Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search
Journal : Aceh Anthropological Journal

GENTRIFIKASI DAN PERGOLAKAN LAHAN DI KELURAHAN TANJUNG TONGAH KECAMATAN SIANTAR MARTOBA KOTA PEMATANGSIANTAR Anggraeni, Dwi; Fasya, Teuku Kemal; Nasution, Abdullah Akhyar
Aceh Anthropological Journal Vol 3, No 2 (2019)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v3i2.2778

Abstract

This article has the theme of land conversion or gentrification that occurred in Tanjung Tongah Village, Martoba District, Pematangsiantar City. In depth, this study will observe and analyze the background of the gentrification process at the research location. This research uses qualitative social methods that are descriptive in nature with observation techniques, in-depth interviews, documentation study and literature study. The results showed that there are several factors behind the occurrence of gentrification in Tanjung Tongah Village, including unclear land ownership status by the community, factors of urban development and urbanization as well as factors of economic turmoil experienced by land owners. Abstrak:  Artikel ini bertema alih fungsi lahan atau gentrifikasi yang terjadi di kelurahan Tanjung Tongah, Kecamatan Martoba, Kota Pematangsiantar. Secara mendalam penelitian ini akan mengamati dan menganalisis latarbelakang terjadinya proses gentrifikasi di lokasi penelitian. Penelitian ini menggunakan metode sosial kualitatif yang bersifat deskriftif dengan teknik observasi, wawancara mendalam, studi dokumentasi dan studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada beberapa hal yang melatarbelakangi terjadinya gentrifikasi di Kelurahan Tanjung Tongah, di antaranya status kepemilikan lahan yang tidak jelas oleh masyarakat, faktor pembangunan kota dan urbanisasi serta faktor gejolak ekonomi yang dialami oleh masyarakat pemilik lahan.
Egalitarianisme Gayo Sebuah Inisiatif Antropologi Sosial dan Etnografi Politik Fasya, Teuku Kemal
Aceh Anthropological Journal Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v2i2.1155

Abstract

Gayo is the second largest ethnic groups in Aceh, which is most misunderstood. Actually, Aceh has consisted nine ethnics, including one smallest ethnic that has been founded several years ago, named “Haloban” in Pulau Banyak, Singkil Regency. This arcticle shows the distinctive characters and culture of Gayo people. They were not only inhabiting in area “Gayo continent” such as Central Aceh, Bener Meriah, Gayo Lues Regency, but also Southeast Aceh (Alas), East Aceh (Lokop) Aceh Tamiang (Kalul), and Southwest Aceh Regency (Lhok Gayo). This article uses an ethnographic approach on the condition of culture, art, and history in Gayo landschape. In the long history of the Gayo people, Islam has become a value that has penetrated the joints of the socio-cultural life of its people. This situation is quitely different with Aceh east and west coastal. That happened because the Gayo people had faced challenges to live diverse, so that it influenced the appreciation of their Islamic life. in the religious practice, the Gayo people pay more attention for the esoteric values perspective rather than the exoteric perspective. This is the rich account of a muslim society in highland Gayo, that has been a long debate among themselves ideas of what Islam is and should be as it pertains to all areas of their lives, from work, arts performance, and worship. Many previous anthropological studies, like Snouck Hurgronje works have concentrated on the purely local aspects of culture and the tension between the local and universal in everyday life of Gayo people.
WISATA ZIARAH SEBAGAI IDENTITAS SOSIAL: STUDI ANTROPOLOGI BUDAYA DI MAKAM SULTAN MALIKUSSALEH KECAMATAN SAMUDERA, KABUPATEN ACEH UTARA Muliadi, Muliadi; Fasya, Teuku Kemal; Ilham, Iromi
Aceh Anthropological Journal Vol 4, No 1 (2020)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v4i1.3152

