Articles
Praktik Gadai Sawah Dan Dampaknya Terhadap Perekonomian Masyarakat Perspektif Ekonomi Islam
Mahbub Junaidi;
Luluk Nur Hidayati
ADILLA : Jurnal Ilmiah Ekonomi Syari'ah Vol 4 No 1 (2021): Januari
Publisher : Universitas Islam Darul 'ulum Lamongan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (381.163 KB)
|
DOI: 10.52166/adilla.v4i1.2325
Dalam beberapa tahun terakhir masyarakat lebih memilih akad rahn dalam menyelesaikan permasalahan ekonomi yang dihadapinya. Salah satu alasan yang melatar belakangi dilaksanakannya gadai oleh masyarakat adalah karena proses gadai tidak memakan waktu yang lama. Salah satu praktek gadai adalah gadai sawah yang dilakukan oleh masyarakat desa Pelangwot Kecamatan Laren Kabupaten Lamongan. Hal tersebut dilakukan untuk menghadapi masalah ekonomi, mereka terbiasa melakukan gadai sawah antar kerabat dekat ataupun tetangga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, gadai sawah yang terjadi di Desa Pelangwot sangat berdampak bagi perekonomian masyarakatnya. Dampak positifnya adalah para petani dapat membayar biaya pendidikan, mencukupi biaya kebutuhan makan sehari-hari dan mendapat tambahan modal untuk usaha. Sedangkan dampak negatifnya adalah penggunaan sawah sebagai barang jaminan, mengakibatkan petani kehilangan mata pencaharian sehingga pendapatannnya menurun dan kesenjangan sosial antara rahin dan murtahin semakin meningkat. Apabila dilihat dari segi ekonomi Islam pelaksanaan gadai sawah yang terjadi di Desa Pelangwot belum sesuai dengan unsur-unsur yang terkandung di dalamnya. Semua rukun sudah terpenuhi, tetapi sebagian syaratnya belum terpenuhi diantaranya adalah ketika terjadi akad tidak ada saksi dan bukti tertulis
STUDI KRITIS TAFSIR AL-MANAR KARYA MUHAMMAD ABBDUH DAN RASYID RIDLA
Mahbub Junaidi
Dar el-Ilmi : jurnal studi keagamaan, pendidikan dan humaniora Vol 8 No 1 (2021): April
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Islam Darul 'Ulum Lamongan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.52166/darelilmi.v8i1.2506
Al-Qur’an, dalam tradisi pemikiran Islam, telah melahirkan sederetan teks turunan yang demikian luas dan mengagumkan yang disebut Tafsir. Tafsir al-Qur’an adalah penjelasan tentang maksud firman-firman Allah sesuai dengan kemampuan manusia. Kecenderungan manusia juga berbeda-beda, sehingga apa yang dihidangkan dari pesan-pesan ilahi dapat berbeda antara yang satu dengan yang lain. Meminjam bahasa Komaruddin Hidayat, bahwa perkembangan kajian al-Qur’an dengan berbagai macam corak, aliran, dan metodologinya, bagaikan “ledakan nuklir” yang memancarkan getaran dimana radiasinya tidak semakin melemah, melainkan malah menguat dan melahirkan pusat-pusat pusaran baru. Dalam beberapa kajian terhadap kitab tafsir, Tafsir Al-Manar karya bersama Muhammad Abduh dan Rasyid Ridla dianggap sebagai peletak dasar tafsir modern. Dalam pembahahasan Tafsir Al-Manar inilah tulisan ini difokuskan, walaupun tidak menutup kemungkinan menyinggung tafsir yang lain. Artinya, hal-hal yang berhubungan dengan Tafsir Al-Manar akan sebisa mungkin dibahas dalam kajian ini secara konprehensip. Hal ini bertujuan untuk dapat melihat dan menilai karya ini dengan obyektif dan adil. Tentang penulisan tafsir al-Manar, bahwa Muhammad Abduh menenulis Tafsir al-Manar hanya sampai pada surah al-Nisa’ ayat 126, kemudian diteruskan oleh Rasyid Ridla. Adapun manhaj sumber penafsiran: Dilihat dari sumber penafsiran bahwa Tafsir al-Manar pada dasarnya lebih merupakan wujud dari bentuk iqtiran; Manhaj cara penjelasan; Penjelasan dalam Tafsir al-Manar ini menurut penulis termasuk dalam kategori muqarin atau perbandingan; Manhaj dari segi keluasan penjelasan: Dilihat dari aspek luas tidaknya penjelasan terhadap ayat-ayat yang ditafsirkan Tafsir al-Manar dapat dikategorikan dalam kelompok tafsir yang memiliki penjabaran yang luas; Manhaj dari segi tertib ayat; Tafsir al-Manar dapat digolongkan sebagai tafsir yang mengikuti metode tahlili, bukan nuzuli atau maudlu’i. Naz’ah: Dilihat dari segi naz’ah atau coraknya, Tafsir al-Manar dapat dikategorikan sebagai tafsir yang bercorak adabi- ijtimai atau sosial-kemasyarakatan.
