This Author published in this journals
All Journal Interaksi Online
Djoko Setiabudi
Unknown Affiliation

Published : 24 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

Kampanye PR Radio SSFM “Assik Ala SSFM” Saskia Elvira; Djoko Setiabudi; Agus Naryoso
Interaksi Online Vol 1, No 3: Agustus 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (341.494 KB)

Abstract

JUDUL : Kampanye PR Radio SSFM “Assik Ala SSFM”NAMA : Saskia ElviraNIM : D2C607046ABSTRAKSIPersaingan radio yang semakin ketat membuat industri media penyiaran perlumencari tahu dan memahami apa yang disukai oleh para pendengar agar tetap dapatmenarik perhatian pendengar. Pemasaran mampu memberikan dampak besar untukkelancaran merebut perhatian pendengar. Dalam menciptakan strategi yang tepatpengelola radio perlu menyajikan hal-hal baru yang seru agar tetap disukai dandidengarkan oleh audience, salah satu caranya adalah dengan memperhatikan danmemahami perilaku pendengar mereka, apa yang mereka sukai dan minati. RadioSSFM adalah radio anak muda yang inspiring, dynamic, dan entertaining. Denganbasic itulah Radio SSFM melakukan visi misinya. Menjadi radio yang menginspirasianak muda, menjadi radio yang dinamis dan dapat berubah mengikuti perkembanganjaman, serta radio yang syarat akan hiburan.Tujuan dari kampanye PR “Assik Ala SSFM” ini adalah memperkenalkanRadio SSFM sebagai radio anak muda di Semarang dan meningkatkan awarenessanak muda di Semarang terhadap Radio SSFM melalui event roadshow yangdiselenggarakan di 3 Sekolah Menengah Atas dan sederajat di Semarang dengan caramengedukasi target audiens bagaimana berkendara dengan baik dan benar (SafetyRiding). Mengacu pada analisis khalayak yang dituju, target audiens diberikanpengalaman secara langsung untuk berpartisipasi didalam program acara melaluipermainan-permainan dan informasi mengenai Radio SSFM.Persiapan event dimulai dengan riset, konsep acara, penyusunan anggaran,pencarian sponsor, penentuan vendor untuk produksi acara, pembagian kerja untukanggota, dan perijinan tempat.Event dilaksanakan dengan mengambil jam pelajaran sekolah, dengan programdidalamnya berupa edukasi dalam ruangan mengenai safety riding dari pihak AstraHonda Semarang didalam aula sekolah masing-masing, selanjutnya praktek safetyriding dan 3 permainan mengenai safety riding dengan konten berisi informasimengenai Radio SSFM. Tidak lupa juga hiburan berupa pertunjukan music dari siswasekolah itu sendiri dan hadiah-hadiah yang menarik. Para penyiar dari Radio SSFMdiperkenalkan dalam event ini agar dapat secara langsung berinteraksi denganaudiens, mascot radio, informasi program radio, frekuensi radio, dan semua informasimengenai radio SSFM.Kata kunci : Kampanye Humas, Radio SSFM2TITLE : PR Campaign SSFM Radio “Assik Ala SSFM”NAME : Saskia ElviraNIM : D2C607046ABSTRACTRadio industry is getting more competitive, it makes them need to know andneed to understand what the listener want so they can attract the listener attention.Marketing can give a big impact to grab it. In creating the right strategy, RadioManagement needs to serve 'fresh' things. They need to understand listener behaviourtoo. SSFM Radio is youth inspiring, dynamic, and entertaining radio.PR Campaign "Assik ala SSFM" goal is to introducing SSFM Radio as one ofyouth Radio in Semarang and increasing their awareness about SSFM Radio withroadshow event that held on three high school to educating the Safety Riding. Refer totarget audience analysis, they directly given experience to participate in the programthrough games and information about SSFM Radio.Event preparation start from research, concept, budgeting, sponsorship,production, job positioning and place pemit.Event took a school hours with many programs like safety riding education inthe class from Astra Honda Semarang, then safety Riding practice and three gamesabout safety riding include SSFM Radio information and also entertainment fromschool students. many cool marchendise given for student who join the games. MCintroducing the mascot, program radio information, radio frequency and in the middleof the show, the radio announcers introduce by the MC to make a direct interactionwith audienceKey word : Public Relations, Campaign, SSFM Radio3Kampanye PR Radio SSFM “Assik Ala SSFM”Jurnal Laporan Program DirectorPenyusunNama : Saskia ElviraNIM : D2C607046JURUSAN ILMU KOMUNIKASIFAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIKUNIVERSITAS DIPONEGORO20134PENDAHULUANSaat ini Radio terbilang sebagai salah satu media yang unggul dalampenyampaian informasi selain itu radio juga menjadi media hiburan bagi pendengarbaik dimana pun dan kapan pun berada. Menurut Asep Syamsul M. Romli dalambukunya Broadcast Jurnalism: Panduan Menjadi Penyiar, Reporter, dan Scripwritemenjelaskan beberapa karakteristik radio yang menjadi keunggulan dari media laindiantaranya adalah radio sebagai media yang menggunakan suara, melalui musik,efek suara, dan kata-kata, radio dapat membuat pendengar berimajinasi atau disebutjuga dengan “Theatre of Mind” yaitu membuat gambar dibenak pendengar. Radiomerupakan media tercepat lebih cepat dari Koran ataupun TV, hal ini dikarenakanradio tidak membutuhkan proses yang rumit seperti produksi, percetakan, ataupunsiaran TV. Pendengar radio juga dapat merasakan kedekatan secara personal denganpenyiarnya, rasa hangat dan akrab dengan lagu-lagu yang diputarkan dan obrolan atauinformasi yang dikomunikasikan oleh penyiar radio dapat mempengaruhi emosi bagipendengarnya. Radio mempunyai jangkauan yang luas dan media yang murahdibandingkan dengan media cetak atau media televisi, dan yang terakhir media radiobersifat fleksibel, pendengar dapat memperoleh informasi tanpa mengganggu aktivitaslainnya, dengan berkembangnya teknologi radio juga dapat mobile atau dibawakemana saja.Persaingan radio saat ini semakin ketat, sehingga pengelola media siaran harusbenar-benar memahami dan mengenali ekspektasi atau apa yang diinginkan parapendengar. Para pengelola radio harus berusaha melakukan berbagai perbaikan yangterus berkembang baik dari segi teknologi audio ataupun dari intonasi penyiar,persaingan yang semakin ketat akan menimbulkan suatu kompetisi untuk meraihsimpati dari para pendengar, oleh karena itu para pengelola radio mulai melancarkanberbagai cara untuk mendapatkan perhatian dari para pendengarnya terlebih dari sisipemasaran yang akan memberikan dampak bagi kelancaran merebut perhatianpendengar.Untuk menciptakan strategi yang tepat dalam membuat mengelola radio agartetap disukai dan didengarkan oleh audience adalah dengan memperhatikan danmemahami perilaku pendengar mereka. Perilaku pendengar dapat dapat didapatkandari ketertarikan mereka pada isi dalam radio tersebut, contohnya seperti programradio, penyiar radio, feature radio, dan lagu-lagu yang disajikan. Pada umumnyaperilaku pendengar yang memiliki kegemaran mendengarkan radio, akan lebih preferuntuk memilih radio dari kesukaannya pada kategori tersebut, mereka suka padaprogram radio yang ada didalamnya contohnya program cerita misteri, program musikindie, program masalah rumah tangga, dan lainnya.Dilihat dari segmentasi pendengar, kini konsep radio pun sudah beranekaragam. Dibantu oleh teknologi riset, memudahkan bagian program dalam radiotersebut menentukan pengambilan konsep utama apa yang akan dipakai. Beberapakonsep radio diantaranya ada radio keluarga, radio wanita, radio yang menonjolkansuatu genre musik, radio all segmen, radio anak muda, dll.Dalam konsep radio anak muda, di Semarang sendiri terdapat beberapa radiodiantaranya Prambors, trax, RCT, SSfm dan lainnya. Masing-masing dari radiotersebut mempunyai ciri khas yang masih berbeda, mulai dari pemilihan musik,5program acara di dalamnya, gaya berbicara penyiarnya, dan juga konten-konten didalamnya.Dibandingkan dengan radio dengan segmen anak muda lain, SSfm merupakanradio yang menyajikan lebih banyak lagu dibanding percakapan penyiarnya. Lagulaguyang diputar pun merupakan lagu-lagu yang sudah hits atau disebut hits player.Berbeda dengan radio anak muda lain yang disebutkan di atas, mereka memutarkanlagu yang belum hits, menjadi hits atau yang di sebut dengan hits maker.Selain dari perbedaan pemilihan lagu, SSfm memiliki cara yang berbeda darisegi penyampaian pesan melalui announcer. Announcer tidak diberi waktu yang lamauntuk berbicara, dengan batasan waktu satu menit. Sedangkan radio lain memberikanwaktu penyiar untuk lebih banyak berbicara.Apabila dilihat dari segi kultur yang ada di Semarang, SSfm merupakan radioyang localize, hal itu dibuktikan dari adanya aturan announcer dalam penyampaianpesan yang harus lokalitas. Contohnya penggunaan aku-kamu, sisipan bahasa jawadalam talkset, dan adanya program-program serta konten yang diberi nama daribahasa jawa.Strategi-strategi yang dilakukan oleh SSfm sebagai radio anak muda tidakberpaku dengan musik. Diantaranya beberapa program dan informasi yang disajikansesuai dengan hal yang sedang “hype” pada anak muda kota Semarang.Upaya-upaya di atas masih belum bisa membuat SSfm dikenal oleh masyarakatkhususnya anak muda dikarenakan SSfm masih dikenal sebagai “Suara Sakti” yangbersegmentasi usia dewasa dan “Suara Semarang” yang sama sekali tidak adahubungannya dengan radio SSFM, hal ini dibuktikan dari hasil wawancara yangdilakukan pada beberapa anak muda di Semarang secara acak. Di lain sisi juga hampirseluruh dari mereka mengartikan nama “SS” sebagai tempat makan “Spesial Sambal”.(Wawancara tersebut dilakukan pada kurang lebih 30 anak muda di Semarangsebelum pembuatan latar belakang)SSFM adalah sebuah brand yang baru walaupun sebenarnya radio ini sudahlama berdiri. Dulu SSfm bernama “Suara Sakti” dengan konsep konten-konten lagujazz, lalu berubah menjadi radio keluarga, radio untuk profesional muda, dankemudian barulah merubah namanya menjadi SSfm (tanpa singkatan) yangbersegmentasi anak muda, dengan range usia 15 – 34 tahun. Target audienceprimernya adalah usia 15 – 25 tahun, target bias sampai dengan 34 tahun.Target audience yang diutamakan adalah usia SMA, kuliah, dan professionalmuda. Dari sangat luasnya target audience yang dimiliki oleh SSfm, sangat sulit pulauntuk mengelola program sesuai dengan masing-masing karakteristik usia tersebut.Menurut hasil riset pada beberapa anak muda di Semarang dan melihat dariprogram-program off air yang sudah pernah dilakukan oleh SSFM sebelumnya,didapatkanlah kesimpulan bahwa anak muda di Semarang kebanyakan apatis padasesuatu yang tidak dekat dengan lingkungan sekitarnya, mereka tidak banyak pedulipada informasi diluar lingkungan pergaulannya atau diluar lingkup sekolahnya,termasuk pada program offair SSfm. Oleh karena itu di program-program off airSSFM kebanyakan berkerjasama dengan komunitas-komunitas anak muda diSemarang. Untuk acara yang lebih difokuskan untuk anak muda khususnya siswa6siswi SMA atau sederajat diperlukan suatu usaha untuk menyampaikan informasidengan cara lain yaitu mendekatkan diri langsung pada mereka dan mencari tahu apayang mereka sukai. Hal ini perlu dilakukan agar brand Radio SSFM dapat lebihdikenal oleh anak muda. Melalui strategi komunikasi pemasaran yang baik tentunyadapat membantu menginformasikan suatu brand secara jelas dan terarah.Pada hakekatnya, promosi adalah bentuk komunikasi pemasaran. Komunikasipemasaran adalah aktifitas pemasaran yang berusaha menyebarkan informasi,mempengaruhi atau membujuk dan meningkatkan pasar sasaran atas perusahaan danproduk agar membeli dan loyal terhadap suatu produk yang ditawarkan perusahaantersebut. Kegiatan pemasaran adalah mempromosikan barang dan jasa yangdihasilkan perusahaan. (Fandy Tjiptono; 2019; Pemasaran Strategik; 2001)Kegiatan pemasaran juga dapat dilakukan dengan kegiatan kampanye PR yangdigunakan untuk pementukan image dari brand yang akan dipromosikan. untukkegiatan kampanye PR, tentunya harus dilakukan resech mengenai isu-isu local yangsedang marak dilingkunga target audience. Dalam kegiatan kampanye PR yang akankami lakukan, kami mengambil isu kecelakaan yang diakibatkan lalainya pengendaramotor khususnya pelajar di Semarang.Menurut Kepala Cabang PT Jasa Raharja (Persero) Jateng, Sukonomenjelaskan, data kendaraan yang terlibat kecelakaan selama Januari hingga Maret2012, didominasi oleh sepeda motor. Diikuti mobil pribadi dan truk.. Berdasarkanusia korban paling besar untuk rentang usia 15-29 tahun (39,22%), diikuti usia 30-49tahun (30.65%). Sedangkan jika berdasar profesi, sebagian besar adalah karyawan(28,33%) diikuti pelajar/mahasiswa (23.67%) dan wiraswasta (22,90%).http://hariansemarangbanget.blogspot.com/2012/04/pengendara-motor-dominasikecelakaan.html (8 April 2013, 2:10 AM)Radio SSFM adalah radio anak muda yang inspiring, dynamic, danentertaining. Dengan basic itulah Radio SSFM melakukan visi misinya. Menjadiradio yang menginspirasi anak muda, menjadi radio yang dinamis dan