Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

PEMANFAATAN BIODIESEL-EMULSI AIR SEBAGAI BAHAN BAKAR PENGERINGAN KARET REMAH Hanifarianty, Sherly; Handayani, Hani; Falaah, Asron Ferdian; Maspanger, Dadi Rosadi; Andriani, Woro; Farobie, Obie; Rusli, Meika Syahbana
Jurnal Penelitian Karet JPK : Volume 43, Nomor 1, Tahun 2025
Publisher : Pusat Penelitian Karet - PT. Riset Perkebunan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/ppk.jpk.v43i1.949

Abstract

Emulsi biodiesel-air dapat digunakan sebagai bahan bakar alternatif untuk pengeringan karet remah. Biodiesel yang digunakan merupakan campuran 70% solar dan 30% FAME (B30) serta campuran 60% solar dan 40% Fatty Acid Methyl Ester (FAME) (B40) dari minyak sawit mentah (CPO). Potensi penggunaan biodiesel untuk pengeringan karet remah tidak kurang dari 90-120 juta liter per tahunnya. Namun penggunaan biodiesel sebagai bahan bakar pengeringan remah karet masih perlu dikaji karena banyak mengandung NOx dan PM (partikel) yang berpotensi menurunkan kualitas karet.Penggunaan air dimaksudkan untuk ditingkatkan penghematan bahan bakar dan meminimalkan emisi Nitrogen Oksida (NOx) dan partikel udara yang berpotensi menurunkan kualitas karet. Berdasarkan beberapa penelitian terdahulu untuk membuat emulsi minyak-air solar dengan menggunakan surfaktan, maka pada penelitian ini dikembangkan metode preparasi emulsi biodiesel B30-air dan emulsi biodiesel B40-air dengan menggunakan campuran surfaktan Span 80 dan Tween 80, dengan rasio antara biodiesel dan air yaitu 90:10 (v/v). Emulsi biodiesel-air yang homogen dan stabil yaitu emulsi B30-air dan B40-air diperoleh dengan menambahkan emulsifier 5% yang terdiri dari campuran Span 80 dan Tween 80 sebagai surfaktan sehingga membentuk emulsi B30-air dan B40-air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Biodiesel B30-emulsi air dan emulsi B40-air dengan kadar air 10% dapat disintesis menggunakan kombinasi surfaktan SPAN 80 dan TWEEN 80 sebanyak 5% dengan cara diaduk menggunakan mixer kecepatan tinggi (23.000 rpm) selama 1-2 menit hingga menghasilkan emulsi yang stabil lebih dari 30 hari (untuk emulsi air B30) dan sampai dengan 5 hari (untuk emulsi air B40) untuk pengeringan 130 - 135ºC. Untuk emulsi B30-air dan B40-air dengan kadar air 10% layak digunakan sebagai bahan bakar alternatif pengeringan karet remah. Kualitas karet remah kering yang dihasilkan memenuhi standar persyaratan sesuai SNI 1903:2017.
Phycocyanin production from Galdieria sulphuraria 009 in palm oil mill effluent: growth, extraction, and antioxidant activity: Produksi fikosianin dari Galdieria sulphuraria 009 dalam limbah cair pabrik kelapa sawit: pertumbuhan, ekstraksi, dan aktivitas antioksidan Rahman, Delicia Yunita; Praharyawan, Swastika; Apriastini, Marsiti; Nurcahyani, Puji Rahmawati; Nafisyah, Ayu Lana; Fatriasari, Widya; Amrullah, Apip; Farobie, Obie
Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia Vol. 28 No. 5 (2025): Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia 28(5)
Publisher : Department of Aquatic Product Technology IPB University in collaboration with Masyarakat Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia (MPHPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17844/jphpi.v28i5.63115

