Dyah Mahendrasari Sukendra
Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Negeri Semarang Kampus Sekaran Gunungpati Semarang 50229 Jawa Tengah-Indonesia Telp. (024) 8058007

Published : 56 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Distribusi Spasial Vektor Potensial Filariasis dan Habitatnya di Daerah Endemis Fitriyana, Fitriyana; Sukendra, Dyah Mahendrasari; Windraswara, Rudatin
HIGEIA (Journal of Public Health Research and Development) Vol 2 No 2 (2018): HIGEIA
Publisher : Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/higeia.v2i2.17851

Abstract

Abstrak Desa Bedono merupakan wilayah desa endemis filariasis di Kabupaten Demak sejak tahun 2016 dengan mf rate sebesar >1%. Penelitian ini dilakukan pada tahun 2017 dan bertujuan menggambarkan vektor potensial filariasis dan habitatnya yang dilihat secara spasial. Jenis penelitian ini adalah observasional dengan metode deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan survei entomologi, pengambilan titik subjek, dan objek penelitian menggunakan GPS. Data dianalisis dengan analisis univariat dan secara spasial/pemetaan dengan perangkat Sistem Informasi Geografis (GIS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa vektor potensial filariasis yaitu Culex vishnui dengan distribusi tertinggi pada area pemukiman. Habitat vektor potensial filariasis berupa drum air, selokan, kolam ikan, ban bekas, tambak, dan tempat minum ternak. Distribusi keberadaan habitat perkembangbiakan nyamuk paling banyak ditemukan di Dusun Morosari yang menyebar di jarak 100 meter dari kasus filariasis. Simpulan penelitian ini yaitu nyamuk yang berpotensi sebagai vektor filariasis di Desa Bedono adalah Culex vishnui dengan habitat terbanyak di area pemukiman (terutama Dusun Morosari). Abstract Bedono village was categorized as a fialriasis endemic region in Demak regency since 2016 with mf rate of > 1%. The study was conducted in 2017 and it was purposed to plot the spread of disease vector and its habitat through mapping. This research was an observational research with descriptive method as its research design. Data collection was conducted by entomological survey and GPS marking. Data were analyzed using univariate analysis and spatial analysis with GIS. The result shown that the potential vector of filariasis was Culex vishnui. The breeding places of the potential vector was a water drum, an open sewerage, a fish pond, used tires, ponds, and livestock. The distribution of mosquito breeding habitat was mainly found in Morosari which is spread in a distance of 100 metres from filariasis cases. The conclusion of the research that the potential vector of filariasis was Culex vishnui with the most habitat of Culex vishnui in settlement area (especially in Morosari Village). Keyword : Vector, Habitat, Bedono, Filariasis, spatial
Maya Index dan Karakteristik Lingkungan Area Rumah dengan Kejadian Demam Berdarah Dengue Dewi, Annisa Arum Kartika; Sukendra, Dyah Mahendrasari
HIGEIA (Journal of Public Health Research and Development) Vol 2 No 4 (2018): HIGEIA
Publisher : Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/higeia.v2i4.24699

