This Author published in this journals
All Journal Interaksi Online
Djoko Setiabudi
Unknown Affiliation

Published : 24 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

KOMUNIKASI STRATEGIS UNIVERSITAS DIPONEGORO DAN UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG DALAM MEMBANGUN BRAND IMAGE UNIVERSITAS SEBAGAI GREEN UNIVERSITY Kurniawan Akbar; Yanuar Luqman; Djoko Setiabudi
Interaksi Online Vol 1, No 3: Agustus 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (252.676 KB)

Abstract

KOMUNIKASI STRATEGIS UNIVERSITAS DIPONEGORO DAN UNIVERSITASNEGERI SEMARANG DALAM MEMBANGUN BRAND IMAGE UNIVERSITASSEBAGAI GREEN UNIVERSITYAbstrakKebijakan green university merupakan kombinasi antara tiga elemen yaitu green building, greenplace dan green behaviour yang diterapkan pada komunitas akademis. Ketiga hal tersebut dapattercapai jika dilaksanakan melalui implementasi strategi komunikasi strategis yang tepat.Komunikasi strategis terdiri dari dua aspek yaitu komunikasi secara makro dan komunikasi secaramikro. Kedua aspek tersebut mempunyai fungsi untuk menyebarluaskan pesan komunikasi yangbersifat informatif, persuasif dan instruktif secara sistematis kepada sasaran untuk memperoleh hasilyang optimal pada implementasi program atau kebijakan.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mengevaluasi implementasi strategikomunikasi strategis Universitas Diponegoro (Undip) dan Universitas Negeri Semarang (Unnes)dalam membangun brand image universitas sebagai green university. Upaya menjawabpermasalahan dan tujuan penelitian dilakukan dengan menggunakan pendekatan strategikomunikasi strategis yang diaplikasikan pada kebijakan green university. Metode penelitian yangdigunakan adalah metode penelitian deskriptif evaluatif dengan pendekatan studi kasus.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kebijakan green university belum diterapkansebagaimana mestinya karena masih menekankan pada pembangunan fisik kampus saja.Pemrosesan informasi pada target audiens terhadap kebijakan green university masih cukup rendahkarena strategi komunikasi yang dijalankan cenderung belum tepat sasaran dan tidakmengedepankan aspek efektivitas dan efisiensi sehingga berdampak pada pembangunan brandimage universitas yang tidak optimal. Hal tersebut juga dikarenakan strategi komunikasi yangdijalankan masih sebatas pada publisitas media dan pengadaan kegiatan.Disarankan setiap implementasi kebijakan sebaiknya dilakukan melalui pendekatankomunikasi strategis secara komprehensif dan didahului oleh proses riset serta dievaluasi denganindikator-indikator tertentu untuk mengetahui keberhasilan kebijakan yang diterapkan.Key Words: komunikasi strategis, green university, strategi komunikasi, brand image, implementasikebijakan.STRATEGIC COMMUNICATIONS OF UNIVERSITAS DIPONEGORO ANDUNIVERSITAS NEGERI SEMARANG IN BUILDING BRAND IMAGE AS GREENUNIVERSITYAbstractGreen university policy is a combination of the three elements of green building, green place andgreen behavior is applied to the academic community. These three things can be achieved in theimplementation of strategic communication suitable strategy. Strategic communication consists oftwo aspects : the micro communication and macro communication. Both aspects have a function todisseminate communication messages that are informative, persuasive and instructivesystematically to target audience to obtain optimal results in the implementation of the program orpolicy.The purpose of this study to determine and evaluate the implementation of a strategiccommunications strategy of Universitas Diponegoro and Universitas Negeri Semarang in buildingthe brand image of the university as a green university. Efforts to address concerns and goals ofresearch by using a strategic communications strategies approach that apply to green universitypolicy. The research method is descriptive evaluative research with the case study approach.Results of this study indicate that the university has not been implemented green policies as theyshould because they emphasize the physical development of the campus. Processing of informationon the target audience of the green university policies are still quite low due to communicationstrategies tend out of the target and not prioritizing aspects of the effectiveness and efficiency sothat the impact on the development of the brand image of the university that are not optimal. Thatwas caused by priority in the strategic communications just concern at themedia publicity and special events. Policy implementation should be done through a comprehensiveapproach to strategic communications and is preceded by a process of research and evaluated withspecific indicators to determine the success of the green university is applied.Key Words: strategic communications, green university, communication strategy, brand image, theimplementation of the policy.PendahuluanFenomena dan isu mengenai kerusakan lingkungan sedang menjadi sorotan dan perhatian berbagaikalangan masyarakat dewasa ini. Lingkungan diartikan sebagai sebuah sistem yang kompleks dalamtatanan kehidupan makhluk hidup. Kompleksitas permasalahan lingkungan tersebut menuntutsebuah gerakan penyelamatan lingkungan dari semua kalangan baik pemerintah, pihak swasta,akademisi dan semua masyarakat secara umum.Berbagai bentuk antisipasi menyiasati berupa mitigasi serta adaptasi sebagai wujudkepedulian telah mewujudkan telah melahirkan berbagai program maupun gerakan lingkungan, baikprogram yang diprakarsai oleh pemerintah, gerakan lingkungan oleh LSM lingkungan, pendidikanlingkungan di lembaga pendidikan serta kampanye dan lain sebagainya.Salah satu hal yang muncul dalam bentuk antisipasi fenomena kerusakan lingkungan adalahmanifestasi konsep green campus pada perguruan tinggi. Green campus adalah sistem pendidikan,penelitian pengabdian masyarakat dan lokasi yang ramah lingkungan serta melibatkan wargakampus dalam aktifitas lingkungan yang harus berdampak positif bagi lingkungan, ekonomi dansosial. Green campus tersebut merupakan konsep perpaduan antara lingkungan dengan duniakampus dimana konsep lingkungan yang meliputi 3R, penghijauan, in front of office, CSR dansebagainya digabung dengan konsep kampus yang terdiri dari fisik kampus, lokasi dan perilakuwarga kampus. Sehingga dapat disimpulkan bahwa green campus merupakan kombinasi antaragreen building, green place dan green behaviour.Implementasi konsep green campus di beberapa perguruan tinggi disebut juga sebagai sebuahkomunitas perguruan tinggi untuk meningkatkan efisiensi energi, melestarikan sumber daya danmeningkatkan kualitas lingkungan yang berkelanjutan serta menciptakan lingkungan belajar yangsehat (Humblet, E.M, Owens, R. Roy, L.P., 2010). Konsep green campus meliputi beberapa elemenantara lain :a. Green BuildingGreen Building memiliki 4 ciri yaitu: Material Bangunan ramah lingkungan, Pengolahanlimbah, media promo tools yang ramah lingkungan dan bebas polusi udara dan suara.b. Green PlaceGreen Place memiliki lima ciri yaitu permukiman tersebut memiliki konsep yang disebutone stop living, ruang terbuka hijau, harmonis, mengurangi penggunaan kendaraan bermotordan kemudahan mengakses transportasi umum.c. Green BehaviourGreen behaviour memiliki ciri yaitu pengetahuan lingkungan, perilaku lingkungan sertatanggung jawab sosial.Terdapat fenomena menarik ketika banyak kampus khususnya yang tak hanya berwacananamun berlomba-lomba untuk menjadikan konsep green university sebagai reputasi dan citra yangdekat dengan perguruan tinggi tersebut yakni sebagai lembaga pendidikan yang berwawasanlingkungan. Sebagai contoh Universitas Indonesia (UI) bertekad menjadi green campus denganmengembangkan hutan kota seluas 100 hektare. Upaya tersebut sangat positif dalam kaitannyapelestarian flora dan fauna serta bisa menjadi daerah resapan air sekaligus mencegah banjir danlongsor, selain membangun danau untuk penghijauan, UI juga merilis green metric world universityranking yang melakukan pemeringkatan universitas di dunia merujuk pada konsep green university.Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) dan Institut Teknologi Bandung (ITB) juga mengusungkonsep green kampus dengan mengoptimalkan kampus dengan fasilitas ramah lingkungan, InstitutPertanian Bogor (IPB) juga gencar melaksanakan gerakan penghijauan untuk mewujudkan greenuniversity pada area kampus.Universitas Diponegoro (Undip) muncul melalui gerakan penghijauan dan mewujudkan hutankampus dan diterapkannya program car free day di area kampus Undip Tembalang sekali setiapminggu setidaknya dapat meminimalisir polusi dan merupakan bagian dari upaya implementasi darikampus berwawasan lingkungan (green campus). Universitas Negeri Semarang (Unnes)mengembangkan taman keanekaragaman hayati yang meliputi program penghijauan, pemilahansampah organik dan anorganik di kawasan kampus termasuk pengolahan sampah organik menjadikompos. Dalam mewujudkan kampus berkonsep hijau, Pada tahun 2010 Unnes mendeklarasikandiri sebagai kampus konservasi dan masih banyak universitas lain di Indonesia yang membangunbrand image kampus sebagai green university. (Suara Merdeka, 17 Januari 2013)Undip dan Unnes dikenal sebagai tempat aktivitas pendidikan berlangsung danmengedepankan wawasan lingkungan terhadap warga kampus melalui penerapan konsep greenuniversity. Hal tersebut didukung dengan apresiasi yang diberikan oleh Kementerian LingkunganHidup Republik Indonesia dimana Universitas Diponegoro (Undip) ditunjuk sebagai model greencampus pertama di Indonesia, sebelumnya Undip juga meraih penghargaan dari KementerianKehutanan RI sebagai perguruan tinggi yang peduli terhadap penghijauan (Suara Merdeka, 30November 2012) sedangkan Universitas Negeri Semarang (Unnes) di tahun 2010 dikukuhkanKementerian Pendidikan RI untuk mendeklarasikan diri sebagai Universitas Konservasi bertarafinternasional. Hal tersebut berdampak pada citra Undip dan Unnes sebagai kampus dalampenerapan konsep green university dan berwawasan lingkungan terbaik dengan reputasiinternasional.PembahasanImplementasi dari sebuah kebijakan selalu berawal pada keputusan-keputusan lintas fungsionalyang dapat memungkinkan suatu perusahaan atau lembaga mencapai sasarannya, sehingga perludilakukan langkah strategis yang berfokus pada proses penetapan tujuan organisasi, pengembangankebijakan dan perencanaan untuk mencapai sasaran, serta mengalokasikan sumber daya untukmenerapkan kebijakan dan merencanakan pencapaian tujuan organisasi tersebut, salah satu hal yangdisebut memiliki peran yang signifikan dalam keberhasilan suatu kebijakan agar dapat mencapaitujuan yang diinginkan oleh para perumus dan pelaksana kebijakan adalah upaya-upaya strategisdalam melakukan komunikasi yang baik dan terarah kepada sasaran kebijakan.Universitas Diponegoro (Undip) dan Uniiversitas Negeri Semarang (Unnes) merupakansalah satu lembaga pendidikan yang tengah menjalankan kebijakan green university di lingkungankampusnya. Melalui berbagai langkah strategis, Kedua lembaga pendidikan tinggi tersebutmengupayakan terciptanya brand image baru yang muncul di mata khalayak terhadap kampussebagai perguruan tinggi yang berhasil mengintegrasikan antara isu lingkungan dengan kehidupanakademis.Secara konsepsi kebijakan, Universitas Diponegoro dikenal khalayak baik secara internalmaupun eksternal sebagai universitas riset sehingga image excellent research university dilekatkanpada lembaga pendidikan tersebut, namun melalui pemikiran pimpinan universitas yang jugaberperan sebagai policy makers maka menginginkan adanya image baru yang ingin diciptakan olehUndip yakni sebagai lembaga pendidikan tinggi yang bukan hanya dikenal sebagai universitas risettetapi juga universitas yang memiliki kepedulian tinggi terhadap lingkungan sedangkan konsepgreen university diterapkan Unnes sejak tahun 2010 dengan mendeklarasikan diri sebagaiuniversitas konservasi. Konsep konservasi yang dirumuskan oleh Universitas Negeri Semarang(Unnes) adalah menciptakan suasana kampus dengan melakukan pelestarian alam dan lingkungansekitar dan mengajarkan unsur nilai seni dan budaya kepada civitas akademika.Upaya untuk membangun brand image sebagai kampus green university dilakukan melaluiberbagai strategi oleh Undip dengan tujuan mencapai mutual understanding dari target audiens baikpublik internal seperti mahasiswa, dosen dan karyawan (seluruh civitas akademika) dan publikeksternal seperti masyarakat luas pada umumnya. Penerapan kebijakan green university olehUniversitas Diponegoro (Undip) dilakukan melalui langkah-langkah strategis dalam mencapaitujuan kebijakan. Hal tersebut sesuai dengan konsepsi green university yang dirumuskan olehUndip yakni dengan mengembangkan drainase (penataan lingkungan termasuk penghijauan),biopori, pengolahan sampah dan transportasi sedangkan Unnes menerapkan kebijakan greenuniversity atau kampus konservasinya berdasarkan 7 pilar konservasi Unnes yang meliputiarsitektur hijau dan transportasi internal, biodiversitas, pengolahan limbah, energi bersih, kebijakannir kertas, kaderisasi konservasi dan seni budaya.Kebijakan tersebut memiliki tujuan jangka panjang yaitu menciptakan mutual understandingtarget audiens dan stakeholders dan berakhir pada munculnya brand image sebagai greenuniversity. Tujuan green university akan tercapai melalui perumusan kebijakan komunikasi yangbaik dan tepat sasar. Upaya tersebut dilakukan oleh Undip dan Unnes dalam mencapai tujuan greenuniversity melalui formula kebijakan komunikasi seperti fact finding, planning, action andcommunication dan evaluation. Tahap fact finding dan planning dilakukan oleh perumus kebijakanmelalui observasi lingkungan kampus yang ternyata masih sangat minimnya jumlah ruang terbukahijau serta tingkat polusi udara yang cukup tinggi terlebih Unnes yang didukung dengan topologiatau lokasi kampus yang sangat mendukung untuk dikembangkannya kebijakan tersebut. Tahapanaction communication dijalankan oleh UPT. Hubungan Masyarakat (Humas) dari masing-masinginstitusi, berbeda dengan Undip , Unnes memiliki Badan Pengembang Konservasi sebagaipelaksana kebijakan tersebut berkoordinasi dengan Humas dalam menjalankan kebijakankomunikasinya. Undip lebih cenderung menekankan pada upaya publisitas dan pemanfaatan mediadalam membangun citranya sebagai green university, melalui pendistribusian press release kepadasejumlah media dengan ekspektasi yakni intensitas publikasi pemberitaan sebanyak-banyaknya sementaraUnnes lebih cenderung pada upaya media relations yakni membangun hubungan jangka panjang denganwartawan dalam upaya pemberitaan pada media melalui pengadaan acara bersama rekan pers dansebagainya, Pengadaan kegiatan (event) juga menjadi pilihan dalam melaksanakan startegi komunikasiseperti diadakannya car free day setiap hari jumat pagi di kampus Undip dan kebijakan kampus bebaskendaraan di lingkungan Unnes. Sementara untuk tahapan evaluasi, baik Undip maupun Unnes belummempunyai indikator keberhasilan yang rigid, hal tersebut dikarenakan tidak adanya target pencapaian yangharus dilakukan dalam strategi komunikasi. Tingkat keberhasilan diukur melalui respon dan kendali yangdiberikan oleh perumus kebijakan dan respon target audiens yang dilakan melalui survey secara informal.PenutupPengembangan kebijakan dan komunikasi strategis mempunyai hubungan yang kuat dalamimplementasi kebijakan dan akan berdampak pada respon audiens terhadap pelaksanaan kebijakantersebut dan akan berimbas pada tujuan kebijakan. Dalam membangun brand image universitassebagai green university, implementasi strategi komunikasi strategis yang diterapkan oleh Undipbelum diformulasikan secara optimal. Secara konsep kebijakan green university yang diterapkanoleh Undip belum dengan pola kebijakan green university yang seharusnya mencakup pada tigaaspek yaitu green builing, green place dan green behaviour. Hal tersebut dikarenakan Undip masihmenekankan pada pembangunan secara fisik atau green building dan green place sedangkan aspekgreen behaviour belum me Dalam menjalanjadi prioritas, Kondisi audiens yang masih sangatrendah jika dilihat dari segi pemrosesan informasi (aspek kognisi, afeksi dan konasi) menunjukkanbahwa belum diterpkannya kebijakan komunikasi secara efisien dan tepat sasar.Implementasi kebijakan green university Unnes dilakukan oleh Badan PengembangKonservasi Unnes bekerjasama dengan pimpinan universitas berupaya untuk mencapai aspek greenbehaviour sehingga yang dilakukan bukan hanya pada aspek green building dan green place sajanamun program yang dijalankan dan berdasarkan pada tujuh pilar konservasi sesuai rencanastrategis universitas dalam kebijakan cenderung tidak didasarkan pada proses riset tetapi lebihmenekankan pada kewajiban yang diberlakukan oleh perumus kebijakan dan harus diikuti olehtarget audiens. Hal tersebut berdampak positif terhadap tingkat kognisi, afeksi dan konasi targetaudiens namun karena dilakukan melalui tidakan koersif maka tidak akan mencapai pada tataranbehaviour (perilaku) dalam jangka waktu yang lama.Strategi komunikasi dalam kebijakan green university Unnes dilakukan dengan cara mediarelations (hubungan media), event (pengadaan kegiatan) dan komunikasi verbal dua arah melaluisosialisasi langsung namun karena hal tersebut tidak melalui proses riset dan perencanaan makaaspek green behaviour yang dicapai hanya merupakan efek dari tindakan koersif yang diberlakukanoleh perumus kebijakan saja meskipun tetap dapat disimpulkan bahwa dampak implementasistrategi komunikasi strategis Unnes kaitannya dalam kebijakan green university dapat dikatakansudah berhasil dalam membangun brand image universitas sebagai green university meskipunbelum secara optimal.DAFTAR PUSTAKAAbdurahman, Oemi. 2001. Dasar-dasar Public Relations, Bandung : PT. Citra Aditya Bakti.Allen , Center dan Scott Cutlip. 2007. Effective Public Relations. Jakarta : PT. Kencana PrenadaMedia GroupAlo, Liliweri. 2011. Komunikasi Serba Ada Serba Makna. Jakarta : Kencana Prenada Media GroupArdianto, Elvinaro & Soemirat, Soleh. 2004. Dasar-Dasar Public Relations, Cetakan Ketiga,Bandung : Remaja Rosda KaryaAprilia, Hera. 2009. Evaluasi Pelaksanaan Program Transmigrasi Model Ring Satu. Tesis.Universitas Gadjah Mada.Argenti, Paul. A. Howell, Robert A, Beck, Karen A. 2005. The Strategic Communication. MITSloan ManagementBeard, M. 2002. Running a Public Relations Departement. London : Kogan SageCutlip, S. M., Center, A. H., & Broom, G. M.. (2000). Effective Public Relations.Jakarta : Kencana.Cutlip, S. M., Center, A. H., & Broom, G. M.. (2007). Effective Public Relations.Jakarta : Kencana.Danim Sudarman. 2000. Pengantar Studi Penelitian Kebijakan, Jakarta : Bumi Aksara.Denig, E, A. Van Der Meiden. 1985. A Geographic of Public Relations Trends. Dordrecht :Martins Publisher.Effendy, Onong Uchajana. 1981. Komunikasi dan Modernasi, Bandung : AlumniJefkins, Frank. (1998). Public Relations. Jakarta : Erlangga.Jefkins, Frank. (2003). Public Relations. Jakarta : Erlangga.Goldblatt, Joe. 2010. Special Events A New And The New Frontier. 6ed. John Willey : New Jersey.Grindle, Marilee. 1980. Politics and Policy Implementation in The Third World. PrincetonUniversity Press : New JerseyGregory, Anne. 2010. Planning and Managing Public Relations Campaigns : A StrategicApproach. Kogan Page Publisher : LondonKurniawan.E, 2006. Studi Analisis Isi Pemberitaan Media Masa Tentang Lingkungan danImplikasinya Terhadap Kebijakan Pengelolaan Lingkungan di Kabupaten Bangka. Tesis.Universitas DiponegoroLesly, Philip, 1987. Lesly’s Public Relations Handbook Third Edition. Englewood Cliff, New York: Prentice Hall.Moleong, Lexy J. 2008. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : PT. Remaja Rosda Karya.Mulyana, Dedy. 2007. Ilmu Komunikasi : Suatu Pengantar. Bandung : PT. Remaja Rosda Karya.Nakamura, R & Smallwood. F, 1980. Politics and Policy Implementation. New York : St. Martin’sPress.Ruslan, Rosady. 2005. Kiat dan Strategi Kampanye Public Relations, Jakarta : PT. Raja GrafindoPersadaRakhmat Jalaludin, 1996. Komunikasi Massa. Bandung : PT. Remaja Rosda KaryaSabatier, Paul. 1986. Top Down And Bottom Up Models of Policy Implementation : A CriticalAnalysis and Sugested Synthesis. Journal of Public Policy.Sukmadinata. 2005. Landasan Kebijakan Makro, Bandung : PT. Remaja Rosda KaryaSoemirat, Soleh dan Elvinaro Radianto.2003. Dasar-Dasar Public Relations. Bandung : RemajaRosdakarya.Wilcox, Dennis L, dkk. 2006. Public Relations Strategies and Tactics. Interaksa : Batam.www.e-journal.undip.ac.id/index.php/pwk/article/view/1451/teknik-perencanaan-wilayah-dankota/ISSN-2338-3526. (diunduh 19 Maret 2013, pk. 16.35)www.edukasi.kompas.com/read/2011/12/14/13141023/inilah.kampus.hijau.terbai.di.dunia.versi.ui(diunduh 23 Maret 2013, pk.20.09)www.dikti.go.id/?p=8453&lang-id 5 perguruan tinggi jadi percontohan kampus hijau. (diunduh 23Maret 2013, pk. 21.44)www.digilib.unmuhjember.ac.id/gdl.pdf?mood=browse&op=read&id=umj-ix-heribudh-1355Analisis asosiasi merek dalam membentuk brand image (diunduh 24 Maret 2013, pk. 16.37)www.suaramerdeka.com/vi/index.php/read/news/2013/03/06/148015/ tahun ini lima perguruantinggi dijadikan green campus. (diunduh 26 Maret 2013, pk. 17.22)www.sustainablecampus.org/universities.html.the.sustainable.campus. sustainable campusdevelopment. (diunduh 26 Maret 2013, pk.14.22)www.unnes.ac.id/bulettin/sosialisasi-kebijakan-transportasi-hijau-unnes-sekaran (diunduh 26 Maret2013, pk. 20.10)www.e-resources.pnri.go.id/index.php?option=com-library&itemid=53key=1. corporatecommunication : a strategic approach to building reputation. (diunduh 27 Maret 2013pk.17.23)http://www.shnews.co/duniakampus/detile-1206-ui-raih-peringkat-kampus-terhijau-ke25-didunia.html (diunduh 29 Maret 2013 pk.16.42)http://www.ui.ac.id/en/campus/page/green-campus green campus global development in recentyears brings indications that the future of the world are on the down edge of the environmen.(diunduh 5 April 2013 pk.13.20)www.find.lib.uts.edu.au/search-do-jsesionedid, Building The Brand : A Case Study of TroyUniversity (diunduh : 23 Maret 2013, pk. 19.22)www.researchgate.net/profile/andrea-muntean/publication, The Brand : One of The University’sMost Valuable Asset. (diunduh : 24 Maret, pk.13.21)www.palgrave.journal.com.pb./journal.abs/p20137a.html, City Branding : A brand concept mapAnalisys of a university top (diunduh 24 Maret 2013, pk. 17.09)www.digilib.ui.ac.id/file?file-abstrak-79123.pdf, Studi Kasus Brand Image Universitas Terbuka(Membangun ekuitas merek (brand equity) elemen brand awareness dan brand associationUniversitas Terbuka (diunduh : 24 Maret 2013, pk. 22.14)www.e-prints.undip.ac.id/21945/1/447.ki-fsp-1995a.pdf. Membentuk Citra Undip Melalui Media(diunduh :25 Maret 2013, pk.12.18)www.puslit.petra.ac.id.journals/iko/190080202/180020202.pdf. Kajian Peran Public Relationsdalam Meningkatkan Citra Perguruan Tinggi Swasta di Jawa Tengah (diunduh : 25 Maret 2013,pk. 17.22)
Strategi Komunikasi Pemasaran PT. New Ratna Motor di Wilayah Jawa Tengah dan DIY Dalam Mempertahankan Posisi Toyota Avanza Sebagai Market Leader di Kelas LMPV Tegar Tuanggana; Djoko Setiabudi; Agus Naryoso; Nuriyatul Lailiyah
Interaksi Online Vol 3, No 1: Januari 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (180.739 KB)

Abstract

Perkembangan pasar di dunia otomotif semakin pesat. Banyaknya varian mobil yang ditawarkan kepada konsumen juga semakin beragam. Kondisi yang dialami oleh PT. New Ratna Motor saat ini adalah penjualan Toyota Avanza sedang mengalami gangguan akibat bermunculan produk-produk LMPV sejenis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui strategi komunikasi pemasaran PT. New Ratna Motor dalam mempertahankan posisi Toyota Avaza sebagai market leader di kelas LMPV. Penelitian tentang strategi komunikasi PT. New Ratna Motor menggunakan tipe penelitian kualitatif. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode studi kasus. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan wawancara mendalam ( depth interview ) terhadap subjek yang diteliti.Hasil dari penelitian ini adalah, strategi komunikasi pemasaran yang dijalankan oleh PT. New Ratna Motor saat menghadapi kondisi saat ini adalah tidak menggunakan strategi yang berbeda dari strategi sebelumnya. Karena strategi komunikasi pemasaran yang sebelumnya dinilai masih efektif dalam mempertahankan posisi Toyota Avanza sebagai market leader di kelas LMPV untuk wilayah Jawa Tengah dan DIY.Kata Kunci : Strategi komunikasi pemasaran, taktik, market leader, IMC
STRATEGI BRANDING KOTA SURAKARTA DALAM PENGELOLAAN SEBAGAI DESTINASI WISATA Lina Mustikawati; Yanuar Luqman; Djoko Setiabudi
Interaksi Online Vol 1, No 3: Agustus 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (338.313 KB)

