Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

Fear Of Missing Out Dengan Konformitas Pada Generasi Z Iklimah, Maulida; Noviekayati, IGAA; Ananta, Aliffia
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol 1 No 2 (2023): Desember
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/jiwa.v1i2.9927

Abstract

The rapid development of technology affects Gen Z to communicate between individuals. This technological explosion gave rise to the phenomenon of fear of missing out, the fear of losing moments so that behavior emerged to continue to monitor, making individuals anxious when they were left behind. Especially when individuals are influenced by conformity in the form of pressure from their group to always be connected with what is happening on social media. This study aims to determine the relationship between fear of missing out and conformity in the z generation. The subjects used in this study were individuals aged 19-23 years involving 98 respondents. Sampling using non-probability sampling technique by accidental sampling by spreading Google form. The instrument used is the fear of missing out scale according to Przybylski's theory (2013) and the conformity scale according to Sears' theory (2004). The analysis technique used is the product moment with a result of 0.926 with a significance of p = 0.000 <0.01. The research measurement to see the reliability of the instrument uses the Cronbach’s alpha coefficient which when analyzing requires the help of SPSS 25.0 software for Windows. The results obtained show that the proposed hypothesis is accepted, the higher the fear of missing out, the higher the conformity. Vice versa, the higher the fear of missing out, the higher the conformity of generation z individuals. Perkembangan teknologi yang pesat mempengaruhi gen z berkomunikasi antar individu. Ledakan teknologi ini memunculkan fenomena fear of missing out ketakutan akan kehilangan momen sehingga muncul perilaku untuk terus memantau sehingga membuat individu gelisah ketika tertinggal. Terutama ketika individu mendapat pengaruh konformitas berupa tekanan dari kelompoknya agar selalu terhubung dengan yang sedang terjadi di media sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara fear of missing out dengan konformitas pada generasi z. Subjek yang digunakan pada penelitian ini individu dengan usia 19-23 tahun melibatkan 98 responden. Pengambilan sampel menggunakan teknik non probability sampling secara accidental sampling dengan menyebar google form. Instrumen yang digunakan adalah skala fear of missing out sesuai dengan teori Przybylski (2013) dan skala konformitas sesuai dengan teori Sears (2004). Teknik analisis yang digunakan adalah product moment dengan hasil 0,926 dengan signifikansi p = 0,000 < 0,01. Pengukuran penelitian untuk melihat reliabilitas instrumen menggunakan koefisien cronbach alpha yang ketika analisis membutuhkan bantuan software SPSS 25.0 for Windows. Hasil yang didapat menunjukkan hipotesis yang diajukan diterima, semakin tinggi fear of missing out maka semakin tinggi konformitas. Begitu juga sebaliknya, semakin tinggi fear of missing out maka semakin tinggi konformitas pada individu generasi z.
Psychological Well-being pada Remaja : Bagaimana Peranan Kecenderungan Kecanduan Media Sosial? Saraswati, Diva Adyana; Noviekayati, IGAA; Ananta, Aliffia
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol 2 No 1 (2024): Maret
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/jiwa.v2i1.10411

Abstract

Adolescence is an important stage in a person's life that includes emotional development, physical development, as well as mental and social development. Someone who has difficulty controlling their use of social media. This can lead to various problems, including psychological problems. For adolescents, the high level of use of social networks will have negative consequences. This study aims to determine whether there is a relationship between social media addiction and psychological well-being in late adolescence. This research is a correlational research. The subjects in this study were 144 late adolescents. Hypothesis testing was carried out using the product moment test technique. The results of this study indicate a positive relationship between the tendency of social media addiction to psychological well-being. It can be said that social media can improve psychological well-being of adolescents. It is also not said that adolescents experience a tendency to social media addiction because they do not use social media as a top priority, and use more than 5 hours a day. Keywords: 1) Social Media; 2) Psychologicall Well-being; 3) Teenager. Masa remaja merupakan tahapan penting pada kehidupan seorang yang mencakup perkembangan emosional, perkembangan fisik, dan juga mental, serta sosial. Seseorang yang mengalami kesulitan untuk mengendalikan penggunaan media sosial. Hal ini dapat menyebabkan berbagai masalah, termasuk masalah psikologis. Bagi remaja, tingginya tingkat penggunaan jejaring sosial akan memberikan akibat akibat negative. Penelitian ini mempunyai tujuan untuk mengetahui apakah ada hubungan antara kecanduan kecanduan media sosial terhadap psychological well-being pada usia remaja akhir. Penelitian ini adalah penelitian korelasional. Subjek dalam penelitian ini sebanyak 144 remaja akhir. Pengujian hipotesis yang dilakukan menggunakan teknik uji product moment. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya hubungan yang positif antara kecenderungan kecanduan media sosial terhadap psychological well-being. Hal ini dapat dikatakan media sosial dapat meningkatkan psychological well-being remaja. Hal ini juga tidak dikatakan remaja mengalami kecenderungan kecanduan media sosial karena tidak menggunakan media sosial sebagai prioritas utama, dan menggunakan lebih dari 5 jam dalam sehari. Kata kunci: 1) Media Sosial; 2) Psychological well-being; 3) Remaja.
Kecenderungan kecanduan media sosial : Adakah peran self-disclosure dan interpersonal trust ? Ardiansyah, Ghama Ilham; Santi, Dyan Evita; Ananta, Aliffia
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol 2 No 1 (2024): Maret
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/jiwa.v2i1.10470

