Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

PENGGUNAAN BUNGKIL INTI SAWIT TERHIDROLISIS DALAM RANSUM TERHADAP KUALITAS EKSTERIOR DAN INTERIOR TELUR AYAM PETELUR Misliani, Yesi; Sumantri, Ika; Syarifuddin, Nursyam Andi; Rizqiana, Sista
JURNAL PENELITIAN PETERNAKAN LAHAN BASAH Vol. 4 No. 2 (2024)
Publisher : www.ulm.ac.id

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jpplb.v4i2.2803

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan BIS terhidrolisisterhadap kualitas eksterior dan interior telur ayam ras petelur dan untuk mengetahuitingkat penggunaan BIS terhidrolisis optimum dalam ransum untuk memperoleh kualitaseksterior dan interior telur ayam petelur yang terbaik. Berdasarkan hal tersebut, BIS yangtelah terhidrolisis dapat ditingkatkan penggunaanya dalam ransum unggas. Meskipundemikian masih belum diketahui apakah penggunaan BIS terhidrolisis berpengaruhterhadap kualitas telur. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian untuk mengetahuipengaruh tingkat penggunaan BIS yang terhidrolisis secara enzimatis terhadap kualitaseksterior dan interior telur ayam ras petelur. Rancangan penelitian ini menggunakanRancangan Acak Lengkap (RAL), dengan empat perlakuan dan lima ulangan dengansetiap ulangan terdiri atas empat ekor ayam petelur betina sehingga jumlah ayam yangdigunakan 80 ekor. Perlakuan penelitian adalah dengan tingkat penggunakan bungkil intisawit terhidrolisis dalam ransum. Ayam yang digunakan berumur 50 minggu. Ayampetelur dipelihara dalam kandang sistem baterai. Berdasarkan hasil penelitian, maka dapatdisimpulkan bahwa penggunaan BIS terhidrolisis hingga 30% untuk menggantikanjagung, tidak berpengaruh nyata terhadap berat telur, tebal kerabang, nilai HU, dan warnakuning telur. Peningkatan penggunaan BIS terhidrolisis secara sangat nyatameningkatkan nilai indeks putih telur. Penggunaan 30% BIS terhidrolisis tidakmempengaruhi kualitas eksterior dan interior telur, maka disarankan BIS terhidrolisisdapat digunakan hingga 30% sebagai sumber energi dan protein pada ransum ayampetelur.
KANDUNGAN FRAKSI SERAT SILASE BATANG PISANG KEPOK (Musa paradisiaca acuminata balbisiana) YANG DIBERI EFFECTIVE MICROORGANISM 4 (EM4) PADA LEVEL YANG BERBEDA Purwaka, Muhammad Imam; Syarifuddin, Nursyam Andi; Habibah, Habibah; Rizqiana, Sista
JURNAL PENELITIAN PETERNAKAN LAHAN BASAH Vol. 4 No. 2 (2024)
Publisher : www.ulm.ac.id

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jpplb.v4i2.2804

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh penambahan EM4 dengan level berbeda terhadap kandungan NDF, ADF, Hemiselulosa, Selulosa dan Lignin pada silase batang pisang kapok dan menentukan dosis EM4 yang optimal terhadap kualitas nutrisi silase batang pisang kepok. Penelitian ini dilaksanakan Laboratorium Nutrisi dan Makanan Ternak Jurusan Peternakan, Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru pada bulan Juli 2022 sampai dengan bulan September 2022. Perlakuan pada penelitian ini, yaitu penambahan EM4 sebanyak 4%, 6%, 8%, 10%, dan tanpa pemberian EM4 (kontrol). Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) 5 perlakuan dan 5 ulangan dengan menggunakan Analisis Ragam (ANOVA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan EM4 dengan level berbeda berpengaruh nyata (p<0,05) dapat menurunkan NDF, ADF, Hemiselulosa, Selulosa dan Lignin. Penambahan EM4 yang optimal untuk mendapatkan hasil yang terbaik adalah penambahan 10% EM4 mampu menurunkan NDF (66,23%), ADF (54,15%), Hemiselulosa (12,08%), Selulosa (21,20%), dan Lignin (1,77%).
KUALITAS FISIK SILASE BATANG PISANG KEPOK (Musa paradisiaca acuminata balbisiana) YANG DIBERI EFFECTIVE MICROORGANISM 4 (EM4) PADA LEVEL YANG BERBEDA Permatasari, Dwi; Syarifuddin, Nursyam Andi; Habibah, Habibah; Rizqiana, Sista
JURNAL PENELITIAN PETERNAKAN LAHAN BASAH Vol. 5 No. 1 (2025)
Publisher : www.ulm.ac.id

