Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Perbedaan Kualitas Informasi Obat Yang Diberikan Oleh Tenaga Vokasi Farmasi Di Apotek Dan Di Puskesmas Kota Palembang Halik, Yasminil Fadilla; Simamora, Sarmalina; Rulianti, Mona Rahmi
Jurnal Pharmacopoeia Vol 4 No 1 (2025): Maret 2025
Publisher : Poltekkes Kemenkes Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33088/jp.v4i1.976

Abstract

Pelayanan Informasi Obat (PIO) merupakan salah satu aktifitas dalam  standar pelayanan kefarmasian baik di RS, Puskesmas, apotek maupun klinik. PIO yang baik dapat meningkatkan pengetahuan pasien dan kepatuhan terhadap pengobatan, khususnya pada penderita hipertensi yang merupakan salah satu penyebab utama kematian dini di dunia. PIO dilakukan oleh apoteker, namun dalam kondisi tertentu disaat Apoteker tidak dapat melaksanakannya, maka Tenaga Vokasi Farmasi (TVF) dengan keterbatasannya secara sukarela melakukan pemberian informasi obat sebatas kewenangannya. Jenis penelitian adalah observasional dengan pendekatan deskriptif, memanfaatkan pasien simulasi di apotek untuk mendapatkan informasi yang diharapkan. Penelitian dilakukan di 5 Puskesmas dan 4 apotek di Kecamatan Seberang Ulu Satu, Kota Palembang. Pengetahuan TVF di apotek dan Puskesmas tergolong baik dengan skor terkecil 80. Seharusnya apotek tidak boleh melayani obat hipertensi tanpa resep dokter, namun ternyata semua apotek yang dikunjungi oleh pasien simulasi masih memberikannya. Kualitas informasi obat yang diberikan pada pasien hipertensi di Puskesmas lebih baik dibandingkan dengan di apotek. Diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi ketidak-akuratan informasi obat dan kepatuhan terhadap penjualan obat keras tanpa resep di apotek.
Edukasi Kesehatan Fisik dan Mental tentang Manfaat Vitamin dari Buah dan Sayuran terhadap Tubuh di Panti Asuhan Kota Palembang Mangunsong, Sonlimar; Simamora, Sarmalina; Puspitasari, Lia; Aguscik, Aguscik
Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat (ABDIKEMAS) Vol 7 No 1 (2025): Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (ABDIKEMAS
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Politeknik Kesehatatan Kemenkes Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36086/j.abdikemas.v7i1.2823

Abstract

This Community Service Activity (Pengabmas) aims to improve the welfare and quality of life of children in orphanages through social service activities. The program includes providing aid for basic needs, health education, and psychosocial activities aimed at enhancing the mental and social wellbeing of the children in the orphanage. The method used in this activity is a participatory approach involving the residents of the orphanage, the management, and volunteers to ensure the sustainability of the program. The results show that providing aid and health education has a positive impact in raising awareness of healthy living habits and the welfare of the children. The evaluation of this activity indicates that the sustainability of the program can be improved through collaboration with various parties, including the government and the private sector.
Narrative Review: Implementation of Pharmaceutical Care in Hypertension in Indonesia: Tinjauan Naratif: Penerapan Asuhan Kefarmasian pada Hipertensi di Indonesia SImamora, Sarmalina; Akbar, Widyan Muchzadi; Mangunsong, Sonlimar
Jurnal Farmasi Galenika (Galenika Journal of Pharmacy) (e-Journal) Vol. 7 No. 3 (2021): (December 2021
Publisher : Universitas Tadulako