Abstract

Abstract This research aims to determine the relationship between self-disclosure and interpersonal trust and social media addiction in generation z. Addiction to social media makes users think about online activities even though they are offline, making social life unconducive. This research used quantitative methods involving a population of 1,440 high school students in Sukodono sub-district, Sidoarjo. The subjects of this research consisted of 271 teenage high school students aged 15-19 years, who were selected using purposive sampling. Data were collected using a Likert scale, with instruments using Griffiths' (2000) social media addiction scale, DeVito's (2011) self-disclosure theory scale and Rotternberg's (2010) interpersonal trust scale. Multiple linear regression analysis shows that there is a simultaneous relationship between self-disclosure and interpersonal trust and the tendency to become addicted to social media. Keywords: Tendency to be addicted to social media; self-disclosure; interpersonal trust Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya hubungan antara self-dsiclosure dan interpersonal trust dengan kecandaun media sosial pada generasi z. Kecanduan media sosial menjadikan penggunanya memikirkan aktivitas online meskipun sedang ofline, kehidupan sosial menjadi tidak kondusif. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan melibatkan populasi sebanyak 1.440 siswa-siswi sma di kecamatan Sukodono, Sidoarjo. Subjek penelitian ini terdiri dari 271 remaja siswa-siswi sma berusia 15-19 tahun, yang dipilih secara purposive sampling. Pengumpulan data menggunakan skala likert, dengan instrument menggunakan skala kecanduan media sosial teori Griffiths (2000), skala self-disclosure teori DeVito (2011) dan skala interpersonal trust teori Rotternberg (2010). Analisis regresi linear berganda menunjukkan bahwa terdapat hubungan simultan antara self disclosure dan interpersonal trust dengan kecenderungan kecanduan media sosial. Kata kunci: Kecenderungan kecanduan media sosial; self disclosure; interpersonal trust
Kecemasan sosial dewasa awal: Adakah peran kecenderungan kecanduan media sosial dan body dissatisfaction ? Aslamiyah, Farikha; Santi, Dyan Evita; Ananta, Aliffia
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol 2 No 1 (2024): Maret
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/jiwa.v2i1.10471

Abstract

Abstract This research aims to determine the relationship between social media addiction tendencies and body dissatisfaction with social anxiety in early adulthood. Social anxiety refers to the behavior of withdrawing from social environments, referring to nervous behavior when meeting other people. This research used quantitative methods involving a population of 81,790 students who were studying at tertiary institutions in Sukolilo District involving 12 universities. The research subjects consisted of 271 early adult students, aged 18-25 years, who were selected by accidental sampling. Data were collected using a Likert scale, with instruments using the social anxiety scale of La Greca & Lopez theory, the social media addiction tendency scale of Griffiths theory, and the body dissatisfaction scale of Rosen & Reiter theory. Multiple linear regression analysis shows that there is a simultaneous relationship between social media addiction tendencies and body dissatisfaction with social anxiety. Partially, a positive relationship was found between the tendency to be addicted to social media and social anxiety, as well as body dissatisfaction and social anxiety. Keywords: Social anxiety; social media addiction tendencies; body dissatisfaction Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya hubungan antara kecenderungan kecanduan media sosial dan body dissatisfaction dengan kecemasan sosial pada dewasa awal. Kecemasan sosial merujuk pada perilaku menarik diri dari lingkungan sosial, merujuk pada perilaku gugup bertemu orang lain. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan melibatkan populasi sebanyak 81.790 mahasiswa yang sedang menempuh perguruan tinggi di Kecamatan Sukolilo dengan melibatkan 12 Universitas. Subjek penelitian terdiri dari 271 mahasiswa dewasa awal, berusia 18-25 tahun, yang dipilih secara accidental sampling. Pengumpulan data menggunakan skala likert, dengan instrument menggunakan skala kecemasan sosial teori La Greca & Lopez, skala kecenderungan kecanduan media sosial teori Griffith, dan skala body dissatisfaction teori Rosen & Reiter. Analisis regresi linear berganda menunjukkan bahwa terdapat hubungan simultan antara kecenderungan kecanduan media sosial dan body dissatisfaction dengan kecemasan sosial. Secara parsial, ditemukan hubungan positif antara kecenderungan kecanduan media sosial dan kecemasan sosial, serta body dissatisfaction dengan kecemasan sosial. Kata kunci: Kecemasan sosial; kecenderungan kecanduan media sosial;body dissatisfaction
Peer attachment: Kunci mengurangi perilaku agresif pada anak sekolah dasar Muna, Hanifa Wafiqul; Noviekayati, IGAA; Ananta, Aliffia
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol 2 No 03 (2024): September
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/jiwa.v2i03.11449