KONSEP SYAFAAT DALAM ISLAM Telaah Kritis atas Hadits Nabi Tentang Syafaat di Hari Kiamat
Mahbub Junaidi
Dar el-Ilmi : jurnal studi keagamaan, pendidikan dan humaniora Vol 8 No 2 (2021): Oktober
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Islam Darul 'Ulum Lamongan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.52166/darelilmi.v8i2.2860
Kepercayaan terhadap hari akhirat merupakan salah satu rukun Islam. Dalam agama samawi terakhir ini, ajaran tentang kehidupan akhirat merupakan salah unsur utama, karena di dalamnya menyangkut pembalasan akan surga dan neraka. Artinya, bahwa di akhirat akan ada kehidupan kedua setelah manusia menjalani kehidupan di dunia ini sebagai kehidupan pertama dan terbatas. Kehidupan akhirat akan berhubungan dengan surga dan neraka, dimana keadaan setiap manusia di sana akan ditentukan bagaimana kehidupannya di dunia. Perhitungan amal akan dilakukan untuk memberi ganjaran atas amal manusia selama hidup di dunia. Amalam kebaikan akan dibalas kebaikan/surga dan keburukan akan diganjar dengan keburukan/neraka. Di antara pembahasan hisab/perhitungan amal manusia yang berakhir pada pembalasan surga atau neraka tersebut terdapat aspek lain yang menarik yaitu konsep syafaat. Syafaat sendiri secara sederhana dapat diartikan sebagai pertolongan di hari kiamat. Pada saat itulah kasih sayang Allah Swt kepada hamba-hamba-Nya nampak nyata. Kepada orang beriman yang taat, Allah memberikan balasan kenikmatan berupa surga sedangkan bagi orang beriman yang banyak melakukan dosa masih diberi pertolongan Allah berupa syafaat melalui hamba-hamba pilihanNya yang diberikan hak kepada mereka khususmya Nabi Muhammad Saw. Beberapa kelompok dalam Islam pun berbeda pendapat tentang syafaat.sebagian kelompok menilak konsep syafaat dan sebagian lain, khususnya ahlussunnah wal jama’ah menerima dan meyakini adanya syafaat. Tulisan ini akan membaca term syafaat presektif hadits dengan beberapa analisis di dalamnya.
