Dyah Mahendrasari Sukendra
Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Negeri Semarang Kampus Sekaran Gunungpati Semarang 50229 Jawa Tengah-Indonesia Telp. (024) 8058007

Published : 56 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Pengaruh Ekstrak Bunga Krisan (Chrysanthemum cinerariaefolium) terhadap Fekunditas dan Fertilitas Aedes aegypti Isnaningsih, Isnaningsih; Sukendra, Dyah Mahendrasari
HIGEIA (Journal of Public Health Research and Development) Vol 2 No 1 (2018): HIGEIA
Publisher : Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Aedes aegypti adalah vektor utama Demam Berdarah Dengue (DBD) yang masih menjadi masalah kesehatan dengan angka insidensi mencapai 65,7/100.000 penduduk. Alternatif pengendalian vektor yang tidak menimbulkan pencemaran lingkungan adalah penggunaan insektisida alternatif. Penelitian ini dilakukan pada tahun 2017. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak bunga krisan (Chrysanthemum cinerariaefolim) terhadap fekunditas dan fertilitas Aedes aegypti. Jenis penelitian ini adalah eksperimen murni, dengan rancangan posttest only control group design dengan 3 variasi konsentrasi ekstrak sebesar 0,05%, 0,1%, 0,2% dan kontrol (akuades) dengan enam kali pengulangan. Analisis data dilakukan dengan uji Kruskal wallis dengan tingkat kesalahan sebesar p<0,05. Hasil uji statistik Kruskal wallis fekunditas dan fertilitas p=0,001 menunjukkan bahwa ada perbedaan angka fekunditas dan fertilitas Aedes aegypti setelah diberi ekstrak bunga krisan. Konsentrasi 0,2% paling berpengaruh dengan rata-rata fekunditas 6 butir/betina, persentase penurunan fekunditas 87,5% dan rata-rata fertilitas 11,10%. Simpulan penelitian ini adalah ada pengaruh pemberian variasi ekstrak bunga krisan dalam menurunkan angka fekunditas dan fertilitas Aedes aegypti.  Abstract Aedes aegypti was the main vector of Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) with incidence rate of 65.7/100.000 population. An alternative solution to control the vector which did not cause environmental pollution was alternative insecticides. This study was condiucted in 2017. This study aims to determine the effect chrysanthemum extract (Chrysanthemum cinerariaefolium) to Aedes aegypti’s fecundity and fertility. This was a pure experimental research, using posttest only control group design with 3 variations of concentration extract 0,05%, 0,1%, 0,2% and control (aquadest) with six-time repetitions.The data analysis was conducted by Kruskal wallis test with p <0,05 error level. The result of Kruskal wallis fecundity and fertility test p = 0,001 showed that there was difference between fecundity and fertility number of Aedes aegypti after it was given with chrysanthemum extract. The 0.2% concentration was most influential, with an average fecundity of 6 grains/females, percentage of fecundity decrease of 87.5%  and an average fertility of 11.10%. The conclusion of this research was that the giving of chrysanthemum extract variations affect the number of Aedes aegypti’s fecundity and fertility. Keyword : Chrysanthemum extract, Fecundity, Fertility
Distribusi Spasial Vektor Potensial Filariasis dan Habitatnya di Daerah Endemis Fitriyana, Fitriyana; Sukendra, Dyah Mahendrasari; Windraswara, Rudatin
HIGEIA (Journal of Public Health Research and Development) Vol 2 No 2 (2018): HIGEIA
Publisher : Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/higeia.v2i2.17851