Abstract

STRATEGI BRANDING KOTA SURAKARTA DALAM PENGELOLAANSEBAGAI DESTINASI WISATAAbstrakPengembangan pariwisata menjadi salah satu fokus dalam peningkatan kualitashidup masyarakat melalui pendapatan daerah. Surakarta menjadi salah satu kota diIndonesia yang konsen terhadap sektor pariwisata karena memiliki potensi senidan budaya untuk dijadikan sebuah produk wisata yang dapat dijual kepadawisatawan.Saat ini, Surakarta menjadi sebuah kota wisata dengan konsep wisatabudaya. Tahun 2010 menjadi tahun dimana kota Surakarta mengoptimalkan brandpariwisatanya yaitu ’Solo, The Spirit of Java’ sejak diresmikan tahun 2003.Namun pada kenyataanya hingga saat ini, Surakarta masih belum dapat bersaingdengan kota-kota wisata lainnya seperti Bandung dan Yogyakarta dari segi jumlahwisatawan.Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahuistrategi branding dan mengevaluasi proses branding kota Surakarta dalammengkomunikasikannya sebagai sebuah destinasi wisata. Fase-fase destinationbranding dan destination branding model menjadi dasar dalam evaluasi brandingpariwisata kota Surakarta. Oleh karena itu, metode penelitian yang digunakanadalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan evaluatif.Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses branding yang dilakukan olehkota Surakarta masih belum sesuai dengan konsep branding sebuah destinasi,karena tidak ada keterpaduan antara tujuan pemasaran dan tujuan komunikasi.Surakarta cenderung menekankan pada hal-hal yang bersifat komersial untukkepentingan industri pariwisata sehingga mengesampingkan esensi sebenarnyadari konsep branding sebuah destinasi yaitu penyampaian pesan-pesankomunikasi brand pariwisata kota Surakarta.Kata Kunci : branding, Surakarta, destinasi, pariwisata, pemasaran, komunikasiviiiNama : Lina MustikawatiNIM : D2C009012SURAKARTA CITY’S BRANDING STRATEGIES IN MANAGEMENT ASA TOURISM DESTINATIONAbstractTourism development is one focus in improving quality of life through localrevenues. Surakarta became a city in Indonesia, concentrated on the tourism sectorbecause it has the potential of arts and culture to be used as a tourism product thatcan be sold to tourists.Currently, Surakarta became a city tour with the concept of culturaltourism. The year 2010 became the year in which Surakarta optimize its tourismbrand 'Solo, The Spirit of Java' since it was inaugurated in 2003. But the fact isuntil today, Surakarta still can not compete with other tourism cities such asBandung and Yogyakarta in terms of the number of tourists.The objectives of this research is to investigate and evaluate the process ofbranding strategies branding Surakarta in communicating it as a tourismdestination. Phases of destination branding and destination branding model thebasis for the evaluation of tourism branding Surakarta. Therefore, the researchmethod used was a qualitative research method with an evaluative approach.The results showed that the branding process conducted by the city ofSurakarta still not in accordance with the concept of branding a destination,because there is no coherence between the objectives of marketing andcommunication objectives. Surakarta tends to emphasize matters of a commercialnature for the benefit of the tourism industry to the exclusion of the true essenceof the concept of branding a destination that is delivering brand communicationmessages Surakarta tourism.Key words : branding, Surakarta, destination, tourism, marketing,communicationSTRATEGI BRANDING KOTA SURAKARTA DALAM PENGELOLAAN SEBAGAIDESTINASI WISATA1. PendahuluanSurakarta atau Solo adalah kota di Jawa Tengah yang tengah menjadi salah satu ikon dalampromosi pariwisata Indonesia. Strategi komunikasi pariwisata kota Surakarta dikelola olehDinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surakarta yang berkedudukan sebagai NationalTourism Organization (NTO). Berbagai kegiatan difokuskan pada kegiatan yang berujungpada kota MICE (Meeting, incentive, convention, and exhibition).Sebagai kota tujuan wisata, komunikasi branding kota Surakarta belum mampumencapai posisi teratas dalam kunjungan wisatawan. Surakarta baru mencapai targetkunjungan wisatawan tahun 2012 dengan kunjungan 2.133.848 orang. Sementara brandpariwisata dengan „Solo, The Spirit of Java‟ sudah berjalan semenjak tahun 2005, namunselama 5 tahun berjalan hingga tahun 2010, pariwisata kota Surakarta masih belummenunjukkan perkembangan untuk bersaing dengan kota-kota wisata lainnya. Tahun 2010,kepemimpinan Jokowi-Rudy periode kedua, Surakarta melakukan perubahan dari berbagaibidang, baik infrastruktur, kebijakan ekonomi, hingga pariwisata. Angin segar bagi pariwisataditunjukkan dengan peresmian badan promosi pada tahun 2010 yang khusus bertugasmempromosikan pariwisata kota Surakarta kepada calon-calon wisatawan di seluruh daerah.Kunjungan wisatawan menunjukkan adanya peningkatan, namun terkesan lambat untuksebuah kota wisata yang telah dibangun selama 7 tahun. Hal ini ditunjukkan denganpenurunan tertinggi terjadi pada wisatawan mancanegara yang datang melalui pintu masukbandara Adi Sumarmo sebanyak 9,31 persen dari kunjungan wisman tahun 2012 sebanyak8.044.062 pengunjung. (sumber : Berita resmi statistik, Perkembangan pariwisata, dantransportasi nasional 2012).Perkembangan pariwisata kota Surakarta pada tahun 2010ditandai dengan banyaknya penyelenggaraan berbagai event budaya dan promosi pariwisatadi dalam negeri maupun luar negeri, bahkan sempat dinobatkan oleh Indonesia TourismAward 2010 sebagai „kota Terfavorit‟ yang dikunjungi wisatawan, dan „Kota denganPelayanan Terbaik‟. Hal ini semestinya berdampak positif pada perkembangan jumlahwisatawan yang berkunjung ke kota tersebut. Mengamati kondisi tersebut, penelitian inibermaksud merumuskan permasalahan tentang bagaimana strategi branding yang dilakukankota Surakarta dalam pengelolaannya sebagai daerah destinasi wisata? Apakah dalam prosesmengkomunikasikan brandingnya sesuai dengan tahapan-tahapan yang seharusnya dilakukanuntuk destinasi branding pariwisata?Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui strategi branding yang diterapkan olehkota Surakarta dalam pembangunan brand sebagai sebuah destinasi wisata, dan mengevaluasiproses strategi branding dalam mengkomunikasikan kota Surakarta sebagai sebuah destinasiwisata. Penelitian ini menggunakan beberapa konsep destination branding, yaitu destinationbranding models yang dikemukakan oleh Cai (2002), destination branding phase, destinationbranding complexity. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metodepenelitian kualitatif pendekatan evaluatif dimana evaluasi dilakukan secara deskriptifberdasarkan konsep ideal dari branding sebuah destinasi (destination branding).Tipe Penelitian ini tipe penelitian deskriptif dengan pendekatan evaluatif program,yang berfokus pada proses dan hasil suatu perencanaan strategi program. Sumber data dalampenelitian ini meliputi data primer yang diperoleh secara langsung dari sumbernya melaluiwawancara mendalam (indepth interview) kepada narasumber terkait dan data sekunderdigunakan sebagai pendukung data primer yang dikumpulkan secara tidak langsung darisumber penelitian yaitu berupa tambahan sumber yang diperoleh peneliti secara tidaklangsung melalui media perantara.2. PembahasanEvaluasi dilakukan melalui analisis tentang proses dan kegiatan branding yang dilakukankota Surakarta untuk selanjutnya disesuaikan dengan konsep branding sebagai sebuahdestinasi. Hal ini didasarkan dengan analisis SOSTAC yang merupakan langkah-langkahdalam melakukan pemasaran branding yang nantinya akan terlihat apakah proses brandingkota Surakarta tersebut sesuai dengan konsep branding pariwisata yang seharusnya dilakukanuntuk menciptakan sebuah destinasi.Latar belakang yang dimiliki oleh kota Surakarta untuk dijadikan sebuah destinasi,sudah sesuai dengan konsep destination audit, yang meliputi daya tarik, kekuatan destinasi,dan jangkauan wisatawan. Ketiga faktor ini adalah sesuai dengan target audiens yang ingindicapai, yaitu wisatawan, baik asing maupun nusantara dengan segala fasilitas yang ada dapatmenikmati pariwisata di Surakarta. Branding destinasi wisata (destination branding)didefinisikan sebagai nama, simbol, logo, word mark atau gambaran lainnya yang dapatmengidentifikasi dan membedakan sebuah destinasi, selebihnya menjanjikan sebuahpengalaman wisata yang dapat diingat karena keunikan yang dimiliki oleh sebuah destinasiyang juga berfungsi dalam memperkuat ingatan kenangan yang mengesankan dari sebuahpengalaman destinasi (Ritchie, Ritchie; 1998). Definisi konsep branding destinasi wisata kotaSurakarta menunjukkan bahwa adanya kesesuaian, dimana Surakarta memiliki keunikansebagai pusat peradaban jawa yang berbasis seni dan kultur. Kekayaan yang dimiliki didalamnya seperti seni, budaya, kuliner dan wisata belanja memberikan pengalaman wisatayang menarik karena merupakan potensi khas kota Surakarta tidak dimiliki oleh kota-kotalainnya. Adapun tujuan (objective) branding destinasi kota Surakarta adalah (1) Keterbukaanakses yang lebih luas bagi wisatawan, (2) Perkembangan wisatawan yang signifikan setiaptahunnya (5-10%) untuk menghadirkan multiplier effect bagi sektor perdangangan danindustri pariwisata, (3) Keanekaragaman objek dan atraksi wisata yang dapat mendukunglama tinggal wisatawan, (4) Efisiensi sumber daya bagi pengembangan kepariwisataan(anggaran, SDM dan sumberdaya lainnya).Proses perencanaan meliputi penentuan strategi yang didahului dengan riset analisisSWOT dan Benchmarking kota Surakarta terhadap wilayah yang memiliki potensi serupaseperti Singapura dan Bali. Setelah itu dilakukan penentuan target audiens yang meliputiTarget Primer yaitu Wisatawan Nusantara, Target Sekunder yaitu wisatawan Malaysia,Singapura, dan Australia, dan target wisatawan tersier yang berdomisili selain target primerdan sekunder. Strategi branding dituangkan dalam Roadmap pariwisata yang didesain secaratematik sesuai dengan renstra meliputi Festive City, Theater of Community Arts, Pioneer ofEco Art, ArtEpolis.Kegiatan Implementasi dilakukan melalui kegiatan komunikasi pemasaran directmarketing dengan kegiatan promosi secara langsung seperti pameran pariwisata. Sedangkanindirect marketing dilakukan melalui kegiatan event seni budaya yang dilakukan dalam satutahun penuh. Selain itu dalam memperkuat brand equity, dilakukan maksimalisasi dalamberbagai komponen seperti brand identity melalui slogan dan logo, endorser melalui putradan putri Solo, dan kerjasama promosi melalui asosiasi terkait seperti Visit Jateng danWonderful Indonesia.Proses evaluasi dilakukan selama 1 tahun sekali, dimana ada indikator tertentu yangdigunakan untuk mengukur keberhasilan dari proses branding yang dilaksanakan, adapunindikator tersebut adalah The Number of Tourism, Length of Stay (LoS), Peredaran uang,Peningkatan jumlah akomodasi, dan penghargaan. Indikator keberhasilan kota Surakarta diatas belum sesuai dengan faktor ideal dalam mengukur keberhasilan branding sebuahdestinasi. Hal ini disebabkan karena tujuan utama yang ingin dicapai oleh kota Surakartaberfokus pada peningkatan jumlah wisatawan yang masuk ke kota Surakarta.3. PenutupBerdasarkan permasalahan dan tujuan dari penelitian ini, maka dapat dipaparkan kesimpulansebagai berikut :3.1 Proses perumusan konsep didasari dengan latar belakang kota Surakarta yangdijadikan pusat dari pengembangan pariwisata Solo Raya karena memiliki potensiyang ada sesuai dengan konsep branding sebagai sebuah destinasi wisata (destinationaudit) meliputi keragaman atraksi, kekuatan untuk disandingkan dengan destinasilainnya, dan jangkauan wisatawan. Perumusan konsep dilakukan oleh berbagai pihakdimulai dari organisasi pemerintah, badan eksekutif dan legislatif, tokoh seni danbudaya, serta stakeholder pariwisata. Namun media sendiri yang berkedudukansebagai pembentuk opini tidak dilibatkan di sini karena media dianggap sebagaichannel dari pihak eksternal yang berguna dalam penyampaian informasi mengenaiberbagai kegiatan dalam proses branding. Objektif dari branding kota Surakarta masihbergantung tujuan marketing dibandingkan tujuan komunikasi. Selain itu, targetaudiens kota Surakarta didasarkan aspek geografis saja, sedangkan dalam prosesbranding, penentuan target audiens, setidaknya harus didasarkan pada aspekpsikografis, karena berkaitan dengan minat dan ketertarikan target audiens terhadapkonsep wisata kota Surakarta sebagai kota Budaya, sehingga akan memudahkandalam penyerapan pesan branding.3.2 Perencanaan strategis dalam jangka panjang penting dilakukan oleh sebuah kotasebagai dasar untuk melakukan segala kegiatan branding. Strategi tersebut,diimplementasikan melalui sebuah manajemen yaitu manajemen produk, manajemenbrand, dan manajemen servis.3.3 Implementasi strategi branding kota Surakarta melibatkan NTO (National TourismOrganization) dalam hal ini Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surakarta denganberbagai stakeholder Internal pariwisata yaitu ASITA, PHRI, HPI, dan BPPIS. Dalamprosesnya, NTO mengikut sertakan para stakeholder pada setiap kegiatan promosiyang terdiri dari kegiatan direct marketing dan indirect marketing. Penetapan tolakukur keberhasilan kegiatan branding kota Surakarta masih belum sesuai denganfaktor-faktor penentu keberhasilan branding sebuah destinasi yang lebih menekankanpada komunikasi brand untuk selanjutnya dipahami oleh berbagai stakeholder dantarget audiens. Dalam membranding sebuah destinasi akan terlibat melalui berbagaiaspek, dimana faktor ini sewaktu-waktu akan menghambat dalam proses branding.Aspek Natural diatasi dengan perjanjian dalam MoU yang ditandatangani olehmasing-masing walikota dalam kerjasama promosi terhadap keunikan masing-masingdestinasi. Aspek politik yang merujuk pada isu kerusuhan diatasi hal ini,dilakukankirab budaya oleh walikota Surakarta dalam rangka menciptakan image kotaSurakarta yang aman dan nyaman. Kendala lain dari aspek ekonomis adalahbudgeting yang dinilai sangat kecil, dilakukan pendekatan untuk menumbuhkan senseof belonging pada stakeholder eksternal, dimana melalui perasaan tersebut akanmenekan budgeting yang harus dikeluarkan. Manusia menjadi salah satu aspek,dimana akan mempengaruhi dalam perencanaan branding karena bertindak sebagaipembuat keputusan. Hal ini dianggap sebagai perubahan selera masyarakat, dan untukmengatasinya, Surakarta memfasilitasinya dalam hal ini melalui wisata belanjadengan produk-produk tradisional sehingga menarik wisatawan seperti batik dansouvenir.DAFTAR PUSTAKABukuAaker , David A. 2000. Brand Leadership. New York : The Free Press.Aaker, David A . 1991. Managing Brand Equity: Capitalising on the Value of a Brand Name,London: the Free PressBungin, B. 2007. Penelitian Kualitatif. Jakarta : Prenada Media Group.Cultures and Markets. Kogan Page Business BooksDreyfuss, Henry. 1972. Symbol Sourcebook : An Authoritative Guide to InternationalGraphic Symbols. McGraw-Hill Inc.Gelder, Sicco Van. 2005. Global Brand Strategy : Unlocking Brand Potential AcrossCountries,Gregory, Anne. 2010. Planning and Managing Public Relations Campaigns : A StrategicApproach. Kogan Page Publisher.Kasali, Rhenald. 1998. Membidik Pasar Indonesia : Segmentasi, Targeting, dan Positioning.Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.Keller, Kevin Lane. 2003. Strategic Brand Management : Building, Measuring, andManaging Brand Equity. California : Prentice Hall.Kerzner, Harold. 2001. Strategic Planning for Project Management Using a ProjectManagement Maturity Model. WileyKotler Philip & Keller Kevin Lane, 2009, Manajemen Pemasaran, edisi ketiga belas, Jakarta:Erlangga.Kotler, P, Haider, DH & Rein, IJ . 1993. Marketing places: Attracting investment, industry,and Tourism to cities, States, and Nations.Kriyantono, Rachmat. 2006. Teknik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta : Kencana.Lesly, Philip. 1991. Lesly's Handbook of Public Relations And Communications. McGrawHill.Macnamara, Jim. 1996. Public Relations Handbook For Manager and Executive.Australia: Prentice Hall.McNally, David. Speak, Karl D. 2004. Be Your Own Brand. Jakarta : Gramedia PustakaUtama.Moleong, Lexy J. 2008. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung : Remaja Rosdakarya.Morgan, N., Pritchard, A., & Pride, R. (2004). Destination Branding – Creating the UniqueDestination Proposition. (2ndEd). Oxford: Butterworth-Heinemann.Patton, Michael Quinn. 2009. Metode Evaluasi Kualitatif. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.Percy, Larry. 1987. Advertising Communication and Promotion Management. Mc Graw HillInc.Ries, A. and Trout,J. 1981. Positioning, The battle for your mind. New York : Warner Books– McGraw-Hill Inc.Sadat, Andi M. 2009. Brand Belief : Strategi Membangun Merek Berbasis Keyakinan.Jakarta : Salemba Empat.Schultz, Don. E and Barnes, Beth E. (1999). Strategic Brand Communication Campaigns.Lincolnwood, IL : NTC Business Books.Smith, Paul Russel. 2003. Great Answer Tough Marketing Quest. Koogan Page Publisher.Temporal, Paul. 2002. Advanced Brand Management : Managing Brand in A ChangingWorld. WileyTjiptono, Fandy. 2005. Brand Management & Strategy. Yogyakarta : Andi Offset.tourism to cities, states, and nations. New York: The Free Press.UNWTO and ETC. 2009. Handbook on Tourism Destination Branding. Madrid : The WorldTourism Organization and the European Travel Commission.Upshow, Lynn B. 1995, Building Brand Identity, A strategy for success in hostilemarketplace. John Wiley & Sons, Inc, pp. 15-16.Worthen, Blaine R. ,Sanders, James R. 1979. Practices and Problems in Competency-BasedMeasurement.PenelitianChaerani, R.Y. (2011). Pengaruh City Branding Terhadap City Image (Studi Pencitraan KotaSolo : „The Spirit of Java’). Laporan Penelitian. Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.Illiachenko, Elena Y. 2005. Exploring Culture, History and Nature as Tourist DestinationBranding Constructs : The Case of a Peripheral Region in Sweden. Dipresentasikanpada Seminar Policy and marketing/ Destination image and marketing di Akureyri,Iceland (22-25 Sept 2005) :1-12Ionela Cretu. (2011) . Destination image and destination branding in transition countries :the Romanian tourism branding campaign ‘Explore the Caparthian Garden’ .Desertasi. University of York.Liestiandre, Hanugerah K. Analisis Positioning Bali Sebagai Destinasi Wisata. Tesis.Universitas Udayana Denpasar.Linh, Duong Thuy. (2012). Practice of Internet Marketing in Destination Branding.Bachelor’s Thesis. Savonia University.Morrison, A. M & Anderson, D. J. 2002. Destination Branding, Dipresentasikan padaSeminar the Annual Meeting of the Missouri Association of Convention and VisitorBureaus.Risitano, M. (2005). The role of destination branding in the tourism stakeholders system. TheCampi Flegrei case. Laporan Penelitian. Faculty of Economics: University of NaplesFederico II.Stufflebeam, Daniel L. (2003). The CIPP Model for Evaluation. Dipresentasikan padaAnnual Conference of The Oregon Program Evaluators Network (OPEN) di Portland,Oregon. (10 Maret 2003) : 2-68.Hassan,Suzan B., Mohamed Soliman A. Hamid, dan H. Al Bohairy. (2001). Perception ofDestination Branding Measures : A Case Study of Alexandria Destination MarketingOrganizations. Laporan Penelitian.Trost, Klaric, dan Ruzik. (2012). Events as a Framework For Tourist Destination Branding-Case Studies of Two Cultural Events in Croatia. Laporan Penelitian.JurnalArgenti, Paul A. , Howell, Robert A. , Beck, Karen A. 2005. The Strategic CommunicationImperative. MIT Sloan Management Review. 83-89.Armstrong, J. Scott. 1986. Strategic Planning Improves Manufacturing Performance.Marketing Papers. 127-129Cai, L. A. (2002). Cooperative branding for rural destination. Annals of Tourism Research.29 (3), 720 – 742.David A. and Kevin L. Keller (1990), “Consumer Evaluations of Brand Extensions,” Journalof Marketing, 54 (January), 27-41Lassar, W., Mittal B. , and Sharma A. (1995). Measuring Customer-Based Brand Equity.Journal of Consumer Marketing 12(4): 11-19.Lavidge and Steiner. (1961). A Model for Predictive Measurements of AdvertisingEffectiveness. Journal of Marketing (October 1961) : 59–64.Ritchie, J.R.B. and Ritchie, R.J.B. (1998). Branding of Tourism Destinations : pastachievements and future challenges. A basic report for presentation th the 1998Annual Congress of the International Association of Scientific Experts in Tourism,Marrakech, Morocco, September 1998.Schultz, D., and H. Schultz. 1998. Transforming marketing communication into the twentyfirstcentury.Journal of Marketing Communications 4, no. 1: 9–26.Yoo, Bonghee , Donthu, Naven, Lee, Sungho. (2000). An Examination of Selected MarketingMix Elements and Brand Equity. Journal of Academy Marketing Science . SagePublications, 28 ; 195.InternetBPPIS Solo Fokus Promosi ke Tiga Kawasan Potensial . (2013). Dalamhttp://www.harianjogja.com/baca/2013/02/01/bppis-solo-fokus-promosi-ke-tigakawasan-potensial-374585 . Diunduh pada tanggal 18 Maret 2013 pukul 12.59 WIB.EUROCITIES. 2010. A shared vision on city branding in Europe [electronic material].Dalamhttp://ddata.overblog.com/xxxyyy/1/19/97/12/eurocities/EUROCITIES_City_branding_final-SMUL.pdf. Diunduh tanggal 15 April 2013 pukul 9.05 WIBIndonesia Tampil Total dalam Pameran Wisata Berlin . (2013). Dalamhttp://www.antaranews.com/berita/359928/indonesia-tampil-total-dalam-pameranpariwisata-berlin. Diunduh pada tanggal diunduh pada tanggal 18 Maret 2013 pukul12.32 WIB.Kunjungan Wisatawan ke Semarang Meningkat. (2013). Dalamhttp://travel.kompas.com/read/2013/01/15/14164693/Kunjungan.Wisatawan.ke.Semarang.Meningkat . Diunduh pada 17 Februari 2013 pukul 22.43 WIB.Kunjungan Wisatawan ke Semarang Meningkat. Dalamhttp://travel.kompas.com/read/2013/01/15/14164693/Kunjungan.Wisatawan.ke.Semarang.Meningkat diunduh pada tanggal 9 April 2013 pukul 11.10 WIB.Pertumbuhan Ekonomi Sragen Tertinggi di Surakarta. (2012). Dalamhttp://economy.okezone.com/read/2012/12/28/20/738578/2012-pertumbuhanekonomi-sragen-tertinggi-di-surakarta . Diunduh pada tanggal 17 Maret 2013 pukul18.00 WIBSurakarta targetkan 2 juta wisatawan per-tahun. Dalamhttp://www.wisatamelayu.com/id/news/12650-Surakarta-Targetkan-2-Juta-Wisatawan-Per-Tahun diunduh pada tanggal 9 April 2013 pukul 12.07 WIB.Ulfah, Anita. (2012). ”Eco-Cultural” City Jokowi. Dalamhttp://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2012/07/26/194009/10/Ecocultural-City-Jokowi . Diunduh pada tanggal 16 Maret 2013 pukul 11.41 WIB.
Efektivitas Format Iklan Komparatif dan Non Komparatif Merek Market Leader Krisna Adryanto; Tandiyo Pradekso; Djoko Setiabudi
Interaksi Online Vol 1, No 4: Oktober 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (518.107 KB)

