Alex Sobur
Ilmu Komunikasi, Universitas Islam Bandung

Published : 44 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Membaca “Pojok” Koran Alex Sobur
MediaTor (Jurnal Komunikasi) Vol 9, No 1 (2008): Isu Komunikasi Kesehatan yang Ter-”Pojok”-kan
Publisher : Pusat Penerbitan Universitas (P2U) LPPM Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/mediator.v9i1.1135

Abstract

Sepanjang sejarahnya, pojok tampil sebagai pembawa kritik dengan gaya yang sinis tapi lucu. Iklim kebebasan pers yang bergulir, sejak era reformasi, menyebabkan semakin banyaknya pejabat atau tokoh yang menjadi sasaran “tembak”pojok surat kabar. Informasi yang berhasil didengar wartawan, tetapi belum muncul atau sulit diungkapkan dengan berita biasa, pada suatu ketika bisa muncul lewat pojok. Sejak kapan sebetulnya pojok itu muncul dalam surat kabar? Bagaimana dan apa sebab pojok lahir dalam pers Indonesia, tidaklah jelas. Namun yang pasti, pojok merupakan rubrik khas yang hanya dimiliki pers Indonesia.
Karya Seni sebagai Media Alex Sobur
MediaTor (Jurnal Komunikasi) Vol 8, No 2 (2007): Proses Berkesenian = Proses Berkomunikasi
Publisher : Pusat Penerbitan Universitas (P2U) LPPM Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/mediator.v8i2.1245

Abstract

In essence, art is a form of human spirit and cultural expression contained and expressing aesthetic beauty. Art is born from the deepest side of human, encouraged by artist tendency toward beauty—whatever it is. Such encouragement mirrored human instinct provide by God (Allah) to His people. Art is also medium, the process of artisans in fact reflects the process of communication. There are messages to be delivered in art. Without messages, art become no more than a mute art, and therefore, has no meaning at all.
Kebenaran Sebagai Prasyarat Etis Pers Alex Sobur
MediaTor (Jurnal Komunikasi) Vol 1, No 1 (2000): Salam (Pembuka)
Publisher : Pusat Penerbitan Universitas (P2U) LPPM Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/mediator.v1i1.775

Abstract

Kredo seorang insan pers (wartawan) adalah mengabdi kepada kebenaran dan kepada publik. Maka itu, seorang wartawan memerlukan iklim kebebasan untuk bisa bekerja secara professional, memenuhi tugasnya menyampaikan informasi yang benar dan berharga. Dalam hubungan ini, paham pers mengenai kebebasan, mengandung pelbagai unsur substansial: kebebasan untuk mencari dan mengungkapkan kebenaran, namun sekaligus juga tanggung jawab tentang kadar kebenaran yang berhasil ditemukan oleh pers, serta tanggung jawab mengenai apakah implikasi dan konsekwensi dari kebebasan berita tersebut, apalagi diterbitkan secara umum dan terbuka.
How the Print Media Industry Survived in the Digital Era Firmansyah Firmansyah; Sophia Novita; Atie Rachmiatie; Septiawan Santana K.; Alex Sobur; Dian Widya Putri
Jurnal ASPIKOM - Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 7, No 1 (2022)
Publisher : Asosiasi Pendidikan Tinggi Ilmu Komunikasi (ASPIKOM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24329/aspikom.v7i1.1013

Abstract

In the era of information technology, print media is on the verge of extinction. The Pikiran Rakyat Newspaper, one of the largest local newspapers in West Java, still survives. This study illustrates how print media can survive in the era of digital society. This research uses a sequential explanatory design method by combining quantitative and qualitative data. Quantitative data was collected using a survey to a sample of readers totaling 1540 respondents. The sample was determined using purposive sampling with unique qualifications for potential readers in West Java. Qualitative data using observation, interviews, and FGD. The quantitative results showed that respondents admitted they were still interested in consuming newspapers. Newspapers have advantages over online media; clickbait does not exist. The qualitative results indicate that print media can still survive, not as a source of income but as an icon of the company.
Makna Kasih Sayang Keluarga dalam Film Korea Ami Ainun Fahmi Rahmanda; Alex Sobur
Jurnal Riset Jurnalistik dan Media Digital Volume 2, No. 1, Juli 2022 Jurnal Riset Jurnalistik dan Media Digital (JRJMD)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (199.699 KB) | DOI: 10.29313/jrjmd.v2i1.602