Abstract

Abstrak Desa Bedono merupakan wilayah desa endemis filariasis di Kabupaten Demak sejak tahun 2016 dengan mf rate sebesar >1%. Penelitian ini dilakukan pada tahun 2017 dan bertujuan menggambarkan vektor potensial filariasis dan habitatnya yang dilihat secara spasial. Jenis penelitian ini adalah observasional dengan metode deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan survei entomologi, pengambilan titik subjek, dan objek penelitian menggunakan GPS. Data dianalisis dengan analisis univariat dan secara spasial/pemetaan dengan perangkat Sistem Informasi Geografis (GIS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa vektor potensial filariasis yaitu Culex vishnui dengan distribusi tertinggi pada area pemukiman. Habitat vektor potensial filariasis berupa drum air, selokan, kolam ikan, ban bekas, tambak, dan tempat minum ternak. Distribusi keberadaan habitat perkembangbiakan nyamuk paling banyak ditemukan di Dusun Morosari yang menyebar di jarak 100 meter dari kasus filariasis. Simpulan penelitian ini yaitu nyamuk yang berpotensi sebagai vektor filariasis di Desa Bedono adalah Culex vishnui dengan habitat terbanyak di area pemukiman (terutama Dusun Morosari). Abstract Bedono village was categorized as a fialriasis endemic region in Demak regency since 2016 with mf rate of > 1%. The study was conducted in 2017 and it was purposed to plot the spread of disease vector and its habitat through mapping. This research was an observational research with descriptive method as its research design. Data collection was conducted by entomological survey and GPS marking. Data were analyzed using univariate analysis and spatial analysis with GIS. The result shown that the potential vector of filariasis was Culex vishnui. The breeding places of the potential vector was a water drum, an open sewerage, a fish pond, used tires, ponds, and livestock. The distribution of mosquito breeding habitat was mainly found in Morosari which is spread in a distance of 100 metres from filariasis cases. The conclusion of the research that the potential vector of filariasis was Culex vishnui with the most habitat of Culex vishnui in settlement area (especially in Morosari Village). Keyword : Vector, Habitat, Bedono, Filariasis, spatial
Maya Index dan Karakteristik Lingkungan Area Rumah dengan Kejadian Demam Berdarah Dengue Dewi, Annisa Arum Kartika; Sukendra, Dyah Mahendrasari
HIGEIA (Journal of Public Health Research and Development) Vol 2 No 4 (2018): HIGEIA
Publisher : Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/higeia.v2i4.24699

Abstract

Abstrak Pada tahun 2017 IR DBD sebesar 124,3 per 100.000 penduduk. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara maya index dan karakteristik lingkungan area rumah dengan kejadian DBD di daerah endemis DBD Kelurahan Kadipiro Kota Surakarta. Jenis penelitian ini adalah analitik observasional dengan rancangan penelitian case control.  Sampel sebesar 45 kasus dan 45 kontrol dengan teknik pengambilan sampel yaitu purposive sampling. Instrumen yang digunakan adalah lembar pengukuran dan lembar observasi, kuesioner, roll meter dan dokumen rekam medik. Data dianalisis secara univariat untuk mendeskripsikan semua variabel penelitian dan secara bivariat dengan uji chi-square dan perhitungan Odds Ratio(OR). Penelitian dilakukan pada bulan Mei-Juni 2018. Hasil penelitian ini adalah maya index (p=0,408), keadaan TPA terbuka (p=0,036), ventilasi rumah tanpa kawat kassa (p=0,135), keberadaan pakain yang menggantung (p=0,021), kepadatan hunian (p=0,168), jarak antar rumah (p=1,000), keberadaan pekarangan kosong (p=0,047), keberadaan tempat minum unggas (p=1,000). Kesimpulan dari penelitian ini adalah ada hubungan antara keadaan TPA terbuka, keberadaan pakaian menggantung, keberadaan pekarangan kosong dengan kejadian DBD.  Abstract In 2017 the dengue fever was 124.3 per 100,000 population. The purpose of this study is to determine the relationship between the maya index and environmental characteristics of the home area with the incidence of DHF in endemic area of DHF Kadipiro Surakarta. Type of research was analytic observasional with research design case control.  Samples of 45 cases and 45 controls by sampling technique that is purposive sampling. The instruments used are measurement sheets and observation sheets, questionnaires, roll meters and medical record documents. Data were analyzed univariat to describe all research variables and bivariate with test chi-square and calculation Odds Ratio. The study was conducted in May-June 2018. The results of this study were maya index(p=0.408), open landfill conditions(p=0,036), homeless house ventilation(p=0,135), the existence of hanging clothes(p=0,021), occupancy density(p=0,168) distance between homes(p=1,000), the existence of empty yard(p=0,047), existence of poultry drinking place(p=1,000). The conclusion, there is a relationship between the open landfill conditions, the existence of hanging clothes, the existence of empty yard with the incidence of DHF.  Keyword : DHF, Home Environment, Maya Index
Perilaku Mencari Pakan pada Nyamuk Culex sp. sebagai Vektor Penyakit Filariasis Sukendra, Dyah Mahendrasari; Syafriati, Siti Yuliana
HIGEIA (Journal of Public Health Research and Development) Vol 3 No 3 (2019): HIGEIA: July 2019
Publisher : Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/higeia.v3i3.31513