Abstract

Abstrak Pada tahun 2017 IR DBD sebesar 124,3 per 100.000 penduduk. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara maya index dan karakteristik lingkungan area rumah dengan kejadian DBD di daerah endemis DBD Kelurahan Kadipiro Kota Surakarta. Jenis penelitian ini adalah analitik observasional dengan rancangan penelitian case control. Sampel sebesar 45 kasus dan 45 kontrol dengan teknik pengambilan sampel yaitu purposive sampling. Instrumen yang digunakan adalah lembar pengukuran dan lembar observasi, kuesioner, roll meter dan dokumen rekam medik. Data dianalisis secara univariat untuk mendeskripsikan semua variabel penelitian dan secara bivariat dengan uji chi-square dan perhitungan Odds Ratio(OR). Penelitian dilakukan pada bulan Mei-Juni 2018. Hasil penelitian ini adalah maya index (p=0,408), keadaan TPA terbuka (p=0,036), ventilasi rumah tanpa kawat kassa (p=0,135), keberadaan pakain yang menggantung (p=0,021), kepadatan hunian (p=0,168), jarak antar rumah (p=1,000), keberadaan pekarangan kosong (p=0,047), keberadaan tempat minum unggas (p=1,000). Kesimpulan dari penelitian ini adalah ada hubungan antara keadaan TPA terbuka, keberadaan pakaian menggantung, keberadaan pekarangan kosong dengan kejadian DBD. Abstract In 2017 the dengue fever was 124.3 per 100,000 population. The purpose of this study is to determine the relationship between the maya index and environmental characteristics of the home area with the incidence of DHF in endemic area of DHF Kadipiro Surakarta. Type of research was analytic observasional with research design case control. Samples of 45 cases and 45 controls by sampling technique that is purposive sampling. The instruments used are measurement sheets and observation sheets, questionnaires, roll meters and medical record documents. Data were analyzed univariat to describe all research variables and bivariate with test chi-square and calculation Odds Ratio. The study was conducted in May-June 2018. The results of this study were maya index(p=0.408), open landfill conditions(p=0,036), homeless house ventilation(p=0,135), the existence of hanging clothes(p=0,021), occupancy density(p=0,168) distance between homes(p=1,000), the existence of empty yard(p=0,047), existence of poultry drinking place(p=1,000). The conclusion, there is a relationship between the open landfill conditions, the existence of hanging clothes, the existence of empty yard with the incidence of DHF. Keyword : DHF, Home Environment, Maya Index
Light Trap dengan Atraktan Cuka Hitam untuk Mencegah Transmisi Penyakit Tular Vektor Inayah, Atiya; Sukendra, Dyah Mahendrasari
HIGEIA (Journal of Public Health Research and Development) Vol 3 No 4 (2019): HIGEIA: October 2019
Publisher : Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/higeia.v3i4.31179

Abstract

ABSTRAK Berdasarkan pengukuran kepadatan lalat menggunakan fly grill di sekitar Sekaran, kepadatan lalat berjumlah 12 ekor/blok grill. Hal tersebut menunjukkan bahwa populasi lalat yang padat sehingga perlu dilakukan pengendalian. Untuk mengurangi dampak negatif pengguaan insektisida, diperlukan adanya pengembangan metode pengendalian yang didasarkan pada bionomik lalat rumah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh atraktan cuka hitam yang meliputi kosentrasi dan durasi waktu terhadap jumlah lalat yang terperangkap pada light trap modifikasi. Metode penelitian ini adalah eksperimen murni dengan desain post-test only with control group. Sampel dalam penelitian ini adalah lalat dewasa yang berjumlah 525 ekor. Analisis data dilakukan dengan menggunakan program komputer secara univariat dan bivariat (menggunakan uji normalitas, uji homogenitas dan uji Kruskal Wallis). Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah keseluruhan lalat rumah (Musca Domestica) yang terperangkap sebanyak 310 ekor. Jumlah lalat rumah yang terperangkap pada light trap modifikasi dengan atraktan cuka hitam 100% sebanyak 21%, atraktan cuka hitam 80% sebesar 25%, atraktan cuka hitam 40% sebesar 17%, atraktan cuka hitam 20% sebesar 18%, sedangkan Light trap modifikasi dengan aquades sebesar 5%, larutan gula merah sebesar 11% dan tanpa atraktan sebesar 3%. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa lalat rumah lebih banyak terperangkap pada light trap modifikasi dengan atraktan cuka hitam daripada atraktan yang lain, dengan atraktan cuka hitam kosentrasi 80% paling banyak memerangkap lalat rumah. Kata Kunci : Atraktan, Cuka Hitam, Light Trap, Lalat Rumah ABSTRACT Based on the measurement of fly density used the fly grill in Sekaran, the density is 12 flies/blockgrill. It is indicated that the density of flies is high and needed effort to manage the population itself. To reduce the negative effects of insecticides employing, it is need to develop a method of houseflies management based on housefly. This research aims to know the effect of black vinegar attractants with concentration and duration of time on the number of flies trapped in the modified light trap. This research method is true experimental using post-test only with control group design. The research sample were adult houseflies which numbered 525. Data analysis was performed using computer programs in univariate and bivariate (normality test, homogeneity test and Kruskal Wallis test). The results showed that the total trapped was 310 hoseflies. Houseflies trapped in the modified light trap with 100% black vinegar attractant 21%, the modified light trap with 80% black vinegar attractant is 25%, the modified light trap with 40% black vinegar attractant is 17%, the modified light trap with 20% black vinegar attractant is 18%, while the modified light trap with distilled water 5%, brown sugar solution 11% and without attractant 3%. Therefore, it can be concluded that more houseflies are trapped in a modified light trap with black vinegar attractants than other attractants, with 80% concentrated black vinegar attractants trapped most of the houseflies. Keyword : Attractant, Black Vinegar, Light Trap, Housefly
Perilaku Mencari Pakan pada Nyamuk Culex sp. sebagai Vektor Penyakit Filariasis Sukendra, Dyah Mahendrasari; Syafriati, Siti Yuliana
HIGEIA (Journal of Public Health Research and Development) Vol 3 No 3 (2019): HIGEIA: July 2019
Publisher : Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/higeia.v3i3.31513