Abstract

Jurnal Interaksi (Edisi Oktober, 2013)Page 2Efektivitas Format Iklan Komparatif dan Non KomparatifMerek Market LeaderKrisna Adriyanto, Tandiyo Pradekso1, dan Djoko Setyabudi2ABSTRACTField Experimental Research, 2 (Ad Formats) X 2 (The Difference between Men andWomen in Information-Proccessing Strategies) Randomized-Blocked Factorial Designwas conducted involving 120 participants (60 men and 60 women), who were assignedinto 4 (four) treatment groups. Stimulus used in this research are non-comparative andindirect comparative ads which used by the brand "Adem Sari" in the period mid-2012to mid-2013. The stimulus was combined with the Opera Van Java July 24, 2013Edition and involved several ads from other product categories. Furthermore, the dataanalysis techniques used as hypothesis testing tools are Two-Ways ANOVA, Mann-Whitney U Test, Two-Ways Friedman ANOVA By Rank and Structural EquationModelling with an alternative method of Partial Least Square (PLS).These studies suggest that indirect comparative ad formats result in unfavorableattitudes toward the ad and brand. In addition, the ability of this type of advertising toencourage favorable cognitive responses toward ads and encouraging purchaseintention, also did not differ significantly with non-comparative ad format. Cognitiveresponse toward ads on both types of ad formats (indirect comparative and noncomparative)is significantly affect consumer attitudes toward the ad and brand. In thenon-comparative advertising, attitudes toward ad have a significant effect on attitudestoward the brand, but this does not occur in indirect comparative advertising. In thiscases, consumer attitudes toward the ad and brand proved as a significant predictor ofconsumer purchase intention when indirect comparative advertising is used, but thisdoes not apply when non-comparative advertising is used. The differences between Mendan Women in Information-Proccessing Strategies and their interaction with the adformat, also did not significantly influence the effectiveness of both types of ad formats.Another interesting finding in this research, is the Men have more favorable attitudetowards the brand when exposed to indirect comparative advertising. While Womenwill have more favorable attitude towards the brand than Men when exposed to noncomparativeadvertising.Keywords : Ad Format, The Differences between Men and Woman in Information-Proccessing Strategies, Cognitive Response toward the Ad, Attitude toward the Ad,Attitude toward the Brand, Purchase Intention, Partial Least Square (PLS).1,2Corresponding authorJurnal Interaksi (Edisi Oktober, 2013)Page 3PENDAHULUANPersaingan bisnis kategori produk minuman pereda panas dalam jenis serbuk yangsemakin ketat menuntut pemasar merek “Adem Sari”, sebagai market leader,menggunakan periklanan komparatif tidak langsung untuk membuat komparasi denganmerek “Segar Dingin Madu”. Adu klaim “Mencegah” versus “Menyembuhkan”mewarnai strategi periklanan yang digunakan merek “Adem Sari” untuk menyerangkompetitornya tersebut.Belch dan Belch (2009:197) mengungkapkan bahwa menampilkan produkpesaing/kompetitor dalam iklan merek market leader akan memberikan manfaat yangsedikit. Disamping itu, rekomendasi yang diberikan untuk memperoleh efektivitasmaksimal dari iklan komparatif adalah sebaiknya format iklan ini digunakan oleh merekbaru/merek berpangsa pasar rendah, dan bila merek berpangsa pasar besar inginmelakukan perbandingan dengan merek berpangsa pangsa pasar besar lainnya, makalebih baik menggunakan iklan komparatif tidak langsung. Dengan demikian, dapatdisimpulkan bahwa praktik penggunaan iklan komparatif tidak langsung oleh merek“Adem Sari”, tidak sesuai dengan rekomendasi yang diberikan untuk memperolehefektivitas maksimal dari penggunaan iklan tersebut.Hasil riset Women Insight Centre (WIC) pada Februari 2011 di 6 (enam) kotabesar di Indonesia, menunjukkan bahwa Wanita sering lebih banyak menghabiskanwaktu dan melakukan proses yang lebih komperhensif dibandingkan dengan Pria, padatahap keputusan awal proses pembelian. Wanita ingin membandingkan dan membelimerek yang lain untuk digunakan dalam situasi yang sama. Dengan demikian, Wanitamembutuhkan jaminan kesesuaian antara janji-janji pemasar, terutama yang muncul dariiklan dan/atau sumber lainnya, yang memunculkan harapan dan realitas yangditerimanya. Tentunya, perbedaan Pria dan Wanita dalam memproses informasi akanmemberikan konsekuensi evaluatif yang berbeda pula pada sebuah iklan, merek danpembeliannya. Di mana, diiindikasikan bahwa, terlepas dari format iklan yangdigunakan, Wanita akan terlibat lebih besar untuk mengevaluasi iklan dan merek, biladibandingkan dengan Pria, bila merujuk pada perbedaan cara memproses informasi,diantara Pria dan Wanita tersebut. Namun, terkait dengan efektivitas periklanankomparatif, Chang (2007:21) menemukan hal yang menarik, yaitu (1) Pria memilikiketerlibatan yang lebih besar dalam mengevaluasi-merek, dibandingkan dengan Wanita,ketika diekspose iklan komparatif. (2) Sebaliknya bagi Wanita, perhatian yang diperolehdari daya tarik komparatif mendorong kesimpulan mengenai maksud manipulatif dariiklan. Dengan demikian, pada Pria, keterlibatan dalam evaluasi-merek yang semakinbesar dibawa oleh daya tarik komparatif menyebabkan evaluasi iklan dan merek lebihmenguntungkan dan minat beli yang lebih besar. Sedangkan untuk Wanita, persepsiyang tinggi atas maksud manipulatif dari iklan yang dibawa oleh daya tarik komparatif,mendorong evaluasi negatif pada iklan dan merek, serta mengurangi niat pembelian.Kesimpulannya, format iklan komparatif tidak langsung yang digunakan olehmerek market leader, diindikasikan akan memberikan manfaat yang tidak berbedasecara signifikan dari penggunaan format iklan non-komparatif. Selanjutnya, perbedaandiantara Pria dan Wanita, dalam memproses informasi yang dibawa oleh daya tarikkomparatif, juga menimbulkan konsekuensi evaluatif yang berbeda pula. Maka,perbedaan Pria dan Wanita dalam strategi pemrosesan informasi, merupakan konseppenting yang perlu diperhatikan guna meramalkan efektivitas format iklan komparatifdan efektivitas format iklan non komparatif, yang digunakan oleh merek market leader.Pertanyaan penelitian yang diajukan dalam penelitian ini, adalah :1. Apakah format iklan komparatif tidak langsung merek market leader lebih efektifbila dibandingkan dengan format iklan non komparatif merek market leader?Jurnal Interaksi (Edisi Oktober, 2013)Page 42. Apakah perbedaan Pria dan Wanita dalam strategi pemrosesan informasi, secarasignifikan mempengaruhi efektivitas format iklan komparatif tidak langsung merekmarket leader dan efektivitas format iklan non komparatif merek market leader?TINJAUAN PUSTAKAModel Komunikasi (Communication Model) dalam Model Mikro Respon Konsumen(Micromodel of Consumer Response) menunjukkan bahwa konsumen/pembeli/khalayakmelalui beberapa tahapan, yaitu tahapan Kognitif (Eksposur, Penerimaan dan ResponKognitif), tahapan Afektif (Sikap dan Intensi) dan tahapan Behavioral (Perilaku). Modelini menyatakan bahwa tahap Kognitif, tahap Afektif dan tahap Behavioral dilalui secaraberurutan oleh konsumen/pembeli/khalayak (Kotler et al., 2009:532-533).Model Respon Kognitif (Cognitive-Response Approach Model) adalah salahsatu metode paling populer untuk memeriksa respon kognitif konsumen terhadap iklan.Dalam Model Respon Kognitif, pemikiran-pemikiran khalayak diarahkan kepadasetidaknya 3 (tiga) hal, yaitu : (1) Pemikiran terhadap Produk/Pesan, (2) Pemikiranterhadap Sumber Komunikasi, dan (3) Pemikiran terhadap Eksekusi Iklan (Belch danBelch, 2009:165-167).Merujuk pada Model Komunikasi dan Model Respon Kognitif tersebut, setelahrespon kognitif khalayak terhadap iklan terbentuk, maka selanjutnya respon kognitiftersebut mempengaruhi pembentukan sikap konsumen, yang dalam hal objek sikapberupa iklan adalah diarahkan kepada 2 (dua) jenis sikap, yaitu : (1) Sikap terhadapIklan, dan (2) Sikap Terhadap Merek.H1 : Ada pengaruh signifikan Respon Kognitif Khalayak terhadap Iklan (RK) atasSikap terhadap Iklan (SI), ketika format iklan komparatif tidak langsung digunakan (a)dan format iklan non komparatif digunakan (b).H2 : Ada pengaruh signifikan Respon Kognitif Khalayak terhadap Iklan (RK) atasSikap terhadap Merek (SM), ketika format iklan komparatif tidak langsung digunakan(a) dan format iklan non komparatif digunakan (b).Fill (2009:148) mengungkapkan bahwa dalam Teori Psikologi Klasik, sikap dianggapterdiri dari 3 (tiga) komponen, yaitu : (1) Komponen Afektif, (2) Komponen Kognitif,dan (3) Komponen Konatif. Azwar (2011:28) menyatakan bahwa ketiga komponentersebut akan saling selaras dan konsisten satu sama lain dikarenakan apabiladihadapkan dengan suatu objek sikap yang sama, maka ketiga komponen tersebut harusmempolakan arah sikap yang seragam. Kemudian, ketika ketiga komponen tersebuttidak konsisten satu sama lain, maka akan terjadi mekanisme perubahan sikapsedemikian rupa sehingga konsistensi itu tercapai kembali.Hubungan diantara Sikap terhadap Iklan dan Sikap terhadap Merek, yangkeduanya merupakan Komponen Afektif Sikap, hingga kini masih menjadi perdebatan.Argumen MacKenzei, Lutz dan Belch, yang dikutip Grewal et al., (Setiyaningrum,2008:22) mendukung pernyataan bahwa perasaan dan sikap terhadap merek yangdiiklankan secara positif dipengaruhi oleh sikap terhadap merek. Beberapa buktiditunjukkan oleh MacInnis dan Jaworski (Hoyer dan MacInnis, 2008:142) bahwakeseluruhan sikap terhadap iklan di mana merek diiklankan akan mempengaruhi sikapkonsumen terhadap merek. Namun, meskipun demikian, temuan Droge, yang dikutipoleh Grewal et al., (Setiyaningrum, 2008:22) menunjukkan bahwa sikap terhadap iklanmempengaruhi sikap terhadap merek untuk iklan non komparatif, tetapi tidak untukiklan komparatif.H3 : Ada pengaruh signifikan Sikap Terhadap Iklan (SI) atas Sikap terhadap Merek(SM) ketika format iklan non komparatif digunakan (a), namun hal ini tidak terjadiketika format iklan komparatif tidak langsung digunakan (b).Jurnal Interaksi (Edisi Oktober, 2013)Page 5Minat/intensi pembelian, yang merupakan tahapan konatif sikap, seringdigunakan sebagai parameter pengukuran untuk meramalkan efektivitas periklanan. Halini disebabkan karena semua iklan tidak, seharusnya tidak dan tidak bisa di desain untukmenghasilkan pembelian secara langsung (immediate purchase) kepada siapa saja yangdiekspose iklan tersebut. Dengan kata lain, pembelian (purchase) sebagai tahapanbehavioral dari respon konsumen terhadap iklam, adalah efek jangka panjang. Asumsiini dilandasi sebuah pernyataan bahwa konsumen tidak dapat berubah dari individuyang tidak tertarik menjadi individu yang berminat pada sebuah merek atu produk yangdiiklankan secara instan. Dengan demikian, untuk meramalkan pembelian di masamendatang oleh konsumen, maka digunakan konstruk minat/intensi pembelian(purchase intention), yang ada pada komponen konatif sikap, dan merupakan ukuranyang ada pada tahapan hierarkis tertinggi yang dekat dengan pembelian aktual. Makadari itu, dapat disimpulkan bahwa minat/intensi pembelian merupakan ukuran tertinggiuntuk meramalkan efektivitas periklanan, di mana efek ini dapat segera diketahuidengan segera pasca khalayak diekspose oleh iklan.MacInnis dan Jaworski (Hoyer dan MacInnis (2008:142) menunjukkan bahwakeseluruhan sikap terhadap iklan di mana merek diiklankan, selain akan mempengaruhisikap konsumen terhadap merek, juga akan mempengaruhi perilaku terhadap merek.Disamping itu, temuan Droge yang dikutip Grewal et al., (Setiyaningrum, 2008:23) jugamenunjukkan bahwa ada hubungan yang lebih kuat diantara sikap terhadap merekdengan minat beli ketika iklan komparatif digunakan dibandingkan dengan ketikamenggunakan iklan non-komparatif.H4 : Ada pengaruh Ada pengaruh signifikan Sikap terhadap Iklan (RI) atas Minat beli(MB), ketika format iklan komparatif tidak langsung digunakan (a) dan format iklannon komparatif digunakan (b).H5 : Ada pengaruh signifikan Respon Sikap terhadap Merek (SM) atas Sikap Minat Beli(MB), ketika format iklan komparatif tidak langsung digunakan (a) dan format iklannon komparatif digunakan (b).Grewal et al., (Manzur et al., 2012:277) dalam meta-analisisnya untukmemeriksa efektivitas iklan komparatif di Amerika Serikat, menunjukkan bahwa iklankomparatif dibandingkan dengan iklan non-komparatif, lebih efektif dalammeningkatkan perhatian, pemrosesan pesan, kesadaran merek, sikap menguntungkanterhadap merek dan meningkatkan minat beli konsumen. Disisi lain, iklan komparatifmenghasilkan kredibilitas sumber yang rendah dan sikap kurang menguntungkanterhadap iklan.Selanjutnya, di Spanyol oleh Del Barrio-Garcia dan Luque-Martinez dan diKorea oleh Lyi, juga menemukan hasil serupa di mana iklan komparatif memilikikredibilitas sumber yang rendah. Di Chile, tidak ditemukan adanya perbedaan yangsignifikan antara sikap terhadap merek dan minat beli, yang dihasilkan oleh iklankomparatif dan iklan non-komparatif. Disamping itu, sikap terhadap iklan terhadapiklan komparatif yang ditemukan di Chile juga secara parsial mirip dengan yangditemukan di Inggris (UK) dan India oleh Donthu, yaitu direspon secara kurangmenguntungkan, bila dibandingkan dengan sikap terhadap iklan yang dihasilkan olehiklan non komparatif (Manzur et al., 2012:278-288).H6 : Bila dibandingkan dengan format iklan non komparatif, khalayak merespon formatiklan komparatif tidak langsung secara kurang menguntungkan pada variabel ResponKhalayak terhadap Iklan (RK).H7 : Bila dibandingkan dengan format iklan non komparatif, khalayak merespon formatiklan komparatif tidak langsung secara kurang menguntungkan pada variabel Sikapterhadap Iklan (SI).Jurnal Interaksi (Edisi Oktober, 2013)Page 6H8 : Tidak ada perbedaan yang signifikan diantara format iklan komparatif tidaklangsung dan format iklan non komparatif, dalam kaitannya untuk menghasilkan Sikapterhadap Merek (SM).H9 : Tidak ada perbedaan yang signifikan diantara format iklan komparatif tidaklangsung dan format iklan non komparatif, dalam kaitannya untuk menghasilkanMinat/Intensi Pembelian (MB.Selanjutnya, dilihat dari perbedaan Pria dan Wanita dalam strategi untukmemproses informasi, menurut Meyers-Levy, Maheswaran dan Sternthal, bahwa priacenderung dilihat sebagai pemroses selektif dan sedangkan wanita dilihat sebagaipemroses yang komprehensif. Kemudian, Meyers-Levy dan Sternthal menambahkanbahwa ambang elaborasi wanita lebih rendah dibandingkan dengan pria. SedangkanDuff dan Hampson menyatakan bahwa wanita membuat lebih sedikit kesalahandibandingkan dengan pria saat melakukan tugas yang menuntut kinerja ingatan. Di sisilain, sebagaimana dikemukakan oleh Chang, pria lebih banyak terlibat dalamketerlibatan untuk mengevaluasi merek, dibandingkan dengan wanita. Klinteberg,Levander dan Schalling menemukan bahwa wanita lebih menyukai strategi pemecahanmasalah reflektif-sekuensial, dan sedangkan pria lebih menyukai strategi pemecahanmasalah impulsif-global. Dalam studi lain oleh Chung dan Monroe, pria dibandingkanwanita lebih menyukai untuk mengadopsi strategi konfirmasi-hipotesis. Lebih lanjut,dalam konteks berbelanja, Laroche et al., mendemonstrasikan bahwa wanita akanterlibat dalam pencarian informasi yang komprehensif dan intensif, sedangkan priahanya terlibat dalam pencarian informasi yang selektif. Menurut Cleveland et al., wanitajuga menunjukkan penggunaan informasi makro dan mikro lebih besar dibandingkandengan pria ketika berbelanja di toko (Chang, 2007:21-22).H10 : Ada perbedaan signifikan diantara Pria dan Wanita, yang disebabkan olehperbedaan keduanya dalam strategi pemrosesan informasi, baik pada Respon KognitifKhalayak terhadap Iklan (a), Sikap terhadap Iklan (b), Sikap terhadap Merek (c), danMinat/Intensi Pembelian (d), terlepas dari format iklan yang digunakan.Sebagaimana diungkapkan oleh Thompson dan Hamilton, bahwa kecocokanantara format iklan dengan gaya pemrosesan informasi konsumen akan meningkatkanefektivitas periklanan. Begitupun sebaliknya, ketidakcocokan format iklan dengan gayapemrosesan informasi konsumen akan menurunkan efektivitas periklanan. Relatifterhadap iklan non-komparatif, iklan komparatif lebih efektif ketika konsumenmenggunakan pemrosesan secara analitis. Sedangkan iklan non-komparatif akan lebihefektif dibandingkan iklan komparatif ketika konsumen menggunakan pemrosesansecara imajinatif. MacInnis dan Price, mendeskripsikan gaya pemrosesan informasisebagai cara di mana informasi direpresentasikan dalam jalannya ingatan. MenurutOliver, Robertson dan Mitchell, pemrosesan secara imajinatif dan analitis secarakualitatif berbeda dalam gaya elaborasi, di mana MacInnis dan Price menambahkan halini terjadi dalam kontinum elaborasi rendah menuju elaborasi tinggi (Thompson danHamilton, 2006:530-531). Dalam kaitannya dengan perbedaan Pria dan Wanita dalamstrategi pemrosesan informasi, sebagaimana dikemukakan oleh Meyers-Levy danSternthal, bahwa ambang elaborasi wanita lebih rendah dibandingkan dengan pria(Chang, 2007:21), maka penulis menyimpulkan bahwa iklan komparatif mungkin lebihefektif bagi pria sebagai pemroses selektif dan pemilik ambang elaborasi yang lebihbesar, di mana disisi lain iklan komparatif juga lebih efektif ketika diproses secaraanalitis, yang pada akhirnya menyebabkan elaborasi tinggi pula. Sedangkan iklan nonkomparatifmungkin lebih efektif bagi wanita sebagai pemroses komprehensif, yangmengintegrasikan informasi secara mendetail, di mana disisi lain iklan non-komparatifjuga lebih efektif ketika diproses secara imajinatif, atau secara holistik menurutJurnal Interaksi (Edisi Oktober, 2013)Page 7MacInnis dan Price, berdasarkan penggunaan konstruksi atas detail produk sebagaiskenario alternatif, dan sumber daya untuk memproses informasi pada merek laindikurangiH11 : Respon Kognitif Khalayak terhadap Iklan (RK) secara signifikan dipengaruhiinteraksi antara perbedaan format iklan dan perbedaan Pria dan Wanita dalam strategipemrosesan informasi.Merujuk pada temuan Chang (2007:21), bahwa keterlibatan dalam evaluasimerekoleh Pria, yang semakin besar, dibawa oleh daya tarik komparatif menyebabkanevaluasi iklan dan merek lebih menguntungkan dan minat beli yang lebih besar.Sedangkan untuk Wanita, persepsi yang tinggi atas maksud manipulatif dari iklan yangdibawa oleh daya tarik komparatif, mendorong evaluasi negatif pada iklan dan merek,serta mengurangi niat pembelian. Hal ini senada dengan temuan Campbell, di manataktik periklanan yang bertujuan mendapatakan perhatian, mendorong konsumenmenyimpulkan bahwa pengiklan mencoba memanipulasi pemirsa iklan.H12 : Sikap terhadap Iklan (SI) secara signifikan dipengaruhi interaksi antaraperbedaan format iklan dan perbedaan Pria dan Wanita dalam strategi pemrosesaninformasi.H13 : Sikap terhadap Merek (SM) secara signifikan dipengaruhi interaksi antaraperbedaan format iklan dan perbedaan Pria dan Wanita dalam strategi pemrosesaninformasi.H14 : Minat/Intensi Pembelian (MB) secara signifikan dipengaruhi interaksi antaraperbedaan format iklan dan perbedaan Pria dan Wanita dalam strategi pemrosesaninformasi.METODE PENELITIANDefinisi Konseptual1. Format iklan merek market leader didefinisikan sebagai bentuk penyajian dayatarik pesan iklan yang digunakan sebagai strategi periklanan oleh pemasar, yangdiakui sebagai pemimpin pasar dari kategori produk tertentu, di mana pangsa pasaryang dimiliki merupakan yang terbesar (40%) dalam pangsa pasar relevan(Setiyaningrum, 2008:18; Tjiptono, 2002:303).2. Perbedaan Pria dan Wanita dalam Strategi Pemrosesan Informasididefinisikan sebagai perbedaan cara Pria dan Wanita mengolah informasi, yaituPria secara selektif dan Wanita secara komprehensif (Chang, 2007:21).3. Respon kognitif khalayak terhadap iklan didefinisikan sebagai pemikiranpemikiranyang muncul pada tahap pemahaman dalam pemrosesan informasi dankemudian pemikiran-pemikiran ini akhirnya mempengaruhi penerimaan seseorangterhadap stimulus iklan yang menerpanya (Blackwell, Engel dan Miniard, 1995:30).4. Sikap terhadap iklan didefinisikan sebagai perasaan konsumen dan sikap terhadapformat iklan secara keseluruhan (Setiyaningrum, 2008:22).5. Sikap terhadap merek didefinisikan sebagai perasaan konsumen dan sikapterhadap merek sponsor iklan secara keseluruhan (Setiyaningrum, 2008:22).6. Minat/Intensi pembelian didefinisikan sebagai sesuatu yang berhubungan denganrencana konsumen untuk membeli produk tertentu yang dibutuhkan pada periodetertentu (Durianto dan Liana, 2004:44).Definisi Operasional1. Format iklan merek market leader memiliki variasi nilai iklan non-komparatifmarket leader dan iklan komparatif tidak langsung merek market leader. Sertavariabel ini dioperasionalisasikan dengan cara menempatkan subjek penelitiansebagai unit analisis secara random pada kelompok-kelompok eksperimen untukJurnal Interaksi (Edisi Oktober, 2013)Page 8diberi perlakuan (treatment) iklan non-komparatif merek market leader atau iklankomparatif tidak langsung merek market leader.2. Perbedaan Pria dan Wanita dalam Strategi Pemrosesan Informasi memilikivariasi nilai pria sebagai pemroses informasi yang selektif dan wanita sebagaipemroses informasi yang komprehensif. Serta variabel ini dioperasionalisasikandengan cara menempatkan subjek penelitian sebagai unit analisis secara randomdan dilakukan konstansi (blocking) berdasarkan jenis kelamin pada kelompokkelompokeksperimen untuk diberi perlakuan (treatment) iklan non-komparatifmerek market leader atau iklan komparatif tidak langsung merek merek marketleader.3. Respon kognitif khalayak terhadap iklan memiliki variasi nilai respon kognitifyang kurang menguntungkan dan respon kognitif yang menguntungkan. Sertavariabel ini dioperasionalisasikan dengan cara mengkalkulasi jumlah pemikiranpemikiranyang muncul berdasarkan dimensi-dimensi, seperti pemikiran terhadapproduk/pesan iklan, pemikiran terhadap sumber, dan pemikiran terhadap eksekusiiklan, yang kemudian sejumlah pemikiran-pemikiran tersebut dikategorikan sebagaipemikiran-pemikiran yang bertentangan dan pemikiran-pemikiran yangmendukung. Apabila pemikiran-pemikiran yang bertentangan lebih banyak munculmaka ini diacu sebagai respon kognitif yang kurang menguntungkan (unfavorable),dan sebaliknya ketika pemikiran-pemikiran yang mendukung lebih banyak munculmaka ini diacu sebagai respon kognitif yang menguntungkan (favorable).4. Sikap terhadap iklan memiliki variasi nilai sikap kurang menguntungkan dansikap menguntungkan yang ditujukan pada iklan. Serta, variabel inidioperasionalisasikan dengan cara menjumlahkan respon afeksi terhadap iklan yangmuncul berdasarkan indikator keinformatifan iklan, perasaan atau emosi yangmuncul sebagai pengalaman diterpa iklan dan kemenarikan iklan, yang kemudiansejumlah respon afeksi yang muncul tersebut dikategorikan sebagai sikap kurangmenguntungkan bila lebih banyak memunculkan respon afektif yang negatif dansikap menguntungkan bila lebih banyak memunculkan respon afektif yang positifterhadap iklan.5. Sikap terhadap merek memiliki variasi nilai sikap kurang menguntungkan dansikap menguntungkan yang ditujukan pada merek sponsor iklan. Serta, variabel inidioperasionalisasikan dengan cara menjumlahkan respon afeksi terhadap merekyang muncul berdasarkan indikator persepsi terhadap kualitas merek dan persepsiterhadap kemampuan merek untuk memenuhi kebutuhan produk yang relevandengan kondisi konsumen saat ini, yang kemudian sejumlah respon afeksi yangmuncul tersebut dikategorikan sebagai sikap kurang menguntungkan bila lebihbanyak memunculkan respon afektif yang negatif dan sikap menguntungkan bilalebih banyak memunculkan respon afektif yang positif terhadap merek yangsponsor iklan.6. Minat/intensi pembelian memiliki variasi nilai minat beli yang rendah dan minatbeli yang tinggi terhadap merek sponsor iklan. Serta, variabel inidioperasionalisasikan dengan cara menjumlahkan respon konatif yang ditujukanpada merek sponsor iklan, dilihat berdasarkan indikator-indikator seperti minattransaksional, minat referensial, minat preferensial dan minat eksploratif, yangkemudian dikategorikan sebagai minat beli yang rendah ketika respon konatif iturendah dan minat beli yang tinggi ketika respon konatif itu tinggi terhadap mereksponsor iklan.Desain Penelitian, Stimulus, Unit Analisis dan Teknik Analisis DataPenelitian Eksperimen Lapangan, 2 (Format Iklan) X 2 (Perbedaan Pria dan Wanitadalam Strategi Pemrosesan Informasi) Randomized-Blocked Factorial Design dilakukanJurnal Interaksi (Edisi Oktober, 2013)Page 9dengan melibatkan 120 partisipan (60 Pria dan 60 Wanita), yang ditugaskan kedalam 4kelompok perlakuan. Stimulus yang digunakan adalah iklan komparatif dan iklan nonkomparatif yang digunakan oleh merek “Adem Sari” pada periode pertengahan tahun2012 hingga pertengahan tahun 2013. Stimulus tersebut dikembangkan denganmemadunya dalam program acara Opera Van Java Edisi 24 Juli 2013 dan melibatkanbeberapa iklan kategori produk lain. Selanjutnya, teknik analisis data yang digunakansebagai alat pengujian hipotesis antara lain Uji Two-Ways ANOVA, Uji Mann-WhitneyU, Uji Friedman Two-Ways ANOVA By Rank dan Model Persamaan Struktural BerbasisVarian (Komponen) dengan metode alternatif Partial Least Square (PLS).HASIL DAN PEMBAHASANBerdasarkan hasil pengujian hipotesis untuk format iklan komparatif tidak langsungmerek market leader, maka diambil keputusan untuk menerima H1a ( = 0,5836 dan tstatistic= 5,3782 > t-table = 1,96), menerima H2a ( = 0,7723 dan t-statistic = 10,8722> t-table = 1,96), menerima H3b ( = 0,1165 dan t-statistic = 1,2717 < t-table = 1,96),menerima H4a ( = 0,3482 dan t-statistic = 2,2615 > t-table = 1,96) dan menerima H5a( = 0,4214 dan t-statistic = 2,5429 > t-table = 1,96) dengan taraf signifikansi 0,05.Sedangkan hasil pengujian hipotesis untuk format iklan non komparatif merekmarket leader adalah menerima H1b ( = 0,5463 dan t-statistic = 7,0203 > t-table =1,96), menerima H2b ( = 0,2071 dan t-statistic = 2,1117 > t-table = 1,96), menerimaH3a ( = 0,5804 dan t-statistic = 4,9954 > t-table = 1,96), menolak H4b ( = 0,1470dan t-statistic = 0,7073 < t-table = 1,96) dan menolak H5b ( = 0,3919 dan t-statistic =1,8586 < t-table = 1,96) dengan taraf signifikansi 0,05.Berdasarkan hasil pengujian hipotesis diatas, penulis menyimpulkan bahwasama dengan format iklan komparatif tidak langsung merek market leader, format iklannon komparatif merek market leader pun mampu menghasilkan respon kognitifkhalayak terhadap iklan (RK) yang mampu secara signifikan mempengaruhipembentukan sikap khalayak terhadap iklan (SI) dan sikap khalayak terhadap merek(SM). Berbeda dengan format iklan komparatif tidak langsung merek market leader,sikap khalayak terhadap iklan (SI) yang dibentuk oleh format iklan non komparatifmerek market leader secara signifikan mempengaruhi pembentukan sikap khalayakterhadap merek (SM). Temuan ini juga sama dengan temuan Droge yang dikutipGrewal et al., (Setiyaningrum, 2008:22), bahwa sikap terhadap iklan yang dibentukformat iklan non komparatif dapat ditransfer pada sikap terhadap merek, namun tidakuntuk iklan komparatif. Dengan demikian, penulis dapat mengasumsikan bahwa ketikakhalayak menyukai sebuah iklan yang dibuat dari format iklan non komparatif merekmarket leader, maka khalayak tersebut juga akan menyukai merek sponsor iklan, danhal ini tidak berlaku untuk iklan komparatif tidak langsung merek market leader.Selanjutnya, tidak seperti pada sikap terhadap iklan (SI) dan sikap terhadap merek (SM)yang dibentuk oleh format iklan komparatif tidak langsung merek market leader, dimana keduanya merupakan prediktor yang signifikan untuk meramalkan minat/intensipembelian (MB) khalayak terhadap produk atau merek sponsor iklan, sikap terhadapiklan (SI) dan sikap terhadap merek (SM) yang dihasilkan oleh format iklan nonkomparatif merek market leader bukan merupakan prediktor yang signifikan untukmeramalkan minat/intensi pembelian(MB) khalayak atas produk atau merek sponsoriklan. Penulis menduga ada variabel-variabel lain diluar dari model yang diajukan, yangjuga mempengaruhi minat/intensi pembelian (MB) khalayak terhadap produk ataumerek sponsor format iklan non komparatif merek market leader. Dengan demikian,penulis berasumsi bahwa ketika sikap khalayak yang menguntungkan terhadap iklan(SI) dan merek (SM) terbentuk pada format iklan non komparatif merek market leader,tidak menjamin bahwa khalayak memiliki minat/intensi pembelian (MB) yang besarpula terhadap produk atau merek sponsor iklan.Jurnal Interaksi (Edisi Oktober, 2013)Page10Pada tahap respon kognitif, secara deskriptif iklan komparatif tidak langsungmerek market leader direspon secara kurang favorable dibandingkan iklan nonkomparatif merek market leader. Hal ini terlihat dari rerata respon kognitif iklankomparatif tidak langsung merek market leader sebesar 4,5500 dan sedangkan reratarespon kognitif iklan non komparatif merek market leader sebesar 4,9833. Namun,secara statistik perbedaan ini tidak signifikan pada taraf signifikansi 0,05 untuk uji onetail(Nilai Sig. 0,304/2 = 0,152 > 0,05). Maka, keputusan yang diambil adalah tidakdapat menolak H0 dan menolak H6. Dengan demikian, penulis menyimpulkan bahwatidak ada perbedaan respon kognitif yang signifikan ketika kedua jenis format iklandigunakan.Diantara pria dan wanita, terlepas dari format iklan yang digunakan secaradeskriptif wanita lebih memiliki respon kognitif yang favorable dibandingkan denganpria. Hal ini dibuktikan dengan rerata respon kognitif wanita sebesar 4,9500 dan lebihdari respon kognitif pria yang hanya sebesar 4,5833. Namun, secara statistik perbedaanini tidak signifikan pada taraf signifikansi 0,05 untuk uji two-tail (Nilai Sig. 0,384 >0,05). Maka, keputusan yang diambil adalah tidak dapat menolak H0 dan menolakH10a. Dengan demikian, penulis menyimpulkan bahwa respon kognitif pria denganrespon kognitif wanita, terlepas dari format iklan yang digunakan, adalah tidak berbedasecara signifikan.Kemudian, pengaruh interaksi antara format iklan dengan perbedaan pria danwanita dalam strategi pemrosesan informasi atas respon kognitif khalayak terhadapiklan (RK) adalah tidak ada. Hal ini dibuktikan dengan nilai Sig. 0,428 > 0,05. Dengantaraf signifikansi 0,05 maka penulis memutuskan untuk menolak H11, dan menerimaH0. Hal ini berarti bahwa tidak ada pengaruh signifikan interaksi antara format iklandan perbedaan Pria dan Wanita dalam strategi pemrosesan informasi atas responkognitif khalayak terhadap iklan (RK).Pada tahap sikap terhadap iklan (SI), secara deskriptif sikap terhadap iklan yangdibentuk oleh iklan non komparatif merek market leader tampak lebih favorabledibandingkan dengan sikap terhadap iklan yang dibentuk oleh iklan komparatif tidaklangsung merek market leader. Hal ini tampak pada mean rank sikap terhadap iklan nonkomparatif merek market leader sebesar 67,16 dan lebih besar dibandingkan denganmean rank sikap terhadap iklan komparatif tidak langsung merek market leader yanghanya sebesar 53,84. Maka, dengan Nilai Sig. 0,026/2 = 0,013 < 0,05 (One-Tail) penulismemutuskan untuk menolak H0 dan menerima H7 taraf signifikansi sebesar 0,05.Kesimpulan yang diperoleh adalah sikap terhadap iklan yang dibentuk oleh iklan nonkomparatif merek market leader lebih menguntungkan secara signifikan dibandingkandengan sikap terhadap iklan yang dibentuk iklan komparatif tidak langsung merekmarket leader.Terlepas dari jenis format iklan yang digunakan, sikap terhadap iklan yangdibentuk oleh pria dan wanita secara deskriptif tidak jauh berbeda. Hal ini tampak padamean rank sikap terhadap iklan pria sebesar 60,51 dan mean rank sikap terhadap iklanwanita sebesar 60,49. Senada dengan hal tersebut, secara statistik perbedaan tersebutjuga tidak signifikan pada taraf signifikansi 0,05. Nilai Sig. 0,998 > 0,05 (Two-Tail).Maka, dengan demikian penulis memutuskan untuk tidak dapat menolak H0 danmenolak H10b. Sehingga, penulis menyimpulkan bahwa diantara pria dan wanita tidakada perbedaan yang signifikan dalam sikap terhadap iklan, terlepas dari jenis formatiklan yang digunakan.Merujuk pada hasil perhitungan Uji Friedman Two-Way ANOVA By Rank,bahwa nilai Sig. 0,758 > 0,05 (Two-Tail). Maka penulis memutuskan untuk tidak dapatmenolak H0 dan menolak H12. Dengan demikian, penulis menyimpulkan bahwa tidakada pengaruh signifikan interaksi antara format iklan dan perbedaan Pria dan Wanitadalam strategi pemrosesan informasi atas sikap terhadap iklan (SI).Jurnal Interaksi (Edisi Oktober, 2013)Page11Pada tahap sikap terhadap merek (SM), diketahui secara deskriptif sikapterhadap merek yang dibentuk iklan non komparatif merek market laeder lebihmenguntungkan dibandingkan dengan sikap terhadap merek yang dibentuk oleh iklankomparatif tidak langsung merek market leader. Hal ini dibuktikan dengan mean ranksikap terhadap merek yang dibentuk iklan non komparatif merek market leader adalahsebesar 65,62 dan ini lebih besar dibandingkan dengan mean rank sikap terhadap merekyang dibentuk oleh iklan komparatif tidak langsung merek market leader yang hanyasebesar 55,38. Secara statistik, perbedaan ini signifikan pada taraf signifikansi 0,05dengan Nilai Sig. 0,079/2 = 0,0395 < 0,05 (One-Tail). Dengan demikian, penulismemutuskan untuk menolak H8. Sehingga, penulis menyimpulkan bahwa sikapterhadap merek yang dibentuk iklan non komparatif merek market leader lebihmenguntungkan secara signifikan dibandingkan dengan sikap terhadap merek yangdibentuk oleh iklan komparatif tidak langsung merek market leader.Selanjutnya, diantara pria dan wanita terlepas dari jenis format iklan yangdigunakan, secara deskriptif menunjukkan bahwa wanita membentuk sikap terhadapmerek secara lebih menguntungkan dibandingkan dengan pria. Hal ini dibuktikandengan mean rank sikap terhadap merek wanita sebesar 63,82 dan ini lebih besardibandingkan dengan mean rank sikap terhadap merek pria yang hanya sebesar 57,18.Namun, secara statistik perbedaan ini dianggap tidak signifikan pada taraf signifikansisebesar 0,05. Nilai Sig. 0,225 > 0,05 (Two-Tail). Maka, penulis mengambil keputusanuntuk tidak dapat menolak H0 dan menolak H10c. Dengan demikian, penulismenyimpulkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan atas sikap terhadap merekyang dibentuk oleh pria dan wanita terlepas dari jenis iklan yang digunakan.Selanjutnya, untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh interaksi format iklan danperbedaan Pria dan Wanita dalam strategi pemrosesan informasi atas sikap terhadapmerek (SM) maka perlu melihat hasil perhitungan Uji Friedman Two-Way ANOVA ByRank. Diketahui nilai Sig. 0,000 < 0,05 (Two-Tail) dan Chi-Square = 37,484 (df =3),maka diputuskan untuk dilakukan pengujian lanjut untuk mengetahui perbedaan antarkelompok-kelompok eksperimen. Hal ini didasari asumsi bahwa jika nilai hitung Fradalah signifikan, hal ini berarti ada paling sedikit ada satu kondisi yang berbeda darikondisi lainnya. Kemudian setelah dilakukan uji lanjutan, penulis mengetahui bahwapria akan membentuk sikap terhadap merek yang lebih menguntungkan ketikadiekspose iklan komparatif tidak langsung merek market leader dibandingkan jikadiekspose iklan non komparatif merek market leader. Selain itu, ketika diekpose iklannon komparatif merek market leader, wanita cenderung membentuk sikap terhadapmerek yang lebih menguntungkan dibandingkan dengan pria. Terakhir, ketika wanitadiekspose iklan komparatif tidak langsung merek market leader akan membentuk sikapterhadap merek yang lebih menguntungkan dibandingkan pria ketika diekspose iklannon komparatif merek market leader. Perbedaan ketiga pasang kelompok eksperimentersebut secara statistik diterima secara signifikan pada taraf signifikansi 0,05 (One-Tail). Namun, hasil pengujian tersebut hanya sebagian mendukung H13, maka penulismengambil keputusan untuk tidak dapat menolak H0 dan menolak H13 pada tarafsignifikansi 0,05 (Two-Tail). Dengan demikian, penulis menyimpulkan bahwa tidak adapengaruh signifikan interaksi format iklan dan perbedaan Pria dan Wanita dalamstrategi pemrosesan informasi atas sikap terhadap merek (SM).Pada tahap minat/intensi pembelian (MB), iklan komparatif tidak langsungmerek market leader menghasilkan minat/intensi pembelian yang tidak jauh berbedadengan iklan non komparatif merek market leader. Hal ini dibuktikan dengan meanrank minat/intensi pembelian yang dibentuk iklan komparatif tidak langsung merekmarket leader sebesar 59,92 dan mean rank minat/intensi pembelian yang dibentukiklan non komparatif merek market leader sebesar 61,08. Secara statistik pun demikian,pada taraf signifikansi 0,05 (One-Tail) penulis memutuskan untuk menerima H9 (NilaiJurnal Interaksi (Edisi Oktober, 2013)Page12Sig. 0,845/2 = 0,4225 > 0,05). Dengan demikian, penulis menyimpulkan bahwa tidakada perbedaan yang signifikan minat/intensi pembelian yang dibentuk oleh iklankomparatif tidak langsung merek market leader dengan minat/intensi pembelian yangdibentuk oleh iklan non komparatif merek market leader.Jika dilihat dari perbedaan perbedaan Pria dan Wanita dalam strategipemrosesan informasi, secara deskriptif wanita menunjukkan minat/intensi pembelianyang lebih besar dibandingkan pria, terlepas dari jenis format iklan yang digunakan. Halini dibuktikan dengan mean rank minat/intensi pembelian wanita sebesar 66,25 dan inilebih besar dibandingkan dengan mean rank minat/intensi pembelian pria sebesar 54,75.Namun, secara statistik perbedaan ini tidak signifikan pada taraf signifikansi 0,05 (Two-Tail). Maka, penulis mengambil keputusan untuk tidak dapat menolak H0 dan menolakH10d (Nilai Sig. 0,054 > 0,05). Dengan demikian, penulis menyimpulkan bahwadiantara pria dan wanita, terlepas dari jenis iklan yang digunakan, akan membentukminat/intensi pembelian yang tidak berbeda secara signifikan.Terakhir, merujuk pada hasil perhitungan Uji Friedman Two-Way ANOVA ByRank, menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh signifikan interaksi format iklan danperbedaan Pria dan Wanita dalam strategi pemrosesan informasi pada minat/intensipembelian (MB). Nilai Sig. 0,841 > 0,05 (Two-Tail). Dengan demikian, penulis tidakdapat menolak H0 dan menolak H14 pada taraf signifikansi sebesar 0,05. Maka dari itu,penulis menyimpulkan bahwa tidak ada pengaruh signifikan interaksi format iklan danperbedaan Pria dan Wanita dalam strategi pemrosesan informasi pada minat/intensipembelian (MB).Hasil pengujian hipotesis perbandingan efektivitas format iklan komparatif tidaklangsung merek market leader dengan format iklan non komparatif merek marketleader, menunjukkan bahwa format iklan komparatif tidak langsung merek marketleader direspon secara kurang menguntungkan pada variabel Sikap terhadap Iklan (SI)dan Sikap terhadap Merek (SM), bila dibandingkan dengan format iklan non komparatifmerek market leader. Temuan ini mirip dengan temuan Wright, Levine, Murphy danAmundsen (Rogers dan Williams, 1989:24), di mana iklan komparatif lemahmembentuk formasi sikap terhadap merek yang positif. Disamping itu, Respon KognitifKhalayak terhadap Iklan (RK) dan Minat/Intensi Pembelian (MB) yang dihasilkan olehkedua format iklan juga menunjukkan tidak adanya perbedaan yang signifikan. Tidakadanya perbedaan yang signifikan atas Respon Khalayak terhadap Iklan (RK) yangdihasilkan kedua format iklan, adalah mendukung pernyataan bahwa perbandingansecara tidak langsung mampu mengurangi hambatan ketidaksetujuan pemakai merekyang diperbandingkan dan mengurangi pengaruh yang merugikan dari penggunaanformat iklan komparatif. Sedangkan temuan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikanatas Minat/Intensi Pembelian (MB) yang dihasilkan kedua format iklan, mirip dengantemuan sebelumnya oleh Belch, Golden dan Swinyard (Rogers dan Williams, 1989:24)dan Manzur et al., (2012:288).Bila dilihat dari perbedaan Pria dan Wanita dalam strategi pemrosesaninformasi, baik terlepas dari format iklan yang digunakan, maupun interaksinya denganformat iklan, menunjukkan hasil yang tidak signifikan. Namun, temuan menarik padapenelitian ini menunjukkan bahwa Pria memberikan respon Sikap terhadap Merek (SM)yang lebih menguntungkan ketika diekspose format iklan komparatif tidak langsungbila dibandingkan ketika diekspose format iklan non komparatif. Sedangkan Wanita,bila dibandingkan dengan Pria, justru memberikan respon Sikap terhadap Merek (SM)yang lebih menguntungkan ketika diekspose format iklan non komparatif.REKOMENDASIBerikut ini adalah sejumlah rekomendasi yang diberikan atas penggunaan format iklankomparatif dan format iklan non komparatif oleh pemasar merek market leader,Jurnal Interaksi (Edisi Oktober, 2013)Page13sehingga dapat diperoleh efektivitas yang maksimal sesuai dengan tujuan yang telahditetapkan oleh pemasar, yaitu :1. Iklan komparatif tidak langsung bermanfaat ketika merek market leader melakukaninovasi terhadap produknya, dan menggunakan iklan komparatif tidak langsunguntuk merangsang percobaan pembelian.2. Pemasar merek market leader dianjurkan untuk menggunakan iklan nonkomparatif, bila budget untuk beriklan jauh lebih besar dibandingkan alatkomunikasi pemasaran lainnya.3. Pemasar merek market leader dianjurkan untuk menggunakan iklan non komparatifjika bertujuan untuk membuat diferensiasi merek. Format iklan non komparatifakan lebih efektif ketika disertai insentif kepada audiens untuk mempelajari fiturfiturproduk secara rinci, dengan cara meningkatkan relevansi produk denganaudiensnya.4. Iklan komparatif tidak langsung bermanfaat untuk menyasar segmen pasar Pria daniklan non komparatif bermanfaat untuk menyasar segmen pasar Wanita. Dengandemikian, bila pemasar lebih berfokus pada salah satu segmen pasar tertentu, makaiklan komparatif tidak langsung memberikan manfaat lebih menguntungkan padaPria, dan iklan non komparatif memberikan manfaat yang lebih menguntungkanpada Wanita.KETERBATASAN PENELITIAN1. Validitas eksternal dari penelitian eksperimen lapangan yang dijalankan olehpenulis adalah lemah. Dengan demikian, hasil penelitian ini tidak bisa digunakanuntuk generalisasi fenomena-fenomena serupa. Namun, validitas eksternalpenelitian ini akan dipenuhi ketika dilakukan replikasi terhadap penelitianeksperimen ini oleh penelitian-penelitian mendatang, baik dengan mereplikasisecara keseluruhan atau mereplikasi sebagian dari penelitian eksperimen lapanganyang dijalankan oleh penulis ini.2. Konsekuensi atas penggunaan Metode Partial Least Square (PLS) adalah penelitimenurunkan tujuannya dari pengujian teori menjadi memprediksi hubungan linierantar variabel dengan segala keterbatasan yang ada dalam penelitian ini. Namunmeskipun demikian, model persamaan struktural yang diajukan dalam penelitian inidapat digunakan untuk pengembangan teori, karena memiliki nilai relevansiprediktif yang baik, yaitu Q2 = 9184 (Model SEM-PLS Format Iklan KomparatifTidak Langsung Merek Market Leader), dan Q2 = 0,7446 (Model SEM-PLSFormat Iklan Non Komparatif Merek Market Leader).REFERENSIAmerican Psychological Association.(2011). Definitions of Terms: Sex, Gender, GenderIdentity, Sexual Orientation. Dalamhttp://www.apa.org/pi/lgbt/resources/sexuality-definitions.pdf/. Diunduh padatanggal 10 Juli 2013 pukul 16.04 WIBAnonim. (2012). Interview with Mr. Bambang Soendoro of Enesis Group. Dalamhttp://www.gbgindonesia.com/en/manufacturing/directory/enesis_group/interview.php/. Diunduh pada tanggal 8 Juni 2013 pukul 10.53 WIBAnonim. (2013). Products: Adem Sari. Dalamhttp://www.enesis.com/product/detail/en/13/. Diunduh pada tanggal 2 Juli 2013pukul 12.07 WIB.Aruman, Akhmad Edi. (2011). Ini Dia Karakter Perempuan Konsumen Indonesia.Women Insight Centre (WIC). Dalam http://edhyaruman.blogspot.com/2011/10/ini-dia-karakter-perempuan-konsumen.html.Diunduh pada tanggal 27 September 2013 pukul 19.04 WIB.Jurnal Interaksi (Edisi Oktober, 2013)Page14Azwar, Saiffudin. (2011). Sikap Manusia : Teori dan Pengukurannya. Yogyakarta :Pustaka PelajarBelch, George E. dan Michael A. Belch. (2009). Advertising and Promotions : AnIntegrated Marketing Communications Perspectives. 8th Editions. New York,USA : McGraw-Hill CompaniesCangara, Hafied. (2006). Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta : RajaGrafindo PersadaChang, Chingching. (2007). The Relative Effectiveness of Comparative andNoncomparative Advertising: Evidence for Gender Differences in Information-Processing Strategies. Journal of Advertising, Vol. 36 No. 1 (Spring): 21-35Chow, Cheris W. C., dan Chung-Leuk Luk. (2006). Effect of Comparative Advertisingin High and Low-Cognitive Elaboration Conditions. Journal of Advertising, Vol.35 No. 2 (Summer): 55-57Dewan Periklanan Indonesia. (2007). Etika Pariwara Indonesia. Jakarta : DewanPeriklanan IndonesiaDPI-PPPI Pusat. (2013). Kasus / Pelanggaran. Dalam http://www.p3ipusat.com/rambu-rambu/kasus. Diunduh pada tanggal 8 Juni 2013 pukul 12.35WIB.Durianto, Darmadi., dan C. Liana. (2004). Analisis Efetifitas Iklan Televisi SoftenerSoft & Fresh di Jakarta dan Sekitarnya dengan Mengunakan Consumer DecisionModel. Jurnal Ekonomi Perusahaan, Vol. 11 (1): 35-55Engel, James F., Roger D. Blackwell., dan Paul W. Miniard. (1995). PerilakuKonsumen. Jilid 2. Jakarta : Binarupa AksaraFill, Chris. (2009). Marketing Communication: Interactivity, Communities, andContent. 5th Edition. England : Prentice-Hall, Pearson EducationGhozali, Imam. (2006). Statistik Non-Parametrik: Teori & Aplikasi dengan ProgramSPSS. Semarang : Badan Penerbit Universitas DiponegoroGhozali, Imam. (2008). Desain Penelitian Eksperimental: Teori, Konsep dan AnalisisData dengan SPSS 16.0. Semarang : Badan Penerbit Universitas DiponegoroGhozali, Imam. (2011). Structural Equation Modelling: Metode Alternatif denganPartial Least Square (PLS). Semarang : Badan Penerbit Universitas DiponegoroHasan, M. Iqbal. (2002). Pokok-Pokok Materi Metodologi Penelitian dan Aplikasinya.Jakarta : Ghalia IndonesiaHoyer, Wayne D., dan Deborah J. MacInnis. (2008). Consumer Behavior. 5th Edition.Mason, OH USA: South-Western Cengage LearningFerdinand, Augusty. (2002). Metode Penelitian Manajemen. Semarang : BadanPenerbit Universitas DiponegoroFirst Postion Monitoring. (2012). B4-Adem Sari-2Pria&Org2-Warung-Tengok(30).mpg. Dalam http://www.youtube.com/watch?v=w_oq4YMOb24/. Diunduhpada tanggal 30 Mei 2013 pukul 11.45 WIB.Isnawijayani. (2011). Metode Eksperimen dalam Penelitian Ilmu Komunikasi. JurnalDinamika, Vol. 4, No. 7 (Juni): 1-8Jogiyanto HM., (2011). Konsep dan Aplikasi Structural Equation Modeling BerbasisVarian Dalam Penelitian Bisnis. Yogyakarta : UPP STIM YKPNKerlinger, Fred N. (1990). Asas-Asas Penelitian Behavioral. Yogyakarta : Gadjah MadaUniversity PressKotler, Philip., Kevin Lane Keller., Swee Hoon Ang., Siew Meng Leong., dan ChinTiong Tan. (2009). Marketing Management: An Asian Perspectives. 5thEditions. Singapore : Prentice-Hall, Pearson Education South AsiaKotler, Philip., dan Kevin Lane Keller. (2011). Marketing Management. 14th Edition.Upple Saddle River, New Jersey USA: Prentice-Hall, Pearson EducationJurnal Interaksi (Edisi Oktober, 2013)Page15Manzur, Enrique., Rodrigo Uribe., Pedro Hidalgo., Sergio Olavarieta dan Pablo Farias.(2012). Comparative Advertising Effectiveness in Latin America: Eveidencefrom Chile. International Marketing Review, Vol. 29 No. 3: 227-298Marliani, Rosleny. (2013). Psikologi Eksperimen. Bandung : Pustaka SetiaMindra Jaya, I Gede Nyoman., dan I Made Sumertajaya. (2008). Pemodelan PersamaanStruktural Dengan Partial Least Square. Proceeding. Seminar NasionalMatematika dan Pendidikan Matematika, Hal. 118-132Mustafa, Zaenal EQ. (2009). Mengurai Variabel Hingga Instrumentasi. Edisi Pertama.Yogyakarta : Graha IlmuNisfiannoor, Muhammad. (2009). Pendekatan Statistik Modern Untuk Ilmu Sosial.Jakarta : Salemba HumanikaPalupi, Dyah Hasto., dan Teguh Sri Pambudi. (2006). Advertising That Sells Dwi Sapta:Strategi Sukses Membawa Merek Anda Menjadi Pemimpin Pasar. Jakarta :Gramedia Pustaka UtamaPierro, Antonio., Mauro Giacomantonio., Gennaro Pica., Lucia Mannetti., Ariw W.Kruglanski., dan Tory Higgins. (2012). When Comparative Ads are MoreEffective: Fit with Audience’s Regulatory Mode. Journal of EconomicPsychology, page 1-14Pillai, Kishore Gopalakrishna., dan Ronald E. Goldsmith. (2008). How Brand AttributeTypicality and Consumer Commitment Moderate the Influence of ComparativeAdvertising. Journal of Business Research, Vol. 61: 933-941Prasetyo, Bambang dan Lina Miftahul Jannah. (2012). Metode Penelitian Kuantitatif :Teori dan Aplikasi. Jakarta : Rajagrafindo PersadaRakhmat, Jalaluddin. (2007). Metode Peneltian Komunikasi: Dilengkapi ContohAnalisis Statistik. Bandung : Remaja RosdakaryaRogers, John C. dan Terrell G. Williams. (1989) Comparative AdvertisingEffectiveness: Practitioner’s Perceptions Versus Academic Research Findings.Journal of Advertising Research (October-November): 22-36Sarwono, Jonathan. (2012). Metode Riset Skripsi Pendekatan Kuantitatif: MenggunakanProsedur SPSS. Jakarta : Elex Media KomputindoSeniati, Liche., Aries Yulianto., dan Bernadette N. Setiadi. (2008). PsikologiEksperimen. Jakarta : IndeksSetiyaningrum, Ari. (2008). Menilai Efektivitas Iklan Komparatif. Jurnal MajalahUsahawan, No. 05 TH XXXVII: 16-26Severin, Werner J., dan James W. Tankard, Jr. (2009). Teori Komunikasi: Sejarah,Metode dan Terapan di dalam Media Massa. Edisi ke-5. Jakarta : KencanaPrenada MediaSmith, Robert E., Jiemiao Chen., dan Xiaojing Yang. (2008). The Impact of AdvertisingCreativity on The Hierarchy of Effects. Journal of Advertising, Vol. 37, 4(Winter): 47-61Soscia, Isabella., Simona Girolamo., dan Bruno Busacca. (2010). The Effect ofComparative Advertising on Consumer Perceptions: Similarity orDifferentiation?. Journal of Business Psychology, Vol. 25: 109-118Sukamto, Imam. (2013). Acara TV Ini Paling Digemari Penonton Indonesia .(2013).Dalam http://www.tempo.co/read/news/2013/03/06/090465467/Acara-TV-Ini-Paling-Digemari-Penonton-Indonesia. Diunduh pada tanggal 01 Mei 2013 Pkl.13.17 WIB.Sumarwan, Ujang., Ahmad Jauzi., Asep Mulyana., Bagio Nugroho Karno., PontiKurniawan Mawardi., dan Wahyu Nugroho. (2011). Riset Pemasaran danKonsumen, Seri : 1. Bogor: IPB PressJurnal Interaksi (Edisi Oktober, 2013)Page16Suprapto, Hadi dan Arie Dwi Budiawati. (2013). 2012, Belanja Iklan Media Rp 87Triliun. Dalam http://bisnis.news.viva.co.id/news/read/395530-2012--belanjaiklan-media-rp87-triliun. Diunduh pada tanggal 8 Juni 2013 pukul 20.48 WIBThompson, Debora Viana., dan Rebecca W. Hamilton. (2006). The Effect ofInformation Processing Mode on Consumer’s Response to ComparativeAdvertising. Journal of Consumer Research, Vol. 32:530-540Tjiptono, Fandy. (2002). Strategi Pemasaran. Yogyakarta: Penerbit AndiVeriveli. (2012). Iklan Adem Sari – Laboratorium. Dalamhttp://www.youtube.com/watch?v=6K1mZRxMYlg. Diunduh pada tanggal 2Juli 2013 pukul 11.15 WIBWhite Nye, Carolyn., Martin S. Roth., dan Terence A. Shimp. (2008). ComparativeAdvertising in Markets Where Brands and Comparative Advertising are Novel.Journal of International Business Studies, Vol. 39: 851-863Widyatama, Rendra. (2011). Teknik Menulis Naskah Iklan: Agar Tepat Sasaran.Yogyakarta: Cakrawala
PENGARUH GAYA KOMUNIKASI DAN KUALITAS PELAYANAN CUSTOMER SERVICE TERHADAP KEPUASAN NASABAH (Studi pada Nasabah PT. Bank BNI Syariah Cabang Semarang) Mirnalia Mazaya; Djoko Setiabudi; Hedi Pudjo Santosa
Interaksi Online Vol 1, No 4: Oktober 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (57.843 KB)

