Claim Missing Document
Check
Articles

KARAKTERISTIK KIMIA, FISIK, DAN ORGANOLEPTIK TEMPE DARI DAUN SINGKONG (MANIHOT ESCULENTA) Akhmad Mustofa, Danang Angga Dwi Tamtomi Nanik Suhartatik
JITIPARI Vol 3, No 1 (2018): JITIPARI
Publisher : Universitas Slamet Riyadi Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (300.869 KB) | DOI: 10.33061/jitipari.v3i1.1984

Abstract

Daun singkong adalah jenis sayur yang berasal dari tanaman singkong atau ketela pohon. Daun singkongmengandung vitamin, mineral, serat, serta klorofil. Vitamin yang terkandung di dalamnya adalah A, B, C, danniasin. Mineral terdiri dari besi, kalsium, dan fosfor. Kandungan senyawa fungsional dalam daun singkong,dan keberadaan daun yang melimpah, maka perlu dilakukan suatu inovasi, agar bahan makanan ini dapatlebih bermanfaat. Salah satu cara yaitu membuat daun singkong ini menjadi tempe. Pada fermentasi tempeterjadi proses penguraian zat-zat makro molekul (seperti karbohidrat, protein, dan lemak) dalam kedelaioleh aktivitas enzim protease dan lipase, sehingga menghasilkan senyawa yang lebih sederhana dan lebihmudah dimanfaatkan oleh tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik, dan mendapatkanformula yang tepat dari tempe daun singkong. Penelitian dilakukan dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL)faktorial yang terdiri dari 2 faktor, faktor pertama adalah ratio penambahan ragi (0,5; 1; 1,5%) sedangkanfaktor kedua lama perendaman (6, 12, dan 18 jam). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi palingbaik yaitu penambahan ragi 1,5% dan lama perendaman 18 jam dengan kadar air 81,95 (%b/b), kadar abu1,18(%b/v), kadar protein 6,14 (%b/b), kadar serat tak larut 14,85(%b/b), kadar serat larut 0,86(%b/b), volumepengembangan 0,34(%), selisih berat 1,86(%), kekompakan 3,87(%), dan kepadatan 3,87(%).Kata kunci: Singkong, fermentasi, tempe
KARAKTERISTIK MINUMAN BERALKOHOL DENGAN VARIASI KADAR EKSTRAK BUAH BIT (BETA VULGARIS L.) DAN LAMA FERMENTASI Nanik Suhartatik, Rollyana Ajeng Ovihapsany Akhmad Mustofa
JITIPARI Vol 3, No 1 (2018): JITIPARI
Publisher : Universitas Slamet Riyadi Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (304.763 KB) | DOI: 10.33061/jitipari.v3i1.1989

Abstract

Buah bit (Beta vulgaris L.) merupakan sumber utama pewarna merah alami. Bit kaya akan karbohidratyang mudah menjadi energi serta zat besi yang membantu darah mengangkut oksigen ke otak. Bit bewarnamerah, warna ini disebabkan oleh gabungan pigmen ungu betasianin dan pigmen kuning betasantin. Salahsatu inovasi pemanfaatan buah bit yaitu pembuatan minuman beralkohol. Tujuan penelitian ini adalahmengetahui karakteristik kimiawi dan sensori wine buah bit dengan lama fermentasi dan persentase ekstrakbuah bit yang berbeda serta mengetahui tingkat penerimaan buah bit yang dijadikan minuman beralkoholbagi para konsumen. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari duafaktor. Faktor pertama yaitu konsentrasi ekstrak buah bit (10, 20, dan, 30%) dan faktor kedua yaitu variasilama fermentasi (8, 11, dan 14 hari). Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi ekstrak buah bit 20%dan lama fermentasi 11 hari paling optimal. Wine buah bit tersebut memiliki karakteristik sebagai berikut :kadar alkohol 4,82%, padatan terlarut 5,47%, kadar gula reduksi 0,67%, aktivitas antioksidan 48,08%, derajatkeasaman (pH) 4,23, kadar total asam 0,031%, warna merah maroon pekat, rasa yang sedikit pahit, aromaalkohol yang khas dan disukai oleh panelis.Kata kunci: Wine, bit, lama fermentasi
FORTIFIKASI ANTIOKSIDAN DARI BEKATUL BERAS MERAH (Oryza nivara) PADA TEMPE KEDELAI (Glycine max (L) meriil) DENGAN VARIASI LAMA FERMENTASI Permatasari, Oktavia; Suhartatik, Nanik; Mustofa, Akhmad
JITIPARI (Jurnal Ilmiah Teknologi dan Industri Pangan UNISRI) Vol 5, No 1 (2020): JITIPARI
Publisher : Universitas Slamet Riyadi Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (34.809 KB) | DOI: 10.33061/jitipari.v5i1.3110