Abstract

Limbah cair industri kelapa sawit (palm oil mill effluent atau POME) di Indonesia menghasilkan volume yang tinggi dan berpotensi mencemari lingkungan. Mikroalga dapat dimanfaatkan untuk mengurangi limbah sekaligus menghasilkan produk biomassa yang bernilai tambah. Penelitian ini bertujuan menentukan konsentrasi optimum POME bagi pertumbuhan mikroalga Galdieria sulphuraria 009, mengevaluasi produksi fikosianin, serta menilai aktivitas antioksidannya. Penelitian ini diawali dengan penapisan awal menggunakan 5–50% POME untuk mengidentifikasi kondisi pertumbuhan mikroalga yang optimum; budi daya dalam bioreaktor dengan variasi konsentrasi (2,5; 5,0; dan 7,5%) untuk mengevaluasi kinerja pertumbuhan; dan analisis aktivitas antioksidan serta kandungan pigmen dalam biomassa. Penapisan awal menunjukkan bahwa POME 5% merupakan konsentrasi optimal, sedangkan konsentrasi lebih tinggi menghambat pertumbuhan akibat berkurangnya penetrasi cahaya. Pada budidaya lanjutan, mikroalga dalam POME 2,5% menunjukkan hasil sebanding dengan kontrol (Allen pH 2), sedangkan konsentrasi lebih tinggi menghambat pertumbuhan akibat penaungan dan toksisitas amonia. Produksi fikosianin per volume kultur tertinggi diamati pada mikroalga yang dibudidayakan dalam POME 2,5%, dengan hasil yang sebanding dengan media kontrol. Uji aktivitas antioksidan mengonfirmasi bahwa semua ekstrak fikosianin memiliki aktivitas antioksidan yang signifikan, dengan aktivitas tertinggi pada POME 7,5%. Kandungan karotenoid dan klorofil a dievaluasi dalam biomassa segar dan residu setelah ekstraksi. Karotenoid lebih melimpah dalam biomassa segar, sedangkan klorofil a lebih tinggi dalam residu biomassa. Penelitian ini menunjukkan bahwa G. sulphuraria 009 berpotensi sebagai sumber fikosianin yang layak dalam budidaya berbasis POME, serta memberikan wawasan mengenai pemanfaatan limbah industri dan pengembangan produk bioteknologi berkelanjutan.
Peningkatan kesadaran sanitasi masyarakat pedesaan melalui diseminasi pembuatan sabun transparan Farobie, Obie; Saprudin, Deden; Firmansyah, Shaeful
Jurnal Inovasi Hasil Pengabdian Masyarakat (JIPEMAS) Vol 5 No 1 (2022)
Publisher : University of Islam Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/jipemas.v5i1.13822

Abstract

Pengembangan suatu wilayah perlu dilakukan dari satuan terkecil, yaitu pembangunan pedesaan. Desa Tonjong merupakan salah satu dari 410 desa di Kabupaten Bogor yang memiliki potensi yang baik di sektor pertanian, namun masyarakatnya masih memiliki kesadaran yang rendah terkait sanitasi. Kegiatan ini bertujuan memberikan informasi dan pengetahuan mengenai pentingnya menjaga hidup bersih serta transfer pengetahuan terkait pembuatan sabun transparan. Kegiatan ini juga bertujuan untuk mengetahui tingkat kesukaan responden terhadap sabun transparan serta mengevaluasi pemahaman warga terkait proses pembuatan sabun transparan. Tahapan pelaksanaan kegiatan meliputi persiapan, pelatihan pembuatan sabun transparan, dan pelaksanaan evaluasi kegiatan. Hasil uji organoleptik terhadap produk sabun transparan menunjukkan bahwa tingkat kesukaan tinggi pada warna, kelembapan, aroma, dan kehalusan namun rendah pada tingkat kemampuan busa. Hasil evaluasi keseluruhan menunjukkan bahwa ada peningkatan pengetahuan dan pemahaman peserta tentang bahan baku pembuatan sabun (dari 30% menjadi 100%), tata cara pembuatan sabun transparan (dari 5% menjadi 100%), serta manfaat sabun untuk kesehatan (dari 5% menjadi 100%).
Pengaruh Variasi Pulsed-Spray Time dengan Water Coolant Pada Media Pendinginan Terhadap Efisiensi dan Temperatur Panel Surya Ansyah, Pathur Razi; Cahyono, Gunawan Rudi; Budianto, Akhmad Ghiffary Budianto; Amrullah, Apip; Farobie, Obie; Jamalulail, Nanda; Lukmana, Wahyu
Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 13 No. 1 (2025): Jurnal Keteknikan Pertanian
Publisher : PERTETA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19028/jtep.013.1.18-38