Abstract

PENGARUH GAYA KOMUNIKASI DANKUALITAS PELAYANAN CUSTOMER SERVICETERHADAP KEPUASAN NASABAH(Studi pada Nasabah PT. Bank BNI Syariah Cabang Semarang)ABSTRAKSIPengaruh Gaya Komunikasi dan Kualitas Pelayanan Customer Service Terhadap KepuasanNasabah (Studi Pada Nasabah PT. Bank BNI Syariah Cabang Semarang)Nasabah merupakan jantung kehidupan dari BNI Syariah Cabang Semarang yangharus terus di jaga. Menjamurnya perbankan syariah di Kota Semarang saat ini yang memilikiproduk dan layanan yang nyaris serupa membuat kualitas pelayanan BNI Syariah CabangSemarang yang diharapkan dapat menjadi pembeda. Gaya komunikasi dan kualitas pelayananCustomer Service jika di sinergikan dengan baik maka akan menciptakan kualitas layananprima yang dapat memberikan kepuasan di hati nasabah BNI Syariah Cabang Semarang.Penelitian ini menggunakan penelitian eksplanatoris dengan menggunakan uji anlisis regresiberganda untuk menguji hipotesis penelitian dimana terdapat pengaruh antara gayakomunikasi dan kualitas pelayanan customer service terhadap kepuasan nasabah. Datadiperoleh dengan menggunakan kuesioner yang disebarkan kepada responden yaitu nasabahBNI Syariah Cabang Semarang dengan jumlah sampel 96 responden. Gaya komunikasidiukur menggunakan indikator posisi tubuh, kontak mata, ekspresi wajah, dan intonasi suara.Sedangkan kualitas pelayanan diukur menggunakan indikator penampilan, sikap, kerapihantempat kerja, kecepatan pelayanan, ketepatan pelayanan, prosedur pelayanan, dan pelayananyang informatif.Hasil dari penelitian ini, gaya komunikasi dan kualitas pelayanan menunjukkan angkayang tinggi yakni 42,3% dan 67,9%. Sedangkan kepuasan nasabah signifikan dengan kualitaspelayanan dan gaya komunikasi sebesar 55,7%. Hasil analisis regresi linear sederhana denganUji T menunjukkan nilai T hitung 2,559 dengan nilai signifikansi sebesar 0,012 < 0,05, makahal ini berarti bahwa hipotesis menyatakan bahwa gaya komunikasi memiliki pengaruh yangsignifikan terhadap kepuasan nasabah. Sedangkan kualitas pelayanan diperoleh nilai T hitung10,275 dengan nilai signifikansi sebesar 0,000 < 0,05, maka hal ini berarti bahwa hipotesismenyatakan kualitas pelayanan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kepuasannasabah. Sehingga Ha terbukti yakni terdapat hubungan antara gaya komunikasi dan kualitaspelayanan customer service terhadap kepuasan nasabah BNI Syariah Cabang Semarang.ABSTRACTThe Effect of Communication Style and Quality Service of Customer Service To TheCustomer Satisfaction (Study on Customer PT. Bank BNI Syariah Branch Semarang)The Customer is the heart of the life of BNI Syariah Branch Semarang that shouldcontinue in the case. The mushrooming of Islamic banking in the city of Semarang today whohave products and services that make a nearly identical service quality BNI Syariah BranchSemarang which is expected to be a differentiator. Communication style and quality customerservice if in united properly it will create a high quality of services that can provide customersatisfaction at the heart of Semarang BNI Syariah Branch. This study uses explanatory studyusing multiple regression anlisys test to test the hypothesis that there is influence betweencommunication style and quality customer service to customer satisfaction. Data obtainedusing questionnaires distributed to respondents, customers BNI Syariah Branch Semarangwith a sample of 96 respondents. Communication style was measured using an indicator bodyposition, eye contact, facial expressions, and tone of voice. While service quality is measuredusing indicators of performance, attitude, work neatness, speed of service, accuracy ofservice, service procedures, and informative service.The results of this study, communication style and quality of service showed a highrate 42.3% and 67.9%. While significant customer satisfaction with quality of service andcommunication styles of 55.7%. Results of simple linear regression analysis with T testshowed T value 2.559 with a significance value of 0.012 <0.05, then it means that thehypothesis stating that the communication style has a significant influence on customersatisfaction. While the quality of service obtained T value 10.275 with a significance value of0.000 <0.05, then it means that the hypothesis stated service quality has a significant impacton customer satisfaction. Ha so evident that there is a relationship between communicationstyle and quality customer service to customer satisfaction BNI Syariah Branch Semarang.BAB IPENDAHULUANI. 1. Latar BelakangKomunikasi merupakan salah satu aspek terpenting dalam kegiatan perbankan. Setiapbagian dalam perbankan dari frontline sampai back office tidak dapat terhindar dari proseskomunikasi. Bahkan tanpa komunikasi kegiatan perbankan pun tidak akan berjalansebagaimana mestinya. Komunikasi dalam dunia perbankan membantu penyaluran ide dangagasan sehingga segala kepentingan, keinginan dan harapan-harapan perusahaan dannasabah dapat saling diketahui dan dimengerti. Sehingga dapat dilakukan usaha-usaha untukmemenuhi seluruh kebutuhannya tersebut.Dalam persaingan yang semakin ketat saat ini, pelayanan dalam bisnis jasa perbankanyang biasa-biasa saja saat ini sudah tidak dapat lagi diharapkan untuk mampu bersaing dalamkancah persaingan global. Diperlukan sebuah konsep pelayanan prima yang diterapkan olehperusahaan khususnya perusahaan jasa perbankan. BNI Syariah Cabang Semarang adalahsalah satu contoh perusahaan perbankan yang bergerak di bidang jasa keuangan danmenerapkan konsep standar pelayanan prima bagi para nasabahnya. BNI Syariah CabangSemarang memiliki standar layanan baku dan seragam dengan seluruh BNI Syariah cabanglainnya se-Indonesia. Moto pelayanannya adalah GREAT (Greetings, Relationship, Emphaty,Atitude, Trust) yang tercetak pada bros PIN yang ditempel pada baju seragam kantor setiappetugas di Unit Pelayanan Nasabah. BNI Syariah Cabang Semarang sadar betul jika saat initidak dapat lagi menjalankan bisnisnya dengan berorientasi pada profit semata.Dari waktu ke waktu customer service BNI Syariah Cabang Semarang harus mampumemperbaiki dan menjaga kualitas pelayanannya, karena tanpa memberikan kualitaspelayanan yang prima pada nasabah, mustahil rasa puas yang diharapkan nasabah dapattercapai dan hal tersebut akan sangat menghambat BNI Syariah Cabang Semarang untukdapat hidup dan berkembang. Untuk menjaga dan meningkatkan kepuasan nasabahnya, BNISyariah Cabang Semarang perlu menjaga kepercayaan dimata nasabah. Kepercayaan inidapat dibangun melalui kualitas pelayanan yang prima oleh seluruh jajaran karyawannyatermasuk customer service, komunikasi yang dikemas dengan gaya komunikasi yang tepatsesuai sikon, inovasi produk, dan terjaminnya keamanan transaksi perbankan. Tanpakesemuanya itu, pencapaian kepuasan nasabah yang sedang dan akan dibangun tidak akantercapai.I. 2. Perumusan MasalahBNI Syariah Cabang Semarang idealnya tidak memiliki kendala yang berarti di bidangstandar layanan. Yang mana kesemuanya banyak mendapat masukan dari BNI selaku bank induk.Sehingga idealnya nilai minimal bagi petugas customer service adalah 90 atau A.Realita yang terjadi kualitas pelayanan yang dilakukan oleh customer servicekhususnya dari hasil penilaian internal mistery shopper tahun 2012 sangat mengecewakan,disisi layanan customer service BNI Syariah Cabang Semarang memperoleh nilai D denganskor 67.Padahal bank induk BNI telah memberikan konsep standar layanan yang samaterhadap BNI Syariah. Hendaknya petugas customer service BNI Syariah Semarang memilikikemampuan komunikasi yang mumpuni, gaya komunikasi yang luwes disertai denganpemahaman informasi yang luas sehingga mampu menyampaikan informasi secara akuratdan mudah dipahami serta memberikan kualitas pelayanan yang memuaskan terhadap semuanasabahnya. Pemberian pelatihan standar layanan terhadap customer service, kegiatan roleplay(simulasi layanan nasabah yang sesuai standar layanan) setiap dua minggu sekali danaktivitas sharing session seminggu sekali idealnya telah memberikan pemahaman yang lebihdari cukup untuk diterapkan dengan baik oleh seluruh pegawai di Unit Pelayanan Nasabahkhususnya customer service BNI Syariah Cabang Semarang.Berdasarkan uraian tersebut, maka yang menjadi masalah adalah apakah ada pengaruhantara gaya komunikasi dan kualitas pelayanan customer service terhadap kepuasan nasabahPT. Bank BNI Syariah ?I. 3. Tujuan dan Kegunaan PenelitianI.3.1. Tujuan PenelitianAdapun yang menjadi tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui adanyapengaruh antara gaya komunikasi dan kualitas pelayanan customer service terhadap kepuasannasabah PT. Bank BNI Syariah.I.3.2. Kegunaan PenelitianKegunaan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah:1. Kegunaan TeoritisPenelitian ini diharapkan dapat digunakan untuk mengembangkan ilmu pengetahuandi lembaga pendidikan Universitas Diponegoro khususnya di jurusan IlmuKomunikasi FISIP mengenai teori tentang gaya komunikasi (communication style)dan kualitas pelayanan (service quality).2. Kegunaan PraktisPenelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan masukan, sebagai dasarpertimbangan dalam usaha perbaikan BNI Syariah pada umumnya dan diharapkandapat memberikan masukan untuk meningkatkan kualitas pelayanan, sehinggadiharapkan jumlah nasabah dapat terus meningkat setiap harinya.I. 4. Metode PenelitianI.4.1. Tipe penelitianTipe penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah tipe explanatory.I.4.2. Populasi dan Teknik Pengambilan SampelI.4.2.1. PopulasiPopulasi adalah jumlah keseluruhan dari unit analisa dalam penelitian ini yaitunasabah laki-laki maupun perempuan usia diatas 15 tahun yang telah memiliki tabungan danmenjadi nasabah BNI Syariah Semarang minimal selama 6 bulan.I.4.2.2.SampelUntuk menentukan ukuran sampel dari populasi yang diketahui jumlahnya, penelitimenggunakan penetapan sampel berdasarkan rumus Slovin:n = N1 + Ne2n = 23871 + 2387 (10%) ²n = 23871 + 23,87n = 238724,87n = 95,97 = 96 Responden.I.4.2.3. Teknik Pengambilan SampelPengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah non probabilitysampling / non random sampling dengan teknik accidental sampling. Yakni teknik penentuansampel berdasarkan siapa saja yang kebetulan bertemu dengan peneliti yang dapatdipergunakan sebagai sampel, jika dipandang orang yang ditemui itu cocok sebagai sumberdata (Ruslan, 2004:156).Adapun prosedurnya adalah kuesioner yang berjumlah 96 buah di distribusikan ke 3orang petugas customer service BNI Syariah Cabang Semarang, lalu customer servicememberikan kuesioner untuk diisi kepada nasabah yang datang ke meja customer service,yakni nasabah yang sesuai dengan kriteria responden dalam penelitian ini (minimal usia 15tahun,memiliki tabungan dan sudah 6 bulan menjadi nasabah BNI Syariah CabangSemarang).I.4.3. Jenis dan Sumber DataSumber data yang digunakan dalam penelitian digolongkan menjadi 2 sumber:1. Data PrimerData primer merupakan data yang diperoleh secara langsung dari kuesioner yang diisioleh responden di lapangan. Yaitu nasabah laki-laki maupun perempuan usia diatas 15tahun yang telah memiliki tabungan dan menjadi nasabah BNI Syariah Semarangminimal selama 6 bulan.2. Data SekunderData sekunder adalah data yang diperoleh peneliti dari literatur dan referensi lainnyayang relevan dengan penelitian. Seperti buku register harian pembukaan tabungannasabah, buku register harian komplain nasabah, Buku Pedoman Perusahaan (BPP)dan Buku Pedoman Standar Layanan Nasabah BNI Syariah.I.4.4. Teknik Pengumpulan DataTeknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah melalui kuesioner yangdibagikan kepada responden untuk diisi.I.4.5. Instrumen PenelitianAlat yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner yang berisi daftarpertanyaan yang disusun secara sistematis dan berisi alternatif jawaban yang terstruktur yangharus diisi oleh responden.I.4.6. Teknik Analisis DataData mengenai pengaruh gaya komunikasi dan kualitas pelayanan customer serviceterhadap kepuasan nasabah PT. Bank BNI Syariah Cabang Semarang, yang telah diperolehdari sejumlah responden, kemudian disusun secara sistematis, faktual, dan akurat berdasarkandata di lapangan.Kemudian untuk menguji hipotesis penelitian ini, peneliti menggunakan analisaregresi linear sederhana dan analisa regresi berganda dengan bantuan program SPSS 16.Teknik ini digunakan untuk mencari koefisien korelasi antara nominal dan ordinalnya.I.4.7. Uji Validitas dan Reliabilitas1.4.7.1.Uji ValiditasUji Validitas dilakukan untuk mengukur sah / validnya suatu kuesioner. Suatukuesioner dinyatakan valid jika pertanyaan pada kuesioner mampu untuk mengungkapkansesuatu yang akan diukur oleh kuesioner tersebut. Uji validitas ini membandingkan nilaimasing-masing item pertanyaan dengan nilai total. Apabila besarnya nilai total koefisien itempertanyaan masing-masing variabel melebihi nilai signifikansi maka pertanyaan tersebuttidak valid. Nilai signifikasi harus lebih kecil dari 0,05 maka item pertanyaan baru dikatakanvalid atau dapat dilakukan dengan membandingkan nilai r hitung (nilai korelatif/ nilai productmoment) dengan r tabelnya. Apabila nilai r hitung lebih besar dari nilai r tabel dan nilai rpositif dan signifikan, maka butir pertanyaan tersebut dikatakan valid (Ghozali, 2005:34).I.4.7.2. Uji ReliabilitasUji Reliabilitas merupakan uji kehandalan yang bertujuan untuk mengetahui sebarapajauh alat ukur tersebut dapat dipercaya. Kehandalan berkaitan dengan seberapa jauh suatualat ukur konsisten apabila pengukuran dilakukan secara berulang dengan sampel yangberbeda-beda. Uji Reliabilitas dilakukan dengan menggunakn Cronbach alpha (). Suatukonstruk/variabel dikatakan reliabel jika memberikan nilai (alpha () > 0,60 (Ghozali,2005:35).DAFTAR PUSTAKAAndito. 1998. Belajar Teori Behavioristik. Bandung : Pustaka Hidayah.Barata, Atep Adya. 2004. Dasar-Dasar Pelayanan Prima. Jakarta: PT. Elex MediaKomputindo.Effendy, Onong Uchjana. 2003. Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi. Bandung: Citra AdityaBakti.Effendy, Onong Uchjana. 1993. Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek. Bandung: PT RemajaRosdakarya.Fatmawati, Endang. 2007. Gaya Komunikasi Pustakawan Terhadap Pengguna: PengaruhTerhadap Kualitas Layanan Di Perpustakaan Fakultas Ekonomi UniversitasDiponegoro Unit S1 Reguler. Skripsi. Semarang: Fakultas Sastra UniversitasDiponegoro Semarang.Ghozali, Imam. 2005. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS edisi 3.Semarang : Badan Penerbit Universitas Diponegoro.Griffin , Jill. 2005. Customer Loyalty Menumbuhkan dan Mempertahankan KesetiaanPelanggan. Jakarta: Erlangga.Kasmir. 2006. Etika Customer Service. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.Kang, Juhee. 2012. Effective Communication Styles for The Customer-Oriented ServiceEmployee: Introducing dedicational behaviors in luxury restaurant patrons. UnitedStates: International Journal of Hospitality Management.Liliweri, Alo.2011. Komunikasi Serba Ada Serba Makna. Jakarta: Kencana Prenada mediagroup.Mulyana, Deddy. 2005. Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar, Bandung: Remaja Rosdakarya.Nasution. 2004. Manajemen Jasa Terpadu. Jakarta: Ghalia Indonesia.Prasetyo, Riza Fajar. 2012. Analisis Pengaruh Kualitas Pelayanan Terhadap KepuasanNasabah pada Bank BRI Unit Sampangan. Q-MAN Vol.2 No.4. Desember.Rahmayanty, Nina. 2010. Manajemen Pelayanan Prima, Mencegah Pembelotan danMembangun Customer Loyalty. Yogyakarta: Graha Ilmu.Rangkuti, Freddy.2002. Measuring Customer Satisfaction: Gaining Customer RelationshipStrategy. Jakarta: Pustaka Utama.Ratminto dan Atik Winarsih. 2005. Manajemen Pelayanan. Pustaka Pelajar: Yogyakarta.Ruslan, Rosady.2004, Metode Penelitian Public Relations dan Komunikasi, Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.Supranto, J. 2001. Pengukuran Tingkat Kepuasan Pelanggan. Jakarta: Rineka Cipta.Tjiptono, Fandy. 1997. Strategi Pemasaran. Yogyakarta : Penerbit Andi.Venus, Antar. 2004. Manajemen Kampanye. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Brand Activation Batik Semarangan melalui Event “Cah Semarang Duwe Batik” Ginanjar Saputra; Djoko Setiabudi; Nurist Surayya Ulfa
Interaksi Online Vol 1, No 4: Oktober 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (226.571 KB)

