Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

Analisis Pengaruh Densitas dan Orientasi Lineament terhadap Kerentanan Longsor di Daerah Gumaytalang, Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan Berbasis Digital Elevation Model Thallalefa, Muhammad Daffa; Harnani, Harnani
Jurnal Penelitian Sains Vol 27, No 1 (2025)
Publisher : Faculty of Mathtmatics and Natural Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56064/jps.v27i1.1121

Abstract

Lineament atau kelurusan adalah fitur linear pada permukaan bumi yang menunjukkan zona kelemahan struktural. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara lineament dan potensi terjadinya longsor di Kecamatan Gumaytalang, Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan. Analisis dilakukan dengan menggunakan data DEMNAS dan perangkat lunak PCI Geomatica 2016. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat korelasi yang signifikan antara densitas lineament dan potensi terjadinya longsor. Area penelitian didominasi oleh struktur kekar yang berorientasi timur laut-barat daya, mengindikasikan pengaruh tegasan kompresi utama. Kombinasi antara struktur kekar, kemiringan lereng yang curam, dan permeabilitas batuan yang tinggi menciptakan kondisi yang sangat rentan terhadap gerakan massa. Analisis geomorfologi menunjukkan bahwa daerah penelitian memiliki morfologi yang heterogen, dengan dominasi perbukitan denudasional. Keberadaan longsoran dan aktivitas denudasi mengindikasikan bahwa proses erosi telah berlangsung intensif. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa lineament dapat dijadikan sebagai indikator potensi terjadinya longsor. Area dengan densitas lineament tinggi cenderung memiliki potensi longsor yang lebih besar. Penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam pemahaman mekanisme longsor dan dapat digunakan sebagai dasar untuk mitigasi bencana di daerah yang memiliki kondisi geologi serupa.
ASAL USUL FLUIDA MANIFESTASI PANAS BUMI DAN ESTIMASI TEMPERATUR RESERVOIR DENGAN PENDEKATAN ANALISIS ISOTOP PADA DAERAH DANAU RANAU, OGAN KOMERING ULU (OKU) SELATAN, SUMATERA SELATAN: ORIGIN OF GEOTHERMAL MANIFESTATION FLUID AND DETERMINATION OF RESERVOIR TEMPERATURE USING ISOTOPE ANALYSIS APPROACH IN THE LAKE RANAU AREA, SOUTH OGAN KOMERING ULU (OKU), SOUTH SUMATERA Ibrahim, Mochamad Malik; Harnani, Harnani; Jati, Stevanus Nalendra; Abiyyu, Rayhan Khairunnan
Buletin Sumber Daya Geologi Vol 19 No 3 (2024): Buletin Sumber Daya Geologi
Publisher : Pusat Sumber Daya Mineral Batubara dan Panas Bumi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47599/bsdg.v19i3.467

Abstract

The geothermal potential of the Lake Ranau area comes from the remains of magmatic activity from Mount Seminung. The geothermal manifestation in this area is in the form of hot springs which are thought to arise through geological structures. The existence of geothermal fluid manifestations is very interesting to research, especially regarding the origin and estimation of reservoir temperature using the δ18O and δ2H isotope composition approach. It is important to know the origin of fluid manifestations to determine the potential of geothermal systems from surface manifestations fluid related to magmatic, evaporation or rock interactions. This research method uses isotope analysis to determine the origin of geothermal fluid manifestations and isotope geothermometer to estimate reservoir temperature. Isotope sampling in geothermal manifestation fluids in Kota Batu Village was 3 samples and Lombok Village was 3 samples. The results of isotope analysis on the relationship graph between δ18O and δ2H show that all isotope samples in geothermal manifestation fluids come from meteoric water. The local meteoric water line value equation has a difference in the deuterium excess (DE) value compared to the global meteoric water line value equation. This change in DE value is due to the interaction and mixing process between geothermal fluid and rock (connate water) with the source of evaporation and precipitation from Lake Ranau. The results of isotope geothermometer calculations based on the isotope fractionation factor, it is estimated that the reservoir temperature is around ± 270 0C. Reservoir temperature estimates show that all isotope samples in geothermal manifestation fluids are classified as high temperatures.
Rock Mass Classification Using RMR and GSI for Slope Stability at PT Bukit Asam, Tanjung Enim Sabila, Dona; Harnani, Harnani; Qistan, Muhammad Hafits; Sidiq, Muhammad
Jambura Geoscience Review Vol 7, No 2 (2025): Jambura Geoscience Review (JGEOSREV)
Publisher : Universitas Negeri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37905/jgeosrev.v7i2.32492

