Sumiati Bedah
Program Studi Diploma III Teknologi Laboratorium Medis, Fakultas Kesehatan, Universitas Mohammad Husni Thamrin

Published : 21 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search

Gambaran D-Dimer Pada Pasien Terkonfirmasi Covid-19 di Rumah Sakit dr. Abdul Radjak Salemba Jakarta Permana, Atna; Bedah, Sumiati; Wibowo, M Krisnadi
Anakes : Jurnal Ilmiah Analis Kesehatan Vol. 8 No. 1 (2022): Anakes: Jurnal Ilmiah Analis Kesehatan
Publisher : Universitas Mohammad Husni Thamrin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37012/anakes.v8i1.882

Abstract

Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) disebabkan oleh turunan corona virus baru yang bernama Sars-Cov-2. Pada tanggal 11 Maret 2020, WHO sudah menetapkan COVID-19 sebagai pandemi. Pasien COVID-19 sering mengalami peningkatan D-dimer yang signifikan, dikarenakan terjadinya trombosis yang berakibat pada kelainan koagulasi yang dapat dilihat dari pemeriksaan D-dimer. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran kadar pemeriksaan D-dimer pada pasien terkonfirmasi COVID-19 di Rumah Sakit dr.Abdul Radjak Salemba. Peneliti menggunakan metode deskriptif analitik dengan data laboratorium pada bulan Februari 2021 pada seluruh pasien rawat  inap yang terkonfirmasi COVID-19 di RS dr.Abdul Radjak Salemba, didapatkan hasil dari 58 pasien terkonfirmasi COVID-19 lebih banyak diderita pada jenis kelamin Perempuan dengan rentangusia 30-39 tahun, yaitu sebanyak 15 orang dengan persentase nilai D-dimer normal sebesar 1.72% dan abnormal sebesar 24.13% sedangkan COVID-19 lebih sedikit diderita pada jenis kelamin laki-laki dengan rentang usia 20-29,yaitu sebanyak 4 orang dengan persentase nilai D-dimer normal 3.44% dan abnormal sebesar 3.44%. Pasien COVID-19 yang melakukan pemeriksaan D-dimer didapat hasil rerata yaitu 3,6413 mg/L. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pasien terkonfirmasi COVID-19 dapat mengalami trombosis dan perlu dilakukan pemeriksaan D-dimer untuk pemantauan efektivitas pengobatan. Kata Kunci: COVID-19, D-dimer 
PENETAPAN KADAR HIDROKUINON PADA KRIM PEMUTIH WAJAH YANG BEREDAR DI PASAR CIRACAS DENGAN METODE SPEKTROFOTOMETRI UV- VIS Purwanitiningsih, eny; Mayasari, Yeshi; Sukmawati , Anggi; Bedah, Sumiati
Jurnal Fatmawati Laboratory & Medical Science Vol 3 No 2 (2023): Pemeriksaan Laboratorium Medis Jilid 2
Publisher : POLTEKKES KEMENKES BENGKULU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33088/flms.v3i2.560

Abstract

Kemajuan teknologi telah memberikan doktrin kepada masyarakat bahwa kulit putih adalah kulit yang sangat diminati dan dikagumi. Kulit putih dianggap lebih menarik daripada kulit sawo matang, hal ini menimbulkan berbagai macam produk krim pemutih yang ditawarkan oleh berbagai toko kosmetik. Hidrokuinon adalah bahan pemutih yang sering ditambahkan dalam krim kosmetik dengan tujuan untuk memutihkan kulit. Cara kerja hidrokuinon dalam memutihkan kulit yaitu memperlambat dan mencegah produksi melanin kulit. Penelitian ini bertujuan mengetahui kadar Hidrokuinon yang beredar di Pasar Ciracas. Metode yang digunakan adalah uji kualitatif menggunakan pereaksi warna ditandai perubahan warna hijau sampai ungu menandakan bahwa sampel positif Hidrokuinon. Jika terdapat sampel positif dilanjutkan uji Kuantitatif dengan metode Spektrofotometri Uv-Vis. Hasil penelitian penetapan kadar Hidrokinon pada kirm pemutih menunjukkan bahwa 10 sampel krim pemutih yang positif Hidrokuinon mengandung kadar yaitu: Krim A; 1,9317%, krim G; 0,3337%, krim H; 0,2619%, krim I; 1,2360%, krim J; 4,6494%, krim K; 7,1692%, krim M; 7,1587%, krim N; 5,3892%, krim O; 7,1595%, krim P; 5,4279%. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa dari 10 sampel hanya 4 yang memenuhi persyaratan Peraturan Kepala Badan POM Republik Indonesia Nomor HK. 00.05.4.1745 Tahun 2011 Tentang Kosmetik Berbentuk Obat yaitu dengan syarat kurang dari 2%.
Identifikasi Jamur Penyebab Tinea Kapitis Pada Anak-Anak Bedah, Sumiati; Oktiana, Denisa
Anakes : Jurnal Ilmiah Analis Kesehatan Vol. 10 No. 2 (2024): ANAKES: Jurnal Ilmiah Analis Kesehatan
Publisher : Universitas Mohammad Husni Thamrin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37012/anakes.v10i2.1203

