Claim Missing Document
Check
Articles

ANALISIS KEBUTUHAN PENGEMBANGAN MODEL PRO-BBL UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS SISWA DALAM PEMBELAJARAN FISIKA SMA Rai Sujanem
Prosiding Seminar Nasional MIPA 2015: PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2015
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian dalam analisis kebutuhan ini sebagai berikut. 1) Menganalisis studi literatur tentang (a) konsep-konsep suhu dan kalor yang esensial dan strategis, (b) menganalisis karakteristik model Pro-BBL. 2) Melakukan studi lapangan, tentang (a) konsep-konsep suhu dan kalor esensial dan strategis yang telah diterapkan, (b) Sarana dan prasarana laboratorium dan ICT yang tersedia, (c) referensi sebagai sumber belajar yang tersedia, (d) metode yang biasa diterapkan guru, dan (e) kendala-kendala yang dihadapi oleh guru dalam pembelajaran.Subyek penelitian adalah siswa kelas X SMA berdasarkan klasifikasi nilai ujian nasional fisika. Kelompok SMA yang terpilih adalah klasifikasi B, C, dan D, yaitu, SMAN 1, SMAN 4, dan SMAN 3 Singaraja. Metode pengumpulan data dilakukan dengan memberikan daftar Isian, melakukan observasi dan wawancara.Hasil analisis kebutuhan, sebagai berikut. 1) Produk kegiatan studi literatur adalah (a) daftar konsep­konsep suhu dan kalor esensial, (b) karakteristik model Pro-BBL meliputi, dasar teori, tujuan, sintaks, dan lingkungan belajar. 2) Produk kegiatan studi lapangan adalah (a) daftar konsep-konsep esensial yang telah dikaji sesuai dengan yang tertuang dalam literatur, namun belum diterapkan untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan kemampuan pemecahan masalah, (b) daftar alat lab dan ICT yang tersedia cukup memadai, namun belum tersedia media web yang mewadahi model Pro-BBL, (c) daftar referensi sebagai sumber belajar cukup memadai, namun belum tersedia referensi yang bermuatan keterampilan berpikir kritis dan kemampuan pemecahan masalah, (d) metode yang biasa diterapkan guru adalah metode diskusi, ceramah, dan kadang-kadang kooperatif, PBL dan Web, (e) kendala-kendala dalam PBL dan web adalah masalah waktu relatif lama, sulit menyiapkan masalah ill-structure, hanya kelompok tertentu yang bisa memecahkan masalah, akses internet lambat, dan belum ada rujukan mana web yang inovatif.Kata kunci: analisis kebutuhan, model pro-bblAbstractThis study on need analysis was aimed at the following objectives. 1) to analyze literature on (a) the essential and strategic temperature and heat concepts, (b)to analyze the characteristics of Pro-BBL model, 2) to do a field study about (a) essential and strategic temperature and heat concepts that have been applied, (b) to analyze laboratory infrastructure and facilities and ICT available, (c) to analyze the available references for learning, (d) to analyze methods usually used by the teachers, and (e) to find out the constraints faced by the teachers in teaching.The subjects were the tenth grade students of SMA based on the classification of national examination in physics. The SMA groups selected were Classifications B, C, and D, that is, SMAN 1, SMAN 4, and SMAN 3 in Singaraja. The data were collected by a check list, observation and interview.The results of the needs analysis, as follows. 1) The products of literature study are (a) a list of essential temperature and heat concepts, (b) The characteristics of Pro-BBL model that cover basic theory, purpose, syntax, and the learning environment. 2) Product of the field study activity are (a) a list of essential concepts that have been reviewed in accordance with that stated in the literature, but has not been implemented to improve critical thinking skills and problem solving skills, (b) a list of laboratory instruments and ICT available adequate, but not yet available web media that embodies the model Pro-BBL, (c) a reference list as a learning resource adequate, but not yet available reference charged critical thinking skills and problem solving skills, (d) the methods usually applied by the teachers are the method of discussion, lectures, and sometimes cooperative, PBL and the web, and (e) the constraints in the PBL and the web is a matter of a relatively long time, it is difficult to prepare ill-structure problems, only certain groups can solve the problem, internet access is slow, and there is no reference where the web innovative.Keywords: need analysis, pro-bbl model
Analisis Kebutuhan Pengembangan E-Modul Fisika Interaktif Berbasis Masalah dalam Model BPBL untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis Siswa SMA Rai Sujanem; I Nyoman Putu Suwindra; Iwan Suswandi
Prosiding Seminar Nasional MIPA Vol. 8 (2018): PROSIDING SEMINAR NASIONAL MIPA UNDIKSHA 2018
Publisher : Prosiding Seminar Nasional MIPA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu pilar pendidikan abad 21 adalah keterampilan berpikir kritis (kbk). Namun, realita yang ada, kbk siswa SMA masih rendah, untuk itu perlu dicari alternatif pemecahannya. Tujuan penelitian ini adalah melakukan analisis kebutuhan pengembangan modul elektronik fisika interaktif berbasis masalah (e-modul fisinberma) dalam model BPBL untuk meningkatkan kbk siswa SMA. Analisis kebutuhan meliputi: 1) studi literatur tentang konsep-konsep fisika yang esensial dan strategis, karakteristik e-modul fisinberma; 2) studi lapangan tentang konsep-konsep fisika esensial dan strategis yang telah diterapkan, alat-alat laboratorium dan ICT, (3) sumber belajar, dan (4) metode pembelajaran. Penelitian menggunakan metode survey pada 4 SMAN Singaraja. Subjek penelitian adalah 15 guru fisika dan 126 siswa SMA. Data dikumpulkan dengan wawancara, angket, observasi, dan tes. Data dianalisis secara deskriptif. Hasil analisis menunjukkan bahwa 1) produk kegiatan studi literatur adalah (a) daftar konsep-konsep fisika esensial, (b) karakteristik e-modul fisinberma: masalah sehari-hari yang tak terstruktur, kompetensi inti dan dasar, indikator, uraian konsep esensial, contoh kbk, dan LKS; 2) produk kegiatan studi lapangan, yaitu: (a) daftar konsep-konsep esensial, (b) daftar alat lab dan ICT cukup memadai, (c) daftar sumber belajar cukup memadai, namun belum tersedia referensi yang bermuatan kbk, (d) metode yang biasa diterapkan guru adalah metode diskusi, ceramah, penugasan, dan kadang-kadang PBL dan Web.Kata kunci: analisis kebutuhan, e-modul fisika interaktif berbasis masalah, berpikir kritis
PENERAPAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING (PBL) UNTUK MENINGKATKAN KINERJA ILMIAH DAN PENGUASAAN KONSEP SAINS SISWA KELAS VIII C SMP NEGERI 3 SINGARAJA TAHUN AJARAN 2010/2011 N. W. S. Darmayanti; I. W. Suastra; R. Sujanem
Paedagoria : Jurnal Kajian, Penelitian dan Pengembangan Kependidikan Vol 7, No 1 (2016): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/paedagoria.v7i1.180

