Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Analisis Spasio-Temporal Perubahan Luas Lahan Garam di Pesisir Kabupaten Rembang Edwin Maulana; Guridno Bintar Saputro; Suprajaka Suprajaka; Cahyawati Mandala Sari
Jurnal Wilayah dan Lingkungan Vol 8, No 3 (2020): December 2020
Publisher : Department of Urban and Regional Planning, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jwl.8.3.280-289

Abstract

The increase in salt consumption is not proportional to the growth of salt production land. So far, the mapping of salt ponds has been carried out on a small to medium scale, so the accuracy is not too good. This study aimed to analyze changes in large-scale salt ponds in Rembang Regency during the period of 2005-2015. The data source used is a Very High-Resolution Satellite Image (CSRST) which has been corrected and other secondary data. Salt area was calculated through visual interpretation and manual detection. CSRST data usage by visual interpretation methods and manual detection had advantages in terms of geometric accuracy compared with the use of medium-sized image of automation methods. The analysis showed that the area of salt land in Rembang Regency increased during 2005-2015. The biggest increase occurred in 2005-2011, which increased by 546,255 ha or by 32%. The increase in area during 2011-2015 was not significant by 198.45 ha (11.46%). Area expansion was expected to occur in the next few years, but it was not expected to be significant because of the optimal land use in the most of Rembang already. Expansion of salt ponds remained possible by converting the existing rice fields on the coast of Rembang Regency. However, a comparative study of the economic value of rice fields and salt ponds must be carried out before converting the paddy fields to salt ponds.
Institutional Direction of Geospacial Information for Supporting Development Equality Suprajaka; Aris Haryanto; Anita Silalahi; Nanda Noor; Adi Pradana
Bappenas Working Papers Vol 2 No 1 (2019): Edisi Maret 2019
Publisher : Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1207.763 KB) | DOI: 10.47266/bwp.v2i1.35