Abstract

  ABSTRAK Latar Belakang. Filariasis merupakan salah satu penyakit yang ditularkan oleh nyamuk Culex sp. Pemahaman bionomik khususnya perilaku mencari pakan Culex sp perlu dipahami guna memutus transmisi penularan filariasis.Tujuan.Penelitian ini bertujuan mendiskripsikan perilaku mencari pakan pada nyamuk Culex sp. Metode.Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan rancangan observasional. Desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional. Pengambilan sampel menggunakan teknik Accidental sampling, dengan  umpan manusia serta hewan. Penelitian dilakukan di dalam dan di luar ruangan.Hasil penelitian. Sebanyak 89 nyamuk Culex sp tertangkap saat menggigit umpan manusia dan ternak baik di dalam maupun di luar ruangan.Gambaran waktu mencari pakan pada nyamuk Culex sp tertinggi terjadi pada pukul 01.00-02.00 WIB. Nyamuk Culex sp lebih suka mencari pakan di dalam ruangan daripada di luar ruangan, dengan hasil sebanyak 70 ekor (di dalam ruangan) dan 19 ekor (di luar ruangan). Nyamuk Culex sp senang menghisap darah manusia maupun hewan, baik di dalam maupun di luar ruangan  dengan hasil penelitian 46 Culex sp (saat menghisap darah manusia) dan  43 Culex sp (saat menghisap darah hewan ternak). Kata kunci: Vektor, Endemis Filariasis, Perilaku menggigit Culex sp   ABSTRACT Background.Filariasis is an infectious diseasewas transmitted by Culex spp. Knowing of bionomic especially the feeding behavior needs to be understood in order to break the transmission of filariasis transmission. The aim. To describe of feeding behavior of Culex spp. Method. Descriptive with observational study, with cross sectional design. Samples were taken by Accidentalsampling technique, using human and animal feed. This research was carried out inside and outside. Result. 89 Culex spp species were caught. The description of the time to look for feed on Culex spp mosquitoes in Filariasis endemic area, Bonang sub-district, the highest occurred at 01.00 - 02.00 WIB, Culex spp preferred to look for food indoors rather than outdoors, with as many as 70 (in the room) and 19 (outdoors). Culex spp likes to suck human and animal blood. Mosquitoes Culex spp likes to suck human and animal blood, both indoors and outdoors with the results of research 46 Culex spp (sucking human blood) and 43 Culex spp (sucking the animal blood). Keywords: Vector, Endemic Filariasis, Feeding behavior of Culex spp
EPIDEMIOLOGI DAN REGULASI VIRUS [H1N1] PADA BABI DAN PENULARANNYA KE MANUSIA Sukendra, Dyah Mahendrasari
KEMAS: Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 5, No 1 (2009)
Publisher : Department of Public Health, Faculty of Sport Science, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/kemas.v5i1.1856