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya pencapaian hasil belajar siswa yang mencakup nilai penguasaankonsep sains dan kinerja ilmiah siswa kelas VIII C SMP Negeri 3 Singaraja tahun ajaran 2010/2011. Penelitian inibertujuan untuk, 1) meningkatkan kinerja ilmiah siswa, 2) meningkatkan penguasaan konsep siswa, dan 3)mendeskripsikan tanggapan siswa terhadap penerapan model PBL dalam pembelajaran sains. Penelitian initergolong penelitian tindakan kelas (classroom action research). Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VIII C SMPNegeri 3 Singaraja tahun ajaran 2010/2011. Data dikumpulkan melalui LKS, kuis, tugas, dan tes penguasaan konsepuntuk penguasaaan konsep siswa. Data kinerja ilmiah siswa dikumpulkan dengan lembar observasi kinerja ilmiahdan data tanggapan siswa dikumpulkan dengan angket tanggapan siswa. Data yang diperoleh dari penelitiandianalisis secara deskriptif. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa, 1) Terjadi peningkatan kinerja ilmiah siswa.Pada siklus I, nilai rata-rata kinerja ilmiah siswa sebesar 67,9. Pada siklus II, nilai rata-rata kinerja ilmiah siswasebesar 79,9. 2) Terjadi peningkatan penguasaan konsep siswa. Pada siklus I, diperoleh nilai rata-rata penguasaankonsep sebesar 72,6. Pada siklus II, diperoleh nilai rata-rata penguasaan konsep sebesar 75,5. 3) Tanggapan siswaterhadap penerapan model PBL positif dengan skor rata-rata 56,9. Hasil analisis data tersebut menunjukkan bahwapenerapan model PBL dapat meningkatkan kinerja ilmiah dan penguasaan konsep sains siswa kelas VIII C SMPNegeri 3 Singaraja tahun ajaran 2010/2011.
Pengembangan Modul Fisika Kontekstual Interaktif Berbasis Web untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep dan Hasil Belajar Fisika Siswa SMA di Singaraja Rai Sujanem
Jurnal Nasional Pendidikan Teknik Informatika : JANAPATI Vol. 1 No. 2 (2012)
Publisher : Prodi Pendidikan Teknik Informatika Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/janapati.v1i2.9825

