Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search

Kajian C-Organik Gambut Pedalaman pada Berbagai Tutupan Lahan Alpandi Edison Pardede; Nina Yulianti; Akhmat Sajarwan; Sustiyah; Fengky Florante Adji
Jurnal Penelitian UPR Vol. 1 No. 2 (2021): Jurnal Penelitian UPR: Kaharati
Publisher : LPPM Universitas Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (803.841 KB) | DOI: 10.52850/jptupr.v1i2.4090

Abstract

The study aims to identify the C-organic content of inland peat in various land cover and soil layer depths. This study uses plot sampling methods with the creation of minipits on 4 (four) types of land cover. In each type of land cover, there are 3 (three) plot sampling, so the total plot sampling is 12 fields. Soil sampling is carried out at depths of 0-10 cm, 10-20 cm, 20-30 cm, 30-40 cm, and 40-50 cm. The research site is in the Special Purpose Forest Area (KHDTK) of Nusa Natural Laboratory and Peat Forest (LAHG) Sebangau. The study was conducted from June to August 2021. Soil samples are analyzed at the UPT Laboratory. LLG-Cimtrop and UPT. Integrated Laboratory, Palangka Raya University. The parameters observed are C-organic, Ash content, Moisture content, Water content, and Fiber content. The data of the study results are analyzed statistically with regression and correlation analysis. The results showed that the land cover that has the highest C-organic content is land revegetation (RePeat) at a depth of 40-50 cm with a C-organic value of 57.81% and the lowest C-organic content in natural forest cover at a depth of 30-40 cm with a C-organic value of 52.2%. The highest ash content is in natural forest cover at a depth of 30-40 cm with an ash content value of 3.18% and the lowest ash content in land cover revegetation (RePeat) at a depth of 40-50 cm with an ash level value of 0.08%. The highest water content is in the revegetation of land cover (RePeat) at a depth of 40-50 cm with a water content value of 318.97% and the lowest water content in the burned land cover at a depth of 0-10 cm with a water content value of 92.56%.
Pembuatan Kompos dengan Memanfaatkan Limbah Perkebunan Sawit dan Peternakan Ayam dalam Mengatasi Kelangkaan Pupuk Bersubsidi pada Kelompok Tani Abustan; Sustiyah; Abdul H. F; Femmy; Khalifatus Sakdiyah; Vicky Dwi Krisdiantoro; Rensi Lukas
Jurnal Pengabdian Kampus Vol 10 No 1 (2023): Jurnal Pengabdian Kampus
Publisher : LPPM Universitas Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52850/jpmupr.v10i1.8613

Abstract

Keterbatasan pupuk bersubsidi bagi petani mandiri menjadi permasalahan tersendiri khususnya petani mandiri yang ada di Desa Gohong, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah. Pupuk subsidi jenis NPK dan Urea dengan jumlah yang terbatas hanya bisa diperoleh petani 3 karung per orang, sementara kebutuhan mereka dalam sekali pemupukan mencapai 10 karung. Akibat dari keterbatasan perolehan pupuk bersubsidi ini, hanya ada satu solusi yang dapat dilakukan yaitu membeli pupuk non subsidi dengan harganya tinggi, mencapai Rp. 525.000/karung. Faktor keterbatasan daya beli masyarakat petani untuk jenis pupuk non subsidi membuat perawatan tanamannya seperti tanaman sawit mereka tidak maksimal, tidak subur, daun menguning, dan buah pun hanya ada pada pohon tertentu yang kebetulan humus tanah nya masih relatif bagus. Kelompok tani Pelangi Nusantara dan kelompok tani Barokah, yang dijadikan mitra pada kegiatan pengabdian masyarakat kali ini, merasakan betapa besar dampak yang ditimbulkan terhadap hasil panen buah sawit yang sangat rendah dari anggota kelompok tani mereka, hasil panen mereka hanya mencapai 400 – 500 kg/ha, yang seharusnya bisa mencapai 1.500-2.000 kg/ha. Faktor utama penyebabnya adalah pohon sawit tidak menerima nutrisi akibat terbatasnya pupuk yang diberikan, Kompos dapat dijadikan solusi yang tepat dalam mengatasi permasalahan petani tersebut. Membuat kompos dari limbah perkebunan yang berupa limbah buangan pelepah daun sawit dan limbah kotoran ayam yang banyak dijumpai di lokasi pertanian menjadi bahan pemikiran utama pada Tim ini untuk mewujudkan kompos sebagai pupuk alternatif dalam upaya membantu petani mengatasi permasalahan yang dihadapi. Teknologi Tepat Guna dapat diterapkan dalam mewujudkan pembuatan kompos guna mengganti keterbatasan petani dalam memperoleh pupuk yang non subsidi.
STUDI POTENSI TANAMAN BIOFARMACA DI KAWASAN IUPHKm “HANDAK MAJU” DESA TUMBANG NUSA, KECAMATAN JABIREN RAYA, KABUPATEN PULANG PISAU, PROVINSI KALIMANTAN TENGAH: Potential Study of Medicinal Plants in the IUPHKm “Handak Maju” Area at Tumbang Nusa Village, Jabiren Raya Sub-district, Pulang Pisau Regency, Central Kalimantan Province Adji, Fengky Florante; Yulianti, Nina; Darung, Untung; Oemar, Oesin; Sustiyah, Sustiyah; Yosep, Yosep; Jemi, Renhart; S.A.H.AR, Putra; Segah, Hendrik; Meilantina, Meilantina; M.T, Munier; P, Talulembang
AgriPeat Vol. 24 No. 2 (2023): JURNAL AGRIPEAT
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36873/agp.v24i2.10539