Abstract

Evaluating slope stability in tropical open-pit mining environments remains a technical challenge due to the complex geological formations and the influence of dynamic climatic conditions, particularly intense rainfall and high humidity. This study aims to assess the effectiveness of integrating the Rock Mass Rating (RMR) system and the Geological Strength Index (GSI) for classifying rock mass quality and predicting slope stability in such settings. Field data were collected from interbedded claystone and sandstone formations through systematic mapping of RMR parameters, including Rock Quality Designation (RQD), spacing and condition of discontinuities, groundwater presence, and uniaxial compressive strength. Complementary evaluations using GSI focused on block structure, joint surface conditions, and weathering characteristics. The RMR analysis classified the rock mass as Class III (Fair Rock), indicating moderate stability. However, the system’s static framework and limited responsiveness to rapid hydrogeological changes posed constraints in capturing the actual slope behavior. In contrast, GSI, with values ranging between 40 and 50, offered enhanced interpretive depth by incorporating qualitative assessments of lithological heterogeneity and structural anisotropy. The adaptability of GSI proved critical in environments where visual and textural indicators of degradation fluctuate spatially and temporally. The combined application of RMR and GSI enabled a more accurate, context-sensitive geotechnical evaluation, bridging the gap between empirical rigidity and field-based complexity. This integrated methodology supports more reliable engineering decisions and enhances the predictive capacity for slope failures in tropical geological settings, emphasizing the necessity for multidimensional classification tools in geotechnical practice.
Paleosalinitas Batupasir gampingan, Batulempung, dan Ba-tupasir Formasi Lemau Dengan Metode Analisa Klaster, Daerah Muara Simpur Dan Sekitarnya, Kecamatan Ulu Talo, Kabupaten Seluma, Bengkulu. Putricia, Innaka; Harnani, Harnani
Jurnal Penelitian Sains Vol 26, No 2 (2024)
Publisher : Faculty of Mathtmatics and Natural Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56064/jps.v26i2.982

Abstract

Foraminifera merupakan organisme yang hidup secara akuatik, uniseluler, memiliki satu atau lebih kamar-kamar yang terpisah satu sama lainnya yang dipisahkan oleh sekat-sekat (septa) yang ditembusi oleh lubang-lubang halus (foramen). Penelitian bertujuan untuk menentukan paleosalinitas berdasarkan kelimpahan foraminifera bentonik kecil pada Sampel batuan formasi Lemau di Daerah Muara Simpur dan sekitarnya, Bengkulu. Data sampel yang digunakan sebanyak 6 sampel batuan sedimen dari hasil penelitian lapangan yang dilakukan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu analisis kuantitatif berdasarkan dengan kumpulan kelimpahan foraminifera bentonik kecil dengan menghitung jumlah individu serta genus setiap sampel dan genus dominansi terpilih. Hasil penelitian menyatakan bahwa paleosalinitas daerah penelitian relatif berada pada kondisi salinitas air normal 32-40% namum sempat berubah dalam kondisi salinitas rendah < 32%. Perubahan paleosalinitas pada kala pengendapan Formasi  Lemau dapat diakibatkan oleh faktor perbedaan kedalaman, perubahan muka air laut, serta kondisi iklim dan kondisi tektonik Indonesia.
Analisis Kestabilan Lereng Berdasarkan Klasifikasi Massa Batuan dengan Metode Rock Mass Rating (RMR) di PT. Bukit Asam, Tbk. Sumatera Selatan. Aulia, Zhahra; Harnani, Harnani; Utamaputra, Radian Gatra
Jurnal Penelitian Sains Vol 26, No 1 (2024)
Publisher : Faculty of Mathtmatics and Natural Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56064/jps.v26i1.966