Abstract

Tujuan utama penelitian ini adalah untuk 1) menyusun dan mengembangkan modul fisika kontekstual interaktif berbasis web untuk siswa kelas XII SMA, 2) menjelaskan perbedaan pengaruh antara modul fisika kontekstual interaktif berbasis web (MKIW) dan modul kontekstual konvensional (MKK) terhadap pemahaman konsep siswa dalam pembelajaran fisika, dan 3) menjelaskan perbedaan pengaruh antara MKIW dan MKK terhadap hasil belajar siswa dalam pembelajaran fisika.Untuk mencapai tujuan tersebut dilakukan penelitian dalam dua tahap, pertama, pengembangan produk modul fisika kontekstual, dan kedua, eksperimen untuk menguji keunggulan komparatif produk. Pengembangan produk menggunakan desain model Dick dan Carey. Proses pengembangan mendasarkan diri pada analisis kebutuhan. Salah satu pendukungnya adalah studi pendahuluan di SMA-SMA di Singaraja Bali. Proses pengembangan menggunakan instrumen-instrumen: angket fasilitas pendukung pembelajaran berbasis teknologi informasi dan komunikasi (TIK), angket kompetensi guru dan siswa dalam TIK, angket ahli isi, angket ahli media, angket siswa perorangan, angket siswa kelompok kecil, dan anget respon implementasi pada pembelajaran. Instrumen instrument tersebut memenuhi persyaratan validitas isi. Studi pendahuluan melibatkan 320 siswa kelas XII SMA, 12 orang guru TIK, dan 30 guru fisika. Proses uji formatif melibatkan 3 ahli isi dan media pembelajaran, 3 ahli desain, 6 siswa perorangan, 12 siswa kelompok kecil, dan 3 orang guru. Dalam implementasi modul fisika kontekstual dilakukan dengan penelitian kuasi eksperimen dengan model unequivalence pretest-posttest control group design. Populasi penelitian adalah siswa-siswa kelas XII SMA di kota Singaraja pada semester I tahun 2010/2011. Pengambilan sampel eksperimen dilakukan dengan teknik random kelompok bertahap. Berdasarkan tehnik tersebut, terpilih kelompok-kelompok siswa yang belajar dengan fasilitas MKIW dan kelompok-kelompok siswa yang belajar dengan fasilitas MKK adalah SMAN 1, SMAN 2, SMAN 3, dan SMAN 4 Singaraja. Instrumen yang digunakan dalam eksperimen adalah tes pemahaman konsep dan tes hasil belajar. Instrumen tes pemahaman konsep terdiri 12 butir dengan internal consistency bergerak dari r=0,40 sampai dengan r=0,69, dan alpha Cronbach=0,713. Instrumen tes hasil belajar terdiri 12 butir dengan internal consistency bergerak dari r=0,34 sampai dengan r=0,77, dan alpha Cronbach = 0,733. Analisis data dilakukan dengan statistic deskriptif dan Multivariat analysis of covariance (MANCOVA). Tehnik analisis menggunakan program SPSS 17.0 FW dengan pengujian hipotesis dilakukan pada taraf signifikansi 5%. Berdasarkan hasil analisis data, ditemukan hasil-hasil penelitian seperti berikut. Pertama, hasil penelitian pengembangan produk mengungkapkan temuan seperti berikut. (1) Delapan modul fisika kontekstual interaktif berbasis web berikut lembaran kerja siswa (LKS), tes pemahaman konsep, dan tes hasil belajar. Modul fisika kontekstual interaktif berbasis web yang dikembangkan berisikan komponen-komponen: (a) masalah-masalah autentik yang ada di sekitar kehidupan siswa, (b) miskonsepsi dan sangkalan, (c) konsep dan prinsip esensial dan strategis, (d) contoh-contoh konseptual dan kontekstual, dan (e) pertanyaan konseptual dan kontekstual yang memandu pemerolehan pemahaman konsep dan hasil belajar. Komponen-komponen modul fisika kontekstual interaktif berbasis web dikemas dalam bentuk animasi teks, gambar, foto, dan video. Hasil uji ahli isi, ahli media, ahli media, ahli desain, siswa perorangan, siswa kelompok kecil, dan guru terhadap pengembangan draft modul fisika kontekstual interaktif berbasis web menyatakan bahwa sosok modul tersebut memiliki kelayakan untuk diimplementasikan dalam pembelajaran.  Kelayakan pakai tersebut ditinjau dari segi substansi modul fisika kontekstual. Hasil penilaian para responden terhadap komponen-komponen modul tersebut adalah sesuai, baik dan sangat baik. 2) Telah berhasil dikembangkan panduan modul fisika kontekstual interaktif berbasis web bagi guru yang berisikan tentang panduan implementasi modul dalam pembelajaran. 3) Telah berhasil dikembangkan panduan modul fisika kontekstual interaktif berbasis web bagi siswa yang berisikan tentang implementasi modul dalam pembelajaran. Kedua, profil pengetahuan awal siswa terhadap konsep-konsep gelombang sebagian besar masih diwarnai miskonsepsi (27,5% untuk model MKIW dan 30,8% untuk model MKK). Setelah eksperimen, profil miskonsepsi siswa mengalami penurunan menjadi 13,3% untuk kelompok model MKIW dan 19,0% untuk kelompok MKK. Secara deskriptif setelah perlakuan kelompok MKIW relatif lebih berhasil menurunkan jumlah siswa yang mengalami miskonsepsi dibandingkan dengan MKK. Ketiga, uji komparasi produk menunjukkan hasil-hasil sebagai berikut. 1) Terdapat perbedaan signifikan pemahaman konsep antara kelompok MKIW dan MKK (F= 53.868; p<0,05. Nilai rata-rata pemahaman konsep kelompok MKIW lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok MKK (Δμ=5,525; SD=0,573, p<0,05). 2) Terdapat perbedaan signifikan hasil belajar antara kelompok MKIW dan MKK (F= 5,716; p<0,05. Nilai rata-rata hasil belajar kelompok MKIW lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok MKK (Δμ=2,841; SD=1,188, p<0,05). Oleh karena modul fisika kontekstual interaktif berbasis web untuk kelas XII SMA yang telah dikembangkan dalam penelitian ini layak, efektif, dan unggul dalam meningkatkan pemahaman konsep dan hasil belajar siswa, maka dalam pembelajaran fisika di SMA hendaknya menggunakan modul fisika kontekstual interaktif berbasis web sebagai fasilitas belajar.
EFEKTIVITAS E-MODUL FISIKA BERBASIS MASALAH BERBANTUAN SIMULASI PHET DALAM UJICOBA TERBATAS UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS SISWA SMA Rai Sujanem; I Nyoman Putu Suwindra; Iwan Suswandi
Jurnal Pendidikan Fisika Undiksha Vol. 12 No. 2 (2022)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjpf.v12i2.54395