ETIKA BERINTERAKSI DENGAN AL-QUR’AN DALAM BERBAGAI PERSPEKTIF
Mahbub Junaidi
Dar el-Ilmi : jurnal studi keagamaan, pendidikan dan humaniora Vol 9 No 1 (2022): April
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Islam Darul 'Ulum Lamongan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.52166/darelilmi.v9i1.3262
Kajian terhadap al-Qur‟an meliputi ma fi al-Qur‟an dan ma haula alQur‟an. Kajian terhadap isi al-Qur‟an maupun yang melingkupi al-Qur‟ansama-sama diharuskan menggunakan etika. Hal ini sebagai wujud daripadamenghormati kitab suc al-Qur‟an baik sebagai wahyu Tuhan maupun sebagaiteks yang ditulis dengan bahasa manusia. Penghormatan terhadap teks tertulisal-Qur‟an merupakan salah satu unsur penting bagi kepercayaan sebagian besar(bahkan hampir keseluruhan) umat Islam. Hal ini disebabkan, setiap orangIslam mempercayai bahwa bertingkah laku tidak etis, lebih-lebih penghinaansecara sengaja terhadap al-Qur‟an adalah sebuah bentuk penghinaan seriusterhadap sesuatu yang suci. Yang demikian menjadi menarik untuk mengkajietika berinteraksi dengan al-Qur‟an sebagaimana yang telah disampaikan olehpara ulama terdahulu. Dalam pembahasan tentang etika berinteraksi dengan alQur‟an ini, penulis membagi ke dalam dua bagian, yaitu berinteraksi secarafisik (memegang, membaca, dsb) serta non fisik (mengupas dan menafsirimakna kandungannya). Hal ini dengan tujuan didapatkan pengetahuan yangutuh mengenai etika beriteraksi dengan al-Qur‟an.
PENDIDIKAN ANAK-ANAK PERSPEKTIF AL-QUR’AN DAN HADITS
Mahbub Junaidi
MIDA : Jurnal Pendidikan Dasar Islam Vol 6 No 1 (2023): January 2023
Publisher : Universitas Islam Darul 'Ulum Lamongan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.52166/mida.v6i1.4012
Abstract Education is the basic capital to build a developed country. The development of science and technology must also be supported by the development of adequate human resources in every era. The development of human resources can only be formed in a long educational process that starts at an early age. Education in childhood is fundamental to creating ideal and superior human resources. This is because education during childhood, especially during the golden age, greatly influences the development of their intellectual potential in the future. If education at this golden age fails, it will be increasingly difficult to build superior human resources in the future. In addition to modern educational theory, religion also teaches that learning must begin from the cradle of the mother until the end of age. This means that the process of building superior and ideal human resources takes a long process. This long process is in all aspects of education, both regarding processes and materials that are appropriate to the development of the children's age. related to that, this paper intends to: First describe the meaning of education according to the terms of the al-Qur'an and hadith; The second describes the urgency of children's education; and Third describes the children's educational materials. Keywords: Children's Education, al-Qur'an and Hadith Abstrak Pendidikan merupakan modal dasar untuk membangun sebuah negara yang maju. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi harus pula ditopang oleh perkembangan sumber daya manusia yang memadai pada setiap zamannya. Perkembangan sumber daya manusia ini hanya bisa dibentuk dalam proses pendidikan yang panjang yang dimulai sejak usia dini. Pendidikan di masa anak-anak merupakan hal mendasar untuk mencetak sumber daya manusia yang ideal dan unggul. Hal ini disebakan pendidikan di masa anak-anak terlebih di masa golden age sangat mempengaruhi perkembangan potensi inetelektual mereka ke dapan. Jika pendidikan di usia emas ini gagal maka akan semakin sulit ke dapan dalam membangun sumber daya manusia yang unggul. Di samping teori pendidikan modern, agama juga mengajarkan bahwa belajar harus dimulai sejak dalam ayunan ibu hingga akhir usia. Artinya proses membangun sumber daya manusia yang unggul dan ideal butuh proses panjang. Proses panjang tersebut dalam seluruh aspek pendidikan, baik mengenai proses maupun materi yang sesuai dengan perkembangan usia anak-anak. berkaitan dengan itu, tulisan ini bermaksud: Pertama mendeskripsikan pengertian pendidikan menurut term al-quran dan hadits; Kedua mendeskripsikan urgensi pendidikan anak-anak; dan Ketiga mendeskripsikan materi pendidikan anak-anak. Kata Kunci: Pendidikan Anak, al-Qur’an dan Hadits