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/j24428744.2021.v7.i3.15662

Abstract

Background: In the past, patient care was not a pharmacy orientation. Several developed countries have applied pharmaceutical care in the treatment of hypertension for years. However, it is still there. In Indonesia, the government issued guidelines for the care of hypertension medications for the first time in 2006. The stages are that pharmacists carry out assessments, prepare pharmaceutical service plans, then implement and monitoring. This study aims to examine the application of pharmaceutical care in hypertension in various articles published in Indonesia. Methods: This research is non-experimental research with a narrative review design. Articles were selected using the keywords pharmaceutical care, pharmacy care, pharmaceutical care and hypertension. Articles in national journals. The number of articles reviewed was 13 articles from 2014 to 2019. Results: The application of pharmaceutical care in hypertension in Indonesia has been carried out by pharmacists, especially in hospitals. The implementation stages are more focused on implementation and monitoring. Only 15% carried out the plan, and almost no carried out the assessment. Conclusion: The application of pharmacy in hypertension has not fully complied with the guidelines. Pharmacists have not assessed when they will start pharmaceutical care. Intervention is carried out with various models, such as leaflets, short messages sent and counselling. Results were monitored on the patient's knowledge, compliance and blood pressure. The result is an improvement, although some are not.
PEMBENTUKAN KOMUNITAS SAHABAT PEDULI HIPERTENSI UNTUK MENINGKATKAN KEPATUHAN MENJALANI HIDUP SEHAT DI PUSKESMAS SAKO PALEMBANG Simamora, Sarmalina; Sonlimar Mangunsong; Mona Rahmi Rulianti
Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia Vol. 8 No. 1 (2025): Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jbmi.v8i1.33812

Abstract

The highest number of hypertension patients in South Sumatra is in Palembang. This disease is the leading cause of premature death among non-communicable diseases. Therefore, the government has set its control as a key target, aiming for 90% of hypertensive patients undergoing treatment to achieve controlled blood pressure. Sako Community Health Center has several non-communicable disease (NCD) posts, one of which is located in RT 26, Sako Subdistrict. Activities are conducted once a month at the neighborhood head's house. Services at the post are assisted by community health volunteers (kaders). The goal of the program is to enhance the ability of these volunteers to assist hypertensive patients in managing their blood pressure. This is achieved through the formation of a community called "Sahabat Hipertensi" (Hypertension Friends). This program was carried out through health education sessions for both volunteers and hypertensive patients. Education for volunteers was conducted through discussions and the distribution of brochures. The evaluation was done by measuring the blood pressure of community members. Hypertension community consisting of 10 groups was formed, each coordinated by one volunteer. The volunteers were responsible for reminding, educating, measuring blood pressure, and distributing medication to their community members. As a result of this assistance, 14 out of 50 community members showed a decrease in blood pressure. The formation of the Sahabat Hipertensi community motivated the volunteers, as they were challenged to achieve controlled blood pressure targets for the community members. In addition to the enthusiasm of the volunteers, the community members felt more cared for, which motivated them to adhere more consistently to lifestyle modifications, including dietary changes, physical activity, and regular medication intake with discipline.   ABSTRAKPenderita hipertensi terbanyak di Sumsel ada di Palembang. Penyakit ini menjadi penyebab kematian dini terbanyak diantara penyakit tidak menular lainnya, sehingga pemerintah menetapkan pengendaliannya sebagai salah satu sasaran yang akan dicapai, yaitu 90% pasien hipertensi yang berobat harus terkendali tekanan darahnya. Puskesmas Sako memiliki beberapa pos PTM (penyakit tidak menular) salah satunya berada di RT 26 Kelurahan Sako. Kegiatannya berlangsung sebulan sekali di rumah ketua RT 26. Pelayanan di Pos dibantu oleh kader yang merupakan warga RT 26. Tujuan kegiatan adalah meningkatkan kemampuan kader mendampingi pasien hipertensi dalam mengendalikan tekanan darahnya. Hal ini dilakukan dengan membentuk suatu komunitasyang disebut “ Sahabat Hipertensi” Kegiatan pengabdian ini dilakukan dengan metode penyuluhan kepada kader juga kepada warga yang mengalami hipertensi. Penyuluhan terhadap kader melalui diskusi dan pembagian brosur. Evaluasi dilakukan dengan mengukur tekanan darah anggota komunitas. Pada akhir kegiatan pengabdian telah terbentuk komunitas hipertensi sebanyak 10 kelompok dan masing masing dikoordinir oleh satu orang kader. Kader bertugas mengingatkan, memberi edukasi, mengukur tekanan darah dan mendistribusikan obat kepada anggota komunitasnya. Dari hasil pendampingan 14 orang dari 50 orang anggota komunitas telah mulai menunjukkan penurunan tekanan darah. Pembentukan komunitas sahabat, membuat para kader bersemangat karena mereka mendapat tantangan untuk mencapai target tekanan darah yang terkendali bagi warga dalam komunitasnya. Selain kader yang bersemangat, warga pun merasa lebih diperhatikan sehingga mereka termotivasi untuk lebih patuh dalam mengatur kebiasaan hidupnya mulai dari perubahan pola makan, aktifitas fisik dan minum obat secara teratur dan disiplin.
PENGENDALIAN RESISTENSI BAKTERI TERHADAP ANTIBIOTIK MELALUI PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DALAM KELOMPOK MASYARAKAT Simamora, Sarmalina; ., Sarmadi; Rulianti, Mona Rahmi; Suzalin, Ferawati .
Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat (ABDIKEMAS) Vol 3 No 1 Juni (2021): Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat (ABDIKEMAS)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Politeknik Kesehatatan Kemenkes Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36086/j.abdikemas.v3i1.642