Abstract

Nama : Ginanjar SaputraNIM : D2C008088Judul : Brand Activation Batik Semarangan melalui Event “Cah Semarang Duwe Batik” Abstrak Koperasi Sekar Arum sebagai sebuah lembaga koperasi dibawah naungan TP – PKK Kota Semarang yang salah satunya fokus terhadap batik semarangan, tentu harus dapat melestarikan dan mengembangkan produk batik semarangan sehingga dapat menjadi produk andalan dari Kota Semarang. Akan tetapi terjadi permasalahan dimana produk batik semarangan ini belum banyak dikenal oleh warganya sendiri khususnya para generasi muda yaitu pelajar di Kota Semarang. Melalui pendekatan IMC, promotion mix, marketing communication, dan AIDDA, strategi Brand Activation menjadi kegiatan komunikasi pemasaran batik semarangan yang efektif dalam meningkatkan awareness dan minat terhadap batik semarangan. Dengan mengambil tema kegiatan “Cah Semarang Duwe Batik” dengan tagline acara “Fit on Youth”, acara dikemas dengan tujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan minat pelajar di Kota Semarang terhadap batik semarangan. Acara ini diisi dengan kegiatan utama pelatihan batik dengan nama “Melu Mbatik” dan pertunjukan musik akustik dengan nama “Batikustik” dimana peserta diwajibkan mengenakan batik pada saat tampil diatas panggung. Dan pada akhir dari event, dibentuk Komunitas Batik Semarangan sebagai kegiatan PR denga tujuan untuk menimbulkan efek yang berkelanjutan. Melalui kegiatan brand activation ini, diharapkan pengetahuan para pelajar SMA dan sederajat di Kota Semarang sebagai target audien terhadap batik semarangan dapat meningkat, sehingga menumbuhkan rasa memiliki dan minat untuk melestarikan batik semarangan. Berdasarkan hasil riset post event, sebanyak 41% target audien sudah tidak lagi menganggap batik itu mempunyai kesan kuno, meningkat sebesar 28% dari sebelumnya 13%. tingkat pengetahuan target audien mengenai batik semarangan meningkat sebesar 52%, dari semula yang hanya 17% menjadi 69%. Sementara itu yang menyatakan tertarik untuk memakai batik semarangan sebesar 32%,. Hal ini menunjukkan peningkatan sebesar 15% dari sebelum event dilaksanakan. Kata Kunci : brand activation, batik semarangan, event, IMC, AIDDA, marketing communication, “Cah Semarang Duwe Batik”.Nama : Ginanjar SaputraNIM : D2C008088Judul : Batik Semarangan Brand Activation through “Cah Semarang Duwe Batik” Event. Abstract Koperasi Sekar Arum as an organization below the authority of Semarang‟s TP – PKK which one of their focus is Semarangan‟s batik, they have to conserve and develop Semarangan‟s batik into one of the top notch product from Semarang. Nevertheless the problem of Semarangan‟s batik is not so well known in its own city especially between the youth or the student in Semarang. Through IMC, promotion mix, marketing communication and AIDDA approaches, Brand Activation strategy become effective marketing communication for Semarangan‟s batik in order to raise awareness and also gain the interest in Semarangan‟s batik With “Cah SemarangDuwe Batik” as our event‟s theme and “Fit on Youth” as our event‟s tagline, this event is set to increase knowledge and interest for Semarangan‟s batik between the student in Semarang. This event is consist several activities such as, the main activity is teaching student how to draw batik which called “MeluMbatik” and also acoustic music performance named “Batikustik” which every contestant required to wear batik when they were performing on stage, and in the end of the event they KoperasiSekar Arum established Semarangan‟s Batik Community as a PR activity that aimed to get the continuous effect. Through this brand activation event, it is expected the knowledge of student especially high school in Semarang as a target audience may enhanced, so they will have sense of belonging into Semarangan‟s batik and also to conserve it. Refer to post event research result, 41% of target audience is not perceived Semarang‟s batik is old fashioned anymore, raised 28% from 13 % on early research. Level of knowledge of the target audience about Semarangan‟s batik enhanced 52% from the previous research is 17% to 69%. Meanwhile, target audience who stated that they wants to use Semarangan‟s batik is 32%, this data shows that there are 15% gain according from the previous research. Key Word : brand activation, batik semarangan, event, IMC, AIDDA, Marketing Communications, “Cah Semarang Duwe Batik”Brand Activation Batik Semarangan melalui Event “Cah Semarang Duwe Batik”(Project Officer) Karya Bidang Disusun untuk memenuhi persyaratan menyelesaikan Pendidikan Strata 1 Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Diponegoro PenyusunNama : Ginanjar SaputraNIM : D2C008088JURUSAN ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2013PENDAHULUAN Batik semarangan adalah batik khas dari Semarang yang mempunyai corak dan motif yang unik dan mempunyai ciri khas tersendiri berupa ikon-ikon kota semarang, dan bersifat natural atau pesisiran. Batik semarangan mempresentasikan tentang Kota Semarang baik flora, fauna, ikon-ikon Kota Semarang seperti ukiran di gedung-gedungnya, atau lawang sewu yang menjadi ciri khas kota, tugu muda, legenda-legenda, serta kuliner yang ada di Semarang, dan biasanya ada motif daun asem sebagai ciri khasnya. Ragam corak dan warna batik semarangan banyak dipengaruhi oleh budaya asing. Pada awalnya, batik semarangan yang memiliki ragam corak tradisional dan warna yang terbatas terpengaruh oleh kebudayaan asing yang dibawa oleh para pedagang asing dan juga para penjajah. Popularitas batik kembali muncul setelah UNESCO menetapkan batik sebagai salah satu budaya yang ada di Indonesia, berbagai fashion yang bertema batik bermunculan, masyarakat Semarang sadar akan budaya batik yang sedang menjadi tren. Walaupun popularitas batik sedang meningkat, akan tetapi kesadaran mereka akan adanya batik semarangan dan minat untuk memakai batik masih rendah. Popularitas batik semarangan sendiri masih kalah dengan batik di kota lain, hal ini diakibatkan karena apresiasi masyarakat kota semarang terhadap batik semarangan masih rendah. Masyarakat kota Semarang cenderung lebih memilih batik dari luar Semarang seperti Batik Pekalongan, Batik Yogyakarta maupun Batik Solo.Fenomena tren batik yang sedang berkembang di Kota Semarang tidak diimbangi dengan peningkatan kesadaran masyarakat akan adanya batik semarangan, sehingga minat mereka untuk memakai batik semarangan sebagai apresiasi terhadap Budaya KotaSemarang pun belum muncul. Padahal disamping itu, batik akan menjadi budaya di suatu masyarakat apabila masyarakat tersebut mengenakan batik di setiap hari mereka berkegiatan. Akan tetapi pada kenyataanya batik masih dipakai pada saat tertentu yang bersifat formal. Misal pada saat menghadiri pesta pernikahan, acara resmi yg lain, Atau pada hari jumat untuk instansi pemerintahan. Itupun kareda ada aturan pemerintah. Hal ini menyebakan penjualan batik semarangan mengalami penurunan dalam kurun waktu beberapa bulan terakhir. Budaya Fashion yang menjadi tren di kalangan pelajar karena mereka mengacu kepada artis idola mereka, sebagai contohnya, misal budaya K-pop yang sedang populer saat ini. Dari gaya berpakaian, para pelajar akan menirukan gaya berpakaian idola mereka, mengenakan fashion bergaya korea, karena tren budaya yang sedang hype mempunyai kesan modern dan up to date sedangkan batik menurut mereka masih sebagai fashion yang kuno, Dari masalah tesebut dapat dikatakan bahwa pelajar masih mencari identitas dirinya dan membutuhkan role model sebagai acuan mereka untuk menghilangkan kesan kuno yang selama ini melekat pada batik. Banyak pelajar SMA di Semarang yang tidak mengetahui adanya batik semarangan. Tidak mengetahui ciri-cirinya, contoh motifnya, harga, serta tempat dimana bisa membeli batik semarangan. Budaya batik yang masih terkesan kuno di kalangan pelajar menyebabkan rendahnya kesadaran dan pengetahuan mereka terhadap batik khususnya batik semarangan. Hal ini dibuktikan dengan riset yang telah peneliti lakukan pada bulan April 2013 bahwa 87% responden masih menganggap bahwa batik itu terkesan kuno dan mereka tidak mau memakainya, 17% responden tidak aware terhadap batik semarangan, 79% responden tidak mempunyai minat terhadap batik semarangan.Masih rendahnya kesadaran pelajar terhadap batik semarangan tersebut berakibat pada rendahnya popularitas batik semarangan apabila dibandingkan dengan batik-batik dari kota lain. Hal ini berdampak pada menurunnya penjualan batik semarangan. Maka dari itu, Karya Bidang ini berfokus untuk mempromosikan batik semarangan yang bertujuan untuk meningkatkan awareness serta minat pelajar terhadap Batik Semarangan kepada pelajar SMA di Kota Semarang dengan melakukan kegiatan “ Cah Semarang Duwe Batik dengan tagline FIT ON YOUTH dengan pendekatan brand Activation ISI Dengan menggunakan pendekatan brand activation yang didukung oleh teori Komunikasi Pemasaran, AIDDA, IMC, dan komunitas dan berifat Experiental Event Marketing agar para audiens dapat sepenuhnya terlibat dengan produk yang dipasarkan. Salah satu cara efektif dalam menyampaikan pesan sebuah brand adalah melalui pendekatan brand activation. Brand activation adalah salah satu bentuk promosi merek yang mendekatkan dan interaksi merek dengan penggunanya melalui aktivitas pertandingan olahraga, hiburan, kebudayaan, sosial, atau aktifitas publik yang menarik perhatian lainnya.Brand activation merupakan aktifitas dua arah yang dilakukan suatu brand untuk berinteraksi lebih dekat dengan target market, atau target audiens. Berbeda dengan aktifitas iklan, baik lini atas maupun lini bawah, aktifitas yang terjadi hanyalah satu arah. Salah satu bentuk pendekatan brand activation adalah event marketing activity. Dalam penelitiannya, Duncan menjelaskan bahwa, “event marketing is a significant situation orpromotional happening that has a central focus and chapters the attention and involvement of the target audiens” Pendekatan brand activation merupakan aktifitas komunikasi pemasaran yang harus tetap didukung dengan aktifitas komunikasi pemasaran lainnya, seperti publikasi, kegiatan public relations, sales promotion, publisitas dan tools promosi lainnya. Brand activation merupakan jawaban atas konsep promosi modern karena dapat meningkatkan brand awareness dan mengangkat citra dari suatu brand. Strategi ini dirasa efektif dalam membangun sebuah brand karena brand activation adalah salah satu bentuk promosi brand yang mendekatkan dan membangun interaksi brand dengan penggunanya melalui aktivitas pertandingan olahraga, hiburan, kebudayaan, sosial, atau aktivitas publik yang menarik perhatian lainnya (Shimp, 2003:263). Selain itu dalam perspektif membangun brand awareness, brand activation mempunyai banyak peluang untuk mencapai keberhasilan. Ini karena event pada dasarnya diselenggarakan dalam kemasan yang menarik dan untuk menciptakan suasana hati yang santai dan menyenangkan. Pada saat itulah orang lebih mudah menerima pesan persuasi yang disampaikan pemilik merek (Shimp, 2003:263).Peneliti ingin menyelenggarakan kegiatan yang bertema “ Cah Semarang Duwe Batik” dengan tagline “ Fit On Youth”. Penyelenggara mengambil tema “ Cah Semarang Duwe Batik” dengan tujuan untuk menumbuhkan rasa memiliki para generasi muda khususnya pelajar SMA di Kota Semarang untuk melestarikan batik salah satunya dengan cara memakainya. Tagline „ Fit On Youth” berarti ingin menyampaikan pesan bahwa batik itu cocok untuk para generasi muda khususnya paa pelajar untuk menjadi fashion mereka dan bertujuan untuk menghilangkan kesan kuno batik. Tujuan kegiatan “ Cah SemarangDuwe batik” sendiri bertujuan untuk menghilangkan kesan kuno batik, meningkatkan awareness batik Semarangan, dan meningkatkan minat terhadap Batik Semarangan salah satunya dengan cara memakainya dan tujuan tersiernya adalah untuk meningkatkan penjualan Batik Semarangan di kota Semarang. Kegiatan Brand Activation Batik Semarangan dikemas dengan konsep yang menarik karena target audiens dari kegiatan ini adalah pelajar di kota Semarang serta membawakan role model yang bertujuan untuk dijadikan panutan bagi mereka untuk mengenakan batik sehingga bisa menghilangkan kesan kuno batik di generasi muda.Role Model yang dibawakan pada kegiatan “ Cah Semarang Duwe Batik” adalah Jazz Ngisoringin yang mempunyai banyak penggemar di Kota Semarang khususnya para generasi Muda Kota Semarang yang menjadi target audiens dari kegiatan “ Cah Semarang Duwe Batik”. Acara “Cah Semarang duwe Batik” yang dilaksanakan selama 3 hari yaitu pada tanggal 26, 27 dan 28 Juli 2013 mempunyai konsep acara sebagai berikut : a. Melu mbatik Melu mbatik merupakan ajang bagi pengunjung acara yang ingin mencoba belajar batik pada kain batik sepanjang 1x1 meter yang telah tergambar pola batik semarangan, yang disediakan oleh panitia dan telah didampingi oleh para pengrajin batik yang sudah berpengalaman dan ahli dari Koperasi Sekar Arum. b. Galeri Batik SemaranganGaleri Batik Semarangan merupakan sarana bagi para perajin batik untuk mempromosikan produknya, selain melakukan penjualan dengan memberikan diskonkhusus, perajin tersebut juga akan membimbing paserta “melu mbatik” mengenai cara dan langkah-langkah yang baik dalam membuat batik. c. Batikustik Band SMA merupakan sarana untuk mengekspresikan jiwa seni pelajar SMA. Diharapkan dengan para pelajar akan dapat lebih mengapresiasi budaya batik sebagai budaya yang tidak lagi kuno. Parade band ini bertema akustik, dan mengenakan batik pada saat pentas. d. Batikustik Jazz Ngisoringin. Jazz Ngisoringin yang menjadi band yang sudah populer di Kota Semarang bisa menjadi role model pelajar SMA bahwa batik itu tidak berkesan kuno. e. Wisata Air Pengunjung yang datang pada kegiatan tersebut, selain dapat mengunjungi booth pameran yang disediakan oleh panitia juga dapat menikmati wahana wisata air dan keindahan sungai banjir kanal. f. Komunitas Cah Semarang Duwe Batik Setelah kegiatan terlaksana, akan dibentuk sebuah komunitas “Cah Semarang Duwe Batik” yang beranggotakan para pelajar SMA di Kota Semarang. Komunitas ini bertujuan untuk mengenalkan batik semarang kepada teman-teman di sekolahnya, teman-teman di luar sekolah ataupun keluarga mereka. Komunitas ini dibentuk sebagai wujud kepedulian mereka untuk terus melestarikan kebudayaan memakai batik khususnya batik semarangan, sehingga budaya memakai batik akan semakin meningkat dan akan menghilangkan kesan kuno yang selama ini melekat pada batik sehingga keberadaan batik semarangan akan tetap terjaga.“Cah Semarang Duwe Batik” adalah rangkaian event yang berisi kegiatan untuk memperkenalkan batik semarangan, mengenai jenis-jenis motifnya, serta tempat dimana bisa membeli batik semarangan. Selain itu melalui event ini pihak Koperasi Sekar Arum dapat melihat kondisi target audiens secara langsung, bagaimana antusias audien mengikuti rangkaian kegiatan dapat menjadi pacuan dalam memperluas pasarnya kepada target pasar yang dituju, yaitu pelajar SMA di Semarang. Berdasarkan hasil riset, tingkat pengetahuan target audien mengenai Batik semarangan meningkat sebesar 52%, dari semula yang hanya 17% menjadi 69%. Hal tersebut melampaui target yang ditentukan sebelumnya, yaitu sebesar 50%. Untuk peningkatan minat batik naik sebesar 15% dan telah melampaui target yang sebelumnya hanya 13% dan akhirnya minat batik menjadi 36%. Komunitas “Cah Semarang Duwe Batik” dibentuk setelah kegiatan dilakuan, tujuan dari komunitas ini adalah sebagai wujud kepedulian mereka untuk terus melestarikan kebudayaan memakai batik khususnya batik semarangan, sehingga budaya memakai batik akan semakin meningkat dan akan menghilangkan kesan kuno yang selama ini melekat pada batik sehingga keberadaan batik semarangan akan tetap terjaga. Komunitas “Cah Semarang duwe Batik” mempunyai kartu tanda anggota sebagai kartu pengenal keanggotaan dan berfungsi juga sebagai kartu untuk memperoleh potongan harga di toko batik yang sudah ditunjuk oleh panitia dan juga mempunyai katalog yang dipegang oleh masing-masing anggota yang berguna untuk mempromosikan batik semarangan kepada teman-temannya di sekolah. Evaluasi mengenai jalannya acara dapat dilihat pada indikator berikut ini :a. Tujuan komunikasi awal tercapai dengan baik, yaitu untuk meningkatnya awareness dan minat audien terhadap batik semarangan, terbukti dengan terbentuknya Komunitas “Cah Semarang Duwe Batik” di beberapa SMA di Kota Semarang. b. Proses loading-in dan loading-out, serta jalannya acara secara keseluruhan berjalan lancar sesuai dengan rundown yang telah dibuat. c. Jumlah peralatan dan perlengkapan terpenuhi, meskipun ada beberapa perlengkapan yang belum lengkap pada saat persiapan, akan tetapi hal tersebut dapat diatasi pada hari pertama pelaksanaan acara. e. Segala bentuk publikasi terdistribusi dan terpasang dengan baik. f. Terbinanya hubungan baik dengan pihak-pihak yang terlibat dalam acara “Cah Semarang Duwe Batik” seperti Koperasi Sekar Arum, LEMPPAR, dan sekolah-sekolah yang berpartisipasi. g. Anggaran dana yang dibutuhkan dapat terpenuhi dan didapatkan dari sponsorship, dan mendapatkan surplus sebesar Rp. 3.130.000,- h. MC sepanjang jalannya acara menyampaikan pesannya dengan baik, memaparkan informasi secara persuasif, sehingga audien lebih tertarik dan dapat mengingat pesan yang disampaikan.PENUTUP Dalam bab ini, dijelaskan mengenai implikasi yang terjadi atau ditimbulkan dari penyelenggaran event “Cah Semarang Duwe Batik” yang bertujuan untuk memperkenalkan batik semarangan serta saran yang dapat digunakan untuk keberhasilan penyelelnggaraan event serupa berikutnya. Kesimpulan Dari seluruh rangkaian acara “Cah Semarang Duwe Batik” yang telah dilaksanakan dan pembahasan yang dilakukan, dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut : a. Strategi dengan menyelenggarakan experiental event marketing dan berinteraksi secara langsung kepada target audien serta menampilkan role model menjadi cara yang efektif umtuk menghilangkan kesan kuno batik sebanyak 28%, dari semula 13% meningkat menjadi 41% yang menganggap bahwa batik tidak lagi terkesan kuno berdasarkan riset yang dilakukan setelah event. b. Kegiatan promosi melalui event “Cah Semarang Duwe Batik” berhasil meningkatkan awareness target audien tentang batik semarangan sebesar 52% serta meningkatkan minat sebesar 15% berdasarkan riset yang dilakukan setelah event. c. Kegiatan promosi melalui event “Cah Semarang Duwe Batik” berhasil meningkatkan minat warga Kota Semarang untuk melakukan pembelian pada saat kegiatan berlangsung, hal ini dibuktikan dengan total penjualan batik semarangan selama kegiatan total sebesar Rp. 9.150.000 d. Dalam publikasi event “Cah Semarang Duwe Batik”, 50% responden mengetahui acara “Cah Semarang Duwe Batik” melalui media poster yang dipasang.e. Dari 100 orang yang dijadikan sebagai responden, 21% responden mengetahui event “Cah Semarang Duwe Batik” melalui flyer. f. Publikasi melalui social media, karena lingkaran sosial yang dimiliki oleh penyelenggara belum menjangkau target audien, sehingga publikasi belum menjangkau secara langsung kepada target audiens yang dituju, publikasi melalui social media hanya menjangkau 10,52 %. Dari kesimpulan yang telah dihasilkan, serta pengamatan terhadap jalannya rangkaian acara “Cah Semarang Duwe Batik”, berikut saran yang dapat dijadikan sebagai pertimbangan apabila diadakan kegiatan-kegiatan serupa pada waktu yang akan datang : a. Pemilihan akun social media sebagai komunikator sebaiknya menggunakan akun yang telah mempunyai lingkaran sosial yang sesuai dengan target audien yang hendak dituju. b. Sebelum melakukan kegiatan pemasaran, sebaiknya penyelenggara telah mendalami product knowledge tentang produk yang akan dipasarkan, sehingga terpaan informasi yang diterima target audien dapat menimblkan efek yang lebih besar. c. Masing-masing penerapan strategi publikasi media yang akan digunakan, sebaiknya diukur menggunakan perhitungan yang tepat untuk mengetahui strategi publikasi mana yang paling efektif umtuk mendukung kegiatan yang akan dilaksanakan.DAFTAR PUSTAKA 1. Buku Belch, George, Michael A. Belch 2001. Advertising & Promotion: An integrated Marketing Communications Perspective, New York : McGraw Hill. Departemen Pendidikan Nasional Indonesia. (2008). Kamus Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa. Gunarsa, Singgih. (2008). Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Jakarta: BPK Gunung Mulia Jack Z. and Bumba, Lincoln. (1996). Advertising and Media Planning, (5th ed.). USA: Ntc Bussines Books. Jasmadi (2008). Membangun komunitas online secara praktis dan gratis. Jakarta: Elex Media Komputindo. Kotler, Philip, Gary Armstrong. (2001). Prinsip-Prinsip Pemasaran Jilid 2. (Damos Sihombing. Alih Bahasa).Jakarta : Penerbit Erlangga. Laudon, Kenneth, Traver, and Carol Guercio (2003). E-commerce : business, technology, society. Addison-Wesley Littlejohn, Stephen W. (2009). Teori Komunikasi (Theories of Human Communication). Jakarta: Salemba Humanika Sissors, Setiadi, Nugroho J. (2003). Perilaku Konsumen: Konsep dan Implikasi untuk Strategi dan Penelitian Pemasaran. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Shimp, Terence A. (2000). Periklanan Promosi: Aspek Tambahan Komunikasi Pemasaran Terpadu. Jilid I. (Revyani Syahrial. Terjemahan) Jakarta: Penerbit Erlangga. Siswanto, Fritz Kleinsteuber, (2002). Strategi Manajemen Pemasaran. Jakarta: Damar Melia Pustaka. Sulaksana, Uyung. (2003). Integrated Marketing Communication. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Sutisna. (2001). Perilaku Konsumen & Komunikasi Pemasaran. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Tjiptono, Fandy, dkk. (2007). Pemasaran Strategik. Yogyakarta: Penerbit Andi.2. Website : (Advertising and Promotion and Integrated Marketing Communications Perspective, http://hfs1.duytan.edu.vn/upload/ebooks/5183.pdf, diakses pada 21 Mei 2012). (Brand Activation by Paul Morel, Peter Preisler and Anders Nyström www.metro-as.no/pdf/fagartikler/Brand%20Activation.pdf. diakses pada 5 Mei 2012).
Video Dokumenter Televisi “Koboy Melukis Pusaka Jawa” Yuniawan Eko Widyantoko; Djoko Setiabudi; I Nyoman Winata
Interaksi Online Vol 2, No 1: Januari 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (345.45 KB)

Abstract

Video Dokumenter Televisi “Koboy Melukis Pusaka Jawa”ABSTRAKVideo dokumenter merupakan salah satu produk jurnalistik dalam bentuk audio visual.Terdapat tim yang bekerja dari pra hingga pasca produksi untuk pembuatannya, dokumentaris dalamhal ini menjabat posisi sebagai cameraperson dan merangkap sebagai editor. Pemilihan posisi tersebutmerupakan kemauan dan kemampuan jurnalis dalam menjalankan proyek dokumenter ini.Dokumentaris berkerja sesuai dengan naskah sekenario yang di buat oleh sutradara. DokumenterKomunitas Komplotan Bocah Wayang (Koboy) yang berjudul “Koboy Melukis Pusaka Jawa”menampilkan sekumpulan anak muda yang gemar mengikuti kegiatan pewayangan di Sobokartti.Anak-anak muda ini bersepakat untuk menggelorakan semangat cinta wayang pada masyarakatSemarang dan menghimpun siapa saja yang berminat terhadap dunia pewayangan. Namun sayangnyatidak banyak generasi muda yang tertarik kepada wayang kulit. Wayang kulit selama ini identikdengan generasi lama atau orang tua, kuno, serta kolot untuk anak muda saat ini, karena bahasapengantarnya bahasa Jawa yang tidak populer lagi di kalangan generasi muda. Untuk menarik minatgenerasi muda pada wayang sebagai kesenian tradisional, akhirnya mereka berdua berusahamemberikan inovasi terhadap pewayangan dengan sentuhan kreatif yaitu dengan membuat sebuahwayang kreasi baru, yaitu dengan menggunakan fiber, tekson, kardus, serta e-wayang yang bisadiaplikasikan menjadi komik, poster, video animasi, dan yang bersentuhan dengan bidang digitalteknologi agar bisa lebih mendekatkan dan menarik minat anak muda sekarang.Mereka sangat totalitas dalam menggelorakan semangat cinta wayang pada masyarakatsemarang dan menghimpun siapa saja yang berminat terhadap dunia pewayangan, tergambar padakegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh Koboy. Dari sekolah ke sekolah mereka bawa tongkat estafetbudaya wayang yang diwariskan oleh nenek moyang untuk mengenalkan kembali ke anak-anak mudasaat ini, Koboy menjembatani dengan ketulusan mereka, ketekunan serta semangat dan upaya-upayaagar anak muda semakin mengenal dan bangga serta dapat ikut menjaga kelestarian seni tradisionalwayang dalam wadah komunitas Komplotan Bocah Wayang atau Koboy. Melalui Koboy, diharapkanwayang bisa lebih dekat dengan masyarakat khususnya anak mudaSutradara sebagai seorang jurnalis harus memiliki ide dan konsep yang jelas mengenaiapa yang disampaikan dalam video news features dan bagaimana menyampaikannya secara logisberdasarkan fakta yang terjadi. Untuk memberikan sentuhan estetika dalam penyampaian pesan dalamnews features ada empat topic utama yang menjadi konsentrasi sutradara, yakni:pendekatan, gaya,bentuk, dan struktur. Setelah menentukan kemasan dari news features. Sutradara melakukan risetimengenai pendalaman tema, objek lokasi, dan pemilihan subjek- subjek yang akan menjadi tokohdalam news features Kegiatan riset dilakukan untuk menganalisis visi visual yaitu gambaran untukmengembangkan ide.Sutradara sebagai seorang penulis naskah menuangkan ide dan konsep dalamtreatment kemudian menulis naskah scenario beserta shooting list. Di dalam naskah scenario, sutradaramenentukan audio dan visual. Setelah masa produksi selesai, Sutradara menyeleksi gambar yanglayak dan sesuai naskah scenario kemudian membuat naskah editing. Sutradara memberikan naskahediting kepada editor, kemudian selama proses editing sutradara mendampingi editor sebagai tempatbertanya untuk kelancaran proses editingKata kunci: jurnalis, sutradara, penulis naskah, Wayang, KoboyiABSTRACTVideo documentary is one of audio-visual journalism product . There is a team working frompre to post-production to production, documentary in this case serves as a cameraperson and aconcurrent position as editor . The selection of these positions is the willingness and ability ofjournalists to carry out this documentary project . Documentary work in accordance with the scenarioscript made by the director . Komunitas Komplotan Bocah Wayang (Koboy) entitled “Koboy DrawsJava’s Heritage” featuring a bunch of young people who love to take part in Sobokartti puppet . Theyare agreed to foster a spirit of love puppets in Semarang and gather people who are interested in thepuppet world . But unfortunately not many young people are attracted to the shadow play . Wayangkulit is synonymous with the old generation or the old , ancient , and old-fashioned for today's youth ,because language introduction to the Java language is no longer popular among the youngergeneration . To attract young people to the puppet as traditional art , finally they both tried to deliverinnovation to the puppet with a creative touch to create a new puppet creations , using fiber , tekson ,cardboard , as well as e - puppets that can be applied into comics , posters , video animation , and is incontact with the field of digital technology in order to get closer and attract young people today .They are very total in spreading spirit of love puppets in Semarang and raise public who areinterested in the puppet world , reflected in the activities undertaken by Koboy . From school to schoolthey carry the baton puppet culture inherited by the ancestors to introduce back to young kids today,Koboy bridge with their sincerity , passion and perseverance as well as efforts to bring more youngpeople to know and be proud of and care for preservation of traditional art puppets Komplotan BocahWayang or Koboy gang. Through Koboy , puppet is expected to be closer to the public, especiallyyoung people .Film Director is a journalist who has clear idea and concept about what he will say on NewsFeatures video and how to delivering facts that occurred logically. To give aesthetic touch in givingmessage on News Features, there are four main topics that can be a concentration of the director, theyare : approaching, style, place and choosing players, research is doing by visual vision to make animage that decided an idea.Film Director as a screenwriter needs to pour some ideas and concepts in his treatment then he writesscenario script with shooting list. In scenario script, Film Director selecting the best appropriatepictures then he makes editing script to give to the editor. In editing process, Film Director has to sitnext the editor as a place to asking while film is being edited.Keywords : journalist, film director, script writer, Wayang and CowboyKeywords : Journalist , film director, script writer, wayang and Koboy .iBAB IPENDAHULUAN1.1. Latar BelakangKegiatan Jurnalistik sangat berkaitan erat dengan media massa cetak maupunelektronik, karena publikasi di media massa adalah salah satu syarat utama agar sebuah produktersebut dapat dikatakan sebagai produk jurnalistik. Media massa elektronik salah satunyatelevisi merupakan media massa elektronik yang mampu menyebarkan informasi secara cepatdan mampu mencapai pemirsa dalam jumlah banyak dalam waktu bersamaan. Televisi denganberbagai acara yang ditampilkan telah mampu menarik minat pemirsanya , dan mampumembius pemirsanya untuk selalu menyaksikan berbagai tayangan yang disiarkan televisi.Terlebih lagi TV merupakan media yang menyuguhkan tampilan melalui bentuk audio visual(suara dan gambar) sehingga tentunya membuat masyarakat lebih tertarik kepada televisidaripada media massa lainnya. Banyaknya audien televisi mejadikannya sebagai mediumdengan efek yang besar terhadap orang, kultur dan juga terhadap media lain. Sekarang televisiadalah media massa dominan (Vivian, 2008:225).Beberapa jenis dan bentuk pengembangan documenter televisi meliputi expositorydocumenter (penutur tunggal narrator), documenter drama, news feature, reality show daninvestigasi. Kami sebagai jurnalis ingin mebuat sebuah produk jurnalistik dalam bentuk newsfeature dengan format documenter yang nantinya akan di publikasikan melalui media televise.Alasan menggunakan format documenter karena konten didalamnya lebih lengkap, yaituseperti unsur informasi, ilmu pengetahuan, dan yang dominan unsure hiburan yang kreatif(fachrudin,2012:314).Kami ingin mengangkat salah satu kesenian tradisional yang mulaiterpinggirkan bahkan mulai ditinggalkan oleh anak muda khususnya adalah kesenianiwayang.Wayang selama ini kita kenal sebagai kekayaan budaya jawa.Wayang telah menjadietos dan pandangan hidup masyarakat jawa.Bahkan wayang menjadi esensi budaya jawa.Bagimasyarakat Jawa, wayang tidaklah hanya sekedar tontonan tetapi juga tuntunan.Wayang bukanhanya sekedar sebagai sarana hiburan, tetapi juga sebagai media komunikasi, mediapenyuluhan dan media pendidikan.Wayang telah menjadi asset kebudayaan nasional, makakewajiban itu berarti terletak di pundak masyarakat Indonesia seluruhnya.Tetapi tentulahmasyarakat Jawa khususnya yang harus merasa lebih terpanggil untuk nguri-uri kekayaanbudayanya yang indah dan sarat nilai-nilai budaya yang adiluhung ini.Berbicara mengenai upaya pelestarian wayang masih terhitung sedikit terutamagenerasi muda. Salah satunya komunitas koboy (komplotan bocah wayang) yang berpusat diSobokartti yang melakukan kegiatan pelestarian dan pengenalan wayang dengan pelatihandalang bagi anak maupun remaja dan proses pembuatan wayang dengan berbagai medium.Meskipun mereka bukan pelaku seni atau orang yang terlibat dalam kegiatan pewayangannamun kegiatan yang mereka lakukan dengan mengenalkan wayang melalui workshop kesekolah-sekolah atau tempat-tempat umum, sudah menjadi salah satu cara pelestarian terhadapwayang. Meski hanya workshop, setidaknya kegiatan itu mampu memberi pesan untukmengenalkan tentang wayang terlebih dahulu kepada anak-anak dan orang tua, apabilakedepannya wayang tetap tidak diminatipun itu bukan merupakan kegagalan para koboy, yangterpenting adalah masyarakat yang terutama anak-anak mengetahui bahwa kita mempunyaipeninggalan kebudayaan yang sangat bernilai yaitu wayang. Koboy sangat berperan dalammelestarikan wayang meski tidak mampu meneruskan kebudayaan sebagai pelaku, setidaknyakoboy dapat meneruskan tongkat estafet kepada generasi muda, yang seharusnya tongkatestafet tersebut dibawa oleh orangtua untuk anak-anaknya namun terbentur orang tua jamansekarang banyak yang tidak peduli atau malah tidak mengenal tentang pewayangan, maka paraiorang tua sendiri tidak mampu berperan untuk mengenalkan wayang kepada anak-anaknyadidalam sistem pelestarian kebudayaan wayang saat ini.1.2 Kerangka Pemikiran1. Jurnalistik dalam DokumenterJurnalistik didefinisikan sebagai seni dan ketrampilan mencari, mengumpulkan,mengolah, menyusun dan menyajikan berita tentang peristiwa yang terjadi sehari-hari secaraindah, dalam rangka memenuhi segala kebutuhan hati nurani khalayaknya, sehingga terjadiperubahan sikap, sifat pendapat, dan perilaku khalayak sesuai dengan kehendak parajurnalisnya. (Suhandang, 2004:21).Video dokumenter merupakan sebuah produk jurnalistik berbentuk soft news yangbertujuan untuk pembelajaran dan pendidikan namun disajikan secara menarik (Morrison,2008:211). Sehingga dokumenter pun menjadi salah satu dari sekian media yang dapatdigunakan untuk menyampaikan informasi, pendidikan, pengaruh dan sekaligus hiburan untukkahalayak atau cakupan massa. Video dokumenter dapat diputar dan dipertunjukan kepadakhalayak dan target audience melalui ruang-ruang komunitas maupun secara massive yaitutelevisi. Televisi sendiri telah menjadi media komunikasi massa yang tidak terpisahkan denganmasyarakat. Masyarakat dari segala usia termasuk di dalamnya adalah remaja yang sangatakrab dengan televisi. Menurut Vivian (2008:16) televisi merupakan salah satu media yangtidak menuntut audiensnya untuk terlalu aktif , bahkan cukup pasif saja (cool media). Mediaseperti televisi, radio dan film yang diputar pada televisi merupakan jenis-jenis media yangmasuk kedalam kategori itu.i2. Gaya Bertutur dan Strukur DokumenterDalam pembuatan dokumenter ini, kamipara jurnalis memilih menggunakan gayarekonstruksi pada umunya bentuk ini dapat ditemui pada documenter investigasai dan sejarah,termasuk pula pada film etnografi dan antropologi visual. Dalam tipe ini, pecahan-pecahanatau bagian –bagian peristiwa masalampau maupun masa kini disusun atau direkonstruksiberdasarkan fakta sejarah.Pada saat merekonstruksi suatu peristiwa, latarbelakang sejarah,periode, serta lingkungan alam dan masyarakatnya menjadi bagian dari konstruksi peristiwatersebut.Konsep penuturan rekonstruksi terkadang tidak mementingkan unsur dramatic tetapilebih terkonsentrasi pada pemaparan isi sesuai kronologi peristiwa (Ayawaila, 2008: 40-43).Diharapkan pembuatan documenter dengan gaya rekonstruksi dapat membangunkan kembalipemahaman tentang wayang sebagai seni tradsisi yang menjadi pusat tatanan nilai dengannilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya.Seperti halnya video documenter koboy ini yangmembandingkan kondisi kesenian wayang jaman dahulu yang banyak diminati,sertamerupakan sebagai pusat referensi tatanan nilai dan tatanan hidup, namunberbeda padasaat sekarang ini, padahal wayang dahulu lebih rumit dibanding dengan wayang jamansekarang yang sudah berinovasi dari segi cerita dan bahasa agar dapat diterima. Perkembanganjaman dengan munculnya media-media baru, peran wayang sebagaipusat tatanan nilai tergeseroleh media-media baru tersebut.1.3. Konstribusi KaryaNews feature ini dibuat sebagai tugas akhir untuk persyaratan kelulusan dalam Program StudiS-1 jurusan Ilmu Komunikasi FISIP UNDIP. Selain itu juga dapat dimanfaatkan untuk :1. Media dalam mengenalkan kesenian wayang kepada generasi muda sehingga tumbuh rasacinta dan bangga generasi muda terhadap kesenian wayang.i2. Sarana untuk menumbuhkan kesadaran banyak pihak untuk terlibat dalam upaya menjagaeksistensi kesenian wayang.1.4 Konsep filmBentuk Dokumenter Tematis`Struktur penuturan ini biasanya digunakan apabila fokus cerita adalah sebuah objek lokasiyang merupakan tempat sejumlah orang melakukan aktivitasnya. Seperti halnya PerkumpulanKoboy dimana merupakan sebagai tempat berkumpulnya para para pencinta atau penggiatkesenian wayang dikalangan anak muda dalam melakukan kegiatan-kegiatannya, yang berpusat diSobokartti.Dalam “Koboy Melukis Pusaka Jawa” penceritaan diawali dengan pernyataan-pernyataan dariketiga narasumber mengenai permasalahan semakin terasingnya dan antusiasme yang kuranggenerasi muda terhadap kesenian wayang, kemudian upaya yang dilakukan oleh koboy untukmenumbuhkan rasa cinta dan bangga di generasi muda terhadap kesenian wayang dan diakhiridengan pernyataan-pernyataan narasumber mengenai eksistensi kesenian wayang dan upayaupayayang dilakukan untuk menarik minat generasi muda terhadap kesenian wayang.1.7. Personel dan Job DescriptionKarya bidang ini dibuat oleh tim yang terdiri dari 3 mahasiswa dalam sebuah sistem kerja yangdirancang sedemikian rupa untuk penilaian yang independen dalam laporan yang disusun.Personil dan Job description tersebut sebagai berikut :1. Rizka Putra Dinanti (D2C607042) Producer : Penanggung jawab dalam suatu produksi acara Lobi dengan pihak stasiun televisi untuk penayangani Lobi Narasumber Penanggung jawab anggaran untuk produksi2. Wisnuadi Trianggoro (D2C009129) Juru Kamera (cameraman) : melakukan riset lokasi riset narasumber, riset stockshoot kotasemarang, melakukan pengambilan gambar wawancara, melakukan pengambilan gambarsaat kegiatan objek dokumenter, memindahkan file untuk editor. Editor : bertugas memilih dan menyambung gambar atau siaran audio.3. Yuniawan Eko (D2C009136) Program Director/Sutradara : Orang yang bertanggung jawab dalam mengarahkan suatuproses produksi acara radio atau televisi. Penulis Naskah/Reporter : Orang yang berprofesi sebagai peliput atau pencari berita,menulis naskah atau melaporkan (to report) suatu event atau peristiwa atau kejadian padamedia radio tau televisi. Pra Produksi- Sutradara menentukan ide dan merumuskan konsep mengenai apa yang akan disampaikan- Sutradara menentukan bagaimana kemasan produk news features yang di dalamnyaditentukan pendekatan, bentuk penuturan dan struktur.- Sutradara melakukan riset mengenai pendalaman tema, objek lokasi, dan pemilihan subjeksubjekyang akan menjadi tokoh dalam news features.- Sutradara menuangkan ide dalam treatment.- Sutradara menulis naskah skenario- Sutradara menentukan audio dan visual dalam scenario Produksi- Sutradara menentukan format dan pemilihan shot saat melakukan produksii- Sutradara menentukan lokasi, latar belakang, dan posisi narasumber saat wawancara,sutradara mempertimbangkan siapa narasumber yang diwawancara termasuk kelengkapanmengenai usia dan profesi narasumber. Paska Produksi- Sutradara menyeleksi gambar yang layak dan sesuai naskah scenario kemudian membuatnaskah editing dengan tujuan menentukan visualisasi struktur cerita.Sutradara memberikan naskah editing kepada editor, kemudian selama proses editingsutradara mendampingi editor sebagai tempat bertanya.PENUTUPMembuat sebuah film baik itu fiksi ataupun non fiksi diperlukan riset yang matang. Dengancara mengumpulkan data atau informasi melalui observasi mendalam mengenai subjek, peristiwa, danlokasi sesuai tema yang akan diangkat. Riset secara mendalam sangat dibutuhkan karena news faeturetidak disajikan dalam sisi estetika saja tetapi juga kelengkapan informasi seusai dengan peristiwanyata. Secara umum dalam sebuah news features terdapat fakta-fakta yang ingin disampaikan dalambentuk informasi kepada masyarakat. Dalam pembuatan video news faeture ini mengalami tiga tahap,pra produksi, produksi, dan paska produksi. Berikut beberapa kesimpulan yang dokumentaris dapatkanselama proses pembuatan news faeture “Koboy Melukis Pusaka Jawa”Kesimpulan1) Pemilihan KOBOY ( Komplotan Bocah Wayang) sebagai subjek utama dalam videoini disesuaikan dengan tema yang diangkat yaitu pengenalan wayang sebagai kesenian yangmulai jauh di kalangan generasi muda. KOBOY yang beranggotakan anak- anak muda yangmemiliki minat dan kepedulian besar terhadap eksistensi wayang di tengah-tengah generasimuda .Mereka mempunyai komitmen kuat untuk menumbuhkan rasa cinta dan bangga padaigenerasi muda terhadap kesenian wayang. Pemilihan KOBOY didasarkan pada kesamaan visiyang sama dengan tujuan dibuatnya video News Features ini yaitu berupaya mengenalkanwayang kepada generasi muda sehingga tumbuh rasa cinta dan bangga terhadap wayang.2) Pemilihan Cakra Semarang TV sebagai media yang akan mempublikasikan videoNews Features kami dikarenakan salah satu program di Cakra Semarang TV yaitu ProgramSluman-Slumun yang mempunyai kesamaan dengan konten yang kami angkat yaitu upayapengenalan keberagaman budaya salah satunya wayang. Program Sluman-Slumun sendirimerupakan tayangan yang bercerita mengenai tempat-tempat yang memiliki history atausejarah di Semarang dan menceritakan keberagaman budaya yang ada di Semarang. SepertiKoboy yang merupakan salah satu komunitas wayang yang berpusat di Sobokartti.3) Pemilihan narasumber dan tokoh utama dalam video News Features mempunyaiperanan penting. Keberadaan narasumber dapat mempermudah sutradara dalammengembangkan ide cerita dan menjadi daya tarik dalam cerita. Pihak-pihak yang menjadinarasumber dalam News Features ini merupakan sosok-sosok yang mempunyai kepedulianyang besar terhadap perkembangan kesenian wayng dan memiliki pemahaman yang baikberkaitan dengan upaya-upaya untuk menjaga eksistensi kesenian wayang. Dalam penentuannarasumber diperlukan riset pendahuluan terlebih dahulu untuk mengetahui kapasitas dankompetensi para narasumber dalam menjawab permasalahan yang kami angkat.4) News Features “Koboy Melukis Pusaka Jawa” ini dibuat dengan menyasar targetaudience dengan kisaran umur 18-35 baik laki-laki maupun perempuan tanpa membedabedakankelas ekonomi maupun social. Dalam pembuatan News Features ini bahasa yangdigunakan bersifat formal dan informatif yang disesuaikan dengan karakteristik audience.Pemilihan bahasa tersebut diharapkan audience bisa memahami makna yang disampaikandalam News Features iniiDAFTAR PUSTAKABukuAyawaila, Gerzon R. (2008). Dokumenter dari Ide sampai Produksi. Jakarta : FFTV -IKJPRESSMuhammad, Djawahir. (2009). Semarang Sepanjang jalan kenangan, Semarang : PustakaSemarang 16Muhammad, Djawahir. (2011). Gambang Semarang Sebagai seni pernakan Cina, (belumditerbitkan)Morisson. (2008). Manajemen Media Penyiaran : Strategi Mengelola Radio dan Televisi.Jakarta : Kencana.Wibowo, Fred. 1997. Dasar-Dasar Produksi Program Televisi. Jakarta : PT GramediaWidiasarana IndonesiaWidagdo, Bayu dan Gora Winastwan (2007). Bikin Film Indie itu Mudah. Yogyakarta : C.VAndi OffsetJurnalDhanang Respati Puguh, dkk, 1999. Penataan Kesenian Gambang Smearang sebagai Identitas BudayaSemarang. laporan Penelitian Hibah Bersaing Perguruan Tinggi. Tahun I Anggaran 1998/1999.Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Universitas Diponegoro.InternetBudiman, Amen. 1974. “Gambang Semarang”, dalam Suara Merdeka 9 Pebruari 1974Er Maya Nugroho, 2010. “Gambang Semarang Tak Lagi Gamang”, dalam Suara Merdeka.comhttp://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/layar/2010/12/08/723/Gambang-Semarang-Tak-Lagi-GamangJodhi Yudono, 2010. “Gambang Semarang yang Gamang” dalam Kompas.com.http://nasional.kompas.com/read/2010/09/18/06273414/iTimur Arif Riyadi, 3013. “Regenerasi Tak Boleh Mati”, dalam Jurnal Nasional, Sabtu, 5 Jan 2013, diunduh pada 27 april 2013, http://www.jurnas.com/halaman/12/2013-01-05/231037Timur Arif Riyadi, 3013. “Klangenan bersama Gambang Semarang”, dalam Jurnal Nasional, Sabtu, 5Jan 2013, di unduh pada 27 april 2013, http://www.jurnas.com/halaman/12/2013-01-05/231036http://www.tempo.co/read/news/2012/12/13/112447876/Kesenian-Gambang-Semarang-Kembali-Dimunculkan
Hubungan Antara Terpaan Tweet Iklan pada Akun Twitter @infotembalang dan Brand Awareness @CalzoneUp dengan Minat Beli Masyarakat Sofi Kumala Fatma; Tandiyo Pradekso; Djoko Setiabudi
Interaksi Online Vol 2, No 1: Januari 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (334.007 KB)

