Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Adherence Assessment on Hypertension Therapy Using The Pill Count Method In Lubuk Kilangan Health Center, Indonesia Najmiatul Fitria; Lailaturrahmi Lailaturrahmi; Yelly Oktavia Sari; Fahira Tri Anata; Khairatul Husnia
Jurnal Sains Farmasi & Klinis Vol 10, No 1 (2023): J Sains Farm Klin 10(1), April 2023
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jsfk.10.1.28-34.2023

Abstract

Adherence is a major problem in hypertension treatment. Patients' adherence can be evaluated through pill count by counting the remaining amount of the patient's medication at the beginning and the end, using a pillbox as a tool to improve patient medication adherence. The purpose of this study was to describe the differences in adherence between patients who used the pillbox and without the pillbox. The research method used is Pretest-Posttest Control Group Design. The sample of this study is Prolanis (Chronic Disease Management Program) patients in 2021 at the Lubuk Kilangan Health Center in Padang City. They meet the inclusion and exclusion criteria that have been set. Sampling was carried out by total sample and obtained 70 subjects divided into the treatment group and the control group. The research technique used a Home Medication Review (HMR). The results of the study using the Mann-Whitney Test statistical test on adherence (p = 0.007) showed a value (p<0.05). It can be concluded that there are differences in adherence before and after the intervention. This result indicates that adherence is higher in patients who use the pillbox than those without the pillbox.
Pengaruh Penggunaan Kombinasi Metformin-Insulin Glargine dan Metformin-Glimepiride terhadap Kadar Gula Darah Sewaktu dan Total Biaya Medis Langsung pada Pasien DM Tipe 2 di Instalasi Rawat Jalan RSUD Rupit Leliani Fitri Anggraini; Najmiatul Fitria; Yelly Oktavia Sari
Jurnal Farmasi Higea Vol 15, No 1 (2023)
Publisher : STIFARM Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52689/higea.v15i1.517

Abstract

Penelitian ini dilakukan di RSUD Rupit, Kabupaten Musi Rawas Utara pada bulan Desember 2022 sampai Januari 2023 Penelitian ini merupakan penelitian observasional menggunakan studi deskriptif dengan pengumpulan data secara retrospektif terhadap rekam medis pasien BPJS rawat jalan dengan diagnosa DM tipe 2Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh kombinasi metformin-insulin glargine dan metformin-glimepiride terhadap kadar gula darah sewaktu dan total biaya medis langsung.
Analisa Hubungan Biaya Total dan Lama Rawatan Penggunaan Risperidon dan Quetiapin pada Pasien Skizofrenia Paranoid di RS Jiwa Prof HB Saanin Padang Dian Suhery; Yelly Oktavia Sari; Najmiatul Fitria
Jurnal Farmasi Higea Vol 15, No 1 (2023)
Publisher : STIFARM Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52689/higea.v15i1.513