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jpplb.v5i1.3099

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dosis EM4 yang optimal dalam pembuatan silase batang pisang kepok terhadap kualitas fisik silase. Kualitas fisik yang diamati meliputi aroma, warna, tekstur, jamur dan persentase keberhasilan silase. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dengan 5 perlakuan dan 5 ulangan dengan menggunakan 5 level pemberian EM4 0%, 4%, 6%, 8% dan 10%. Pelaksanaan uji kuaitas fisik silase batang pisang kepok dilakukan dengan menggunakan 10 orang panelis. Silase di fermentasi secara anaerob menggunakan EM4 dan di fermentasikan selama 21 hari. Analisis data menggunakan analisis variansi, apabila perlakuan berpengaruh nyata maka dilanjutkan dengan Uji Beda Nyata Terkecil. Analisis data dibantu dengan menggunakan software SPSS Ver. 21. Berdasarkan hasil uji kualitas fisik yang dilakukan pada silase batang pisang kepok, hasil menunjukan pada kualitas fisik bau berpengaruh nyata dan pada perlakuan P4 menghasilkan nilai tertinggi. Kualitas fisik warna berpengaruh nyata terhadap level EM4 dan pada perlakuan P4 (10% EM4) menghasilkan warna terbaik. Kualitas fisik tekstur tidak berpengaruh nhata menghasilkan tekstur yang baik semua yaitu padat. Kualitas fisik jamur berpengaruh nyata terhadap level EM4 dan pada perlakuan P4 (10% EM4) hanya didapatkan sedikit jamur dan pada persentase keberhasilan silase perlakuan P4 (10% EM4) menghasilkan silase terbaik yaitu berbau asam, berwarna coklat muda, teksturnya padat dan sedikit jamur. Dapat disimpulkan bahwa hasil penelitian menunjukan bahwa penggunaan EM4 sebanyak 10% menghasilkan kualitas fisik dan keberhasilan silase yang optimal.
Kualitas Pertumbuhan Tanaman Kelor (Moringa oleifera) Terhadap Dosis Pupuk Organik Fermentasi Berbeda Zikri, Ahmad; Syarifuddin, Nursyam Andi; Riyadhi, Muhammad
JURNAL PENELITIAN PETERNAKAN LAHAN BASAH Vol. 5 No. 1 (2025)
Publisher : www.ulm.ac.id

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jpplb.v5i1.3250

Abstract

Ultisol soil is characterized by very low organic matter content. The application offermented organic fertilizer can affect the growth of plants grown in ultisol soil. Thisstudy aims to determine the effect of the doses of fermented organic fertilizer on thegrowth of moringa seedling plants planted in ultisol soil. The study used a completelyrandomized design with five treatments and eight replications, using five levels offertilizer application: D0 (basic fertilizer/control), D1 (basic fertilizer + fermented organicfertilizer at 10 tons/ha), D2 (basic fertilizer + fermented organic fertilizer at 20 tons/ha),D3 (basic fertilizer + fermented organic fertilizer at 30 tons/ha), and D4 (basic fertilizer+ fermented organic fertilizer at 40 tons/ha). The observed variables included the time ofsprout emergence, the number of sprouts, plant height, and fresh leaf production. Dataanalysis was performed using analysis of variance, and if the treatment had a significanteffect, it was followed by the Least Significant Difference (LSD) test. Data analysis wasassisted by using SPSS Ver. 21 software. The results showed that none of the treatmentshad a significant effect (P>0.05), but there was a tendency for earlier sprout emergence(10.50 days) and more sprouts (6.13 sprouts) in the D2 treatment. In contrast, the slowestsprout emergence (14.00 days) and fewer sprouts (3.88 sprouts) in the D3 treatment.
Application of pre-Terra Preta to enhance soil fertility and productivity of marginal land cultivated with Pennisetum purpureum cv. Mott Nasution, Dewi Priany; Udiansyah, Udiansyah; Razie, Fakhrur; Syarifuddin, Nursyam Andi; Neina, Dora
SAINS TANAH - Journal of Soil Science and Agroclimatology Vol 22, No 2 (2025): December
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/stjssa.v22i2.105965

Abstract

Indonesia’s national agriculture production is increasingly constrained by the expansion of marginal lands with low productivity, many of which have undergone severe degradation from mining and other land uses. These lands are characterized by low soil fertility and acidic pH, posing a challenge for sustainable forage production. This study investigates the application of pre-Terra Preta - a soil amendment composed of biochar, organic matter, animal manure, topsoil, and fermented microorganisms—to enhance the productivity of marginal land, using Pennisetum purpureum cv. Mott (Dwarf elephant grass) as a forage crop. The field experiment was conducted in Swarangan Village, Tanah Laut Regency, South Kalimantan, Indonesia. Soil chemical properties were analyzed before and after planting. A total of 36 plots (5 × 5 m) were treated with four levels of pre-Terra Preta biochar composition (0%, 20%, 40%, and 60%) and three application rates (10, 20, and 30 t ha⁻¹). The results showed significant improvements in soil chemical properties, including total N (↑ 73.47%), organic C (↑ 35.20%), K₂O (↑ 33.64%), and pH (↑ 148.89%). The optimal treatment—30 t ha⁻¹ with 60% biochar—yielded the highest plant height (16.875 cm), number of leaves (12.900), and number of tillers (3.791). These differences were significant (p < 0.05), confirming the effectiveness of both biochar levels and application rates. Pre-Terra Preta offers a sustainable, cost-effective strategy for rehabilitating marginal lands in tropical regions. Further studies are recommended to assess long-term soil health, economic viability, forage quality, and livestock performance.