Rani Ekawaty
Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Kelautan Dan Perikanan, Universitas Udayana

Published : 20 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

PELATIHAN PENGOLAHAN PRODUK BUAH MANGROVE UNTUK MENDUKUNG PENGEMBANGAN NUSA LEMBONGAN SEBAGAI DESTINASI WISATA I.W. Arthana; I.W. Restu; A.P. W. K. Dewi; M.A. Pratiwi; R. Ekawaty; Widiastuti Widiastuti; K.W. Negara
Buletin Udayana Mengabdi Vol 16 No 2 (2017)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (222.6 KB)

Abstract

Kawasan Nusa Lembongan merupakan kawasan wisata budaya dan bahari yang memiliki perkembangan pariwisata cukup pesat. Wilayah pesisir Nusa Penida terutama di Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan terdapat 230,07 hektar hutan mangrove. Ditemukan 13 jenis mangrove dan 7 jenis tumbuhan assosiasi. Secara ekonomi, ekosistem mangrove berfungsi sebagai fishing ground (daerah penangkapan ikan) yang produktif. Selain itu, mangrove juga menghasilkan berbagai produk yaitu kayu, bahan pewarna, makanan, madu, obat-obatan, kosmetika dan lain-lain. Perumusan masalah berdasarkan analisis situasi yang telah dipaparkan adalah masyarakat Nusa Lembongan belum banyak yang mengetahui tentang cara mengolah buah mangrove menjadi beberapa jenis produk yang bernilai ekonomis. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan dalam tiga tahap, yaitu: pendekatan masalah, pelatihan pengolahan buah mangrove dan monitoring setelah pelatihan. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa peserta memahami materi yang diberikan. Keberhasilan ditunjukkan dengan adanya respon positif dari peserta saat kegiatan pelatihan dan juga melakukan pengembangan terhadap teknik pembuatan cemilan stik buah mangrove setelah kegiatan pelatihan berlangsung. Melalui kegiatan pengabdian ini diharapkan peserta dapat memanfaatkan buah mangrove sebagai salah satu daya tarik dalam pengembangan pariwisata di Nusa Lembongan.
The Effect of Moon Phase on The Catch of Bigeye Tuna (Thunnus obesus) in Eastern Indian Ocean Irwan Jatmiko; Bram Setyadji; Rani Ekawaty
ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences Vol 21, No 3 (2016): Ilmu Kelautan
Publisher : Marine Science Department Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (347.862 KB) | DOI: 10.14710/ik.ijms.21.3.101-106

Abstract

Tuna is one of the important export commodities to increase government income. One of economically important tuna species is bigeye tuna (Thunnus obesus) which has a proportion of 21% of the total production of large tuna group. The objective of this study was to investigate the effects of different moon phase on the catch of bigeye tuna (T. obesus) in Eastern Indian Ocean. Data collection was conducted by the scientific observers from August 2005 to June 2014 in the tuna longline vessels were based in the port of Benoa, Bali. Moon phase data were collected from August 2005 to June 2014 from National Aeronautics and Space Administration (NASA). Catch data were calculated using the catch rate formula which defined as the number of catches per 100 hooks. The number of catch rate then was sorted into each moon phases and were analyzed using one-way Anova. This study covered 62 trips and 1,480 numbers of operations or sets was conducted from sampled vessels. The result showed that the average catch rate of bigeye tuna differed significantly among the moon phases. Tukey post-hoc tests showed that the average catch rate at full moon was the highest among the groups with around 0.3/100 hooks. This study showed that moon phase had significant effect on the catch of bigeye tuna (T. obesus) that increased the catch during full moon. Keywords: moon phase, catch rate, Eastern Indian Ocea, tuna, Thunnus obesus
Reproductive biology of kawakawa, Euthynnus affinis (Cantor, 1849) in Eastern Indian Ocean Rani Ekawaty; Irwan Jatmiko
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 18 No 3 (2018): October 2018
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (Indonesian Ichthyological Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v18i3.313