FILSAFAT PERENIAL NURCHOLIS MADJID
Mahbub Junaidi
Dar el-Ilmi : jurnal studi keagamaan, pendidikan dan humaniora Vol 3 No 2 (2016): Oktober
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Islam Darul 'Ulum Lamongan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Seluruh pemikiran Nurcholis Madjid mengenai neo-sufisme atau neo-modernisme berpusat terutama pada al-Quran. Dalam konteks ini, Nurcholis Madjid dapat disebut sebagai seorang teolog atau ahli ilmu kalam. Gerakan intelektual yang digagas Madjid dikenal dengan “Gerakan Pembaharuan Pemikiran Keagaman”. Makna penting dari gerakan ini terletak pada upayanya untuk mereformulasikan postulat doktrin Islam yang paling pokok berkaitan dengan masalah ketuhanan, kemanusiaan, dan dunia. Secara umum pendekatan Madjid dapat dikatakan didasarkan pada pemikirannya tentang pluralisme agama, toleransi, saling menghormati, antara sesama umat beragama, dan relativisme politik. Dia menegaskan bahwa yang lebih penting adalah bagaimana mempertahankan Islam yang substansial dari pada yang sekedar formalistik, yang hanya mementingkan simbol-simbol luar. Atas pembacaannya terhadap al-Qur’an, Nurcholis Madjid, secara teoritis memperkenalkan konsep al-Qur’an tentang kalimatun sawa atau titik temu agama-agama secara ekplisit. Jika dibandingkan dengan cendikiawan muslim lainnya, maka ia tampak lebih tegas dan jelas. Perspektif ke-Islaman Nurcholis tersebut bahkan telah menghasilkan suatu cara pandang Islam yang bersifat inklusif. Apabila landasan filosofis “teologi kesatuan agama-agama” yang digagas oleh Nurcholis di atas disebut sebagai filsafat perenial, sebagaimana yang dikatakan Frithjof Schuon, maka corak filsafat perenialnya Nurcholis jelas bersifat Islam. Atau dalam bahasa lain, apabila dilihat dari sudut epistemologi agama, belum bersifat universal yang mewadahi agama-agama dari berbagai belahan peradaban. Yang demikian disebabkan masih bersifat mono-agama. Sehingga untuk menjadi “teologi inklusif universal”, harus mampu menunjukkan adanya ide-ide yang sama dalam idiom-idiom agama-agama atau tradisi-tradisi religius lain yang pernah ada dan tumbuh di berbagai peradaban.
PRAGMATISME
Mahbub Junaidi
Dar el-Ilmi : jurnal studi keagamaan, pendidikan dan humaniora Vol 3 No 1 (2016): April
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Islam Darul 'Ulum Lamongan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang bercorak epistemologis, pada abad XVII muncul dua aliran filsafat yang memberikan jawaban yang berbeda, bahkan saling bertentangan. Aliran filsafat tersebut adalah rasionalisme dan empirismen. Empirisme sendiri pada abad berikutnya berkembang lebih jauh menjadi beberapa aliran yang berbeda, yaitu Positivisme, Materialisme, dan Pragmatisme. Pragmatisme berpandangan bahwa substansi kebenaran adalah jika segala sesuatu memiliki fungsi dan manfaat bagi kehidupan. Misalnya, beragama sebagai kebanaran, jika agama memberikan kebahagiaan; menjadi dosen adalah kebenaran jika mendapatkan kenikmatan intelektual, mendatangkan gaji atau apapun yang bernilai kuantitatif dan kualitatif. Kata pragmatis sendiri sering sekali diucapkan orang dan yang menyebutkan kata tersebut biasanya dalam pengertian praktis. Dalam konsep filsafat sendiri banyak tokoh yang memberikan pendapat mereka masing-masing secara berbeda tentang pragmatisme sehingga memunculkan kerancuan bagi pendukungnya masing-masing.
