Ni Wayan Sartini
Linguistics Department, Faculty Of Humanities, Airlangga University, Surabaya, Indonesia

Published : 24 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : ETNOLINGUAL

Makna Budaya Wacana Ritual Saulak pada Masyarakat Kampung Mandar Kabupaten Banyuwangi: Kajian Etnolinguistik Wahyu Sekti Wijaya; Ni Wayan Sartini
ETNOLINGUAL Vol. 4 No. 2 (2020): ETNOLINGUAL
Publisher : Department of Master of Linguistic, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/etno.v4i2.22830

Abstract

Penelitian ini berjudul “Makna Budaya Wacana Ritual Saulak pada Masyarakat Kampung Mandar Kabupaten Banyuwangi: Kajian Etnolinguistik” bertujuan untuk mendeskripsikan makna budaya yang terdapat dalam wacana ritual Saulak. Penelitian dilakukan di Kelurahan Kampung Mandar, Kecamatan Banyuwangi, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Penelitian ini adalah penelitian yang bersifat etnografi dengan metode pengumpulan data (1) observasi non partisipasi; (2) wawancara dibantu dengan teknik catat dan rekam. Wawancara dilakukan dengan bantuan narasumber ahli seperti passili yang merupakan pemimpin ritual Saulak. Analisis dilakukan pada tataran leksikal dari kode yang terdapat dalam wacana ritual Saulak, baru kemudian dihubungkan atau dikaitkan dengan makna budaya yang berlaku.Kode dalam penelitian ini adalah nama-nama sesaji serta mantra ritual Saulak.Analisis terhadap nama-nama sesaji dilakukan untuk melihat keterkaitkan antara kode tersebut dengan mantra dan makna budaya.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa wacana ritual Saulak ini mengandung makna budaya dan filosofi hidup masyarakat Mandar.Makna budaya tersebut adalah permohonan perlindungan kepada Tuhan Yang Maha Esa melalui perantara leluhur atau nenek moyang.Selain itu ditemukan pula adanya bentuk pemertahanan bahasa Mandar melalui mantra yang terdapat dalam ritual Saulak yang menjadi identitas khas suku Mandar, yang membedakannya dengan suku lainnya di Banyuwangi.Kata kunci : Kampung Mandar Banyuwangi, makna budaya, ritual Saulak, wacana ritual.
VARIASI BAHASA DALAM INTERAKSI BARISTA COFFEE SHOP DI KECAMATAN GUBENG KOTA SURABAYA: KAJIAN SOSIOLINGUISTIK Fahmi Arizki Imelda; Ni Wayan Sartini
ETNOLINGUAL Vol. 4 No. 2 (2020): ETNOLINGUAL
Publisher : Department of Master of Linguistic, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/etno.v4i2.25483

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan variasi bahasa yang digunakan barista coffee shop yang ada di Kecamatan Gubeng Kota Surabaya serta menjelaskan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi pemakaian variasi bahasa dalam komunikasinya. Penelitian ini adalah penelitian deskripstif kualitatif dengan mengumpulkan data berupa kata-kata yang menyangkut adanya variasi bahasa sesuai data yang ada di lapangan. Metode pengumpulan data yang digunakan yakni menggunakan sistem simak, rekam, dan catat berupa tuturan percakapan antara barista coffee shop yang melayani pembelinya. Lokasi penelitian yang diteliti ialah sepuluh coffee shop yang ada di Kecamatan Gubeng Kota Surabaya. Sesuai dengan hasil yang didapat dari lapangan, variasi bahasa yang digunakan oleh barista dan pembelinya pada saat di coffee shop yakni menggunakan bahasa informal. Seringnya penggunaan bahasa informal pada saat melakukan pelayanan di coffee shop dikarenakan banyaknya pengunjung dari kalangan remaja yang datang ke coffee shop untuk berkumpul bersama teman-temannya. Dalam komunikasi yang terjadi di coffee shop terdapat adanya bahasa campuran yang menjadi ciri dari variasi bahasa yang ada di coffee shop. Bahasa campuran yang terjadi di coffee shop yakni adanya bahasa Inggris dengan bahasa Indonesia, bahasa Inggris dengan bahasa Jawa, bahasa Jawa dengan bahasa Indonesia, penutur dan mitra tutur yang keduanya menggunakan menggunakan bahasa Jawa, dan bahasa Slang. Adanya bentuk variasi bahasa yang terjadi di coffee shop dipengaruhi oleh beberapa faktor yakni faktor usia, faktor keakraban, faktor jenis kelamin, dan faktor situasional       Kata kunci : barista, coffee shop, informal, sosiolinguistik, variasi bahasa
Campur Kode pada Profil Kementerian Luar Negeri Indonesia Versi Web Resmi dalam Kerangka Teori Markedness Model : Kajian Sosiolinguistik Lirong Zhang; Ni Wayan Sartini
ETNOLINGUAL Vol. 5 No. 1 (2021): ETNOLINGUAL
Publisher : Department of Master of Linguistic, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/etno.v5i1.30146

Abstract

Campuran bahasa tampaknya sudah menjadi fenomena umum dalam konteks komunikasi internasional pada masa kini. Penelitian ini menganalisis jenis dan wujud bentuk campur kode dalam wacana profil Kementerian Luar Negeri Indonesia yang ditampilkan di web resmi dalam kerangka Teori Markedness Model dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif, supaya menemukan faktor sosial yang memotivasi dan menyebabkan fenomena variasi bahasa tersebut. Jenis campur kode yang terdapat dalam sumber data penelitian ini hanya berbentuk penyisipan kata dan penyisipan frasa yang berupa campuran bahasa Indonesia dan bahasa Inggris dan semuanya merupakan campur kode yang unmarked. Berdasarakan hasil analisis tersebut, beberapa faktor sosial yang memungkinkan penggunaan campur kode pada profil Kementerian Luar Negeri Indonesia adalah: untuk membedakan identitas sosial sebagai orang asing, menjamin ketepatan dan kebenaran data pada peristiwa yang terjadi pada masa lampau, dan menyesuaikan dengan kebiasaan penggunaan bahasa yang lazim dalam interaksi internasional. Kata Kunci: Sosiolinguistik; Campur Kode; Markedness Model Abstract: Mixing languages seems to have become a common phenomenon in the context of international communication today. This study analyzes the types and forms of code-mixing in the profile discourse of the Indonesian Ministry of Foreign Affairs which is displayed on the official website within the framework of the Markedness Model Theory using descriptive qualitative methods, in order to find the social factors that motivate and cause the phenomenon of language variation. The type of code mixing contained in the data sources of this study is only in the form of word insertion and phrase insertion in the form of a mixture of Indonesian and English and all of them are unmarked code mixing. Based on the results of the analysis, several social factors that allow the use of code-mixing in the profile of the Indonesian Ministry of Foreign Affairs are: to distinguish social identity as a foreigner, to ensure the accuracy and truth of data on events that occurred in the past, or to adapt it to the usual habit of using language in international interactions. Keywords: Sociolinguistics; Code-Mixing; Markedness Model;