Abstract

Antibiotics are needed to treat infections caused by pathogenic bacteria. The use of antibiotics to treat bacterial infections if done in an inappropriate manner can have detrimental consequences, both clinical and economic. Incorrect dosage, timing and frequency of use can cause resistance. From various studies in various places it was found that people's knowledge and behavior in using antibiotics is still not wise. The purpose of this activity is for participants to have good knowledge about the use of antibiotics. Partners were the mother of the arisan group were 29 people and the church women's group were 33 people. Measurement of knowledge was carried out by means of questionnaires and education was given orally and in writing by presenting a paper. The results showed an increase in knowledge about antibiotics in the good and very good categories, from 25.8% to 80.64% after education. The conclusion, their knowledge increase after education and can play a role in controlling bacterial resistance in their families and their community.
UPAYA PENGENDALIAN RESISTENSI ANTIBIOTIK MELALUI PENYERAHAN ANTIBIOTIK SECARA TEPAT DI APOTEK WILAYAH SEBERANG ULU PALEMBANG Simamora, Sarmalina; Subiyandono, Subiyandono; Sarmadi, Sarmadi; Tedi, Tedi
Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat (ABDIKEMAS) Vol 2 No Tahun (2020): Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat (ABDIKEMAS)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Politeknik Kesehatatan Kemenkes Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36086/j.abdikemas.v2iTahun.1200