Abstract

Dalam melaksanakan kegiatan penambangan tambang terbuka ini menuntut kestabilan lereng pada bukaan tambangnya. Lereng-lereng tersebut perlu dianalisis kestabilannya, baik pada tahapan perancangan, tahapan penambangan, maupun tahap pasca tambang untuk mencegah bahaya longsor di waktu-waktu yang akan datang karena menyangkut keselamatan kerja, keamanan peralatan serta keberlangsungan produksi. Secara administratif, lokasi penelitian terletak PIT ZA, Desa Sirah Pulau, Kecamatan Merapi Timur, Kabupaten Lahat, Provinsi Sumatera Selatan. Kondisi lereng tambang akan mengalami banyak perubahan pada tambang batubara yang sudah beroperasi cukup lama seperti kondisi fisik, kimia, maupun mekanik batuan yang berimbas pada kestabilan lerengnya. Kualitas massa batuan menjadi salah satu parameter dalam stabilitas lerengyang bertujuan untuk mengidentifikasi parameter-parameter penting yang mempengaruhi perilaku massa batuan. Metode penelitian menjadi dua yaitu pengumpulan data primer menghasilkan rock quality designation, kondisi diskontinuitas, kondisi air tanah dan data sekunder menghasilkan nilai kuat tekan batuan utuh. Dalam menentukan Rock Mass Rating (RMR) dipengaruhi oleh kuat tekan batuan utuh, rock quality designation, kondisi diskontinuitas, dan kondisi air tanah. Pengelompokan dan pembagian kualitas massa batuan pada daerah penelitian mengacu pada klasifikasi Bieneawski (1989). Pembagian kualitas massa batuan pada daerah penelitian terbagi menjadi 2 kelas yaitu Kelas III termasuk kedalam klasifikasi massa batuan Fair Rock yaitu dimana frekuensi kekar tergolong cukup besar pada pembentukan kualitas massa batuan pada lokasi tersebut dan kelas IV termasuk kedalam kualitas massa batuan Good Rock yaitu dimana frekuensi kekar tergolong cukup kecil pada pembentukan kualitas massa batuan pada lokasi tersebut. Diskontinuitas merupakan salah satu faktor kestabilan lereng, oleh karena itu harus melakukan tindakan seperti menghilangkan pembebanan oleh alat berat pada titik diskontinuitas dan merubah geometri lerengnya.
Analisis Kerentanan Longsor Dalam Penentuan Tingkat Kerawanan Pada Daerah Saung Naga, Kecamatan Buay Sandang Aji, Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan, Sumatera Selatan Khoiri, Muhammad Faris; Harnani, Harnani
Jurnal Penelitian Sains Vol 27, No 2 (2025)
Publisher : Faculty of Mathtmatics and Natural Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56064/jps.v27i2.1195

Abstract

Studi dilaksanakan di Daerah Saung Naga, Kecamatan Buay Sandang Aji, Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan, Sumatera Selatan. Wilayah studi memiliki lereng yang cukup curam dan terjal dengan intensitas curah hujan yang cukup tinggi dan dapat memicu terjadinya longsor. Dari hal tersebut maka diperlukan analisis tingkat kerawanan longsor dengan menggunakan beberapa parameter. Studi ini bertujuan untuk meniru kondisi lapangan dan memetakan tingkat kerentanan tanah longsor di wilayah studi. Metodologi yang digunakan yakni overlay peta dengan memanfaatkan citra satelit berupa Sistem Informasi Geografis (SIG) yang menghasilkan peta lokasi, curah hujan, tata guna lahan, jenis tanah, peta geologi, peta kemiringan lereng, dan peta kerawanan longsor. Selain itu, pada studi ini juga memakai datanya sampel tanah di daerah studi dan diuji dengan metode triaxial. Hasil yang diperoleh dari overlay peta yang dibuat memiliki 3 zona kerawanan longsor yakni zona kerawanan longsor rendah, sedang dan tinggi. Berdasarkan hasil uji triaxsial, nilai kohesivitas di wilayah studi adalah antara 0,32 hingga 0,75 kg/cm². Hal ini menunjukkan bahwa tanah berlumpur atau lempung terdapat di wilayah studi. Kisaran nilai untuk sudut geser dalam adalah 2,3 hingga 2,34. Angka ini mengindikasikan tingkat kepadatan yang cukup longgar di wilayah studi.Kata Kunci: Longsor, SIG, Tingkat Kerawanan, Triaxial
Analisis Stabilitas Lereng Terhadap Kerentanan Longsor Di Daerah Kisau Dan Sekitarnya, Kecamatan Muara Dua, Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan, Sumatera Selatan Prihandayani, Anggun; Harnani, Harnani
Jurnal Penelitian Sains Vol 26, No 1 (2024)
Publisher : Faculty of Mathtmatics and Natural Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56064/jps.v26i1.918

