Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : Historiography

Praktik percaloan tiket film di Bioskop Surabaya tahun 1950-an - 1970-an Arbaletta Kalinda Desvasivi Parameswari; Najib Jauhari; Grace Tjandra Leksana
Historiography: Journal of Indonesian History and Education Vol 2, No 3 (2022)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (999.164 KB) | DOI: 10.17977/um081v2i32022p310-322

Abstract

This paper tries to describe to the reader the practice of brokering film tickets at the Surabaya cinema and how to handle it. The practice of ticket brokering itself is a crime that is affected by the existence of the cinema industry. The cinema industry emerged as a form of modernity in Surabaya in the field of entertainment for the community. The existence of this raises the question, how is the practice of brokering movie tickets in cinemas in Surabaya carried out? How is the public's response to this crime? How does the government deal with this brokering practice? By using historical research methods, this study examines a number of primary resources through archives. To find out how the practice of brokering film tickets is carried out in cinemas to the government's way of dealing with this brokering practice. The conclusions that can be drawn include: the practice of brokering film tickets in cinemas is carried out by unscrupulous persons to obtain profits that can be used to increase the needs of daily life. It is carried out with a neatly arranged modus operandi and has the support of several parties in the cinema. In response to this, the people were angry and filed complaints against the government, so anticipatory and repressive actions were carried out.Penulis mencoba menggambarkan kepada pembaca mengenai praktik percaloan tiket film di bioskop Surabaya dan cara menanganinya. Praktik percaloan tiket sendiri merupakan sebuah tindak kriminalitas yang terdampak dari adanya industri bioskop. Industri bioskop muncul sebagai bentuk adanya modernitas di Surabaya dalam bidang hiburan bagi masyarakat. Adanya hal tersebut memunculkan pertanyaan, bagaimanakah praktik percaloan tiket film dilakukan di bioskop-bioskop Surabaya?  Bagaimanakah respon masyarakat terhadap adanya kriminalitas ini? Serta bagaimanakah cara pemerintah menangani adanya praktik percaloan ini? Dengan menggunakan metode penelitian sejarah, studi ini menelusuri sejumlah sumber primer berupa arsip. Untuk mengetahui bagaimana praktik percaloan tiket film dilakukan di bioskop hingga cara pemerintah dalam mengatasi adanya praktik percaloan ini. Sehingga dapat diketahui bahwa praktik percaloan tiket film terjadi di bioskop dilakukan oleh oknum untuk mendapatkan keuntungan yang dapat digunakan untuk menambah kebutuhan hidup sehari-hari, dilakukan dengan modus operandi yang tersusun rapi serta mendapat dukungan dari beberapa pihak dalam bioskop. Merespon hal ini masyarakat marah dan mengajukan keluhan terhadap pemerintah, hingga dilakukan tindak antisipatif dan represif.
Pemanfaatan Museum Sangiran sebagai sumber belajar Sejarah untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas X SMA Negeri 1 Kertosono Arif Dedy Purwanto; Najib Jauhari
Historiography: Journal of Indonesian History and Education Vol 3, No 3 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um081v3i32023p286-301

Abstract

This study aims to determine the use of the Sangiran Museum as a source of learning history in an effort to improve the History learning outcomes for class X students of SMA Negeri 1 Kertosono. The problem in this study is to analyze before and after the use of the Sangiran Museum to improve the History learning outcomes of students in grades X-9, X-10, and X-11. The method used in this study is a quantitative method with the type chosen is pre-experimental in the form of one-group pretest-posttest design. The use of the instrument as a test of increasing learning outcomes is in the form of a multiple choice question test. Data analysis used validity test, reliability test, and descriptive analysis based on the average learning outcomes of each student and class. The pretest results for class X-9 were 50.97 and it became 91.11 in the posttest, the pretest results for class X-10 were 39.13 to 91.47 in the posttest, and the pretest results for class X-11 were 41.41 to 85.52 in the posttest. The results showed that there was an increase in learning outcomes in each sample class.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk pemanfaatan Museum Sangiran sebagai penggunaan sumber belajar Sejarah dalam upaya peningkatan hasil belajar Sejarah siswa kelas X SMA Negeri 1 Kertosono. Permasalahan dalam penelitian ini adalah menganalisis sebelum dan sesudah adanya pemanfaatan Museum Sangiran terhadap peningkatan hasil belajar Sejarah siswa kelas X-9, X-10, dan X-11. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif dengan jenis yang dipilih adalah pre-eksperimental berbentuk one-grup pretest-posttest design. Penggunaan instrumen sebagai uji peningkatan hasil belajar berupa tes soal pilihan ganda. Analisis data menggunakan uji validitas, uji reliabilitas, dan analisis deskriptif berdasarkan dari rata-rata hasil belajar setiap siswa dan kelas. Hasil pretest kelas X-9 sebesar 50.97 dan menjadi 91.11 pada posttest, hasil pretest kelas X-10 sebesar 39.13 menjadi 91,47 pada posttest, dan hasil pretest kelas X-11 41.41 menjadi 85.52 pada posttest. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat peningkatan hasil belajar di setiap kelas yang menjadi sampel.
Pedagang jamu wanita Yogyakarta: mata pencaharian masyarakat Hindia Belanda tahun 1910-1930 Rahmawati, Diana; Jauhari, Najib; Subekti, Arif
Historiography: Journal of Indonesian History and Education Vol 3, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um081v3i22023p162-173