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah menganalisis efektivitas e-modul fisika berbasis masalah berbantuan simulasi PhET untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis (kbk) siswa. E-modul ini digunakan pada ujicoba terbatas dalam model problem-based learning (PBL) online. E-modul ini dikatakan efektif untuk meningkatkan kbk jika memenuhi aspek: (1) terdapat peningkatan kbk siswa secara signifikan dan (2) peningkatan kbk berkategori sedang. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas XI MIPA 2 SMAN 1 Singaraja yang dipilih dengan teknik random sampling. Penelitian ini menggunakan desain quasi eksperimen satu kelompok pre-test dan post-test. Data dianalisis dengan Paired-Test dan normalized gain (N-gain, t-test). Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) pembelajaran dengan E-modul fisika berbasis masalah berbantuan PhET dapat meningkatkan kbk siswa; (2) rata-rata N-gain adalah 0,6  berkategori sedang. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa E-modul fisika berbasis masalah berbantuan PhET efektif untuk meningkatkan kbk siswa pada ujicoba terbatas dalam model PBL online.   Kata-kata Kunci: e-modul fisika berbasis masalah, simulasi PhET,  keterampilan berpikir kritis  
Problem-based Interactive Physics E-Module in Physics Learning Through Blended PBL to Enhance Students' Critical Thinking Skills Sujanem, R.; Putu Suwindra, I. N.
Jurnal Pendidikan IPA Indonesia Vol 12, No 1 (2023): March 2023
Publisher : Program Studi Pendidikan IPA Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jpii.v12i1.39971