Abstract

Perubahan cuaca mempengaruhi alam dan aktivitas agen patogen, baik secara langsung maupun tidak langsung. Beberapa dekade, agen patogen mulai berkembang dan bermutasi secara variasi serta lebih ganas.  Salah satu kejadian zoonosis yaitu penyebaran virus influenza A. Virus influenza A [H1N1] berpotensi berkembang  di Indonesia. Penyebaran influenza A [H1N1] di Indonesia antar manusia sudah terjadi. Etiologi influenza babi (swine flu) virus influenza A H1N1, famili Orthomyxoviridae. H1N1 mempunyai NeuAc 2,3Gal dan NeuAc 2,6Gal, merupakan gen linkage reseptor spesifik. NeuAc 2,6Gal babi dapat meniru reseptor spesifik pada manusia. Virus influenza A [H1N1] dapat bertransmisi melintasi “barier species”, sehingga bisa terjadi penularan secara timbal balik, antara babi dan manusia. Peran sistem imun tubuh penting dalam mendeteksi dan memusnahkan serangan virus ini, namun seringkali antibodi tubuh tidak mampu mengenali antigen yang bermutasi sangat variasi. Tindakan pencegahan harus diambil secara cepat untuk mengurangi risiko penularan  serta mengantisipasi  outbreak secepat mungkin. AbstractWeather changes affect the nature and activity of pathogenic agents, either directly or indirectly. Several decades, the agent started evolving and mutating its variations and more violent. One incident that is the spread of zoonotic influenza virus A. Influenza virus A [H1N1] is potential to grow in Indonesia. The spread of influenza A [H1N1] in Indonesia between humans has occurred. The etiology of swine influenza (swine flu) A H1N1 virus, Orthomyxoviridae family. H1N1 has a 2.3 Gal and NeuAc NeuAc 2.6Gal, a specific receptor gene linkage. NeuAc 2.6Gal pigs can mimic a specific receptor in humans. Influenza virus A [H1N1] may transmit traffic “species barrier”, so that transmission can occur on a reciprocal basis, between pigs and humans. The role of the body’s immune system is important in detecting and destroying these virus attacks, but often the body’s antibodies are not able to recognize antigens that mutate very varied. Prevention must be taken quickly to reduce the risk of transmission and to anticipate the outbreak as quickly as possible.Keywords: Zoonotic; Influenza A virus [H1N1]; Swine influenza; Human influenza
Efek Olahraga Ringan Pada Fungsi Imunitas Terhadap Mikroba Patogen : Infeksi Virus Dengue Sukendra, Dyah Mahendrasari
Media Ilmu Keolahragaan Indonesia Vol 5, No 2 (2015): December 2015
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/miki.v5i2.7890