Abstract

Kawakawa (Euthynnus affinis) is one of the economically important fish species for fishermen in Denpasar, Bali. The objective of this study was to analyze the reproductive biology of kawakawa such as the gonadal maturity level (GML), gonad maturity index (GMI) and the length proportion of the mature gonads 50% (L50) and 95% (L95) of kawakawa in the Eastern Indian Ocean. Fish samples were collected from the fishermen catch landed at Kedonganan Fishing Port (PPI), Bali from May to September 2016. The total of fish samples collected were 168 individual. Each individual species was measured their fork length (FL), individual weight, gonad weight and determination of gonadal maturity level. The data obtained were analyzed to determine GML, GMI and proportions of gonads mature. The results showed that the fork length ranged from 26-55 cm with an average of 38 cm and dominated by a 28 cm. The maturity level of fish gonads was dominated by GML III (38%), followed by GML II (26%), GML I (22%) and GML IV (14%), respectively. The average gonad maturity index was 0.558 with a range of 0.009-5.075. The length of gonad matured in proportion 50% and 95% was 48.4 cm and 55.7 cm, respectively. It is suggested to regulating in fishing capture of kawakawa so that 50% of the fish caught have spawned. Abstrak Tongkol komo (Euthynnus affinis) merupakan salah satu jenis ikan ekonomis penting bagi nelayan di Denpasar, Bali. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis biologi reproduksi ikan tongkol komo seperti tingkat kematangan gonad (TKG), indeks kematangan gonad (IKG) dan panjang proporsi matang gonad 50% (L50) dan 95% (L95) tongkol komo di Samudra Hindia Bagian Timur. Contoh ikan dikumpulkan dari hasil tangkapan nelayan yang didaratkan di Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Kedonganan, Bali dari bulan Mei hingga September 2016. Jumlah contoh ikan yang dikumpulkan sebanyak 168 ekor, masing-masing diukur panjang cagak, bobot individu, bobot gonad dan penetapan TKG. Data yang diperoleh dianalisis untuk menentukan TKG, IKG dan proporsi matang gonad. Hasil penelitian diperoleh panjang cagak berkisar antara 26-55 cm dengan rata-rata 38 cm dan didominasi kelas panjang 28 cm. Tingkat kematangan gonad ikan didominasi oleh TKG III (38%), kemudian diikuti oleh TKG II (26%), TKG I (22%) dan TKG IV (14%). Rata-rata indeks kematangan gonad sebesar 0,558 dengan kisaran 0,009-5,075. Proporsi Panjang matang gonad 50% dan 95% berturut-turut adalah 48,4 cm dan 55,7 cm. Perlu dilakukan pengaturan penangkapan sehingga 50% ikan yang tertangkap sudah pernah memijah.
Kajian Kualitas Air, Potensi Karang Dan Ikan Karang Untuk Pengembangan Wisata Selam Di Desa Bondalem, Buleleng, Bali Evrina Cahyani Sinaga; I Wayan Restu; Rani Ekawaty
Current Trends in Aquatic Science Vol 3 No 1 (2020)
Publisher : Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Kelautan dan Perikanan, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Bondalem Village is located in Tejakula District, Buleleng Regency, north of the Island of the Gods. This village is directly adjacent to the Bali Sea in the north, this condition makes tourism can develop especially diving tourism and activity. This purpose of this study is to examine the suitability of water quality in order to support the development plan of diving tourism in the waters of Bondalem Village, Tejakula District, Buleleng Regency. Data colection is carried out every once a month within 3 months in November, December 2018 and March 2019. This study uses the method of field observation and secondary data from the results of the literature study. In this study the method of data collection was done by direct measurement in the field for observations of the environmental conditions at the study site. The results of data collection in the form of data that supports the acquisition of environmental parameter data in regional and physical environmental suitability assessment. This study was carried out by analyzing the suitability of diving tourism, coral identification was assessed using the LIT (Line Intercept Transect) method while the abundance of reef fish species was studied using the UVC (Underwater Visual Census) method. Analysis of the data used is an analysis of the potential of coral reefs and land suitability. Determination of the level of land suitability as a diving tourism area using regional suitability matrix analysis considering ecological parameters and water quality. The live coral community cover in Bondalem waters ranges from 65.93% to 81.33% with a variety of reef fish species ranging from 16 families. Travel suitability index diving category is included in the very appropriate category (S1).
Struktur Komunitas Ikan Di Muara Sungai Badung Kawasan Mangrove Taman Hutan Raya (Tahura) Ngurah Rai, Bali I Gusti Agung Bagus Putra Adiguna; I Wayan Restu; Rani Ekawaty
Current Trends in Aquatic Science Vol 1 No 1 (2018)
Publisher : Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Kelautan dan Perikanan, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (709.747 KB) | DOI: 10.24843/CTAS.2018.v01.i01.p10