Abstract

Penjualan antibiotik tanpa resep dokter, khususnya sediaan oral maupun parenteral sesungguhnya adalah hal yang tidak benar, karena antibiotik termasuk golongan obat keras. Beberapa jenis obat keras memang dapat diserahkan oleh Apoteker dalam jumlah tertentu, termasuk antibiotika jenis sediaan topikal. Penjualan antibiotika oral secara bebas dapat menjadi pemicu terjadinya resiko yang tidak diinginkan. Selain resiko efek samping, resistensi bakteri merupakan resiko yang berdampak luas pada masyarakat. Pengetahuan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi prilaku petugas kesehatan, demikian juga petugas apotek. Pengetahuan yang rendah menimbulkan rendahnya kepedulian akan akibat dari penggunaan antibiotika secara sembarangan.Pengetahuan dan perilaku ini dapat ditingkatkan melalui berbagai upaya, salah satunya adalah dengan pendekatan edukasi yang bersifat informal. Cara ini dapat dilakukan dalam berbagai jenis situasi dan berbagai tingkatan pengetahuan. Karena sifatnya yang informal kegiatan ini dilakukan di lokasi apotek wilayah Seberang Ulu Palembang ( 17 apotek). Pengetahuan petugas yang umumnya masih rendah sampai sedang, terutama pemahaman akan Obat Wajib Apotek menjadi alasan mereka menyerahkan antibiotik tanpa resep dokter. Setelah diberikan edukasi, terdapat perubahan prilaku petugas sekalipun belum seluruhnya. Beberapa apotek sudah tidak melayani penjualan antibiotik tanpa resep, sedang yang lainnya sudah memberikan KIE (Komunikasi, Informasi dan Edukasi) saat penyerahan obat.
Penanganan Dismenorea dalam Kesehatan Reproduksi pada Remaja Putri di Sekolah Menengah Kejuruan Kesehatan di Kota Palembang Mangunsong, Sonlimar; Simamora, Sarmalina
Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat (ABDIKEMAS) Vol 5 No 1 (2023): Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat (ABDIKEMAS)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Politeknik Kesehatatan Kemenkes Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36086/j.abdikemas.v5i1.1727

Abstract

Remaja putri sebagai bagian dari masyarakat dapat juga mengalami masalah kesehatan. Gangguan kesehatan yang banyak dialami oleh remaja putri pada usia produktif adalah dismenore primer. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Pembina adalah salah satu sekolah yang bermitra dengan Poltekkes Palembang. Tujuan Kegiatan adalah memberikan pengetahuan dalam mengatasi gangguan dismenore pada remaja putri sacara prakits melalui tindakan non farmakologis maupun farmakologis. Metode yang dilakukan adalah ceramah dan diskusi terhadap gangguan dismenore. Jumlah responden 24 orang remaja putri. Pada awalnya diberikan pertanyaan terkait pengetahuan remaja dalam mengatasi dismenore pada dirinya. Selanjutnya mereka diberi materi tentang dsimenore, penyebabnya, tindakan untuk mengurangi gejalanya maupun penanggulangan yang dapat dilakukan saat serangan datang. Pada akhir kegiatan dilakukan post test dan diskusi. Dari hasil kegiatan ini ditemukan bahwa sakit dismenore yang dilalami siswa selalu datang berulang, dapat mengganggu proses pendidikan dan dapat berdampak pada capaian hasil atau prestasi siswa. Kondisi inilah yang dialami oleh sebagian remaja putri di SMK Pembina Palembang. Meskipun mereka mempelajari tentang kefarmasian, namun untuk tingkat sekolah menengah tentu masih sangat terbatas. Solusi permasalahan yang ditawarkan dalam kegiatan pengabdian masyarakat ini dengan memberikan edukasi yang benar untuk mengatasi dismenore telah tepat. Hasil dari kegiatan ini adalah remaja putri mengalami perubahan dalam hal pengetahuan dari rendah sampai sedang menjadi tinggi, Parasiswa juga memiliki kemampuan untuk mengatasi serangan nyeri akibat dismenore primer yang mereka alami.
Monitoring Efek Samping Penggunaan Obat bagi Penderita Tuberkulosis di Masyarakat: Mencegah Drop-out dalam Pengobatan Simamora, Sarmalina; Mangunsong, Sonlimar; Rahmi Rulianti, Mona
Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat (ABDIKEMAS) Vol 5 No 2 (2023): Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat (ABDIKEMAS)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Politeknik Kesehatatan Kemenkes Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36086/j.abdikemas.v5i2.2077