Abstract

Tempe merupakan salah satu produk fermentasi kedelai tradisional yang cukup terkenal, dengan menggunakan jamur Rhizopus oligosporus. Tempe mempunyai berbagai macam manfaat bagi kesehatan tubuh. Demikian juga dengan bekatul beras merah yang memiliki berbagai nutrisi yaitu kandungan antioksidan dan serat yang tinggi, mengandung banyak mineral. Di kalangan masyarakat, bekatul beras merah belum banyak dimanfaatkan terutama sebagai produk olahan yang memiliki nilai fungsional. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan karakteristik kimia dan sensori tempe kedelai yang difortifikasi bekatul beras merah dan lama fermentasi, menentukan formulasi yang tepat dari tempe kedelai yang difortifikasi bekatul beras merah dengan lama fermentasi sehingga diperoleh tempe dengan aktivitas antioksidan dan serat yang tinggi serta disukai konsumen. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) 2 faktorial. Faktor pertama adalah rasio kedelai dan bekatul beras merah (80:20; 70:30; 60;40), sedangkan faktor kedua adalah lama fermentasi (24, 36, 48 jam). Penelitian dimulai dari pembuatan tempe yang difortifikasi bekatul beras merah kemudian dianalisis menggunakan analisis kadar air, kadar abu, kadar protein, aktivitas antioksidan, kadar serat, dan analisis uji organoleptik meliputi warna, rasa, aroma, kekompakan, dan kesukaan keseluruhan. Hasil penelitian yang terbaik adalah pada rasio kedelai dan bekatul beras merah 60:40 dengan lama fermentasi 48 jam didasarkan pada hasil pengujian kimia antioksidan dan serat terbaik. Pada perlakuan ini dihasilkan kadar air 51,34%, kadar abu 8,90%, kadar protein 21,62%, aktivitas antioksidan 72,03%, dan kadar serat 23,44%, sedangkan untuk pengujian organoleptik yang meliputi warna 3,66(merah bata); aroma 3,24 (aroma bekatul beras merah kuat); rasa 3,54 (rasa bekatul beras merah sangat kuat); kekompakan 3,73(kekompakan tempe sangat kuat); dan kesukaan keseluruhan 3,35 (suka). Kata kunci: Tempe, bekatul beras merah, antioksidan, serat, lama fermentasi.ABSTRACTTempeh is one of the well-known traditional soybean fermentation products, using the mushroom Rhizopus oligosporus. Tempeh has a variety of health benefits. Moreover, red rice bran which has a variety of nutrients that contain antioxidants and high fiber, and contain lot of minerals. Among the people, red rice bran has not been widely used, especially as a processed product that has functional value. This study aims to determine the chemical characteristics and sensory of soybean tempeh fortified with red rice bran and fermentation duration, to determine the appropriate formulation of soybean fortified soybean rice bran with fermentation duration so that tempe is obtained with antioxidant activity and high fiber as well as consumer preference. This research was conducted using two factorials Completely Randomized Design (CRD) The first factor was the ratio of soybean and rice bran (80:20; 70:30; 60:40), while the second factor was the duration of fermentation (24, 36, 48 hours). The study began with the making of tempeh fortified with red rice bran and then analyzed for water content analysis, ash content, protein content, antioxidant activity, fiber content, organoleptic test analysis including color, taste, aroma, compactness, and overall preference. The best results was at the ratio of 60:40 soybean and rice bran with fermentation duration 48 hour based on the results of testing the best chemical antioxidants and fiber. At this treatment produced 51,34% water content, 8,90% ash content, 21,62% protein content 72,03% antioxidant activity, and 23,44% fiber content, while for organoleptic testing which includes the color of 3,66 (brick red); aroma 3,24 (strong red rice bran aroma); flavor 3,54(flavor red rice bran very strong); compactness 3,73(compactness of tempeh is very strong); and overall preference 3,35 (likes). Keywords: Tempeh, red rice bran, antioxidant, fiber, long fermentation.
ES KRIM KEDELAI HITAM (GLYCINE SOJA L) DENGAN PENAMBAHAN LIDAH BUAYA (ALOE VERA) Yustina Wuri Wulandari, Roni Sanjaya, Nanik Suhartatik &
JITIPARI Vol 4, No 2 (2019): JITIPARI
Publisher : Universitas Slamet Riyadi Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (221.111 KB) | DOI: 10.33061/jitipari.v4i2.3149