dapat berubahmengikuti perkembangan jaman, serta radio yang syarat akan hiburan.Hiburan yang disajikan oleh radio SSFM merupakan hiburan berbentuk lagu,feature yang dikemas secara kocak yang sangat bergantung pada target audiencenya.Target audience dari SSFM merupakan range usia 13-30 tahun. dengan target primer15-25 tahun. Dari segi SES, SSFM menuju pada SES B-C. SSFM memilikipendengar di Semarang dan sekitarnya, namun dengan adanya teknologi streaming,seluruh masyarakat dapat mendengarkan radio SSFM asal tersambung denganinternet.Pada bulan September 2012 SSfm mendapatkan peringkat ke 2 dalam ratingsegmen radio anak muda oleh ACNielsen. Segmentasi tersebut berada pada range usia18-25 tahun, yang dalam range usia tersebut merupakan usia mahasiswa perkuliahansampai profesional muda.Dari target audience yang dituju oleh SSfm, usia 15 – 18 tahun masih belumterlalu mengena. Dalam artian, usia setara Sekolah Menengah Atas masih belumbanyak yang mengenal ataupun mendengarkan SSfm.7Berdasarkan target primer dari SSFM dengan range usia 15-25 tahun, anakmuda dengan usia tersebut sudah mulai sadar akan pentingnya dunia teknologi danmodernisasi. Mereka mempunyai kecenderungan untuk tidak ingin disebut sebagaiorang yang gaptek atau ketinggalan jaman. Mulai dari gadget yang digunakan dankonsumsi media social. Hampir setiap anak muda di Semarang sudah mempunyaiakun di media social yang umum seperti facebook, twitter, bahkan youtube. Haltersebut dilakukan agar mereka tetap up-to-date dan tidak ketinggalan jaman denganmengetahui informasi-informasi terbaru yang sedang happening.Happening yang mereka sukai biasanya seputar lifestyle seperti musik, beritatentang artis, sepak bola, fashion, film di bioskop, tempat nongkrong, kuliner, acaraacarahiburan, dsb. Selain hal-hal tersebut, rata-rata dari mereka menyukai hal-halyang lucu atau berbau humor, suka besosialisasi, dan suka berkelompok.Dari latar belakang yang kami kemukakan, maka ditemukanlah permasalahandalam SSfm, yaitu masih kurangnya pengetahuan masyarakat terhadap SSfm yangbaru dengan target audience anak muda. Kurangnya awareness masyarakat tentangSSfm, dibuktikan dengan hasil riset yang ada di gambar 1.3 dan gambar 1.4 dan jugahasil wawancara yang dilakukan dengan hasil masih banyaknya masyarakat yangmengartikan “SS”fm sebagai “Suara Sakti”, “Suara Semarang” atau bahkan “SpesialSambal”Berdasaarkan masalah yang telah dirumuskan, maka terbentuklah beberapatujuan yang harus dicapai, yaitu memperkenalkan SSfm sebagai radio anak muda diSemarang dan meningatkan awareness anak muda di Semarang terhadap radio SSFMISIUntuk mengetahui dimana posisi tingkat awareness anak muda Semarangterhadap SSFM diperlukan riset terlebih dahulu. Secara harfiah, Awareness berartikesadaran. Sedangkan BrandAwareness itu sendiri adalah kemampuan dari seseorangyang merupakan calon pembeli (potential buyer) untuk mengenali (recognize) ataumenyebutkan kembali (recall) suatu merek merupakan bagian dari suatu kategoriproduk ( Aaker, 1991: 61). Menurut riset yang kami peroleh, SSFM masih berada ditahapan “Unaware of a Brand”, melalui sebuah program kegiatan, kami bertujuanuntuk menaikkan SSFM pada tahapan “Brand Recognition”.Kegiatan promosi ditujukan untuk mempersuasi audiens dalam mempelajarisebuah informasi baru, mengubah emosi, atau untuk bertindak sedemikian rupa.Istilah dan penggunaan persuasi dilakukan demi menghasilkan beberapa perubahandalam aspek kognitif,afektif dan perilaku target audiensi.Teori ini terkait usaha organisasi membujuk audiens untuk mempelajariinformasi baru, mengubah emosi atau untuk bertindak sedemikian rupa. Lattimore,dkk. menggunakan istilah berikut dalam bicara tentang persuasi (2010: 55):1. Kesadaran (awareness) : menerima informasi pertama kali,2. Sikap (attitude) : kecenderungan untuk suka atau tidak suka terhadap sesuatu,83. Keyakinan (beliefs) : penilaian tentang benar atau salahnya sesuatu,4. Perilaku (behavior) : sebuah aksi yang dapat diamatiProgram SSFM yang merupakan sebuah rangkaian kegiatan menjadikan teoripersuasi sebagai landasannya dimana istilah-istilah dalam teori tersebut disesuaikandengan setiap kegiatan yang akan dilakukan sehingga nantinya dapat mencapai tujuanawareness hingga behaviour.Safety riding diperuntukkan bagi istilah awareness atau kesadaran, yang menjadikegiatan awal untuk membuka diri, memberikan informasi pertama kali, sertamemperkenalkan SSFM kepada siswa SMA. Kegiatan ini mencoba untuk menarikperhatian siswa SMA untuk berpartisipasi dan dapat menyebarluaskan informasimengenai radio SSFM dengan cara memberikan edukasi mengenai cara berkendaramotor yang benar dan mematuhi rambu lalu lintas melalui games-games /kompetisimenarik yang diselipkan berbagai macam informasi tentang radio SSFM yangdiharapkan dapat menyentuh mereka secara emosional, sehingga melalui kegiatan iniinformasi dapat diterima oleh target secara baik dan dapat memberikan penilaiantentang radio SSFM sekaligus menjadi sebuah pengalaman bagi mereka yang sulitdilupakan dan akhirnya dapat diceritakan pada orang lain. Selain itu hasil yangdidapatkan bukan hanya para siswa yang menjadi lebih mengenal SSFM secara baik,namun para siswa juga jadi tahu bagaimana cara berkendara yang aman, dan merubahpola berkendara mereka.Untuk mendekatkan diri pada target yang merupakan anak muda, kita harusmencaritahu isu apa yang sedang marak dikalangan anak muda. Isu yang kamidapatkan adalah seputar kecelakaan yang banyak terjadi pada anak muda karenakurangnya keamanan dalam berkendara. Dengan mengangkat isu sosial tersebut,secara tidak langsung sudah menimbulkan kepedulian terhadap mereka. Dengankepedulian tersebut diharapkan respon positif yang didapatkan dan melalui kegiatanyang langsung mengajak mereka untuk praktek bersama memberikan sebuahpengalaman tersendiri sehingga dalam perasaan nyaman tersebut, mereka dapatmenerima informasi dengan baik.Radio SSFM sebagai radio yang inspiring, menjadi salah satu alasan mengapakegiatan ini menjadi tools yang digunakan. Diharapkan SSFM dapat menginspirasianak muda bahwa aman berkendara adalah hal yang keren. Dalam hal ini dapatmenciptakan image bahwa radio SSFM merupakan radio anak muda yang peduli padaanak muda.Dari teori-teori yang telah kami paparkan di atas, mendasari terbentuknyastrategi kegiatan yang akan kami lakukan. Melalui strategi experience yang kamianggap dapat membantu penyerapan informasi pada target.Dalam pelaksanaan kegiatan yang melibatkan kegiatan sekolah akanmenggunakan strategi experience yang dianggap efektif untuk mencapai tujuan.Strategi tersebut dipilih karena memungkinkannya terjadi interaksi dengan targetaudience dalam kondisi yang nyaman dan menyenangkan sehingga mampumemberikan pengalaman menarik dan kesan baik terhadap Radio SSFM, sesuaidengan karakter psikografis target audiens yang suka tantangan dan suka hal baruakan memungkinkan informasi diserap secara maksimal. Strategi experience ini juga9memberikan pengalaman langsung kepada target audiens mengenai program SSFM.Dengan keterlibatan audiens diharapkan mampu menciptakan kesan menyenangkansehingga akhirnya mereka merasa penasaran dan mencoba untuk mendengarkanSSFM. Kegiatan utama yang dilakukan adalah Assik ala SSFM (Aman SelamatSaat Naik Kendaraan ala SSFM). Semua kegiatan ditujukan kepada target audiensprimer dan sekunder dengan tujuan yang sama.Assik ala SSFM akan digunakan SSFM sebagai tools untuk terjun langsung disekolah. Dengan memberikan edukasi mengenai cara berkendara yang baik dan benardan dikemas dengan permainan-permainan yang menarik dan berhubungan denganfeatures dari radio SSFM. Kegiatan ini dilakukan sebagai proses untuk memasukaninput berupa informasi atau pengetahuan mengenai radio ssfm dan juga edukasimengenai cara berkendara yang baik dan benar, input ini diproses secara menarikdengan permainan-permainan seru yang diikuti siswa-siswa tersebut sehinggamenciptakan mood yang menyenangkan dan dapat dengan mudah untuk menerimainformasi mengenai ssfm. Didalam permainan tersebut dimasukan features dari SSFMbaik dari tagline, frekuensi, dan informasi lainnya, dalam edukasi mengenai safetyriding akan dikemas secara menarik dan interaktif. Untuk memperkuat ingatanmereka mengenai informasi ini, kami juga menambahkan gimmick yang akandiberikan kepada siswa berupa helm SNI, masker motor, sarung tangan berkendara,stiker, gantungan kunci sepeda motor, dan hadiah uang tunai, dengan tujuan siswayang berkendara yang baik akan dianggap sebagai anak Assik SSFM. Output yangdiharapkan adalah berupa awareness yang dimiliki siswa-siswa sma yang terlibatdidalam kegiatan tersebut meningkat, baik dalam pengetahuan mengenai radio SSFMmaupun behaviour mereka dalam berkendara.Dalam pemeragaan cara berkendarayang baik dan benar dilakukan oleh tim dari SSFM “Laskar Kawi”, didalamnya jugaterdapat komptisi-kompetisi menarik seputar berkendara dan hal-hal ang behubungandengan SSFM. Tentunya dalam sebuah kompetisi, pemenang akan mendapatkanhadiah. Hadiah yang kami siapkan dalam satu sekolah berjumlah Rp. 1.052.000,00yang akan dibagi menjadi 21 hadiah. Sistematika pemilihan sekolah dilakukan olehklien yang menurut mereka sekolah tersebut termasuk sasaran utama target dari radioSSFM.Kegiatan Assik ala SSFM ini memerlukan promosi dan publikasi untukmenginformasikan khalayak khususnya siswa SMA untuk mengetahui kegiatan yangakan dilakukan dan menunjukkan SSFM kepada anak muda Semarang sebagai radiodengan segmentasi anak muda. Strategi publikasi yang dilakukan meliputi mediamassa/ publik serta media luar ruang yang digunakan sebagai publikasi kegiatan yaituRadio, dan media online.Sebagai Program director, yang berperan cukup penting dalampenyelenggaraan sebuah event karena program director mempunyai tugas utamabertanggung jawab dalam menyusun konsep, menangani alur acara dalam sebuahevent, menyusun rundown, serta bertanggung jawab terhadap acara secarakeseluruhan. Program director bertanggung jawab pula dalam menghubungi pengisiacara yang digunakan pada event. Pada pelaksanaan kegiatan “Assik Ala SSFM”detail tugas program director meliputi Membawahi stage managemen, stage crew danfloor crew, Bertanggung jawab terhadap kelangsungan acara keseluruhan, Menyusunkonsep acara, Menyusun rundown acara, terutama ketepatan waktu acara agar tidakterjadi kekosongan dan kemoloran, Bertanggung jawab dan menjalin hubungandengan para pengisi acara (talent).10Pada saat pelaksanaan kegiatan, tugas Program Director adalah bertanggungjawab terhadap kelangsungan pelaksanaan kegiatan serta kegiatan kepanitiaan,Memastikan acara berlangsung sesuai dengan konsep, Berkoordinasi dengan divisilainnya (Project Officer, Production Manager, Bussiness Manager, Operationalmanager, dan Comunication Manager), Koordinasi talent, Mengawasi pembagiankonsumsi peserta dan distribusi konsumsi talent, Bertanggung jawab atas Distribusihadiah, Melakukan evaluasi dengan Tim Pelaksana, Membuat laporan pertanggungjawaban kepada pihak sponsor dan Radio 105.2 SSFM, Membuat laporan kegiatan.PENUTUPTujuan dari aktivitas PR adalah untuk mempengaruhi perilaku, tanpa melupakanbahwa hal ini juga berarti ada kemungkinan terjadinya perubahan organisasi maupunpublik. Ada dua syarat utama untuk menjawab pertanyaan tersebut, yaitu denganinformasi yang didapatkan melalui riset dan analisis yang mendalam. Informasitersebut kemudian digunakan untuk mengidentifikasi prinsip-prinsip dan kekuatanutama dari program tersebut yang disebut dengan strategi.Kedua syarat tersebut sudah dilakukan yang kemudian terciptalah programkegiatan ”ASSIK ALA SSFM”. Dalam penilaian tercapainya tujuan dari program inidiperlukan adanya evaluasi. Evaluasi adalah suatu proses untuk memantau danmenguji, serta merupakan analisis terhadap hasil akhir dari suatu kampanye atauprogram. (Anne Gregory; 139; Perencanaan dan Manajemen Kampanye PublicRelations; 2004)Pesan atau informasi yang ada dalam sebuah brand akan tersampaikan denganmaksimal apabila audiens terlibat secara langsung dan memperoleh experiencedengan mood yang baik didalam sebuah kegiatan yang diadakan. Menurut TomDuncan, cara ampuh menyampaikan pesan sebuah brand adalah dengan mengajakpelanggan dan pelangggan potensial untuk terlibat langsung dalam sebuah event.Event dapat membuat pelanggan dan pelanggan potensial untuk merasakan sendiri(memberikan experience kepada pelanggan) produk dari suatu organisasi atauperusahaan. Dengan dasar inilah akhirnya event “ASSIK ala SSFM” diselenggarakan.