Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search
Journal : Journal of Architectural Design and Development (JAD)

Analisis Adaptasi Karakteristik Visual Arsitektur Melayu Kampung Tua Tanjung Riau Gladies Imanda Utami Rangkuty; Niq'q Jean Carol; Elva Christina; Deviana Deviana; Angga Setiawan Wilarso; Al Ridho Wahyudi; Antony Antony; Carlos Willyam; Hary Budhi Ardiansyah; Wahyu Leonardi
Journal of Architectural Design and Development (JAD) Vol 1 No 2 (2020): JAD
Publisher : Program Sarjana Arsitektur Universitas Internasional Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37253/jad.v1i2.837

Abstract

Pertumbuhan dan perkembangan kota sering tidak sejalan dengan pemahaman dalam mempertahankan identitas bangunan sehingga dapat menghilangkan eksistensi arsitektur peninggalan suatu kawasan. Hal ini dapat dilihat dari adaptasi visual arsitektur Melayu di Kampung Tua Tanjung Riau, yang terdapat penduduk asli merupakan etnis Melayu. Perkembang yang semakin pesat serta mendatangkan banyak penduduk baru yang menyebabkan terjadiya akulturasi budaya. Memiliki sebutan Kampung Tua tidak menjamin bahwa daerah tersebut akan terhindar dari pengaruh perkembangan zaman. Tampak bahwa sebagian besar arsitektur pada Kampung Tua Tanjung Riau telah berkembang menjadi lebih modern, sehingga bangunan Melayu yang menjadi identitas kampung tersebut menghilang seiring berkembangnya zaman. Adaptasi Karakteristik visual arsitektur melayu dilakukan dengan tujuan dapat mengetahui karakteristik bangunan tradisional pada kawasan kampung tua yang masih mempertahankan karakteristik Melayu. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan melihat kondisi eksisiting yang ada pada lokasi. Hasil pada penelitian ini membuktikan bahwa masih ada beberapa bangunan yang masih mempertahankan beberapa karakter visual Arsitektur Melayu yang terlihat dari elemen bangunan seperti tangga, struktur panggung, dinding dan atap.
COASTAL SETTLEMENT SLUM LEVEL ANALYSIS (CASE STUDY: KAMPUNG TUA TIANGWANGKANG) Gladies Imanda Utami Rangkuty; Leonardo Leonardo; Senna Abdi Cahyo; Stivani Ayuning Suwarlan
Journal of Architectural Design and Development (JAD) Vol. 4 No. 2 (2023): JAD
Publisher : Program Sarjana Arsitektur Universitas Internasional Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37253/jad.v4i2.8580

Abstract

The population on Batam Island increases significantly every year, including settlements in Kampung Tua Tiangwangkang (Tiangwangkang Old Village). Stereotypes from the community describe settlements in old villages in Batam become slums over time. The causative factor for the slums of a settlement is the unavailable or incomplete infrastructure in the slum settlement, so the purpose of this study is to identify the level of slums in coastal settlements in Kampung Tua Tiangwangkang. The methodology in this study is a quantitative method compiled by the index method, namely, the data arranged in table classifications. The data processing and analysis technique is qualitative data analysis in the form of archives and images that can serve as a basis for assessing the level of slum settlements that are the object of research. The study results concluded that Kampung Tua Tiangwangkang had a slum level of 39% based on the variables determined and analyzed. This value can increase in the future if problems that affect slums do not receive immediate responses in their place.
Analisis Potensi Permukiman Kampung Tua Tiangwangkang melalui Kajian Kearifan Lokal Suku Laut Vicky Lim; Stivani Ayuning Suwarlan; Gladies Imanda Utami Rangkuty
Journal of Architectural Design and Development (JAD) Vol. 5 No. 1 (2024): JAD
Publisher : Program Sarjana Arsitektur Universitas Internasional Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37253/jad.v5i1.8672

Abstract

Kampung tua Tiangwangkang merupakan salah satu dari 37 kampung tua yang ada di Batam dan berpotensi untuk menjadi kawasan wisata dengan kearifan lokal dari Suku Laut yang menempati kawasan tersebut. Penelitian ini menggunakan teori ekistics yang bertujuan untuk mengetahui potensi-potensi kampung tua Tiangwangkan yang didasarkan dari budaya atau kearifan lokal dari Suku Laut dimana dapat menjadi referensi untuk penduduk Kampung tua Tiangwangkang. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi dan dokumentasi. Penelitian ini menggunakan teori Ekistics sebagai dasar analisis potensi permukiman. Hasil yang didapatkan dari analisis pada kampung tua Tiangwangkang menurut teori Ekistics terdapat beberapa potensi yang dapat dikembangkan di kampung tua Tiangwangkang menjadi sebuah Kawasan Pariwisata berkelanjutan yang dapat dikaitkan dengan kebudayaan Suku Laut. Hal ini dapat disimpulkan kampung tua Tiangwangkang ini dihuni oleh keturunan Suku Laut dengan budayanya yang sangat unik dan dapat dibuat menjadi tempat wisata dengan kearifan lokal yang dapat menarik perhatian para wisatawan lokal maupun internasional.
PESISIR YANG BERKELANJUTAN: GREEN ARCHITECTURE DENGAN BUDAYA POPULAR DALAM EXHIBITION DAN CONVENTION CENTER DI KOTA BATAM Helen; Gladies Imanda Utami Rangkuty; Lathifa Nursyamsu
Journal of Architectural Design and Development (JAD) Vol. 5 No. 1 (2024): JAD
Publisher : Program Sarjana Arsitektur Universitas Internasional Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37253/jad.v5i1.9077