Abstract

Indonesia is a tropical country with high humidity conditions which can create a good atmosphere for fungal growth. Therefore, fungal infections found in Indonesia are quite diverse, one of which is tinea capitis, an infection caused by dermatophyte fungi on the scalp and hair follicles. The most common causative agents are Tricophyton and Microsporum. Tinea capitis attacks pre-puberty children more often, this is thought to be because the sebaceous glands at pre-puberty are not yet perfect. Laboratory diagnosis of tinea capitis can be carried out using several methods, including microscopic examination with KOH as an initial screening test, fungal culture which is the gold standard, trichoscopy, and the use of a Wood's lamp. This research uses secondary data from a literature study conducted in previous research journals. Based on a review of research results from five related journals, 3 show that the fungal species Microsporum canis most often causes tinea capitis infections in children. Tinea capitis is more common in pre-pubertal children and males. Boys are more susceptible to tinea capitis infection than girls. From the results of this study, it can be concluded that Microsporum canis is the most dominant fungus that infects tinea capitis in pre-puberty children, especially boys. The most commonly used examination methods for tinea capitis are microscopic examination with KOH and fungal culture. Pre-puberty children are advised to always maintain personal hygiene, especially the scalp and hair.   Keywords: Children, Microsporum canis, Tinea capitis
Gambaran D-Dimer Pada Pasien Terkonfirmasi Covid-19 di Rumah Sakit dr. Abdul Radjak Salemba Jakarta Permana, Atna; Bedah, Sumiati; Wibowo, M Krisnadi
Anakes : Jurnal Ilmiah Analis Kesehatan Vol. 8 No. 1 (2022): Anakes: Jurnal Ilmiah Analis Kesehatan
Publisher : Universitas Mohammad Husni Thamrin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37012/anakes.v8i1.882

Abstract

Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) disebabkan oleh turunan corona virus baru yang bernama Sars-Cov-2. Pada tanggal 11 Maret 2020, WHO sudah menetapkan COVID-19 sebagai pandemi. Pasien COVID-19 sering mengalami peningkatan D-dimer yang signifikan, dikarenakan terjadinya trombosis yang berakibat pada kelainan koagulasi yang dapat dilihat dari pemeriksaan D-dimer. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran kadar pemeriksaan D-dimer pada pasien terkonfirmasi COVID-19 di Rumah Sakit dr.Abdul Radjak Salemba. Peneliti menggunakan metode deskriptif analitik dengan data laboratorium pada bulan Februari 2021 pada seluruh pasien rawat  inap yang terkonfirmasi COVID-19 di RS dr.Abdul Radjak Salemba, didapatkan hasil dari 58 pasien terkonfirmasi COVID-19 lebih banyak diderita pada jenis kelamin Perempuan dengan rentangusia 30-39 tahun, yaitu sebanyak 15 orang dengan persentase nilai D-dimer normal sebesar 1.72% dan abnormal sebesar 24.13% sedangkan COVID-19 lebih sedikit diderita pada jenis kelamin laki-laki dengan rentang usia 20-29,yaitu sebanyak 4 orang dengan persentase nilai D-dimer normal 3.44% dan abnormal sebesar 3.44%. Pasien COVID-19 yang melakukan pemeriksaan D-dimer didapat hasil rerata yaitu 3,6413 mg/L. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pasien terkonfirmasi COVID-19 dapat mengalami trombosis dan perlu dilakukan pemeriksaan D-dimer untuk pemantauan efektivitas pengobatan. Kata Kunci: COVID-19, D-dimer 
Identifikasi Jamur Penyebab Tinea Kapitis Pada Anak-Anak Bedah, Sumiati; Oktiana, Denisa
Anakes : Jurnal Ilmiah Analis Kesehatan Vol. 10 No. 2 (2024): ANAKES: Jurnal Ilmiah Analis Kesehatan
Publisher : Universitas Mohammad Husni Thamrin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37012/anakes.v10i2.1203