Abstract

Muara Sungai Badung merupakan habitat dari berbagai macam kehidupan akuatik terutama ikan, dimana kondisi kualitas air sangat berpengaruh terhadap pola persebaran, keanekaragaman, kelimpahan serta kerapatannya. Ekosistem perairan muara Sungai Badung di kawasan mangrove Taman Hutan Raya (TAHURA) Ngurah Rai, Bali banyak mendapatkan tekananan ekologis dari berbagai aktivitas manusia seperti limbah – limbah yang diduga berdampak penting pada komunitas ikan (sumberdaya perikanan). Tujuan dilakukannya penelitian ini untuk mengetahui struktur komunitas dan kondisi lingkungan perairan di muara Sungai Badung. Penelitian dilakukan pada bulan Februari – Maret 2018 dengan 3 kali pengulangan pada 6 stasiun. Pengambilan sampel ikan menggunakan alat tangkap berupa jaring (gill net) dengan mesh size 1 inchi dan jala lempar. Diperoleh ikan di muara Sungai Badung yang terdiri dari 7 ordo, 14 famili, dan 14 spesies. Stasiun III mempunyai kelimpahan ikan tertinggi diantara stasiun lainnya yaitu 0,142 ind/m2 dengan komposisi ikan terbanyak diantara stasiun lainnya yaitu sebanyak 8 spesies, kelimpahan ikan terendah terdapat pada stasiun II yaitu 0,055 ind/m2 dengan komposisi ikan sebanyak 4 spesies. Komposisi ikan keseluruhan tertinggi yang didapatkan di muara Sungai Badung yaitu Mystus gulio sebanyak 18,56% dengan kelimpahan tertinggi sebesar 0,082 ind/m2, sedangkan ikan dengan komposisi keseluruhan yang rendah yaitu Pomadasys argenteus 1,14% dengan kelimpahan terendah sebesar 0,005 ind/m2 pada stasiun VI. Indeks keanekaragaman tertinggi terdapat pada stasiun III yaitu 1,96 dan yang terendah terdapat pada stasiun I sebesar 0,93. Indeks keseragaman tertinggi terdapat pada stasiun III sebesar 0,74 dan yang terendah terdapat di stasiun I sebesar 0,35. Indeks dominansi tertinggi terdapat pada stasiun I sebesar 0,40 dan yang terendah terdapat di stasiun III dengan nilai 0,16. Kata Kunci: Ikan; Muara; Struktur Komunitas; Sungai Badung; Mangrove
Inventarisasi dan Potensi Sosial Ekonomi Ikan yang Didaratkan di PPI Sangsit, Buleleng, Bali Kadek Ira Maresa; I Wayan Restu; Rani Ekawaty
Current Trends in Aquatic Science Vol 2 No 1 (2019)
Publisher : Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Kelautan dan Perikanan, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (674.366 KB)