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang. Filariasis merupakan salah satu penyakit yang ditularkan oleh nyamuk Culex sp. Pemahaman bionomik khususnya perilaku mencari pakan Culex sp perlu dipahami guna memutus transmisi penularan filariasis.Tujuan.Penelitian ini bertujuan mendiskripsikan perilaku mencari pakan pada nyamuk Culex sp. Metode.Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan rancangan observasional. Desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional. Pengambilan sampel menggunakan teknik Accidental sampling, dengan umpan manusia serta hewan. Penelitian dilakukan di dalam dan di luar ruangan.Hasil penelitian. Sebanyak 89 nyamuk Culex sp tertangkap saat menggigit umpan manusia dan ternak baik di dalam maupun di luar ruangan.Gambaran waktu mencari pakan pada nyamuk Culex sp tertinggi terjadi pada pukul 01.00-02.00 WIB. Nyamuk Culex sp lebih suka mencari pakan di dalam ruangan daripada di luar ruangan, dengan hasil sebanyak 70 ekor (di dalam ruangan) dan 19 ekor (di luar ruangan). Nyamuk Culex sp senang menghisap darah manusia maupun hewan, baik di dalam maupun di luar ruangan dengan hasil penelitian 46 Culex sp (saat menghisap darah manusia) dan 43 Culex sp (saat menghisap darah hewan ternak). Kata kunci: Vektor, Endemis Filariasis, Perilaku menggigit Culex sp ABSTRACT Background.Filariasis is an infectious diseasewas transmitted by Culex spp. Knowing of bionomic especially the feeding behavior needs to be understood in order to break the transmission of filariasis transmission. The aim. To describe of feeding behavior of Culex spp. Method. Descriptive with observational study, with cross sectional design. Samples were taken by Accidentalsampling technique, using human and animal feed. This research was carried out inside and outside. Result. 89 Culex spp species were caught. The description of the time to look for feed on Culex spp mosquitoes in Filariasis endemic area, Bonang sub-district, the highest occurred at 01.00 - 02.00 WIB, Culex spp preferred to look for food indoors rather than outdoors, with as many as 70 (in the room) and 19 (outdoors). Culex spp likes to suck human and animal blood. Mosquitoes Culex spp likes to suck human and animal blood, both indoors and outdoors with the results of research 46 Culex spp (sucking human blood) and 43 Culex spp (sucking the animal blood). Keywords: Vector, Endemic Filariasis, Feeding behavior of Culex spp
Spasiotemporal Demam Berdarah Dengue berdasarkan House Index, Kepadatan Penduduk dan Kepadatan Rumah Kusumawati, Nila; Sukendra, Dyah Mahendrasari
HIGEIA (Journal of Public Health Research and Development) Vol 4 No 2 (2020): HIGEIA: April 2020
Publisher : Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/higeia.v4i2.32507

