Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS

QUALITY STUDY OF DOMESTIC WASTEWATER IN RIVERS PASSING THROUGH MANADO CITY BASED ON ORGANIC AND INORGANIC MATERIALS Tarigan, Adianse; Lasut, Markus T.; Tilaar, Sandra O.
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol 1, No 1 (2013): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.1.1.2013.1697

Abstract

Study on the quality of domestic wastewater in rivers passing through Manado City to Manado bay was done based on organic and inorganic materials. The study aimed to provide suitable information for environmental management of rivers and beaches in the city. Three rivers were selected to be observed, such as S. Bailang, S. Maasing and S. Tondano, using parameter of Biological Oxygen Demand-5 days (BOD5), Phosphate (PO4) and Nitrate (NO3). Water samples were taken from three locations (upper, middle and river mouth parts) in each rivers. The result showed that average concentrations of the parameters, respectively, were 2 mg/L, 0.014 mg/L and 0.388 mg/L in S. Bailang; 17.66 mg/L, 1.858 mg/L and 0.029 mg/L in S. Maasing; and 4 mg/L, 0.289 mg/L and 0.314 mg/L in S. Tondano. In this paper, water quality status of the observed rivers based on current regulation was discussed.
Analisis logam berat timbal (Pb) pada akar mangrove di Desa Bahowo dan Desa Talawaan Bajo Kecamatan Tongkaina Sanadi, Troy; Schaduw, Joshian; Tilaar, Sandra; Mantiri, Desy; Bara, Robert; Pelle, Wilmy
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol 6, No 2 (2018): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.6.2.2018.21382

Abstract

Mangrove merupakan jenis tumbuhan yang memiliki kemampuan biofilter, yaitu kemampuan untuk menyaring, mengikat dan memerangkap polusi di alam bebas atau biasa disebut sebagai Tumbuhan Hiperakumulator. Kemampuan mengikat dan memerangkap berupa kelebihan sedimen, limbah buangan rumah tangga dan menyimpan logam berat pada akar, batang dan daunnya berperan penting dan membantu dalam menetralisir masuknya sumber pencemar logam berat seperti timbal (Pb) yang masuk ke dalam perairan dan meningkatkan kualitas air. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kemampuan daya serap Tumbuhan mangrove dalam menyerap logam berat Pb pada akar mangrove di daerah Pesisir Bahowo dan Pesisir Talawaan Bajo. Sampel yang telah diperoleh kemudian di analisis mmengunakan Atomic Absorbtion Spectrophotometry (AAS) dan dilakukan pengolahan data. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini menemukan bahwa kemampuan mangrove dalam menyerap logam berat setiap spesiesnya memiliki kemampuan menyerap yang berbeda-beda. Hasil dari analasis sampel akar yang dilakukan mengunakan alat AAS, menemukan bahwa mangrove jenis Avicennia marina memiliki kemampuan menyerap logam berat Pb lebih baik dari jenis Soneratia alba. Dari hasil analisis ditemukan pada daerah Bahowo memiliki konsentrasi logam berat Pb yang cukup yang masih berada dibawah standar baku mutu pada tumbuhan.
Condition of Seagrass Meadows in The Waters Around The Sunrise Tourist Area, Makalisung Village, Kombi District, Minahasa Regency Baso, Fathan; Wagey, Billy T.; Sondak, Calvyn F. A.; Ginting, Elvy L.; Tilaar, Sandra O.; Rampengan, Royke M.
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 14 No. 1 (2026): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.14.1.2026.65793