Abstract

Abstract. Minari’s film won the Oscar award with 6 consecutive nominations and a series of other awards in other competitions. This study used a qualitative research method with John Fiske's semiotic analysis approach. The purpose of this study was to determine the reality levels, representation, and ideology in Lee Isaac Chung's Minari film. The results of the study indicate that Minari Film is represented through appearance, speech, behavior, expression and environment, which is emphasized through shooting techniques. The values of the meaning of family affection are reflected in the environment, the place of shooting, appearance and costumes, movements and expressions, words, sentences, dialogues, photo propositions, shooting angles, and narration. Abstrak. Film Minari berhasil meraih penghargaan di piala Oscar dengan 6 nominasi berturut-turut dan sederet penghargaan lainnya. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan analisis semiotika John Fiske. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui level realitas, representasi, dan ideologi dalam film Minari karya Lee Isaac Chung. Hasil penelitian yang menunjukkan bahwa Film Minari direpresentasikan melalui penampilan, cara berbicara, perilaku, ekspresi dan lingkungan, yang dipertegas melalui teknik-teknik pengambilan gambar. Nilai-nilai makna kasih sayang keluarga tergambar melalui lingkungan, tempat pengambilan gambar, penampilan dan kostum, gerak dan ekspresi, kata, kalimat, dialog, proposisi foto, sudut pengambilan gambar, maupun narasi.
Penindasan Kelompok Minoritas dalam Lagu Hanifa Dwipinasti Sakina; Alex Sobur
Bandung Conference Series: Journalism Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Journalism
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (247.701 KB) | DOI: 10.29313/bcsj.v2i2.2726

Abstract

Abstract. This undergraduate thesis is a critical discourse dissection with the lyrics of “Kafir” written by Jason Ranti as its object. In this critical discourse analysis, the lyrics of “Kafir” is analyzed to unveil the form of violence in the social life. The form of violence can be symbolically or not and even both of them. In the lyrics of “Kafir” there is a discourse analysis that wants to develop the knowledge and in opposition with the form of power that dominant. The problem in the lyrics of “Kafir” is not value-free because it is link with a social problem that occurs in the society and in the interfaith people. Through critical discourse analysis with the lyrics of “Kafir” written by Jason Ranti, raise a knowledge of the symbolic dominance and unsymbolic dominance that people of minority experience with, and emerge critical consciousness with unveil the forms of power and the power relations itself: domination, oppression, and discrimination from the people of majority. This research has a purpose to expose the critical discourse within the lyrics of “Kafir” as a form against power relations and domination by showing that there is a form of violence in the name of faith or religion which people will allow themselves to do everything in the name of religion, in which raise a problem when the religion become a tool to dominate and oppress minority people. Abstrak. Skripsi ini merupakan pembedahan secara kritis dengan lirik lagu “Kafir” yang ditulis oleh Jason Ranti sebagai objeknya. Dalam analisis wacana kritis ini, lirik lagu “Kafir” dianalisis untuk menyingkap bentuk kekerasan dalam kehidupan sosial, ketidakberesan yang ada dalam tatanan sosial. Bentuk kekerasan tersebut bisa berupa simbolis atau kelihatan jelas bahkan keduanya. Dalam lirik lagu “Kafir” terdapat aktivitas wacana yang ingin menghasilkan pengetahuan untuk melawan bentuk kuasa yang dominan. Persoalan dalam lirik lagu “Kafir” tidak bebas nilai karenanya berkelindan dengan ketidakberesan sosial yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat dan berkehidupan antar umat beragama. Melalui analisis wacana kritis dalam lirik lagu “Kafir” muncul pengetahuan mengenai dominasi simbolis dan tak simbolis yang dirasakan juga dialami oleh orang-orang yang minoritas, dan menumbuhkan kesadaran kritis dengan menyingkap bentuk-bentuk kuasa: dominasi, penindasan, diskriminasi yang dilakukan oleh orang-orang yang mayoritas. Penelitian ini bertujuan mengungkap wacana dalam lirik lagu “Kafir” sebagai suatu bentuk perlawanan dari bukti adanya kekuasaan yang dominan dengan memperlihatkan adanya bentuk kekerasan atas nama kepercayaan atau agama, yang mana semua orang sudi melakukan apapun atas nama agama yang menjadikannya berbuah persoalaan jika agama menjadi alat untuk mendominasi kepercayaan-kepercayaan lain yang minoritas dan yang lebih pentingnya bahwa semua orang ikut terlibat dalam struktur kekerasan tersebut.
Model Jurnalisme Naratif dalam Novel Sang Pewarta Annisa Nur Tiara; Alex Sobur
Bandung Conference Series: Journalism Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Journalism
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (460.101 KB) | DOI: 10.29313/bcsj.v2i2.4176