Abstract

Abstrak Puskesmas Gambirsari merupakan daerah dengan angka kesakitan DBD tertinggi se-Kota Surakarta dari 5 tahun terakhir. Faktor lingkungan dan demografi dinilai cukup terlibat dalam terjadinya kasus DBD. Diperlukan upaya pencegahan DBD dengan menggambarkan pola persebaran kasus, faktor demografi maupun faktor lingkungan secara luas dan spesifik. Tujuan penelitian ini adalah untuk menggambarkan secara spasiotemporal kejadian DBD berdasarkan variabel HI, kepadatan penduduk, dan kepadatan rumah. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni 2019. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskritif menggunakan pendekatan cross-sectional. Sampel yang digunakan adalah seluruh total populasi yang berjumlah 334 penderita DBD. Pengambilan titik koordinat menggunakan aplikasi GPS. Analisis data menggunakan analisis univarat dan analisis spasial. Hasil analisis spasiotemporal menunjukkan gambaran spasial secara temporal variabel penelitian dengan kejadian DBD. Kesimpulan dalam penelitian ini adalah kasus DBD tahun 2015 hingga Maret 2019 lebih endemis terjadi di RW yang memiliki kepadatan penduduk sedang, kepadatan rumah sedang serta HI yang rendah. Analisis buffer zone pada tahun 2019 daerah yang masuk kedalam area buffer adalah RW 8, RW 23, RW 17 dan RW 31. Abstract Gambirsari Public Health Center is the area with the highest DHF morbidity rate in the city of Surakarta from 2015 to 2017. Factors affecting the incidence of DHF in 2015 to March 2019 are house index, population density and house density. Efforts to prevent dengue fever spatially to describe the pattern of distribution of cases, demographic factors and environmental factors broadly and specifically in all work areas of the health center. This type of research is a descriptive study using a cross-sectional approach. The sampling technique is cluster sampling with 92 samples. Retrieval of the coordinates using the GPS application. Data analysis uses univarat analysis and spatial analysis. The results of the spatial-temporal analysis show the temporal picture of the study variables temporally with the incidence of DHF. The conclusion in this study is the case of DHF in 2015 to March 2019 more endemic in RWs that have moderate population density, moderate house density and low house index. Analysis of the buffer zone in 2019 the areas included in the buffer area are RW 8, RW 23, RW 17 and RW 31. Keywords : Spasiotemporal, population density, house density, HI
Peramalan Jumlah Kasus Demam Berdarah Dengue Berdasarkan Surveilans Kasus dan Curah Hujan Syahbani, Aswi Nur; Sukendra, Dyah Mahendrasari
HIGEIA (Journal of Public Health Research and Development) Vol 4 No 1 (2020): HIGEIA: January 2020
Publisher : Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/higeia.v4i1.33686

Abstract

Kota Magelang memiliki jumlah kasus DBD yang fluktuatif dan tertinggi di Jawa Tengah pada tahun 2015 dan 2017. Tujuan penelitian ini untuk meramalkan jumlah kasus DBD pada 12 periode berikutnya. Penelitian ini merupakan penelitian non-reaktif dengan metode kausal, menggunakan analisis regresi linier sederhana. Hasil menunjukkan persamaan regresi linier sederhana yaitu Ŷ = 1,915 + 0,003 (X). Peramalan jumlah kasus DBD di Kota Magelang bulan Februari 2019 hingga bulan Januari 2020 secara berturut-turut yaitu; 25 kasus, 9 kasus, 10 kasus, 4 kasus, 10 kasus, 10 kasus, 11 kasus, 11 kasus, 11 kasus, 12 kasus, 12 kasus, dan 13 kasus, serta curah hujan (p = 0,001; r = 0,114) berpengaruh terhadap jumlah kasus DBD di Kota Magelang. Kesimpulan hasil peramalan jumlah kasus DBD pada 12 periode selanjutnya yaitu 25 kasus, 9 kasus, 10 kasus, 4 kasus, 10 kasus, 10 kasus, 11 kasus, 11 kasus, 11 kasus, 12 kasus, 12 kasus, dan 13 kasus.
Faktor Lingkungan dan Perilaku Pencegahan dengan Kejadian Leptospirosis di Daerah Endemis Andriani, Ragil; Sukendra, Dyah Mahendrasari
HIGEIA (Journal of Public Health Research and Development) Vol 4 No 3 (2020): HIGEIA: July 2020
Publisher : Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/higeia.v4i3.33710