(Tom Duncan; The principles of Advertising and IMC; 2005)Secara konseptual, event yang menjadi public relations tools ini merupakancara yang efektif untuk mampu memberikan proses interaksi kepada audiens sehinggamenciptakan opini publik sebagai input yang menguntungkan kedua belah pihak danmenanamkan pengertian, menumbuhkan motivasi dan partisipasi publik, bertujuanmenanamkan keinginan baik, kepercayaan saling adanya pengertian dan citra yangbaik dari audiens.Melihat masih rendahnya awareness anak muda Semarang terhadap Radio105.2 SSFM berdasarkan hasil riset yang telah kami lakukan, maka timpenyelenggara bersama pihak manajemen menyelenggarakan sebuah kegiatan yangdimaksudkan untuk memperkenalkan Radio 105.2 SSFM kepada anak mudaSemarang khususnya pelajar SMA/SMK, karena menurut Guy Materman dan EmmaH. Wood, event digunakan untuk mengkomunikasikan tentang produk, merk, ide atauorganisasi dengan target khalayak tertentu. Dengan dasar inilah event “ASSIK alaSSFM” diselengggarakan. (Guy Materman & Emma H. Wood; Innovative MarketingCommunication: Strategies for Events Industry; 2006)Tujuan yang diinginkan oleh Radio SSFM pun dapat dicapai melalui eventASSIK ala SSFM meningkatnya awareness anak muda khususnya siswa SMA/SMKdapat mengenal SSFM dengan baik, event ini juga menerima respon positif darimasyarakat melalui publikasi yang baik.11Secara garis besar event sebagai tools PR dalam IMC pada event “ASSIK alaSSFM” terlakasana dengan baik dan sesuai dengan tujuan yang diharapkan.Peningkatan yang signifikan dalam hal awareness target audiens terhadap radioSSFM terlihat jelas dari parameter di atas. Menurut teori yang terdapat dalam latarbelakang, Dalam teori segitiga awareness menurut Aaker dalam bukunya “ManagingBrand Equity; Capitalizing on the Value of Brand Name” radio SSFM yangsebelumnya terletak pada tahapan unaware of a brand, saat ini dapat dikatakan beradapada brand recognition dimana target audiens dapat mengingat dan menyebutkankembali informasi yang telah disampaikan selama event berlangsung.KESIMPULANKegiatan “ASSIK Ala SSFM” berhasil dilakukan. Seluruh tujuan dari kegiatanini dapat dicapai dan di evaluasi dengan baik. Hubungan kerja sama antara pihakpenyelenggara, klien, sponsorship seperti Astra Motor Semarang (Honda), AEOC,INKRAFT, Rinjani View, serta media lainnya pun berjalan dengan baik.Pemilihan venue dan perijinan untuk event dapat mengenai sasaran, dan jugaevent ini juga dapat menerpa target audiens lainnya yang tidak tersentuh oleh eventtersebut melalui social media.SARANUntuk mengadakan sebuah event yang menyasar pada anak muda khususnyapelajar SMA/SMK di kota Semarang, perlu adanya survey dan riset yang lebihmendalam mengenai Sekolah yang dituju. Riset / survey sebaiknya dilakukan denganwawancara karena metode pengisian angket / questioner kurang efektif dan validuntuk hasil yang diharapkan.12DAFTAR PUSTAKAAaker, David. 1991. Managing Brand Equity; Capitalizing on the Value of BrandName. New York : Free Press(http://www.scribd.com/doc/76703520/Managing-Brand-Equity)Duncan, Tom. 2005. The Principle of Advertising and IMC. New York : McGraw HillGregory, Anne. 2004. Perencanaan dan Manajemen Kampanye PublicRelations. Jakarta : ErlanggaKasali, Rhenald. 2009. Manajemen Public Relation Konsep danAplikasinya di Indonesia. Jakarta : GrafitiLattimore, Dan., Otis Baskin., Suzette T.Heiman & Elizabeth L.Toth.(2010). Public Relations : Profesi & Praktik. Jakarta : SalembaHumanika.Masterman, Guy & Wood, Emma. 2006. Innovative Marketing Communication,Strategies for the Events Industry. United Kingdom : Butterworth HeinemannPeter, J Paul dan Olson, Jerry C. 1996. Customer Behaviour andMarketing Strategy. 4th Edition. New York : McGraw Hill Co.http://hariansemarangbanget.blogspot.com/2012/04/pengendara-motor-dominasikecelakaan.html
Brand Activation Batik Semarangan melalui Event “Cah Semarang Duwe Batik” Ilham Bayu Prasetyo; Djoko Setiabudi; Nurist Surayya Ulfa
Interaksi Online Vol 1, No 4: Oktober 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (230.681 KB)

Abstract

Nama : Ilham Bayu PrasetyoNIM : D2C008089Judul : Brand Activation Batik Semarangan melalui Event“Cah Semarang Duwe Batik”AbstrakKoperasi Sekar Arum sebagai sebuah lembaga koperasi dibawah naungan TP – PKK Kota Semarang yang salah satunya fokus terhadap batik semarangan, tentu harus dapat melestarikan dan mengembangkan produk batik semarangan sehingga dapat menjadi produk andalan dari Kota Semarang. Akan tetapi terjadi permasalahan dimana produk batik semarangan ini belum banyak dikenal oleh warganya sendiri khususnya para generasi muda yaitu pelajar di Kota Semarang.Melalui pendekatan IMC, promotion mix, marketing communication, dan AIDDA, strategi Brand Activation menjadi kegiatan komunikasi pemasaran batik semarangan yang efektif dalam meningkatkan awareness dan minat terhadap batik semarangan.Dengan mengambil tema kegiatan “Cah Semarang Duwe Batik” dengan tagline acara “Fit on Youth”, acara dikemas dengan tujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan minat pelajar di Kota Semarang terhadap batik semarangan. Acara ini diisi dengan kegiatan utama pelatihan batik dengan nama “Melu Mbatik” dan pertunjukan musik akustik dengan nama “Batikustik” dimana peserta diwajibkan mengenakan batik pada saat tampil diatas panggung. Dan pada akhir dari event, dibentuk Komunitas Batik Semarangan sebagai kegiatan PR denga tujuan untuk menimbulkan efek yang berkelanjutan.Melalui kegiatan brand activation ini, diharapkan pengetahuan para pelajar SMA dan sederajat di Kota Semarang sebagai target audien terhadap batik semarangan dapat meningkat, sehingga menumbuhkan rasa memiliki dan minat untuk melestarikan batik semarangan.Berdasarkan hasil riset post event, sebanyak 41% target audien sudah tidak lagi menganggap batik itu mempunyai kesan kuno, meningkat sebesar 28% dari sebelumnya 13%. tingkat pengetahuan target audien mengenai batik semarangan meningkat sebesar 52%, dari semula yang hanya 17% menjadi 69%. Sementara itu yang menyatakan tertarik untuk memakai batik semarangan sebesar 32%,. Hal ini menunjukkan peningkatan sebesar 15% dari sebelum event dilaksanakan.Kata Kunci : brand activation, batik semarangan, event, IMC, AIDDA, marketing communication, “Cah Semarang Duwe Batik”.Nama : Ilham Bayu PrasetyoNIM : D2C008089Judul : Batik Semarangan Brand Activation through “Cah SemarangDuwe Batik” Event.AbstractKoperasi Sekar Arum as an organization below the authority of Semarang‟s TP – PKK which one of their focus is Semarangan‟s batik, they have to conserve and develop Semarangan‟s batik into one of the top notch product from Semarang. Nevertheless the problem of Semarangan‟s batik is not so well known in its own city especially between the youth or the student in Semarang.Through IMC, promotion mix, marketing communication and AIDDA approaches, Brand Activation strategy become effective marketing communication for Semarangan‟s batik in order to raise awareness and also gain the interest in Semarangan‟s batikWith “Cah SemarangDuwe Batik” as our event‟s theme and “Fit on Youth” as our event‟s tagline, this event is set to increase knowledge and interest for Semarangan‟s batik between the student in Semarang. This event is consist several activities such as, the main activity is teaching student how to draw batik which called “MeluMbatik” and also acoustic music performance named “Batikustik” which every contestant required to wear batik when they were performing on stage, and in the end of the event they KoperasiSekar Arum established Semarangan‟s Batik Community as a PR activity that aimed to get the continuous effect.Through this brand activation event, it is expected the knowledge of student especially high school in Semarang as a target audience may enhanced, so they will have sense of belonging into Semarangan‟s batik and also to conserve it.Refer to post event research result, 41% of target audience is not perceived Semarang‟s batik is old fashioned anymore, raised 28% from 13 % on early research. Level of knowledge of the target audience about Semarangan‟s batik enhanced 52% from the previous research is 17% to 69%. Meanwhile, target audience who stated that they wants to use Semarangan‟s batik is 32%, this data shows that there are 15% gain according from the previous research.Key Word : brand activation, batik semarangan, event, IMC, AIDDA, Marketing Communications, “Cah Semarang Duwe Batik”Brand Activation Batik Semaranganmelalui Event “Cah Semarang Duwe Batik”(Program Manager)Karya BidangDisusun untuk memenuhi persyaratan menyelesaikanPendidikan Strata 1Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu PolitikUniversitas DiponegoroPenyusunNama : Ilham Bayu PrasetyoNIM : D2C008089JURUSAN ILMU KOMUNIKASIFAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIKUNIVERSITAS DIPONEGOROSEMARANG2013PENDAHULUANBatik semarangan adalah batik khas dari Semarang yang mempunyai corak dan motif yang unik dan mempunyai ciri khas tersendiri berupa ikon-ikon kota semarang, dan bersifat natural atau pesisiran. Batik semarangan mempresentasikan tentang Kota Semarang baik flora, fauna, ikon-ikon Kota Semarang seperti ukiran di gedung-gedungnya, atau lawang sewu yang menjadi ciri khas kota, tugu muda, legenda-legenda, serta kuliner yang ada di Semarang, dan biasanya ada motif daun asem sebagai ciri khasnya. Ragam corak dan warna batik semarangan banyak dipengaruhi oleh budaya asing. Pada awalnya, batik semarangan yang memiliki ragam corak tradisional dan warna yang terbatas terpengaruh oleh kebudayaan asing yang dibawa oleh para pedagang asing dan juga para penjajah.Popularitas batik kembali muncul setelah UNESCO menetapkan batik sebagai salah satu budaya yang ada di Indonesia, berbagai fashion yang bertema batik bermunculan, masyarakat Semarang sadar akan budaya batik yang sedang menjadi tren. Walaupun popularitas batik sedang meningkat, akan tetapi kesadaran mereka akan adanya batik semarangan dan minat untuk memakai batik masih rendah. Popularitas batik semarangan sendiri masih kalah dengan batik di kota lain, hal ini diakibatkan karena apresiasi masyarakat kota semarang terhadap batik semarangan masih rendah. Masyarakat kota Semarang cenderung lebih memilih batik dari luar Semarang seperti Batik Pekalongan, Batik Yogyakarta maupun Batik Solo.Fenomena tren batik yang sedang berkembang di Kota Semarang tidak diimbangi dengan peningkatan kesadaran masyarakat akan adanya batik semarangan, sehingga minat mereka untuk memakai batik semarangan sebagai apresiasi terhadap Budaya KotaSemarang pun belum muncul. Padahal disamping itu, batik akan menjadi budaya di suatu masyarakat apabila masyarakat tersebut mengenakan batik di setiap hari mereka berkegiatan. Akan tetapi pada kenyataanya batik masih dipakai pada saat tertentu yang bersifat formal. Misal pada saat menghadiri pesta pernikahan, acara resmi yg lain, Atau pada hari jumat untuk instansi pemerintahan. Itupun kareda ada aturan pemerintah. Hal ini menyebakan penjualan batik semarangan mengalami penurunan dalam kurun waktu beberapa bulan terakhir.Budaya Fashion yang menjadi tren di kalangan pelajar karena mereka mengacu kepada artis idola mereka, sebagai contohnya, misal budaya K-pop yang sedang populer saat ini. Dari gaya berpakaian, para pelajar akan menirukan gaya berpakaian idola mereka, mengenakan fashion bergaya korea, karena tren budaya yang sedang hype mempunyai kesan modern dan up to date sedangkan batik menurut mereka masih sebagai fashion yang kuno, Dari masalah tesebut dapat dikatakan bahwa pelajar masih mencari identitas dirinya dan membutuhkan role model sebagai acuan mereka untuk menghilangkan kesan kuno yang selama ini melekat pada batik.Banyak pelajar SMA di Semarang yang tidak mengetahui adanya batik semarangan. Tidak mengetahui ciri-cirinya, contoh motifnya, harga, serta tempat dimana bisa membeli batik semarangan. Budaya batik yang masih terkesan kuno di kalangan pelajar menyebabkan rendahnya kesadaran dan pengetahuan mereka terhadap batik khususnya batik semarangan. Hal ini dibuktikan dengan riset yang telah peneliti lakukan pada bulan April 2013 bahwa 87% responden masih menganggap bahwa batik itu terkesan kuno dan mereka tidak mau memakainya, 17% responden tidak aware terhadap batik semarangan, 79% responden tidak mempunyai minat terhadap batik semarangan.Masih rendahnya kesadaran pelajar terhadap batik semarangan tersebut berakibat pada rendahnya popularitas batik semarangan apabila dibandingkan dengan batik-batik dari kota lain. Hal ini berdampak pada menurunnya penjualan batik semarangan. Maka dari itu, Karya Bidang ini berfokus untuk mempromosikan batik semarangan yang bertujuan untuk meningkatkan awareness serta minat pelajar terhadap Batik Semarangan kepada pelajar SMA di Kota Semarang dengan melakukan kegiatan “ Cah Semarang Duwe Batik dengan tagline FIT ON YOUTH dengan pendekatan brand ActivationISIDengan menggunakan pendekatan brand activation yang didukung oleh teori Komunikasi Pemasaran, AIDDA, IMC, dan komunitas dan berifat Experiental Event Marketing agar para audiens dapat sepenuhnya terlibat dengan produk yang dipasarkan.Salah satu cara efektif dalam menyampaikan pesan sebuah brand adalah melalui pendekatan