Abstract

Ziarah awalnya merupakan kegiatan ritual keagamaan, kemudian berkembang menjadi wisata ziarah (pilgrimage tourism). Wisata ziarah adalah perjalanan wisata yang tujuaanya berkaitan dengan agama, sejarah, adat istiadat dan kepercayaan dari peserta tur atau kelompok dari masyarakat. Praktik ziarah memunculkan perilaku yang bervariasi diantara satu daerah dengan yang lainnya. Penelitian ini mengkaji tentang “Wisata Ziarah Sebagai  Identitas Sosial (Studi Antropologi Budaya di Makam Sultan Malikussaleh Kecamatan Samudera, Kabupaten Aceh Utara)”. Penelitian ini menggunakan metode sosial kualitatif dengan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data penelitian dilakukan dengan teknik observasi, wawancara, studi dokumen, dan studi literatur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui motif serta perilaku peziarah yang bisa diidentifikasi sebagai identitas sosial masyarakat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Ada beberapa motif peziarah mengunjungi makam Sultan Malikussaleh, diantaranya; (1) karena tradisi agama, (2) sebagai wasilah atau perantara berdoa, dan (3) cok beurkat (mengambil keberkahan). Kemudian berdasarkan tujuan pelaksanaan ziarah, ada beberapa perilaku yang sering terjadi di Makam Sultan Malikussaleh, diantaranya berdoa, peuphon kitab, bernazar, dan belajar sejarah. Perilaku tersebut cenderung menampilkan karakter identitas masyarakat Aceh dalam berziarah
IDENTIFIKASI STAKEHOLDER DAN ANALISIS AKTOR SERTA KELEMBAGAAN TERKAIT ISU PUBLIK PENGEMBANGAN KAWASAN PETERNAKAN KERBAU BERBASIS KEARIFAN LOKAL DI GAYO LUES Nasution, Abdullah Akhyar; Ilham, Iromi; Fasya, Teuku Kemal
Aceh Anthropological Journal Vol 4, No 2 (2020)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v4i2.3120

Abstract

Tradisi beternak kerbau saat ini masih dapat dijumpai di banyak daerah di nusantara, namun secara kualitas dan kuantitas sudah jauh berkurang, termasuk tradisi uwer (beternak) kerbau yang dipraktekkan oleh masyarakat Gayo Lues. Salah satu penyebab adalah kurangnya perhatian stakeholder setempat terhadap permasalahan ini. Padahal, praktek uwer tidak hanya berpotensi mengembangkan kesejahteraan ekonomi masyarakat, namun juga sarat dengan nilai-nilai kearifan lokal. Jika tidak dilakukan proteksi, tidak menutup kemungkinan kerbau akan hilang dalam budaya kehidupan Gayo. Kondisi ini menjadi dasar bagi peneliti untuk mengkaji tentang identifikasi stakeholder dan analisis aktor serta kelembagaan terkait pengembangan kawasan peternakan yang berbasis keraifan lokal di Gayo Lues. Lebih lanjut, penelitian ini juga membahas tentang bagaimana para aktor dan lembaga terkait dengan pengelolaan dan isu pengembangan peternakan di kawasan tersebut. Penelitian ini menggunakan studi etnografi dan metode analisis jaringan. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara dan Focuss Group Discussion (FGD). Penelitian ini menghasilkan beberapa diskusi, yaitu: Pertama, banyak aktor dan lembaga yang terlibat dalam usaha pengembangan peternakan kerbau di Gayo Lues, namun kurangnya sinergitas dan kerjasama antar aktor berimplikasi pada degradasi kebudayaan peternakan kerbau yang berbasis kearifan lokal; kedua, kurangnya stategi yang dimiliki oleh pemangku kebijakan berimplikasi pada kurang minatnya masyarakat untuk melanjutkan tradisi uwer saban hari. Seharusnya banyak potensi yang bisa dilihat, dikembangkan dan dimanfaatkan terkait praktek peternakan kerbau di Gayo Lues; dan ketiga, sistem sosial yang diperankan oleh pemerintah, peternak kerbau, tokoh adat, juga toke kerbau harus dimaksimalkan sehingga bisa mencegah terjadinya economic inequality dan cultural insecurity.
TRADISI JEULAMEE DI PASEE BAGIAN UTARA: KAJIAN ANTROPOLOGI BUDAYA DI KECAMATAN DEWANTARA KABUPATEN ACEH UTARA Murniyati, Habsatul; Fasha, Teuku Kemal
Aceh Anthropological Journal Vol 4, No 2 (2020)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v4i2.3123