Abstract

Spatial inequality occurs because the rate of availability of geospatial data has not been able to catch up and meet user needs. The root of the problem occurs because the network nodes in the area have not yet been formed or dissolved. The institutional status of network nodes at the provincial level as of October 2018, only 20 out of 34 provinces are operational, with 4 institutional options, namely UPT, Bappeda, Ad Hoc Regional Secretary and Ad Hoc Diskominfotik. This triggered anxiety for 14 regions that had not yet formed network nodes and 3 other UPTDs that were still awaiting evaluation results. To determine the institution of ideal geospatial information, BIG has conducted a study of institutional arrangements to realize effective and efficient regional apparatus organizations according to their duties and functions. The study with qualitative research methods was carried out by analyzing criteria and rating on institutional aspects in order to strengthen IDSN, based on applicable policies and laws as well as the results of the network node operationalization questionnaire in the province. Furthermore, the study was strengthened using quantitative research methods by comparing the costs and benefits of each institutional option (cost and benefit analysis) through the net present value approach. The results of the two methods are 2 alternative institutional geospatial information with the best value, namely Option 1 UPTB (Ideal for the long term) and Option 3 Ad Hoc in Regional Secretary (Quick Win for the medium term).
ANALISIS KEBERLANJUTAN EKOSISTEM BARCHAN PASCA PENETAPAN KAGUNGAN NDALEM GUMUK PASIR PARANGTRITIS MENJADI ZONA GEOHERITAGE DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA Suprajaka; Putri Meissarah; Edwin Maulana
Majalah Ilmiah Globe Vol. 25 No. 1 (2023): GLOBE VOL 25 NO 1 TAHUN 2023
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gumuk pasir barchan merupakan salah satu bentukan alam unik yang mulai terancam eksistensinya. Pemerintah menetapkan kawasan gumuk pasir menjadi warisan geologi (Geoheritage) di tahun 2021 sebagai salah satu upaya konservasi gumuk pasir barchan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui keberlanjutan ekosistem gumuk pasir, pasca ditetapkan menjadi kawasan geoheritage. Indikator yang digunakan untuk menganalisis keberlanjuan ekosistem gumuk pasir adalah aspek sosial, ekonomi dan lingkungan. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan teknik skoring. Kelas keberlanjutan dibagi menjadi lima kelas, yaitu sangat buruk, buruk, sedang, baik dan sangat baik. Akuisisi data dilakukan melalui wawancara dengan metode purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai akumulatif dari seluruh parameter keberlanjutan gumuk pasir adalah 3, 402 dan tergolong pada kelas sedang. Aspek yang perlu mendapatkan perhatian serius adalah keberlanjutan dari sisi parameter sosial karena nilainya paling rendah 3,246. Meskipun tergolong dalam kategori sedang, aspek sosial perlu disoroti untuk meminimalkan timbulnya permasalahan di masa mendatang. Hasil kajian ini dapat dimanfaatkan pihak berwenang untuk merumuskan perencanaan pengelolaan zona geoheritage gumuk pasir sehingga dapat meningkatkan nilai keberlanjutan ekosistem gumuk pasir Parangtritis.
ANALISIS SPASIAL OBJEK DAYA TARIK WISATA DI KECAMATAN ANYER DAN KECAMATAN CINANGKA, KABUPATEN SERANG Saputra, Rahmat Wahyu Aji; Suprajaka, Suprajaka; Cahya, Darmawan Listya; Kurniawan, Surya
Jurnal Planesa (Planologi) Vol 16, No 1 (2025): Jurnal Planesa Perencanaan Wilayah dan Kota
Publisher : Universitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Berdasarkan undang – undang nomor 10 tahun 2009 tentang kepariwisataan menyatakan bahwawisata adalah kegiatan perjalanan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orangdengan mengunjungi tempat tertentu untuk tujuan rekreasi, pengembangan pribadi ataukelompok, atau mempelajari keunikan daya tarik wisata yang dikunjungi dalam jangka waktusementara. Salah satu Kawasan pariwisata di Kabupaten Serang yang memiliki potensi untukdikembangkan adalah kawasan pesisir, terdapat dua kecamatan yang langsung masuk dalamkawasan strategis nasional selat sunda yaitu Kecamatan Anyer dan Kecamatan Cinangka.Berdasarkan data pariwisata Kecamatan Anyer terdapat 11 kawasan pesisir dan KecamatanCinangka memiliki 16 kawasan pesisir. Kecamatan Anyer dan Kecamatan Cinangka memiliki32 objek daya Tarik wisata yang dimana itu menjadi pusat daya Tarik wisatawan untuk berkunjung ketempat objek daya Tarik wisata tersebut. Penelitian ini menggunakan metodeanalisis spasial yang bertujuan untuk mengidentifikasi pemanfaatan potensi wisata alam dikawasan pesisi Kecamatan Anyer dan Kecamatan Cinangka serta melakukan evaluasipengembangan wisata alam di kawasan pesisir Kecamatan Anyer dan Kecamatan Cinangka.Hasil analisis terdapat pembentukan 5 cluster pada objek daya Tarik wisata di Kecamatan Anyerdan Kecamatan Cinangka
Pemberdayaan Masyarakat Kampung Hijau Tanaman Obat Keluarga (Toga) di Kranggan Permai RT 08 Jatisampurna Kota Bekasi Cahya, Darmawan Listya; Suprajaka, Suprajaka
Jurnal Medika: Medika Vol. 4 No. 4 (2025)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/axhxcg88

Abstract

Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman warga Kranggan Permai RT08, Jatisampurna, Kota Bekasi, mengenai manfaat dan pengelolaan lingkungan kampung hijau berbasis Tanaman Obat Keluarga (TOGA). Kegiatan utama pengabdian masyarakat pelatihan untuk memperkenalkan konsep, manfaat, serta teknik menanam, merawat, dan memanfaatkan TOGA secara praktis. Metode yang digunakan meliputi pretest dan posttest guna mengukur perubahan tingkat pemahaman peserta. Hasil menunjukkan bahwa terdapat peningkatan yang signifikan pada tiga aspek yaitu (1) pemahaman konsep TOGA dan Kampung Hijau, (2) manfaatnya bagi kesehatan dan lingkungan, serta (3) keterampilan praktis dalam pengelolaan kapung hijau berbasis TOGA. Rata-rata nilai pretest berada pada kategori “Cukup Paham”, sementara nilai posttest meningkat menjadi “Sangat Paham”. Temuan ini menunjukkan bahwa pendekatan edukasi berbasis komunitas sangat efektif dalam meningkatkan literasi lingkungan dan kesehatan masyarakat. Implikasi dari kegiatan ini menunjukkan bahwa pelatihan TOGA dapat menjadi model pemberdayaan masyarakat yang mendukung terciptanya lingkungan yang hijau, sehat, dan berkelanjutan. Kegiatan pengabdian masyarakat ini juga memberikan wawasan bagi penerapan inisiatif serupa di daerah lain guna mendukung pembangunan  berkelanjutan di wilayah perkotaan.
Kajian Pengembangan Agropolitan Koridor Kemiri Pituruh, Kabupaten Purworejo Kurniasandy, Robi; Suprajaka; Putri, Mega Novetrishka; Puspateja, Aprodhita
Arus Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 6 No 1: April (2026)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajsh.v6i1.2378