brand activation. Brand activation adalah salah satu bentuk promosi merek yang mendekatkan dan interaksi merek dengan penggunanya melalui aktivitas pertandingan olahraga, hiburan, kebudayaan, sosial, atau aktifitas publik yang menarik perhatian lainnya.Brand activation merupakan aktifitas dua arah yang dilakukan suatu brand untuk berinteraksi lebih dekat dengan target market, atau target audiens. Berbeda dengan aktifitas iklan, baik lini atas maupun lini bawah, aktifitas yang terjadi hanyalah satu arah. Salah satu bentuk pendekatan brand activation adalah event marketing activity. Dalam penelitiannya, Duncan menjelaskan bahwa, “event marketing is a significant situation orpromotional happening that has a central focus and chapters the attention and involvement of the target audiens”Pendekatan brand activation merupakan aktifitas komunikasi pemasaran yang harus tetap didukung dengan aktifitas komunikasi pemasaran lainnya, seperti publikasi, kegiatan public relations, sales promotion, publisitas dan tools promosi lainnya. Brand activation merupakan jawaban atas konsep promosi modern karena dapat meningkatkan brand awareness dan mengangkat citra dari suatu brand. Strategi ini dirasa efektif dalam membangun sebuah brand karena brand activation adalah salah satu bentuk promosi brand yang mendekatkan dan membangun interaksi brand dengan penggunanya melalui aktivitas pertandingan olahraga, hiburan, kebudayaan, sosial, atau aktivitas publik yang menarik perhatian lainnya (Shimp, 2003:263).Selain itu dalam perspektif membangun brand awareness, brand activation mempunyai banyak peluang untuk mencapai keberhasilan. Ini karena event pada dasarnya diselenggarakan dalam kemasan yang menarik dan untuk menciptakan suasana hati yang santai dan menyenangkan. Pada saat itulah orang lebih mudah menerima pesan persuasi yang disampaikan pemilik merek (Shimp, 2003:263).Peneliti ingin menyelenggarakan kegiatan yang bertema “ Cah Semarang Duwe Batik” dengan tagline “ Fit On Youth”. Penyelenggara mengambil tema “ Cah Semarang Duwe Batik” dengan tujuan untuk menumbuhkan rasa memiliki para generasi muda khususnya pelajar SMA di Kota Semarang untuk melestarikan batik salah satunya dengan cara memakainya. Tagline „ Fit On Youth” berarti ingin menyampaikan pesan bahwa batik itu cocok untuk para generasi muda khususnya paa pelajar untuk menjadi fashion mereka dan bertujuan untuk menghilangkan kesan kuno batik. Tujuan kegiatan “ Cah SemarangDuwe batik” sendiri bertujuan untuk menghilangkan kesan kuno batik, meningkatkan awareness batik Semarangan, dan meningkatkan minat terhadap Batik Semarangan salah satunya dengan cara memakainya dan tujuan tersiernya adalah untuk meningkatkan penjualan Batik Semarangan di kota Semarang.Kegiatan Brand Activation Batik Semarangan dikemas dengan konsep yang menarik karena target audiens dari kegiatan ini adalah pelajar di kota Semarang serta membawakan role model yang bertujuan untuk dijadikan panutan bagi mereka untuk mengenakan batik sehingga bisa menghilangkan kesan kuno batik di generasi muda.Role Model yang dibawakan pada kegiatan “ Cah Semarang Duwe Batik” adalah Jazz Ngisoringin yang mempunyai banyak penggemar di Kota Semarang khususnya para generasi Muda Kota Semarang yang menjadi target audiens dari kegiatan “ Cah Semarang Duwe Batik”.Acara “Cah Semarang duwe Batik” yang dilaksanakan selama 3 hari yaitu pada tanggal 26, 27 dan 28 Juli 2013 mempunyai konsep acara sebagai berikut :a. Melu mbatikMelu mbatik merupakan ajang bagi pengunjung acara yang ingin mencoba belajar batik pada kain batik sepanjang 1x1 meter yang telah tergambar pola batik semarangan, yang disediakan oleh panitia dan telah didampingi oleh para pengrajin batik yang sudah berpengalaman dan ahli dari Koperasi Sekar Arum.b. Galeri Batik SemaranganGaleri Batik Semarangan merupakan sarana bagi para perajin batik untuk mempromosikan produknya, selain melakukan penjualan dengan memberikan diskonkhusus, perajin tersebut juga akan membimbing paserta “melu mbatik” mengenai cara dan langkah-langkah yang baik dalam membuat batik.c. BatikustikBand SMA merupakan sarana untuk mengekspresikan jiwa seni pelajar SMA. Diharapkan dengan para pelajar akan dapat lebih mengapresiasi budaya batik sebagai budaya yang tidak lagi kuno. Parade band ini bertema akustik, dan mengenakan batik pada saat pentas.d. Batikustik Jazz Ngisoringin.Jazz Ngisoringin yang menjadi band yang sudah populer di Kota Semarang bisa menjadi role model pelajar SMA bahwa batik itu tidak berkesan kuno.e. Wisata AirPengunjung yang datang pada kegiatan tersebut, selain dapat mengunjungi booth pameran yang disediakan oleh panitia juga dapat menikmati wahana wisata air dan keindahan sungai banjir kanal.f. Komunitas Cah Semarang Duwe BatikSetelah kegiatan terlaksana, akan dibentuk sebuah komunitas “Cah Semarang Duwe Batik” yang beranggotakan para pelajar SMA di Kota Semarang. Komunitas ini bertujuan untuk mengenalkan batik semarang kepada teman-teman di sekolahnya, teman-teman di luar sekolah ataupun keluarga mereka. Komunitas ini dibentuk sebagai wujud kepedulian mereka untuk terus melestarikan kebudayaan memakai batik khususnya batik semarangan, sehingga budaya memakai batik akan semakin meningkat dan akan menghilangkan kesan kuno yang selama ini melekat pada batik sehingga keberadaan batik semarangan akan tetap terjaga.“Cah Semarang Duwe Batik” adalah rangkaian event yang berisi kegiatan untuk memperkenalkan batik semarangan, mengenai jenis-jenis motifnya, serta tempat dimana bisa membeli batik semarangan. Selain itu melalui event ini pihak Koperasi Sekar Arum dapat melihat kondisi target audiens secara langsung, bagaimana antusias audien mengikuti rangkaian kegiatan dapat menjadi pacuan dalam memperluas pasarnya kepada target pasar yang dituju, yaitu pelajar SMA di Semarang.Berdasarkan hasil riset, tingkat pengetahuan target audien mengenai Batik semarangan meningkat sebesar 52%, dari semula yang hanya 17% menjadi 69%. Hal tersebut melampaui target yang ditentukan sebelumnya, yaitu sebesar 50%. Untuk peningkatan minat batik naik sebesar 15% dan telah melampaui target yang sebelumnya hanya 13% dan akhirnya minat batik menjadi 36%.Komunitas “Cah Semarang Duwe Batik” dibentuk setelah kegiatan dilakuan, tujuan dari komunitas ini adalah sebagai wujud kepedulian mereka untuk terus melestarikan kebudayaan memakai batik khususnya batik semarangan, sehingga budaya memakai batik akan semakin meningkat dan akan menghilangkan kesan kuno yang selama ini melekat pada batik sehingga keberadaan batik semarangan akan tetap terjaga.Komunitas “Cah Semarang duwe Batik” mempunyai kartu tanda anggota sebagai kartu pengenal keanggotaan dan berfungsi juga sebagai kartu untuk memperoleh potongan harga di toko batik yang sudah ditunjuk oleh panitia dan juga mempunyai katalog yang dipegang oleh masing-masing anggota yang berguna untuk mempromosikan batik semarangan kepada teman-temannya di sekolah. Evaluasi mengenai jalannya acara dapat dilihat pada indikator berikut ini :a. Tujuan komunikasi awal tercapai dengan baik, yaitu untuk meningkatnya awareness dan minat audien terhadap batik semarangan, terbukti dengan terbentuknya Komunitas “Cah Semarang Duwe Batik” di beberapa SMA di Kota Semarang.b. Proses loading-in dan loading-out, serta jalannya acara secara keseluruhan berjalan lancar sesuai dengan rundown yang telah dibuat.c. Jumlah peralatan dan perlengkapan terpenuhi, meskipun ada beberapa perlengkapan yang belum lengkap pada saat persiapan, akan tetapi hal tersebut dapat diatasi pada hari pertama pelaksanaan acara.e. Segala bentuk publikasi terdistribusi dan terpasang dengan baik.f. Terbinanya hubungan baik dengan pihak-pihak yang terlibat dalam acara “Cah Semarang Duwe Batik” seperti Koperasi Sekar Arum, LEMPPAR, dan sekolah-sekolah yang berpartisipasi.g. Anggaran dana yang dibutuhkan dapat terpenuhi dan didapatkan dari sponsorship, dan mendapatkan surplus sebesar Rp. 3.130.000,-h. MC sepanjang jalannya acara menyampaikan pesannya dengan baik, memaparkan informasi secara persuasif, sehingga audien lebih tertarik dan dapat mengingat pesan yang disampaikan.PENUTUPDalam bab ini, dijelaskan mengenai implikasi yang terjadi atau ditimbulkan dari penyelenggaran event “Cah Semarang Duwe Batik” yang bertujuan untuk memperkenalkan batik semarangan serta saran yang dapat digunakan untuk keberhasilan penyelelnggaraan event serupa berikutnya.KesimpulanDari seluruh rangkaian acara “Cah Semarang Duwe Batik” yang telah dilaksanakan dan pembahasan yang dilakukan, dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut :a. Strategi dengan menyelenggarakan experiental event marketing dan berinteraksi secara langsung kepada target audien serta menampilkan role model menjadi cara yang efektif umtuk menghilangkan kesan kuno batik sebanyak 28%, dari semula 13% meningkat menjadi 41% yang menganggap bahwa batik tidak lagi terkesan kuno berdasarkan riset yang dilakukan setelah event.b. Kegiatan promosi melalui event “Cah Semarang Duwe Batik” berhasil meningkatkan awareness target audien tentang batik semarangan sebesar 52% serta meningkatkan minat sebesar 15% berdasarkan riset yang dilakukan setelah event.c. Kegiatan promosi melalui event “Cah Semarang Duwe Batik” berhasil meningkatkan minat warga Kota Semarang untuk melakukan pembelian pada saat kegiatan berlangsung, hal ini dibuktikan dengan total penjualan batik semarangan selama kegiatan total sebesar Rp. 9.150.000d. Dalam publikasi event “Cah Semarang Duwe Batik”, 50% responden mengetahui acara “Cah Semarang Duwe Batik” melalui media poster yang dipasang.e. Dari 100 orang yang dijadikan sebagai responden, 21% responden mengetahui event “Cah Semarang Duwe Batik” melalui flyer.f. Publikasi melalui social media, karena lingkaran sosial yang dimiliki oleh penyelenggara belum menjangkau target audien, sehingga publikasi belum menjangkau secara langsung kepada target audiens yang dituju, publikasi melalui social media hanya menjangkau 10,52 %.Dari kesimpulan yang telah dihasilkan, serta pengamatan terhadap jalannya rangkaian acara “Cah Semarang Duwe Batik”, berikut saran yang dapat dijadikan sebagai pertimbangan apabila diadakan kegiatan-kegiatan serupa pada waktu yang akan datang :a. Pemilihan akun social media sebagai komunikator sebaiknya menggunakan akun yang telah mempunyai lingkaran sosial yang sesuai dengan target audien yang hendak dituju.b. Sebelum melakukan kegiatan pemasaran, sebaiknya penyelenggara telah mendalami product knowledge tentang produk yang akan dipasarkan, sehingga terpaan informasi yang diterima target audien dapat menimblkan efek yang lebih besar.c. Masing-masing penerapan strategi publikasi media yang akan digunakan, sebaiknya diukur menggunakan perhitungan yang tepat untuk mengetahui strategi publikasi mana yang paling efektif umtuk mendukung kegiatan yang akan dilaksanakan.DAFTAR PUSTAKA1. BukuBelch, George, Michael A. Belch 2001. Advertising & Promotion: An integrated Marketing Communications Perspective, New York : McGraw Hill.Departemen Pendidikan Nasional Indonesia. (2008). Kamus Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa.Gunarsa, Singgih. (2008). Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Jakarta: BPK Gunung MuliaJack Z. and Bumba, Lincoln. (1996). Advertising and Media Planning, (5th ed.). USA: Ntc Bussines Books.Jasmadi (2008). Membangun komunitas online secara praktis dan gratis. Jakarta: Elex Media Komputindo.Kotler, Philip, Gary Armstrong. (2001). Prinsip-Prinsip Pemasaran Jilid 2. (Damos Sihombing. Alih Bahasa).Jakarta : Penerbit Erlangga.Laudon, Kenneth, Traver, and Carol Guercio (2003). E-commerce : business, technology, society. Addison-WesleyLittlejohn, Stephen W. (2009). Teori Komunikasi (Theories of Human Communication). Jakarta: Salemba Humanika Sissors,Setiadi, Nugroho J. (2003). Perilaku Konsumen: Konsep dan Implikasi untuk Strategi dan Penelitian Pemasaran. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.Shimp, Terence A. (2000). Periklanan Promosi: Aspek Tambahan Komunikasi Pemasaran Terpadu. Jilid I. (Revyani Syahrial. Terjemahan) Jakarta: Penerbit Erlangga.Siswanto, Fritz Kleinsteuber, (2002). Strategi Manajemen Pemasaran. Jakarta: Damar Melia Pustaka.Sulaksana, Uyung. (2003). Integrated Marketing Communication. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.Sutisna. (2001). Perilaku Konsumen & Komunikasi Pemasaran. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.Tjiptono, Fandy, dkk. (2007). Pemasaran Strategik. Yogyakarta: Penerbit Andi.2. Website :(Advertising and Promotion and Integrated Marketing Communications Perspective, http://hfs1.duytan.edu.vn/upload/ebooks/5183.pdf, diakses pada 21 Mei 2012).(Brand Activation by Paul Morel, Peter Preisler and Anders Nyström www.metro-as.no/pdf/fagartikler/Brand%20Activation.pdf. diakses pada 5 Mei 2012).