KONSEP PENDIDIKAN ISLAM PERSPEKTIF KH. ABDURRAHMAN WAHID
Oktaviani Bella Kurniawati;
Mahbub Junaidi
Dar el-Ilmi : jurnal studi keagamaan, pendidikan dan humaniora Vol 10 No 1 (2023): April
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Islam Darul 'Ulum Lamongan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.52166/darelilmi.v10i1.4581
Penelitian ini menjelaskan bahwa pemikiran Gus Dur dalam dunia pendidikan sangatlah Relevan khususnya pendidikan di Indonesia, sedangkan pada pendidikan sekarang ini lebih berkonsep pada kebebasan dalam belajar sesuai minat belajar. Oleh karena itu penulis menuliskan pemikiran Gus Dur bertujuan untuk: (1) untuk mengetahui pengertian pendidikan agama Islam perspektif KH. Abdurrahman Wahid. (2) untuk mengetahui tujuan pendidikan agama Islam perspektif KH. Abdurrahman Wahid. (3) untuk mengetahui kurikulum pendidikan agama Islam perspektif KH. Abdurrahman Wahid. Penelitian ini merupakan jenis penelitian Library Research. Hasil dari penelitian ini adalah: bahwa konsep pendidikan Islam menurut Gus Dur konsep pendidikan yang didasarkan pada keyakinan keagamaan dan bertujuan untuk membimbing atau menghantarkan peserta didik menjadi manusia yang utuh, dan bebas dari belenggu penindasan. Terdapat tiga tujuan pendidikan Islam dalam perspektif Gus Dur yaitu pendidikan Islam berbasis modernisme, pendidikan Islam berbasis pembebasan dan pendidikan Islam berbasis kebhinekaan. Selain itu kurikulum pendidikan Islam menurut Gus Dur sebagai proses pengembangan keilmuan dan tekonologi, serta ketrampilan tidak hanya dalam cakupan yang kecil, tetapi lebih jauh lagi terhadap proses perkembangan dan perubahan.
PELATIHAN HOME INDUSTRI SAYURAN BAYEM UNTUK DIJADIKAN MAKANAN KHAS DI DESA BAYEMGEDE KEC. KEPOHBARU
Sarah Ocdi Melanda;
Yeni Mahmudah;
Sulhatul Habibah;
Mahbub Junaidi
Jurnal Pengabdian Masyarakat : BAKTI KITA Vol 2 No 1 (2021): Jurnal Bakti Kita
Publisher : LPPM Universitas Islam Darul 'Ulum Lamongan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.52166/baktikita.v2i1.3692
This training was given to the participants with the aim of increasing the participants' skills on matters relating to the processing of vegetables into food, namely steamed spinach cakes. The material presented and the method of delivering the material will be the main attraction of the participants to achieve the desired target in this activity. Submission of material accompanied by direct practice is the right method to do, where from the results of the questionnaire 100% of the participants understand the training material presented.
Learning the Yellow Book with the Arabic Meaning of Pegon as Preserving the Intellectual Work of Indonesian Ulemas
Khotimah Suryani;
Mahmutarom Mahmutarom;
Ifada Retno Ekaningrum;
Mahbub Junaidi
QALAMUNA: Jurnal Pendidikan, Sosial, dan Agama Vol 14 No 1 (2022): Qalamuna - Jurnal Pendidikan, Sosial, dan Agama
Publisher : Lembaga Penerbitan dan Publikasi Ilmiah Program Pascasarjana IAI Sunan Giri Ponorogo
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.37680/qalamuna.v14i1.4783
The era of disruption is spurring the digitalization process in various aspects of life and showing the beginning of the democratization of knowledge, which gives individuals the opportunity to be creative and use productive technology. In this era, the pegon script began to be unrecognized by the millennial generation in Indonesia. This research focused on “The existence and implications of learning the yellow book with the Arabic meaning of pegon as preserving the intellectual work of Indonesian ulama in the era of disruption.” A qualitative model with a historical approach was used in this research. The results of this research: (a) the emergence of the era of disruption had a major impact on changes in lifestyle, social patterns, business, and technological digitalization, as well as the world of education. This changing trend demanded effectiveness and efficiency in energy, time, and costs; (b) Implications of learning the yellow book in Islamic boarding schools with the meaning of Pegon Arabic in this era of disruption was very useful and can be used as a means of preserving the intellectual work of Indonesian ulama.