Abstract

ABSTRAK Puskesmas Bonang I merupakan salah satu puskesmas yang mandapat perhatian karena kasus leptospirosis. Pada tahun 2018, IR Leptospirosis sebesar 28,17 per 100.000 penduduk. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan faktor lingkungan dan perilaku pencegahan leptospirosis terhadap kejadian leptospirosis di daerah endemis leptospirosis Puskesmas Bonang I Kabupaten Demak. Jenis penelitian ini adalah analitik observasional dengan rancangan penelitian cross sectional. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli 2019 di wilayah kerja Puskesmas Bonang I. Sampel sebesar 68 rumah dengan teknik pengambilan sampel yaitu cluster sampling. Instrumen yang digunakan adalah lembar observasi dan lembar kuesioner. Data dianalisis secara bivariat dengan uji chi-square. Hasil penelitian ini menunjukkan jarak rumah dengan selokan (p=0,007), keberadaan genangan air (p=0,004), riwayat kegiatan berisiko leptospirosis (p=0,011), jenis pekerjaan (p=0,043) berhubungan dengan kejadian leptospirosis. Simpulan dari penelitian ini adalah ada hubungan antara jarak rumah dengan selokan, keberadaan genangan air, riwayat kegiatan berisiko leptospirosis, dan jenis pekerjaan dengan kejadian leptospirosis. ABSTRACT Primary Health Care Bonang I is one of the primary health care that got attention because of leptospirosis cases. In 2018 IR leptospirosis amounted to 28.17 per 100,000 population. The aim of this study was to determine the association between environmental factors and leptospirosis prevention behavior toward the incidence of leptospirosis in the endemic area. This research is an observational analytic cross sectional study design. This research was conducted in July 2019 in Primary Health Care Bonang I. The sample of 68 houses with the sampling technique is cluster sampling. Data were obtained from questionnaire instrument and analyzed by chi square test. The results showed that the distance between the house and the sewer (p = 0.013), the presence of puddle (p = 0.001), history of leptospirosis risky activities (p = 0.011), type of occupation (p = 0.002) are associated with the incidence of leptospirosis. The conclusion of this study is that there is association between the presence of ponds, history of risky activities related to leptospirosis, and type of occupation toward the incidence of leptospirosis. Keywords: Leptospirosis, Environment, Preventive Behavior
Analisis Spasial Kasus Leptospirosis Berdasarkan Faktor Epidemiologi dan Faktor Risiko Lingkungan Zukhruf, Isnaini Alfazcha; Sukendra, Dyah Mahendrasari
HIGEIA (Journal of Public Health Research and Development) Vol 4 No 4 (2020): HIGEIA: October 2020
Publisher : Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/higeia.v4i4.36324

Abstract

Abstrak Leptospirosis merupakan penyakit infeksi akut yang disebabkan bakteri Leptospira. Wilayah kerja Puskesmas Karangtengah merupakan daerah endemis leptospirosis. Pada tahun 2018 jumlah kasus leptospirosis di wilayah kerja Puskesmas Karangtengah mencapai 13 kasus (IR 18,95 per 100.000 penduduk). Faktor penularan letospirosis diantaranya adalah faktor epidemiologi dan faktor lingkungan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran spasial kasus leptopsirosis berdasar faktor epidemiologi dan faktor risiko lingkungan di Wilayah Kerja Puskesmas Karangtengah Kabupaten Demak. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif. Sampel yang ditetapkan sebesar 13 sampel dengan teknik total sampling. Analisis data menggunakan analisis univariat dan analisis spasial dengan metode ANN, buffer, dan overlay. Hasil penelitian menunjukkan pola persebaran kasus leptospirosis di wilayah kerja puskesmas Karangtengah adalah cluster atau mengelompok. Sebanyak 54% responden berjenis kelamin laki-laki, 46% responden memiliki pekerjaan beresiko, 61% responden tempat tinggalnya memiliki riwayat banjir, 39% responden tempat tinggalnya memiliki riwayat rob, 38% responden tinggal pada jarak >200 meter dari sawah, 54 % memiliki kondisi selokan yang buruk, dan 61% responden memiliki kondisi tempat pembuangan sampah yang buruk. Abstract Leptospirosis is acute infectious disease caused by Leptospira bacteria. Working area of Karangtengah Health Care is endemic area of leptospirosis. In 2018 the number of leptospirosis cases reached 13 cases (IR 18,95/ 100.000 population). Risk factor of Leptospirosis among others are epideiological factors and enviromental factors. The study aim to find out the spatial describe of leptospirosis cases from epidemiological factors and enviromental factors in working area of Karangtengah Health Care. This is a quantitative descriptive research. Sample were set at 13 samples using total sampling technique. Data were analyzed by using univariate analysis and spatial analysis with ANN, buffer, and overlay method. The result of the study find out that distribution pattern of leptospirosis cases in working area of Karangtengah Health Care is cluster. A total of 54% respondents were male sex, 46% of respondents had a risk job, 61% of respondent’s house had a flood history, 39% of respondent’s house had a rob history, 38% of respondent’s house were at a distance of >200 meters from fields. 54% of respondent’s drain were not good, and 61% of respondent’s garbage disposal facilities were not good.
Efektivitas Variasi Umpan Organik pada Eco Friendly Fly Trap sebagai Upaya Penurunan Populasi Lalat Fitri, Anisa; Sukendra, Dyah Mahendrasari
HIGEIA (Journal of Public Health Research and Development) Vol 4 No Special 2 (2020): HIGEIA: October 2020
Publisher : Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/higeia.v4iSpecial 2.39965