Abstract

Daerah penelitian terletak di Desa Kisau dan sekitarnya, Kecamatan Muara Dua, Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan, Sumatera Selatan. Daerah penelitian memiliki topografi yang curam, intensitas curah hujan yang tinggi menyebabkan pelapukan yang tinggi dan penggunaan lahan yang tidak tepat menjadi pemicu terjadinya longsor. Oleh karena itu, perlu dilakukan analisis kestabilan lereng terhadap kerentanan longsor agar dapat mengurangi risiko bencana longsor. Selain itu, analisis ini juga menggunakan parameter dari morfologi elevasi dan kemiringan lereng daerah penelitian, dan juga menggunakan metode Unconfined Compressive Strength. Tujuan dari analisis ini adalah untuk mendapatkan nilai keruntuhan dan hubungan terhadap konsistensi tanah, serta untuk mengetahui tegangan dan regangan dari analisis yang dilakukan.
Analisis Mikropaleontologi Fosil Foraminifera Planktonik Formasi Lemau dan Formasi Simpangaur Dalam Penentuan Iklim Purba Pada Lintasan Sungai Pagar Kecamatan Ulu Talo, Kabupaten Seluma, Bengkulu. Ananda, Ricky; Harnani, Harnani
Jurnal Penelitian Sains Vol 26, No 2 (2024)
Publisher : Faculty of Mathtmatics and Natural Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56064/jps.v26i2.1006

Abstract

Formasi Simpangaur dan Formasi Lemau merupakan formasi yang terletak pada Cekungan Bengkulu yang merupakan salah satu cekungan muka busur (fore arc basin) yang berada di Pulau Sumatra. Formasi Lemau terendapkan pada lingkungan marine to lagoon pada Miosen Tengah - Miosen Akhir sedangkan Formasi Simpangaur diendapkan pada lingkungan transisi pada Miosen Akhir Pliosen Awal. Perubahan iklim yang terjadi memberikan dampak dalam ekosistem bumi yang dapat diteliti guna menginterpretasi fluktuasi perubahan iklim pada masa lalu. Penelitian ini dilakukan guna untuk merekonstruksi iklim masa lampau pada suatu daerah dapat menggunakan data mikrofosil berupa fosil foraminifera planktonik karena perubahan iklim sensitif terhadap persebaran planktonik. Penelitian dilakukan dengan menganalisis mikrofosil foraminifera planktonik yang terkandung dalam lapisan batuan pada lokasi pengamatan yang dilakukan preparasi sampel serta analisis dan identifikasi spesies foraminifera planktonik. Dilakukan rekonstruksi penampang stratigrafi untuk pembuatan grafik perubahan iklim tiap lapisan batuan. Berdasarkan hasil preparasi dan identifikasi spesies pada tiga sampel didapatkan pada batulempung foraminifera plantonik hidup pada iklim hangat, batupasir moluska Formasi Simpangaur dengan foraminifera planktonik yang hidup pada iklim hangat, dan batulempung Formasi Simpangaur dengan foraminifera planktonik yang hidup pada iklim sejuk. Perubahan iklim purba yang terjadi diinterpretasikan sejalan dengan perubahan iklim global yang terjadi pada zaman kuarter awal.Kata kunci: Iklim Purba, Formasi Lemau, Formasi Simpangaur, Foraminifera Planktonik, Mikropaleontologi.
Estimasi Aliran Permukaan Sub DAS Batang Merangin Tembesi Menurut Metode Cook Nyana M, Newche Brighita; Harnani, Harnani
Jurnal Penelitian Sains Vol 25, No 3 (2023)
Publisher : Faculty of Mathtmatics and Natural Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56064/jps.v25i3.883