Abstract

Indonesia is a tropical country with high humidity conditions which can create a good atmosphere for fungal growth. Therefore, fungal infections found in Indonesia are quite diverse, one of which is tinea capitis, an infection caused by dermatophyte fungi on the scalp and hair follicles. The most common causative agents are Tricophyton and Microsporum. Tinea capitis attacks pre-puberty children more often, this is thought to be because the sebaceous glands at pre-puberty are not yet perfect. Laboratory diagnosis of tinea capitis can be carried out using several methods, including microscopic examination with KOH as an initial screening test, fungal culture which is the gold standard, trichoscopy, and the use of a Wood's lamp. This research uses secondary data from a literature study conducted in previous research journals. Based on a review of research results from five related journals, 3 show that the fungal species Microsporum canis most often causes tinea capitis infections in children. Tinea capitis is more common in pre-pubertal children and males. Boys are more susceptible to tinea capitis infection than girls. From the results of this study, it can be concluded that Microsporum canis is the most dominant fungus that infects tinea capitis in pre-puberty children, especially boys. The most commonly used examination methods for tinea capitis are microscopic examination with KOH and fungal culture. Pre-puberty children are advised to always maintain personal hygiene, especially the scalp and hair.   Keywords: Children, Microsporum canis, Tinea capitis
Epidemiologi Infeksi Jamur: Kasus Tinea Pedis Dikalangan Pencuci Jasa Kendaraan Bermotor Bedah, Sumiati; Putri Salsabilla, Dinda; Purwanitiningsih, Eny
Jurnal Fatmawati Laboratory & Medical Science Vol 5 No 1 (2025): Otomatisasi Laboratorium
Publisher : POLTEKKES KEMENKES BENGKULU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33088/flms.v5i1.1016

Abstract

Tinea pedis atau athlete’s foot, sering menyerang orang dewasa yang bekerja di lingkungan basah dan memakai sepatu tertutup setiap hari. Gejalanya bervariasi dari tanpa keluhan hingga gatal dan nyeri akibat infeksi sekunder. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jamur penyebab Tinea pedis pada pencuci jasa kendaraan di Wilayah Pondok Melati Kota Bekasi. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan 30 sampel pencuci kendaraan yang diambil melalui teknik accidental sampling. Identifikasi jamur dilakukan secara mikroskopis dengan pemeriksaan menggunakan KOH 20% dan dibiakan pada media Sabouraud Dextrose Agar (SDA). Dari 30 sampel kerokan kulit sela jari kaki, 1 sampel (3,3%) positif jamur Dermatophyta spesies Trichophyton rubrum pada media kultur, sedangkan 29 sampel (96,7%) negatif dan semua sampel negatif pada pemeriksaan langsung. Berdasarkan usia 1 sampel (3,3%) dengan usia 15-40 tahun positif jamur dermatophyta. Berdasarkan durasi kerja 1 sampel (3,3%) dengan durasi kerja < 8 Jam positif jamur dermatophyta. Berdasarkan waktu lamanya bekerja 1 sampel (12,5 %) dengan lamanya bekerja > 4 Tahun positif jamur dermatophyta. Berdasarkan penggunaan sepatu boots 1 sampel (11,1%) dengan menggunakan sepatu boots positif jamur dermatophyta. Kesimpulan penelitian ini adalah jamur penyebab Tinea pedis ditemukan jamur Dermatophyta dengan spesies Trichophyton rubrum pada pencuci jasa kendaraan di Wilayah Pondok Melati Kota Bekasi.
Prevalensi Pedikulosis Kapitis pada Santriwati Pondok Pesantren: Tinjauan Literatur dan Analisis Faktor Risiko Bedah, Sumiati
Jurnal Fatmawati Laboratory & Medical Science Vol 5 No 2 (2025): Hematologi Klinik
Publisher : POLTEKKES KEMENKES BENGKULU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33088/flms.v5i2.1202