Abstract

Peatland is a specific ecosystem that is always waterlogged and has multiple functions, including economic, hydrological, environmental, cultural, and biodiversity functions. Existing peatlands, especially in Central Kalimantan, have great biodiversity potential. This potential provides benefits for people living in peat areas. This diversity of biodiversity has the potential of medicinal plants that have not been maximally explored. Therefore, through this activity, data will be obtained regarding the types and potential of medicinal plants in inland peat areas, which will facilitate their management. This research activity was carried out in the “Handak Maju” IUPHKm area for 3 (three) months, from July – September 2022. The implementation method is carried out through survey activities and field observations and carrying out of the Focus Group Discussions, as well as related literature studies. Based on the results of the survey conducted, it was found that several types of medicinal plants have the potential to be developed and preserved. According to Zuhud (1991) that medicinal plants are plants whose plant parts (leaves, stems or roots) have medicinal properties and are used as raw materials in the manufacture of modern and traditional medicines. It was further revealed that, medicinal plants are still not widely cultivated. However, the advantages of treatment using traditional medicinal plant ingredients are generally considered safer than the use of modern medicine. This is because traditional medicine has relatively fewer side effects than modern medicine.
Respons Pemberian Serbuk Cangkang Telur Ayam Terhadap Pertumbuhan Hasil Tanaman Pakcoy (Brassica Rapa Chinensis L.) dan Peningkatan pH pada Tanah Gambut Anastashia, Tefanny; Jaya, Adi; Darung, Untung; Saptono, Mofit; Sustiyah; Surawijaya, Panji; Sulistiyanto, Yustinus
Jurnal Penelitian UPR Vol. 4 No. 1 (2024): Jurnal Penelitian UPR: Kaharati
Publisher : LPPM Universitas Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52850/jptupr.v4i1.13047

Abstract

Pertumbuhan tanaman pakcoy sangat bergantung pada tingkat pH tanah media tanam. Salah satu upaya untuk meningkatkan pH tanah gambut rendah adalah dengan menggunakan serbuk cangkang telur ayam yang mengandung kalsium (Ca) sebesar 35,1-36,4%, lebih tinggi dibandingkan dengan kandungan kalsium pada kapur dolomit yang sebesar 21,70%. Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji respons pertumbuhan dan hasil tanaman pakcoy terhadap pemberian serbuk cangkang telur ayam. Kemudian juga berupaya untuk menentukan dosis serbuk cangkang telur ayam yang dapat memberikan hasil terbaik pada tanaman pakcoy di tanah gambut. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk menguji respons pemberian serbuk cangkang telur ayam dalam meningkatkan pH tanah gambut pada budidaya tanaman pakcoy. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktor tunggal untuk mengetahui  perbedaan respons serbuk cangkang telur (T) terhadap dosis yang diberikan. Dosis serbuk cangkang telur yang digunakan sebanyak 1 t ha-1, 2 t ha-1, 3 t ha-1, 4 t ha-1, dan 5 t ha-1. Penelitian ini menunjukkan adanya korelasi positif antara dosis serbuk cangkang telur dengan pertumbuhan dan hasil tanaman. Secara khusus, dosis 5 t ha-1 serbuk cangkang telur memberikan hasil yang paling baik dalam hal lebar daun tanaman (7,1 cm) dan hasil tanaman (186,5 g tanaman-1). Selain itu, peningkatan dosis lebih lanjut dapat memberikan hasil yang lebih optimal pada tanaman pakcoy. Penambahan serbuk cangkang telur ayam pada tanah gambut menghasilkan kenaikan pH sebesar 0,89-1,59 poin sehingga menaikkan pH tanah dari 3,21 menjadi 4,8 dengan dosis 5 t ha-1.
Between Entrepreneurship and Community Empowerment: The Management Model of Empowering Small Business’ Borneo Queen Community Adiwijaya, Saputra; Adam, Chaidir; Rafsanjani, Muhammad Arief; Sustiyah; Simanjuntak, Atmaezer Hariara
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat: Media Pemikiran dan Dakwah Pembangunan Vol. 7 No. 2 (2023): Jurnal Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jpm.2023.072-03