Hubungan antara Intensitas Terpaan Iklan Rokok dan Tingkat Konformitas Peer Group dengan Pengambilan Keputusan Merokok Dikalangan Mahasiswi Di Semarang Cantya Cantya Darmawan Purba Dewanta; Hedi Pudjo Santosa; Djoko Setiabudi
Interaksi Online Vol 2, No 1: Januari 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (330.727 KB)

Abstract

ABSTRAKJUDUL : Hubungan antara Intensitas Terpaan Iklan Rokok dan Tingkat Konformitas Peer Groupdengan Pengambilan Keputusan Merokok Dikalangan Mahasiswi Di SemarangNAMA : Cantya Darmawan Purba DewantaNIM : D2C009087Kenaikan jumlah perokok wanita yang termasuk di dalamnya adalah mahasiswi semakinmeningkat dari tahun ke tahun, hal ini terjadi karena beberapa factor, salah satunya adalahindustry rokok mulai membidik wanita sebagai sasaran pasarnya, selain itu mahasiswi lebihsering untuk bersama sama peer groupnya sebagai kelompoknya daripada menghabiskanwaktunya dirumah. Hal ini tentu saja akan mendorong mahasiswi untuk menganggap bahwamerokok merupakan hal yang biasa dilakukan, terlebih lagi teman-teman sebayanya jugaperokok.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana hubungan antara intensitasterpaan iklan rokok dan tingkat konformitas peer group dengan pengambilan keputusan merokokdikalangan mahasiswi di Semarang. Peneliti mencoba mewawancarai mahasiswi di Semarangsebanyak 40 orang untuk mengisi kuesioner penelitian untuk mengetahui hubungan antaraintensitas terpaan iklan rokok dan tingkat konformitas peer group dengan pengambilankeputusan mahasiswi perokok dimana dia memutuskan untuk terus merokok dan jugapengambilan keputusan merokok mahasiswi non-perokok dimana mereka memutuskan memulaimerokok atau tidak.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang positif antara terpaaniklan rokok dan tingkat konformitas peer group dengan pengambilan keputusan merokok dikalangan mahasiswi non-perokok di Semarang. Dengan Y1 sebesar 0.000 dan nilai koefisienkorelasi Kendall‟s W adalah 0,906 maka hubungan ketiganya dinyatakan positif dan sangatsignifikan. Dimana semakin tinggi terpaan iklan rokok dan semakin tinggi tingkat konformitaspeer group, maka semakin mendorong mahasiswi non-perokok untuk memulai merokok.Dan juga terdapat hubungan yang positif antara terpaan iklan rokok dan tingkatkonformitas peer group dengan pengambilan keputusan merokok di kalangan mahasiswi perokokdi Semarang. Dengan Y2 sebesar 0.000 dan nilai koefisien korelasi Kendall‟s W adalah 0,776maka hubungan ketiganya dinyatakan positif dan sangat signifikan. Dimana semakin tinggiterpaan iklan rokok dan semakin tinggi tingkat konformitas peer group, maka semakinmendorong mahasiswi perokok untuk terus merokok.Key words : Terpaan iklan, Peer group, Pengambilan keputusan, MerokokABSTRACTTITLE : Corelation Between Cigarette Advertising Exposure and Peer Group Level OfConformity With The Decision Of Smoking Among Female Smokers CollegeStudent In Semarang.NAME : Cantya Darmawan Purba DewantaNIM : D2C009087The number of women smokers were increasing from year to year, including the female college student,this happens due to several factors, one of that several factors is the cigarette industry started targetingwomen as a target market, furthermore most of female college students more frequently spend their timewith the same friend as a peer group rather than spend their time at home. It absolutely will encouragefemale college students to consider that smoking is a common thing to do, even more their peers are alsoa smoker.This research‟s goal is to determine how was the relationship between the intensity of cigaretteadvertising exposure and peer group level of conformity, with the decision of smoking, among the femalestudents in Semarang. Researcher tried to interview 40 female college students at Semarang, and askedthem to fill out a research questionnaire to determine how was the relationship between the intensity ofcigarette advertising exposure and peer group level of conformity with the decision of smoking, wherethey decided to keep smoking and also a non-smoker college student decided to start smoking or not.The results of this research shows that there is a positive relationship between cigarette advertisingexposure and peer group level of conformity with the decision of smoking among non-smokers collegestudent in Semarang. With Y1 of 0.000 and the value of the correlation coefficient Kendall's W is 0.906then the relationship of the three tested are positive and highly significant. Where the higher cigaretteadvertising exposure and the higher peer group level of conformity, so it pushes a non-smokers collegestudents to start smoking.And also there is a positive relationship between cigarette advertising exposure and peer group level ofconformity with the decision of smoking among smokers college student in Semarang. With Y2 of 0.000and the value of the correlation coefficient Kendall's W is 0.776 then the relationship of the three testedare positive and highly significant. Where the higher cigarette advertising exposure and the higher peergroup level of conformity, so it pushes a smoker college students to keep smoking continously.Key words: Exposure of advertising, Peer group, Decide, SmokingBAB IPENDAHULUANLatar BelakangMerokok sudah menjadi kebiasaan di masyarakat yang dianggap tidak berbahaya.Dewasa ini merokok merupakan hal biasa yang dilakukan oleh masyarakat. Tidak sulit bagi kitauntuk menemukan seseorang yang merokok, baik di dalam maupun diluar rumah.Merokok adalah membakar tembakau yang kemudian dihisap asapnya, baikmenggunakan rokok maupun menggunakan pipa (Sitepoe dalam Fatimah N, 2010: 1). Perilakuini bisa diamati melalui aktifitas subyek berdasarkan pengakuan mereka mengenai volume,frekuensi, tempat, waktu, dan fungsi merokok dalam kehidupan sehari-hari. Merokok sudahmenjadi kebiasaan tersendiri dalam masyarakat. Kegiatan ini bahkan telah menjadi suatukebutuhan bagi para pencandunya.Hal tersebut merupakan fenomena tersendiri karena setiap orang tidak dapat memungkiridampak negatif rokok. Tetapi dari tahun ke tahun jumlah perokok semakin meningkat, tingkatproduksi dan pemakaian rokok di dalam negeri terus meningkat (Danto,2010,http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2010/09/02/10292668/Industri.Rokok.Kian.Tak.Terbendung).Tabel 1.1Kenaikan Pasar Rokok NasionalJenis Rokok Kenaikan Di Tahun 2013Sigaret Kretek Tangan naik 4% menjadi 85 miliar batangSigaret Kretek Mesin Filter naik 2% menjadi 87 miliar batangSigaret Putih Mesin naik 5% menjadi 22 miliar batangSumber:anonim,2013,http://www.neraca.co.id/index.php/harian/article/23536/Nilai.Penjualan.Rokok.Nasional.Bakal.Capai.Rp.233.Triliun#.UUV0vTfotukKenaikan penjualan rokok tentu saja diikuti juga oleh naiknya jumlah perokok.Berdasarkan data dari World Health Organization tahun 2008, Indonesia menduduki posisiketiga di dunia setelah China dan India dengan jumlah perokok terbesar yakni lebih dari 68 jutapenduduk Indonesia. 4,8 persen dari 1,3 milyar perokok di dunia berasal dari Indonesia. Secarasosiologis bahkan kultural, masyarakat Indonesia adalah friendly smoking. Merokok dianggapsebagai budaya warisan, bukan sebagai masyarakat yang kecanduan.Kenaikan jumlah perokok aktif paling tinggi di kalangan perempuan remaja dan dewasa,lima kali lipat lebih dari 0,3% (2005) menjadi 1,6% (2010). Sedangkan pada laki-laki remajakenaikannya lebih dari dua kali lipat yaitu 14% pada 2005 menjadi 37% pada 2010. Dari dataWHO, rokok telah mengakibatkan kematian lebih dari 400 ribu orang per tahun di Indonesiasedangkan di dunia jumlah kematian adalah 5,4 juta atau satu kematian tiap 6,5 detik. Lebih dari80% perokok ada di negara sedang berkembang seperti Indonesia, dimana Riskesdas (RisetKesehatan Dasar) tahun 2010 menunjukkan prevalensi perokok adalah sebesar 34,7% (Antara,2012, http://www.regionaltimur.com/index.php/perokok-wanita-di-indonesia-naik-lima-kalilipat/).Peneliti juga menanyakan secara acak kepada 20 mahasiswi di semarang. Penelitimenanyakan “apakah anda merokok atau tidak?”. Hasil yang didapatkan adalah, diantara 20mahasiswi 14 diantaranya menjadi perokok aktif.Data yang diperoleh peneliti juga di dukung dengan data dari Dinas Kesehatan KotaSemarang pada tahun 2010 menyebutkan bahwa perokok anak atau remaja putri mencapai 4,0%dan perokok perempuan dewasa mencapai 4,5% dari jumlah penduduk kota semarang (Rika,2011.http://www.fkm. undip.ac.id/data/index.php?action=4&idx=4311).Dari tahun ke tahun jumlah perokok aktif semakin meningkat. Seseorang dipengaruhioleh dua faktor dalam menyikapi keberadaan suatu produk. Faktor tersebut terdiri dari pengaruhinternal dan eksternal. Pengaruh internal merupakan faktor dari dalam diri seseorang, sedangkanpengaruh eksternal dapat berupa komunikasi dengan media (komunikasi pemasaran), kelompokacuan, kelas sosial, budaya, dan sub budaya (Prasetijo, 2003: 165). Faktor keduanya inilah yangmempengaruhi tingkat pengetahuan seserorang tentang rokok dan mempengaruhi seseoranguntuk pertimbangannya dalam melakukan keputusan merokok.Analisis baru-baru ini tentang iklan rokok di Indonesia juga menekankan bahwa sejak2002 hingga saat ini sejumlah iklan merek rokok melibatkan perempuan, beberapa iklan rokokmenampilkan perempuan muda penuh gaya dan memberi pesan yang secara tersirat yangmembenarkan bahwa merokok untuk perempuan di era modern seperti sekarang ini sudah bisaditerima.Secara tidak langsung iklan rokok yang sering di tayangkan di televisi menunjukkanbahwa perempuan yang merokok terkesan keren, mewah, hura-hura, kelas sosial atas, keakraban,have fun, seru, pesta,dan gemerlap. Tentu saja terpaan iklan memberikan andil dalam mendorongseseorang yang terterpa oleh iklan tersebut tertarik untuk merokok.Diantara faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan merokok, selain iklan rokok jugafaktor teman sebaya juga mempunyai andil besar mempengaruhi remaja untuk mulai merokokataupun terus merokok. Seperti yang kita tahu bahwa mahasiswi lebih banyak menghabiskanwaktu dengan teman sebayanya dibanding dengan keluarganya. Khususnya bagi mahasiswi yangmerantau dari kota lain dan berkuliah di Semarang. Situasi ini lebih cenderung untuk membuatmahasiswi melakukan keputusan untuk memulai merokok bagi yang belum merokok ataupunterus merokok bagi yang sudah menjadi perokok, karena tingkat kebebasan yang tinggi danpengawasan orang tua yang kurang.Sikap mengenai rokok akan berbeda-beda bagi setiap mahasiswi tergantung dari seberapatinggi pengetahuan mahasiswi mengenai rokok. Secara sadar maupun tidak sadar seseorang akanmelakukan penginderaan lewat iklan yang menerpanya. Iklan merupakan pesan yangmenawarkan sebuah produk yang ditujukan kepada khalayak lewat suatu media yang bertujuanuntuk menciptakan pengetahuan dan mempersuasi khalayak agar mencoba dan akhirnyamembeli produk yang ditawarkan.Perumusan MasalahDalam penelitian ini akan mencari tahu bagaimanakah hubungan antara intensitas terpaaniklan rokok dan tingkat konformitas peer group dengan pengambilan keputusan merokok dikalangan mahasiswi di semarang?Tujuan PenelitianPenelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui hubungan antara intensitasterpaan iklan rokok dan tingkat konformitas peer group dengan pengambilan keputusanmerokok di kalangan mahasiswi di semarang, baik mahasiswi yang belum menjadi perokokmaupun yang sudah menjadi perokok.Kerangka TeoriSocial cognitive dari Albert BanduraDalam social cognitive theory keputusan akan terjadi jika seseorang melihat peristiwayang menarik perhatiannya dari model yang menampilkan suatu perilaku dan menghasilkan nilaidan sesuai harapan. Melalui hal tersebut, seseorang akan mengembangkan harapan-harapantentang apa yang akan terjadi jika ia melakukan perilaku yang sama dengan model. Harapanharapanini akan mempengaruhi hasil pengambilan keputusannya untuk berperilaku. Tetapi,proses ini akan bergantung oleh sejauh mana seseorang tersebut mengidentifikasi dirinya denganmodel dan sejauh mana ia merasa sesuatu yang dilakukannya sesuai dengan harapannya.Bandura menjelaskan dalam social cognitive theory terdapat empat tahapan proses:proses perhatian (attention), proses pengingatan (retention), proses reproduksi motoris(reproduction) dan proses motivasional (Rakhmat, 2007: 240).Populasi dan SampelPopulasiPopulasi dalam penelitian ini adalah mahasiswi di Semarang yang pernah diterpa iklan rokok danmempunyai peer group yang merokok. Jumlah mahasiswi dalam populasi ini tidak diketahuijumlah pastinya.sebanyak 40 orang.Teknik Samplingnonprobability sampling (metode tak acak) dengan proses sampling accidental.Sumber DataData primerSumber data utama yang diperoleh langsung dari responden di lapangan, melalui wawancarauntuk mengisi kuesioner yang akan diisi oleh 40 responden.Data SekunderData yang diperoleh secara tidak langsung, yaitu dari dokumen dan arsip-arsip yang sudahdikumpulkan oleh pihak lain, serta sumber-sumber lain yang mempunyai relevansi denganmasalah yang sedang diteliti.Teknik Pengumpulan DataTeknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancaraTINGKAT TERPAAN IKLAN ROKOK, KONFORMITAS PEER GROUP, DANPENGAMBILAN KEPUTUSAN MEROKOK DIKALANGAN MAHASISWIDISEMARANG.Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas instrument PenelitianSebelum suatu instrument digunakan untuk mengambil data maka terlebih dahulu akandilakukan uji coba atas instrument yang telah disusun. Hal ini bertujuan untuk menentukan butirbutirinstrument yang sah. Instrument yang valid berarti instrument tersebut dapat digunakanuntuk mengukur apa yang seharusnya diukur. Sedangkan instrument yang reliable adalahinstrument yang akan menghasilkan data yang sama bila digunakan untuk beberapa kali dalammengukur obyek yang sama.Penentuan butir yang sah menggunakan teknik konsistensi internal, yaitu denganmengkorelasikan skor tiap item dengan skor totalnya. Untuk mendapatkan koefisien korelasiantara skor total, digunakan teknik korelasi Product Momment dari Carl Pearson. Uji cobapenelitian ini dilakukan pada 40 mahasiswi. Setelah kuesioner terkumpul semua, maka langkahselanjutnya yang dilakukan peneliti adalah memberi skor pada tiap butir instrument dan skorkasar dari kuesioner tersebut kemudian dimasukkan dalam tabulasi untuk diuji validitas danreliabilitasnya.Pada penelitian ini perhitungan validitas dan reliabilitasnya menggunakan bantuan programSPSS 17. Uji signifikansi dilakukan dengan membandingkan nilai r hitung dengan r table untukdegree of freedom (df) = n-2,dalam hal ini n adalah jumlah sampel. Jumlah sampel dalam ujicoba ini adalah (n) = 40 dan besarnya df dapat dihitung 40-2 = 38 dengan alpha 0,05 didapat rtable = 0,3120 (dengan melihat r table pada df 38 dengan uji dua sisi). Valid atau tidaknyapertanyaan diketahui dengan cara membandingkan Correlated Item- Totalcorrelation denganhasil perhitungan r table 0,3120. Jika r hitung lebih besar dari r table dan nilai positif, makapertanyaan itu dinyatakan valid.Pada pengukuran reliabilitas dilakukan dengan cara One Shot atau pengukuran sekali saja.Nugroho (2005: 72) menjelaskan bahwa SPSS memberikan fasilitas untuk mengukur reliabilitasdengan uji statistic Cronbach „ s Alpha > 0,60.Hasil uji validitas dan reliabilitas instrument-instrumen dalam kuesioner akanditampilkan dalam table 3.1 berikut :Table 3.1.Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Pertanyaan KuesionerNO INDIKATOR ITEM DITERIMA ITEM GUGUR TOTAL1 Kuantitas terpaan - 1 , 2 22 Kualitas terpaan 3 , 4 5 , 6 43 Kekompakan 10 , 11 , 14 , 15 , 16 , 17 1 , 2 , 12 , 13 104 Kesepakatan 6 , 7 , 8 9 45 Ketaatan 3 , 4 , 5 - 36 Keputusan MerokokNon Perokok1 , 2 , 3 - 37 Keputusan MerokokPerokok1 , 2 , 3 - 3TOTAL 23 8 29Sumber : Data primer yang diolah, 2013Kualitas Terpaan Iklan RokokKualitas terpaan iklan rokok merupakan aspek psikologis yang merupakan perhatian yangdiberikan seseorang terhadap suatu iklan rokok. Kualitas terpaan yang dimiliki oleh mahasiswi diSemarang tergolong tinggi terhadap terpaan iklan rokok.Gambar 3.1Hasil Jawaban Variabel Terpaan Iklan RokokSumber : Data primer yang diolah, 2013Dari hasil penghitungan tersebut maka interval kelasnya tampak pada table 3.3 berikut :Tabel 3.3Pengelompokan Kelas Terpaan Iklan RokokINTERVAL INDIKATOR10 ≥ - ≤ 12 Tinggi7 ≥ - ≤ 9 Sedang4 ≥ - ≤ 6 RendahSumber : Data primer yang diolah, 20133.4 Tingkat Konformitas Peer GroupKonformitas merupakan suatu tuntutan yang tidak tertulis dalam kelompok teman sebayaterhadap anggotanya, namun memiliki pengaruh yang kuat dan dapat menimbulkan perilakutertentu pada anggota kelompok tersebut. Seorang anak seringkali melakukan konformitas agarditerima dalam kelompok dan menjaga hubungan sosialnya agar tetap harmonis. Konformitasmempunyai tiga indicator antara lain kekompakan, kesepakatan, dan ketaatan.42% dari 40 responden mahasiswi di Semarang memiliki tingkat konformitas terhadappeer group yang tinggi. Sebanyak 40 % dari mahasiswi tersebut mempunyai tingkat konformitasyang sedang dan sisanya yaitu sebesar 18 % memiliki konformitas terhadap kelompoknyadengan tingkat yang rendah. Dapat dibuktikan pada gambar 3.5 di bawah ini ;Gambar 3.5Diagram Tingkat Konformitas terhadap Peer GroupSumber : Data primer yang diolah, 2013Sehingga dapat disimpulkan bahwa mahasiswi tersebut mempunyai tingkat konformitasterhadap peer group mereka dengan kategori yang tinggi. Hal ini karena tingkat ketaatan dankekompakan yang mereka miliki sedang, meskipun hanya kesepakatan mereka terhadappendapat dan keputusan kelompok tinggi.3.5 Keputusan MerokokDalam menentukan pengambilan keputusan merokok, indicator yang digunakan adalahbagi mahasiswi perokok, mereka akan memutuskan untuk terus merokok. Sedangkan untukmahasiswi yang belum menjadi perokok atau non perokok, mereka akan mengambil keputusanuntuk memulai merokok.3.5.1 Mahasiswi Non-PerokokTabel 3.5Pengelompokan Norma Keputusan Merokok MahasiswiINTERVAL INDIKATOR9,5 ≥ - ≤ 15 Ya3 ≥ - ≤ 9,4 TidakSumber : Data primer yang diolah, 2013Dan hasil dari variable ini,memperoleh tanggapan 12 mahasiswi dari 40 responden diSemarang yang menjadi responden penelitian terhadap pengambilan keputusan merokok adalah75 % dari 12 responden mahasiswi non-perokok di Semarang memutuskan untuk tidak memulaiuntuk merokok. Sebanyak 25 % dari mahasiswi non-perokok tersebut memutuskan untukmemulai untuk merokok. Dapat dilihat lebih lanjut pada Gambar 3.6Gambar 3.6Diagram Keputusan Merokok Non-PerokokSumber : Data primer yang diolah, 2013Sehingga dapat disimpulkan bahwa mahasiswi non-perokok tersebut sebagian besarmemutuskan untuk tidak memulai untuk merokok. Mungkin memang keberadaan peer groupyang merokok dan juga terpaan iklan kurang mampu untuk membuat mereka memutuskan untukmulai merokok.3.5.2 Mahasiswi PerokokBanyak responden yang dilibatkan dalam penelitian ini merupakan perokok, yaitu berjumlah 28mahasiswi dari 40 mahasiswi, dan hasil jawaban dari mereka adalah 93 % dari 28 respondenmahasiswi perokok di Semarang memutuskan untuk terus merokok. Sisanya sebanyak 7 % darimahasiswi perokok tersebut memutuskan untuk tidak meneruskan merokok. Dapat dilihat padagambar 3.7 di bawah ini :Gambar 3.7Diagram Keputusan Merokok PerokokSumber : Data primer yang diolah, 2013Sehingga dapat disimpulkan bahwa mahasiswi perokok tersebut sebagian besarmemutuskan untuk terus merokok. Hal ini dapat terjadi karena tingkat konformitas peer groupmereka yang tinggi dan terpaan iklan rokok yang sedang.HUBUNGAN TERPAAN IKLAN ROKOK DAN TINGKAT KONFORMITAS PEERGROUP DENGAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN MEROKOK DIKALANGANMAHASISWI DI SEMARANGUntuk mencari hubungan antara dua variabel bebas (X) yaitu hubungan terpaan iklanrokok (X1) dan tingkat konformitas peer group (X2) yang dihubungkan dengan variabel terikatpengambilan keputusan merokok di kalangan mahasiwi di Semarang baik yang sudah menjadiperokok (Y1) maupun mahasiswi yang belum menjadi perokok (Y2) peneliti menggunakananalisis korelasi dengan bantuan aplikasi komputer SPSS 17.Uji HipotesisUji hipotesis penelitian hubungan terpaan iklan produk rokok dan tingkat konformitaskelompok sebaya dengan pengambilan keputusan merokok digunakan alat uji statistik Kendallmelalui program SPSS 17. Kriteria hasil uji statistik mengenai signifikansi hasil penelitiansebagai berikut :i. Jika nilai signifikansi < 0,01 : hubungan antar variabel sangat signifikan pada tarafkepercayaan 95%. Maka hipotesis penelitian dapat diterima.ii. Jika nilai signifikansi < 0,05 : hubungan antar variabel sangat signifikan pada tarafkepercayaan 95%. Maka hipotesis penelitian dapat diterima.iii. Jika nilai signifikansi > 0,05 : hubungan antar variabel tidak signifikan pada tarafkepercayaan 95%. Maka hipotesis penelitian dapat ditolak.Untuk menentukan seberapa kuat hubungan diantara 3 variabel, akan digunakan pedomansebagai berikut (Santoso dan Fandy Tjiptono, 1997 : 177) :1. Korelasi antara 0 – 0,5 merupakan korelasi lemah.2. Korelasi antara 0,5 – 1 merupakan korelasi kuatHipotesis 1 (H1) : Terdapat hubungan positif antara terpaan iklan rokok dan tingkatkonformitas peer group dengan pengambilan keputusan merokok di kalangan mahasiswiperokok di Semarang.Tabel 4.1Hasil Uji Kendall W Responden Non-PerokokN 40Kendall‟s W (a) .906Chi-Square 72.456Df 2Asymp. Sig. .000A Kendall‟s Coefficient ConcordanceSumber : data yang diolah 2010Demikian uji hubungan antara terpaan iklan rokok dan tingkat konformitas peer groupdengan pengambilan keputusan merokok di kalangan mahasiswi non-perokok di Semarang.Dengan demikian hipotesis 1 (H1) yang diajukan dalam penelitian ini yaitu ada hubunganpositif antara terpaan iklan rokok dan tingkat konformitas peer group dengan pengambilankeputusan merokok di kalangan mahasiswi non-perokok di Semarang dapat diterima.Hipotesis 2 (H2) : Terdapat hubungan positif antara terpaan iklan rokok dan tingkatkonformitas peer group dengan pengambilan keputusan merokok di kalangan mahasiswinon-perokok di Semarang.Tabel 4.2Hasil Uji Kendall W Responden PerokokN 40Kendall‟s W (a) .779Chi-Square 62.359Df 2Asymp. Sig. .000A Kendall‟s Coefficient ConcordanceSumber : data yang diolah 2010Demikian uji hubungan antara terpaan iklan rokok dan tingkat konformitas peer groupdengan pengambilan keputusan merokok di kalangan mahasiswi perokok di Semarang.Dengan demikian hipotesis 2 (H2) yang diajukan dalam penelitian ini yaitu ada hubunganpositif antara terpaan iklan rokok dan tingkat konformitas peer group dengan pengambilankeputusan merokok di kalangan mahasiswi perokok di Semarang dapat diterima.Analisis dan InterpretasiMahasiswi dengan terpaan iklan rokok dan tingkat konformitas peer group yang tinggisecara signifikan lebih memiliki kecenderungan untuk terus merokok daripada mereka yangmemiliki terpaan dan tingkat konformitas peer group yang rendah. Begitu juga halnya denganmahasiswi non-perokok, Mahasiswi dengan terpaan iklan rokok dan tingkat konformitas peergroup yang tinggi secara signifikan lebih memiliki kecenderungan untuk memulai merokokdaripada mereka yang memiliki terpaan dan tingkat konformitas peer group yang rendah. Haltersebut menunjukkan bahwa terpaan iklan rokok yang diterima akan dapat menuntun mahasiswiuntuk tetap terus merokok atau memulai untuk merokok. Pada prakteknya iklan rokokmemelihara citra produk dan makna penawaran dalam benak konsumen. Pemasar memahamidan mengeksplorasi nilai yang melekat pada endorser, tag line dan visualisasi iklan dalambentuk citra positif. Citra positif tersebut selanjutnya ditransfer kepada merek produk rokoktersebut. Hal ini dilakukan dengan harapan konsumen mempersepsikan produk rokok denganasosiasi yang positif.Pandangan positif mahasiswi dari pengalaman merek tersebut akan dikembangkan melaluilingkungan sosialnya. Hal ini karena pembentukan sikap dan perilaku dipengaruhi oleh prosesbelajar (sosialisasi) berupa pergaulan atau interaksi sosial. Interaksi social ialah suatu prosesdimana individu memperhatikan dan merespon individu lain sehingga dibalas dengan suatuperilaku tertentu. Reaksi yang ditimbulkan mengindikasikan bahwa individu tersebutmemperhatikan orang yang memberi stimulus sehingga terjadi interaksi sosial. Salah satuinteraksi sosial yang dapat diamati adalah interaksi sosial dalam komunikasi kelompok berupakonformitas kelompok.Seorang mahasiswi mengamati peristiwa dari lingkungannya dan memperlajarinya melaluiproses perhatian (social learning). Peristiwa yang menarik perhatian adalah yang menonjol,sederhana, dan berulang-ulang seperti penayangan iklan rokok. Setelah mahasiswimemperhatikan informasi dari iklan, mereka menyimpan hasil pengamatan dalam memorimereka. Proses membuat gambaran mental terhadap peristiwa yang diamati (visual imagery) danmenunjukkan representasi dalam bentuk bahasa merupakan proses retention.Selanjutnya adalah proses reproduksi motoris (reproduction), menghasilkan kembaliperilaku yang diamati. Mahasiswi cenderung memulai merokok dan meneruskan tetap merokokapabila didukung oleh lingkungan peer group mereka. Pada akhirnya bila penerapan perilakuyang diamati menghasilkan nilai dan sesuai harapan, mereka akan mengadopsi perilaku tersebutdan mengulang kembali pada waktu yang akan datang.KesimpulanMenurut hasil penelitian hubungan terpaan iklan rokok dan tingkat konformitas peer groupdengan pengambilan keputusan merokok dikalangan mahasiswi di Semarang mendapatkesimpulan sebagai berikut :1. Terdapat hubungan yang positif antara terpaan iklan rokok dan tingkat konformitaspeer group dengan pengambilan keputusan merokok di kalangan mahasiswi nonperokokdi Semarang. Dimana semakin tinggi terpaan iklan rokok dan semakintinggi tingkat konformitas peer group, semakin mendorong mahasiswi non-perokokuntuk memulai merokok. Hubungan antara terpaan iklan rokok dan tingkatkonformitas kelompok sebaya dengan pengambilan keputusan merokok di kalanganmahasiswi non-perokok di Semarang merupakan hubungan yang sangat signifikan,dengan demikian antara ketiga variable tersebut berhubungan erat satu sama lain.2. Terdapat hubungan yang positif juga antara terpaan iklan rokok dan tingkatkonformitas peer group dengan pengambilan keputusan merokok di kalanganmahasiswi perokok di Semarang. Dimana semakin tinggi terpaan iklan rokok dansemakin tinggi tingkat konformitas peer group, semakin mendorong mahasiswiperokok untuk memulai merokok. Hubungan antara terpaan iklan rokok dan tingkatkonformitas kelompok sebaya dengan pengambilan keputusan merokok di kalanganmahasiswi perokok di Semarang merupakan hubungan yang sangat signifikan,dengan demikian antara ketiga variable tersebut berhubungan erat satu sama lain.Daftar PustakaArdianto, Elvinaro & Lukiati K E. (2007). Komunikasi Masa : Suatu Pengantar. Bandung :Remaja Rosdakarya.Bandura, A. 2001. Social Cognitive Theory: An Agentive perspective. Annual Review ofPsychology, 52, 1-26. Dalam Pulkkinen, Jyrki. 