Abstract

Problem-based interactive physics e-modules (Probinphys), accessed online, were chosen as an alternative method for enhancing high school students’ CTS. This study analyzed the efficacy of the Probinphys E-Module in enhancing high school students’ CTS and described student responses toward the Probinphys E-Module through the Blended-Problem Based Learning (blended-PBL) model. The Probinphys e-module was efficient in enhancing CTS if there was a significant enhancement in student CTS and the minimum average N-gain was in the moderate or consistent category. Student responses toward the Probinphys e-module were in the high category. This research applied one group pretest and posttest group design, involving 79 students in three groups from grade eleven. Before and after learning with the Probinphys E-Module, the three groups of students were given the same CTS test. The collected data were analyzed using Paired-Test, normalized gain (N-gain), and ANOVA. The results show that using the Probinphys e-module in blended PBL efficiently enhances students’ CTS, as indicated by the average N-gain for the three groups in the high category. The average N-gain is the same at 0.5 for the three groups or consistently. Student response toward the Probinphys e-module in blended-PBL is very high.
PENGARUH MODEL BLENDED LEARNING PENGARUH MODEL BLENDED LEARNING TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF DAN KINERJA ILMIAH SISWA PADA ERA NEW NORMAL: PENGARUH MODEL BLENDED LEARNING TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF DAN KINERJA ILMIAH SISWA PADA ERA NEW NORMAL Mega Pratiwi, Ni Made; Pujani, Ni Made; Sujanem, Rai
Jurnal Pendidikan Fisika Undiksha Vol. 13 No. 2 (2023)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjpf.v13i2.63024

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Model blended learning terhadap kemampuan berpikir kreatif dan kinerja ilmiah siswa pada era new normal. Penelitian ini dilaksanakan di SMAN 1 Banjarangkan. Populasi penelitian adalah siswa kelas XII yang berjumlah 114 siswa. Selanjutnya, 78 siswa dipilih menjadi sampel dengan teknik random sampling. Ada 3 instrumen utama yang digunakan, yaitu : tes kemampuan berpikir kreatif, tes kinerja ilmiah dan rencana pelaksanaan pembelajaran. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis dengan formula multivariate analysis of variance. Hasil analisis menunjukan : 1) secara parsial, blended learning berpengaruh positif dan signifikan terhadap kemampuan berpikir kreatif siswa, 2) secara parsial, blended learning berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja ilmiah siswa dan 3) secara simultan, blended learning berpengaruh secara simultan dan signifikan terhadap kemampuan berpikir kreatif dan kinerja ilmiah siswa. Hasil ini berimplikasi pada didorongnya penerapan blended learning untuk mengembangkan kemampuan berpikir kreatif dan kinerja ilmiah siswa di era new normal.
PENGARUH MODEL PROBLEM BASED LEARNING TERHADAP HIGHER ORDER THINKING SKILLS SISWA KELAS VIII SMP/MTs Hidayanti Azizul Rofiah N S; Rai Sujanem; Putu Prima Juniartina
Jurnal Pendidikan Fisika Undiksha Vol. 13 No. 3 (2023)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jjpf.v13i3.71970