Abstract

NAMA : SOFI KUMALA FATMANIM : D2C009113JUDUL : HUBUNGAN ANTARA TERPAAN TWEET IKLAN PADAAKUN TWITTER @INFOTEMBALANG DAN BRANDAWARENESS @CALZONEUP DENGAN MINAT BELIMASYARAKATABSTRAKPemanfaatan media sosial khususnya Twitter saat ini bukan hanya sebagai saranaberkomunikasi, melainkan juga sebagai media untuk keperluan pemasaran.@infotembalang di sini merupakan salah satu dari sekian banyak akun Twitteryang banyak dilirik brand lokal, yang digunakan untuk menawarkan produkmereka. Salah satu brand lokal yang menggunakan jasa @infotembalang yaitu@CalzoneUp. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan tweetiklan pada akun Twitter @infotembalang dan brand awareness @CalzoneUpdengan minat beli masyarakat.Adapun variabel yang diteliti adalah terpaan tweet iklan sebagai variabelindependen (X), brand awareness sebagai variabel intervening (Z) dan minat belisebagai variabel dependen (Y). Teori yang digunakan dalam penelitian ini yaituTeori Advertising Exposure dan Hierarchy of Effect Model. Penelitian inimenggunakan metode kuantitatif dengan jenis penelitian eksplanatif(eksplanatory), dimana data yang digunakan adalah data primer dan sekunder.Data primer diperoleh melalui survei dengan menggunakan kuesioner yangdisebarkan kepada 100 responden dengan teknik random sampling. Untukmenjawab permasalahan yang terdapat dalam perumusan masalah, penelitian inimenggunakan Uji Korelasi Rank Kendall sebagai teknik analisis data.Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa banyak responden mendapatterpaan rendah dan tidak mengetahui tentang brand @CalzoneUp. Kurangnyapemanfaatan “jam publik” diduga menjadi penyebab mengapa respondenmendapat terpaan rendah dan tidak mengetahui tentang brand. Meskipundemikian, responden memiliki minat beli yang tinggi terhadap brand. Hal inididuga dipengaruhi oleh faktor lain di luar terpaan tweet iklan yang tidak dapatdijelaskan dalam penelitian ini. Hasil uji korelasi menunjukkan bahwa terdapathubungan yang positif antara terpaan tweet iklan dengan brand awareness. Begitupula dengan hubungan antara brand awareness dengan minat beli, terdapathubungan yang positif. Sehingga dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi terpaantweet iklan maka brand awareness akan semakin tinggi, dan semakin tinggi brandawareness maka minat beli pun akan semakin tinggi.Kata kunci: twitter, media sosial, terpaan tweet iklan, brand awareness, minatbeli.NAMA : SOFI KUMALA FATMANIM : D2C009113JUDUL : THE CORRELATIONS BETWEEN ADVERTISINGTWEET EXPOSURE ON @INFOTEMBALANG TWITTERACCOUNT AND @CALZONEUP’S BRAND AWARENESSWITH PUBLIC BUYING INTERESTABSTRACTThe use of social media especially Twitter today is not only for communication,but it is also used as a medium for marketing purposes. @infotembalang is one ofmany Twitter accounts that local brand ogled as a medium that can be used tooffer their products. One of those local brands is @CalzoneUp. The purposes ofthis study are to determine the correlations between advertising tweet exposure on@infotembalang Twitter account and @CalzoneUp’s brand awareness with publicbuying interest.The variables are advertising tweet exposure as an independent variable (X),brand awareness as intervening variable (Z), and buying interest as the dependentvariable (Y). The theories used in this study are Advertising Exposure Theory andHierarchy of Effect Model. This study uses quantitative method with explanatoryresearch, that uses primary and secondary data. Primary data is obtained by asurvey using questionnaire that is distributed to 100 respondents by probabilityrandom sampling. To answer the issues contained in the statement of the problemin this study, it uses Rank Kendall Correlations as data analysis technique.Based on this research, it is known that many respondents received lowexposure and did not know about the brand of @CalzoneUp. The lack of the useof "public hours" is suspected to be the cause why the respondent gets lowexposure and do not know about the brand. Nonetheless, respondents have highbuying interest towards the brand. They presume it is influenced by other factorsoutside advertising tweets exposure that can not be explained in this study. Theresults of correlation test showed that there is a positive relationship betweenadvertising tweets exposure with brand awareness. Similarly, the relationshipbetween brand awareness with buying interest, a positive relationship exists. Itcan be concluded that the higher of advertising tweet exposure, the brandawareness will be higher, and the higher the brand awareness, then buying interestwill be higher.Keywords: twitter, social media, advertising tweet exposure, brand awareness,buying interestPENDAHULUANSosial media merupakan media online yang awalnya berfungsi untukmembuat penggunanya dapat saling berbagi informasi. Di ranah media baru,terdapat beberapa situs social media yang kontennya diciptakan dandidistribusikan melalui interaksi sosial. Sosial media bisa diterjemahkan menjadikomunikasi dari banyak orang ke banyak orang sejak penggunanya jugamerupakan sumber konten informasi (Straubhaar, LaRose, Davenport, 2012: 20).Seiring berjalannya waktu, sosial media juga turut serta berperan dalampemasaran produk. Sosial media yang saat ini sedang banyak digunakan untukaktivitas pemasaran yaitu twitter. Berdasarkan data pada Tahun 2012 lalu(http://semiocast.com/publications/2012_07_30_Twitter_reaches_half_a_billion_accounts_140m_in_the_US), Indonesia menjadi negara ke-5 dengan jumalahpengguna twitter terbanyak, di bawah US, Brazil, Jepang, dan Inggris.Melihat keadaan tersebut tentunya Twitter menjadi sosial media yangpotensial untuk mengembangkan pemasaran produk. Di Indonesia, beberapabrand besar yang telah menggunakan Twitter sebagai salah satu media promosiyaitu Nutrisari (@NutrisariID), Acer (@acerID), dan XL (@XL123). Tak hanyabrand besar, bahkan usaha yang baru berkembang pun dapat menjadi besar karenakeberadaan Twitter, seperti yang terjadi pada bisnis camilan keripik pedas, Maicih(@infomaicih). Meskipun telah menggunakan twitter sebagai media promosi dankomunikasi kepada konsumen, beberapa brand juga menggunakan fasilitas tweetberbayar menggunakan akun-akun yang dianggap sebagi influencer atau buzzer.Tweet berbayar atau dalam bahasa Inggrisnya disebut dengan paid to tweetmerupakan suatu istilah bagi tweet yang mengandung konten promosi suatu merektertentu.Salah satu akun twitter yang menjadi influencer di Semarang yaitu@infotembalang. Akun ini memiliki followers 15.655 (17 Juli 2013), memilikifokus untuk menyebarkan informasi yang secara khusus berkaitan dengan daerahTembalang serta secara umum berkaitan dengan Kota Semarang. Selain memilikiakun di twitter, @infotembalang juga hadir dalam bentuk web yaituwww.infotembalang.co serta majalah yang terbit setiap bulan dan dibagikansecara gratis. Informasi yang disebarkan oleh @infotembalang yaitu mulai darilalu lintas, event, cuaca, hingga pertanyaan-pertanyaan acak dari followers-nyayang ada di sekitaran Tembalang.Lokasi Tembalang yang dikenal sebagai kawasan kampus membuatsekitaran Tembalang banyak muncul usaha-usaha baru yang sedang berkembang.Hal inilah yang kemudian juga dimanfaatkan oleh @infotembalang. Melalui akuntwitternya, @infotembalang, menginformasikan kepada followers-nya tentangtempat-tempat yang ada di Tembalang, di antaranya cafe, boutique, counterhandphone, bahkan hingga berbagai info kos, kotrakan, dan lowongan kerja yangada di Tembalang.Setiap harinya @infotembalang memberikan tweet promo/iklan untuksekitar 2-3 produk. Tweet ini menyangkut tentang menu, lokasi produk, sertapromo-promo terbaru yang diberikan oleh produk tersebut. Tentunya terpaantweet promo melalui akun @infotembalang akan berhubungan pada pengetahuanfollowers-nya terhadap produk yang diiklankan. Pengetahuan ini mencakup dalambrand awareness yaitu kesanggupan seorang calon pembeli untuk mengenali ataumengingat kembali bahwa suatu merek merupakan bagian dari kategori produktertentu (Rangkuti, 2004:39). Brand awareness merupakan bentuk palingsederhana dari pengetahuan akan suatu merek yang merupakan kesadarankonsumen akan suatu merk. kemampuan ini menyangkut bagaimana dariseseorang yang merupakan calon pembeli (potential buyer) untuk mengenali(recognize) suatu merek merupakan bagian dari suatu kategori produk. Brandawareness merupakan ukuran eksistensi merek dibenak pelanggan yangmencakup brand recognition (merek yang pernah diketahui pelanggan, brandrecall (merk yang diingat pelanggan untuk suatu kategori produk tertentu), top ofmind (merk pertama yang disebut pelanggan terhadap suatu kategori produktertentu, hingga dominant brand (satu-satunya merk yang diingat pelanggan)(Aaker, 1991:61).Sebagai kawasan kampus yang padat dengan mahasiswa, usaha rumahmakan menjadi usaha yang dominan di Tembalang. Segala menu tersedia, mulaidari menu Indonesia, oriental, hingga menu western. Melihat banyaknya usahatempat makan, tentunya penting bagi pengusaha untuk meningkatkan pengetahuanpelanggannya tentang produknya. Brand awareness yang tinggi akan berpengaruhkepada minat beli bahkan kepada pembelian karena pembeli cenderung akanmembeli produk dengan merk yang telah dikenalnya (Durianto, Sugiarto, &Sitinjak, 2004: 54).Adanya terpaan tweet iklan melalui @infotembalang ditambah denganbrand awareness yang dimiliki seseorang, tentunya akan mengarah padapembelian. Sebelum proses pembelian ini terlaksana, terlebih dulu timbulkeinginan dari dalam diri seseorang untuk membeli suatu produk yang disebutdengan minat beli. Minat beli adalah keinginan seseorang untuk membeli terhadapsuatu produk timbul karena adanya dasar kepercayaan terhadap produk yangdiiringi dengan kemampuan untuk membeli produk. Selain itu, minat beliterhadap suatu produk juga dapat terjadi dengan adanya pengaruh dari orang lainyang dipercaya oleh calon konsumen. Minat beli juga dapat timbul apabilaseorang konsumen merasa sangat tertarik terhadap berbagai informasi seputarproduk yang diperoleh melalui iklan, pengalaman orang yang telahmenggunakannya, dan kebutuhan yang mendesak terhadap suatu produk(Simamora, 2001:106).Penelitian ini menggunakan teori Advertising Exposure (Aaker, Batra &Myers, 1996:48), dimana apabila audiens terkena terpaan iklan maka akanmenciptakan perasaan dan sikap tertentu terhadap merek yang kemudianmenggerakkannya untuk membeli produk. Teori ini menunjukkan proses yangterjadi setelah konsumen mengalami terpaan iklan. Proses yang terjadi adalahpertama, terpaan iklan akan menciptakan brand awareness dalam benak audiensyang membuat konsumen merasa familiar. Kedua, audiens akan mendapatkaninformasi mengenai keuntungan, sifat atau atribut dari merk. Ketiga, melaluipenggunaan berbagai eksekusi, iklan dapat menciptakan image terhadap merek,yang disebut brand personality. Keempat, iklan akan menghasilkan perasaankepada audiens untuk mengasosiakan sesuatu terhadap merk (brand asosiation).Kelima, iklan dapat menciptakan kesan bahwa merek disukai oleh reference groupaudiens. Kelima proses ini dapat menciptakan perasaan sesuatu atau sikapterhadap brand yang menggerakkan konsumen untuk membeli produk. Namuntidak berarti kelima tahapan harus terpenuhi terlebih dahulu hingga akhirnyatimbul minat beli atau pembelian. Artinya audiens bisa mempunyai minat beliatau melakukan pembelian hanya dengan melewati tahapan pertama saja tanpaharus berlanjut ke tahap selanjutnya.Teori Advertising Exposure ini didukung dengan Model Hierarchy OfEffect (Belch and Belch, 2007:157) yang menyatakan bahwa terdapat beberapatahapan mental pada konsumen setelah terkena terpaan iklan suatu produk,sampai pada saat ia memutuskan untuk membeli produk tersebut. Hierarchy ofeffect model menjelaskan bagaimana cara kerja iklan. Dengan mengasumsikanbahwa konsumen melewati serangkaian langkah secara berurutan dari kesadaranawal dari suatu produk atau jasa dalam proses pembelian. Sebuah premis dasarmodel ini adalah bahwa efek iklan terjadi selama periode tertentu. Iklan tidakdapat mempengaruhi pembelian secara langsung melainkan melalui serangkaianefek yang harus terjadi terlebih dahulu. Setiap tahapan harus dipenuhi sebelumkonsumen dapat berpindah pada tahapan berikutnya dalam hirarki (Belch &Belch, 2007:156).Tipe penelitian ini adalah tipe penelitian eksplanatif dengan metode survey,dimana metode ini berusaha untuk mengevaluasi hubungan dua atau lebihvariabel. Populasi yang digunakan yaitu followers dari akun @infotembalang.Sedangkan sampel yang digunakan adalah random sampling, menggunkan tekniksimple random sample, dan dengan menggunakan rumus slovin dengan tingkatkesalahan sebesar 10%, jumlah sampel sebesar 100 responden. Validitasdilakukan dengan mengkonsulkan teori yang digunakan dan instrumen kepadapara ahli, jika menggunakan spss dapat melalui correlated item – totalcorrelation, sedangkan untuk reabilitas menggunakan uji coba kepada 30responden dan menggunakan uji crocobanch alfa. Teknik analisis datamenggunakan Koefisien Korelasi Rank Kendall. Pertama yaitu menguji tingkathubungan antara terpaan tweet iklan (X) dengan brand awareness. Selanjutnyayaitu menguji tingkat hubungan antara brand awareness dengan minat beli.ISIPada terpaan tweet iklan diukur dengan menggunakan frekuensi danpengetahun audiens terhadap tweet tentang @CalzoneUp yang dilakukan oleh@infotembalang. Audiens yang sungguh-sungguh tentunya memberikan perhatianyang lebih besar, selain itu auidens juga memberikan pemikiran dan perasaanyang lebih seksama terhadap isi pesan sehingga memungkinkan pengaruh terpaanlebih mendalam sedangkan orang yang menonton dengan frekuensi yang lebihtinggi tetapi tidak memiliki kesungguhan tentu saja akan memberi pengaruh yangberbeda pula.Temuan di lapangan, hanya 5% responden yang mendapat terpaan tinggi.Ditambah lagi dengan intensitas responden dalam mengakses twitter yangtergolong rendah, yaitu paling banyak responden hanya 1 – 3 jam setiap harinya.Sedangkan @infotembalang sendiri melakukan tweet selama lebih dari 10 jamsetiap hari. Tentu saja hal ini dapat menjadi penyebab utama mengapa banyakresponden yang tidak melihat tweet tentang @CalzoneUp di akun@infotembalang. Jam tayang tweet iklan tentang @CalzoneUp juga turut berperankarena meskipun tayang pada sekitar jam makan siang, belum tentu pada waktutersebut banyak followers @infotembalang yang melihat tweet iklan tersebut.Kelebihan Twitter sebagai media sosial yang real time justru menjadi kelemahankarena timeline yang cepat bergerak (berubah) sehingga membuat tweet dari@infotembalang “tertumpuk” oleh puluhan atau bahkan ratusan tweet dari akunlain.Sebagai brand baru, tujuan utama @CalzoneUp beriklan di @infotembalangadalah untuk meningkatkan brand awareness di kalangan calon konsumennya.Namun sayangnya upaya @CalzoneUp untuk meningkatkan brand awareness-nyabelum dapat terwujud. Karena berdasarkan penelitian ini hanya 13% dari 100responden yang memiliki brand awareness tinggi terhadap @CalzoneUp. Dimana responden menyebutkan @CalzoneUp sebagai kedai makan yangmenyediakan menu western nomor satu yang ada dalam benak mereka. Tentunyabrand awareness yang rendah terhadap @CalzoneUp dapat dipengaruhi olehbanyak hal. Salah satunya yaitu karena sedikit responden yang mendapat terpaanyang tinggi tentang @CalzoneUp. Persaingan yang ketat dengan beberapa brandyang telah lebih dulu ada juga turut mempengaruhi rendahnya brand awareness@CalzoneUp. Keunikan menunya, calzone, belum cukup memberikan pengaruhpada brand awareness @CalzoneUp.Pada penelitian yang dilakukan oleh Carol Chapman ( Brand Awareness:It’s All A Twitter, 2012) (Bab I hal 12) membahas bagaimana meningkatkanbrand awareness melalui Twitter, salah satu langkahnya yaitu dengan melihat jam“publik” (waktu aktif followers). Hal ini yang nampaknya belum dilakukan secaraoptimal oleh @infotembalang ketika mempromokan @CalzoneUp. Sehinggahanya sedikit followers yang pada akhirnya melihat tweet tentang @CalzoneUpdan brand awareness yang besar pun belum tercapai.Meskipun demikian, terdapat hubungan yang positif di antara keduanya.Sehingga semakin tinggi terpaan tweet iklan pada @infotembalang akan semakinbesar pula brand awareness @CalzoneUp. Di mana berdasarkan pada TeoriAdvertising Exposure (Bab 1, hal 18) brand awareness merupakan hal yangpertama kali ditimbulkan oleh terpaan iklan. Sehingga sudah seharusnya jikaterpaan tweet iklan mempunyai hubungan yang positif dengan brand awareness.Tanpa hubungan yang positif, terpaan iklan tidak akan dapat menggerakkanaudiens untuk membeli produk (sebagai dampak akhir dari terpaan iklan).Hubungan yang positif juga ditujukkan oleh brand awareness dengan minatbeli. Meskipun memiliki terpaan dan brand awareness yang rendah, respondenjustru memiliki minat beli yang tinggi pada @CalzoneUp. Ada banyakkemungkinan mengapa minat beli tinggi padahal terpaan dan brand awarenessnyarendah. Pengaruh dari teman atau lingkungan sekitar yang telah lebih dahulumengetahui @CalzoneUp dapat menjadi salah satu penyebab mengapa minat belipada @CalzoneUp tinggi. Faktor word of mouth (WOM) juga dapat menjadifaktor mengapa hal tersebut bisa terjadi.Minat beli yang tinggi juga dapat dipengaruhi oleh keinginan respondenuntuk mencoba kedai makan baru yang menyediakan menu western. Apalagi@CalzoneUp merupakan brand yang tidak menyediakan produk mewah yangmembutuhkan pemikiaran mendalam untuk sekedar mencoba membelinya.Meskipun demikian, perlu ditegaskan kembali bahwa minat beli hanya untukmeramalkan tentang pembelian, bukan besarnya pembelian yang terjadi. Sehinggawalaupun memiliki minat beli yang tinggi, belum tentu pembelian juga akantinggi. Bisa saja proses yang menuju ke pembelian terhenti hanya pada minat saja.Dengan melihat hubungan yang positif antara brand awareness dan minatbeli, maka penelitian ini dapat membuktikan Hierarchy of Effect Model (Bab 1,hal 19). Di mana setelah konsumen aware terhadap brand atau mengalami brandawareness maka akan timbul rasa suka yang memicu seseorang untuk mencaritahu lebih dalam tentang suatu merk atau menimbulkan minat beli dalam dirikonsumen. Apabila tidak terjadi hubungan yang positif pada hubungan duavariabel tersebut, maka dapat dipastikan tahapan yang terjadi dalam benakkonsumen setelah melihat terpaan iklan belum terpenuhi secara sempurna. Karenateori ini menjelaskan bahwa terdapat serangkaian efek yang muncul secarabertahap setelah seseorang melihat iklan, di mana setiap tahapan harus terpenuhisebelum seseorang berpindah pada tahapan selanjutnya.PENUTUPKesimpulan dari hasil pembagian kuesioner yang dilakukan didapatkan hasilsebagai berikut:1. Berdasarkan uji korelasi, terdapat hubungan yang positif pada terpaan tweetiklan dengan brand awareness. Maka semakin tinggi terpaan tweet iklan,brand awareness pun akan semakin tinggi.2. Pada uji korelasi untuk variabel brand awareness dan minat beli juga terdapathubungan yang positif. Sehingga semakin tinggi brand awareness makasemakin tinggi pula minat beli.Sedangkan saran ditujukan kepada brand dan penelitian selanjutnya, berupa:1. Melihat banyaknya responden yang mendapat terpaan rendah dan tidak tahutentang @CalzoneUp, seharusnya @CalzoneUp dapat memanfaatkan timingiklan pada @infotembalang secara lebih efektif. Misalnya dengan memintapenayangan tweet iklan pada waktu aktif followers @infotembalang mengaksesTwitter, tidak hanya asal tweet tayang.2. Pada penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan minat beli @CalzoneUp,hendaknya dapat dilakukan dengan melihat faktor – faktor lain yangberhubungan, pada terpaan tweet iklan dan brand awareness, misalnya faktorlingkungan, demografis responden, word of mouth, dll. Di samping itu,penelitian juga dapat dilakukan dengan menggunakan teknik pengembilansampel yang berbeda.DAFTAR PUSTAKABukuAaker, David A. (1991). Managing Brand Equity. New York: The Free Press.Aaker, David A., Rajeev Batra, & John G. Myers. (1996). AdvertisingManagement (4th Ed). New Delhi: Prentice Hall.Belch, G.E., & M.A. Belch. (2007). Advertising and Promotion: An IntegratedMarketing Communications Perspective (8th Ed.). New York, United Statesof America: McGraw-Hill.Dell, Hawkins, Roger J. Best & Kenneth A. Coney. (2000). Consumer BehaviorBuilding Marketing Strategi (8th Ed.). New Jersey: McGraw-Hill.Durianto, Darmadi, Sugiarto, Tony Sitinjak. (2004). Strategi MengakhlukanPasar: Melalui Riset Ekuitas dan Perilaku Konsumen. Jakarta: Gramedia.Handayani, Desy, dkk. (2010). Brand Operation. Jakarta: Esensi.Horton, Raymond L. (1984). Buying Behavior a Decision Making Approach.Ohio: Charles E Merril Publishing Company.Howard, John A. (1994). Buyer Behavior in Markting Strategy. New Jersey:Prentice Hall.Jefkins, Frank. (1996). Periklanan. Jakarta: Erlangga.Kasali, Rhenald. (2007). Menajemen Periklanan Konsep dan Aplikasinya. Jakarta:Pustaka Utama Grafiti.Keller, Kevin Lane. (2003). Strategic Brand Management: Building, Measuring,And Managing Brand Equity (2nd Ed.). New Jersey: Pearson Prentice Hal.Kotler, P. & K.L. Keller. (2007). Manajemen Pemasaran (12th Ed. Jilid 2).Jakarta: PT. Indeks.Rangkuti, Freddy. (2004). The Power of Brands. Jakarta: PT Gramedia pustakautama.Rossiter, John R. dan Larry Percy. (1997). Advertising and PromotionManagement. New York: McGraw-Hill.Schiffman, Leon G., Leslie Lazar Kanuk. (2004). Consumer Behavior (8th Ed.).New Jersey: Prentice Hall.Shimp. (2003). Periklanan Promosi Aspek Tambahan Komunikasi Terpadu.Jakarta: Erlangga.Simamora, Bilson. (2001). Panduan Riset Perilaku Konsumen. Jakarta: GramediaPustaka Utama.Singarimbun, Masri & Sofian Effendi. (1995). Metode Penelitian dan Survey.Jakarta: LP3ES.Staubhaar, Joseph, Robert LaRose & Lucida Davenport. (2012). Media Now:Understanding Media, Culture, and Technology (7th Ed.). MA: WadsworthCengage Learning.Sugiyono. (2006). Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif. Bandung:Alfabeta.Sugiyono. (2007). Statistika untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta.Wells, William, John Burnet, Sandra Moriarty. (2000). Advertising Principles andPractice. New Jersey: Prentice-Hall International, Inc.Websitehttp://id.wikipedia.org/wiki/Twitterhttp://semiocast.com/publications/2012_07_30_Twitter_reaches_half_a_billion_accounts_140m_in_the_UShttps://twitter.com/infotembalangJurnalAdil, Athira Setira. 2012. Skripsi: Pengaruh Tweet Iklan Melalui Akun Twitter@Infobdg Terhadap Minat Beli Masyarakat Kota Bandung Tahun 2012.Institut Manajemen Telkom.Chapman, Carol. 2012. Brand Awareness: It’s All a ‘Twitter’. The BrandAscension GroupErdogmus, Irem Eren, & Mesut Cicek. 2012. The Impact of Social MediaMarketing on Brand Loyalty. Yaiova UniversityLi, Yung-Ming &, Ya-Lin Shiu. 2010. A Diffusion Mechanism for SocialAdvertising Over Microblogs. National Chiao Tung UniversityMackenzie, Josiah. (2011). A Hotel’s Guide to Twitter. @ReviewPro
KOMUNIKASI STRATEGIS JOKOWI DALAM PEMILUKADA DKI JAKARTA 2012 Rizky Amalya Hadiningtyas; Tandiyo Pradekso; Djoko Setiabudi
Interaksi Online Vol 2, No 1: Januari 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (169.098 KB)