Abstract

Abstract. Novel is a form of writing which is a mass media of journalistic products wrapped and packaged using literary language. This research on “The Model of Narrative Journalism in the Novel Sang Pewarta” aims to determine the structure of the 3-act narrative according to Tzevetan Todorov’s theory. To be later linked and distributed in scene o gram. Using qualitative research methods, with a narrative analysis approach and using the theory of narrative structure according to Tzevetan Todorov. Observation, Literature Study, and Document Study were conducted to collect data, and analyze it in 3 stages, namely data reduction, data presentation and then drawing conclusions. Finally, to test the validity of the data, it is done by triangulating the theory, linking the data with the existing theory. This study resulted in 3 research points, firstly that a narrative has an initial balancing act which is aimed at the initial 6 chapters of the novel describing the initial situation, secondly there are 17 chapters on conflict patterns where the main character is experiencing a lot of disturbances, the last there are 3 chapters in the novel. the final balance pattern, when the main character tries to restore balance. Abstrak. Novel, salah satu bentuk tulisan yang merupakan media massa produk jurnalistik yang dibalut dan dikemas menggunakan bahasa sastra. Penelitian tentang “Model Jurnalisme Naratif dalam novel Sang Pewarta” ini bertujuan untuk mengetahui struktur narasi 3 babak menurut teori Tzevetan Todorov. Menggunakan metode penelitian kualitatif, dengan pendekatan analisis naratif dan menggunakan teori struktur narasi menurut Tzevetan Todorov, untuk kemudian dikaitkan dan didistribusikan menggunakan scene o gram. Observasi, Studi Pustaka, dan Studi Dokumen dilakukan untuk mengumpulkan data, dan menganalisisnya dengan cara 3 tahap yaitu reduksi data, penyajian data kemudian penarikan kesimpulan. Terakhir, untuk menguji keabsahan data, dilakukan dengan triangulasi teori, mengaitkan data dengan teori yang ada. Penelitian ini menghasilkan 3 poin penelitian, pertama bahwa sebuah narasi memiliki babak keseimbangan awal yang ditujukan dengan 6 bab awal pada novel yang menggambarkan situasi awal, yang kedua terdapat 17 bab pada pola konflik dimana tokoh utama sedang mengalami banyak gangguan, yang terakhir terdapat 3 bab pada pola keseimbangan akhir, saat tokoh utama berusaha mengembalikan keseimbangan.
Representasi Komunikasi Lingkungan pada Revitalisasi Sungai Salsabilla Putri Mulyana; Alex Sobur
Bandung Conference Series: Public Relations Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Public Relations
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcspr.v3i1.6608