Abstract

Penelitian ini berjudul “Tradisi Jeulamee Di Pasee Utara (Kajian Atropologi Budaya Di Kecamatan Dewantara Kabupaten Aceh Utara). Adapun rumusan masalah pada penelitian ini adalah bagaimana bentuk tradisi jeulamee di wilayah Pasee Utara, seperti apakah perbedaan tradisi jeulamee di Pasee Utara dengan tradisi jeulamee di wilayah lainnya dan apakah terdapat gensi dengan memperbesar jeulamee di Pasee Utara. Tujuan dalam penelitian ini untuk mengetahui dan mendeskripsikan tentang tradisi jeulamee di Pasee Utara, untu mengetahui dan mendeskripsikan perbedaan tradisi jeulamee dengan tradisi di wilayah lainnya serta mengetahui dan mendeskripsikan sejauh mana gensi dengan memperbesar jeunamee di Pasee Utara. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggambarkan kajian tentang antropologi budaya. Sumber data dalam penelitian terdiri dari data primer dan sekunder. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman masyarakat di wilayah Pasee Utara tentang tradisi jeulamee yaitu masyarakat setempat menerima dengan kebiasaan atau tradisi yang telah menjadi adat orang Aceh dari zaman dahulu sampai dengan sekarang, sehingga tradisi tersebut tidak dapat dihilangkan dan sudah menjadi budaya bagi masyarakat Gampong Paloh Lada. Perbedaan tradisi jeulamee di Pasee Utara dengan tradisi jeulamee di wilayah Pasee lainnya yaitu penetapan mahar mas kawin (jeunamee) ditentukan oleh kedua belah pihak tanpa memberatkan bagi pihak lelaki, namun bagi keluarga yang mempunyai kehidupan sosial yang tinggi, maka penetapan jeunamee ditentukan oleh keluarga pihak perempuan. Upaya dalam mempertinggi jeulamee wilayah Pasee Utara dijadikan sebagai salah satu adat yang telah diwariskan turun temurun dalam menjaga ikatan dan solidaritas yang kuat di masyarakat, sehingga derajat wanita dalam sosial masyarakat tidak diremehkan, namun bagi keluarga perempuan yang status sosialnya sederhana, maka jeulamee yang diminta tidak memberatkan pihak kaum lelaki yang melamarnya.
DILEMA WISATA DI KOTA LHOKSEUMAWE: STUDI SOSIAL BUDAYA PADA TEMPAT WISATA WADUK JEULIKAT Yanti, Yanti; Fasya, Teuku Kemal; Chalid, Ibrahim
Aceh Anthropological Journal Vol 4, No 1 (2020)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v4i1.3156

Abstract

: Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pandangan masyarakat terhadap wisata waduk Jeulikat, untuk mempelajari dan mendeskripsikan dampak sosial ekonomi terhadap masyarakat sekitar wisata waduk Jeulikat serta untuk mengetahui konflik yang hadir di tempat wisata waduk Jeulikat. Metode pada penelitian ini adalah menggambarkan proses antropologi sosial budaya. Sumber data penelitian terdiri dari data primer dan sekunder. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pandangan masyarakat terhadap wisata waduk Jeulikat sejauh ini dirasakan masih stabil, selama Pemerintah Kota Lhokseumawe mampu mengelola waduk Jeulikat sebaik mungkin, mengutamakan kepentingan umum demi masyarakat sekitar, melakukan kerjasama dan komunikasi yang baik dengan masyarakat setempat, sehingga pengembangan wisata berjalan dengan yang diharapkan. Dampak sosial ekonomi terhadap masyarakat sekitar dengan adanya wisata waduk Jeulikat pada umumnya membawa perubahan dalam membangun roda perekonomian masyarakat, membuka kesempatan lapangan kerja, berdagang atau berbisnis serta prospek yang menjanjikan terhadap Gampong Jeulikat, sehingga membantu memperlancar perekonomian masyarakat. Namun disisi lain berdampak kurang menguntungkan bagi masyarakat sekitar, hal ini dikarenakan aktivitas masyarakat terhambat karena tidak berfungsi lagi saluran irigasi sawah. Konflik yang hadir di tengah-tengah tempat wisata waduk Jeulikat yaitu adanya permasalahan dari faktor keamanan dalam hal pembebasan lahan yang terjadi antara Pemerintah Kota Lhokseumawe dengan masyarakat setempat, karena waduk yang sebelumnya dipergunakan sebagai pengairan irigasi, kini telah dijadikan sebagai tempat wisata yang handal. Selain itu juga hadir permasalahan dari faktor yang berbaur politik, dimana waduk Jeulikat yang dulunya milik masyarakat, kini telah dijadikan sebagai tempat rekreasi
TRADISI MANOE PUCOK DALAM UPACARA PERKAWINAN DI GAMPONG GUNONG CUT KECAMATAN TANGAN-TANGAN ACEH BARAT DAYA: KAJIAN ANTROPOLOGI BUDAYA Nur, Linda Wati; Fasya, Teuku Kemal
Aceh Anthropological Journal Vol 4, No 2 (2020)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v4i2.3124

