Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Co-creation Nilai dan Pengalaman Wisata pada Ritual Seumeuleung Raja: Strategi Meningkatkan Kesejahteraan Komunitas Lokal Muntaha Mardhatillah; Ikhwan Rahmatika Latif; Sudarman Sudarman; Nurhaslita Sari
REFORMASI Vol 16, No 1 (2026)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33366/rfr.v16i1.8796

Abstract

Intangible cultural heritage plays a crucial role in strengthening local identity and serves as a strategic resource for community-based tourism development. In Aceh Jaya, the Seumeuleung Raja ritual, which has been preserved since the 15th century, holds deep symbolic and spiritual meaning while functioning as a social consolidation event that brings together local communities, traditional leaders, and government officials. Despite attracting thousands of visitors annually, its economic benefits remain sporadic and have not yet formed a sustainable tourism ecosystem. This study adopts a qualitative descriptive approach to explore how the co-creation of cultural values and tourism experiences within the Seumeuleung Raja ritual can enhance local community welfare. Data were collected through in-depth interviews, participant observation, document analysis, and focus group discussions involving customary institutions, local government, and community representatives. The findings reveal that co-creation occurs through four interrelated processes: co-planning, co-production, co-experience, and co-reflection. These processes foster meaningful interactions between stakeholders, resulting in authentic cultural experiences while maintaining the ritual’s spiritual essence. Moreover, co-creation contributes significantly to social cohesion, economic circulation through seasonal markets and local enterprises, and environmental awareness, thereby supporting multiple dimensions of sustainable development. By applying a co-creation framework to a traditional Acehnese context, this study extends the cultural tourism literature and offers practical insights for inclusive, community-based tourism strategies. Ultimately, the Seumeuleung Raja ritual exemplifies how cultural heritage can be transformed into a sustainable tourism ecosystem that strengthens identity, generates economic opportunities, and empowers local communitiesWarisan budaya takbenda memainkan peran penting dalam memperkuat identitas lokal dan berfungsi sebagai sumber daya strategis bagi pengembangan pariwisata berbasis masyarakat. Di Aceh Jaya, upacara Seumeuleung Raja, yang telah dilestarikan sejak abad ke-15, memiliki makna simbolis dan spiritual yang mendalam sekaligus berfungsi sebagai ajang pemersatu sosial yang mempertemukan masyarakat setempat, para pemimpin adat, dan pejabat pemerintah. Meskipun menarik ribuan pengunjung setiap tahun, manfaat ekonominya masih sporadis dan belum membentuk ekosistem pariwisata yang berkelanjutan. Studi ini mengadopsi pendekatan deskriptif kualitatif untuk mengeksplorasi bagaimana penciptaan bersama nilai-nilai budaya dan pengalaman pariwisata dalam ritual Seumeuleung Raja dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, analisis dokumen, dan diskusi kelompok terfokus yang melibatkan lembaga adat, pemerintah daerah, dan perwakilan masyarakat. Temuan menunjukkan bahwa kolaborasi terjadi melalui empat proses yang saling terkait: perencanaan bersama, produksi bersama, pengalaman bersama, dan refleksi bersama. Proses-proses ini memfasilitasi interaksi yang bermakna di antara pemangku kepentingan, menghasilkan pengalaman budaya yang autentik sambil mempertahankan esensi spiritual upacara. Selain itu, kolaborasi berkontribusi signifikan terhadap kohesi sosial, sirkulasi ekonomi melalui pasar musiman dan usaha lokal, serta kesadaran lingkungan, sehingga mendukung berbagai dimensi keberlanjutan. Dengan menerapkan kerangka kerja kolaborasi dalam konteks tradisional Aceh, penelitian ini memperkaya literatur pariwisata budaya dan memberikan wawasan praktis bagi strategi pariwisata inklusif berbasis masyarakat. Pada akhirnya, upacara Seumeuleung Raja menjadi contoh bagaimana warisan budaya dapat diubah menjadi ekosistem pariwisata berkelanjutan yang memperkuat identitas, menciptakan peluang ekonomi, dan memberdayakan masyarakat setempat.
Dari Ritual Adat ke Destinasi Wisata: Transformasi Kelembagaan Seumeuleung Raja dalam Tata Kelola Pariwisata Budaya Berkelanjutan Muntaha Mardhatillah; Ikhwan Rahmatika Latif; Sudarman Sudarman; Nurhaslita Sari
Jurnal Penelitian, Pengembangan Pembelajaran dan Teknologi (JP3T) Vol. 4 No. 1 (2026): Maret
Publisher : Perkumpulan Cendekia Muda Kreatif Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61116/jp3t.v4i1.1231

Abstract

Tradisi Seumeuleung Raja di Lamno, Kabupaten Aceh Jaya, merupakan warisan budaya yang tidak hanya memiliki nilai historis, spiritual, dan sosial, tetapi juga menunjukkan potensi sebagai daya tarik wisata budaya. Perkembangan tersebut menghadirkan tantangan tata kelola, terutama dalam mempertahankan otoritas kelembagaan adat di tengah meningkatnya keterlibatan pemerintah, masyarakat, dan kepentingan pariwisata. Penelitian ini bertujuan menganalisis transformasi kelembagaan Seumeuleung Raja dari ritual adat menuju wisata budaya serta menjelaskan mekanisme tata kelola yang mendukung keberlanjutannya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan informan yang dipilih secara purposive, meliputi pemangku lembaga adat, pemerintah daerah, pemerintahan gampong, dan anggota rumpun Kerajaan Daya Poteumeureuhom. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, Focus Group Discussion (FGD), dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan analisis tematik melalui kondensasi data, penyajian data, serta penarikan dan verifikasi kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Seumeuleung Raja memiliki hierarki kelembagaan yang jelas, dengan Sultan atau keluarga pewaris sebagai sumber legitimasi adat, didukung pejabat adat, pemerintahan gampong, dan pemerintah daerah. Transformasi menuju wisata budaya tidak menghilangkan otoritas adat, tetapi mendorong reposisi fungsi kelembagaan melalui pembagian kewenangan antara aspek sakral yang dipertahankan berdasarkan amanat adat dan aspek operasional yang dikelola melalui musyawarah serta koordinasi lintas aktor. Temuan ini menunjukkan terbentuknya tata kelola yang adaptif dan kolaboratif, di mana kelembagaan adat berperan sebagai indigenous intermediary antara pelestarian budaya, pemerintahan formal, partisipasi masyarakat, dan pengembangan pariwisata. Penelitian berkontribusi pada kajian heritage tourism governance dengan menunjukkan bahwa keberlanjutan wisata budaya tidak semata ditentukan oleh pengembangan destinasi, tetapi oleh kemampuan kelembagaan adat beradaptasi tanpa kehilangan legitimasi dan otoritas budayanya.