Abstract

Abstract. Issues regarding the environment become a conversation that dominates every day because the increase is significant. The issue of river pollution is much discussed, considering that the river is a source of water that is widely used by the community. One of the heavily polluted rivers is the Citarum river, which has been named the dirtiest river by the World Bank. The government is trying to revitalize the Citarum river by holding the Citarum Harum program. Environmental communication on the revitalization of the Citarum river which involves many people with different backgrounds. Representations regarding environmental communication carried out in the revitalization of the Citarum River are research questions that will be examined in this study. This study uses a qualitative paradigm with ethnographic methods. The selected data collection techniques are in-depth interviews, observation and documentation. Data triangulation was chosen as a way to test the validity of the data through methods, investigators and theory. Reviewed using representation theory, environmental communication theory. The results of this study are that the form of a reflective approach to environmental communication regarding the revitalization of the Citarum River is in the form of socialization, education and invitation activities for the community carried out by the Citarum Task Force. In the intentional approach after environmental communication, it has an impact on both communicators and communicants, including increasing awareness about the importance of rivers and protecting the environment more. The form of the constructivist approach carried out by the Citarum Task Force is the making of an appeal sign. Keywords: Citarum River, Environmental Communication, Representation Theory, Citarum Harum Program Abstrak. Isu mengenai lingkungan menjadi perbincangan yang mendominasi setiap hari karena peningkatannya signifikan. Isu mengenai pencemaran sungai menjadi hal yang banyak diperbincangkan, mengingat sungai merupakan sumber air yang banyak dimanfaatkan oleh masyarakat. Salah satu sungai yang tercemar berat adalah sungai Citarum yang dinobatkan sebagai sungai terkotor oleh Bank Dunia. Pemerintah berusaha untuk melakukan revitalisasi sungai Citarum dengan mengadakan program Citarum Harum. Komunikasi lingkungan pada revitalisasi sungai Citarum yang melibatkan banyak kalangan yang memiliki latar belakang berbeda. Representasi mengenai komunikasi lingkungan yang dilakukan pada revitalisasi sungai citarum menjadi pertanyaan- pertanyaan penelitian yang akan di teliti dalam penelitian ini. Penelitian ini menggunakan paradigma Kualitatif dengan metode Etnografi. Teknik pengumpulan data yang dipilih adalah wawancara mendalam, observasi serta dokumentasi. Triangulasi data dipilih sebagai cara untuk menguji keabsahan data melalui metode, penyidik serta teori. Dikaji menggunakan teori representasi, teori komunikasi lingkungan. Hasil dari penelitian ini bahwa bentuk pendekatan reflektif pada komunikasi lingkungan mengenai revitalisasi Sungai Citarum berupa kegiatan sosialisasi, edukasi dan ajakan untuk masyarakat yang dilakukan oleh Satgas Citarum. Pada pendekatan intensional pasca komunikasi lingkungan memberikan dampak baik bagi komunikator maupun komunikan diantaranya dapat meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya sungai dan lebih menjaga lingkungan. Bentuk pada pendekatan konstruktivis yang dilakukan Satgas Citarum adalah pembuatan plang himbauan. Kata kunci : Sungai Citarum, Komunikasi Lingkungan, Teori Representasi, Program Citarum Harum
Praktik Jurnalisme Lingkungan dalam Pemberitaan Pembangunan Bendungan Bener, Desa Wadas, Kabupaten Purworejo Jawa Tengah Eriza Reziana; Alex Sobur
Bandung Conference Series: Journalism Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Journalism
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsj.v3i1.6704

Abstract

Abstract. The local government's plans for the Bener dam construction project require mining of andesite rocks in Wadas Village. Conditions heated up when residents responded to the refusal, leading to clashes involving the police and residents. The media is busy reporting on this land acquisition conflict as awareness of environmental problems. This research focuses on framing the practice of environmental journalism in reporting on the construction of the Bener dam by Viva.co.id and Okezone.com media. This study uses a qualitative research type with the Robert N. Entman model framing analysis approach consisting of four elements Define Problems, Diagnose Causes, Make Moral Judgment, and Treatment Recommendation. The primary data source is the news on the construction of the Bener Dam on Viva.co.id and Okezone.com media. The results of the study found the framing of the Bener dam construction news from two different points of view. Viva frames the practice of environmental journalism which leads to eco-populism which favors the interests of the people whereas, Okezone leads to eco-developmentalism which focuses on environmental development. Abstrak. Rencana pemerintah daerah terkait proyek pembangunan bendungan Bener memerlukan proses penambangan batuan andesit di Desa Wadas. Kondisi semakin memanas ketika warga merespon penolakan, hingga terjadilah aksi bentrok melibatkan aparat kepolisian dengan warga. Media ramai memberitakan konflik pembebasan lahan ini sebagai kesadaran akan permasalahan lingkungan hidup. Penelitian ini berfokus pada pembingkaian praktik jurnalisme lingkungan hidup pada pemberitaan pembangunan bendungan Bener media Viva.co.id dan Okezone.com. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan analisis framing model Robert N. Entman terdiri dari empat elemen Define Problems, Diagnose Causes, Make Moral Judgement, dan Treatment Recommendation. Sumber data primer yakni pemberitaan pembangunan bendungan Bener pada media Viva.co.id dan Okezone.com. Hasil penelitian menemukan pembingkaian berita pembangunan bendungan Bener dengan dua sudut pandang yang berbeda. Viva membingkai praktik jurnalisme lingkungan yang mengarah pada eco-populism yang memihak kepada kepentingan rakyat sedangkan, Okezone mengarah pada eco-developmentalism yakni memfokuskan pada pembangunan lingkungan. 
Makna Tanda Kekerasan Seksual terhadap Perempuan Salsabila Dhiyaa Syahira; Alex Sobur
Bandung Conference Series: Communication Management Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Communication Management
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcscm.v3i2.7510