Abstract

Kawasan Kemiri–Pituruh di Kabupaten Purworejo ditetapkan sebagai kawasan ekonomi melalui kebijakan Peraturan Bupati Purworejo, seiring tingginya potensi di sektor pertanian dan pembibitan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persebaran fasilitas pelayanan agropolitan serta menentukan pusat pelayanan agropolitan paling strategis sesuai kebijakan pengembangan wilayah. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan analisis spasial berbasis GIS dan metode Kernel Density Estimation (KDE). Sebanyak 82 fasilitas agropolitan yang terdiri dari pelayanan pra produksi, masa produksi, dan pasca produksi dipetakan untuk mengidentifikasi tingkat kerapatan fasilitas. Hasil analisis KDE menunjukkan bahwa kepadatan fasilitas tertinggi berada di Desa Bedono Karangduwur dan Desa Bedono Pageron, sehingga kedua desa tersebut ditetapkan sebagai lokasi paling strategis untuk pusat pelayanan agropolitan utama. Selain itu, potensi pusat pelayanan juga berkembang di beberapa desa lain di kawasan Kemiri–Pituruh berdasarkan distribusi fasilitas penunjang. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pusat pelayanan agropolitan di wilayah kajian bersifat terpusat pada area tertentu namun tetap menunjukkan perkembangan ke arah pola yang lebih tersebar atau polisentris. Pemanfaatan analisis spasial berbasis KDE terbukti efektif dalam mengidentifikasi pusat pelayanan yang sesuai dengan kebijakan pengembangan kawasan agropolitan Kabupaten Purworejo.
Membangun Budaya Sadar Bencana pada Anak Panti Asuhan melalui Simulasi Partisipatif Ratnawati Yuni Suryandari; Ken Martina Kasikoen; Suprajaka; Elsa Martini
Mejuajua: Jurnal Pengabdian pada Masyarakat Vol. 5 No. 3 (2026): April 2026
Publisher : Yayasan Penelitian dan Inovasi Sumatera (YPIS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52622/mejuajuajabdimas.v5i3.377

Abstract

Wilayah Playen, Kabupaten Gunungkidul, merupakan kawasan dengan karakteristik kerawanan bencana yang cukup tinggi, khususnya gempa bumi dan bencana hidrometeorologis. Kelompok anak-anak pada lembaga sosial seperti panti asuhan termasuk kategori rentan karena keterbatasan akses informasi, pengalaman kebencanaan, serta belum tersedianya sistem mitigasi internal yang memadai. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan literasi kebencanaan, pengetahuan mitigasi, dan kesiapsiagaan anak-anak serta pengasuh Panti Asuhan Islam (PAI) Playen melalui pendekatan edukasi partisipatif berbasis simulasi. Metode pelaksanaan meliputi observasi awal, identifikasi risiko, penyusunan modul edukasi ramah anak, pelatihan interaktif, simulasi evakuasi, serta evaluasi pra–pasca kegiatan. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pengetahuan rata-rata sebesar 21,6%, terbentuknya SOP evakuasi sederhana, pemasangan denah jalur evakuasi, serta peningkatan kepercayaan diri peserta dalam merespons situasi darurat. Pendekatan partisipatif terbukti efektif dalam membangun pemahaman risiko dan respons adaptif terhadap potensi bencana di lingkungan panti.