Claim Missing Document
Check
Articles

Analisis Kestabilan Lereng pada Sanitary Landfill Ilo-ilo Desa Wori Kabupaten Minahasa Utara Ginting, Boy O. B.; Sarajar, Alva N.; R. I., Roski R. I
TEKNO Vol. 23 No. 94 (2025): TEKNO
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/jts.v23i94.65760

Abstract

Penelitian ini menganalisis kestabilan lereng timbunan sampah pada TPA Ilo-Ilo dengan sistem sanitary landfill menggunakan data sekunder berupa hasil uji CPT/sondir, desain galian-timbunan, serta parameter geoteknik material sampah dan tanah penutup. Analisis kestabilan dilakukan dengan metode Limit Equilibrium (Bishop Simplified dan Morgenstern-Price) melalui perangkat lunak Rocscience SLIDE 6.0, sedangkan penurunan tanah dasar dianalisis secara empiris dan numerik dengan PLAXIS 2D. Model geometri landfill dirancang dengan kemiringan lereng 25° dan 27° serta 10 lapisan timbunan. Hasil menunjukkan bahwa desain dengan kemiringan 25° mampu menahan tinggi timbunan maksimum 19,2 m dengan faktor keamanan 1,894 (statis) dan 1,177 (dinamis), serta penurunan 66,75 mm (empiris) dan 22,7 mm (numerik). Sebaliknya, kemiringan 27° hanya mendukung tinggi 16,7 m dengan faktor keamanan lebih rendah. Dengan demikian, desain lereng 25° dinyatakan paling optimal karena menghasilkan kapasitas timbunan terbesar dengan tingkat keamanan yang lebih tinggi pada kondisi statis maupun dinamis. Kata kunci: Kestabilan lereng, sanitary landfill, faktor keamanan, penurunan
Desain Cerucuk Bambu Sebagai Perkuatan Timbunan Pada Tanah Lunak Untuk Konstruksi Bangunan Kantor Hosang, Friendly; Legrans, Roski R. I.; Sarajar, Alva N.
TEKNO Vol. 23 No. 94 (2025): TEKNO
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/jts.v23i94.65777

Abstract

Pembangunan infrastruktur pada tanah lunak, seperti di lokasi rencana pembangunan kantor di Desa Pentadu Timur, Kabupaten Boalemo, menghadapi kendala utama berupa daya dukung rendah dan kompresibilitas tinggi. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efektivitas dua metode perkuatan timbunan—penimbunan bertahap dan Geosynthetic Reinforced Piled Embankment (GRPE)—dengan memanfaatkan cerucuk bambu sebagai material lokal. Parameter tanah diperoleh melalui korelasi data uji sondir. Analisis dilakukan melalui perhitungan analitis mengacu pada BS 8006-1:2010, serta pemodelan numerik menggunakan Settle3D untuk penurunan, SLOPE/W untuk stabilitas lereng, dan PLAXIS 2D untuk validasi deformasi. Hasil analisis penimbunan bertahap setinggi 3 m menunjukkan derajat konsolidasi yang sangat rendah (8,20%) dengan total penurunan 393,19 mm (manual) dan 362,54 mm (Settle3D). Faktor keamanan lereng menurun signifikan dari 2,812 pada tahap pertama menjadi 1,516 pada tahap ketiga. Sebaliknya, penerapan sistem GRPE dengan cerucuk bambu (panjang 8 m, diameter ekuivalen 0,21 m, spasi 1,04 m) mampu meningkatkan stabilitas dan mereduksi penurunan secara signifikan. Analisis numerik menunjukkan faktor keamanan akhir sebesar 1,512, memenuhi kriteria SF > 1,5. Cerucuk bambu juga efektif mentransfer beban ke lapisan tanah yang lebih dalam sehingga membatasi deformasi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa GRPE berbasis cerucuk bambu lebih unggul dibandingkan penimbunan bertahap konvensional, karena mampu mempercepat waktu konstruksi sekaligus menjaga stabilitas dan penurunan dalam batas yang diizinkan. Kata kunci: tanah lunak, timbunan, Geosynthetic Reinforced Piled Embankment (GRPE), cerucuk bambu
Analisis Daya Dukung Fondasi Borepile Pada Proyek Pembangunan Gedung Utama Kawasan OIKN Nangoy, Joshua T. T.; Mandagi, Agnes T.; Sarajar, Alva N.
TEKNO Vol. 23 No. 94 (2025): TEKNO
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/jts.v23i94.66171