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana tradisi Manoe Pucok pada masyarakat Gampong Gunong Cut Kecamatan Tangan-Tangan Aceh Barat Daya dan untuk mengetahui seperti apa makna dari tradisi Manoe Puco kmasyarakat Gampong Gunong Cut Kecamatan Tangan-Tangan Aceh Barat Daya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggambarkan kajian tentang antropolog ibudaya.Sumber data dalam penelitian terdiri dari data primer dan sekunder. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara dan dokumentasi.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman tradisi Manoe Pucok pada masyarakat Gampong Gunong Cut merupakan bagian yang senantiasa dilakukan dalam upacara perkawinan maupun acara sunat Rasul. Melalui tradisi Manoe Pucok manusia diajarkan sopan santun, tatapergaulan dan tatakarma dengan rekan sebaya maupun dengan masyarakat sekitar sertamampu mengenang dan mengingat jasa kasih sayang kedua orang tua yang telah mendidik dan membesarkan sang anak hingga orang tersebut beranjak dewasa. Pengertian makna tradisi Manoe Pucok dalam masyarakat Gampong Gunong Cut merupakan ungkapan yang di simbolkan dalam pembersihan diri sebelum seseorang menempuh kehidupan yang baru serta mengandung unsur nasihat dalam membangun suatu akhlak mulia terhadap orang tua, kerabat sendiri, pasangan hidup maupun dengan masyarakat. Selain itu di dalam upacara Manoe Pucok juga terkandung simbol-simbol yang mempunyai makna tersendiri dan media atau alat komunikasi bagi masyarakat untuk memahami dan mengetahui nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat. Upacara Manoe Pucok dalam masyarakat berperan sebagai sarana pengendalian sosial, kontak sosial, interaksi dan komunikasi antar warga masyarakatnya, sehingga dapat mewujudkan kegotong-royongan, persatuan dan solidaritas diantara sesama warga masyarakat.
TRADISI JEULAMEE DI PASEE BAGIAN UTARA: KAJIAN ANTROPOLOGI BUDAYA DI KECAMATAN DEWANTARA KABUPATEN ACEH UTARA Habsatul Murniyati; Teuku Kemal Fasha
Aceh Anthropological Journal Vol 4, No 2 (2020)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v4i2.3123

Abstract

Penelitian ini berjudul “Tradisi Jeulamee Di Pasee Utara (Kajian Atropologi Budaya Di Kecamatan Dewantara Kabupaten Aceh Utara). Adapun rumusan masalah pada penelitian ini adalah bagaimana bentuk tradisi jeulamee di wilayah Pasee Utara, seperti apakah perbedaan tradisi jeulamee di Pasee Utara dengan tradisi jeulamee di wilayah lainnya dan apakah terdapat gensi dengan memperbesar jeulamee di Pasee Utara. Tujuan dalam penelitian ini untuk mengetahui dan mendeskripsikan tentang tradisi jeulamee di Pasee Utara, untu mengetahui dan mendeskripsikan perbedaan tradisi jeulamee dengan tradisi di wilayah lainnya serta mengetahui dan mendeskripsikan sejauh mana gensi dengan memperbesar jeunamee di Pasee Utara. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggambarkan kajian tentang antropologi budaya. Sumber data dalam penelitian terdiri dari data primer dan sekunder. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman masyarakat di wilayah Pasee Utara tentang tradisi jeulamee yaitu masyarakat setempat menerima dengan kebiasaan atau tradisi yang telah menjadi adat orang Aceh dari zaman dahulu sampai dengan sekarang, sehingga tradisi tersebut tidak dapat dihilangkan dan sudah menjadi budaya bagi masyarakat Gampong Paloh Lada. Perbedaan tradisi jeulamee di Pasee Utara dengan tradisi jeulamee di wilayah Pasee lainnya yaitu penetapan mahar mas kawin (jeunamee) ditentukan oleh kedua belah pihak tanpa memberatkan bagi pihak lelaki, namun bagi keluarga yang mempunyai kehidupan sosial yang tinggi, maka penetapan jeunamee ditentukan oleh keluarga pihak perempuan. Upaya dalam mempertinggi jeulamee wilayah Pasee Utara dijadikan sebagai salah satu adat yang telah diwariskan turun temurun dalam menjaga ikatan dan solidaritas yang kuat di masyarakat, sehingga derajat wanita dalam sosial masyarakat tidak diremehkan, namun bagi keluarga perempuan yang status sosialnya sederhana, maka jeulamee yang diminta tidak memberatkan pihak kaum lelaki yang melamarnya.
DILEMA WISATA DI KOTA LHOKSEUMAWE: STUDI SOSIAL BUDAYA PADA TEMPAT WISATA WADUK JEULIKAT Yanti Yanti; Teuku Kemal Fasya; Ibrahim Chalid
Aceh Anthropological Journal Vol 4, No 1 (2020)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v4i1.3156

