Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Pemanfaatan Media Sosial “Facebook” Oleh Pelaku Kejahatan Pedofilia (Analisis Wacana Pada Akun “Penggemar Kaos Dalam Singlet Anak SD”) Zumiarti, Zumiarti
Jurnal Ilmiah Ekotrans & Erudisi Vol. 1 No. 1 (2021): Kebijakan Publik
Publisher : LPPM Universitas Ekasakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69989/ztk0c854

Abstract

Penelitian ini dilatar belakangi oleh kekawatiran penulis terhadap pemanfaatan media sosial oleh pelaku pedofilia melalui akun grup penggemar kaos dalam singlet anak SD, apalagi pelaku dengan mudahnya mengakses konten-konten yang berbau porno melalui status atau komentar oleh anggota yang mengundang birahi untuk memancing para korbannya. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis makna bahasa yang tergambar didalam akun “Penggemar Kaos dalam Singlet Anak SD”. Penelitian ini  dilakukan dengan menggunakan metode penelitian kualitatif dengan jenis penelitian eksplanatoris.  Sebagai unit amatannya seperti update status, dan kolom komentar di facebook. Dari hasil penelitian terkait makna bahasa dalam akun “Penggemar Kaos Dalam Singlet Anak SD” yang mana mengunakan analisis wacana Van Dijk yakni dari segi tematik, skematik, stilistik, sintaksis, semantik menggambarkan hasrat atau gairah seksual yang menimbulkan penyimpangan seksual oleh pelaku pedofilia yang dilihat dari status akun, kolom komentar akun dan status anggota akun tersebut. Sedangkan dari sisi retoris tidak ada sama sekali. Penggunaan kata-kata yang menunjukkan bahwa anggota grup tersebut sama-sama pelaku pedofilia. Di grup ini, anggota pedofilia berkomunikasi secara intens dengan sesama pedofilia dan saling berbagi informasi mengenai korban atau anak-anak yang menjadi sasaran seperti melalui media gambar. Di kolom komentar masing-masing para pedofilia akan saling mengungkapkan keinginan yang berupa hasrat yang menyimpang, baik dituju ke foto korban maupun ke sesama pelaku pedofilia. Inilah alasan kenapa para pedofilia benar-benar memanfaatkan internet khusunya media sosial facebook sebagai sarana untuk menyalurkan hasrat atau keinginan mereka. Selain itu, dengan internet atau media sosial facebook para pedofilia lebih bebas berekspresi walaupun hanya melalui kata-kata atau gambar, namun para pedofilia ini sudah cukup merasa puas dengan balasan komentar anggota pedofilia lainnya.
Analisis Wacana Kritis Pada Komunitas Indonesia Tanpa Poligami (ITAMI) di Instagram Satri, Titi; Wahyuni, Titi Satri; Zumiarti, Zumiarti
Jurnal Ilmiah Ekotrans & Erudisi Vol. 1 No. 2 (2021): Desember 2021
Publisher : LPPM Universitas Ekasakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69989/cf8n8e97

Abstract

Penelitian ini menggunakan teori analisis wacana kritis, yakni sebuah analisis yang menitikberatkan bahasa sebagai praktik kekuasaan. Penelitian dilakukan dengan menganalisis struktur wacana dalam setiap postingan dan komentar pada akun @indonesiatanpapoligami pada bulan Juni-Desember 2020. Fairclough membagi analisisnya ke dalam tiga dimensi yaitu teks, discourse practice, dan sosiocultural practice. Penelitian ini juga bertujuan untuk mengungkap tendensi dan ideologi pada akun @indonesiatanpapoligami media dalam menyajikan informasi mengenai poligami. Hasil penelitian yang menganalisis tentang teks pada tingkat representasi ditemukan beberapa kosa kata yaitu sunnah rasul, fckboy, feminis, kafir, murtad, zina. Pada tingkat relasi, media menjadi ruang sosial dimana masing-masing kelompok saling mengajukan gagasan dan pendapat dan memberi kekuatan social yang ditampilkan dalam teks. Pada tingkat identitas, admin akun @indonesiatanpapoligami sangat jelas menentang praktik poligami di Indonesia. Dalam Praktik kewacanaan atau discourse practice, banyak komentar pro maupun kontra terhadap praktik poligami dari pengguna akun instagram lain terhadap postingan yang diunggah oleh akun instagram @indonesiatanpapoligami. Pada Praktik sosial budaya atau Sosiocultural practice level situasional praktik poligami yang dilakukan zaman sekarang hanyalah karena hawa nafsu saja dengan alasan mengatas namakan agama. Level institusional disini yakni Riset LBH APIK (Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan) praktik poligami menyebabkan ketidak adilan: perempuan yang disakiti dan anak yang ditelantarkan. Level sosial dapat menggiring opini sesama pengguna akun instagram bahwa praktik poligami di Indonesia merupakan hal yang seharusnya tidak dilakukan.
PENERAPAN TEORI SELF DISCLOSURE PADA GENERASI MILENIAL (PEMILIK SECOND ACCOUNT INSTAGRAM) Zumiarti; Rahmad Surya
Ekasakti Jurnal Penelitian dan Pengabdian Vol. 4 No. 1 (2024): (EJPP) Ekasakti Jurnal Penelitian & Pegabdian (November 2023 - April 2024)
Publisher : LPPM Universitas Ekasakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31933/ejpp.v4i1.1032

