Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

Kesejahteraan Psikologis Wanita yang Memilih Childfree: Peran Kepuasan Hidup dan Dukungan Sosial Aflah Ikhtiyasa Nagrimukti; Dyan Evita Santi; Aliffia Ananta
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 3 No. 04 (2025): Desember
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract This research explores the psychological well being of young adult women who chosen to remain childfree. The childfree choice often leads to social stigma that can affect an individual’s psychological condition. The aim of this study is to explore the role of life satisfaction and social support in the psychological well being of childfree women. This research used a quantitative approach with a correlational design. The participants were 116 early adult women aged 20-40 years who were married anf consciously chose to be childfree. The instruments used were the life satisfaction scale, social support scale, and psychological well being scale. Data were analyzed using multiple linear regression. The results showed that life satisfaction and social support jointly contribute to psychological well being, but only life satisfaction plays a significant role. It is concluded that the psychological well being of childfree women is more strongly influenced by their level of life satisfaction, while social support contributes when aligned with personal values. Keywords: childfree, early adult women, life satisfaction, psychological well being, social support Abstrak Penelitian ini mengkaji kesejahteraan psikologis pada wanita dewasa awal yang memilih untuk childfree. Pilihan childfree kerap menimbulkan stigma sosial yang memengaruhi kondisi psikologis individu. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui peran kepuasan hidup dan dukungan sosial terhadap kesejahteraan psikologis wanita childfree. Metode yang digunakan adalah kuantitatif dengan desain korelasional. Partisipan berjumlah 116 wanita dewasa awal berusia 20-40 tahun yang telah menikah dan memilih childfree secara sadar. Instrumen penelitian meliputi skala kepuasan hidup, skala dukungan sosial, dan skala kesejahteraan psikologis. Analisis data menggunakan regresi linier berganda. Hasil menunjukkan bahwa kepuasan hidup dan dukungan sosial bersama-sama berkontribusi terhadap kesejahteraan psikologis, namun hanya kepuasan hidup yang berperan secara signifikan. Disimpulkan bahwa kesejahteraan psikologis wanita childfree lebih dipengaruhi oleh tingkat kepuasan hidup, sementara dukungan sosial berperan apabila selaras dengan nilai hidup pribadi. Kata kunci: childfree, dukungan sosial, kepuasan hidup, kesejahteraan psikologis, wanita dewasa awal
Mengelola Kesepian: Self-Compassion dan Dukungan Sosial dalam Kehidupan Mahasiswa Rantau Emilia Nur Aini Putri; IGAA Noviekayati; Aliffia Ananta
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol. 3 No. 04 (2025): Desember
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Overseas students in their late teens are prone to loneliness because they have to adapt to a new environment without direct support from their families. This study aims to determine the role of self-compassion and social support in reducing loneliness levels among overseas students. This study uses a correlational quantitative approach with 183 overseas students aged 18–21 years as participants selected using incidental sampling techniques. The instruments used include scales measuring loneliness, self-compassion, and social support. Data analysis was conducted using correlation and regression tests. The results indicate that both self-compassion and social support are significantly negatively correlated with loneliness. This means that the higher the levels of self-compassion and social support, the lower the levels of loneliness experienced by students. These findings highlight the importance of psychological interventions that foster self-compassion and build strong social networks. Keywords: Social Support, Lonelines, Students Away from Home Late Adolescents, Self-Compassion. Abstrak Mahasiswa rantau pada tahap remaja akhir rentan mengalami kesepian karena harus beradaptasi dengan lingkungan baru tanpa dukungan langsung dari keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran self-compassion dan dukungan sosial dalam mengurangi tingkat loneliness pada mahasiswa rantau. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional dengan 183 mahasiswa rantau berusia 18–21 tahun sebagai partisipan yang dipilih menggunakan teknik insidental sampling. Instrumen yang digunakan meliputi skala loneliness, self-compassion, dan dukungan sosial. Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi dan regresi. Hasil menunjukkan bahwa baik self-compassion maupun dukungan sosial berhubungan negatif signifikan dengan loneliness. Artinya, semakin tinggi tingkat self-compassion dan dukungan sosial, semakin rendah tingkat kesepian yang dirasakan mahasiswa. Temuan ini menunjukkan pentingnya intervensi psikologis yang menumbuhkan welas asih pada diri dan membangun jejaring sosial yang kuat. Kata kunci: Dukungan Sosial, Loneliness, Mahasiswa Rantau, Remaja Akhir, Self-Compassion.
HUBUNGAN ANTARA HARGA DIRI DAN NEED TO BELONG DENGAN PRESENTASI DIRI PADA PENGGEMAR OLAHRAGA LARI YANG MENGGUNAKAN MEDIA SOSIAL Puja Anastatiro; I Gusti Ayu Agung Noviekayati; Aliffia Ananta
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.12971