Abstract

Kota Batam merupakan bagian dari Kepulauan Riau, Indonesia yang memiliki warisan budaya beragam. Salah satunya terdapat tarian Melayu, atraksi budaya, pameran terkait peninggalan budaya Melayu, dan aktivitas budaya modern lainnya. Aktivitas publik memiliki peran penting dalam membentuk budaya, memberikan hiburan, membangun komunitas, dan mendorong partisipasi warga dalam berbagai aspek kehidupan social. Dalam hal ini, kegiatan atraksi dan pameran di Kota Batam juga telah berbaur dari budaya lokal dan modern. Wadah dalam penyelenggaraan kegiatan acara pameran dan kegiatan pementasan di Kota Batam salah satunya sering dilaksanakan di area Atrium Mall dengan kapasitas serta jenis kegiatan yang dibatasi. Sehingga, wadah khusus untuk pusat pameran sebagai fasilitas budaya lokal dan modern kurang memadai. Penelitian ini bertujuan untuk merancang pusat pameran pada kawasan pesisir berkelanjutan menggunakan pertimbangkan green architecture dengan budaya popular dalam exhibition dan convention center di Kota Batam. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif dan pengumpulan data berupa observasi lapangan. Selain itu, juga menggunakan data skunder dan primer melalui interprestasi visual. Hasil dari penelitian ini merupakan perancangan konsep desain pada exhibition dan convention center di kawasan pesisir Kota Batam yang mendukung green architecture dengan adanya area kapal Jong dan open space yang dijadikan area budaya popular. Hasil rancangan fasad meliputi vertical green dan secondary skin pada bangunan utama dan pendukung lainnya. Seluruh atap dirancang sebagai green rooftop untuk mengurangi panas dan menyerap air hujan. Penggunaan low emissivity glass di seluruh bangunan mengurangi panas masuk, sementara panel surya dipasang di atap utama untuk energi terbarukan.
PENGARUH DESAIN RUANG PUBLIK DALAM MEMPERTAHANKAN IDENTITAS BUDAYA: STUDI KASUS PESISIR TAREMPA Putri, Tabitha; Gladies Imanda Utami Rangkuty; Jeanny Laurens Pinassang
Journal of Architectural Design and Development (JAD) Vol. 5 No. 2 (2024): JAD
Publisher : Program Sarjana Arsitektur Universitas Internasional Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37253/jad.v5i2.9163

Abstract

Identitas budaya adalah ciri khas yang dimiliki oleh kelompok masyarakat. Kawasan pesisir sendiri dikenal dengan budaya dan tradisi yang masih melekat di kehidupan masyarakatnya. Salah satu kawasan pesisir yang masih kental dengan tradisi kebudayaannya adalah Tarempa yang terletak di Kabupaten Anambas, Provinsi Kepulauan Riau. Hanya saja kini ciri khas budaya yang ada di Tarempa kurang diaplikasikan pada karakteristik daerah tersebut. Salah satu cara untuk tetap mempertahankan identitas budaya suatu kawasan yaitu diterapkannya ciri khas dan nilai-nilai kebudayan dalam ruang publik. Hasil penelitian menunjukan bahwa ruang publik yang ada tidak terkonsentrasi pada satu tempat. Selain itu, ruang publik belum sepenuhnya menerapkan ciri khas kebudayaan melayu. Kajian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh keberadaan ruang publik dalam upaya melestarikan kebudayaan setempat. Diharapkan hasil dari kajian ini dapat memberikan rekomendasi konsep desain ruang publik yang dapat mewadahi kegiatan masyarakat dengan tetap memasukan unsur budaya kawasan pesisir Tarempa. Adapun penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif yaitu data yang didapat dijelaskan secara deskriptif. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, kajian literartur, dan wawancara.
PESISIR YANG BERKELANJUTAN: GREEN ARCHITECTURE DENGAN BUDAYA POPULAR DALAM EXHIBITION DAN CONVENTION CENTER DI KOTA BATAM Helen; Rangkuty, Gladies Imanda Utami; Nursyamsu, Lathifa
Journal of Architectural Design and Development (JAD) Vol. 5 No. 1 (2024): JAD
Publisher : Program Sarjana Arsitektur Universitas Internasional Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37253/jad.v5i1.9077