Abstract

The management approach of Borneo Queen Community emphasizes the pivotal role of managerial efforts in sustaining small businesses while concurrently fostering community empowerment. This study endeavors to explore the proprietor’s influence in ensuring the continuity of Borneo Queen Community and its positive impact on community advancement. Employing a qualitative methodology with a phenomenological lens, the research unveils the proprietor’s strategies in empowering the business through a distinctive worker recruitment mechanism. This approach prioritizes the betterment of the local community’s welfare, particularly targeting youth with limited educational and economic prospects. By granting them autonomy in managing and honing their skills, the business not only fosters employee development but also maintains a strong economic focus. Furthermore, the business demonstrates astute market foresight by leveraging various digital platforms for expansive marketing outreach. Through this integrated approach, Borneo Queen Community emerges as a small business entity adept at harmonizing commercial success with community empowerment.
EDUKASI PENGOLAHAN NUGGET IKAN LELE SEBAGAI PRODUK UNGGULAN MASYARAKAT DALAM PENCEGAHAN STUNTING Sustiyah; Eunike Wulansari, Angely; Ambarita, Tresia Ayu Lestari Elipenta; Gantiku, Aria
Jurnal Pengabdian Kampus Vol 11 No 2 (2024): Jurnal Pengabdian Kampus
Publisher : LPPM Universitas Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52850/jpmupr.v11i2.15521

Abstract

Stunting dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu tingkat pendidikan orang tua, status sosial dan ekonomi rumah tangga, serta minimnya penyuluhan tentang stunting dan akses layanan kesehatan. Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia, pada tahun 2023, Kabupaten Kapuas mencatat angka prevalensi stunting sebesar 16,2%, termasuk di Kecamatan Kapuas Hilir khususnya di Desa Saka Batur. Penurunan angka stunting juga merupakan salah satu prioritas pemerintah Kabupaten Kapuas karena akan berdampak positif bagi kualitas perkembangan masyarakat. Oleh karena itu, Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Saka Batur bertujuan untuk memberikan edukasi sosialisasi dan pendampingan pentingnya pencegahan stunting bagi ibu hamil dan balita melalui program kerja Pengolahan Nugget Ikan Lele sebagai produk unggulan ketahanan pangan. Metode yang digunakan adalah sosialisasi melalui penyuluhan pentingnya pengetahuan, pencegahan, dan dampak stunting, serta pendampingan pembuatan nugget ikan lele. Kegiatan ini diikuti oleh 32 orang dan mendapatkan respon positif oleh masyarakat karena ikan lele diternak oleh kelompok masyarakat setempat dan merupakan program unggulan, sehingga keberlanjutan produk nugget ini dapat menjadi salah satu pilihan dalam memenuhi kebutuhan gizi dan menjadi aset untuk meningkatkan pendapatan masyarakat Desa Saka Batur.
PELATIHAN PEMANFAATAN LIMBAH PERTANIAN SEBAGAI PUPUK ORGANIK DI KELURAHAN KALAMPANGAN KECAMATAN SEBANGAU KOTA PALANGKA RAYA Zubaidah, Siti; Sustiyah; Rahayuningsih, Sri Endang Agustina; Sulistiyanto, Yustinus
Jurnal Pengabdian Kampus Vol 11 No 2 (2024): Jurnal Pengabdian Kampus
Publisher : LPPM Universitas Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52850/jpmupr.v11i2.16585