Abstract

Abstract. Cases of sexual violence in Indonesia occupy the highest position with a total of 11,236 cases recorded, in which the majority of victims are women with various statuses. Film is a form of mass communication that is considered easy in disseminating information to the public, especially regarding the issue of sexual violence. One of the films that discusses the issue of sexual violence is the film Photocopier by Wregas Bhanuteja. The meaning of signs of sexual violence against women can be found through scenes and dialogues from the film Photocopier in 12 scenes. In this film, it is told that there is a female student named Suryani or Sur who has been a victim of sexual violence which resulted in her scholarship being revoked. This film is the only Indonesian film and the most watched non-English film in the world and has been watched for 6.92 million hours globally in one week. The purpose of this research is to see the meaning of the sign of sexual violence against women contained in the film, which will then take some of the necessary scene cuts. This study was compiled using qualitative methods with Roland Barthes' semiotic analysis which focuses on three levels of meaning. First, the meaning of the denotation which shows the meaning of the sign of sexual violence against women, namely when Amin was found to have traded female student content that was sexual in nature. Second, the connotative meaning which explains that acts of sexual violence experienced by women are not a serious matter and are instead taken for granted. Finally, the meaning of the myth that emerges from this film is that women who wear revealing clothes are more vulnerable to becoming victims of sexual violence than other people around them. Abstrak. Kasus kekerasan seksual di Indonesia menempati posisi tertinggi dengan total 11.236 kasus yang tercatat, di mana sebagian besar korbannya adalah seorang perempuan dengan berbagai status. Film merupakan salah satu bentuk komunikasi massa yang dianggap mudah dalam menyebarkan informasi kepada khalayak, khususnya mengenai isu kekerasan seksual. Salah satu film yang membahas mengenai isu kekerasan seksual adalah film Penyalin Cahaya karya Wregas Bhanuteja. Makna tanda kekerasan seksual terhadap perempuan dapat ditemukan melalui scene-scene maupun dialog dari film Penyalin Cahaya sebanyak 12 scene. Dalam film ini, diceritakan ada salah seorang mahasiswi bernama Suryani atau Sur yang telah menjadi korban kekerasan seksual sehingga mengakibatkan beasiswanya dicabut. Film ini menjadi satu-satunya film Indonesia dan film nonInggris yang paling banyak ditonton di dunia dan telah ditonton selama 6,92 juta jam secara global dalam jangka waktu satu minggu. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat makna tanda kekerasan seksual terhadap perempuan yang terkandung dalam film yang kemudian akan diambil beberapa potongan adegan yang dibutuhkan. Penelitian ini disusun dengan menggunakan metode kualitatif dengan analisis semiotika Roland Barthes yang berfokus pada tiga level pemaknaan. Pertama, makna denotasi yang memperlihatkan makna tanda kekerasan seksual terhadap perempuan yaitu ketika Amin yang didapati telah memperjualbelikan konten mahasiswi yang berbau seksual. Kedua, makna konotasi yang menjelaskan bahwa tindak kekerasan seksual yang dialami oleh perempuan bukanlah suatu hal yang serius dan justru dianggap remeh. Terakhir, makna mitos yang muncul dari film ini yaitu mengenai perempuan yang mengenakan pakaian terbuka lebih rentan menjadi korban tindak kekerasan seksual dari orang lain disekitarnya.