Abstract

Abstract This study aims to determine the relationship between peer attachment and aggressive behavior in elementary school children. Aggressive behavior refers to an individual's response or reaction to their environment that hurts other individuals. Aggressive behavior is characterized by behaviors that individuals do that hurt other individuals in verbal and non-verbal forms. This study used 92 subjects with age variations of 9-11 years old who are elementary school students. Data collection was conducted at school using a questionnaire in the form of a guttman scale, using measurement instruments consisting of The Aggression Questionnaire and Inventory of Parent and Peer Attachment (IPPA). Spearman's Rho analysis shows that Aggressive Behaviour and Peer Attachment have a negative linear association. That is, the stronger the peer relationship, the less aggressive the behaviour of elementary school students. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kelekatan teman sebaya dengan perilaku agresif pada anak sekolah dasar. Perilaku agresif merupakan respon atau reaksi individu terhadap lingkungannya yang menyakiti individu lain. Perilaku agresif ditandai dengan perilaku yang dilakukan individu yang menyakiti individu lain dalam bentuk verbal maupun non verbal. Penelitian ini menggunakan 92 subjek dengan variasi usia 9-11 tahun yang merupakan siswa sekolah dasar. Pengumpulan data dilakukan di sekolah dengan menggunakan kuesioner dalam bentuk skala guttman, dengan menggunakan alat ukur yang terdiri dari Kuesioner Agresi dan Inventori Kelekatan Orangtua dan Teman Sebaya (IPPA). Analisis menggunakan Spearman's Rho yang menunjukkan adanya hubungan negatif dan linier antara Perilaku Agresif dengan Peer Attachment. Artinya, semakin tinggi Peer Attachment, maka semakin rendah perilaku agresif anak sekolah dasar.
Self-Compassion dan Kepribadian Introvert: Potret Kecemasan Sosial pada Remaja Nurinasari, Sofines Ulsy; Noviekayati, IGAA; Ananta, Aliffia
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol 2 No 04 (2024): Desember
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/jiwa.v2i04.12585

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara Self-compassion dan kepribadian Introvert dengan kecemasan sosial pada remaja. Kecemasan Sosial merupakan suatu kondisi dimana individu merasakan ketakutan secara berlebihan ketika berada pada situasi sosial. Individu yang mengalaminya sering khawatir tentang tanggapan orang lain terhadap dirinya, seperti takut diejek atau dikritik. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan teknik pengambilan sampel accidental sampling pada 384 responden. Teknik analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah Spearman’s Rho. Berdasarkan hasil analisis data yang telah dilakukan menunjukkan hubungan negatif antara Self-compassion dengan kecemasan sosial. Artinya semakin tinggi self-compassion semakin rendah kecemasan sosial, begitupun sebaliknya. Berdasarkan hasil analisis data yang dilakukan pada menunjukkan adanya hubungan positif antara kepribadian introvert dengan kecemasan sosial. Artinya semakin tinggi kepribadian introvert remaja semakin tinggi kecemasan sosial, begitupun sebaliknya. Hal ini mengindikasikan bahwa individu dengan kepribadian introvert cenderung memiliki tingkat kecemasan sosial yang lebih tinggi. Temuan ini memberikan wawasan baru bahwa kepribadian Introvert dapat menjadi faktor risiko untuk kecemasan sosial, terutama jika individu tersebut merasa tidak nyaman dalam situasi sosial tertentu.
Behavioral Activation Therapy to Reduce Withdrawal Behavior In Schizophrenia Patients Larasati, Nurul Afifah; Ananta, Aliffia
Journal of Scientific Research, Education, and Technology (JSRET) Vol. 4 No. 3 (2025): Vol. 4 No. 3 2025
Publisher : Kirana Publisher (KNPub)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58526/jsret.v4i3.850