Abstract

Kalampangan Village is known as a transmigration area that has advanced in the agricultural sector, especially vegetable crops and is the largest supplier of vegetables in Palangka Raya City. One effort to increase peat soil fertility is through fertilization. So far, fertilization has mostly used inorganic fertilizers. Excessive inorganic fertilizer can disrupt soil health, besides being expensive and sometimes rare on the market. Farmers now cannot clear land by burning it, so that the resulting weeds pile up around the land. At harvest time, a lot of harvest waste is not utilized optimally. So far, it has only been buried in the ground fresh as green manure and animal feed.  One effort to overcome the problem of accumulated weeds and crop residue is to make organic fertilizer (compost). Compost contains nutrients that plants need and is able to repair soil structure damaged by too much inorganic fertilizer. The objectives of the activity are: 1) Utilizing agricultural waste as organic fertilizer; 2). Providing skills in making quality organic fertilizer. The method used is counseling and training in making organic fertilizer.   The extension and training activities were attended by 10 members of the farmer group. Training on making compost was carried out using broadleaf weeds and sweet corn harvest waste. Composting is carried out for 3 weeks to 1 month. The characteristics of compost that is ready to use are blackish brown color, crumb structure, coolness and compost aroma. The compost produced is of sufficient quality with the nutrient content N, P and K meeting organic fertilizer quality standards. Farmers are very enthusiastic about making compost and hope that later it can be applied in growing vegetables in Kalampangan Village.
Pengaruh Pemberian Porasi Janjang Kosong dan Dolomit terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Bayam Merah Salampak, Salampak; Sustiyah, Sustiyah; Anwar, Moch; Beladona, Siti Unvaresi Misonia; Hartoko, Galih; Wahyuningtyas, Meylinda Dwi
JURNAL AGROTROPIKA Vol 23, No 2 (2024): Jurnal Agrotropika Vol 23 No 2, Oktober 2024
Publisher : Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/ja.v23i2.9190

Abstract

The utilization of peat soil as a planting medium is still faced with several problems, especially in terms of the chemical characteristics of peat soil. Therefore, there is a need for treatment to improve these problems, one of which is by using the poration of palm oil empty fruit bunches and dolomite. This research aims to determine the effect of providing a technology package of empty fruit bunch and dolomite poration doses on the growth and yield of red spinach plants. The research was carried out at the Greenhouse Jalan G. Obos 24, for 3 months (September-November 2023). The research was carried out using a survey method and experimental tests in polybags, using the RAL method with 9 treatment technology packages, namely: 1) soil without treatment (control), 2) Soil + empty fruit bunches poration 2.5 tons ha-1 + dolomite 2 tons ha-1, 3) Soil + 2.5 tons ha-1 of empty fruit bunches poration + 4 tons of ha-1 dolomite, 4) Soil + 5 tons of ha-1 of empty fruit bunches poration, 5) Soil + 5 tons ha-1 of empty fruit bunches poration + 2 tons ha-1 dolomite, 6) Soil + empty fruit bunches poration 5 tons ha-1 + dolomite 4 tons ha-1, 7) Soil + empty fruit bunches poration 7.5 tons ha-1, 8) Soil + empty fruit bunches poration 7.5 tons ha-1 + dolomite 2 tons ha-1 , 9) Soil + empty fruit bunches poration 7.5 tons ha-1 + dolomite 4 tons ha-1. The variables observed included plant height, stem diameter, root length, plant wet weight, and plant dry weight. Providing a package of peat soil + 7.5 tons ha-1 of empty fruit bunches poration + 4 tons of ha-1 dolomite (T(8)) can increase the growth of red spinach plants which include plant height (4.46 – 37.36 cm), stem diameter (4.48 – 7.06 cm), the wet weight of the plant is 26.10 g/polybag. Keywords : poration, dolomite, plant height, palm oil empty fruit bunch 
RESPON TANAMAN KOBIS BUNGA (Brassica oleraceae L) TERHADAP PEMBERIAN PUPUK ORGANIK CAIR PADA MEDIA TANAH GAMBUT Zubaidah, Siti; Sustiyah, Sustiyah; Rahayuningsih, Sri Endang Agustina
Agrienvi: Jurnal Ilmu Pertanian Vol. 18 No. 2 (2024): Desember 2024: Journal Agrienvi
Publisher : Agrienvi: Jurnal Ilmu Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36873/aev.v18i2.16599