Abstract

The increasing popularity of running in Indonesia in recent years reflects not only a shift toward a healthier lifestyle but also the transformation of running into a medium of self-presentation on social media. Running activities shared through photos, videos, and performance records represent how individuals construct and display their identity in digital spaces. This study aims to examine the relationship between self-esteem and need to belong with self-presentation among running enthusiasts who use social media. This research employed a quantitative approach with a correlational design. The participants consisted of 147 running enthusiasts who actively use social media. Data were collected online using questionnaires and analyzed using multiple linear regression. The results indicate that self-esteem and need to belong simultaneously have a significant relationship with self-presentation, with a coefficient of determination of 0.998. Partially, need to belong contributed an effective contribution of 72.49%, while self-esteem contributed an effective contribution of 25.07% to self-presentation. These findings suggest that the need for social acceptance and belonging plays a more dominant role than internal self-evaluation in shaping self-presentation on social media among running enthusiasts. ABSTRAK Fenomena meningkatnya popularitas olahraga lari di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir tidak hanya menunjukkan perubahan gaya hidup sehat, tetapi juga menjadikan lari sebagai sarana presentasi diri di media sosial. Aktivitas lari yang dibagikan dalam bentuk unggahan foto, video, maupun pencapaian olahraga mencerminkan cara individu menampilkan identitas dan citra diri di ruang digital. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara harga diri dan need to belong dengan presentasi diri pada penggemar olahraga lari yang menggunakan media sosial. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Subjek penelitian berjumlah 147 responden penggemar olahraga lari yang aktif menggunakan media sosial. Pengumpulan data dilakukan secara daring menggunakan kuesioner, kemudian dianalisis menggunakan regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa harga diri dan need to belong secara simultan memiliki hubungan yang signifikan dengan presentasi diri, dengan nilai koefisien determinasi sebesar 0,998. Secara parsial, need to belong memberikan sumbangan efektif sebesar 72,49%, sedangkan harga diri memberikan sumbangan efektif sebesar 25,07% terhadap presentasi diri. Temuan ini menunjukkan bahwa kebutuhan untuk diterima dan diakui secara sosial memiliki peran yang lebih dominan dibandingkan evaluasi diri internal dalam membentuk presentasi diri di media sosial pada penggemar olahraga lari.    
MENURUNKAN INSOMNIA DAN DEPRESI PADA LANSIA MELALUI RELAKSASI OTOT PROGRESIF UPAYA INTERVENSI PSIKOLOGIS MENUJU PENUAAN YANG SEHAT DAN BERMAKNA Rizki Dwi Bakhtiar Surin; Nindia Pratitis; Aliffia Ananta
BUDIMAS : JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT Vol. 7 No. 3 (2025): BUDIMAS : Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : LPPM ITB AAS Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29040/budimas.v7i3.17377

Abstract

Lansia rentan mengalami gangguan tidur, khususnya insomnia non-organik yang disebabkan oleh stres, kecemasan, dan depresi ringan. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas tidur lansia melalui teknik relaksasi otot progresif. Intervensi dilakukan selama satu bulan kepada lansia berusia 65 tahun di Surabaya. Hasil pengukuran menggunakan KSPBJ-IRS menunjukkan penurunan skor dari 27 menjadi 23, mengindikasikan adanya perbaikan gejala insomnia meskipun masih dalam kategori ringan. Klien juga melaporkan peningkatan kenyamanan dan rasa tenang sebelum tidur. Temuan ini diperkuat oleh penelitian sebelumnya dan menunjukkan bahwa relaksasi otot progresif efektif sebagai intervensi psikologis non-farmakologis dalam mendukung penuaan yang sehat dan bermakna. Kata kunci :Lansia, Insomnia non-organik, Relaksasi otot progresif, Intervensi psikologis
Body Dissatisfaction Pada Wanita Masa Emerging Adulthood: Bagaimana Peranan Social Comparison dan Perfeksionisme Aliffia Ananta; Suhadianto Suhadianto
Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 11, No 4 (2022): Psikostudia : Jurnal Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikostudia.v11i4.8853

Abstract

Women in emerging adulthood experience a variety of physical and psychological changes and developmental tasks. The existence of various exposures to the mass media, environment, and family makes women compare themselves with others and socially. Doing social comparisons and perfectionism has the risk of making individuals experience body dissatisfaction. This study aims to determine the relationship between social comparison and perfectionism with body dissatisfaction. The participants of this study were 350 women in emerging adulthood who were taken using Conveniance Sampling. This research instrument was adapted from the Iowa-Netherlands Comparison Orientation Measure (α=0.909), Frost Multidimensional Perfectionism Scale (α=0.857), and body dissatisfaction scale (α=0.911) compiled by researchers based on the theory of Rosen & Reiter (1995). The data analysis technique in this study used multiple regression with the JASP program. Simultaneously, social comparison and perfectionism had a very significant directional correlation with body dissatisfaction (F=56,412; p<0.01). The effective contribution of the two variables is 24.5%. Partially, there is a very significant negative correlation between social comparison and body dissatisfaction (t=-6.097; p<0.01) and a very significant positive correlation between perfectionism and body dissatisfaction (t=6.782; p<0.01).Wanita pada masa emerging adulthood mengalami berbagai perubahan fisik dan psikologis serta tugas perkembangan. Adanya berbagai paparan dengan media masa, lingkungan, dan keluarga membuat wanita membandingkan dirinya sendiri dengan orang lain dan secara sosial. Melakukan perbandingan sosial dan perfeksionisme memiliki resiko membuat individu mengalami body dissatisfaction. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara social comparison dan perfeksionisme dengan body dissatisfaction. Partisipan penelitian ini adalah 350 wanita pada masa emerging adulthood diambil menggunakan Conveniance Sampling. Instrumen penelitian ini mengadaptasi dari skala the Lowa-Netherlands Comparison Orientation Measure (α=0,909), Frost Multidimensional Perfectionism Scale (α=0,857), dan skala body dissatisfaction (α=0,911) yang disusun peneliti berdasarkan teori Rosen & Reiter (1995). Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan regresi ganda dengan program JASP. Secara simultan social comparison dan perfeksionisme memiliki hubungan berarah yang sangat signifikan dengan body dissatisfaction (F=56,412; p<0,01). Sumbangan efektif kedua variabel adalah 24,5%. Secara parsial dapat diketahui ada hubungan negatif yang sangat signifikan antara social comparison dengan body dissatisfaction (t=-6,097; p<0,01) dan hubungan positif yang sangat signifikan antara Perfeksionisme dengan body dissatisfaction (t=6,782; p<0,01).