Abstract

This study was based on observations of a male patient with schizophrenia who was staying in a mental hospital. The patient displayed withdrawn behavior and tended to avoid interacting with other patients in the ward. If left untreated, this pattern of behavior could interfere with the patient’s recovery, as he showed no interest in doing anything except lying in bed and staying in the corner of the room. The purpose of this study was to reduce the patient’s withdrawn behavior by increasing his involvement in daily structured activities. This research applied an experimental approach using a single-subject design. Data were collected by observing the patient’s participation in scheduled therapeutic activities. A behavior monitoring sheet was used to compare the subject’s behavior before and after the intervention. The results showed that Behavioral Activation Therapy (BAT) was quite effective. After the intervention, the patient began engaging in more activities, which contributed to a noticeable reduction in his withdrawn behavior.
Saat Diri Diterima: Konsep Diri dan Dukungan Sosial sebagai Kunci Kesehatan Mental Remaja Panti Putri Nurul Qomariyah; IGAA Noviekayati; Aliffia Ananta
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 3 No. 04 (2025): Desember
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Adolescents living in orphanages often face challenges in developing self-acceptancedue to a lack of social support and an unstable self-concept. This study aims to examine the relationship between self-concept and social support with self-acceptance among orphanage adolescents in the East Surabaya area. The method used is a correlational quantitative approach with a non-parametric technique using Spearman’s Rho test, as the data did not meet normality and linearity assumptions. The participants consisted of 256 adolescents aged 13–18 years, selected through quota sampling. The results demonstrate a very strong positive correlation between self-concept and self-acceptance (r = 0.905; p < 0.05), as well as between social support and self-acceptance (r = 0.829; p < 0.05). These findings highlight the crucialrole of strengthening self-concept and social support in promoting the psychologicalwell-being of orphanage adolescents. Keywords: self-concept, social support, self-acceptance, adolescents, orphanage. Abstrak Remaja yang tinggal di panti asuhan sering mengalami hambatan didalam membentuk penerimaan diri akibat kurangnya dukungan sosial serta juga konsep diri yang tidak stabil. Temuan ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara konsep diri serta juga dukungan sosial dengan penerimaan diri pada remaja panti asuhan di wilayah Surabaya Timur. Metode yang digunakan ialah kuantitatif korelasional dengan teknik non-parametric menggunakan uji Spearman’s Rho karena data tidak memenuhi asumsi normalitas serta juga linearitas. Partisipan berjumlah 256 remaja usia 13–18 tahun yang dipilih dengan teknik quota sampling. Hasil temuan membuktikkan adanya hubungan positif yang sangat kuat antara konsep diri serta juga penerimaan diri (r = 0,905; p < 0,05) serta antara dukungan sosial serta juga penerimaan diri (r = 0,829; p < 0,05). Temuan ini membuktikkan pentingnya penguatan konsep diri serta juga dukungan sosial bagi kesejahteraan psikologis remaja panti. Kata kunci: konsep diri, dukungan sosial, penerimaan diri, remaja, panti asuhan.
Cyber Aggression di Kalangan Generasi Z Pengguna Instagram Ditinjau dari Self-Control dan Online Disinhibition Bella Eka Siste Saputri; IGAA Noviekayati; Aliffia Ananta
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 3 No. 04 (2025): Desember
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Generation Z is a demographic highly active on social media platforms, particularly Instagram, where they express themselves and engage with others. However, improper use of these platforms can trigger cyber aggression behaviors. This study aims to explore the relationship between self-control and the online disinhibition effect on cyber aggression among Generation Z Instagram users in Surabaya. Using a quantitative correlational approach, the research involved 150 respondents aged 13 to 28, selected through purposive sampling. Data collection was conducted using psychological scales, and the results were analyzed with multiple linear regression. The findings reveal that self-control and the online disinhibition effect simultaneously have a significant influence on cyber aggression behavior. Individually, self-control negatively correlates with online aggression, meaning higher self-control reduces such behavior, while the online disinhibition effect shows a positive correlation, indicating that reduced online inhibitions increase cyber aggression. These results highlight the crucial need to strengthen self-control and digital awareness as effective strategies to prevent aggressive behaviors