Abstract

Kota Batam merupakan bagian dari Kepulauan Riau, Indonesia yang memiliki warisan budaya beragam. Salah satunya terdapat tarian Melayu, atraksi budaya, pameran terkait peninggalan budaya Melayu, dan aktivitas budaya modern lainnya. Aktivitas publik memiliki peran penting dalam membentuk budaya, memberikan hiburan, membangun komunitas, dan mendorong partisipasi warga dalam berbagai aspek kehidupan social. Dalam hal ini, kegiatan atraksi dan pameran di Kota Batam juga telah berbaur dari budaya lokal dan modern. Wadah dalam penyelenggaraan kegiatan acara pameran dan kegiatan pementasan di Kota Batam salah satunya sering dilaksanakan di area Atrium Mall dengan kapasitas serta jenis kegiatan yang dibatasi. Sehingga, wadah khusus untuk pusat pameran sebagai fasilitas budaya lokal dan modern kurang memadai. Penelitian ini bertujuan untuk merancang pusat pameran pada kawasan pesisir berkelanjutan menggunakan pertimbangkan green architecture dengan budaya popular dalam exhibition dan convention center di Kota Batam. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif dan pengumpulan data berupa observasi lapangan. Selain itu, juga menggunakan data skunder dan primer melalui interprestasi visual. Hasil dari penelitian ini merupakan perancangan konsep desain pada exhibition dan convention center di kawasan pesisir Kota Batam yang mendukung green architecture dengan adanya area kapal Jong dan open space yang dijadikan area budaya popular. Hasil rancangan fasad meliputi vertical green dan secondary skin pada bangunan utama dan pendukung lainnya. Seluruh atap dirancang sebagai green rooftop untuk mengurangi panas dan menyerap air hujan. Penggunaan low emissivity glass di seluruh bangunan mengurangi panas masuk, sementara panel surya dipasang di atap utama untuk energi terbarukan.
Embracing Floating Architecture and Green Infrastructure: Coastal Innovation for Resilient Waterfront Communities in Batam City. Novya Mardhika; Imanda Utami Rangkuty, Gladies; Dinar Agupriyanti, Carissa
Journal of Architectural Design and Development (JAD) Vol. 6 No. 1: June 2025
Publisher : Program Sarjana Arsitektur Universitas Internasional Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37253/jad.v6i1.9597

Abstract

In response to the pressing issues of environmental degradation due to uncontrolled urbanization, leading to alarming greenhouse gas emissions as well as the consequential rise in sea levels that is caused by the extensive loss of ice, this article explores the solution to coastal areas that are prone to flood which require a re-evaluation to accommodate growing populations. The article proposes floating architecture as the solution to this issue. Floating architecture seamlessly unites with the water bodies. This paradigm shift aims to tackle limited land availability, urbanization pressure, and rising sea levels by adapting to water levels. Floating architecture allows the ability for cities to expand to the waters when the land is scarce. Floating architecture also serves as attractions creating unique experiences and enhancing the communities surrounding. This study uses qualitative methodology followed by a descriptive approach to analyze completed and prospective projects to obtain insight into floating structure and design considerations. Results show that integrating sustainable design with floating architecture is much more cost-effective, sustainable, efficient, mobility, and flexible than land reclamation.
Analisis Potensi Permukiman Kampung Tua Tiangwangkang melalui Kajian Kearifan Lokal Suku Laut Lim, Vicky; Suwarlan, Stivani Ayuning; Rangkuty, Gladies Imanda Utami
Journal of Architectural Design and Development (JAD) Vol. 5 No. 1 (2024): JAD
Publisher : Program Sarjana Arsitektur Universitas Internasional Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37253/jad.v5i1.8672