Abstract

Tingginya biaya kesehatan yang dikeluarkan pemerintah dalam hal ini adalah Badan Penyelengara Jaminan Kesehatan (BPJS) di Indonesia dalam menganani suatu penyakit terutama penyakit-penyakit kronis seperti Skizofrenia, yang membutuhkan pengobatan yang cukup lama hingga bertahun-tahun. Untuk kasus penaganan skizofrenia BPJS memiliki pengelompokan Khusus yang disebut Spesial Grup CMG  (Casemix Main Groups) pada tarif INA-CBGs. Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui hubungan dari Total biaya langsung dalam paket pada penggunaan Antipsikotik generasi kedua dengan kombinasi risperidon dan quetiapin. Penelitian ini dilakukan di RS Jiwa Prof HB Saanin pada pasien rawat inap dengan diagnosa skozofrenia Paranoid F20.0 menurut ICD.10. Penelitian ini dilakukan secara retrospektif dengan total sampel sebanyak 21 buah, Analisa dilakukan dengan Analisa statistik korelatif Spearman dengan SPSS. Dari analisa statistik deskriptif menunjukkan tidak ada perbedaan yang bermakna antara pendidikan terakhir dan pekerjaan (p-value > 0,05). Sementara itu terdapat hubungan yang bermakna antara perempuan dan laki-laki untuk penggunaan kedua kelompok obat ini. Dari data deskriptif juga didapatkan bahwa pasien yang menggunakan kedua kelompok obat ini masih berada pada rentang usia subur, dengan rerata usia pengguna Risperidon sekitar 37 tahun dan pengguna kombinasi Risperidon dan Quetiapin kurang dari 40 tahun. Dan terdapat hubungan yang bermakna antara total biaya langsung dalam paket pada penggunaan obat kombinasi antipsikotik generasi kedua risperidon dan quetiapin terhadap lama rawat pasien Skizofrenia Paranoid (F20.0) di RS Jiwa Prof HB Saanin Padang.Kata kunci: antipsikotik generasi kedua; risperidon; quetiapine; total biaya langsung
PEMBUATAN PRODUK SABUN CAIR DARI ECO-ENZYME DI KELURAHAN ANDALAS KECAMATAN PADANG TIMUR KOTA PADANG Purnawan Pontana Putra; Fatma Sri Wahyuni; Yelly Oktavia Sari; Erizal Erizal; Dachriyanus Dachriyanus; Yufri Aldi; Dedy Almasdy; Salman Salman
Jurnal Hilirisasi IPTEKS Vol 6 No 1 (2023)
Publisher : LPPM Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jhi.v6i1.644

Abstract

Eco-Enzyme, a multifunctional liquid produced from a mixture of organic waste such as vegetables, fruits, brown sugar, coconut sugar, corn sugar, sugarcane, and water that has undergone fermentation, has various benefits for the environment and human health. Eco-Enzyme contains beneficial enzymes that accelerate biochemical reactions in the environment. The enzymes found in Eco-Enzyme can be used for various applications, such as organic liquid fertilizer for plants, an additive in detergents, floor cleaners, pesticide residue cleaners, and rust removers. Using Eco-Enzyme as a liquid soap can help reduce soil pollution. Meanwhile, using Eco-Enzyme as a cleaning agent can help reduce the use of hazardous chemicals that damage the environment. This integrated program is carried out in three stages: the first is to socialize the benefits of using Eco-Enzyme, the second is to make Eco-Enzyme, and the third is to make soap from Eco-Enzyme. The production of Eco-Enzyme begins with the collection of organic waste consisting of fruit and vegetable waste, which is then mixed with brown sugar and water and left to ferment for three months. After the Eco-Enzyme product is ready, soap-making uses ingredients such as potassium hydroxide (KOH), coconut oil, cooking oil, distilled water, orange-scented perfume, and Eco-Enzyme. Training on Eco-Enzyme and soap making is conducted in the Andalas Subdistrict, which is welcomed enthusiastically by the local community. This program is expected to serve as a reference for transforming organic waste into more practical and environmentally friendly sustainable products.
Cost-Effectiveness Analysis of the Combination of Metformin-Insulin Glargine and Metformin-Glimepiride in Type 2 Diabetes Mellitus Patients in Rupit Hospital Najmiatul Fitria; Leliani Fitri Anggraini; Yelly Oktavia Sari
Journal of Health Economic and Policy Research (JHEPR) Vol. 1 No. 1 (2023): Journal of Health Economic and Policy Research
Publisher : Center for Health Economic Studies