Abstract

Imunitas atau kekebalan pada tubuh manusia merupakan kemampuan tubuh untuk melawan berbagai mikroba patogen, misalnya virus dengue penyebab penyakit DBD. Kecenderungan anak-anak terhadap gadget  yang terkoneksi internet, membuat anak-anak lebih suka bermain dengan gadget. Sehingga muncul kecenderungan anak hanya diam dan kurang beraktivitas. Tubuh yang cenderung diam dan kurang beraktivitas dapat berpengaruh pada fungsi kekebalan tubuh. Aktivitas latihan fisik ringan lebih bermanfaat pada fungsi imunitas bila dibanding hanya melakukan aktivitas berupa duduk/tidak melakukan kegiatan apapun. Kekebalan tubuh dapat mudah ditingkatkan dengan melakukan latihan fisik/olahraga juga istirahat serta tidur cukup. Peningkatan jumlah leukosit dalam sirkulasi darah (utamanya limposit dan neutrofil) serta trombosit, dengan melakukan latihan fisik/olahraga ringan dipengaruh oleh intensitas dan durasi latihan. Terjadi pula peningkatan konsentrasi plasma dari berbagai substansi yang dikenal dengan efek fungsi leukosit, termasuk sitokin pada peradangan, seperti TNF-α, makrofag inflamatori protein-1, IL-1β; anti-inflamator sitokin IL-6, IL-10, dan IL-1-reseptor antagonist (IL-1ra); serta peningkatan kadar protein, termasuk C-reaktif protein (CRP). Mekanisme kenaikan atau penurunan imun saat latihan fisik/olahraga dapat memberikan manfaat positif bagi kesehatan dalam jangka panjang, hal ini berkaitan dengan pertahanan tubuh terhadap infeksi penyakit. Sehingga jika terjadi  infeksi mikroba patogen yaitu virus dengue, maka tubuh mampu melakukan pencegahan  infeksi virus dengue ke dalam tubuh.
ANALISIS SPASIAL KEJADIAN DEMAM BERDARAH DENGUE BERDASARKAN ANGKA BEBAS JENTIK Kusuma, Agcrista Permata; Sukendra, Dyah Mahendrasari
Jurnal Ilmiah Permas: Jurnal Ilmiah STIKES Kendal Vol 7 No 2 (2017): Oktober
Publisher : LPPM STIKES KENDAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (342.757 KB) | DOI: 10.32583/pskm.7.2.2017.63-73

Abstract

ABSTRAK Pendahuluan: Puskesmas Kedungmundu merupakan wilayah endemis DBD dengan kasus yang tinggi. Diperlukan upaya dalam menentukan kebijakan strategi pengendalian vektor secara efektif dan efisien.Metode: Analisis spasial dalam SIG dapat digunakan untuk mengetahui pola penyebaran dan daerah potensi penularan DBD. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif analitik menggunakan pendekatan cross sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan sampel wilayah memperhatikan proporsi sampel dengan jumlah sampel 146 responden. Pengambilan titik koordinat menggunakan GPS. Analisis data menggunakan analisis univariat dan analisis spasial. Hasil: Hasil perhitungan statistik spasial ANN diperoleh nilai Z-score = -11,054 terdapat pola spasial kasus DBD di wilayah kerja Puskesmas Kedungmundu. Nilai ANN = 0,52 < 1, artinya pola penyebaran kejadian DBD yang terjadi adalah berkerumun. Diskusi: penelitian ini direkomendasikan agar masyarakat lebih meningkatkan perilaku 3M plus sebagai upaya pemberantasan sarang nyamuk.   Kata kunci: DBD, Angka Bebas Jentik, Analisis Spasial.   ABSTRACT Introduction: Kedungmundu PHC is an endemich region with a high case. Be required to determine policy of vector control strategies effectively and efficiently. Methods: Spatial analsys in GIS can be used to determine the pattern of distribution and areas of DHF potential transmission. The type this research was analysis descriptive with cross sectional approach. The sampling technique used a sample area of attention to the proportion of the sample with 146 respondents of total sample. Capturing the coordinates used GPS. Data analisys used univariat and spatial analisys. Results: Result of ANN obtained a Z-score= -11,054, there was a spatial pattern of dengue cases in Kedungmundu PHC. ANN value = 0,52 < 1, it meant that the pattern of DHF distribution was clustered. Discussion: The proposed recommendation in order to people increase 3M plus behavior as mosquito eradication efforts.  Keywords: DHF, Figures Non larvae, Spatyal Analysis  
LIGHT TRAP DENGAN ATRAKTAN CUKA HITAM UNTUK MENCEGAH TRANSMISI PENYAKIT TULAR VEKTOR Inayah, Atiya; Sukendra, Dyah Mahendrasari
HIGEIA (Journal of Public Health Research and Development) Vol 3 No 4 (2019): HIGEIA: October 2019
Publisher : Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/higeia.v3i4.31179