2003. The Paradigms of e-Education.Baron, R.A, & Byrne, D.(1994). Social Psychology : Understanding Human Interaction(edisi ke-7). Needham Heights, MA : Allyn & Bacon.Botvin, Gilbert J dkk. (1993).Smoking Behavior of Adolescents Exposed to CigaretteAdvertising. Public Health Report Vol.108 No 2. New York : Cornell University MedicalCollege.Bryant, Jennings dan Dolf Zillmann. (2002). Media Effects Advances in Theory andResearch. NJ : LEA.Bungin, Burhan. (2001). Erotika Media Massa. Surakarta : University Press.Burton, Graeme. 2008. Yang Tersembunyi di Balik Media. Yogyakarta : Jalasutra.Durianto, Darmadi, dkk. (2001). Strategi Menaklukkan Pasar : Melalui Riset Ekuitas danPerilaku Merek. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.Effendi, Onong Ochjana. 2003. Ilmu Komunikasi: Teori dan Praktek. Bandung : RemajaRosdakarya.Engel, James F, Roger P Blackwell, dan Paul W Miniard. 1995. Perilaku Konsumen Jilid2. Jakarta : Binarupa Aksara.Fatimah, Nurul. (2010).Hubungan Terpaan Produk Rokok di Televisi dan TingkatKonformitas Teman Sebaya Terhadap Kecenderungan Perilaku Merokok. Tidak diterbitkan.Semarang: FISIP Universitas Diponegoro.Kartono, Kartini. 1996. Pengantar Metodologi Riset Sosial. Bandung : Mandar Maju.Kasali, Rhenald. 1995.Manajemen Periklanan Konsep dan Aplikasinya di Indonesia.Jakarta : Pustaka Utama Grafiti.Keller, Kevin Lane. (1998). Building Measuring and Managing Brand Equity. EnglewoodClifford, New Jersey : Prentice Hall Inc.Komalasari, Dian dan Avin F H.(2000). Faktor-Faktor Penyebab Perilaku Merokok PadaRemaja. http://avin.staff.ugm.ac.id/data/jurnal/perilaku merokok_avin.pdf.Kriyantono, Rachmat. 2006. Teknik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta : Kencana.Mar‟at. (1981). Sikap Manusia dan Pengukurannya. Jakarta : PT Ghalia Indonesia.McQuail, Denis.1987. Teori Komunikasi Massa. Jakarta : Erlangga.Nugroho, Bhuono Agung. (2005). Strategi Jitu Memilih Metode Statistik Penelitian denganSPSS. Yogyakarta : ANDI.Nurudin. 2003. Komunikasi Massa. Malang : Cespur.Oktarinda, 2010, http://bataviase.co.id/node/2048Prasetijo, Ristiyani, dan John J.O.I Ihalauw.(2003). Perilaku Konsumen. Salatiga : FakultasEkonomi UKSW.Rakhmat, Jalaluddin. 2007. Psikologi Komunikasi. Bandung : Remaja Rosdakarya.Rasyid, Anuar, 2009. Pengaruh Sikap Siswa SMA Muhammadiyah Bangkinang terhadapBahaya Narkoba sebagai Efek Sosialis. Skripsi. Riau : Universitas Riau.Rika. 2011. Gambaran Perubahan Perilaku Merokok pada Mahasiswi KesehatanMasyarakat di Kota Semarang Tahun 2011. Skripsi. Semarang : Universitas Diponegoro.Santrock, John W. 1996. Adolescence, Perkembangan Remaja. Jakarta : Erlangga.Sarwono, S.W. (1989). Psikologi Remaja. Jakarta : Erlangga.Sears, D dan Peplau, L.A.(1994). Psikologi Sosial. Alih Bahasa : Michael, A. Jilit Kedua.Jakarta : Erlangga.Shadel, William G dkk. 2008. Exposure to Cigarette Advertising and Adolescents‟Intention to Smoke . The Moderating Role of the Developing Self Concept. Journal of PediatricPsychology vol 33 no 7. Oxford : Oxford University Press.Shimp, Terence. 2003. Periklanan Promosi, Aspek Tambahan Komunikasi Terpadu.Jakarta : Erlangga.Singarimbun, Masri dan Sofian Effendi (editor). (1989). Metode Penelitian Survey. Jakarta: LP3ES.Sugiyono, DR. 2000. Metode Penelitian. Bandung : CV Alvabeta.Sutisna. 2002. Perilaku Konsumen dan Komunikasi Pemasaran. Bandung : Rosdakarya.Tjiptono, Fandy. 1997. Strategi Pemasaran. Yogyakarta : ANDI.Trisnanto, Adhy. 2007. Cerdas Beriklan. Yogyakarta : Galangpress.Wiryanto. 2004. Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta : GrasindoZen, Bambang Hakim. (2007). Hubungan Antara Sikap Tentang Pesan Bahaya Merokokdan Ketertarikan Personal Lingkungan Perokok dengan Perilaku Merokok. Tidak diterbitkan.Semarang: FISIP Universitas Diponegoro.(Anonim, 2009, http://www.depkes.go.id/index.php/berita/press-release/458-rokokmembunuhlima-juta-orang-setiap-tahun.html) .(Anonim,2013, http://www.neraca.co.id/index.php/harian/article/23536/Nilai.Pen jualan.Rokok.Nasional.Bakal.Capai.Rp.233.Triliun#.UUV0vTfotuk).(Anonim,2012, http://www.bbc.co.uk/indonesia/majalah/2013/01/130124_majalahlain_perempuan_perokok.html ).(Anonim, 2009, http://www.depkes.go.id/index.php/berita/press-release/458-rokokmembunuh-lima-juta-orang-setiap-tahun.html).(Antara, 2012, http://www.regionaltimur.com/index.php/perokok-wanita-di-indonesianaik-lima-kali-lipat/)(Danto, 2010, http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2010/09/02/10292668/Industri.Rokok. Kian.Tak.Terbendung).(Nurmayanti, 2012, http://www.tembakausehat.com/index.php/berita/400-pangsa-pasarphilip-morris-diindonesia-naik-jadi-334)(Pramesthi, Olivia Lewi, 2012, http://nationalgeographic.co.id/berita/2012/05 /meningkatperokok-pemula-di-indonesia).(Rika, 2011. http://www.fkm.undip.ac.id/data/index.php?action=4&idx =4311)(Sila Ananda, Kun, 2012, http://www.merdeka.com/sehat/wanita-perokok-ringan-berisikomati-mendadak.html).(Wahyuningsih, Merry, 2012, http://health.detik.com/read/2012/04/26/142725/1902318/763/ylki-di-indonesia-rokok-dijual-bebas-seperti-beras)(Yuliana, Rika, 2011.http://www.fkm.undip.ac.id/data/index.php?action=4&i dx=4311)http://psycholocious.blogspot.com/2013/02/teori-belajar-sosial-albertbandura.htmlhttp://id.wikipedia.org/wiki/Teori_Kognitif_Sosialhttp://odasamodra.wordpress.com/2013/02/25/teori-kognitif-sosial-bandura/http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/39229/3/Chapter%20II.pdfhttp://wartawarga.gunadarma.ac.id/2011/11/pembuat-keputusan/http://oro.open.ac.uk/35093/http://www.youtube.com/watch?v=v-SFvtFCpjQhttp://www.youtube.com/watch?v=HBHng8zd5GIhttp://www.youtube.com/watch?v=FfgdKR9ZS94http://www.youtube.com/watch?v=Yr2sKIN0vo4http://www.youtube.com/watch?v=YUgz6EG9hs4
Kampanye PR Radio SSFM “Assik Ala SSFM” Jeffry Septian Putra; Djoko Setiabudi; Agus Naryoso
Interaksi Online Vol 1, No 3: Agustus 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (271.034 KB)

Abstract

JUDUL : Kampanye PR Radio SSFM “Assik Ala SSFM”NAMA : Jeffry Septian PutraNIM : D2C607024ABSTRAKSIPersaingan radio saat ini semakin ketat, industri media siaran perlu memahamidan mengenali ekspektasi atau apa yang diinginkan para pendengar. Pengelola radioperlu strategi untuk mendapatkan perhatian dari para pendengarnya terlebih dari sisipemasaran yang akan memberikan dampak bagi kelancaran merebut perhatianpendengar. Untuk menciptakan strategi yang tepat dalam membuat mengelola radioagar tetap disukai dan didengarkan oleh audience adalah dengan memperhatikan danmemahami perilaku pendengar mereka. Radio SSFM adalah radio anak muda yanginspiring, dynamic, dan entertaining. Dengan basic itulah Radio SSFM melakukanvisi misinya. Menjadi radio yang menginspirasi anak muda, menjadi radio yangdinamis dan dapat berubah mengikuti perkembangan jaman, serta radio yang syaratakan hiburan.Tujuan dari kampanye PR “Assik Ala SSFM” ini adalah memperkenalkan SSfmsebagai radio anak muda di Semarang dan meningkatkan awareness anak muda diSemarang terhadap radio SSFM melalui event roadshow yang diselenggarakan di 3Sekolah Menengah Atas di Semarang dengan mengedukasi target audiens bagaimanacara berkendara dengan baik dan benar (Safety Riding). Mengacu pada analisiskhalayak yang dituju, target audiens diberikan pengalaman secara langsung untukberpartisipasi didalam program acara melalui permainan-permainan dan informasimengenai Radio SSFM.Persiapan event dimulai dengan riset, konsep acara, penyusunan anggaran,pencarian sponsor, penentuan vendor untuk produksi acara, pembagian kerja untukanggota, dan perijinan tempat.Event dilaksanakan dengan mengambil jam pelajaran sekolah, dengan programdidalamnya berupa edukasi dalam ruangan mengenai safety riding dari pihak AstraHonda Semarang didalam aula sekolah masing-masing, selanjutnya praktek safetyriding dan 3 permainan mengenai safety riding dengan konten berisi informasimengenai Radio SSFM. Tidak lupa juga hiburan berupa pertunjukan music dari siswasekolah itu sendiri dan hadiah-hadiah yang menarik. Event ini adalah cara untukmemperkenalkan Radio SSFM dengan menampilkan para penyiar dari radio tersebutsecara langsung berinteraksi dengan audiens, mascot radio, informasi program radio,frekuensi radio, dan semua informasi mengenai radio tersebut.Kata kunci : Kampanye Humas, Radio SSFM2TITLE : Radio PR campaign SSFM "Ala Assik SSFM"NAME : Jeffry Septian PutraNIM : D2C607024ABSTRACTCompetition of radio industry is getting tougher, the broadcast media industryneeds to understand and recognize the expectations or what the audience want. Radioneeds a strategy business to get the attention of the audience especially from themarketing side that will give effect to grab the attention of listeners. To create theright strategies in order to make managing radio remains popular and is heard by theaudience to pay attention and understand the behavior of their audience. Radio SSFMis inspiring young, dynamic, and entertaining. With that basic vision Radio SSFMperform its mission. Being a radio that inspires young people, into a dynamic radioand can evolve with changing times, as well as the requirement of radioentertainment.The goal of the PR campaign "AlaAssik SSFM" This is introduced SSFM as ayouth radio in Semarang and increase the awareness of young people in Semarangagainst SSFM through radio roadshow event held at 3 high schools in Semarang toeducate the target audience how to drive properly and right (Safety Riding). Referringto the analysis of the target audience, they directly given experience to participate inthe program through games and information about Radio SSFM.Event begins with the preparation of research, concept of the show, budgeting,sponsorship, determination of vendors for event production, division of labor for themembers,and permitting place.Event held during the school hours, with the form of educational programs inthe indoor from Astra Honda Semarang professionals in each school hall, the nextprogram is practice and 3 safety riding games contains information about RadioSSFM, and also entertainment in the form of music performances from students theschool itself and attractive prizes. This event is a way to introduce radio SSFM withthe radio broadcasters from directly interacting with the audience, radio mascot,information radio program, radio frequency, and all the information about the radio.Keywords: Public Relations Campaign, Radio SSFM3Kampanye PR Radio SSFM “Assik Ala SSFM”Jurnal Laporan Project OfficerPenyusunNama : Jeffry Septian PutraNIM : D2C607024JURUSAN ILMU KOMUNIKASIFAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIKUNIVERSITAS DIPONEGORO20134PENDAHULUANSekarang ini, radio masih mempunyai tempat dalam dunia komunikasi sebagaisalah satu media komunikasi yang mempunyai keunggulan tersendiri dibanding mediakomunikasi lainnya. Radio sebagai media komunikasi dengan suara dan membuatpendengarnya berimajinasi atau membuat gambar di benak pendengar. Radiomerupakan media tercepat karena tidak membutuhkan proses produksi yang rumit,percetakan, atau perekaman. Dari segi pendengar radio dapat merasakan kedekatansecara personal dengan penyiarnya dan bersifat fleksibel karena tidak menggangguaktifitas lainnya. Semakin berkembangnya jaman, radio juga dapat digunakan secaramobile dengan menggunakan gadget atau alat elektronik yang memadai. Semua halini adalah karakteristik radio yang dijelaskan oleh Asep Syamsul M. Romli dalambukunya Broadcast Jurnalism: Panduan Menjadi Penyiar, Reporter, danScripwrite.Penyiaran radio adalah media komunikasi massa dengar, yang menyalurkangagasan dan informasi dalam bentuk suara secara umum dan terbuka, berupa programyang teratur dan berkesinambungan. (Asti Musman dan Sugeng WA, 2011)Persaingan dalam pengelolaan radio saat ini semakin ketat, perlu adanya strategikhusus untuk merebut perhatian pendengar, pengelola media siaran harus benar-benarmemahami dan mengenali ekspektasi atau apa yang diinginkan para pendengar.Strategi yang tepat adalah memperhatikan dan memahami perilaku pendengaryang dapat ditemukan dari ketertarikan mereka pada isi radio tersebut. Program radio,penyiar radio, feature radio, dan lagu-lagu yang disajikan adalah beberapa contoh darikonten radio yang menjadi kesukaan dari pendengar. Pada umumnya perilakupendengar yang memiliki kegemaran mendengarkan radio, akan lebih prefer untukmemilih radio dari kesukaannya pada kategori tersebut, mereka suka pada programradio yang ada didalamnya contohnya program cerita misteri, program musik indie,program masalah rumah tangga, dan lainnya. Dari konsep program musik yangdirancang itulah tim produksi menjadi tahu apa saja yang menjadi tolak ukur suatuprogram musik radio terus bertahan lama dan tetap dicintai oleh pendengarnya, danjuga daya tarik apa yang menjadikan program