Abstract

Teknologi panel surya memungkinkan konversi cahaya matahari menjadi energi listrik. Akan tetapi, ada masalah yang dapat muncul pada kinerja panel surya, misalnya peningkatan suhu panel surya melebihi batas kerjanya sendiri. Suhu yang semakin meningkat akan membuat kinerja panel surya semakin berkurang. Maka, penting menjaga suhu panel surya sangat diperlukan agar performanya tetap optimal. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh delay timing back and front surface spray cooling terhadap temperatur rata – rata, daya output, dan pengoptimalan energi panel surya. Pengujian ini menghasilkan temperatur panel surya sangat menurun ketika delay timing spray 10 menit senilai 58,95°C, ketika delay timing spray 20 menit senilai 70,78°C, sedangkan ketika delay timing spray 30 menit senilai 78,63°C. Metode pendinginan yang dilakukan selama 1 menit dengan variasi delay timing spray 10 menit, 20 menit, dan 30 menit. Uji eksperimental ini dapat menurunkan suhu panel surya, pada delay timing spray 10 menit menjadi 58,95°C, pada delay timing spray 20 menit menjadi 70,78°C, dan pada delay timing spray 30 menit menjadi 78,63°C. Metode pendinginan dilakukan selama 1 menit dengan delay timing spray yang bervariasi yaitu 10 menit, 20 menit dan 30 menit. Melalui pengujian ini juga diperoleh nilai energi total. Apabila delay timing spray 10, 20 dan 30 menit masing-masing sebesar 8,61 x 10-3 kWh (30982,06 Joule), 8,03 x 10-3 kWh (28890,32 Joule) dan 7,61 x 10-3 kWh (27408,06 Joule). Kesimpulan dari penelitian yang telah dilakukan adalah delay timing spray yang paling optimal delay timing spray selama 10 menit dengan suhu rata-rata sebesar 58,95°C, dan optimalisasi energi terbaik adalah dengan energi total sebesar 30982,06 Joule atau 8,61 x 10 -3kWh.
Sintesis keton dari asam lemak stearat dengan katalis layered double hydroxide (LDH) Mg-Al-Cu Firman Arief Soejana; Erliza Hambali; Obie Farobie
AGROINTEK Vol 18, No 2 (2024)
Publisher : Agroindustrial Technology, University of Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/agrointek.v18i2.17108

Abstract

The synthesis of ketones from stearic fatty acids using the fatty acid decarboxylation method to ketones has been carried out to increase the added value of palm oil derivative products. One of the derivative products of palm oil is Crude Palm Oil which can be converted into fatty acids through the triglyceride hydrolysis process. Palm fatty acids are Indonesia's most potentially environmentally friendly raw material. This research aims to synthesize ketones from palm fatty acids using a catalyst. Ketone compounds were synthesized using a solid base catalyst as a double hydroxide layer based on Mg-Al-Cu. Identification of the presence of a C=O ketone group was carried out by testing the Fehling test, Tollens, spectrophotometer (FTIR), and computing the yield. The results showed the success of ketone synthesis using the fatty acid decarboxylation method into ketones through a test of Fehling's on stearic fatty acid ketone products. Meanwhile, in the Tollens test, there wasn't a change in the silver mirror. Furthermore, the spectrophotometer test (FTIR) showed the presence of a C=O bond or a carbonyl group at the peak wave 1707 cm-1. Ketone's synthesis produced was 95.09%.
How to Calculate Dimensionless Numbers in Fluid Mechanics and Their Applications in Chemical Engineering Processes: Reynolds, Mach, Froude, Euler, Power, Stokes, Weber, Capillary, and Cavitation Numbers Asep Bayu Dani Nandiyanto; Obie Farobie; Belkheir Hammouti
ASEAN Journal for Science and Engineering in Materials Vol 5, No 3 (2026): AJSEM: Volume 5, Issue 3, December 2026
Publisher : Bumi Publikasi Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This paper explains how to calculate and interpret dimensionless numbers in fluid mechanics for chemical engineering applications, focusing on the Reynolds, Mach, Froude, Euler, Power, Stokes, Weber, Capillary, and Cavitation numbers. The first part presents each dimensionless number individually based on its definition, formula, required variables, threshold values, physical meaning, calculation example, interpretation, and handling strategy. The second part presents integrated case examples to show how several dimensionless numbers can be used together to analyze more complex chemical engineering systems. The examples include pipe flow, gas flow, heat exchangers, slurry pipelines, pumps, valves, nozzles, mixing vessels, wastewater aeration basins, aerated fermentation bioreactors, spray drying systems, cyclones, and particle-laden flows. Through these examples, this paper aims to help readers connect dimensionless-number calculations with process behavior, engineering interpretation, and practical decision-making in chemical engineering.
Definition and Role of Sustainable Materials in Reaching Global Sustainable Development Goals (SDGs) Completed with Bibliometric Analysis Risti Ragadhita; Asep Bayu Dani Nandiyanto; Obie Farobie; Teguh Kurniawan; M. Roil Bilad
ASEAN Journal for Science and Engineering in Materials Vol 5, No 1 (2026): AJSEM: Volume 5, Issue 1, March 2026
Publisher : Bumi Publikasi Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sustainable materials are essential in achieving the Sustainable Development Goals (SDGs), particularly in clean energy, water purification, waste reduction, and green infrastructure. This study investigates the role of material innovation in supporting the SDGs using a Systematic Literature Review (SLR) and bibliometric analysis (from Scopus database (2015–2025) using keywords “Sustainable Material,” “Green Material,” and “SDGs”). The findings showed a growing research trend, especially after the COVID-19 pandemic, with significant contributions from chemistry, engineering, and environmental sciences. Materials like nanomaterials, biomaterials, biodegradable polymers, and waste-derived products contribute to SDG 6, 7, 9, 12, and 13. Innovations such as green nanotechnology, bio-based materials, and circular material design show strong potential to address global sustainability challenges. These materials not only support emission reduction and waste valorization but also encourage green job creation and sustainable production. This study highlights interdisciplinary pathways to align material science with sustainable development.
How to Integrate Nanotechnology into Chemical Engineering Education: A Bibliometric and Technological Review of Curriculum Standards, Research Trends, Pedagogical Challenges, and Future Prospects Asep Bayu Dani Nandiyanto; Teguh Kurniawan; Muhammad Roil Bilad; Abdulkareem Sh. Mahdi Al-Obaidi; Obie Farobie; Belkheir Hammouti
ASEAN Journal of Educational Research and Technology Vol 5, No 2 (2026): AJERT: VOLUME 5, ISSUE 2, September 2026
Publisher : Bumi Publikasi Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study examines the integration of nanotechnology into chemical engineering education and its implications for future curriculum development. A bibliometric and technological review was conducted using publications from major scientific databases, with standardized datasets and mapped collaboration and keyword networks to identify pedagogical and curricular trends. The findings indicate a steady growth of interdisciplinary research linking nanoscale concepts with process engineering, accompanied by increasing adoption of virtual laboratories, computer simulations, and intelligent tutoring systems. Nevertheless, challenges remain, including uneven faculty preparedness, limited access to advanced instrumentation, and the lack of unified competency frameworks across institutions. These constraints are largely driven by macro-centric teaching traditions, resource limitations, and inconsistent curriculum standards. To address these gaps, the study proposes targeted updates to core and elective courses that emphasize nano-centric content, sustainability, and digital pedagogy. Overall, the paper presents a practical framework aligned with Safe-by-Design principles and the United Nations Sustainable Development Goals.
Demineralization of Silica-Rich Agar Processing Residues via Hydrofluoric Acid Leaching for Organic Fraction Enrichment Andi Firdaus Sudarma; Edy Hartulistiyoso; Y. Aris Purwanto; Leopold Oscar Nelwan; Obie Farobie; Hendri; Harri Junaedi; Edy Herianto Majlan
International Journal of Innovation in Mechanical Engineering and Advanced Materials Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/ijimeam.v8i2.38546