Abstract

Latar belakang.: Penyakit tuberkulosis terjadi saat bakteri penyebab TBC, Mycobacterium tuberculosis, aktif menginfeksi atau berkembang biak di dalam tubuh (TB aktif). Pengobatan TB dilakukan secara bertahap dan berjenjang. Obat TB antara lain: INH, Etambutol, Pirazinamida, Rifampisin, Streptomisin dengan efek samping masing-masing obat. Pengelola dan Nakes Program Sangat Terbatas. Apakah peran pendamping Sukarelawan atau PMO Sudah sesuai tahapan? Metode : Pengabdian kepada masyarakat dimulai dari perizinan, Kesediaan Mitra Puskesmas, Pendataan, Kordinasi, Kesepakatan Metode dan 3M. Jumlah pertemuan dan tatap muka, Membuat WA Grup, Menggali Permasalahan Obat TB. Info makanan sehat dan Pencatatan Efek Samping melalui ceramah, diskusi, dan tanya jawab WA. Menggunakan media powerpoint dan poster. Para dosen sebagai apoteker menjelaskan ulang cara minum obat Pengobatan TB, efek samping obat,. Penjelasan kepada peserta dan dapat bertanya secara langsung, Ada Grup WA. Kajian Peran PMO Dalam Penyembuhan TB. Kurun Waktu Agustus-November 2023 . Tempat Salah Satu wilayah kerja Puskesmas Palembang. Hasil : Peserta secara tertutup telah menyampaikan keluhan minum obat. Namun disampaikan secara terbuka dalam WA grup maupun pribadi. Menyampaikan keluhan dan apa yang dialami dan dirasakan oleh para peserta dan keluarga pendamping minum obat. Hal ini disebutkan merupakan metode yang efektif untuk menggali keluhan pasien. Pengabdi sebagai PMO telah berperan membantu mengatasi masalah atau keluhan yang timbul terutama ketika ditemukan efek samping seperti : gatal, telinga berdengung, pandangan kabur, sakit sendi, gangguan saluran cerna paling banyak, mual, Namun disampaiakan akan berkurang sejalan dengan waktu. Evaluasi kegiatan disampaikan oleh para responden dalam pertanyaan tertutup. Hasilnya akan disampaikan kepada pengelola program. KESIMPULAN. Ada timbul efek samping karena penggunaan obat dan telah dapat diatasi, setelah berkomunikasi dengan Pengabdi dan diberi penjelasan serta obat yang tepat. Pasien dan keluarga mendapat perhatian dari para pengabdi dan melalui WA berharap kegiatan serupa dapat diteruskan. Selain itu peserta berharap juga pelayanan untuk mereka agar dilakukan seperti pasien umum yang berobat di Puskesmas.Pasien belum mengetahui sepenuhnya efek samping yang timbul pada saat penggunaan obat TB. Pasien perlu mendapat tempat untuk menyampaikan keluhan mereka sebagai pengguna dalam masa pengobatan TB. Belum ada dropout selama observasi. SARAN Jumlah Nakes TB harus disesuaiakan dengan jumlah Pasien TB. Peran PMO yang ideal sangat dibutuhkan. Perlu pengenalan tanaman obat, vitamin , gizi dan menu sehat secara berkesinambungan.
HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN PERILAKU SUMBER DAYA MANUSIA (SDM) TENTANG PENGELOLAAN SEDIAAN OBAT PSIKOTROPIKA DI APOTEK WILAYAH SEBERANG ILIR KOTA PALEMBANG Mellysa, Mellysa; Simamora, Sarmalina
JPP JURNAL KESEHATAN POLTEKKES PALEMBANG Vol 13 No 2 (2018): JPP (Jurnal Kesehatan Poltekkes Palembang)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36086/jpp.v13i2.229