Abstract

The millennial generation, which was born at the same time as technology, is close to technology, including the internet and today's social media, namely Instagram. The purpose of this study is to find self-disclosure or self-disclosure with freedom of expression and eliminate the feeling of insecurity that is felt by millennials on second Instagram accounts. One of the social media, namely Instagram, with its Stories feature, is currently not only a place to find friends or share information. But also to express feelings and express themselves by users. continues to increase until Instagram Stories becomes a place for self-disclosure. The method used by researchers is a qualitative descriptive method in which researchers conduct observations, interviews, and documentation of several informants who are randomly selected starting from the ages of 20 to 24 years (early adulthood). Based on this, this study discusses self-disclosure of the millennial generation in second Instagram accounts. The purpose of this study is to find out the forms and impacts of self- disclosure on second Instagram accounts. The theory used in this study is the Johari Windows theory with a qualitative approach and descriptive method. The results of the discussion explain that the biggest aspect of self-disclosure in the millennial generation is open self or open area, then there is also hidden self or hidden area, blind self or blind area and unknown self or unknown area. There are goals for self-expression, motivating others, social legitimacy and information sharing. Then there are positive and negative impacts after doing it on a second Instagram account.
JANDA DALAM PERSPEKTIF PATRIARKI DAN KAUM MISOGINI DALAM TIKTOK: Analisis Semiotika Roland Barthes Zumiarti; Fetri Reni; Riswanto Bakhtiar; Wahyu fitri; Rajwa Nu’ma Nabilah
Ekasakti Jurnal Penelitian dan Pengabdian Vol. 4 No. 2 (2024): Ekasakti Jurnal Penelitian & Pegabdian (Mei 2024 - Oktober 2024)
Publisher : LPPM Universitas Ekasakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Budaya Patriarki Dan Kaum Misogini mempengaruhi pandangan dan perlakuan terhadap janda di indonesia. Budaya patriarki di indonesia menyebabkan perempuan sering mengalami kekerasan dalam rumah tangga, pelecehan seksual, angka pernikahan dini, dan stigma mengenai perceraian. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif dengan analisis semiotika Roland Barthes. Dalam analisis semiotika Roland Barthes ini peneliti menganalisis tiga tanda yaitu visual, verbal, serta audio, yang kemudian akan dihubungkan sehingga nantinya akan didapatkan makna denotatif,konotatif dan mitos. Oleh karena itu penulis akan menganalisis deskripsi pengungkapan Perspektif Budaya Patriarki Dan Kaum Misogini yang digambarkan yang ada dalam pandangan masyarakat terhadap Budaya Patriarki Dan Kuam Misogini ini melalui makna denotasi, konotasi, dan mitos. Penulis melakukan analisis per video yang menampilkan unsur-unsur Perspektif Budaya Patriarki Dan Kaum Misogini dan akan menjabarkan pembahasan secara mendalam mengenai analisis semiotika Perspektif Budaya Patriarki Dan Kaum Misogini Dalam Platform TikTok dengan menggunakan teori analisis Roland Barthes.
KEBIJAKAN PEMERINTAH PROVINSI JAMBI KABUPATEN MERANGIN TENTANG SUKU ANAK DALAM Bakhtiar, Riswanto; Anshar, Sayid; Zumiarti, Zumiarti; Fitri, Annisa; Prayitno, Rangga
UNES Law Review Vol. 2 No. 4 (2020)
Publisher : Universitas Ekasakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31933/unesrev.v2i4.128

Abstract

The policy of the jambi regency provincial government regulates the ethnicity of children based on Law No. 6 of 2014 concerning Villages; Permendagri No. 52 of 2014 concerning Guidelines for the Recognition and Protection of Indigenous and Tribal Peoples; and Ministry of Social Decree Number 187 / Huk / 2018 Concerning Determination of Social Empowerment Locations for Remote Indigenous Communities in 2019. Based on these regulations the regency government has issued a program specifically for the Suku Anak Dalam (SAD), namely the Remote Welfare Development Program (PKSMT) . Where there are 5 programs that have been targeted, but of the five PKSMT programs that are running there are only 4 programs, namely: (a) Settlements, (b) Smart Houses, (c) Empowerment, (d) Health.
PEMBERDAYAAN LITERASI KEUANGAN DAN PENTINGNYA MENABUNG BAGI SISWA DI SDN 02 PAMPANGAN Yuliastanty, Susy; Nazif, Hazlif; Zumiarti, Zumiarti; Surya, Rahmad; Sunreni, Sunreni; Begawati, Nova; Al Fasyah Juliyus, Faridj; Saputra, Yudi; Nanda, Nanda
Mejuajua: Jurnal Pengabdian pada Masyarakat Vol. 5 No. 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Yayasan Penelitian dan Inovasi Sumatera (YPIS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52622/mejuajuajabdimas.v5i2.283

Abstract

The level of financial literacy in Indonesia is still relatively low, especially among young children, so educational efforts are needed to instill a basic understanding of wise financial management. This community service activity aims to improve the financial literacy of elementary school students through education on the importance of saving. The activity was carried out at SDN 02 Pampangan with the involvement of 78 students in grades 4, 5, and 6. The implementation method used an educational and participatory approach, in the form of interactive material delivery, a "Mini Store" simulation, quizzes, and practice making piggy banks from used materials. The results of the activity showed that the results of observations and a brief post-activity evaluation showed that the majority of students had understood the material presented. Approximately 85% of students were able to re-explain the importance of saving and its benefits for daily life. As many as 90% of students were also able to clearly differentiate between needs and wants, and understand how to manage pocket money simply. The majority of students understood basic financial concepts such as the difference between needs and wants, the importance of saving, and how to manage pocket money simply. The response from students and teachers was very positive, with the school continuing its initiative to implement the "Savings Day" program regularly. This activity has successfully made a real contribution in building healthy financial habits from an early age, and has shown that a contextual educational approach is effective in improving children's financial literacy.