Abstract

Agar solid waste (ASW) is a silica-rich industrial residue generated during agar extraction that contains organic residue mixed with mineral filtration aids such as Celite (diatomaceous earth) and perlite. Its high ash content and low organic fraction limit its direct utilization as a biomass-derived fuel. This study investigated hydrofluoric acid (HF) leaching as a demineralization pretreatment to reduce silica-rich minerals and improve the physicochemical quality of ASW. Two ASW samples obtained from different agar-processing plants, namely ASW-Celite (contain Celite) and ASW-Perlite (contain perlite), were treated using 10 wt% HF at a solid-to-liquid ratio of approximately 1:12. The treated samples were characterized using XRF, ICP-MS, FTIR, ultimate analysis, and proximate analysis. HF leaching caused substantial mass reduction, with solid yields of 24.99% for ASW-Celite-HF and 48.9% for ASW-Perlite-HF. Ash content decreased from 85.84 to 44.99 wt% in ASW-Celite and from 77.10 to 24.83 wt% in ASW-Perlite. XRF analysis confirmed significant silica removal, particularly in ASW-Celite, where SiO₂ decreased from 96.94 to 21.30%. ICP-MS further showed the reduction of several ash-forming and environmentally relevant elements, including Cr, Ni, Cu, Zn, Cd, P, S, Cl, Mn, and Fe. HF treatment also enriched the organic fraction, increasing carbon content from 4.69 to 12.52 wt% in ASW-Celite and from 9.83 to 16.10 wt% in ASW-Perlite. The HHV of ASW-Celite improved from 1.91 to 6.52 MJ/kg, whereas ASW-Perlite decreased from 4.80 to 3.19 MJ/kg due to its high oxygen content after treatment. These findings demonstrate that HF leaching effectively reduces silica-rich minerals in ASW, although further deoxygenation is required to improve its fuel quality for bioenergy applications.