Abstract

Es krim adalah salah satu produk olahan yang menggunakan susu sebagai bahan dasar dan berbentukbeku. Penelitian ini menggunakan kedelai hitam sebagai bahan dasar pembuatan es krim. Kedelai hitamkaya akan protein yang dapat menggantikan bahan baku pembuatan es krim berupa susu sapi. Penelitianini juga menggunakan lidah buaya sebagai bahan tambahan yang dapat meningkatkan kualitas es krim.Penelitian ini bertujuan untuk menentukan es krim kedelai hitam dengan penambahan lidahbuaya terbaik ditinjau dari sifat sensorisnya. Selain itu juga untuk mengetahui karakteristik es krim kedelaihitam dengan penambahan lidah buaya meliputi: sifat fisik (overrun), sifat kimia (protein, lemak, dan totalpadatan), dan sifat fungsional (aktivitas antioksidan). Penelitian dilakukan dengan Rancangan Acak Lengkap(RAL) faktorial yang terdiri dari 2 faktor. Faktor pertama adalah konsentrasi kedelai hitam (5, 15, 25 %)sedangkan faktor yang kedua variasi konsentrasi lidah buaya (1,5; 3; 4,5 %). Hasil penelitian menunjukanbahwa kombinasi perlakuan konsentrasi kedelai hitam dengan lidah buaya, dengan konsentrasi kedelaihitam 25% dan lidah buaya 4,5% merupakan perlakuan terbaik didasarkan pada kesukaan keseluruhanyang terdapat pada es krim. Pada perlakuan ini dihasilkan aktivitas antioksidan es krim kedelai hitamdengan penambahan lidah buaya sebesar DPPH 36,60%, kadar protein 9,42%, kadar lemak 4,62%,total padatan terlarut 29,33%, kecepatan meleleh 15,08 menit/10 gram, overrun 23,39% serta uji organoleptikterhadap warna 3,73 (kuning kehijaun), aroma langu 1,73 (tidak terlalu tinggi), tekstur 3,13 (lembut), dankesukaan keseluruhan 3,53 (paling disukai).Kata kunci: Es krim, kedelai hitam, lidah buaya.
FORMULASI SIRUP HERBAL BERAS KENCUR SEBAGAI SUMBER ANTIOKSIDAN DENGAN SUBSTITUSI BERAS MERAH, JAHE, DAN SEREH Linda Kurniawati, Pramusinto Nanik Suhartatik
JITIPARI Vol 3, No 1 (2018): JITIPARI
Publisher : Universitas Slamet Riyadi Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (309.241 KB) | DOI: 10.33061/jitipari.v3i1.1985