Abstract

Pendahuluan : Pedikulosis kapitis masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang signifikan, terutama pada kelompok remaja perempuan yang tinggal di lingkungan berasrama seperti pondok pesantren. Infestasi oleh Pediculus humanus capitis menyebabkan gangguan fisik, psikologis, dan sosial, serta sering diperburuk oleh kepadatan hunian, personal hygiene yang kurang optimal, dan kebiasaan berbagi barang pribadi. Penelitian ini dilakukan untuk menyajikan gambaran komprehensif mengenai prevalensi dan faktor risiko pedikulosis kapitis pada santriwati pondok pesantren melalui tinjauan literatur terbaru. Metode: Studi ini merupakan tinjauan literatur dengan pendekatan naratif berdasarkan prinsip PRISMA. Pencarian artikel dilakukan pada PubMed, ScienceDirect, Google Scholar, SpringerLink, dan ProQuest untuk publikasi tahun 2016–2025. Sebanyak 1.258 artikel teridentifikasi pada tahap awal, kemudian disaring berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi sehingga diperoleh 27 artikel yang dianalisis. Data yang diekstraksi meliputi desain penelitian, lokasi, jumlah sampel, metode diagnosis, prevalensi, serta faktor risiko yang terkait dengan infestasi pedikulosis kapitis. Hasil: Analisis literatur menunjukkan bahwa prevalensi pedikulosis kapitis pada santriwati pondok pesantren berkisar antara 23% hingga 59%, dengan sebagian besar penelitian menggunakan desain cross-sectional dan metode pemeriksaan visual serta sisir serit. Faktor risiko yang paling konsisten dilaporkan adalah frekuensi keramas ≤2 kali/minggu, rambut panjang, kebiasaan berbagi alat pribadi (sisir, jilbab, handuk, bantal), kepadatan hunian, ventilasi buruk, dan tingkat pengetahuan kebersihan yang rendah. Odds Ratio (OR) dari faktor-faktor tersebut berada pada kategori risiko sedang hingga tinggi, memperkuat hubungan antara perilaku dan lingkungan dengan kejadian pedikulosis. Pembahasan: Temuan menunjukkan bahwa pedikulosis kapitis tidak hanya merupakan infestasi parasit biasa, tetapi juga indikator lingkungan hunian dan praktik kebersihan santri. Interaksi sosial yang erat, karakteristik hunian pesantren yang padat, serta praktik kebersihan rambut yang rendah mendukung transmisi parasit. Edukasi higiene, skrining berkala, penataan hunian, dan kebijakan barang pribadi menjadi intervensi yang disarankan. Kesimpulan: Pedikulosis kapitis merupakan masalah kesehatan yang sangat umum pada santriwati pondok pesantren, dengan prevalensi tinggi dan faktor risiko yang konsisten berkaitan dengan personal hygiene dan kondisi lingkungan. Upaya pengendalian membutuhkan pendekatan komprehensif berbasis komunitas yang meliputi edukasi, pemeriksaan rutin, peningkatan higiene pribadi, serta perbaikan kondisi hunian.
The Relationship Between Anemia and Quality of Life in Hemodialysis Patients at Moh Ridwan Meuraksa Level II Hospital Dewi, Nurma; Sulistiya, Arie Apriani; Bedah, Sumiati
Jurnal Kesehatan Masyarakat Perkotaan Vol. 5 No. 2 (2025): Jurnal Kesehatan Masyarakat Perkotaan
Publisher : LPPM Universitas Mohammad Husni Thamrin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37012/jkmp.v5i2.3245