musik begitu digemari dan terus diikutioleh pendengar. Dalam konsep radio anak muda, di Semarang sendiri terdapatbeberapa radio diantaranya Prambors, trax, RCT, SSfm dan lainnya. Masing-masingdari radio tersebut mempunyai ciri khas yang masih berbeda, mulai dari pemilihanmusik, program acara di dalamnya, gaya berbicara penyiarnya, dan juga kontenkontendi dalamnya.SSFM adalah sebuah brand yang baru walaupun sebenarnya radio ini sudahlama berdiri. Dulu SSFM bernama “Suara Sakti” dengan konsep konten-konten lagujazz, lalu berubah menjadi radio keluarga, radio untuk profesional muda, dankemudian barulah merubah namanya menjadi SSFM (tanpa singkatan) yangbersegmentasi anak muda, dengan range usia 15 – 34 tahun. Target audienceprimernya adalah usia 15 – 25 tahun, target bisa sampai dengan 34 tahun. Targetaudience yang diutamakan adalah usia SMA, kuliah, dan professional muda. Darisangat luasnya target audience yang dimiliki oleh SSFM, sangat sulit pula untukmengelola program sesuai dengan masing-masing karakteristik usia tersebut.Brand atau merek didefinisikan oleh American Marketing Association sebagainama, istilah, tanda, symbol, atau desain, atau kombinasi dari keseluruhannya yang5dimaksudkan untuk mengidentifikasikan barang atau jasa dari penjual atausekelompok penjual agar dapat dibedakan dari kompetitornya. Seperti yang sudahdijelaskan di atas, SSFM sudah mempunyai sesuatu yang berbeda dibanding radiobersegmen anak muda di Semarang, hanya saja kurangnya promosi menjadikanSSFM kurang dikenal.Dari aspek psikografisnya, anak muda di Semarang dapat dibilang mengikutitren-tren yang ada baik itu positif maupun negatif. Tren yang positif diantaranyatermasuk dalam bidang olahraga, musik, seni, komunitas dan lainnya, sedangkan trennegatif nya adalah alcohol, pergaulan bebas, balapan liar, dan lainnya. Dalamkegiatan kampanye PR yang akan kami lakukan, kami mengambil isu kecelakaanyang diakibatkan lalainya pengendara motor khususnya pelajar di Semarang.Menurut Kepala Cabang PT Jasa Raharja (Persero) Jateng, Sukonomenjelaskan, data kendaraan yang terlibat kecelakaan selama Januari hingga Maret2012, didominasi oleh sepeda motor. Diikuti mobil pribadi dan truk.. Berdasarkanusia korban paling besar untuk rentang usia 15-29 tahun (39,22%), diikuti usia 30-49tahun (30.65%). Sedangkan jika berdasar profesi, sebagian besar adalah karyawan(28,33%) diikuti pelajar/mahasiswa (23.67%) dan wiraswasta (22,90%).Strategi yang akan digunakan untuk memperkenalkan SSFM sebagai radio lokalpendatang baru mengacu pada bentuk kegiatan dengan kemasan yang menarik danmenyasar langsung kepada audiens dan bersifat mendidik atau mengedukasi. RadioSSFM sabagai radio baru sudah melakukan berbagai kegiatan promosi beberapa tahunkebelakang ternyata belum mampu menyasar pada target audiencenya. Bahkan bagimasyarakat muda kota semarang yang merupakan target utama dari radio ini, namaSSFM itu sendiri pun belum terlalu dikenal. Melihat kondisi tersebut, sebuah kegiatanberupa event roadshow yang menjurus langsung kepada target primer yaitu siswaSMA merupakan cara yang efektif untuk membangun awareness terhadap SSFMkarena salah satu filosofi dari SSFM adalah radio yang berorientasi padapendengarnya.Dalam pelaksanaan kegiatan yang melibatkan siswa SMA sebagai target audiens,strategi yang mengacu pada experience target audiens dianggap efektif untukmencapai tujuan karena memungkinkannya terjadi interaksi dengan target audiencedalam kondisi yang nyaman dan menyenangkan. Dengan taktik seperti ini mampumemberikan pengalaman menarik dan kesan baik terhadap Radio SSFM, sesuaidengan karakter psikografis target audiens yang suka tantangan dan suka hal baruakan memungkinkan informasi diserap secara maksimal. Strategi experience ini jugamemberikan pengalaman langsung kepada target audiens mengenai program SSFM.Dengan keterlibatan audiens diharapkan mampu menciptakan kesan menyenangkansehingga akhirnya mereka merasa penasaran dan mencoba untuk mendengarkanSSFM. Kegiatan utama yang dilakukan adalah Assik ala SSFM (Aman SelamatSaat Naik Kendaraan ala SSFM).Assik ala SSFM sebagai proses untuk memasukan input berupa informasi ataupengetahuan mengenai radio SSFM dan juga edukasi mengenai cara berkendara yangbaik dan benar, input ini diproses secara menarik dengan permainan-permainan seruyang diikuti siswa-siswa tersebut sehingga menciptakan mood yang menyenangkandan dapat dengan mudah untuk menerima informasi mengenai SSFM. Didalampermainan tersebut dimasukan features dari SSFM baik dari tagline, frekuensi, dan6informasi lainnya, dalam edukasi mengenai safety riding akan dikemas secaramenarik dan interaktif. Untuk memperkuat ingatan mereka mengenai informasi ini,kami juga menambahkan gimmick yang akan diberikan kepada siswa berupa helmSNI, masker motor, sarung tangan berkendara, stiker, gantungan kunci sepeda motor,dan hadiah uang tunai, dengan tujuan siswa yang berkendara yang baik akan dianggapsebagai anak Assik SSFM. Output yang diharapkan adalah berupa awareness yangdimiliki siswa-siswa sma yang terlibat didalam kegiatan tersebut meningkat, baikdalam pengetahuan mengenai radio SSFM maupun behaviour mereka dalamberkendara. Dalam pemeragaan cara berkendara yang baik dan benar dilakukan olehtim dari SSFM “Laskar Kawi”, didalamnya juga terdapat komptisi-kompetisimenarik seputar berkendara dan hal-hal ang behubungan dengan SSFM. Tentunyadalam sebuah kompetisi, pemenang akan mendapatkan hadiah. Hadiah yang kamisiapkan dalam satu sekolah berjumlah Rp. 1.052.000,00 yang akan dibagi menjadi 21hadiah. Sistematika pemilihan sekolah dilakukan oleh klien yang menurut merekasekolah tersebut termasuk sasaran utama target dari radio SSFM.Konsep kegiatan berupa serangkaian acara dengan mengangkat isu disekitartarget audiens yaitu anak muda Semarang mengenai masalah berkendara sepedamotor yang dikemas dalam permainan dan kuis interaktif yang memunculkan featuresmengenai radio SSFM. Dalam program Assik ala SSFM dibagi menjadi tiga tahapanyaitu pre-event, event dan post event.Event ASSIK ALA SSFM sebagai kegiatan PR Campaign Radio SSFMmemperoleh hasil berdasarkan tujuan yang akan dicapai yaitu memperkenalkan RadioSSFM sebagai radio anak muda Semarang, hal ini dapat dilihat dari evaluasi kegiatanyang menganalisis hasil akhir apakah event ini berhasil dan dapat dilanjutkan lagikedepannya.Menurut Anne Gregory dalam bukunya Perencanaan dan ManajemenKampanye PR tahun 2004, terdapat 3 point penting dalam evaluasi, yang pertamayaitu input, penjelasan dari produk tersebut, latar belakangnya, kemasan, dan pilihansaluran distribusi. Yang kedua adalah output, bagaimana input digunakan oleh publikyang dihitung dari analisis pembaca atau audiens, penyebutan dalam media, dananalisis isi. Ketiga adalah outcome (hasil akhir) ini melibatkan pengukuran efek akhirdari komunikasi yang diukur dalam 3 cara yaitu kognitif (perubahan tingkatpemikiran atau kesadaran), afektif (perubahan sikap atau opini) dan konatif(perubahan dalam perilaku).Evaluasi kegiatan kampanye PR ”Assik Ala SSFM” tidak terlepas darioperasional pelaksanaan kegiatan yang dibagi menjadi tiga tahapan. Tahap praproduksi (planning), tahap produksi (acting), dan tahap pasca produksi (reporting).Seluruh tahapan dievaluasi mulai dari perencanaan sampai pelaporan. Tahap planning”Assik Ala SSFM” diuraikan menjadi beberapa kegiatan diantaranya penjabaran idemenjadi konsep berupa roadshow edukasi safety riding, pembentukan tim danpembagian jobdesk untuk eksekusi event, pengembangan konsep kreatif (rundown,talent, dan dekorasi), penentuan tempat, perlengkapan, akomodasi, dokumentasi),promosi dan publikasi, penyelesaian kontrak, perijinan tempat, dan lainnya. Tahapproduksi (acting) pada event ”Assik Ala SSFM” diantaranya kesiapan pengisi acarayaitu penyiar radio SSFM atau laskar kawi, kesiapan perlengkapan untuk produksievent ”Assik Ala SSFM” berupa tenda (stage), sound system, kesiapan team, danproses event yang diadakan sesuai dengan rundown. Tahap reporting diantaranyaevaluasi event, dan pembuatan laporan.7ASSIK ala SSFM merupakan Event yang berisi kegiatan edukasi mengenai safetyriding sepeda motor dan games-games yang dikemas secara menarik mengenai radio SSFM.Sebagai radio yang inspiring, dynamic, and entertaining, SSFM peduli anak muda Semarangsebagai target market mereka untuk lebih concern mengenai lalu lintas dan berkendara sepedamotor. Kegiatan ini melibatkan langsung target audience untuk berpartisipasi dalam gamesgamesdan konten acara didalamnya. Siswa-siswi di Sekolah yang terpilih dapat secaralangsung terlibat dalam kegiatan Radio 105.2 SSFM, bertemu dengan Laskar Kawi /penyiarRadio 105.2 SSFM secara langsung dan lebih mengenal mereka untuk mengetahui programprogramon air apa saja. Melalui Event ini Radio 105.2 SSFM juga mampu memperkenalkanlebih jauh mengenai radio 105.2 SSFM mengenai frekuensi radio tersebut, berbagai programradio SSFM, keunggulan yang dimiliki oleh Radio 105.2 SSFM, memperkenalkan maskotradio SSFM dan berbagai informasi lainnya.Selain itu melalui Event ini pihak manajemen Radio 105.2 SSFM juga dapat melihatkondisi target audiens secara langsung , hal ini menjadi penting karena dari sinilah fungsiPublic relation akan sangat dibutuhkan, agar dapat diselenggarakan sebuah kegiatan yangdapat meningkatkan awareness dan menjalin hubungan antara Radio 105.2 SSFM dengantarget audiens yaitu pelajar SMA/SMK secara langsung. Sudah menjadi tugas public relationsuntuk melakukan kegiatan komunikasi pemasaran yang mengutamakan interaksi,koneksivitas serta hubungan yang akrab dengan target audience untuk menciptakanpencitraan yang baik dan peningkatan awareness dari target audiens.Secara garis besar Event sebagai tools PR dalam IMC pada Event ASSIK ala SSFMterlakasana dengan baik dan sesuai dengan tujuan yang diharapkan.PENUTUPKesimpulanKegiatan PR Campaign “ASSIK ALA SSFM berhasil diselenggarakan dan mencapaitujuan yang diinginkan berdasarkan evaluasi yang dilakukan. Terjalinnya hubungan yang baikdari pihak klien Radio SSFM dan juga sponsor pendukung acara seperti Astra MotorSemarang (Honda), AEOC, INKRAFT, Rinjani View, serta media lainnya.Dengan menganalisis target audiens dengan tepat, event ini telah menjadi tool PRCampaign yang efektif karena dapat menjadi rangsangan bagi siswa-siswi sekolah lainnyauntuk penasaran dan mencari tahu informasi mengenai “ASSIK ALA SSFM”. Dua diantaraketiga sekolah yang terpilih untuk menjadi target audiens dalam acara ini cukup berperanbesar dalam menyebarkan informasi dan menjadi teaser, namun SMK Perintis 29 kurangberperan dalam menjadi buzzer dalam social media dikarenakan siswa-siswinya kurang aktifdalam kegiatan social media.Saran Riset merupakan hal yang penting untuk menganalisis situasi dan target audiens.Untuk target anak muda, khususnya pelajar sebaiknya menggunakan metodewawancara sehingga hasil yang diperoleh benar-benar valid, dan communicationtools yang digunakan untuk menyampaikan pesan dapat efektif menuju targetaudiens, dan event yang diselenggarakan dapat memperoleh hasil maksimal. Penyebaran informasi event atau publikasi harus dilakukan dari jauh hari danmenggunaan media yang bersegmentasi sama dengan target audiens yaitu anakmuda. Publikasi event juga aharus mempunyai jangkauan luas, tidak hanyaditerima oleh target audiens di sekolah yang terpilih saja, social media danwebsite perlu dimaksimalkan penggunaannya untuk publikasi karena efektifmenjadi teaser untuk target audiens yang lain.8 Tujuan komunikasi dan penyampaian pesan dalam event akan efektif apabilamendatangi audiens secara langsung dan dilibatkan didalam acara tersebutsehingga memperoleh experience dan lebih kuat mengingat pesan yangdisampaikan. Intensif menjalin hubungan dengan perusahaan yang ditargetkan menjadi sponsordan melakukan proses lobby secara santai namun santun. Setelah mendapatkankesepakatan kerjasama, perusahaan sponsorship selalu diberikan informasiinformasimengenai event dan laporan event.9DAFTAR PUSTAKAAaker, David. 1991. Managing Brand Equity; Capitalizing on the Value of Brand Name. NewYork : Free Press(http://www.scribd.com/doc/76703520/Managing-Brand-Equity)Astute, Santi Indra. 2008. Jurnalisme Radio Teori dan Praktik. Bandung:Simbiosa RekatamaMediaDuncan, Tom. 2005. The Principle of Advertising and IMC. New York : McGraw HillGregory, Anne. 2004. Perencanaan dan Manajemen Kampanye Public Relations.Jakarta : ErlanggaKasali, Rhenald. 2009. Manajemen Public Relation Konsep dan Aplikasinya diIndonesia. Jakarta : GrafitiKottler. 2000. Marketing Management, The Millnium Edition. New Jersey :Prentice Hall International, Inc.Lattimore, Dan., Otis Baskin., Suzette T.Heiman & Elizabeth L.Toth. (2010).Public Relations : Profesi & Praktik. Jakarta : Salemba Humanika.Masterman, Guy & Wood, Emma. 2006. Innovative Marketing Communication, Strategiesfor the Events Industry. United Kingdom : Butterworth HeinemannMusman, Aswi & WA, Sugeng.2011.Marketing Media Penyiaran, BukanSekedar Jual Kecap. Yogyakarta: Cahaya Atma Pusaka.Peter, J Paul dan Olson, Jerry C. 1996. Customer Behaviour and MarketingStrategy. 4th Edition. New York : McGraw Hill Co.Tjiptono, Fandy. 2008. Pemasaran Strategik. Yogyakarta : Andi Publisher