Abstract

KOMUNIKASI STRATEGIS JOKOWI DALAM PEMILUKADA DKI JAKARTA 2012AbstrakKondisi masyarakat yang dinamis dan semakin kritis dengan perkembangan politik membawa dampak perubahan cara atau pola yang biasanya dilakukan oleh partai politik untuk memenangkan perhatian masyarakat sebagai pendukung partai. Untuk itu, institusi politik membutuhkan metode dan konsep baru sebagai sarana pendekatan alternatif guna membangun hubungan yang lebih efektif dengan konstituen kandidat, konstituen partai lain, dan masyarakat non partisan yang menjadi target audiens kontestan, yakni marketing politik. Tim kampanye Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama adalah tim pemenang yang menggunakan konsep dan metode dalam marketing politik Newman untuk mencapai tujuan komunikasi dengan kemenangannya dalam pertarungan politik pada Pemilukada DKI Jakarta 2012 yang berlangsung dua putaran.Berawal dari situlah maka, penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan secara komprehensif pelaksanaan komunikasi strategis dalam konteks politik pada kampanye Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama dalam memenangkan pemilihan umum kepala daerah secara langsung di wilayah DKI Jakarta tahun 2012. Konsep dasar yang digunakan untuk menganalisis data adalah Marketing Politik (Firmanzah) dan Handbook of Political Marketing (Newman). Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah deskriptif kualitatif dengan menggunakan pendekatan studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, dokumentasi, rekaman arsip, dan perangkat fisik.Tim kampanye Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama sangat memerhatikan elemen strategi pemasaran dalam marketing politik terutama segmentasi pemilih karena ketepatan pembagian pasar pemilih, berperan besar dalam ketepatan penyampaian pesan politik dan pembentukan image politik kandidat dalam menciptakan, membentuk dan memperkuat persepsi target pemilih kontestan untuk memenangkan pertarungan politik yang ketat dengan menggunakan bauran komunikasi pemasaran yang efektif dan efisien pada target pemilih.Kata kunci: strategi pemasaran, bauran pemasaran, persepsiTHE STRATEGIC COMMUNICATION OF JOKOWI IN PEMILUKADA DKI JAKARTA 2012AbstractThe condition of society, nowadays, become more dynamic and more critical in the political development. It is make a changes for the impact of the way or the pattern, that is usually use by the political party to win attention of the society as a supporter of the party. For that, the political institutions need a new methods and concepts as a means of alternative approaches to build more effective relationship with constituents candidate, contituents other party, and non partisan as a public target audience, it is called a political marketing. The campaign team of Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama used concepts and methods in Newman’s political marketing to achieve their communication goals with his victory in the Pemilukada DKI Jakarta 2012 which held two rounds.This research aims to describe implementation of strategic communication of Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama to win in Pemilukada DKI Jakarta 2102. The basic concepts which used to analyze the data is the Political Marketing by Firmanzah and the Handbook of Political Marketing by Newman. The research method is descriptive qualitative research with the case study approach. The data was collected through in depth interviews, documentation, archival footage, and physical tools.Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama’s campaign team is very concerned about the marketing strategy especially segmentation. Because the accuracy of segmentation voters market, played a major role in accuracy of political message and image of political candidate for creating, shaping and strengthening the perception of the target audiences to win the election used marketing communication mix for more effective and more efficient.Keywords: marketing strategic, marketing mix, perceptionPENDAHULUANPerubahan pemilihan kepala daerah dari dipilih oleh DPRD secara bersamaan menjadi dipilih langsung oleh rakyat membawa situasi politik terutama di tataran lokal (daerah) menjadi semakin dinamis. Pemilukada secara langsung yang menjadi bagian integral dari akselarasi demokratisasi di tingkat nasional dinilai dapat mengakomodasi sistem seleksi terpadu yang saling melengkapi untuk melahirkan kepala daerah terpilih yang berkualitas, mulai dari seleksi sistem kenegaraan, partai politik, administratif, hukum administratif sampai seleksi politis.Di sisi lain, sistem multipartai menjadikan kompetisi antar kandidat di daerah semakin tinggi dalam era globalisasi dengan kondisi masyarakat yang semakin kritis terhadap perkembangan politik Indonesia. Untuk itu, politisi yang ikut serta dalam persaingan politik yang ketat tidak hanya semata – mata menonjolkan kemampuan kandidat atau kapasitas organisasional dari politisi tetapi juga membutuhkan dukungan dan jaringan dari pihak lain. Kondisi ini menuntut politisi untuk menerapkan cara – cara yang lebih tepat dan relevan dengan melakukan pendekatan yang lebih persuasif dalam berkampanye untuk memenangkan persaingan politik.Marketing politik yang merupakan komunikasi strategis dalam kajian komunikasi politik ialah perencanaan yang matang dalam menggunakan elemen – elemen yang terkandung pada strategi pemasaran dan bauran pemasaran sehingga dapat menghasilkan sebuah komunikasi yang efektif dan efisien. Keberhasilan marketing politik dalam berkomunikasi akan menciptakan dampak yang lebih tinggi kadarnya dibanding dengan komunikasi informatif, meliputi dampak kognitif, dampak afektif, dan dampak behavioral.Sebagaimana dengan komunikasi strategis yang berperan membujuk, menggerakkan, dan meyakinkan target audiens dalam mencapai tujuan, metode dan konsep dalam marketing politik juga memiliki peran membantu partai politik dan kandidat membangun hubungan dua arah yang efisien dan efektif dengan masyarakat agar menjadi lebih baik dalam mengenal masyarakat terutama yang menjadi target audiens sehingga dalam pengembangan program kerja partai sesuai dengan keinginan dan kebutuhan masyarakat.Terdapat fenomena menarik di antara Pemilukada yang terjadi sepanjang tahun 2012, yakni Pemilukada DKI Jakarta 2012 yang diikuti oleh enam pasangan calon Gubernur dan calon Wakil Gubernur, dimana Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama adalah Gubernur – Wakil Gubernur DKI Jakarta terpilih dengan masa jabatan 2012 – 2017 menjadi bukti bahwa penggunaan metode kampanye yang tepat, relevan, dan sesuai dengan kondisi masyarakat sekarang ini akan menentukan kalah – menang kontestan pemilihan umum.Marketing politik yang digunakan tim kampanye Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama dalam menghadapi Pemilukada DKI Jakarta 2012 sesuai dengan konsep marketing politik yang disampaikan oleh Newman (1999: 8) bahwa terdapat enam langkah, meliputi: (1) environmental research; (2) internal & external assessment analysis; (3) strategic marketing; (4) goal setting & campaign strategy; (5) communication, distribution, and organization plan; (6) key markets & outcomes.Keberhasilan marketing politik yang diterapkan tim kampanye dalam berkomunikasi dengan masyarakat Jakarta terutama yang menjadi target audiens mampu menciptakan dampak behavioral. Salah satunya adalah menggiring Addie MS, seorang konduktor ternama di Indonesia, menjadi salah seorang simpatisan Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama melalui kicauan tweet-nya yang menjadi virus liar positif dengan pengaruh yang sangat kuat dalam perang media sosial antara kubu Fauzi Bowo dengan kubu Joko Widodo, antara lain terkait slogan Fokoke Jokowi dan hastag JOKOWINNERS (Leinad, 2012).Partisipasi yang tinggi dari masyarakat Jakarta dalam keikutsertaan kegiataan pengadaan baju kotak – kotak yang menjadi ikon Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama hingga mampu berubah menjadi trend di semua kalangan masyarakat Jakarta yang menghiasi di setiap sudut jalan di wilayah DKI Jakarta (Rizal, 2012). Adapula eksposure yang tinggi dari media massa terkait pemberitaan aktivitas komunikasi Joko Widodo. Pasalnya Joko Widodo menjadi sosok media darling bagi media massa nasional karena kampanye yang menarik dari kandidat sehingga membuat audiens mencari – cari berita tentang kandidat. Untuk itu, semua pemberitaan mengenai kandidat adalah pemberitaan dengan nilai berita yang tinggi bagi media (Saut, 2012).PEMBAHASANMarketing politik merupakan sebuah perencanaan dan pelaksanaan kampanye untuk mengatasi isu tertentu yang akan menghasilkan suatu rencana komunikasi yang saling terkait satu sama lain. Rencana komunikasi tersebut dalam wujud strategi komunikasi yang dibuat secara hati – hati berdasarkan tujuan yang dikembangkan disertai dengan sasaran audiens yang spesifik, kebutuhan akan informasi yang telah diidentifikasi secara cermat dan ketat, dan penggabungan secara optimal strategi pemasaran dan komunikasi pemasaran yang dibuat dengan biaya yang efektif dan efisien dengan hasil yang diinginkan.Tim kampanye Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama merupakan tim pemenang yang menggunakan konsep dan metode dalam marketing politik Newman untuk mencapai tujuan komunikasi dengan kemenangannya pada Pemilukada DKI Jakarta 2012 yang berlangsung dua putaran. Melalui berbagai langkah strategis dalam marketing politik, timkampanye sangat memerhatikan elemen strategi pemasaran dalam marketing politik terutama segmentasi pemilih karena ketepatan pembagian pasar pemilih, berperan besar dalam ketepatan penyampaian pesan dan pembentukan image politik dalam menciptakan, membentuk, dan memperkuat persepsi publik atas kelayakan Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama memimpin Jakarta, yang didukung dengan penggunaan bauran komunikasi pemasaran yang efektif dan efisien.Tentu saja, sebelum menerapkan metode dan konsep strategi pemasaran dan bauran pemasaran dalam marketing politik, tim kampanye telah lebih dulu mengenal publik terutama target audiens baik secara internal maupun eksternal melalui riset pasar dan analisis situasi. Hasil riset pasar melalui kunjungan langsung tersebut, memberikan pertimbangan bagi tim dan kandidat sebagai aktivitas monitoring pencarian dan pengumpulan informasi atas perkembangan isu – isu dalam opini publik salah satunya terkait kandidat yang diajukan dalam pemilihan yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan masyarakat atas figur pemimpin yang mampu membawa perubahan kota dan kehidupan masyarakat khususnya keadaan ekonomi. Selain itu, riset pasar juga berperan membantu tim untuk memahami masyarakat dalam identifikasi kondisi heterogenitas masyarakat Jakarta. Kemudian berdasarkan identifikasi masyarakat dalam riset pasar tersebut, tim melakukan segmentasi pasar pemilih pada masyarakat Jakarta guna mengidentifikasi khalayak mana yang sanggup dilayani dan menguntungkan bagi kandidat dalam memperoleh dukungan suara saat pemilihan umum. Tim melakukan pembagian pasar berdasarkan pengembangan pendekatan etnis Jawa, etnis China, dan non muslim pada konstituen kandidat, konstituen partai lain, dan non partisan. Berdasarkan segmen pemilih tersebut, kemudian tim melakukan pembidikan dan pemilihan pada masing – masing wilayah yang meliputi wilayah Jakarta Barat, Jakarta Timur, Jakarta Pusat, Jakarta Utara, dan Jakarta Selatan.Pemilih dibanjiri oleh informasi politik dalam jumlah besar dan beragam yang berasal dari masing – masing kandidat pada Pemilukada DKI Jakarta 2012. Kondisi tersebut menyulitkan pemilih untuk memilah – milah informasi guna membuat keputusan perilaku pemilih saat pemilihan umum karena adanya kesamaan pada masing – masing informasi politik dari kandidat. Untuk itu, tim kampanye Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama melakukan upaya untuk memposisikan kandidat pada tempat yang jelas, berbeda, dan diinginkan dalam benak pemilih dibandingkan dengan tempat kandidat lain. Tim kampanye melakukan upaya memposisikan kandidat yang memberikan keunggulan paling besar dalam benak pemilih dengan menempatkan image politik kandidat dan produk politik yang sesuai dengan masing – masing kelompok masyarakat yang telah ditetapkan sebagai target audienskandidat. Tim yang memiliki tujuan komunikasi strategis, yakni mengubah opini publik menjadi persepsi publik atas kelayakan kandidat memimpin Jakarta, melakukan upaya positioning pada segmen kelompok masyarakat konstituen kandidat melalui image politik bahwa Joko Widodo adalah sosok pemimpin yang menjunjung tinggi empat pilar kebangsaan yang menjamin keberagaman dan sosok pemimpin yang jujur dan amanah dalam kepemimpinannya. Untuk memperkuat persepsi dalam pembentukan image politik tersebut, tim mewujudkannya dalam dua tahapan produk politik, yakni core product bahwa kelayakan kandidat tersebut karena kandidat memimpin Jakarta dengan menjamin keberagaman dalam kebersamaan pada heterogenitas masyarakat Jakarta dengan didukung actual product kandidat melalui hasil kinerja Joko Widodo selama menjabat sebagai wali kota Solo yang mendapat peringkat ketiga sebagai walikota terbaik tingkat internasional. Pembentukan image politik yang diperuntukkan segmen kelompok masyarakat konstituen kandidat yang berperan memperkuat persepsi yang diwujudkan dalam bentuk dua tahapan produk politik tersebut memiliki keterkaitan dengan past records kandidat yang terekam dalam benak pemilih (Nursal, 2004: 153).Tim kampanye juga membentuk image politik yang sama dengan konstituen kandidat pada konstituen partai lain dan non partisan sebagai langkah awal mengenalkan sosok kandidat dalam benak pemilih tersebut. Karena, kondisi kognitif dan afektif pada segmen kelompok masyarakat konstituen partai lain dan non partisan yang berbeda dengan konstituen kandidat maka tim perlu melakukan aktivitas positioning dengan membentuk image politik kandidat secara bertahap. Setelah konstituen partai lain dan non partisan berusaha mengenali sosok Joko Widodo melalui image politik sebelumnya, tim kembali membentuk image politik bahwa Joko Widodo adalah sosok pemimpin yang mewakilkan diri setiap individu dalam masyarakat Jakarta terutama individu yang tergolong konstituen partai lain dan non partisan. Pembentukan image politik ini diperkuat dengan karakter Joko Widodo sebagai pribadi yang sederhana, apa adanya, tulus, ikhlas, dan mengutamakan komunikasi yang humanis dalam berkomunikasi dengan siapa saja. Karakter tersebut dibangun dan ditunjukkan ketika kandidat melakukan kunjungan langsung ke pasar, kawasan tua/kawasan padat, cagar budaya maupun rumah penduduk yang telah ditetapkan sebagai tempat kampanye guna berinteraksi langsung dengan masyarakat untuk mengenal maupun hanya sekedar memperkenalkan diri Joko Widodo kepada basis pemilihnya. Kemudian, tim membentuk image politik selanjutnya bahwa Joko Widodo adalah sosok pemimpin pendengar dan dibutuhkan Jakarta saat itu. Terbentuknya image politik tersebut semakin memungkinkan konstituen partai lain dan nonpartisan mengenal kandidat yang memungkinkan pula terbentuknya persepsi publik atas kelayakan kandidat memimpin Jakarta dalam benak mereka.Positioning politik tidak akan dapat dilakukan tanpa adanya proses penciptaan dan komunikasi politik. Karenanya, ketepatan dan konsistensi yang jelas pada elemen branding, produk politik, dan pesan politik akan membantu tim dalam pembentukan identitas politik kandidat yang kuat dan jelas guna membentuk persepsi publik atas kelayakan Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama memimpin Jakarta dalam benak basis pemilih kandidat yang telah ditetapkan sebagai target audiens. Pesan politik bukan hanya sekedar jargon politik melainkan di dalamnya berisikan tujuan dan harapan yang diberikan kandidat sebagai daya tarik bagi basis pemilih. Dalam marketing politik, strategi pengelolaan dan perancangan pesan merupakan faktor yang perlu diperhatikan oleh tim kampanye dalam melakukan aktivitas branding dengan menonjolkan image politik kandidat sehingga menjadi pembeda dibanding pesaing. Image politik yang bagus di benak basis pemilih akan memberikan efek positif bagi pemilih guna memberikan prioritas keputusan perilaku politik mereka dengan memberikan dukungan suara pada kandidat saat pemilihan umum.Tim kampanye Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama membentuk dan menyampaikan konsistensi pesan politik, yaitu Jakarta membutuhkan perubahan yang dapat diwujudkan dengan Jakarta Bersih, Jakarta Bangkit, dan Jakarta Bersama menjadi Jakarta Baru bersama Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama. Untuk mempercepat dan memperkuat penyampaian pesan politik dalam benak basis pemilih, tim kemudian mewujudkannya dalam tiga produk politik. Core product berupa penjaminan hak masyarakat atas penyelesaian problema Jakarta dan penjaminan keberagaman dalam kebersamaan masyarakat Jakarta, didukung dengan actual product berupa sembilan unggulan dan enam puluh delapan ribu kegiatan pemerintah daerah (PemDa) DKI Jakarta serta augmented product berupa perwujudan perubahan Jakarta dengan Jakarta Bersih, Jakarta Bangkit, dan Jakarta Bersama menjadi Jakarta Baru bersama dengan Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama.Komunikator sebagai orang yang menyampaikan pesan politik juga memiliki peran dan ikut andil pada proses positioning dengan membentuk image politik dan produk politik yang sesuai dengan harapan pemilih. Faktor komunikator yang meliputi kredibilitas dan daya tarik komunikator yang diperoleh dengan adanya etos dan sikap komunikator sangat berperan dalam pembentukan image politik di benak basis pemilih (Effendy, 2007: 38-39). Karena, pemilih akan tertarik dengan suatu hal yang ditawarkan secara politik jika hal tersebut memiliki kedekatan ideologi dengan diri pemilih, yang kemudian dibangun oleh tim dengan merepresentasikan kedekatan ideologis pemilih pada diri Joko Widodo selaku komunikator.Terbentuknya persepsi publik atas kelayakan kandidat memimpin Jakarta di benak basis pemilih menciptakan daya tarik baru sendiri bagi basis pemilih terhadap aktivitas komunikasi tim atas penawaran solusi alternatif penyelesaian problema Jakarta. Daya tarik tersebut dibentuk dan diperkuat tim hingga mampu menciptakan komitmen dalam benak basis pemilih untuk mendukung dan memilih kandidat saat pemilihan umum. Pembentukan komitmen tersebut merupakan bentuk konsistensi image politik, pesan politik, dan produk politik kandidat sehingga mampu meminimalisasi bauran pemasaran price untuk berkomitmen memilih Joko Widodo saat pemilihan oleh basis pemilih, yang kemudian tim dapat meningkatkan manfaat yang diperoleh pemilih atas price tersebut dalam kegiatan pengadaan baju kotak – kotak. Hal ini karena kegiatan pengadaan baju kotak – kotak menciptakan wirausahawan dari masyarakat Jakarta kalangan menengah ke bawah yang ikut serta dan menamakan diri mereka sebagai relawan kandidat. Kegiatan pengadaan baju kotak – kotak semakin memperkuat persepsi publik atas kelayakan Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama memimpin Jakarta. Kelayakan tersebut salah satunya bahwa kandidat adalah pemimpin yang bisa dan mampu membawa perubahan Jakarta khususnya keadaan ekonomi masyarakat Jakarta terutama rakyat kecil sehingga semakin memperkuat terbentuknya bauran pemasaran price di benak pemilih, hingga mampu menciptakan arus besar masyarakat Jakarta akan solidaritasnya mendukung kandidat di setiap kawasan di DKI Jakarta, yang menamakan diri mereka sebagai relawan kandidat.Semua kegiatan yang dilakukan tim guna mengubah opini publik menjadi persepsi publik juga diperlukan perancangan kegiatan promosi dengan penetapan bauran komunikasi pemasaran yang dapat digunakan sebagai sarana untuk menyampaikan image politik, produk politik, dan pesan politik pada pemilih. Pemilihan media perlu dipertimbangkan karena tidak semua media tepat sebagai sarana untuk melakukan promosi. Kandidat perlu memerhatikan dengan seksama dan bijak atas media yang paling efektif dalam mentransfer pesan politik pada masing – masing segmen konstituen kandidat, konstituen partai lain, dan non partisan dalam etnis Jawa, etnis China, dan non muslim. Tim kampanye Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama melakukan promosi terbagi menjadi dua media, yakni above the line dan below the line. Above the line adalah media komunikasi yang digunakan tim kampanye untuk menjangkau basis pemilih terutama masyarakat non partisan, seperti kalangan elit, kalangan profesional, dan sebagainya yang tergolong dalam kalangan menengah ke atas. Tim kampanye menggunakan media massa televisi untuk berkomunikasi dalam penyampaian pesan dengan jangkauan luasnya sehingga komunikasi antara komunikator dan komunikan menjadi lebih efektif dan efisien dalam mencapai tujuan komunikasi strategis. Adapula mediasosial facebook dan twitter yang digunakan tim untuk mengenalkan kandidat dan berbagi informasi terkait dengan kandidat dan produk politik. Sedangkan below the line adalah media komunikasi yang menggunakan personal selling melalui kunjungan langsung sosial tatap muka dan bersama yang dilakukan oleh kandidat untuk berkomunikasi dengan basis pemilih yang terdiri dari tiga kelompok masyarakat, meliputi konstituen kandidat, konstituen partai lain, dan non partisan dalam etnis Jawa, etnis China, dan non muslim. Kunjungan langsung sosial tatap muka dan bersama yang dilakukan di pasar, kawasan padat/kawasan tua, dan cagar budaya dengan diskusi dan kumpul bersama untuk bersilaturahmi dan berkenalan maupun membahas mengenai problema Jakarta dan solusinya. Kunjungan langsung kandidat yang dilakukan secara berkala dan terus menerus semakin memperkuat persepsi publik atas kelayakan kandidat memimpin Jakarta dalam benak basis pemilih. Terbentuknya persepsi publik yang semakin kuat, semakin menciptakan dan memperluas arus besar masyarakat Jakarta untuk mendukung dan memilih kandidat yang kemudian menamakan diri mereka sebagai relawan kandidat. Relawan kandidat berperan sales promotion kandidat yang ikut serta menyampaikan pesan politik kepada basis pemilih kandidat. Adapula stiker merupakan media yang digunakan tim melakukan evaluasi terhadap setiap aktivitas komunikasi strategis yang membantu pemilih untuk menentukan prioritas yang besar di benak basis pemilih atas perilaku politik. Media stiker dipasang pada lingkungan basis pemilih yang telah berkomitmen untuk memilih Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama pada Pemilukada DKI Jakarta 2012.PENUTUPDinamika politik modern dengan masyarakat yang semakin kritis terhadap perkembangan dunia politik menuntut politisi untuk menerapkan cara yang lebih efisien dan efektif dalam berkampanye untuk memenangkan persaingan politik. Marketing politik yang digunakan tim kampanye Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama dalam menghadapi Pemilukada DKI Jakarta 2012, membangun hubungan dua arah yang efisien dan efektif dengan masyarakat Jakarta yang memungkinkan tim untuk mengenal masyarakat dengan baik terutama kantong pemilih. Hubungan tersebut membantu tim dalam proses penyampaian pesan politik dengan menggunakan pengelolaan dan perancangan pesan yang memiliki konsistensi dengan image politik dan produk politik pada masing – masing segmen basis pemilih tim.Marketing politik yang digunakan tim kampanye berperan pada proses membangun dan menciptakan citra politik kandidat melalui tahapan strategi pemasaran dengan konsistensi pada proses branding yang diwujudkan dalam bauran pemasaran. Langkah awal dalam proses strategi pemasaran; segmentasi, membantu tim melakukan pembagian pasar pemilih ke dalamkelompok pemilih yang sesuai etnis pada kelompok masyarakat Jakarta, meliputi konstituen kandidat, konstituen partai lain, dan non muslim untuk dibidik dan ditetapkan tim sebagai kantong pemilih (target audiens). Penetapan audiens mempermudah dalam proses positioning yang berbeda pada masing – masing kelompok masyarakat yang telah ditetapkan sebagai target audiens tersebut guna mencapai tujuan komunikasi strategis tim, yaitu mengubah opini publik menjadi persepsi publik atas kelayakan kandidat memimpin Jakarta. Penyampaian produk politik tim yang terbagi menjadi tiga tahapan; core product, actual product, dan augmented product memungkinkan adanya diferensiasi produk di benak pemilih dibanding produk politik lainnya yang akan semakin memperkuat terbentuknya persepsi publik.Marketing politik membantu tim dalam proses pencapaian tujuan komunikasi tim dengan merancang kegiatan promosi yang diakhiri penetapan bauran komunikasi pemasaran, meliputi personal selling tim kampanye dan kandidat melalui kunjungan langsung pada lingkungan kantong pemilih yang hanya sekedar untuk bersialturahmi dan berkenalan maupun membahas mengenai problema Jakarta dan solusinya, relawan kandidat sebagai sales promotion yang berperan serta dalam membentuk persepsi publik atas kelayakan kandidat memimpin Jakarta pada benak basis pemilih, serta media massa televisi dan media sosial facebook dan twitter sebagai media komunikasi antara kandidat dengan masyarakat Jakarta guna mencapai tujuan komunikasi strategis tim.DAFTAR PUSTAKAArifin, Anwar. (2003). Komunikasi Politik. Jakarta: PT. Balai Pustaka.Baxter, Leslie A., and Earl Babbie. (2004). The Basics of Communication Research. Wadsworth: Thomson.Bryman, Alan. (2008). Social Research Methods (3rd ed.). Oxford University Press.Cangara, Hafied. (2009). Komunikasi Politik. Jakarta: Rajawali Pers.Denzin, Norman K., and Yvonna S. Lincoln. (2009). Handbook of Qualitative Research. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.Departemen Pendidikan Nasional. (2008). Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa (4th ed.). Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.Effendy, Onong Uchjana. (1999). Hubungan Masyarakat. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.Effendy, Onong Uchjana. (2007). Ilmu Komunikasi & Teori. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.Firmanzah. (2007). Marketing Politik. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.Firmanzah. (2008). Mengelola Partai Politik: Komunikasi dan Positioning Ideologi Partai di Era Demokrasi. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.Griffin, EM. (2011). A First Look at Communication Theory (8th ed.). New York: McGraw-Hill.Heryanto, Gun Gun., and Irwa Zarkasy. (2012). Public Relations Politik. Bogor: Ghalia Indonesia.Kennedy, John E., dan R. Dermawan Soemanagara. (2009). Marketing Communication: Taktik & Strategi. Jakarta: Bhuana Ilmu Populer.Kriyantono, Rachmat. (2010). Teknik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta: Kencana.Kotler, Philip, and Gary Amstrong. (2004). Dasar – Dasar Pemasaran Jilid I (9th ed.). Jakarta: PT Indeks.Kotler, Philip, and Gary Amstrong. (2004). Dasar – Dasar Pemasaran Jilid II (9th ed.). Jakarta: PT Indeks.Littlejohn, Stephen W., and Karen A. Foss. (2009). Teori Komunikasi (9th ed.). Jakarta: Salemba Humanika.Moleong, Lexy J. (1991). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.Nimmo, Dan. (2005). Komunikasi Politik: Komunikator, Pesan, dan Media. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.Newman, Bruce I. (Eds.). (1999). Handbook of Political Marketing. London: SAGE Publications Ltd.Nursal, Adman. (2004). Political Marketing: Strategi Memenangkan Pemilu. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.Percy, Larry. (2008). Strategic Integrated Marketing Communication: Theory and Practice. USA: Elsevier.Perpustakaan Nasional RI Data Katalog Dalam Terbitan (KDT). (2012). Demokrasi Lokal: Evaluasi Pemilukada di Indonesia. Jakarta: Konstitusi Press.Ruslan, Rosady. (2008). Kiat dan Strategi Kampanye Public Relations. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.Severin, Werner J., and James W. Tankard, Jr. (2009). Teori Komunikasi: Sejarah, Metode, & Terapan Di Dalam Media Massa (5th ed.). Jakarta: Kencana.Sulaksana, Uyung. (2003). Integrated Marketing Communications. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.Upe, Ambo. (2008). Sosiologi Politik Kontemporer. Jakarta: Prestasi Pustakaraya.Yin, Robert K. (2006). Studi Kasus. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.West, Richard., and Lynn H. Turner. (2008). Pengantar Teori Komunikasi (3rd ed.). Jakarta: Salemba Humanika.Skripsi, Tesis, dan JurnalAttia, Ashraf M. et al. (2011). Commentary: The Impact of Social Networking Tools on Political Change in Egypt’s “Revolution 2.0”. Electronic Commerce Research and Applications, 10 (June): 369-374. New York: Elsevier B.V.Chu, Chih-Chung et al. (2012). The Effect of Advertisement Frequency on the Advertisement Attitude-The controlled Effects of Brand Image and Spokesperson’s Credibility. Procedia – Social and Behavioral Sciences, 57: 352-359. Elseiver Ltd.Lariscy, Ruth Ann Weaver and Spencer F. Tinkham. (1996). Use and Impact of Direct Mail in the Context of Integrated Marketing Communications: U.S. Congressional Campaigns in 1982 and 1990. Journal of Business Research, 37: 233-244. New York: Elsevier Science Inc.Nuriyatul Lailiyah. (2011). Komunikasi Strategis Dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah, Studi Kasus: Kampanye Pasangan Widya Kandi – M. Mustamsikin dalam Pemilihan Bupati Kendal 2010. Tesis. Universitas Diponegoro.Seravica Molasita Mahu. (2010). Marketing Politik Partai Demokrat Dalam Pemilu Legislatif 2009. Skripsi. Universitas Diponegoro.InternetAnggadha, Ary., dan Fajar Sodiq. (2012). Dalam http://metro.news.viva.co.id/news/read/342548-ibunda-jokowi--bang-haji-rhoma-mungkin-khilaf. Diunduh pada 8 Oktober pukul 22.15 WIB.Febriyan. (2012). Dalam http://www.tempo.co/read/news/2012/03/19/214391119/Nasib-Ahok-Dampingi-Jokowi-Masih-Tunggu-Mega. Diunduh pada 1 Desember 2013 pukul 02.21 WIB.Fokoke Jokowi Mantra Ampuh di Jagat Maya. (2012). Dalam http://ahok.org/berita/news/fokoke-jokowi-mantra-ampuh-di-jagat-maya/. Diunduh pada 6 April pukul 10.00 WIB.Hartawan, Tony. (2012). Dalam http://www.tempo.co/read/news/2012/03/19/214391063/Pertemuan-Rahasia-Foke-dan-Calon-Gubernur-Lain. Diunduh pada 1 Desember 2013 pukul 22.30 WIB.Leinad, Sam. (2012). Jokowi Menang Lagi di Twitter. Dalam http://media.kompasiana.com/new-media/2012/09/20/jokowi-menang-lagi-di-twitter-494958.html. Diunduh pada 6 April pukul 10.00 WIB.Noviansyah, Aditia. (2012). Dalam http://www.tempo.co/read/news/2012/07/16/078417190/Dana-Kampanye-Foke-Tujuh-Kali-Lipat-dari-Jokowi. Diunduh pada 1 Desember 2013 pukul 23.00 WIB.Rizal, Ade. (2012). Dalam http://jogja.tribunnews.com/2012/04/05/baju-kotak-kotak-jokowi-jadi-trend/. Diunduh pada 6 April pukul 10.00 WIB.Saut, Prins David. (2012). Dalam http://news.detik.com/read/2012/09/21/013101/2028702/10/jokowi-menangkan-pilgub-dki-karena-jadi-kesayangan-media. Diunduh pada 6 April pukul 10.00 WIB.Sodikin, Amir. (2012). Addie MS Ternyata Pemicu “Fokoke Jokowi”. Dalam http://megapolitan.kompas.com/read/2012/09/26/10010016/Addie.MS.Ternyata.Pemicu.Fokoke.Jokowi. Diunduh pada 6 April pukul 10.00 WIB.Wiwoho, Laksono Hari. (2012). Dalam. http://pilkada.kompas.com/berita/read/2012/09/19/02371093/Peta.Kekuatan.Foke.Versus.Jokowi.2. Diunduh pada 1 Desember 2013 pukul 02.30 WIB.www.lsi.or.id. Diunduh pada 1 Desember 2013 pukul 21.00 WIB.www.lsi.co.id. Diunduh pada 1 Desember 2013 pukul 21.30 WIB.
PENGARUH TERPAAN PEMBERITAAN POLITIK DI MEDIA ONLINE DAN TERPAAN PESAN IKLAN KAMPANYE POLITIK DI MEDIA TELEVISI TERHADAP ELEKTABILITAS PARTAI HANURA Fahrina Ilhami; Hedi Pudjo Santosa; Djoko Setiabudi
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (227.521 KB)