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/jhepr.v1i1.65

Abstract

Type 2 diabetes mellitus (T2DM) is a chronic disease requiring lifelong care and much money. A combination of antidiabetic drugs aims to increase effectiveness in lowering blood sugar levels. The combination of two drugs consists of a first-line drug class plus another class of drugs with a different mechanism of action. This study aimed to determine the cost-effectiveness of the combination therapy of metformin-insulin glargine and metformin-glimepiride, expressed by the value of the Cost Effectiveness Incremental Ratio (ICER). Method: This research was a descriptive study, and data collection was carried out retrospectively using patient medical record data. This study used a healthcare provider perspective. Of the 406 population, only 102 samples met the inclusion criteria. Result: Fifty-seven records (55.88%) used the metformin-glimepiride combination, and the other forty-five (44.12%) used metformin-insulin glargine. The ICER value of random blood sugar during (RBG) was IDR 21,748.89 for every 1 mg/dL decrease in RBG. The ICER value of fasting blood sugar (FBG) was IDR 38,824.46 for every 1 mg/dL decrease in FBG. Meanwhile, the ICER of HbA1c value was IDR 43,257.46 for every 1% decrease in HbA1c. Conclusion: The three ICER values were in the northeast quadrant (quadrant I), where the metformin-insulin glargine therapy group had the better blood sugar value. Still, the costs required were also higher than the metformin-glimepiride group.
Kajian Potensi Interaksi Obat pada Pasien Rawat Jalan dengan Polifarmasi di RSUD HAMBA Batang Hari Tahun 2020 Yelly Oktavia Sari; Dheri Ardi Lusia; Dedy Almasdy
Menara Ilmu : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmiah Vol 17, No 1 (2023): Vol 17 No. 01 OKTOBER 2023
Publisher : LPPM Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31869/mi.v17i1.4827

Abstract

Interaksi obat adalah modifikasi efek suatu obat oleh obat lain sehingga keefektifan atau toksisitas satu obat atau lebih berubah. Polifarmasi paling sering didefinisikan sebagai penggunaan 5 atau lebih obat setiap hari oleh seorang individu. Dengan meningkatnya kompleksitas obat-obat yang digunakan dan berkembangnya polifarmasi maka kemungkinan terjadinya interaksi antar obat semakin besar. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan potensi, mekanisme, tingkat keparahan dan menentukan korelasi jumlah obat yang diberikan dengan potensi terjadinya interaksi obat-obat pada pasien rawat jalan dengan polifarmasi di poliklinik RSUD HAMBA Batang Hari tahun 2020. Penelitian ini merupakan penelitian observasional menggunakan desain cross-sectional deskriptif. Potensi interaksi obat-obat akan diidentifikasi melalui situs www.drugs.com dan setiap potensi interaksi obat-obatan akan dianalisis relevansinya. Spearman test digunakan untuk mengetahui korelasi jumlah obat yang diberikan dengan potensi interaksi obat-obat.  Total 317 sampel yang termasuk dalam kriteria inklusi telah dianalisa. Diperoleh data bahwa tingkat keparahan interaksi terbanyak adalah Moderat (63,6%) dengan mekanisme interaksi terbanyak adalah Farmakodinamik (67,25%), Rentang usia lansia akhir (56-65) paling banyak menerima resep polifarmasi sebesar 37,85%. Hasil menunjukan adanya korelasi kuat dan searah antara jumlah penggunaan obat dengan potensi kejadian interaksi obat dan memiliki korelasi yang signifikan (r=0,679, p=000).Kata Kunci ; Apoteker; Interaksi Obat; Polifarmasi; Pasien Rawat Jalan
Kajian Penggunaan Antibiotika Secara Kuantitatif Pada Bangsal Bedah Rumah Sakit Islam Siti Rahmah Padang Tahun 2018 Elisa Ayudia; Yelly Oktavia Sari; Dedy Almasdy
Menara Ilmu : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmiah Vol 17, No 1 (2023): Vol 17 No. 01 OKTOBER 2023
Publisher : LPPM Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31869/mi.v17i1.4728