Abstract

Tujuan penelitian adalah: 1). Mengetahui respon kobis bunga terhadap pemberian pupuk organik cair di tanah gambut; 2). Mengetahui pupuk organik dan dosis pupuk organik terbaik pada pertumbuhan dan hasil kobis bunga. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) terdiri dari 7 taraf perlakuan yaitu: B0 = Kontro (tanpa POC), B1 = Pupuk POC Nasa konsentrasi 2 ml/L air, B2 = Pupuk POC Nasa konsentrasi 3 ml/L air, B3 = Pupuk POC Nasa konsentrasi 4 ml/ L air, B4 = Pupuk POC Agrobost konsentrasi 2 ml/ L air, B5 = Pupuk POC Agrobost konsentrasi 3 ml/L air, B6 = Pupuk POC Agrobost konsentrasi 4 ml/ L air, ulangan sebanyak 3 kali sehingga terdapat 21 satuan percobaan. Data hasil pengamatan dianalisis dengan menggunakan analisios ragam (Uji F) taraf 5% dan 1%, apabila berpengaruh nyata dan sangat nyata dilanjutkan dengan uji BNJ taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahawa pupuk organik hanya berpengaruh nyata pada variable jumlah daun tanaman kobis bunga. Pemberian pupuk organik air Agrobost dengan konsentrasi 4 ml/ L air memberikan jumlah daun terbanyak, dengan jumlah daun 13,50 helai daun. Namun ada kecenderungan bahwa pupuk organik cair Nasa dan Agrobost konsentrasi 4 ml/L air mampu meningkatkan tinggi tanaman (30,10 cm), berat basah tanaman (213,00 gr), keliling batang (5,67 cm), berat bunga (96,33 gr) dan keliling bunga (30,04 cm) dari tanaman kobis bunga.
PENGARUH BERBAGAI PROPORSI PUPUK ORGANIK DAN ANORGANIK TERHADAP HASIL TANAMAN KUBIS BUNGA (Brassica oleracea L) DI LAHAN GAMBUT Zubaidah, Siti; Sustiyah, Sustiyah; Rahayuningsih, Sri Endang Agustina; Kresnatita, Susi
Agrienvi: Jurnal Ilmu Pertanian Vol. 19 No. 1 (2025): Juni 2025: Journal Agrienvi
Publisher : Agrienvi: Jurnal Ilmu Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36873/aev.v19i1.20687

Abstract

Tanaman kobis bunga (Brassica oleraceae L) merupakan salah satu jenis tanaman hortikultura yang memiliki nilai ekonomis yang tinggi dan layak untuk dikembangkan. Pengembangan kobis bunga dapat dilakukan pada tanah gambut pedalaman yang belum termanfaatkan secara optimal. Namun perlu adanya perbaikan kesuburan tanah melalui pemberian pupuk organik dan anorganik. Penelitian dilaksanakan bulan Oktober sampai Desember 2024 di Kelurahan Kalampangan, Kecamatan Sabangau, Kota Palangka Raya. Tujuan penelitian adalah: 1). Mengetahui pengaruh pupuk organik dan anorganik pada berbagai proporsi terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kobis bunga di lahan gambu; 2). Mengetahui proporsi terbaik pupuk organik dan anorganik pada pertumbuhan dan hasil tanaman kobis bunga di lahan gambut. Penelitian menggunakan Ranacangan Acak Kelompok (RAK) non faktorial yang terdiri atas factor tunggal dengan 9 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan tersebut adalah proporsi pemberian pupuk organic dan anorganik yaitu: K1= Pupuk Anorganik 250 kg Urea/ha, 250 kg/ha SP-36, 250 kg/ha KCl; K2= 5 ton/ha Kompos Gulma + Pengurangan 5% Pupuk Anorganik; K3= 5 ton/ha Kompos Gulma + Pengurangan 10% Pupuk Anorganik; K4= 5 ton/ha Kompos Gulma + Pengurangan 15% Pupuk Anorganik; K5= 5 ton/ha Kompos Gulma + Pengurangan 20% Pupuk Anorganik; K6= 10 ton/ha Kompos Gulma + Pengurangan 5% Pupuk Anorganik; K7= 10 ton/ha Kompos Gulma + Pengurangan 10% Pupuk Anorganik; K8= 10 ton/ha Kompos Gulma + Pengurangan 15% Pupuk Anorganik; K9= 10 ton/ha Kompos Gulma + Pengurangan 20% Pupuk Anorganik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh nyata proporsi pupuk organik dan anorganik terhadap hasil tanaman kubis bunga di lahan gambut pada variabel keliling bunga. Perlakuan K7 (10 ton/ha Kompos Gulma + Pengurangan 10% Pupuk Anorganik) memberikan keliling bunga paling baik. Proporsi pupuk organik dan anorganik tidak memberikan pengaruh nyata pada variable umur berbunga, umur panen dan bobot bunga pada tanaman kobis bunga di lahan gambut.