Abstract

Sub DAS Batang Merangin Tembesi merupakan bagian dari DAS Batanghari yang berada di Kabupaten Merangin, Provinsi Jambi. Penggunaan lahan yang terjadi dari tahun ke tahun dapat berpotensi pada limpasan permukaan yang terjadi di wilayah sub DAS. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui besarnya potensi limpasan permukaan yang terjadi, faktor yang dapat memengaruhi limpasan dan dampak dari limpasan. Penelitian ini menggunakan metode Cook (1998) yang memiliki parameter meliputi kemiringan lereng, infiltrasi tanah, vegetasi penutup, dan simpanan air permukaan. Metode cook juga terintegrasi dengan sistem informasi geografis untuk mengolah data sekunder. Hasil analisis diketahui bahwa pada kemiringan lereng daerah penelitian dominan berbukit, jenis tekstur tanah didominasi oleh tekstur lanau tidak padat, pada penutupan lahan didominasi oleh hutan lahan kering, serta simpanan air permukaan termasuk ke dalam kategori baik. Dari hasil perhitungan nilai C= 0,77 artinya 77% air hujan yang jatuh akan menjadi limpasan permukaan.Kata kunci: Koefisien limpasan Metode cook, sub DAS
Identifikasi Tingkat Bahaya Tsunami Daerah Manna Dan Sekitarnya, Kabupaten Bengkulu Selatan, Provinsi Bengkulu Annafin , Faiz Hady; Harnani, Harnani
Jurnal Pendidikan, Sains, Geologi, dan Geofisika (GeoScienceEd Journal) Vol. 6 No. 4 (2025): November
Publisher : Mataram University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/goescienceed.v6i4.1417

Abstract

Kabupaten Bengkulu Selatan merupakan salah satu wilayah pesisir di Provinsi Bengkulu yang memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap bencana tsunami karena posisinya yang berhadapan langsung dengan Samudra Hindia dan berdekatan dengan zona subduksi Indo-Australia–Eurasia. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi tingkat bahaya tsunami di Kecamatan Manna dan sekitarnya menggunakan metode Hloss. Analisis dilakukan dengan memanfaatkan data Digital Elevation Model (DEM) untuk memperoleh nilai kemiringan lereng, data penggunaan lahan untuk menentukan koefisien kekasaran permukaan, serta data ketinggian maksimum gelombang tsunami. Nilai Hloss dihitung untuk mengetahui kehilangan ketinggian tsunami per meter jarak genangan, yang kemudian digunakan dalam pemodelan Cost Distance guna menentukan jangkauan genangan. Hasil pemodelan dimasukkan ke dalam indeks bahaya tsunami menggunakan logika fuzzy dan diklasifikasikan menjadi tiga kelas bahaya yaitu rendah (≤0,333), sedang (0,334–0,666), dan tinggi (>0,666). Luas masing-masing kelas bahaya adalah 0,36 km² (15%) untuk bahaya rendah, 0,41 km² (17%) untuk bahaya sedang, dan 1,61 km² (68%) untuk bahaya tinggi. Zona bahaya tinggi mendominasi wilayah pesisir Kecamatan Kota Manna, Pasar Manna, dan Bungamas, terutama di dataran rendah dan sekitar muara sungai. Zona bahaya sedang berada di area transisi antara pesisir dan dataran lebih tinggi, sedangkan zona bahaya rendah terdapat di bagian timur wilayah penelitian yang memiliki topografi lebih tinggi. Temuan ini menegaskan bahwa wilayah pesisir Kabupaten Bengkulu Selatan berpotensi tinggi terhadap bencana tsunami.