Abstract

Background: Chronic kidney disease (CKD) is a condition of permanent decline in kidney function, so that most patients require hemodialysis therapy. Hemodialysis can affect the physical, psychological, and social aspects of patients, which impacts the quality of life. One of the impacts / effects of chronic kidney failure undergoing hemodialysis is anemia. Untreated anemia can worsen physical conditions, reduce quality of life, and even increase the risk of premature death. Methods: The study used a quantitative cross-sectional approach. The sample was conducted using purposive sampling with calculations using the Slovin formula which obtained a total of 69 respondents. Anemia status was measured based on hemoglobin levels in the last 1 month, while quality of life was measured using the WHOQOL-BREF. Results: The results of the study showed that respondents who experienced anemia (Hb <10 mg/dL) were 69.6% and the majority of respondents had a poor quality of life of 58.0%. From the chi-square analysis, it was seen that there was a significant relationship between anemia and quality of life in chronic kidney failure patients, namely with a p-value of 0.027 (p <0.05). Discussion: A significant relationship between anemia and quality of life in hemodialysis patients is because anemia can cause symptoms such as fatigue, decreased physical activity ability, impaired concentration, and discomfort that affect the physical and psychological aspects of patients. This is in line with the theory that suboptimal oxygen supply due to low hemoglobin levels will disrupt organ function and overall quality of life. Conclusion: This shows a relationship between anemia and quality of life in hemodialysis patients at Moh Ridwan Meuraksa Class II Hospital.
Hubungan Kadar Natrium, Kalium dan Klorida Pada Pasien Hipertensi Di Rumah Sakit Umum Daerah Koja Jakarta Utara Ellis Susanti; Atna Permana; Sumiati Bedah
Anakes : Jurnal Ilmiah Analis Kesehatan Vol. 11 No. 2 (2025): ANAKES: Jurnal Ilmiah Analis Kesehatan
Publisher : Universitas Mohammad Husni Thamrin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37012/anakes.v11i2.2876

Abstract

Hypertension is a very common and quite high disease problem in the world. -The prevalence of hypertension in the population aged over 18years is still quite high at 30.8% in 2023 (Riskesdas 2023). One of the causes of hypertension is due to an increase in Sodium and Chloridelevels and a decrease in Potassium levels. This study aims to determine the description of Sodium, Potassium and Chloride levels in emergencyhypertension patients at Koja Regional General Hospital, North Jakarta. The research method used a cross-sectional with a sample of 100hypertension patients who underwent  sodium, Potassium  and  Chloride  examinations  at Koja  Regional General Hospital, East Jakarta. .The most abnormal Sodium results were in the early elderly age group 60-65 years (21%), Potassium (42%) and Chloride (30%) in the Pre- elderlyage group (46-59 years). The most abnormal Sodium results were in women (24%), Potassium in men (46%), while Chloride was obtainedequally between men and women (24%). Abnormal sodium (27%) and potassium (37%) results were most common in patients with stage I hypertension, while abnormal chloride results were most common in pre-hypertension patients (50%). It is recommended that patients with hypertension have their sodium, potassium, and chloride levels checked for monitoring and evaluation, as well as for monitoring the effectivenessof treatment.   Keywords: Chloride, Hypertension, Potassium, Sodium
Age, Hypertension, and Physical Inactivity as Dominant Risk Factors for Stroke: A Population-Based Study in Yogyakarta, Indonesia Muhammad Abdi Riyantono; Ajeng Tias Endarti; Sumiati Bedah; Telly Purnamasari
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 6, No 8 (2026): Volume 6 Nomor 8 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v6i8.24303

Abstract

ABSTRACT Stroke remains a major public health challenge globally, with a growing burden in low and middle-income countries. Indonesia reports a high prevalence of stroke, particularly in the Special Region of Yogyakarta. However, population-based evidence on dominant individual-level risk factors remains limited. This study aims to analyze stroke risk factors in Yogyakarta based on data from the 2023 Indonesian Health Survey. This population-based cross-sectional study used secondary data from the 2023 Indonesian Health Survey. A total of 8,126 respondents aged ≥15 years residing in Yogyakarta Province were included. The outcome was a self-reported history of physician-diagnosed stroke. Independent variables included age, sex, hypertension, physical activity, diabetes mellitus, coronary heart disease, smoking status, and obesity. Multivariable logistic regression was performed to identify dominant risk factors for stroke. The prevalence of stroke was 0.7% (7 per 1,000 population). After adjustment for potential confounders, older age was strongly associated with stroke (adjusted odds ratio [AOR] = 15.35 for ≥65 years; AOR = 15.80 for 46–64 years). Hypertension was the most influential modifiable risk factor (AOR = 13.69; 95% CI: 6.63–28.25). Low physical activity significantly increased stroke risk (AOR = 3.71 for mild activity and 3.42 for moderate activity). Female sex was independently associated with a lower likelihood of stroke (AOR = 0.33; 95% CI: 0.17–0.63). Stroke risk in Yogyakarta Province is primarily driven by ageing, hypertension, and physical inactivity. Strengthening hypertension control and promoting physical activity, particularly from midlife onward, should be prioritized in primary healthcare and community-based prevention strategies. Keywords: Hypertension, Indonesian Health Survey, Physical Inactivity, Stroke.