Abstract

Kampung tua Tiangwangkang merupakan salah satu dari 37 kampung tua yang ada di Batam dan berpotensi untuk menjadi kawasan wisata dengan kearifan lokal dari Suku Laut yang menempati kawasan tersebut. Penelitian ini menggunakan teori ekistics yang bertujuan untuk mengetahui potensi-potensi kampung tua Tiangwangkan yang didasarkan dari budaya atau kearifan lokal dari Suku Laut dimana dapat menjadi referensi untuk penduduk Kampung tua Tiangwangkang. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi dan dokumentasi. Penelitian ini menggunakan teori Ekistics sebagai dasar analisis potensi permukiman. Hasil yang didapatkan dari analisis pada kampung tua Tiangwangkang menurut teori Ekistics terdapat beberapa potensi yang dapat dikembangkan di kampung tua Tiangwangkang menjadi sebuah Kawasan Pariwisata berkelanjutan yang dapat dikaitkan dengan kebudayaan Suku Laut. Hal ini dapat disimpulkan kampung tua Tiangwangkang ini dihuni oleh keturunan Suku Laut dengan budayanya yang sangat unik dan dapat dibuat menjadi tempat wisata dengan kearifan lokal yang dapat menarik perhatian para wisatawan lokal maupun internasional.
ANALISA SISTEM PENCAHAYAAN BUATAN PADA BANGUNAN SPORTHALL UNIVERSITAS INTERNASIONAL BATAM Rangkuty, Gladies Imanda Utami; Vicalrya, Jennifer; Jesslyn, Jesslyn; Chandrawati, Vivi; Murtiono, Hendro; Suwarlan, Stivani Ayuning
Journal of Architectural Design and Development (JAD) Vol. 6 No. 2: December 2025
Publisher : Program Sarjana Arsitektur Universitas Internasional Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37253/jad.v6i2.11497

Abstract

Visual comfort in sports facilities is significantly influenced by the quality of artificial lighting systems, particularly for multi-functional buildings operating at night. This study analyzes the effectiveness of artificial lighting in the sports hall at Universitas Internasional Batam, a semi-outdoor facility serving as a sports arena, event venue, and access route to classrooms. Preliminary observations and user complaints indicated visual discomfort during nighttime activities, including uneven light distribution and excessively dark areas. The study aims to evaluate lighting level compliance with SNI 6197-2020 standards and analyze users' visual comfort perceptions. A mixed-methods approach was employed through illuminance measurements using a luxmeter and surveys of 24 active users. Results show average lighting levels of 313 lux, meeting the SNI 6197-2020 standard (300 lux) for sports facilities. However, while 70.8% of respondents rated the lighting as adequate, 54.1% experienced eye fatigue periodically due to uneven light distribution (uniformity ratio 0.60 < CIE standard 0.7) and flickering lamps (37.5% fixtures).  Recommendations include regular lamp maintenance, additional lighting installation in low-intensity areas, and establishing operational procedures to ensure access corridor lights remain on for user safety and comfort. This study contributes to understanding the relationship between quantitative lighting standards and subjective visual comfort in multi-functional sports facilities.
Co-Authors Ade Jaya Saputra Aguspriyanti, Carissa Dinar Al Ridho Wahyudi Angeline Goh Angga Setiawan Wilarso Antony Antony Aprilia Chandrawati Benny Benny BENNY BENNY Brema, Ahmad Riansyah Brema, Ahmad Riansyah Brema Carlos Willyam Carol, Niq'q Jean Chandrawati, Vivi Chrisna Chrisna Coral Aswanti Delvin Fernando Delvin Fernando Deviana Deviana Dinar Agupriyanti, Carissa Dinda Nur Aini Elva Christina Evan Farell Fedrico Tysen Ferdianty, Evelyn Thalia Fernando, Delvin Firzal, Yohannes Habibah, Zahwa Rheina Hary Budhi Ardiansyah Helen Helen Helen Helen Henny Henny Hura, Wester Maesi I Gusti Ngurah Anom Gunawan Jasline Caroline Jasline Caroline Jesslyn, Jesslyn Jihan Karisma Khayril Husnul Lathifa Nursyamsu Lee, Vineeta Leonardo Leonardo Lim, Vicky Maharanta Milala Merzelish Merzelish Merzelish Merzelish Mikel Owen Muhammad Ikhsan Kasturi Muhammad Reza Sudirman Muhammad Rijal Muhammad Sulthon Fahmi Muhammad Winarta Muhammad Winarta Murtiono, Hendro Nancy Monica Caroline Simanjuntak Nico Valentino Niq'q Jean Carol Nova Rahmayani Novya Mardhika Nurhalisa Nurhalisa Oktavino, Farel Cassaro Pinassang, Jeanny Laurens Ping, Kory Keith Putri, Tabitha Rika Ayunda Rilsha Nadya Dwi Poetri Safitri, Alda Aulia Salsabila Pane Sean Samuel Prasetyo Senna Abdi Cahyo Shanice Lu Stacia Franciska Steven Eli Marsela Suhardi, Rafi Arbarendy Suhardi, Rafi Arbarendy Suhardi Suwarlan, Stivani Ayuning Tabitha Nailah Putri Tan, Rosalinda Teddy Susanto Teo, Susanto Jefferson Vicalrya, Jennifer Vicky Lim Vincent Vincent Wahyu Leonardi Wui Ching Yanty Yanty Yovita Yolanda Budiman