Abstract

PENGARUH TERPAAN PEMBERITAAN POLITIK DI MEDIAONLINE DAN TERPAAN PESAN IKLAN KAMPANYE POLITIK DIMEDIA TELEVISI TERHADAP ELEKTABILITAS PARTAIHANURAStudi Pelaksanaan di Kelurahan Tembalang RW 07Fahrina Ilhami1, Dr. Hedi Pudjo Santoso, M.SI2, Djoko Setyabudi, S.Sos,MM3Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas DiponegoroJl. Prof. H. Soedarto, SH, Tembalang, Semarang, Kotak Pos 1269 Website :http://www.fisip.undip.ac.id/ Email : fisip@undip.ac.idABSTRAKSIPenelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh terpaan pemberitaan politik dimedia online dan terpaan pesan iklan kampanye politik di media televisi terhadapelektabilitas partai Hanura. Teori yang digunakan untuk menjelaskan pengaruh terpaanpemberitaan politik terhadap elektabilitas partai Hanura adalah, Teori Konstruksi SosialMedia Massa, dan Teori Media Online.Untuk menjelaskan pengaruh terpaan pesan iklan kampanye politik di media televisiterhadap elektabilitas partai Hanura adalah Teori Efek Moderat. Penelitian ini merupakanpenelitian kuantitaif dan tipe penelitian yang digunakan adalah eksplanatori. Sampledalam penelitian ini adalah Warga Kelurahan Tembalang RW 07 sebanyak 100 orang dandiambil menggunakan teknik Multistage Sampling. Analisis penelitian ini menggunakananalisis regresi linier sederhana.Hasil temuan penelitian ini menunjukan bahwa terpaan pemberitaan politik di mediaonline terhadap elektabilitas partai Hanura pada Warga Kelurahan Tembalang RW 07berpengaruh positif.. Lalu besarnya pengaruh terpaan pemberitaan politik di media onlineterhadap elektabilitas adalah sebesar 54 %. Sedangkan, terpaan pesan iklan di mediatelevisi berpengaruh positif terhadap elektabilitas partai Hanura pada Warga Kelurahan1FahrinaIlhamiadalahmahasiswaS1JurusanIlmuKomunikasiUniversitasDiponegoro,Semarang.Alamatemail:Fahrina_ilhami@yahoo.com2KetuaJurusandanDosenIlmuKomunikasiFISIPUndip3DosenIlmuKomunikasiFISIPUndipJURNAL ILMU KOMUNIKASIVolume: Nomor: Tahun: 2014 Halaman:.http//www.fisipundip.ac.idTembalang RW 07. Dengan besarnya pengaruh terpaan pesan iklan kampanye politik dimedia televisi terhadap elektabilitas Partai Hanura adalah sebesar 65 %.KetuaJurusandanDosenIlmuKomunikasiFISIPUndipABSTRACTThis study was conducted to determine the effect of exposure to political news inonline media and exposure to political campaign advertising messages on television onelectability Hanura party. The theory used to explain the effect of exposure to politicalnews on electability Hanura party is, Social Construction Theory of Mass Media andTheory online media.To explain the effect of exposure to political campaign advertising messages ontelevision on electability Hanura party is Moderate Effect Theory. This research is aquantitative study and the type of research is explanatory. Samples in this study wereresidents of RW 07 Sub Tembalang as many as 100 people and were taken using amultistage sampling technique. Analysis of this study using simple linear regressionanalysis .The findings of this study indicate that exposure to political news in online media onelectability Hanura party at the Village Residents RW 07 Tembalang positive effect.Then the magnitude of the effect of exposure to political news in the online media toelectability is 54%. Meanwhile, exposure to advertising messages on television a positiveinfluence on electability Hanura party at the Village Residents Tembalang RW 07. Withthe influence of exposure to political campaign advertising messages on television onelectability Hanura amounted to 65 % .A. PendahuluanPemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden 2014 akan segera terlaksana. Partaipolitik mulai berbondong-bondong merancang strategi kampanye politik mereka, baik dimedia televisi maupun media online. Terlihat dengan maraknya iklan-iklan partai politikdi televisi. Pendeklarasian Wiranto dan Hary Tanoe sebagai calon presiden dan wakilpresiden yang diusung oleh Partai Hanura menjadi isu pemberitaan yang menarikperhatian media online.Banyaknya pemberitaan partai Hanura dan iklan partai Hanura di beberapa stasiuntelevisi mengisyaratkan bagaimana saat ini partai politik sudah memanfaatkan mediamassa, peningkatan elektabilitas partai tidak saja dipengaruhi oleh pemberitaan politik dimedia online yang cendrung bersifat positif, melainkan juga oleh terpaan pesan iklankampanye politik di media televisi.Lembaga Survei Jakarta (LSJ) pada Selasa, 19 Februari 2013 merilis sebuah surveiterbaru tentang elektabilitas 10 partai politik peserta pemilu 2014. Data yang dirilis LSJmenyebutkan sebanyak 5.8% responden memilih Partai Hanuras edangkan pada surveyyang dilakukan oleh Lembaga Survei Nasional pada bulan Agustus 2013 ElektabilitasPartai Hanura mencapai 6,9 persen.Menurut perbandingan survey pada bulan Februari pencapaian elektabilitas partaiHanura hanya 4,8% sedangkan pada bulan Agustus mengalami peningkatan elektabilitasmenjadi 6,9 % diduga peningkatan tersebut dikarenakan oleh bergabungnya Hary Tanoeyang kita ketahui bahwa Hary Tanoe merupakan pengusaha media dan pemilik MNCGroup, lalu memudahkan partai Hanura memperoleh dukungan dari media.Jadi melihat dari hasil survey yang mengalami peningkatan elektabilitas lalu dinilaidrastis serta banyaknya pemberitaan dan iklan. Maka dinilai peningkatan elektabilitastersebut diakibatkan oleh peran media massa di dalamnya, hal ini menjadi permasalahanyang cukup unik untuk di teliti karena dengan waktu kurang lebih 6 bulan mencapaipeningkatan yang sangat tajam. Maka penelitian ini akan mengkaji sejauhmanakahpengaruh terpaan pemberitaan politik di media online dan terpaan pesan iklan kampanyepolitik di media televisi terhadap elektabilitas partai Hanura.B. Metode PenelitianPenelitian ini menggunakan tipe penelitian eksplanatori, sedangkan metode penelitianyang digunakan adalah kuantitatif dimana yang menjadi subyek penelitian adalah WargaKota Semarang, Jawa tengah. Adapun tempat yang menjadi obyek penelitian yaitu WargaKelurahan Tembalang RW 07 di RT 03,04,05,dan 06.Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi dua sumber data primer, datayang digunakan langsung dari responden yaitu Warga Kelurahan Tembalang RW 07 RT03,04,05, dan 06 dengan menggunakan kuesioner. Lalu data sekunder yaitu data yangdiperoleh dari sumber lain responden yang dalam penelitian ini dilaporkan melaluiinternet dan studi pustaka yaitu buku, artikel, skripsi dan jurnal lain yang berhubungandengan masalah yang ditelitiLangkah-langkah yang di tempuh dalam penelitian ini untuk menjawab dari rumusanmasalah yaitu terdiri dari beberapa tahapan diantaranya adalah (1) Uji Validitas adalahkemampuan alat pengukur untuk mengukur dengan tepat mengenai gejala-gejala sosialtertentu. Uji validitas dilakukan untuk mengukur seberapa jauh ketepatan yang dihasilkanoleh penelitian.(2) Reliabilitas adalah indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alatpengukur dapat dipercaya dan diandalkan Bila hasil pengukuran relatif konsisten ketikapengukuran diulangi dua kali atau lebih, maka alat pengukur tersebut reliabel.(3) Setelahdata terkumpul, diklasifikasikan dalam kategori-kategori kemudian data-data tersebutdihitung dengan analisis kuantitatif dengan menggunakan uji hipotesis. Penelitian iniuntuk menguji hipotesis Analisis Regresi Linier Sederhana adalah hubungan secara linearantara satu variabel independen (X1) dengan variabel dependen (Y). Karena pengujuanhipotesis meliputi (X1) terhadap (Y) dan (X2) terhadap (Y). Yang akan dikerjakandengan menggunakan bantuan Komputer yaitu dengan program SPSS.C. PembahasanTerpaan BeritaTerpaan media adalah kegiatan mendengarkan, melihat, dan membaca pesan-pesanmedia ataupun mempunyai pengalaman dan perhatian terhadap pesan tersebut yang dapatterjadi pada individu atau kelompok. Terpaan media berusaha mencari data-data khalayaktentang penggunaan media baik jenis media, frekuensi penggunaan maupun durasipenggunaan Terpaan Media (media exposure) dapat diartikan sebagai gambaran ataukeadaan terkena pada khalayak oleh pesan-pesan yang disebarkan oleh media massa.Sedangkan terpaan pesan iklan kampanye politik di media televisi adalah sentuhan ataukeadaan dimana sengaja atau tidak sengaja khalayak terkena oleh pesan-pesan yangdisebarkan oleh iklan kampanye politik. Terpaan ini dapat dilihat melalui kualitas dankuantitas terpaan.Media onlineMedia online adalah termasuk media massa yang baru (new media) (Irianto2005:117). istilah media baru (new media) sebenarnya merupakan istilah yangmembingungkan dan kerap mengundang perdebatan, karena semua media pada zamankemunculannya adalah media baru. Misalnya, koran pada awal kelahirannya adalah mediabaru begitu juga radio pada awal kemunculannya juga merupakan media baru. Media barupada saat ini adalah semua bentuk media masaa mutakhir yang berbasiskan teknologikomunikasi dan informasi khususnya internet dan World Wide Web (WWW).Elektabilitas Partai PolitikElektabilitas adalah tingkat keterpilihan yang disesuaikan dengan kriteria pilihan.Elektabilitas bisa diterapkan kepada barang, jasa maupun orang, badan atau partai.Elektabilitas sering dibicarakan menjelang pemilihan umum. Elektabilitas partai politikberarti tingkat keterpilihan partai politik di publik. Elektabilitas partai tinggi berarti partaitersebut memiliki daya pilih yang tinggi. Untuk meningkatkan elektabilitas maka objekelektabilitas harus memenuhi kriteriaketerpilihan dan juga populer.Teori Yang Mendasari Pengaruh Pemberitaan Politik Di Media Online TerhadapElektabilitas Partai HanuraA. Teori Konstruksi Realitas Sosial Media MassaRealitas sosial dikonstruksi melalui proses eksternalisasi, objektivasi daninternalisasi. Kemudian mengadaptasi Teori Konstruksi Sosial Atas RealitasBerger dan Luckmann dengan menambahkan variabel media massa untukmenyempurnakan teori tersebut. Karena seiring dengan perkembangan teknologi,terutama dalam pertukaran informasi secara besar-besaran. Muncul fenomenafenomenasosial baru yang terjadi lewat media massa. Sehingga Bunginmenyebutnya dengan “Teori Konstruksi Sosial Media Massa” (Bungin, 2008:203).Substansi Teori Konstruksi Sosial Media Massa adalah pada sirkulasi informasiyang cepat dan luas sehingga konstruksi sosial berlangsung dengan sangat cepatdan sebarannya merata. Realitas yang terkonstruksi itu juga membentuk opinimassa, massa cenderung apriori dan opini massa cenderung sinis. Jadi menyatakanbahwa berita merupakan konstruksi sosial media bukan realitas sosial yang ada(Bungin, 2008: 203).Menurut perspektif ini tahapan-tahapan dalam proses konstruksi sosial mediamassa itu terjadi melalui: tahap menyiapkan materi konstruksi; tahap sebarankostruksi; tahap pembentukan konstruksi; tahap konfirmasi (Bungin, 2008: 188-189). Penjelasannya adalah sebagai berikut:1. Tahap menyiapkan materi konstruksi: Ada tiga hal penting dalam tahapanini yakni: (a) Keberpihakan media massa kepada kapitalisme, sebagaimanadiketahui, saat ini hampir tidak ada lagi media massa yang tidak dimilikioleh kapitalis. Dalam arti, media massa digunakan oleh kekuatan-kekuatankapital untuk menjadikan media massa sebagai mesin penciptaan uang danpenggandaan modal. Semua elemen media massa, termasuk orang-orangmedia massa berpikir untuk melayani kapitalisnya, ideologi mereka adalahmembuat media massa laku di masyarakat. (b) Keberpihakan semu kepadamasyarakat, Bentuk dari keberpihakan ini adalah empati, simpati, danberbagai partisipasi kepada masyarakat, namun ujung-ujungnya adalahuntuk “menjual berita” dan menaikkan rating untuk kepentingan kapitalis.(c) Keberpihakan kepada kepentingan umum, Bentuk keberpihakan kepadakepentingan umum dalam arti sesungguhnya sebenarnya adalah visi setiapmedia massa, namun, akhir-akhir ini visi tersebut tak pernah menunjukkanjati dirinya, walaupun slogan-slogan tentang visi ini tetap terdengar.2. Tahap sebaran konstruksi: prinsip dasar dari sebaran konstruksi sosialmedia massa adalah semua informasi harus sampai pada khalayak secaratepat berdasarkan agenda media. Apa yang dipandang penting oleh media,menjadi penting pula bagi pemirsa atau pembaca.3. Tahap pembentukan konstruksi realitas. Pembentukan konstruksiberlangsung melalui: (a) konstruksi realitas pembenaran; (b) keduakesediaan dikonstruksi oleh media massa; (c) sebagai pilihan konsumtif.4. Tahap Konfirmasi. Konfirmasi adalah tahapan ketika media massa maupunpenonton memberi argumentasi dan akuntabilitas terhadap pilihannyauntuk terlibat dalam pembentukan konstruksi. Bagi media, tahapan iniperlu sebagai bagian untuk memberi argumentasi terhadap alasanalasannyakonstruksi sosial. Sedangkan bagi pemirsa dan pembaca, tahapanini juga sebagai bagian untuk menjelaskan mengapa ia terlibat dan bersediahadir dalam proses konstruksi sosialB. Teori Media OnlinePada tahun 1990, Mark Potes meluncurkan buku besar The second MediaAge yang menandai periode baru dimana teknologi interaktif dan komunikasijaringan, khususnya dunia maya akan mengubah masyarakat (Littlejohn: 2009:413-415). Teori Media Online dikembangkan oleh Pierre Levy, yangmengemukakan bahwa media online merupakan teori yang membahas mengenaiperkembangan media. Media online merupakan digitalisasi yang mana sebuahkonsep pemahaman dari perkembangan zaman mengenai teknologi dan sains, darisemua yang bersifat manual menjadi otomatis dan dari semua yang bersifat rumitmenjadi ringkas. Digital adalah sebuah metode yang kompleks, dan fleksibel yangmembuatnya menjadi sesuatu yang pokok dalam kehidupan manusia.Dari dua teori diatas dapat bahwa teori konstruksi realitas sosial media massa dimanadalam pembuatan berita dengan adanya pengaruh internal media di dalam perushanmedia, ketika pada tahap pembentukan konstruksi, audiens masih cenderungmembenarkan apa yang ada di media massa, bersedia pemikirannya di konstruksikan dabergantung pada media, ketika wartawan menyajikan pemberitaan yang cenderung modelgood news maka dalam tahap konfirmasi, ketika pemberitaan sampai pada audiens makapendapat dan pandangan audiens yang terbentuk akan baik terhadap sesuatu yangdiperolehnya. Lalu juga dengan seiring perkembangan zaman, media massa sudahberubah menjadi new media, salah satu contohnya adalah media online. Teori mediaonline membahas teori tentang perkembangan media, dimana media online akan banyakdigunakan atau banyak dipilih oleh masyarakat dan dapat mengubah masyarakat. Dapatdisimpulkan bahwa ketika pemberitaan politik bersifat baik dan akan menghasilkanpendapat dan pandangan audiens yang terbentuk baik pula lalu didukungnya denganperkembangan teknologi yang semakin praktis yaitu dimana dulunya membaca beritayang hanya pada media cetak dan saat ini audiens banyak memanfaatkan media online.maka dinilai terpaan pemberitaan politik di media online berpengaruh positif terhadapelektabilitas partai HanuraTeori Yang Mendasari Pengaruh Terpaan Pesan Iklan Kampanye Politik Di MediaTelevisi Terhadap Elektabilitas Partai HanuraTeori efek moderat ( moderate effects model ) adalah efek media massa yangdikemukakan berdasarkan efek terbatas. Model ini merupakan hasil studi atau risettentang efek yang dilakukan pada periode 1960-1970-an. Studi pada periode iniberangkat dari posisi audiens bukan dari posisi komunikator dan lebih memusatkanperhatiannya pada pola-pola komunikasi mereka, khususnya dalam hubungannya denganpesan-pesan media. (Wiryanto, 2005:55). Efek moderat sangat berbeda, model efekmoderat ini sebenarnya mempunyai implikasi positif bagi pengembangan studi mediamassa. Bagi para praktisi komunikasi akan menggugah kesadaran baru bahwa sebelumsebuah pesan disiarkan perlu direncanakan dan diformat secara matang dan lebih baik.Sebab bagaimana pun, pesan tetap mempunyai dampak Nurdin, 2007: 226-227). TeoriEfek Moderat mempunyai pendekatak-pendekatan. Salah satu pendekatan yang dipakaiuntuk membahas peran iklan-iklan di media massa yaitu:A. The Agenda-Setting FunctionMenunjukan pada kemampuan media massa untuk bertindak selaku agenda(catatan harian) bagi komunikan-komunikannya. Hal ini disebabkan mediamemiliki kapasitas untuk memilih materi atau isi pesan bagi komunikannya.Materi atau isi pesan ini dapat diterima oleh komunikan sebagai suatu yangpenting yang dapat mempengaruhi sikap dan perilakunya mengenai sesuatu hal.Teori ini secara luas memiliki suatu hubungan erat secara politik antara mediamassa dengan tata hidup masyarakat, dimana politik sebagai pintu masuk untukpengaturan tata masyarakat dengan kebijakan-kebijakan pemerintah.Agendasetting lahir secara lebih moderat, model ini mengasumsikan adanya hubunganpositif antara penilaian yang diberikan media pada suatu persoalan denganperhatian yang diberikan khalayak kepada persoalan tersebut. Singkatnya apayang dianggap penting oleh media, akan dianggap penting pula masyarakat danapa yang dilupakan media akan dilupakan juga oleh publik.Dari perspektif agendasetting, media massa memang tidak dapat mempengaruhi khalayak untukmengubah sikap, tetapi media massa cukup berpengaruh terhadap apa yangdipikirkan orang. Ini berarti media massa mempengaruhi persepsi khalayaktentang apa yang anggap penting. Sama berpengaruhnya saat media selalumenampilkan tokoh politik atau partai politik tertentu, maka tokoh atau partaipolitik tersebut cenderung dianggap penting, lalu juga akan timbil kesan khalayakyang baik terhadap tokoh politik atau partai politik tersebut. Maka dari penjelasandiatas dinilai terpaan pesan iklan kampanye politik di media televisi berpengaruhpositif terhadap elektabilitas partai hanuraD. Hipotesis1. Terdapat pengaruh positif antara terpaan pemberitaan politik di media online (X1)terhadap elektabilitas partai Hanura (Y) . Artinya semakin banyaknya terpaanpemberitaan positif oleh media terhadap partai Hanura maka akan diikuti dengansemakin besarnya kecenderungan masyarakat untuk memilih partai Hanura.2. Terdapat pengaruh positif antara terpaan pesan iklan kampanye politik di mediatelevisi (X2) terhadap elektabilitas partai Hanura (Y). Artinya semakin tinggiterpaan pesan iklan kampanye politik mengenai partai Hanura maka akan semakintinggi juga kecenderuangan memilih partai hanuraE. Uji HipotesisPengaruh Terpaan Pemberitaan Politik Di Media Online Terhadap ElektabilitasPartai HanuraBerdasarkan hasil penelitian ini terpaan pemberitaan politik di media online terhadapelektabilitas partai Hanura pada Warga Kelurahan Tembalang RW 07 berpengaruh positif.Hal itu terbukti dengan nilai pengujian koefisien regresi variabel X1 ( TerpaanPemberitaan Politik di Media Online) adalah positif (0,828). Begitu juga sebaliknya,ketika terpaan pemberitaan politik di media online negatif, maka kecenderungan memilihatau keterpilihan partai Hanura akan rendah. Bahkan jika tidak ada terpaan pemberitaanpolitik di media online maka tidak ada yang cenderung memilih partai Hanura. Hal inikonsisten dengan Teori Hierarki Efek dalam yaitu secara umum terdapat tiga efek darikomunikasi massa, yaitu : (1) Efek kognitif, yaitu pesan komunikasi massa yangmengakibatkan khalayak berubah dalam hal pengetahuan, pandangan, dan pendapatterhadap sesuatu yang diperolehnya. Mengacu pada efek pertama diatas diambil contohketika media massa memberikan pesan kepada audiens seperti pemberitaan,mengakibatkan audiens berubah pengetahuan, pandangan, dan pendapat terhadap sesuatuyang diinformasikan oleh media tersebut. (2) Efek afektif, yaitu pesan komunikasi massamengakibatkan berubahnya perasaan tertentu dari khalayak. Orang dapat menjadi, sukaterhadap sesuatu akibat membaca surat kabar secara online maupun cetak, mendengarkanradio dan menonton televisi. Mengacu pada efek pertama dimana setelah audiens dirubaholeh pesan yang menambah pengetahuan, merubah pandangan dan merubah pendapattentang sesuatu hal, efek yang ditimbulkan berikutnya adalah efek afektif yaitu timbulmerubah perasaan audiens, perasan tersebut bisa suka atau maupun tidak suka, tetapiberdasarkan kesimpulan hasil penelitian ini membuktikan bahwa pemberiaan politik dimedia online yang positif dapat merubah perasaan audiens menjadi menjadi suka ataupuntertarik. (3) Efek konatif, mengakibatkan pesan komunikasi massa mengakibatkan orangmengambil keputusan untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Setelahmenimbulkan perasaan efek selanjutnya adalah mengakibatkan audiens mengambilkeputusan untuk melakukan sesuatu atau tidak, contohnya ketika audiens suka pada partaiHanura, audiens akan memilih partai Hanura begitu juga sebaliknya bila audiens tidak adaperasaan suka maka audiens tidak memilih partai Hanura.Menurut McQuail dalam bahwa efek yang ditimbulkan oleh berita sendiri adalahberupa tambahan pengetahuan tentang informasi faktual berjangka waktu pendek,pembentukan cara pandang terhadap gambaran dunia dan masyarakat yang berjangkapanjang, serta kerangka berfikir untuk menafsirkan makna berbagai peristiwa.Pemberitaan juga memiliki kecenderungan yang normatif dan dirancang ataudidayagunakan untuk membentuk dan menunjang nilai-nilai dan pandangan tertentu.Responden memperoleh pengetahuan yang bersifat positif tentang partai Hanura dalamjangka pendek maupun jangka panjang. Lalu, responden dipengaruhi oleh adanyainfomasi tentang partai hanura yang dipandang relevan dan mengakibatkan respondenterpengaruh dan memiliki rasa senang dan suka terhadap partai Hanura.Berdasarkan teori dan pendapat McQuail diatas dibuktikan bahwa pada prakteknyapemberitaan positif partai Hanura menimbulkannya berupa tambahan pengetahuan tentanginformasi faktual berjangka waktu pendek tentang partai Hanura, pembentukan carapandang terhadap gambaran partai Hanura yang berjangka panjang, serta kerangka berfikiruntuk menafsirkan makna berbagai tentang partai Hanura. Pemberitaan juga memilikikecenderungan yang normatif dan dirancang atau didayagunakan untuk membentuk danmenunjang nilai nilai dan pandangan tertentu. Responden memperoleh pengetahuan yangbersifat positif tentang partai Hanura dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Lalu,responden dipengaruhi oleh adanya infomasi tentang partai Hanura yang dipandangrelevan dan mengakibatkan responden terpengaruh dan memiliki rasa senang dan sukaterhadap partai Hanura.Terpaan pemberitaan positif partai Hanura di media online yang berpengaruh positifterhadap elektabilitas partai Hanura tidak hanya, responden yang mendapatkanpengetahuan dan pandangan lalu mengakibatkan perasaaan suka dan senang terhadappartai Hanura tetapi didalam keadaan seperti ini media dipandang sebagai fasilitaspenyampaian informasi yang objektif tentang segala sesuatu yang dimilai baik ataupunburuk. Idealnya para jurnalis, dalam hal media berperan sebagai kekuatan kontrol yangmengawasi jalannya pemerintahan, baik eksekutif, legistatif maupun yudikatif. Tetapi didalam proses menyampaikan informasi, sudut pandangan wartawan dalam melihat suatuinformasi khususnya informasi politik berbeda-beda dan cenderung dipengaruhi faktoreksternal dan internal, karena realitas politik yang di buat dan menghasilkan sebuah beritabukan sepenuhnya cerminan realitas politik tapi adanya pengaruh konstruksi realitaspolitik di media massa. Sejalan dengan Teori Konstruksi Sosial Media Massa yangdisempurnakan oleh Bungin, dari Teori Konstuksi Realitas Sosial milik Berger danLuckmann. Dalam (Bab 1 halaman 32), Teori Konstruksi Sosial Media Massa yangdisempurnakan oleh Bungin, menyatakan bahwa berita merupakan konstruksi sosial mediabukan realitas sosial yang ada. Melalui konstruksi sosial media, dapat dijelaskanbagaimana media massa membuat gambaran tentang realitas. Tentunya akan membawapengaruh yang menentukan dalam pembentukan pengetahuan, kepercayaan, nilai, relasisosial, identitas sosial yang ada pada masyarakat, karena walau bagaimanapun juga mediamempunyai kekuatan yang cukup menentukan dalam kehidupan sosial masyarakat.Idealnya para jurnalis, dalam hal media berperan sebagai kekuatan control yangmengawasi jalannya pemerintahan, baik eksekutif, legistatif maupun yudikatif. Tetapi didalam proses menyampaikan informasi, sudut pandangan wartawan dalam melihat suatuinformasi khususnya informasi politik berbeda-beda dan cenderung dipengaruhi faktoreksternal dan internal, karena realitas politik yang di buat dan menghasilkan sebuah beritabukan sepenuhnya cerminan realitas politik tapi adanya pengaruh konstruksi realitaspolitik di media massa. Dalam (Bab 1 halaman 37) Teori Media Online yangdikembangkan oleh Pierre Levy bahwa media online merupakan digitalisasi yang manasebuah konsep pemahaman dari perkembangan zaman mengenai teknologi dan sains, darisemua yang bersifat manual menjadi otomatis, dan dari semua yang bersifat rumit menjadiringkas dan teknologi interaktif dan komunikasi jaringan, khususnya dunia maya akanmengubah masyarakat. Perkembangan mengenai teknologi yang ringkas menjadikanmedia online mudah diakses, dimana dari hasil penelitian dalam (Bab III halaman 82)yaitu 45 % terpaan pemberitaan politik di media online sangat tinggi. Ini membuktikanmedia online adalah media modern yang banyak digunakan masyarakat.Pengaruh Pesan Iklan Kampanye Politik di Media Televisi Terhadap ElektabilitasPartai HanuraBerdasarkan hasil penelitian ini terpaan pesan iklan di media televisi berpengaruhpositif terhadap elektabilitas partai Hanura pada Warga Kelurahan Tembalang RW 07.Pada nilai pengujian koefisien regresi variable X2 (Terpaan Pesan Iklan Kampanye politikdi Media Televisi) positif (1,041) dan begitu juga sebaliknya, ketika terpaan pesan iklankampanye politik di media televisi negatif, maka kecenderungan memilih atau keterpilihanpartai Hanura akan rendah, bahkan jika tidak ada terpaan pesan iklan kampanye politik dimedia televisi maka tidak ada yang cenderung memilih partai hanura.Hal ini konsisten dengan Teori Efek Moderat dalam (Bab 1 halaman 39 ), studi padaperiode ini berangkat dari posisi audiens bukan dari posisi komunikator dan lebihmemusatkan perhatiannya pada pola-pola komunikasi mereka, khususnya dalamhubungannya dengan pesan-pesan media. Efek moderat sangat berbeda, model efekmoderat ini sebenarnya mempunyai implikasi positif bagi pengembangan studi mediamassa. Bagi para praktisi komunikasi akan menggugah kesadaran baru bahwa sebelumsebuah pesan disiarkan perlu direncanakan dan diformat secara matang dan lebih baik,yang memiliki pendekatan yaitu : (1) The Information-Seeking Paradigm, kecenderunganaudiens untuk secara aktif mencari informasi dan tidak semata-mata pasif menerimainformasi, bergantung pada opinion leader. Mengacu pada pendekatan tersebut,menyatakan bahwa kecenderungan seseorang yaitu secara aktif mencari informasi sepertimisalnya pemilu 2014 akan segera digelar pada bulan April dan responden tidak sematamata pasif menerima bukti tentang partai Hanura tetapi mencari informasi yang dibutuhkan seperti contohnya adalah Iklan partai politik. (2) The Uses and GratificationsApproach, pendekatan tentang kebutuhan individu terhadap pesan-pesan mediaberdasarkan asas manfaat dan kepuasan. Mengacu pada pendeketan tersebut, menyatakanbahwa audiens membutuhkan informasi untuk memberikan manfaat dan kepuasaan sepertiyang sudah diketahui pemilu sebentar lagi, audiens memerlukan informasi yang terkaitdengan pesan pesan media seperti contohnya iklan untuk memberikan mereka kepuasaaninformasi , perwakilan partai politik mana yang seharusnya mereka pilih. (3) The Agenda-Setting Function, menunjukan pada kemampuan media massa untuk bertindak selakuagenda (catatan harian) bagi komunikan-komunikannya. Mengacu pada pendeketantersebut, menyatakan bahwa media mempunyai peran sebagai sumber informasi dalampenyajian pesan bagi audiens, media memposisikan dirinya sebagai penyedia informasidan pembentuk realitas yang ada bukan mencerminkan realitas yang ada, sebagai contohiklan partai Hanura di televisi hadir kapan saja dan tidak diketahui waktunya, disini dapatdiambil kesimpulan bahwa media massa berpengaruh mengontrol informasi yang ada danmemberikan penekanan, selanjutnya memberikan kesempatan untuk individu menentukanpilihannya. (4) The Cultural Norms Theory , menurut teori ini komunikasi massa memilikiefek yang tidak langsung atas perilaku melalui kemampuannya dalam membentuk normanormabaru. Norma-norma ini berpengaruh terhadap pola sikap untuk pada akhirnya akanmempengaruhi pola-pola berikutnya. Mengacu pada pendekatan tersebut bahwa, mediamemiliki efek yang tidak langsung tetapi mempunyai kemampuan membentuk norma, lalunorma-norma tersebut berpengaruh terhadap pola pola misalnya pengambilan keputusanyang negatif maupun positif.Teori Efek Moderat mempunyai asumsi dasar bahwa media massa di sisi lain dapatmempunyai pengaruh penting tetapi juga dengan melihat pengaruh dari efek terbataskarena hanya melihat efek media pada tingkat sikap dan pendapat, sedangkansesungguhnya masih ada variable lain yang dapat menjadi factor atau pengaruh dandampak dari media massa (McQuail, 1987: 93) . Hal ini di dukung dengan hasil penelitiandalam (Bab IV halaman 117 ) menyatakan bahwa terpaan pesan iklan di media televisiberpengaruh positif sebesar 65 % dan sisanya di pengaruhi oleh variabel lain. Mediatelevisi adalah media paling banyak diakses oleh responden ini membuktikan bahwaresponden memiliki kecenderuan secara aktif mencari infomasi atau sesekali melihatinfomasi yang di butuhkan, Hal ini dibuktikan dengan data penelitian dalam (Bab IIIhalaman 87) yaitu 44 % terpaan pesan iklan partai politik di media televisi sangat tinggilalu responden juga mempunyai kebutuhan informasi untuk memuaskan hasratnya, hal inijuga dikarenakan pemilu 2014 akan segera terselenggara. Iklan partai Hanura banyak ditelevisi akhir- akhir ini dan juga kata-kata dan tampilan iklan partai Hanura yang menariklalu responden yang membutuhkan informasi maka fungsi dari komunikasi massa yangmemiliki efek yang tidak langsung atas perilaku melalui kemampuannya dalammembentuk opini baru yang bersifat positif yaitu seperti kecenderungan memilih partaiHanura meningkat, Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang bernilai positif (1,041)yang berarti juga terpaan pesan iklan berpengaruh positif terhadap elektabilitas partaiHanura.F. KesimpulanMenurut hasil penelitian pengaruh terpaan pemberitaan politik di media online danterpaan pesan iklan di media televisi dengan elektabilitas partai Hanura pada WargaKelurahan Tembalang RW 07 mendapat kesimpulan sebagai berikut:1. Terpaan pemberitaan politik di media online berpengaruh positif terhadapelektabilitas partai Hanura pada Warga Kelurahan Tembalang RW 07. Dimanasemakin tinggi terpaan pemberitaan politik di media online, diikuti semakin tinggielektabilitas partai Hanura. Pengaruh antara terpaan pemberitaan politik di mediaonline terhadap elektabilitas partai merupakan pengaruh yang positif dengandemikian antara dua variable tersebut berhubungan erat satu sama lain.2. Terpaan pesan iklan kampanye politik di media televisi berpengaruh positifterhadap elektabilitas partai Hanura pada Warga Kelurahan Tembalang RW 07.Dimana semakin tinggi terpaan pesan iklan di media televisi, di ikuti semakintinggi elektabilitas partai Hanura. Pengaruh antara terpaan pesan iklan di mediatelevisi terhadap elektabilitas partai Hanura merupakan pengaruh yang positifdengan demikian antara dua variabel tersebut berhubungan erat satu sama lain.G. Rekomendasi1. Peneliti berikutnya hendaknya memperhatikan faktor lain dalam penelitian sepertiperbedaan ekonomi, wilayah, dan faktor lingkungan. Karena pada dasarnyaperbedaan ekonomi, wilayah dan faktor lingkungan merupakan faktor yang masihberkembang di masyarakat yang akan membawa pandangan tersendiri termasukhal elektabilitas (kecenderuan memilih) suatu partai politik.2. Peneliti berikutnya hendaknya memperhatikan teori lain sebagai pendukung TeoriRealitas Sosial Media Massa dan Teori Media Online (new media). Seperti yangtelah diketahui kedua teori tersebut mempunyai masing-masing dimensi untukmengkaji dan menjelaskan pengaruh antara terpaan pemberitaan politik di mediaonline terhadap elektabilitas partai Hanura3. Peneliti berikutnya hendaknya memperhatikan teori lain sebagai pendukung TeoriEfek Moderat. Seperti yang telah diketahui teori tersebut mempunyai empatpendekatan untuk mengkaji dan menjelaskan pengaruh antara terpaan pemberitaandi media online terhadap elektabilitas partai Hanura4. Pihak media massa sangat berperan penting bagi terselenggaranya komunikasipolitik tetapi, lembaga media harus memperhatikan juga etika media, dimanamedia massa mempunyai fungsi untuk membela kebijakan-kebijakan publik bukanmenjadi fungsi media politik yaitu membuat informasi berdasarkan pengaruh darifaktor politik, bisnis, kekuasaan dan lain lain. Masih banyak lembaga media diIndonesia yang memanfaatkan media massa sebagai media politik bukanmenjalankan fungsi media massa yang sesungguhnya5. Pihak partai Hanura harus lebih memperhatikan bila menggunakan media massauntuk kampanye partai politik mereka, karena untuk mendapatkan efek mediamassa yang kuat harus memilik strategi komunikasi yang baik dan efektif.6. Pihak publik seharusnya lebih memanfaatkan media massa untuk mendapatkankepuasaannya dalam informasi politik, tetapi juga tidak sepenuhnya bergantungpada media massa karena, yang di sajikan di media massa merupakan kontruksirealitas bukan cerminan dari realitas informasi tersebut.H. Daftar PustakaAkdon & Riduwan, (2005), Rumus dan Data Dalam Analisis Statistika, Cet 2, Alfabeta,Bandung.Ardianto, Elvinaro dan Lukiati Komala Erdinaya. 2004. Komunikasi Massa SuatuPengantar. PT Remaja Rosdakarya, Bandung.Arikunto, S. 2002. Prosedur Suatu Penelitian: Pendekatan Praktek. Edisi Revisi Kelima.Penerbit Rineka Cipta. Jakarta.Arikunto, S. 2006. Prosedur Penelitian:Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta:Rineka CiptaBungin, H.M Burhan, 2008. Sosiologi Komunikasi (teori, Paradigma dan diskursustekhnologi komunikasi di masyarakat). Jakarta. Prenada MediaBungin, Burhan (ed), Metodologi Penelitian Kualitatif: Aktualisasi Metodologis ke ArahRagam Varian Kontemporer, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2001.Bungin, Burhan. 2006. Analisa Data Penelitian Kualitatif. Rajawali Pers, Jakarta.Durianto, Sugiarto, Widjaja dan Supraktino. 2003. Invasi Pasar Dengan Iklan YangEfektif. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.Effendy, Onong Uchjana. 1990. Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek. Bandung: PT.Remaja Rosda karya.Eriyanto, 2002. Analisis Framing : Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media, -------Yogyakarta : LKIS.Hapsari, T. Niken. 2010. Seluk Beluk Promosi dan berbisnis. Yogyakarta: A Plus BooksIrianto, Agus (2004). Statistic, Konsep Dasar dan Aplikasinya. Jakarta, Prenada MediaJonathan, Sarwono. 2006. Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif. Yogyakarta:Graha IlmuKriyantono, Rachmat, 2006. Teknik Praktis Riset Komunikasi, Jakarta : Kencana.Liliweri, Alo. 1992. Dasar-dasar Komunikasi Periklanan. Bandung:Citra Aditya BaktiLittlejohn, Stephen W, 2009 . Teori Komunikasi Theories of Human Communicationedisi 9. Jakarta. Salemba Humanika.Lubis, Suwardi. (2002). Teknik Penarikan Sampel. Medan: USU PRESSMcQuail, Dennis. Teori komunikasi massa : Suatu pengantar. Jakarta. Erlangga.1987Mc Quail, Dennis, 1989. Teori Komunikasi Massa, Jakarta : Erlangga..Muhtadi Saeful, Asep 2008, Komunikasi Politik Indonesia ; Dinamika Islam PolitikPasca Orde Baru, Remaja Rosdakarya, Bandung.Nurudin, 2003. Komunikasi Massa, Yogyakarta:Pustaka PelajarPriyatno, Duwi. (2009). SPSS untuk Analisis Korelasi, Regresi, dan Multivariate.Yogyakarta: Gava Media.Priyatno, Duwi. 2010. Teknik Mudah dan Cepat Melakukan Analisis Data Penelitiandengan SPSS dan Tanya Jawab Ujian Pendadaran. Gaya Media, Yogyakarta.Singarimbun, Masri, Sofian Effendi, 1995. Metode Penelitian Survei. Jakarta: LP3ESSugiyono. 2007. Metode penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, danR&D). Bandung : Alfabeta.Surbakti, Ramlan, Memahami Ilmu Politik, Jakarta: Grasindo, 2010.Wahid Sulaiman, 2004, Analisis-Analisis Regresi menggunakan SPSS, Yogyakarta :ANDI.Wibowo, Wahyu. 2009. Berani Menulis Artikel. Jakarta : Gramedia Pustaka UtamaWiryanto. 2005. Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta: Gramedia Wiasarana Indonesia.