Abstract

Beras kencur merupakan minuman herbal yang mampu menyegarkan dan menyehatkan tubuh sertamemiliki cita rasa khas rempah. Kencur (Kamferia galangal), jahe (Zingiber officinale), sereh (Cymbopogancitrates), dan beras merah (Oryza niwara) mengandung bahan-bahan fungsional yang merupakan zat-zataktif dan beberapa mempunyai aktivitas antioksidan. Beras kencur dibuat dari racikan rempah-rempahyang ditumbuk kemudian diseduh dengan air panas. Penyajian beras kencur yang demikian kurang praktis.Salah satu alternatif yang bisa dilakukan adalah mengolahnya menjadi sirup. Penelitian ini bertujuan untukmengetahui aktivitas antioksidan dan membuat formulasi sirup herbal dengan berat kencur-jahe-sereh danratio berat beras merah-beras putih. Penelitian ini dilakukan dengan metode Rancangan Acak Lengkap(RAL) faktorial dengan dua faktor yaitu berat kencur-jahe-sereh (150-200-150 g; 125-250-125 g; 100-300-100 g)dan ratio berat beras merah-beras putih (1:4; 2:3; 3:2; 4:1). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasiperlakuan berat kencur-jahe-sereh dan ratio berat beras merah-beras putih yang terbaik adalah pada beratkencur 125 g-jahe 250 g-sereh 125 g dan ratio berat beras merah-beras putih (4:1). Hasil sirup herbal yangterbaik mengandung aktivitas antioksidan RSA DPPH 88,25%; aktivitas antioksidan FRAP 91,71%; total fenol30,95 mg asam galat/100 ml; viskositas 42,00 dPas; pH 5,66; warna coklat (skor 3,00); flavor kencur-jahe-serehsedikit terasa (skor 2,67); rasa manis (skor 2,80); dan tingkat kesukaan disukai (skor 3,20).Kata kunci: Sirup, beras kencur, herbal, antioksidan.
PEMBUATAN KOPI BIJI SALAK (SALACCA ZALACCA) DENGAN VARIASI LAMA PENYANGRAIAN DAN PENAMBAHAN BUBUK JAHE (PROCESSING OF SALACCA SEED COFFEE WITH THE VARIATION OF ROASTING TIME AND GINGER POWDER ADDITION) Nanik Suhartatik, Koko Prayogo, Wuri Wulandari &
JITIPARI Vol 1, No 2 (2016): JITIPARI
Publisher : Universitas Slamet Riyadi Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (844.723 KB) | DOI: 10.33061/jitipari.v1i2.1519

Abstract

Biji salak adalah salah satu limbah yang dihasilkan oleh buah salak. Biji salak mengandung 54,84% air; lemak 0,48%; Protein 4,22%; dan 38,9% dari karbohidrat. Di beberapa daerah, biji ini menghasilkan ke kopi. Studi ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antioksidan dan efek sensorik buah ular kopi biji dengan variasi waktu pemanggangan dan penambahan bubuk jahe.Penelitian dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial yang terdiri atas dua faktor. Faktor pertama lama penyangraian yaitu 30, 45, dan 60 menit. Faktor kedua persentase penambahan bubuk jahe yaitu 1, 3, dan 5%.Kopi biji salak jahe yang direkomendasikan adalah dengan perlakuan lama penyangraian 30 menit dan penambahan bubuk jahe 5%. Kopi biji salak tersebut memiliki karakteristik sebagai berikut: aktivitas antioksidan 88,90% RSA DPPH; angka FRAP 39,75%; kadar air 3,27%; kadar abu 3,71%; total fenol 89,60%; total asam titrasi 3,71%; warna hitam kecoklatan (3,53), rasa pahit (2,40), aroma kopi kuat (2,47), dan kesukaan keseluruhan sedikit suka (2,20).Kata kunci: Kopi, biji salak, lama penyangraian, bubuk jahe
PEMANFAATAN EKSTRAK KULIT TERONG BELANDA (Solanum betaceum) SEBAGAI ANTIDIABETES PADA TIKUS WISTAR JANTAN YANG DIINDUKSI ALOKSAN Sirumapea, Renhard; Suhartatik, Nanik; Wulandari, Yustina Wuri
JITIPARI (Jurnal Ilmiah Teknologi dan Industri Pangan UNISRI) Vol 5, No 1 (2020): JITIPARI
Publisher : Universitas Slamet Riyadi Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (199.639 KB) | DOI: 10.33061/jitipari.v5i1.3713