Abstract

PPI Sangsit is one of the landing bases that is the main supplier of fisheries production, especially in Buleleng Regency. The fish landed at PPI Sangsit comes from the catch of local fishermen and Sepeken Island. Various types of fish landed need an inventory activity with the aim of obtaining valid data to facilitate systematic data collection. Production of fisheries and socio-economic fishermen are also needed to formulate appropriate fisheries management. The study was conducted in February-April 2018. The sample fish was taken by simple random sampling. The results obtained 26 species of fish that were 58% of demersal fishes. Carangsidae, Scrombridae, and Caesionidae families are the family with the most species, which of 12% or 3 species. Production of fresh fish in 2010-2017 tended to decline, while the production of live grouper fish fisheries in 2010-2017 tended to increase. February-April 2018 tended to increase with the highest in March 2018. Comparison of fisheries product in each February, March, and April from 2010 to 2018 tended to decline. The age of all respondents including productive age groups with education classified as low education. Jobs as fisherman, docker, and crew members get the average income included in the middle class, which is Rp 1.500.000 – Rp 2.500.000 per month. Local respondents were include in the category of fisherman owners, small-scale fisherman, and traditional fisherman. Respondent from Sepeken Island belong to the category of labor fisherman, big-scale fihserman, and traditional fisherman
Kajian Stok Ikan Lemuru (Sardinella lemuru) yang Didaratkan di Pelabuhan Perikanan Muncar Kabupaten Banyuwangi Provinsi Jawa Timur I Nyoman Sastra Adi Putra; I Wayan Restu; Rani Ekawaty
Current Trends in Aquatic Science Vol 3 No 1 (2020)
Publisher : Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Kelautan dan Perikanan, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lemuru fish are pelagic fish that live in shallow marine waters, live in groups, and one of species found at the surface water. The largest population of Lemuru fish in Indonesia is found in the Bali Strait. Based on existing data, the Lemuru condition in Bali Strait waters in particular landed at the Fishery Port of Muncar Beach has decreased. Therefore, a research effort should be made to determine the condition of Lemuru at the Muncar Beach Fishery Port. This study was aimed to determine the distribution of length frequencies, growth pattern, and the stock condition of Lemuru. The study was conducted from May to September 2017. The method used in this study was descriptive research method. Samples of Lemuru are taken randomly and directly from the fishermen's catch, production data, and the number of fishing gear and trip was asked directly from Muncar Fishing Port agency. Results showed the total length frequency distribution of Lemuru fish highest in the 135-137mm long hose from the 120-149 mm interval obtained. The relationship between the length and weight of the Lemuru Fish obtained, follows the equation W=4E-05L2.7677 and negative allometric growth pattern (b<3) which means the length growth more dominant compared to the weight growth. The stock condition of Sardinella lemuru with the TAC value obtained with the amount of 30.940 tons per year and the optimum catches effort or fMsy was 26.802 trips per year. Catched results in 2007 has exceeded from TAC value and catches effort in the last ten years found to be outstrip from the optimum catches effort or fMSY.
Hubungan Keanekaragaman Makrozoobentos dengan Kerapatan Lamun di Pantai Semawang Sanur Bali Habibatus Sholihah; I Wayan Arthana; Rani Ekawaty
Current Trends in Aquatic Science Vol 3 No 1 (2020)
Publisher : Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Kelautan dan Perikanan, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pantai Semawang Sanur Bali memiliki Ekosistem padang lamun dengan daratan yang landai, hamparan lamun yang cukup luas dan biota makrozoobentos yang beranekaragam. Kegiatan pariwisata dan nelayan yang berlebihan diduga dapat mengganggu kelestarian ekosistem padang lamun. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan keanekaragaman makrozoobentos dengan kerapatan lamun. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari hingga Maret 2018. Pengambilan sampel makrozoobentos dan lamun menggunakan transek kuadrat 1 m x 1 m di 25 titik (5 stasiun) dengan jarak antar titik 50 m. sampel makrozoobentos dalam luasan transek diambil menggunakan sekop dan sampel lamun dihitung tegakannya. Di Pantai ini ditemukan 4 filum, 8 kelas dan 58 spesies makrozoobentos. Kelas yang mendominasi adalah kelas gastropoda. Kemudian ditemukan 6 spesies lamun dengan kerapatan jenis tertinggi yaitu Thalassia hemprichii. Nilai indeks keanekaragaman makrozoobentos di Pantai Semawang sebesar 1,76 yang tergolong dalam kategori sedang. Nilai indeks keseragaman makrozoobentos sebesar 0,96 yang termasuk dalam kategori tinggi. Nilai indeks dominansi makrozoobentos sebesar 0,20 yang tergolong dalam kategori rendah. Sedangkan hasil kerapatan lamun sebesar 362 tegakan/m2 yang berarti tumbuhan lamun di Pantai ini tergolong sangat rapat. Berdasarkan hasil analisis bahwa hubungan keanekaragaman makrozoobentos dan kerapatan lamun berbanding terbalik yaitu semakin tinggi keanekaragaman makrozoobentos, maka semakin rendah kerapatan lamunnya. Begitu juga sebaliknya.
Komposisi Jenis dan Ukuran Lobster (Panulirus sp.) Hasil Tangkapan di Pantai Yeh Gangga Kabupaten Tabanan dan Pantai Canggu Kabupaten Badung Provinsi Bali Muhammad Rizky Asvin; I Wayan Restu; Rani Ekawaty
Current Trends in Aquatic Science Vol 2 No 1 (2019)
Publisher : Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Kelautan dan Perikanan, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1060.02 KB)

