Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Gema Wiralodra

POLA OSMOREGULASI UDANG VANNAMEI (LITOPENAEUS VANNAMEI) DEWASA YANG DIABLASI DAN DIKULTIVASI PADA BERBAGAI TINGKAT SALINITAS Salsabiela, Mutiara
Gema Wiralodra Vol 11 No 1 (2020): Gema Wiralodra
Publisher : Universitas Wiralodra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31943/gemawiralodra.v11i1.117

Abstract

Salinitas media berperan dalam mengendalikan proses molting dan osmoregulasi udang tidak terkecuali Litopenaeus vannamei, sehingga rentang optimum salinitas media pada berbagai fase molting perlu diketahui sebagai landasan untuk pengaturan media yang optimum, sehingga pertumbuhan dan kelulushidupannya diharapkan menjadi optimum pulaTujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji pola osmoregulasi, L. vannamei dewasa yang diablasi dan dikultivasi pada media dengan salinitas berbeda. Metode yang digunakan adalah eksperimental laboratories dengan Rancangan Acak Sistematis (RAS) dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan pada tiap perlakuannya. Perlakuan yang diujikan adalah salinitas dengan perlakuan S1 (10 ppt, 289,20 mOsm/l H2O isosmotik postmolt), S2 (15 ppt, 432,80 mOsm/l H2O isosmotik intermolt awal), S3 (25±1 ppt,725,15 mOsm/l H2O isosmotik intermolt akhir) dan S4 (29±1 ppt, 820,10 mOsm/l H2O isosmotik molt). Data dianalisis dengan analisis varian (ANOVA), dan untuk mengetahui perbedaan pengaruh antar perlakuan dilakukan uji wilayah ganda Duncan. Penelitian ini dilaksanakan selama 60 hari (Juli-September 2010). Hasil ANOVA menunjukkan bahwa salinitas berpengaruh (p<0,05) terhadap Tingkat Kerja Osmotik (TKO), frekuensi molting dan laju pertumbuhan harian (sebelum dan setelah mengalami kematian), namun tidak berpengaruh terhadap kelulushidupan (SR) (p>0,05). TKO terendah berada pada perlakuan S3 (25±1 ppt) sebesar 1,01 mOsm/l H2O, dan pola osmoregulasinya berubah menjadi osmoregulator lemah (mendekati osmokonformer) dengan adanya ablasi. Pada pemeliharaan     L. vannamei yang diablasi, sebaiknya memperhatikan kebutuhan media isoosmotik yaitu media dengan salinitas 25±1-29±1 ppt (rentang isoosmotik intermolt akhir/premolt hingga molt).
POLA OSMOREGULASI UDANG VANNAMEI (LITOPENAEUS VANNAMEI) DEWASA YANG DIABLASI DAN DIKULTIVASI PADA BERBAGAI TINGKAT SALINITAS Mutiara Salsabiela
Gema Wiralodra Vol. 11 No. 1 (2020): Gema Wiralodra
Publisher : Universitas Wiralodra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31943/gemawiralodra.v11i1.117

Abstract

Salinitas media berperan dalam mengendalikan proses molting dan osmoregulasi udang tidak terkecuali Litopenaeus vannamei, sehingga rentang optimum salinitas media pada berbagai fase molting perlu diketahui sebagai landasan untuk pengaturan media yang optimum, sehingga pertumbuhan dan kelulushidupannya diharapkan menjadi optimum pulaTujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji pola osmoregulasi, L. vannamei dewasa yang diablasi dan dikultivasi pada media dengan salinitas berbeda. Metode yang digunakan adalah eksperimental laboratories dengan Rancangan Acak Sistematis (RAS) dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan pada tiap perlakuannya. Perlakuan yang diujikan adalah salinitas dengan perlakuan S1 (10 ppt, 289,20 mOsm/l H2O isosmotik postmolt), S2 (15 ppt, 432,80 mOsm/l H2O isosmotik intermolt awal), S3 (25±1 ppt,725,15 mOsm/l H2O isosmotik intermolt akhir) dan S4 (29±1 ppt, 820,10 mOsm/l H2O isosmotik molt). Data dianalisis dengan analisis varian (ANOVA), dan untuk mengetahui perbedaan pengaruh antar perlakuan dilakukan uji wilayah ganda Duncan. Penelitian ini dilaksanakan selama 60 hari (Juli-September 2010). Hasil ANOVA menunjukkan bahwa salinitas berpengaruh (p<0,05) terhadap Tingkat Kerja Osmotik (TKO), frekuensi molting dan laju pertumbuhan harian (sebelum dan setelah mengalami kematian), namun tidak berpengaruh terhadap kelulushidupan (SR) (p>0,05). TKO terendah berada pada perlakuan S3 (25±1 ppt) sebesar 1,01 mOsm/l H2O, dan pola osmoregulasinya berubah menjadi osmoregulator lemah (mendekati osmokonformer) dengan adanya ablasi. Pada pemeliharaan L. vannamei yang diablasi, sebaiknya memperhatikan kebutuhan media isoosmotik yaitu media dengan salinitas 25±1-29±1 ppt (rentang isoosmotik intermolt akhir/premolt hingga molt).
Persepsi Masyarakat Dalam Pengelolaan Sampah Di Kecamatan Indramayu: Persepsi Masyarakat Ira Puspita Windiari; Mutiara Salsabiela
Gema Wiralodra Vol. 13 No. 2 (2022): Gema Wiralodra
Publisher : Universitas Wiralodra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31943/gemawiralodra.v13i2.256

Abstract

Pengelolaan sampah merupakan tindakan atau upaya yang dilakukan untuk mengurangi dampak negetif sampah bagi manusia maupun bagi lingkungan. Pengelolaan sampah tidak hanya menyangkut masalah teknis dan sistem pengelolaan, tetapi juga menyangkut masalah persepsi masyarakat dalam mengelola sampah. Penelitian ini dilakukan di Kelurahan Lemahmekar dan Desa Plumbon, Kecamatan Indramayu, Kabupaten Indramayu. Tujuan Penelitian ini untuk mengetahui persepsi masyarakat terhadap pengelolaan sampah di Kelurahan Lemahmekar dan Desa Plumbon. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode survei dengan menggunakan kuesioner kepada 60 kepala keluarga yang menjadi responden. Responden ditentukan dengan teknik Simple Random Sampling. Pengolahan data pada penelitian ini dilakukan dengan metode skoring (berdasarkan Skala Likert), tabel frekuensi, dan uji Spearman's Correlation. Analisis data pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan persepsi masyarakat Kelurahan Lemahmekar dan Desa Plumbon terhadap pengelolaan sampah termasuk kategori netral dengan presentase 93,33% dan 53,33%. Masyarakat menilai kegiatan pengelolaan sampah memberikan dampak positif terutama bagi keluarga dan sebagai tambahan penghasilan. Hasil uji Spearman's Correlation menunjukkan bahwa persepsi masyarakat terhadap pengelolaan sampah di Kelurahan Lemahmekar dan Desa Plumbon dominan dipengaruhi oleh tingkat pendidikan, dengan arah hubungan positif. Hal tersebut menunjukkan semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, maka persepsi terhadap pengelolaan sampah akan semakin baik.