiplinan penggunaan alat pelindung diri (APD) kepada tenaga kerja. 
Gambaran Penerapan Standar Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja Rumah Sakit di Rumah Sakit Umum Daerah Haji Makassar Hasbi Ibrahim; Dwi Santy Damayati; Munawir Amansyah; Sunandar Sunandar
Al-Sihah : The Public Health Science Journal Volume 9, Nomor 2, Tahun 2017
Publisher : Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (422.155 KB) | DOI: 10.24252/as.v9i2.3769

Abstract

Rumah Sakit merupakan tempat kerja yang sarat dengan  potensi  bahaya kesehatan   dan   keselamatan   kerja. Berbagai   penelitian    menunjukan   bahwa prevalensi  gangguan  kesehatan  yang terjadi  di  fasilitas  kesehatan  lebih  tinggi dibandingkan  tempat  kerja  lainnya. Penerapan standar manajemen keselamatan dan kesehatan kerja Rumah Sakit merupakan bentuk upaya mengurangi risiko kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja di Rumah Sakit. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Tujuan penelitian ini   adalah   untuk   mengetahui   gambaran   penerapan   standar   manajemen keselamatan dan kesehatan kerja Rumah Sakit di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD)  Haji  Makassar.  Hasil  penelitian  menunjukan  bahwa  RSUD  Haji Makassar telah menerapkan standar keselamatan dan kesehatan kerja Rumah Sakit dengan  baik  sesuai  dengan  Kepmenkes  No.1087/MENKES/VIII/2010.  RSUD Haji Makassar telah menetapkan kebijakan terkait pelaksanaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja. RSUD Haji Makassar telah melakukan pelayanan Keselamatan dan Kesehatan kerja. RSUD Haji Makassar melaksanakan standar manajemen keselamatan dan kesehatan kerja. RSUD Haji Makassar telah melaksanakan pengelolaan bahan berbahaya dan beracun (B3). RSUD Haji Makassar telah melaksanakan program penanganan kejadian ketanggap daruratan. RSUD Haji Makassar telah melakukan pencatatan, pelaporan, evaluasi dan audit keselamatan dan kesehatan kerja dengan baik. Implikasi dari penelitian ini adalah Rumah Sakit diharapkan mampu mengembangkan program program K3 di Rumah Sakit dan melakukan kegiatan sosialisasi dan simulasi secara rutin sehingga tercipta suasana aman dan sehat di lingkungan Rumah Sakit.  
Faktor-Faktor yang Berhubungan Dengan Keluhan Computer Vision Syndrom Pada Pekerja Operator Komputer di PT. Semen Tonasa Pangkep Hasbi Ibrahim; Syahrul Basri; Muhammad Saleh Jastam; Iman Kurnianda
Al-Sihah : The Public Health Science Journal Volume 10, Nomor 1, Tahun 2018
Publisher : Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (656.374 KB) | DOI: 10.24252/as.v10i1.5422

Abstract

American Optometric Association (AOA) mendefinisikan Computer Vision Syndrom sebagai gangguan mata komplek dan masalah penglihatan yang berkaitan dengan kegiatan yang lama dilakukan di depan computer. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan keluhan Computer Vision Syndrom pada Pekerja Operator Computer di PT. Semen Tonasa. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan pendekatan Cross Sectional Study.Populasinya adalah seluruh Pekerja Operator Computer, selama periode penelitian yaitu sebanyak 33 orang di PT. Semen Tonasa. Pengambilan sampel dilakukan dengan cara total sampling. Data primer dikumpulkan dengan teknik wawancara menggunakan kuesioner sedangkan data sekunder menggunakan data rekam medik untuk mengetahui jumlah responden.Data dianalisis secara univariat dan bivariat. Uji yang digunakan adalah Chi Square untuk mengetahui hubungan.Hasil penelitian menunjukkan pada shift 1 sebanyak 66,7% (22 orang), pada shift 2 sebanyak 57.6% (19 orang) dan shift 3 sebanyak 75.8 (25 orang) mengalami computer vision syndrom. Dari  6 (enam) variabel istirahat mata shift 1 (p=0.452) dengan RP=1.3, shift 2 (p=0.033) dengan RP=2.3, shift 3 (p=0,420) dengan RP=1.4, frekuensi kedipan shift 1 (p=0.886) dengan RP=1.17, shift 2 (p=0.340) dengan RP=1.6, shift 3 (p=0,420) dengan RP=1.4, Durasi kerja shift 1 (p= - ) dengan RP=1 shift 2 (p= - ) dengan RP=1, shift 3 (p= - ) dengan RP=1. masa kerja shift 1 (p=0.019) dengan RP=2.0, shift 2 (p=0.027) dengan RP=2.3, shift 3 (p=0,614) dengan RP=1.2, Jarak Monitor shift 1 (p= - ) dengan RP=1 shift 2 (p= - ) dengan RP=1, shift 3 (p= - ) dengan RP=1, pencahayaan shift 1 (p= 0.893 ) dengan RP=1.15, shift 2 (p= 1 ) dengan RP=1.18, shift 3 (p= 979 ) dengan RP=1.54. Disarankan kepada pekerja agar memperhatikan pola istirahat pada saat bekerja dan hendaknya monitor di setiap ruang kerja di pasangi dengan anti glare dan melakukan check up rutin terkhusus bagi kesehatan matanya. 
Hubungan Upah Kerja dan Gaya Kepemimpinan Terhadap Produktivitas Kerja Karyawan UD. Mitra Philips Seafood Indonesia di Kabupaten Muna Provinsi Sulawesi Tenggara Hasbi Ibrahim; Irviani Anwar Ibrahim; Muhammad Rusmin; Sri Safitri Tambunga
Al-Sihah : The Public Health Science Journal Volume 10, Nomor 2, July-December 2018
Publisher : Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (730.89 KB) | DOI: 10.24252/as.v10i2.6871