Abstract

Abstrak Kepadatan lalat di RPU Penggaron Kota Semarang berjumlah 36,8 ekor/block grill sehingga dapat dikategorikan bahwa populasi lalat sangat padat dan perlu adanya upaya pengendalian lalat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi umpan organik pada eco friendly fly trap sebagai upaya penurunan populasi lalat di RPU Penggaron Kota Semarang. Metode penelitian ini adalah eksperimen semu (quasi experiment) dengan desain post-test only control group. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah lalat yang terperangkap sebanyak 602 ekor. Eco friendly fly trap dengan umpan limbah ikan dapat memerangkap lalat sebesar 41,7%, tempe busuk sebesar 33,4%,udang sebesar 23,4%, dan kontrol sebesar 1,5%. Terdapat perbedaan jumlah lalat yang terperangkap pada masing-masing kelompok perlakuan. Umpan limbah ikan merupakan umpan yang paling banyak memerangkap lalat dibandingkan dengan umpan lainnya. Dapat disimpulkan bahwa eco friendly fly trap dengan limbah ikan lebih banyak memerangkap lalat dibandingkan dengan kelompok kontrol molasses. Abstract The density of fly in Penggaron Poultry Slaughterhouse were 36,8 flies/blockgrill so it could be categorize that flies population was very density and need to do flies control. This research conducted to know effect of organic bait variations in eco friendly fly trap as an effort to reduce flies population in Penggaron Poultry Slaughterhouse Semarang City. This research method was quasy experiment with post-test only control group. The results showed that the number of flies trapped was 602. Eco friendly fly trap with fish waste bait trapped 41,7% flies, rotten tempeh trapped 33,4% flies, shrimp trapped 23,4%, and control trapped 1,5%. There are differences in the number of flies trapped in each treatment. Fish waste bait is the most attractive flies bait compared to other baits. So it can be conclude that eco friendly fly trap with fish waste bait traps flies more than control group (mollases).
Pemberdayaan Berbasis Innovative Community-Centered Dengue-Ecosystem Management untuk Menurunkan IR DBD Sukendra, Dyah Mahendrasari; Indrawati, Fitri; Hermawati, Bertakalswa; Santik, Yunita Dyah Puspita; Maharhani, Arvia Dhitya; Fitri, Anisa
HIGEIA (Journal of Public Health Research and Development) Vol 5 No 2 (2021): HIGEIA: April 2021
Publisher : Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/higeia.v5i2.42045

Abstract

Based on data from the Central Java Province Health Profile in 2019, it was stated that the IR of Central Java's DHF was 25.9 per 100,000 population with a CFR of 1.5%. Karanganyar Regency is recorded to have the highest IR DBD in Central Java, namely 94.5 per 100,000 population, and the last 3 years, DHF cases have jumped to 30% compared to the previous year which only occurred 76 cases. This study aims to determine differences in the level of knowledge of PKK mothers regarding dengue hemorrhagic fever and its prevention practices in RT 2 and RT 3 Sabrang Kulon sub Village of Matesih Village through innovative community-centered dengue-ecosystem management based empowerment. This research was conducted in August and September 2020. This study used an experimental design using a one-group before-after study design and instruments using a questionnaire. There was no difference in the knowledge scores of PKK mothers about DHF before and after being given training (p = 0.102). In conclusion, there is no difference in the knowledge of PKK RT 2 and RT 3 Sabrang Kulon Village women regarding dengue hemorrhagic fever and its prevention practices before and after counseling. Keywords: Knowledge, Community, Dengue Haemmoragic Fever, Prevention