Abstract

Antibiotik merupakan  golongan obat yang  banyak digunakan didunia. Penggunaan antibiotika yang relative tinggi menimbulkan permasalahan dan merupakan ancaman global bagi kesehatan terutaman kejadian resistensi bakteri terhadap antibiotika. Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji penggunaan antibiotika di bangsal bedah Rumah Sakit Islam Siti Rahmah Padang periode Januari – Desember 2018. Penelitian ini merupakan penelitian cross sectional dengan pendekatan restrospektif melalui pengumpulan data rekam medis . Penelitian ini dilakukan  pada 383 pasien pasca bedah yang dirawat di bangsal bedah. Pasien dibedakan antara pasien umum dan pasien BPJS. Dilakukan pengkajian penggunaan antibiotika secara kuantitatif dengan menilai DDD/ 100 patient-days. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 383 rekam medis diperoleh hasil pengkajian kuantitatif antibiotika didapat seftriakson merupakan antibiotika dengan pengguna terbanyak baik untuk pasien umum (24,54 DDD/100 patient-days) maupun pasien BPJS (49,18 DDD/100 patient-days). Tingginya penggunaan antibiotika seftriakson menunjukkan tingginya peresepan dokter terhadap antibiotik tersebut dan banyaknya variasi jenis antibiotik menyebabkan rentannya insiden resistensi antibiotik dan meningkatkan peluang munculnya resistensi terhadap antibiotik yang digunakan.Kata Kunci: Antibiotik ; Kuantitatif ; Defined Daily Dose ; Bangsal Bedah
ANALISIS EFEK SAMPING OBAT (ESO) PADA PASIEN GERIATRI DI RUANG RAWAT INAP SEBUAH RUMAH SAKIT SWASTA DI KABUPATEN SAROLANGUN JAMBI Nurfadilah Nurfadilah; Yelly Oktavia Sari; Dedy Almasdy
FORTE JOURNAL Vol 4 No 2 (2024): Edisi Juli 2024
Publisher : Universitas Haji Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51771/fj.v4i2.908

Abstract

Efek Samping Obat (ESO) pada pasien geriatri adalah masalah yang sering terjadi pada pasien geriatri karena perubahan farmakokinetik dan farmakodinamik obat akibat penurunan fungsi organ. Efek Samping Obat menjadi suatu persoalan yang kompleks bagi tenaga kesehatan dikarenakan tingkat pengetahuan tenaga kesehatan tentang ESO juga merupakan hal penting untuk dapat mengatasi kejadian ESO di rumah sakit khususnya pada pasien geriatri. Penelitian secara kualitatif ini bertujuan untuk mengetahui pengetahuan, pengalaman, cara penanganan dan pelaporan kejadian efek samping obat pada pasien geriatri oleh tenaga kesehatan di sebuah Rumah Sakit Swasta di Kabupaten Sarolangun, Jambi. Penelitian ini dilakukan dengan cara wawancara semi terstruktur kepada 12 orang informan yang terdiri dari informan Dokter, Perawat dan Apoteker. Topik wawancara meliputi pengetahuan informan tentang farmakovigilans dan ESO, pengalaman tentang kejadian, penanganan dan pelaporan ESO, pendapat tentang pentingnya pelaporan ESO. Rekaman hasil wawancara ditranskipsi lalu dilakukan analisis dengan pendekatan content analysis menggunakan Software NVivo versi 12. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa pengetahuan informan belum cukup terkait farmakovigilans dan ESO. Semua informan pernah menemukan kejadian berpotensi menimbulkan ESO pada pasien geriatri selama dirawat dirumah sakit. Reaksi efek samping obat yang paling banyak ditemukan oleh informan adalah reaksi kulit yang diakibatkan oleh penggunaan antibiotik. Selain itu informan mengetahui alur penanganan ESO dengan baik tetapi tidak dengan pelaporan kejadian ESO, sehingga belum adanya pelaporan ESO pasien geriatri. Untuk meningkatkan pelaporan ESO, edukasi, sosialisasi dan pelatihan perlu dilakukan secara berkala demi meningkatkan kesadaran tenaga kesehatan akan pentingnya pelaporan ESO.
ANALISIS EFEK SAMPING OBAT (ESO) PADA PASIEN GERIATRI DI RUANG RAWAT INAP INTERNE RUMAH SAKIT X PROVINSI BENGKULU Tridewi Zakinah; Yelly Oktavia Sari; Dedy Almasdy
FORTE JOURNAL Vol 4 No 2 (2024): Edisi Juli 2024
Publisher : Universitas Haji Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51771/fj.v4i2.909