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis daya dukung fondasi borepile pada proyek pembangunan Gedung Utama di Kawasan OIKN dengan menggunakan dua pendekatan, yaitu metode konvensional berbasis data uji penetrasi standar (N-SPT) dan metode interpretasi hasil uji pembebanan statik (loading test). Perhitungan secara konvensional dilakukan dengan metode Meyerhof, Decourt, serta Reese & Wright, sedangkan hasil uji lapangan dianalisis menggunakan metode Mazurkiewicz, Chin, dan Decourt. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai daya dukung izin (Qall) tertinggi dari metode konvensional diperoleh melalui metode Reese & Wright sebesar 433,27 ton, sedangkan yang terendah dari metode Decourt sebesar 293,15 ton. Sementara itu, hasil interpretasi uji pembebanan statik menunjukkan nilai daya dukung ijin (Qall) tertinggi dengan metode Decourt sebesar 692,31 ton dan terendah dengan metode Mazurkiewicz sebesar 580,00 ton. Perbedaan hasil antara kedua pendekatan disebabkan oleh karakteristik empiris metode konvensional yang konservatif dan keterbatasannya dalam merepresentasikan interaksi tanah–fondasi secara aktual, sementara uji pembebanan memberikan hasil yang lebih realistis terhadap kondisi lapangan. Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa pendekatan kombinasi antara metode empiris dan uji pembebanan lapangan direkomendasikan dalam perencanaan fondasi borepile. Metode empiris digunakan sebagai acuan desain awal, sedangkan hasil interpretasi uji pembebanan berfungsi sebagai validasi terhadap daya dukung aktual fondasi di lapangan. Kata kunci: fondasi borepile, daya dukung, N-SPT, loading test, metode empiris, OIKN
Analisis Mikrostruktur Tanah Lempung Ariake Yang Tersemen Ringan Menggunakan Metode SEM, MIP Dan XRD Pairunan, Rayner; Sarajar, Alva N.; Mandagi, Agnes T.
TEKNO Vol. 23 No. 94 (2025): TEKNO
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/jts.v23i94.66273

Abstract

Tanah lempung Ariake memiliki mikrostruktur lepas, porositas tinggi, dan sifat mekanis lemah akibat dominasi partikel lempung berlapis. Penelitian ini mengkaji perubahan mikrostruktur akibat stabilisasi semen ringan 3%,4%, dan 5% pada berbagai kadar air menggunakan FE-SEM, MIP, dan XRD. Hasil FE-SEM menunjukkan tanah asli beragregat halus dengan pori besar, sedangkan penambahan semen membentuk produk hidrasi ettringite dan gel C-S-H yang mengikat partikel dan mengisi pori. Perbaikan mikrostruktur paling optimal terjadi pada kadar air 125% dengan 5% semen, ditandai oleh struktur padat dan ikatan antarpartikel yang kuat. Analisis MIP menunjukkan penurunan porositas total dan pergeseran distribusi pori dari makropori ke mesopori seiring peningkatan kadar semen. Sampel 125% dengan 5% semen memiliki densifikasi terbaik, sedangkan kadar air 150% dan 200% tetap berpori besar akibat kelebihan air. XRD mengonfirmasi peningkatan ettringite dan fase C-S-H, sementara mineral lempung dasar tetap dominan namun terlapisi produk hidrasi, sehingga meningkatkan stabilitas geoteknik tanah. Kata kunci: lempung Ariake, stabilisasi semen ringan, FE-SEM; MIP, XRD, mikrostruktur, ettringite, C–S–H, porositas, hidrasi semen