Abstract

ABSTRAK Berdasarkan pengukuran kepadatan lalat menggunakan fly grill di sekitar Sekaran, kepadatan lalat berjumlah 12 ekor/blok grill. Hal tersebut menunjukkan bahwa populasi lalat yang padat sehingga perlu dilakukan pengendalian. Untuk mengurangi dampak negatif pengguaan insektisida, diperlukan adanya pengembangan metode pengendalian yang didasarkan pada bionomik lalat rumah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh atraktan cuka hitam yang meliputi kosentrasi dan durasi waktu terhadap jumlah lalat yang terperangkap pada light trap modifikasi. Metode penelitian ini adalah eksperimen murni dengan desain post-test only with control group. Sampel dalam penelitian ini adalah lalat dewasa yang berjumlah 525 ekor. Analisis data dilakukan dengan menggunakan program komputer secara univariat dan bivariat (menggunakan uji normalitas, uji homogenitas dan uji Kruskal Wallis). Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah keseluruhan lalat rumah (Musca Domestica) yang terperangkap sebanyak 310 ekor. Jumlah lalat rumah yang terperangkap pada light trap modifikasi dengan atraktan cuka hitam 100% sebanyak 21%, atraktan cuka hitam 80% sebesar 25%, atraktan cuka hitam 40% sebesar 17%, atraktan cuka hitam 20% sebesar 18%, sedangkan Light trap modifikasi dengan aquades sebesar 5%, larutan gula merah sebesar 11% dan tanpa atraktan sebesar 3%. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa lalat rumah lebih banyak terperangkap pada light trap modifikasi dengan atraktan cuka hitam daripada atraktan yang lain, dengan atraktan cuka hitam kosentrasi 80% paling banyak memerangkap lalat rumah. Kata Kunci : Atraktan, Cuka Hitam, Light Trap, Lalat Rumah   ABSTRACT Based on the measurement of fly density used the fly grill in Sekaran, the density is 12 flies/blockgrill. It is indicated that the density of flies is high and needed effort to manage the population itself. To reduce the negative effects of insecticides employing, it is need to develop a method of houseflies management based on housefly. This research aims to know the effect of black vinegar attractants with concentration and duration of time on the number of flies trapped in the modified light trap. This research method is true experimental using post-test only with control group design. The research sample were adult houseflies which numbered 525. Data analysis was performed using computer programs in univariate and bivariate (normality test, homogeneity test and Kruskal Wallis test). The results showed that the total trapped was 310 hoseflies. Houseflies trapped in the modified light trap with 100% black vinegar attractant 21%, the modified light trap with 80% black vinegar attractant is 25%, the modified light trap with 40% black vinegar attractant is 17%, the modified light trap with 20% black vinegar attractant is 18%, while the modified light trap with distilled water 5%, brown sugar solution 11% and without attractant 3%. Therefore, it can be concluded that more houseflies are trapped in a modified light trap with black vinegar attractants than other attractants, with 80% concentrated black vinegar attractants trapped most of the houseflies. Keyword : Attractant, Black Vinegar, Light Trap, Housefly
THE INFLUENCE OF VEGETATION AND HOUSE INDEX ON MALE MOSQUITOES DHF VECTOR ABUNDANCE ON KAWENGEN SUB-DISTRICT Sukendra, Dyah Mahendrasari; Santik, Yunita Dyah Puspita; Wahyono, Bambang Wahyono; Siyam, Nur; Indrawati, Fitri
Unnes Journal of Public Health Vol 9 No 1 (2020): Unnes Journal of Public Health
Publisher : Universitas Negeri Semarang in cooperation with Association of Indonesian Public Health Experts (Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI))

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (874.555 KB) | DOI: 10.15294/ujph.v9i1.34714