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan kemampuan Higher Order Thinking Skills (HOTS) antara siswa yang dibelajarkan dengan model Problem Based Learning (PBL) dan siswa yang dibelajarkan dengan model Direct Instruction (DI). Penelitian ini menggunakan jenis penelitian quasi eksperimen. Desain penelitian pretest – posttest non equivalent control group design. Sampel penelitian diperoleh menggunakan teknik sampling jenuh. Jumlah sampel sebanyak 43 siswa yang terdistribusi ke dalam dua kelas. Data HOTS siswa diperoleh melalui hasil pretest dan posttest siswa. Semua pengujian hipotesis dilakukan dengan taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa uji normalitas dan homogenitas kedua kelompok > 0,05. Dengan demikian, data N-Gain score dinyatakan terdistribusi normal dan memiliki varians data homogen. Selanjutnya, hasil uji-t kemampuan HOTS siswa yaitu 0,000. Dengan demikian, data N-Gain score < 0,05, maka H0 ditolak dan Ha diterima sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan kemampuan HOTS antara siswa yang dibelajarkan menggunakan model PBL dan siswa yang dibelajarkan menggunakan model DI.
Pelatihan Dan Pembinaan Kerajinan “Tenun Songket” Desa Jinengdalem Sujanem, Rai; Sudarmawan, Agus
International Journal of Community Service Learning Vol. 2 No. 2 (2018): May 2018
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (776.397 KB) | DOI: 10.23887/ijcsl.v2i2.15539

Abstract

Tujuan dari pembinaan tenun songket di desa Jinengdalem adalah untuk membina sebuah kelompok perajin penenun songket yang mandiri dan memberdayakan potensi eknomi lokal. Pembinaan ini melibatkan bidang produksi dan manajemen usaha. Metode implementasinya adalah metode IbM dalam bidang produksi, yaitu perancangan dan modifikasi dari alat tenun dan alat-alat pendukung, pengadaan bahan baku, pelatihan keterampilan menenun songket. Kegiatan- kegiatan dalam bidang manajemen usaha meliputi pelatihan dalam manajemen usaha, pelatihan dalam pembukuan bisnis atau penciptaan situs jaringan e-commerce sebagai media promosi dan toko on-line dan pelatihan pemasaran berbasis internet. Hasil-hasil dari program implementasi IbM adalah sebagai berikut. Dalam bidang produksi, yaitu pengadaan desain produksi dan modifikasi alat tenun "cagcag", "paninjin" dan "dengkrek", pengadaan bahan baku utama seperti benang dan warna. Hasil dari pelatihan dalam produksi kerajinan dasar adalah variasi ukuran dasar tenun songket. Hasil dari pelatihan dalam variasi desain produk adalah variasi-variasi tenunan songket berdasarkan perkembangan pasar, dan desain songket sebagai cindramata seperti tas songket dengan berbagai model. Hasil dalam manajemen usaha adalah para peserta yang terdiri atas pengrajin songket telah mampu mengelola usaha, membuat pembukuan yang baik dan pengrajin telah memiliki situs jaringan (website) sebagai media promosi dan pemasaran. Penjualan produk pengrajin menjadi tersebar luas dan meningkat.
Pelatihan dan Pendampingan Pembuatan Media Simulasi Praktikum IPA SMP dengan Program Simulasi Phet Sujanem, Rai; Sutarno, Erwan; Aris Gunadi, I Gede
International Journal of Community Service Learning Vol. 3 No. 1 (2019): February 2019
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (585.979 KB) | DOI: 10.23887/ijcsl.v3i1.17485

Abstract

Tujuan kegiatan pelatihan ini adalah sebagai berikut. 1) Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan guru-guru IPA SMP untuk membuat media simulasi praktikum IPA dengan program PhET. 2) Guru-guru IPA SMP dapat mengimplementasikan media simulasi praktikum IPA dengan program PhET dalam proses pembelajaran IPA. Peserta pelatihan adalah guru-guru IPA SMPN 1 Sukasada, SMP Negeri 1, 2, 3, 4, 5 Singaraja, dan SMP Lab Undiksha Singaraja. Jumlah peserta adalah 15 orang. Prosedur kegiatannya melalui pelatihan dan pendampingan pembuatan media simulasi praktikum IPA dengan program PhET. Hasil pelatihan menunjukkan bahwa 1) peserta pelatihan telah memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk membuat media simulasi praktikum IPA dengan program PhET, 2) peserta pelatihan dapat mengimplementasikan  media simulasi praktikum IPA dengan program PhET dalam pembelajaran di kelas. Berdasarkan uraian ini, dapat disimpulkan bahwa para peserta pelatihan telah dapat membuat media simulasi praktikum IPA dengan program PhET dan dapat mengimplementasikan dalam pembelajaran IPA di kelas