Abstract

Efek samping obat adalah semua respon terhadap suatu obat yang merugikan dan tidak diinginkan, yang terjadi pada dosis normal pemakaian. Reaksi obat yang merugikan dapat mengancam jiwa dan menyebabkan kerusakan permanen serta pengobatan khusus, terutama pada populasi geriatri karena perubahan fisiologis yang mengubah farmakodinamik dan farmakokinetik banyak obat. Tujuan penelitian ini untuk mengeksplorasi pengetahuan, pengalaman, penanganan dan cara pelaporan ESO oleh tenaga kesehatan di ruang rawat inap interne rumah sakit “X” provinsi Bengkulu. Metode kualitatif digunakan dalam penelitian ini dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara semi terstruktur terhadap 12 informan yang terdiri dari apoteker, dokter dan perawat. Data hasil wawancara direkam, ditranskip, kemudian dilakukan content analysis dengan Sofware NVivo versi 12. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan tenaga kesehatan tentang farmakovigilan masih kurang, yang berarti pelaporan ESO masih terbatas dan bersifat pasif. Selain itu, informan telah memahami cara penanganan ESO. Obat antibiotik menyebabkan gatal pada kulit, yang merupakan penyebab tersering kasus ESO. Semua informan setuju bahwa sangat penting melaporkan kejadian ESO untuk melindungi keselamatan pasien. Untuk meningkatkan pelaporan ESO, sosialisasi dan pelatihan kesehatan secara teratur dapat dilakukan.
ANALISIS PENGGUNAAN ANTIEMETIK PADA PASIEN KANKER OVARIUM YANG MENDAPAT KEMOTERAPI DI RSUP DR. M. DJAMIL PADANG Nike Okvitarini; Hansen Nasif; Yelly Oktavia Sari
FORTE JOURNAL Vol 4 No 2 (2024): Edisi Juli 2024
Publisher : Universitas Haji Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51771/fj.v4i2.920

Abstract

Kanker ovarium merupakan kanker ginekologi yang menempati peringkat ketiga kanker yang terjadi pada wanita. Pengobatan kanker menimbulkan efek samping yang beragam, salah satunya mual dan muntah yang terjadi pada 70-80% pasien dewasa yang menerima kemoterapi. Pemberian antiemetik berpengaruh besar bagi pasien untuk mencegah mual dan muntah sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup pasien dan kepatuhan pengobatan. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pola penggunaan antiemetik, gambaran skor CINV (Chemoteraphy Induced Nausea Vomiting) pasien dengan skala FLIE ( Functional Living Index  Emesis) dan untuk mengetahui hubungan penggunaan antiemetik dengan skor CINV skala FLIE. Penelitian ini merupakan jenis penelitian cross sectional, pengumpulan data dilakukan secara prospektif, pengumpulan data dilakukan dengan dua cara yaitu primer dan skunder dengan jumlah pasien 31 orang yang sesuai dengan kriteria inklusi. Dari hasil penelitian didapatkan pola penggunaan antiemetik untuk premedikasi  kemoterapi yaitu kombinasi antara antagonis serotonin 5-HT3 ondansetron injeksi, deksametason injeksi, dan difenhidramin injeksi serta kombinasi antagonis serotonin 5-HT3 palonosetron injeksi, deksametason injeksi, ranitidin injeksi, dan difenhidramin injeksi. Sedangkan obat oral setelah kemoterapi yang digunakan ondasetron tablet dan metoklopramid tablet. Hasil rata-rata skor CINV fase akut 6,09 dan fase delayed 4,88. Pada fase akut didapatkan nilai p>0,05yang berarti tidak ada perbedaan rata-rata skor CINV pasien pada fase akut berdasarkan antiemetik dan pada fase delayed didapatkan nilai p<0,05 yang berarti ada perbedaan rata-rata skor CINV pada fase delayed diantara pasien berdasarkan obat antiemetik.