Abstract

The purpose of this article to identify traditional medicine practices as women’s livelihood in 1910–1930 in Yogyakarta. Jamu was purchased from spice traders and Chinese traders. They are known as tukang jual obat or tukang jamu. Herbal medicine was sold in processed or raw form accompanied by instructions for use. Herbal medicine is believed as a treatment by the bumiputra community due to its fast-healing process. One of the factors causing the high demand for herbal medicine by bumiputra community is because of Western’s expensive and far health facilities. This study was conducted using the historical method with some stages of topic selection, heuristics, criticism, interpretation, and historiography. The results of this study indicated that 1) women's popularity as herbal medicine traders were recognized as working women and 2) herbal medicine traders played an important role in helping the public health of bumiputra. In this case, herbal medicine aims to maintain a healthy body rather than treat disease. Thus, their presence is more recognized in the community as working women because of bumiputra's interest in herbal medicine sold by women. Tujuan artikel ini adalah untuk mengetahui pengobatan tradisional oleh kaum wanita sebagai salah satu mata pencaharian tahun 1910–1930 di Yogyakarta. Jamu dibeli melalui pedagang rempah-rempah dan pedagang Cina. Mereka dikenal dengan sebutan tukang jual obat atau tukang jamu. Jamu dijual dalam bentuk olahan maupun mentahan dan disertai dengan petunjuk penggunaan. Jamu dipercaya sebagai pengobatan oleh masyarakat bumiputra karena proses penyembuhannya yang cepat. Salah satu faktor penyebab tingginya permintaan masyarakat bumiputra terhadap jamu disebabkan karena fasilitas kesehatan Barat yang relatif jauh dan mahal. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode sejarah melalui beberapa tahapan yaitu pemilihan topik, heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa 1) kepopuleran mereka di tengah masyarakat sebagai tukang jamu diakui sebagai wanita pekerja 2) pedagang jamu memainkan peran penting dalam usaha membantu kesehatan masyarakat bumiputra. Wanita melakukan perdagangan jamu bertujuan untuk menjaga kesehatan tubuh daripada mengobati penyakit. Dengan demikian, kehadiran tukang jamu lebih diakui di tengah masyarakat sebagai wanita pekerja karena ketertarikan bumiputra terhadap jamu yang dijual oleh kaum wanita.
Pengembangan bahan ajar electronic historical revolution book (E-HIROBO) berbasis Heyzine materi Revolusi Prancis untuk kelas XI IPS SMA Nasional Malang Farhan, Muhammad; Jauhari, Najib
Historiography: Journal of Indonesian History and Education Vol 4, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um081v4i12024p65-74

Abstract

Abstract Teaching materials become tools used in learning and teaching activities. However, this, especially in XI SMA Nasional Malang, cannot be done optimally in learning in History Specialization, thus affecting students. E-HIROBO was developed to be able to help students understand about the French Revolution. This research and development uses the Thiagarajan model as its method, consisting of four stages, namely define, design, develop, and disseminate. The results of the material expert validation received a percentage of 86% (very valid), the validation of the media expert received a percentage of 84% (very valid). Meanwhile, the results of the small group test questionnaire obtained a percentage of 81.81%, and the results of the large group test obtained 87.65%. Based on these results, it is concluded that the development of E-HIROBO on the material of the French Revolution is very valid and very feasible to use in learning History Specialization. Abstrak Bahan ajar menjadi perangkat digunakan dalam kegiatan belajar dan mengajar. Namun hal tersebut khususnya di XI SMA Nasional Malang belum dapat dilakukan secara maksimal dalam pembelajaran pada Sejarah Peminatan, sehingga mempengaruhi peserta didik. E-HIROBO dikembangkan ditujukan untuk dapat membantu bagi peserta didik dapat memahami seputar Revolusi Prancis. Penelitian dan pengembangan ini menjadikan model dari Thiagarajan sebagai metodenya, terdiri dari empat tahapan yaitu define (mendefinisikan), design (merancangkan), develop (mengembangkan), dan disseminate (menyebarkan). Hasil validasi ahli bagian materi mendapatkan persentase 86% (sangat valid), validasi dari ahli bagian media mendapatkan persentase 84% (sangat valid). Sementara itu dari hasil angket uji kelompok kecil memperoleh persentase 81,81%, dan hasil dari uji kelompok besar memperoleh 87,65%. Berdasarkan dari hasil tersebut disimpulkan bahwa pengembangan E-HIROBO pada materi Revolusi Prancis sangat valid dan sangat layak digunakan dalam pembelajaran Sejarah Peminatan.