in the virtual space. Keywords: Cyber aggression, Generation Z, Instagram, Self-control, Online disinhibition effect Abstrak Generasi Z ialah kelompok usia yang aktif menggunakan media sosial, khususnya Instagram, sebagai sarana berekspresi serta juga berinteraksi. Namun, penggunaan yang tidak bijak dapatlah memicu perilaku cyber aggression. Temuan ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara self-control serta juga online disinhibition effect terhadap perilaku cyber aggression pada pengguna Instagram dari kalangan Generasi Z di Surabaya. Pendekatan kuantitatif korelasional digunakan dengan melibatkan 150 responden berusia 13–28 tahun, dipilih melalui teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan skala psikologis serta juga dianalisis dengan regresi linier berganda. Hasil temuan membuktikkan bahwasanya self-control serta juga online disinhibition effect secara simultan memiliki hubungan signifikan terhadap perilaku cyber aggression. Secara parsial, self-control berhubungan negatif, sedangkan online disinhibition effect berhubungan positif terhadap agresi daring. Temuan ini menekankan pentingnya penguatan kontrol diri serta juga kesadaran digital didalam mencegah agresi di ruang maya. Kata kunci: Cyber aggression, Generasi Z, Instagram, Self-control, Online disinhibition effect
Shyness dan Peer Attachment: Faktor Risiko atau Pelindung terhadap Problematic Internet Use pada Remaja? Cynthia Alinda Putri; Dyan Evita Santi; Aliffia Ananta
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 3 No. 04 (2025): Desember
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Adolescents are in a developmental stage where relationships with peers become the primary source of emotional support, social identity, and self-regulation. When attachment to peers is not fulfilled, characterized by poor communication, lack of trust, and feeling alienated from peers, it causes adolescents with poor peer attachment to tend to be isolated from their peers. Thus, shyness, or the condition of feeling uncomfortable in interactions and being prone to restlessness, makes adolescents withdraw from their environment. These two conditions encourage adolescents to seek comfort through the online world, which can trigger excessive and maladaptive internet use, commonly known as Problematic Internet Use. This reserach adopts a quantitative approach employing multiple linear regression analysis. The data were collected through a random cluster sampling method, involving a sample of 365 students from 2 (two) State Junior High Schools in Ponorogo, with sample age criteria of 13-15 years using a questionnaire that measures peer attachment, shyness, and problematic internet use. The findings of multiple linear regression analysis indicate that the significance values of peer attachment (X1) and shyness (X2) on problematic internet use (Y) are 0.000 (p < 0.01), which indicates a highly significant relationship between the two independent variables and problematic internet use. This means that together, peer attachment and shyness can be very significant predictors of problematic internet use Keywords: Adolescent; Peer Attachment; Problematic Internet Use; Shyness Abstrak Remaja berada pada tahap perkembangan di mana hubungan dengan teman sebaya menjadi sumber utama dukungan emosional, identitas sosial, dan regulasi diri. Ketika kelekatan dengan teman sebayanya tidak terpenuhi yang ditandai dengan buruknya komunikasi, kurangnya kepercayaan, dan merasa terasing dengan teman sebayanya menyebabkan remaja dengan tingkat kelekatan teman sebaya yang buruk cenderung terasingkan dari teman sebayanya sehingga malu atau disebut shyness merupakan kondisi individu merasa tidak nyaman dalam berinteraksi, cenderung gelisah yang membuat remaja menarik diri dari lingkungannya. Kedua kondisi ini mendorong remaja untuk mencari kenyamanan melalui dunia maya yang dapat memicu penggunaan internet secara berlebihan dan maladaptif, biasa diketahui sebagai Problematic Internet Use. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan teknik analisis regresi linear berganda. Data pada penelitian ini dikumpulkan dengan teknik random cluster sampling dengan jumlah sampel sebanyak 365 siswa pada 2 (dua) Sekolah Mengengah Pertama Negeri di Ponorogo, dengan kriteria usia sampel 13-15 tahun menggunakan kuisioner yang mengukur peer attachment, shyness, dan problematic internet use. Dari hasil analisis regresi linear berganda diketahui bahwa nilai signifikansi peer attachment (X1) dan shyness (X2) terhadap problematic internet use (Y) sebesar 0,000 (p < 0,01), yang mengindikasikan adanya hubungan sangat signifikan antara kedua variabel bebas tersebut dengan problematic internet use, artinya secara bersama-sama peer attachment dan shyness dapat menjadi prediktor yang sangat signifikan untuk problematic internet use. Kata kunci: Adolescent; Peer Attachment; Problematic Internet Use; Shyness