Abstract

Diabetes melitus menjadi masalah kesehatan di dunia karena terjadi peningkatan setiap tahun. Oleh karena itu dibutuhkan obat atau agensi terapi yang efektif dan murah untuk menanggulangi diabetes melitus. Ekstrak kulit terong Belanda mempunyai kandungan antosianin dan betakaroten yang memiliki kemampuan menurunkan kadar gula darah, sehingga dapat dijadikan sebagai obat tradisional yang efektif dan murah. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh pemberian ekstrak kulit terong Belanda terhadap penurunan kadar gula darah tikus wistar jantan yang diinduksi aloksan. Metode penelitian ini menggunakan rancangan penelitian pre and post test randomized controlled group design. Penelitian ini menggunakan tikus wistar jantan sebanyak 25 ekor  yang dibagi menjadi 5 kelompok perlakuan yaitu perlakuan dengan aquadest (kontrol negatif), ekstrak kulit terong Belanda (Solanum betaceum) dosis 0,25 ; 0,75 ; 1,25 g/kg BB dan metformin sebagai obat diabetes dengan dosis 18 mg/tikus (kontrol positif). Semua kelompok diinduksi aloksan sampai dengan kadar gula darahnya mencapai ≥ 200 mg/dL lalu diukur kadar gula darah sebagai data pre test. Perlakuan diberikan selama 14 hari dan pada hari ke – 14 diukur kadar gula darah sebagai post test. Ekstrak kulit terong Belanda dosis 0,25; 0,75 dan 1,25 g/kg BB mampu menurunkan kadar gula darah secara signifikan selama 14 hari akan tetapi belum ada dosis yang memiliki efektifitas yang sebanding dengan metformin dalam penurunan kadar gula darah apabila diberikan selama 14 hari.Kata kunci: Ekstrak kulit terong Belanda, diabetes, tikus, aloksanABSTRACT Diabetes melitus is a health problem in the world because the sufferers increase from year to year. So that it is needed an effective and economical drug or therapeutic agency to cope with the disease. Tamarillo peel extract contains anthocyanin and beta-carotene which are capable to reducing blood sugar levels, so that it can be used as an effective and economical traditional medicine. The aim of the study was to analyze the effect of the administration of Tamarillo peel extract on decreasing blood sugar levels in male wistar rats induced by alloxan. The research method used a pre and post test randomized controlled group design. This study used 25 male wistar rats divided into 5 treatment groups namely aquadest treatment (negative control), metformin as a diabetes drug with a dose of 18 mg / rat (positive control), and Tamarillo skin extract (Solanum betaceum) dose 0, 25; 0.75; 1.25 g / kg BB. All treatment groups were induced by alloxan until their blood glucose levels reached ≥ 200 mg / dL then measured blood sugar levels as the pre test data. The treatment was given for 14 days and on the 14th day blood sugar levels were measured as a post test. Tamarillo peel extract dose of 0.25; 0.75 and 1.25 g / kg BB can significantly reduce blood glucose levels for 14 days but there is no dose that has an effectiveness comparable to metformin in reducing blood glucose levels if given for 14 days.Keywords: Tamarillo peel extract, diabetes, rats, alloxan
ISOLASI DAN IDENTIFIKASI AWAL BAKTERI ASAM LAKTAT HALOFIL PROTEOLITIK SELAMA FERMENTASI SAUS IKAN LELE (CLARIAS SP) Kapti Rahayu Kuswanto, Niko Listiyo, Nanik Suhartatik &
JITIPARI Vol 2, No 1 (2017): JITIPARI
Publisher : Universitas Slamet Riyadi Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (420.783 KB) | DOI: 10.33061/jitipari.v2i1.1530