Abstract

The environmental conditions of an area can be a major risk factor for potential outbreaks of DHF. Dense areas with a variety of vegetation are facilitated as breeding sites and have an impact on vector density. The high of vector population give an effect the speed of transmission vector-borne diseases. DHF vector population is related to the vector DHF mating pattern. Adult male mosquitoes vector DHF plays an important role in the pattern of mating DHF. The proportion of mating between adult male and females mosquitoes is 1: 1. Thus it can be seen the density of male mosquitoes, it can be easily estimated the number of female mosquitoes which fertilize and lay eggs. Conducted using observational analytics with male mosquito population surveillance approach. This research aimed to effect of vegetation and House Index (HI) on the abundance of male mosquito populations. Adult mosquitoes taken using light traps with a total sampling technique. Using spatial vegetation analysis shows that Kawengen residents, has a variety of monoecious groups and rice fields. Variety of fruit trees (banana,mango,guava,soursop), flower plants (frangipani,hibiscus), bamboo, another plant (i.e teak). Vegetation density is in the low-moderate category. Kawengen included in the category of moderate density (HI=36%). The number of Aedes sp. male mosquitoes trapped by light traps, of the total trapped mosquito was 6.52%. Variety and density of plants give a support the abundance of male mosquitoes. As a resting and feeding place. HI in moderate density category, indicates there is a positive container or a place for laying eggs. The larvae density affects the sex ratio of mosquitoes.
SPASIOTEMPORAL DEMAM BERDARAH DENGUE BERDASARKAN HOUSE INDEX, KEPADATAN PENDUDUK DAN KEPADATAN RUMAH Kusumawati, Nila; Sukendra, Dyah Mahendrasari
HIGEIA (Journal of Public Health Research and Development) Vol 4 No 2 (2020): HIGEIA: April 2020
Publisher : Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/higeia.v4i2.32507

Abstract

Abstrak Puskesmas Gambirsari merupakan daerah dengan angka kesakitan DBD tertinggi se-Kota Surakarta dari 5 tahun terakhir. Faktor lingkungan dan demografi dinilai cukup terlibat dalam terjadinya kasus DBD. Diperlukan upaya pencegahan DBD dengan menggambarkan pola persebaran kasus, faktor demografi maupun faktor lingkungan secara luas dan spesifik. Tujuan penelitian ini adalah untuk menggambarkan secara spasiotemporal kejadian DBD berdasarkan variabel HI, kepadatan penduduk, dan kepadatan rumah. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni 2019. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskritif menggunakan pendekatan cross-sectional. Sampel yang digunakan adalah seluruh total populasi yang berjumlah 334 penderita DBD. Pengambilan titik koordinat menggunakan aplikasi GPS. Analisis data menggunakan analisis univarat dan analisis spasial. Hasil analisis spasiotemporal menunjukkan gambaran spasial secara temporal variabel penelitian dengan kejadian DBD. Kesimpulan dalam penelitian ini adalah kasus DBD tahun 2015 hingga Maret 2019 lebih endemis terjadi di RW yang memiliki kepadatan penduduk sedang, kepadatan rumah sedang serta HI yang rendah. Analisis buffer zone pada tahun 2019 daerah yang masuk kedalam area buffer adalah RW 8, RW 23, RW 17 dan RW 31. Abstract Gambirsari Public Health Center is the area with the highest DHF morbidity rate in the city of Surakarta from 2015 to 2017. Factors affecting the incidence of DHF in 2015 to March 2019 are house index, population density and house density. Efforts to prevent dengue fever spatially to describe the pattern of distribution of cases, demographic factors and environmental factors broadly and specifically in all work areas of the health center. This type of research is a descriptive study using a cross-sectional approach. The sampling technique is cluster sampling with 92 samples. Retrieval of the coordinates using the GPS application. Data analysis uses univarat analysis and spatial analysis. The results of the spatial-temporal analysis show the temporal picture of the study variables temporally with the incidence of DHF. The conclusion in this study is the case of DHF in 2015 to March 2019 more endemic in RWs that have moderate population density, moderate house density and low house index. Analysis of the buffer zone in 2019 the areas included in the buffer area are RW 8, RW 23, RW 17 and RW 31.   Keywords : Spasiotemporal, population density, house density, HI