Abstract

Latar belakang: Sesuai dengan Permenkes No.3 tahun 2015 tentang tentang Peredaran, Penyiapan, Pemusnahan, dan Pelaporan Narkotika, Psikotropika, dan Prekusor Farmasi dan Peraturan Kepala Badan POM tentang PedomanTeknis Cara Distribusi Obat Yang Baik, maka setiap SDM di apotek wajib mengetahui dan menjalankan aturan terkait psikotropika dengan baik dan benar. Bila pengetahuannya baik, maka diharapkan semua apotek sudah menjalankan peraturan dan perundang-undangan tersebut dengan benar. Dari beberapa kasus dijumpai bahwa masih banyak praktek yang tidak benar terutama dalam pelayanan di apotek Penelitian ini bertujuan untuk menilai hubungan pengetahuan dan perilaku SDM di apotek tentang pengelolaan sediaan obat psikotropika yang benar sesuai dengan aturan yang berlaku Metode: Penelitian ini merupakan penelitian non-eksperimental analitik dengan rancangan cross-sectional. Dilakukan pada beberapa apotek di wilayah Seberang Ilir Palembang, dengan jumlah responden sebanyak 147 orang yang merupakan SDM di Apotek, baik apoteker, TTK maupun tenaga yang lain. Data didapat dari kuisioner yang memuat sejumlah pertanyaan tentang pengetahuan dan praktek pelayanan psikotropika. Lalu diuji dengan kai-kuadrat. Hasil: 124 responden memiliki pengetahuan yang tinggi sisanya rendah. Namun dari jumlah tersebut hanya 103 responden yang memiliki perilaku baik dan sisanya tidak baik. Dari analisis secara kai-kuadrat ternyata tidak ada hubungan yang proporsional antara pengetahuan dengan perilaku SDM apotek tentang pengelolaan obat psikotropika (P-value = 0,290). Kesimpulan: Pengetahuan tentang berbagai peraturan dan perundang-undangan tidak berhubungan langsung dengan perilaku SDM di apotek, karena selain dipengaruhi oleh pengetahuan, perilaku SDM di apotek juga dipengaruhi oleh kebijakan Pemilik Sarana Apotek (PSA), ketersediaan psikotropika dan jenis kegiatan yang pernah dilakukan terkait psikotropika.
Kandungan Kadar Beta Karoten dalam Buah Melon Orange dan Hijau (Cucumis Melo Linn) Secara KCKT Mangunsong, Sonlimar -; Simamora, Sarmalina; Taswin, Muhamad; Puspita, Dinda
Jurnal Kesehatan Farmasi Vol 5 No 2 (2023)
Publisher : Jurusan Farmasi, Poltekkes Kemenkes Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36086/jkpharm.v5i2.1969

Abstract

Latar Belakang: Jenis melon dapat membedakan kandungan beta karoten. Betakaroten merupakan salah satu isomer dari karotenoid yang dapat ditemukan pada buah-buahan berwarna hijau tua atau kuning tua, serta sayuran, berfungsi sebagai antioksidan dan berperan dalam fungsi tubuh. Pada penelitian ini digunakan buah melon orange dan melon hijau yang diekstraksi dengan pelarut etil asetat. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan kadar beta karoten pada daging buah melon orange dan melon hijau (Cucumis melo Linn) yang dilakukan dengan menggunakan metode kromatografi cair kinerja tinggi. Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitik dengan melakukan ekstraksi terhadap buah melon orange dan hijau selanjutnya hasil ekstrak dijadikan sebagai sampel kemudian diukur dengan cara sampel disuntik sebanyak 20 µl ke dalam alat KCKT dengan menggunakan fase gerak kloroform:methanol (95:5) dan aju alir 1,0 ml/menit dengan detektor cahaya tampak (visibel) pada panjang gelombang 450 nm. Hasil: Kadar beta karoten yang dihasilkan dari ekstrak buah melon orange sebesar 50,62 mg/100 gram dengan metode kromatografi cair kinerja tinggi dan kadar beta karoten ekstrak buah melon hijau sebesar 3,6 mg/100 gram dengan metode kromatografi cair kinerja tinggi. Kesimpulan: Kadar beta karoten pada ekstrak buah melon orange jauh lebih besar dibandingkan dengan kadar beta karoten ekstrak buah melon hijau yang diukur dengan metode kromatografi cair kinerja tinggi. Kata kunci: Beta Karoten, Melon Orange, Melon Hijau, Kromatografi Cair Kinerja Tinggi.