Abstract

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan isolat Bakteri. Asam Laktat (BAL) halofil yang mampu menghasilkan enzim proteolitik. Isolat yang diperoleh diidentifikasi awal untuk menentukan genus bakteri, sehingga didapatkan isolat yang potensial untuk dikembangkan sebagai kultur starter pada pembuatan kecap ikan lele.Dalam penelitian ini, kecap ikan lele dibuat dengan kadar garam 10% dan difermentasi selama 3, 5, dan 7 hari, dilakukan analisis total populasi BAL dengan cara ditumbuhkan pada medium deMann Rogosa Sharpe (MRS) yang telah ditambahkan CaCO3 1%, NaCl 7% dan Na Azida. Pengujian isolat BAL penghasil enzim proteolitik, dilakukan dengan cara menumbuhkan pada medium yang ditambahkan kasein 2%. Bakteri asam laktat yang tumbuh pada medium dengan kadar garam 7%, selanjutnya dilakukan skrining sifat penghasil enzim proteolitik, dengan menumbuhkan pada medium yang ditambahkan kasein 2%. Isolat yang diperoleh, dikarakterisasi menggunakan metode standar antara lain: uji morfologi sel, pengecatan Gram, uji katalase, uji produksi gas, uji pertumbuhan pada suhu, dan pH.Isolasi bakteri selama fermentasi kecap ikan lele, diperoleh isolat sebanyak 71 isolat bakteri penghasil asam. Namun berdasarkan uji konfirmasi hanya diperoleh 6 isolat BAL, dari 6 isolat tersebut dipilih 2 isolat BAL. Dengan melihat sifat-sifat karakterisitik fenotip yang muncul, berdasarkan Bergey?s Manual of Determinative Bacteriology, isolat diidentifikasi sebagai genus Pediococcus sp.Kata kunci: BAL halofil proteolitik, isolasi, identifikasi, kecap ikan lele
FORMULASI BERAS ANALOG DARI SINGKONG (MANIHOT UTILISSIMA) DENGAN VARIASI PENAMBAHAN UBI JALAR (IPOMOEA BATATAS L) (PUTIH, KUNING, DAN UNGU) Nanik Suhartatik, Eka Wahyu Ismail, Linda Kurniawati &
JITIPARI Vol 2, No 2 (2017): JITIPARI
Publisher : Universitas Slamet Riyadi Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (486.118 KB) | DOI: 10.33061/jitipari.v2i2.1897

Abstract

Beras analog merupakan sebutan lain dari beras tiruan (artificial rice) yang dibuat dari bahan non padidengan kandungan karbohidrat yang mendekati atau melebihi dengan bentuk menyerupai beras dapatberasal dari tepung lokal atau padi. Metode pembuatan beras analog terdiri dua cara, yaitu metode granulasidan ekstruksi. Hasil cetakan metode granulasi adalah butiran sedangkan hasil cetakan metode ekstruksiadalah bulat lonjong dan sudah lebih menyerupai beras.Penelitian ini dilakukan dengan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dengan dua faktorjenis ubi jalar (ubi jalar putih, ubi jalar kuning, ubi jalar ungu) dan rasio tepung singkong dan tepung ubijalar (putih, kuning, dan ungu) sebagai berikut: 100:0, 85:15, 70:30, 55:45.Hasil penelitian menunjukkan bahwa yang terbaik rasio tepung singkong dan ubi jalar 55:45 pada jenisubi jalar putih. Hasil beras analog yang terbaik mengandung kadar air 10,07%; kadar abu 2,52%; kadar gulatotal 8,87%; kadar betakaroten 326 mg/100 g; dan kadar serat kasar 6,74%.Kata kunci: beras analog, tepung singkong ubi jalar, rasio tepung, jenis ubi jalar
KARAKTERISTIK KUE PUTRI SALJU MODIFIKASI TEPUNG KACANG KEDELAI (GLYCINE MAX (L) (MERR) DAN TEPUNG BERAS MERAH (ORYZA NIVARA) Nanik Suhartatik, Linda Florenta, Yannie Asrie Widanti &
JITIPARI Vol 4, No 2 (2019): JITIPARI
Publisher : Universitas Slamet Riyadi Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (217.672 KB) | DOI: 10.33061/jitipari.v4i2.3146