Abstract

Masalah produktivitas ini hampir semua dialami oleh setiap perusahaan. Oleh karena itu, perusahaan memberikan motivasi kepada karyawan dengan memberikan upah yang tinggi serta disiplin kerja harus di tingkatkan.Selain upah, faktor lain yang perlu di perhatikan oleh perusahaan adalah gaya kepemimpinan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan upah kerja dan gaya kepemimpinan terhadap produktivitas kerja karyawanUD.Mitra Philips Seafood Indonesia di Kabupaten Muna Provinsi Sulawesi Tenggara.Jenis penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif, dengan menggunakan pendekatan cross sectional study. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode total sampling yaituberjumlah 30 responden. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu data primer dan data sekunder.Hasil penelitian menununjukkan bahwa dari 30 orang responden terdapat 25orang (83,3%) responden yang memiliki upah sesuai dengan UMR yaitu ≥ Rp.2.002.652 dan 5 orang (16,7%) responden yangmemiliki upah dibawa UMR yaitu < Rp.2.002.652. Berdasarkan hasil uji statistik chi-square menunjukkan tidak ada hubungan antara upah kerja dengan produktivitas kerja (p value =0,593). Sedangkan variabel gaya kepemimpinan berhubungan terhadap produktivitas kerjaberdasarkan hasil statistik 19 orang (63,3 %) responden merasakan gaya kepemimpinan baik dan 11orang (36,7 %) responden merasakan gaya kepemimpinan kurang baik (p value =0,057). Karyawan disarankan untuk tetap memaksimalkan produktivitasnya, baik bagi karyawan yang memiliki produktivitas maksimal maupun karyawan yang produktivitasnya belum maksimal. Pimpinanperlu tetap mempertahankan bahkan jika perlu menciptakan suasana kerja yang mampu merangsang produktivitas karyawan yang lebih tinggi.
Gambaran Penatalaksanaan Program KB Melalui Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) di Kecamatan Ujung pandang Kota Makassar Muhammad Rusmin; Muhammad Fais Satrianegara; Hasbi Ibrahim; Abdul Majid HR. Lagu; Nur Rahma
Al-Sihah : The Public Health Science Journal Volume 11, Nomor 1, January-June 2019
Publisher : Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (637.04 KB) | DOI: 10.24252/as.v11i1.9424

Abstract

MKJP (Metode Kontrasepsi Jangka Panjang) terdiri atas alkon Implant, IUD, MOP dan MOW merupakan bagian dari program KB untuk mengatisipasi tingginya jumlah kepadatan penduduk di Indonesia. Selama tiga tahun terakhir program MKJP Kota Makassar terus meningkat mulai tahun 2014 sebanyak 5.459 akseptor dan meningkat ditahun 2015 sebanyak 6.693 akseptor kemudian meningkat lagi ditahun 2016 sebanyak 7.010 akseptor serta peningkatan terbanyak di Kota Makassar berada di Kecamatan Ujung Pandang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran penatalaksanaan melalui perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengawasan serta evaluasi program KB MKJP di Balai KB Kecamatan Ujung Pandang Tahun 2017. Desain penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus melalui teknik wawancara mendalam.Penentuan informan menggunakan teknik purposivesamplingsebanyak 11 responden.Hasil Penelitian: (1) perencanaan operasional rutin dilaksanaan dalam kegiatan staf meeting untuk menyusun beberapa kegiatan yang efektif dan efisien untuk mencapai target yang diberikan oleh DPPKB Kota Makassar namun perencanaan jangka panjang belum ada di Balai KB Kecamatan Ujung Panjang. (2) kepala UPT dan PLKB telah menjalankan tugas sesuai SOP yang ada dengan mengkoordinir seluruh penyuluh KB untuk mensosialisasikan dan mengajak PUSagar beralih dan menggunakan salah satu alkon jangka panjang. (3) pelaksanaan program KB melalui MKJP dimulai dengan sosialisasi oleh PLKB untuk menggunakan alkon jangka panjang, PUS akan mendapat konseling awal dan pilihan untuk menuju ke tempat pelayanan KB atau menunggu pelayanan KB mobile. (4) seluruh kegiatan dimonitoring langsung oleh DPPKB Kota Makassar melalui kehadiran, buku visum dan beberapa laporan yang dibuat serta hasil pencapaian setiap bulan yang rutin dikirim ke DPPKB Kota Makassar. (5) evaluasirutin dilaksanakan saat melaksanakan kegiatan staf meetingdemi tercapainya keluarga kecil, bahagia dan sejahtera.
Hubungan Upah Kerja dan Gaya Kepemimpinan Terhadap Produktivitas Kerja Karyawan UD. Mitra Philips Seafood Indonesia Di Kabupaten Muna Provinsi Sulawesi Tenggara Hasbi Ibrahim; Muhammad Fais Satrianegara; Muhammad Rusmin; Sri Safitri Tambunga
Al-Sihah : The Public Health Science Journal Volume 11, Nomor 2, July-December 2019
Publisher : Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (787.389 KB) | DOI: 10.24252/as.v11i2.11928