Abstract

Lobster is one of the potential fisheries commodities and an important economic category for export. The research was conducted in December 2018 until January 2019 with objectives to determine the composition and range of sizes of lobster caught by the fishermen and the tools and methods used to catch lobsters on Canggu Beach and Yeh Gangga Beach. The method used for the data collection was survey and interview methods. Sampling was done for 2 months with 1 sampling each month. Samples were taken from the catch of the fishermen. Lobster samples were then identified by type and carapace length measurements, total length, and lobster weight. Data obtained from lobster composition were analyzed descriptively and displayed in graphs and tables, while analysis of lobster fishing methods was carried out descriptively by collecting data on types, quantities, and methods of operation of fishing gear. Results showed the composition of the types of lobsters caught on Canggu Beach were Panulirus penicillatus, P. homarus, P. versicolor, P. longipes, and P. ornatus. The catch in Canggu Beach was dominated by the type of P. homarus as much as 38% in the first data collection and as much as 39% in the second data collection. The composition of lobster catches on Yeh Gangga Beach, namely P. penicillatus, P. homarus, P. versicolor, P. longipes, and P. ornatus. The first data collection was dominated by the type of P. homarus as much as 36% and the second data collection was 46%. The caught lobster has an average carapace length below 8 cm and has a weight above the average, which was 200 grams. The type of fishing gear used to catch lobsters was a passive catch in the form of traps and nets.
Klasterisasi Spasial Keragaman Spesies Tuna di Perairan Selatan Jawa Ledhyane Ika Harlyan; Abu Bakar Sambah; Feni Iranawati; Rani Ekawaty
Jurnal Perikanan Universitas Gadjah Mada Vol 23, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jfs.58917

Abstract

Terjadinya penurunan produktivitas perikanan tuna di Perairan Selatan Jawa salah satunya disebabkan oleh adanya kondisi tangkap lebih yang terjadi akibat ketidaktersediaannya informasi geografis akurat terkait jumlah dan jenis spesies. Pendekatan spasial keragaman habitat spesies mampu memberikan prediksi akurat tentang jenis dan jumlah spesies pada suatu daerah penangkapan. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan peta klasterisasi spasial keragaman spesies tuna berdasarkan data hasil tangkapan tuna dan data lokasi penangkapan di Perairan Selatan Jawa yang diperoleh dari kapal rawai tuna yang menangkap ikan di Samudera Hindia dan mendaratkan  tangkapannya di Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Benoa pada bulan September-November 2019 dengan menggunakan beberapa analisis yaitu: (1) analisis keragaman spesies (Shannon-wiener index dan Menhinick index) dan analisis klasterisasi spasial (ward-hierarchical clustering dengan bootstrapped p-value). Berdasarkan kedua hasil analisis tersebut diperoleh tiga klaster pola sebaran daerah penangkapan tuna di Perairan Selatan Jawa yaitu: (1) klaster yang didominasi oleh spesies Thunnus albacares, (2) klaster yang didominasi oleh Thunnus obessus, dan (3) klaster dengan jumlah spesies tuna yang berimbang. Informasi mengenai ketiga klaster daerah penangkapan ini selanjutnya dapat digunakan sebagai rujukan penentuan pengelolaan perikanan tuna dan upaya pembatasan kapasitas penangkapan khususnya pada spesies tuna yang mengalami penurunan stok.