Abstract

Beras merah merupakan satu produk hasil pertanian yang menyehatkan karena banyak mengandungzat-zat gizi antara lain: mangan, magnesium, serat, dan mempunyai banyak manfaat seperti menghindaridiabetes, mencegah penyakit jantung, menurunkan kolesterol, dan meningkatkan HDL Penelitian inimenggunakan metode rancangan acak lengkap (RAL) dengan dua faktor yaitu rasio tepung beras merah,tepung mokaf, dan tepung kacang kedelai (3:4:3), (4:4:2), dan (5:4:1) dan penambahan jenis kacang tanah,kacang mete, dan kacang almond. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi perlakuan rasio tepungberas merah, tepung mokaf, dan tepung kacang kedelai (4:4:2) dan penambahan kacang mete 250 grammenghasilkan kue kering putri salju terbaik dengan kadar air 5,11%, kadar abu 2,08% kadar protein 6,47%kadar lemak 25,56% gula total 2,81%; dan volume pengembangan 28,08%.Kata kunci: Kue putri salju, substitusi, tepung beras merah, tepung kacang kedelai
Co-Authors Ainun Mardiyah Akhmad Mustofa Alfinda Taju Ulya Ali Djamhuri Amin Syahadi Angraini Mariam Saraswati Anna Mardiana Handayani Artha, Bareta Agdia Pury Arvita Fajar Sholeca Asa Pratita Aninditya Astutiningsih, Fitri Ayu Krisna Hadi, Kesia Uma Bareta Agdia Pury Artha Bernadetha Eden Krisdita Beti Cahyaning Astuti Christiningrum, Yulia Agnes Crisdyana Eko Setyaningsih Dara Chandra Pustika Desy Lustiyani Dewi Ayu Wulandari Setyobudi Dwi haryo Bintoro, Yudha Dwi Nurcahyani Dwi Yulia Vina Pratiwi Eko Yuliastuti E.S Endang S. Rahayu Endang Srijuliani Endang Sutriswati Rahayu Endang Sutriswati Rahayu Erdha Christyanna, Rachel Erma Ayu Nurcahyani Fadilah Husnun Fajar Eko Prastomo Fajar Sholeca, Arvita Fajariyah, Anna Firdhauzi, Amila Fitriyanto, Akbar Guntur Satrio Bhakti Handayani, Sri Harto Widodo, Harto Hasanah, Amalia L Haztien Silmi Triyani Hida Arum Sakura Husnun, Fadilah Ihfan Bagas Aditya Indrias Tri Purwanti Irvia Resti Puyanda Irvia Resti Puyanda Isnaini Elok Nur Azizah Istiqomah Setyorini Junianto, Faizal Kapti Rahayu Kapti Rahayu Kuswanto Kesia Uma Ayu Krisna Hadi Khabibulloh, Mohammad J M Kirana Swasti Ningrum kurnianti kumala setyaningrum Kurniawan, Yanuar Aldy Lestari, Wida Novia Linda Ristiana Linda Ristiana, Linda Maria, Agnes Merkuria Karyantina Mita Krisna Murti Muhammad Nur Cahyanto Mustofa, Ecio Mutiara Krisna Putri Nanda Pratiwi Ningrum, Ega Sulistiyo Ningrum, Kirana Swasti Nirwesthi, Kartika K Nugraheni, Ratna Dewi Nugroho, Wahyuningtyas Puji Nur'aini, Vivi Nuraini, Vivi Nurcahyani, Dwi Nurcahyani, Erma Ayu Nurhidayanti Nurhidayanti Nurjanah, Mimin Nurlisa, Devi Nur’Aini, Vivi Oktavia Permatasari Patmasari, Diyah Ayu Eka Permatasari, Oktavia Ponco Mursito Pradana, Ridofan Aji Pranata, Gigih Rachel Erdha Christyanna Rama Bagaskara Yulianto Renhard Sirumapea Ria Pertiwi Risky mawardi Riyani Saputri, Wikiyas L Saraswati, Angraini Mariam Satrio Bhakti, Guntur SHAHERTIAN PUTRI, AYUK FEBRIANA Sholihah, Efi N Sirumapea, Renhard Sokhif Saiful Anwar Sri . Handayani Sri Handayani Sri Handayani Sri Raharjo Sri Raharjo Sri Raharjo Srijuliani, Endang Titiek F Djaafar Tri Marwati Triyani, Haztien Silmi Triyono, Kharis Vivi Nuraini Wahyuningtyas Puji Nugroho Wanda Nurwidyana Utami Warjito, W Widya Anggraini Pamungkas Wijaya, Danastri Wulandari, Yustina Wuri Yannie Asrie Widanti Yudha Dwi haryo Bintoro Yudha Dwi Haryo Bintoro Yustina Wuri Wulandari Yustina Wuri Wulandari Yustina Wuri Wulandari Yustina Wuri Wulandari