Abstract

Masalah produktivitas ini hampir semua dialami oleh setiap perusahaan. Oleh karena itu, perusahaan memberikan motivasi kepada karyawan dengan memberikan upah yang tinggi serta disiplin kerja harus di tingkatkan.Selain upah, faktor lain yang perlu di perhatikan oleh perusahaan adalah gaya kepemimpinan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan upah kerja dan gaya kepemimpinan terhadap produktivitas kerja karyawanUD.Mitra Philips Seafood Indonesia di Kabupaten Muna Provinsi Sulawesi Tenggara.Jenis penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif, dengan menggunakan pendekatan cross sectional study. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode total sampling yaituberjumlah 30 responden. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu data primer dan data sekunder.Hasil penelitian menununjukkan bahwa dari 30 orang responden terdapat 25orang (83,3%) responden yang memiliki upah sesuai dengan UMR yaitu ≥ Rp.2.002.652 dan 5 orang (16,7%) responden yangmemiliki upah dibawa UMR yaitu < Rp.2.002.652. Berdasarkan hasil uji statistik chi-square menunjukkan tidak ada hubungan antara upah kerja dengan produktivitas kerja (p value =0,593). Sedangkan variabel gaya kepemimpinan berhubungan terhadap produktivitas kerjaberdasarkan hasil statistik 19 orang (63,3 %) responden merasakan gaya kepemimpinan baik dan 11orang (36,7 %) responden merasakan gaya kepemimpinan kurang baik (p value =0,057). Karyawan disarankan untuk tetap memaksimalkan produktivitasnya, baik bagi karyawan yang memiliki produktivitas maksimal maupun karyawan yang produktivitasnya belum maksimal. Pimpinanperlu tetap mempertahankan bahkan jika perlu menciptakan suasana kerja yang mampu merangsang produktivitas karyawan yang lebih tinggi.Kata Kunci :Upah Kerja, Gaya Kepemimpinan, Produktivias Kerja 
The administrative service system of patient reception at regional public hospital Deby Rara Yolanda; Sitti Raodhah; Hasbi Ibrahim
Al-Sihah : The Public Health Science Journal Volume 12, Nomor 1, January-June 2020
Publisher : Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (562.623 KB) | DOI: 10.24252/as.v12i1.14393

Abstract

In Indonesia, the most commonly used health insurance is the service issued by Badan Penyelenggara Jaminan Social or BPJS (Social Security Administration) that collaborates with many hospitals such as H. AndiDaengRddja Regional Public Hospital in Bulukumba Regency. The purpose of this study was to determine the administrative service system implemented by the hospital in accepting BPJS patients in the emergency room. This research uses qualitative approach with a case study as the research design. The research data are obtained through in-depth interviews. In addition to that, this research collects its research data through field observations and a review of related previous studies. The findings reveal that the hospital management applies the following strategies in the division of administrative services: (1) planning through trainings and workshops provided for the human resources as well as the formulation of RUK and RPK; (2) organising through trainings involving a number of institutions within Regional Public Hospital; (3) actuating through an execution of administrative services for BPJS users; (4) controlling  through supervision facilitated by the hospital management; (5) evaluating that addresses the process of human resources quality promotion through databased information trainings. In conclusion, the findings of this research are hoped to provide insights that can be useful for the hospital management specifically the emergency unit to improve their performance in providing services for BPJS users. They can start by assessing the development and training, program execution and evaluation aspects as well as by improving the facilities and infrastructure.