Abstract

: Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pandangan masyarakat terhadap wisata waduk Jeulikat, untuk mempelajari dan mendeskripsikan dampak sosial ekonomi terhadap masyarakat sekitar wisata waduk Jeulikat serta untuk mengetahui konflik yang hadir di tempat wisata waduk Jeulikat. Metode pada penelitian ini adalah menggambarkan proses antropologi sosial budaya. Sumber data penelitian terdiri dari data primer dan sekunder. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pandangan masyarakat terhadap wisata waduk Jeulikat sejauh ini dirasakan masih stabil, selama Pemerintah Kota Lhokseumawe mampu mengelola waduk Jeulikat sebaik mungkin, mengutamakan kepentingan umum demi masyarakat sekitar, melakukan kerjasama dan komunikasi yang baik dengan masyarakat setempat, sehingga pengembangan wisata berjalan dengan yang diharapkan. Dampak sosial ekonomi terhadap masyarakat sekitar dengan adanya wisata waduk Jeulikat pada umumnya membawa perubahan dalam membangun roda perekonomian masyarakat, membuka kesempatan lapangan kerja, berdagang atau berbisnis serta prospek yang menjanjikan terhadap Gampong Jeulikat, sehingga membantu memperlancar perekonomian masyarakat. Namun disisi lain berdampak kurang menguntungkan bagi masyarakat sekitar, hal ini dikarenakan aktivitas masyarakat terhambat karena tidak berfungsi lagi saluran irigasi sawah. Konflik yang hadir di tengah-tengah tempat wisata waduk Jeulikat yaitu adanya permasalahan dari faktor keamanan dalam hal pembebasan lahan yang terjadi antara Pemerintah Kota Lhokseumawe dengan masyarakat setempat, karena waduk yang sebelumnya dipergunakan sebagai pengairan irigasi, kini telah dijadikan sebagai tempat wisata yang handal. Selain itu juga hadir permasalahan dari faktor yang berbaur politik, dimana waduk Jeulikat yang dulunya milik masyarakat, kini telah dijadikan sebagai tempat rekreasi
PROBLEMATIKA DI BALIK PROSES RELOKASI KORBAN BENCANA DI SITI AMBIA Juhaina Juhaina; T. Kemal Fasya; Ade Ikhsan Kamil
Aceh Anthropological Journal Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/aaj.v3i1.2788

Abstract

Bencana alam selalu memunculkan dampak pembangunan baru di wilayah tertentu. Pembangunan dikonsepsikan sebagai usaha untuk kemajuan ekonomi yang berarti keluar dari zona kemiskinan. Masyarakat harus saling mendukung dalam hal pembangunan, karena masyarakat menentukan keadaan sosial dan pembangunan suatu negara. Dari dampak bencana gempa yang ditimbulkan maka muncullah pembangunan daerah pascabencana untuk memulihkan kembali luka mayarakat. Namun, masyarakat terlihat gagap terhadap pembangunan tersebut, hal ini dapat dilihat dari tingkah laku masyarakat yang lebih memilih kembali ke lokasi awal bencana daripada menempati relokasi bantuan. Penelitian ini mengambil tema pembangunan pasca bencana, dengan pendekatan Antropologi Pembangunan. Studi Antropologi Pembangunan yang digunakan mengangkat judul “Rekonstruksi Kampung Siti Ambia Pascabencana” (Studi Antropologi Pembangunan di Kampung Siti Ambia, Kecamatan Singkil, Kabuaten Aceh Singkil). Metode yang dilakukan dalam penelitian ini ialah jenis sosial kualitatif. Kampung Siti Ambia adalah salah satu Kampung di Kecamatan Singkil yang terkena bencana gempa pada 28 Maret 2005. Dalam penelitian ini penulis menggunakan dua sumber data yakni, data primer dan data sekunder. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui mengapa masyarakat lebih memillih kembali ke tempat semula daripada menempati lokasi bantuan. Padahal lokasi bantuan jauh lebih baik daripada lokasi semula yang mereka tinggali. Dengan penelitian ini penulis berharap akan menambah wawasan mengenai pembangunan pasca gempa dalam studi Antropologi Pembangunan, serta memberi pandangan mengenai pembangunan terhadap masyarakat.