Abstract

Seagrass is a flowering plant (magnoliopyta). Seagrass requires a minimum light intensity of $11% - 25%$ for photosynthesis, and disturbances can reduce the availability of light. Research in the Sunrise Tourism Area, Makalisung Village, aims to identify the types and conditions of seagrass meadows, considering the pressure from human activities such as garbage disposal and fishing boat traffic. The data collection method uses quadrant transects with three 100-meter transects, each placed in 11 quadrants. The results of the study successfully identified 7 types of seagrass, including Cymodocea rotundata, Enhalus acoroides, Halophila ovalis, Halodule pinifolia, Halodule uninervis, Syringodium isoetifolium, and Thalassia hemprichii. Based on calculations, the average percentage of seagrass cover is 57.68% and can be categorized as dense. However, although the cover is classified as dense, Meanwhile, according to the Ministry of Environment Decree No. 200/2004, the determination of the closure of seagrass meadow conditions can be categorized as less rich/less healthy. This indicates the potential for environmental problems that can affect the health of the seagrass ecosystem at Sunrise Beach. Keywords: seagrass condition, Sunrise Beach, coastal waters, seagrass cover Abstrak Lamun (seagrass) merupakan tumbuhan berbunga (magnoliopyta). Lamun memerlukan intensitas cahaya minimal $11% - 25%$ untuk fotosintesis, dan gangguan tersebut dapat mengurangi ketersediaan cahaya. Penelitian di Kawasan Wisata Sunrise, Desa Makalisung, bertujuan mengidentifikasi jenis dan kondisi padang lamun, mengingat adanya tekanan dari aktivitas manusia seperti pembuangan sampah dan lalu lintas perahu nelayan. Metode pengambilan data menggunakan transek kuadran dengan tiga transek sepanjang  100 meter, masing- masing diletakkan 11 kuadran. Hasil penelitian berhasil mengidentifikasi 7 jenis lamun, termasuk Cymodocea rotundata, Enhalus acoroides, Halophila ovalis, Halodule pinifolia, Halodule uninervis, Syringodium isoetifolium, dan Thalassia hemprichii.Berdasarkan perhitungan, rata-rata persentase tutupan lamun adalah 57,68% dan dapat dikategorikan padat.Namun, meskipun tutupan tergolong padat, Sedangkan menurut KEPMEN KLH No 200/2004, penentuan penutupan kondisi padang lamun dapat dikategorikan dalam kategori kurang kaya/kurang sehat. Hal ini menunjukkan adanya potensi masalah lingkungan yang dapat memengaruhi kesehatan ekosistem lamun di Pantai Sunrise. Kata kunci: kondisi lamun, Pantai Sunrise, perairan pesisir, tutupan lamun
Ecological Analysis of Megabenthos in Coral Reef Ecosystems of The Waters Surrounding Bahoi Village, North Minahasa Regency Grathia Charity; Manembu, Indri S.; Mamangkey, N. Gustaf F.; Rumengan, Antonius P.; Boneka, Farnis B.; Tilaar, Sandra O.
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 14 No. 1 (2026): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.14.1.2026.65927

Abstract

Megabenthos are a group of organisms larger than 1 cm that inhabit the seafloor and are sensitive to environmental changes. Information regarding megabenthos in Bahoi Village has not yet been published; therefore, this study was conducted to fill the data gap related to benthic community structure in the area. Data were collected at three stations representing different levels of ecological pressure using the Benthos Belt Transect  method, with a transect length of 70 m and an observation width of 2 m, resulting in a total surveyed area of 140 m² per station. Target megabenthos recorded included Diadema spp., Linckia laevigata, Tridacninae, and Drupella cornus. Based on the analysis, Station 1 (near settlement and non-MPA) showed densities of Diadema spp. of 2.11 ind/m², Linckia laevigata of 0.04 ind/m², Tridacninae of 0.03 ind/m², and Drupella cornus of 0.07 ind/m², with H’ = 0.29, C = 0.88, and E = 0.2. Station 2 (MPA) recorded densities of Diadema spp. of 0.007 ind/m², Linckia laevigata of 0.029 ind/m², Tridacninae of 0.014 ind/m², and Drupella cornus of 0.014 ind/m², with H’ = 1.27, C = 0.30, and E = 0.9. Station 3 (far from settlement and non-MPA) showed densities of Linckia laevigata of 0.19 ind/m² and Diadema spp. of 0.07 ind/m², with H’ = 0.58, C = 0.61, and E = 0.8. The patterns of ecological indices indicate a strong relationship between the intensity of human intervention and habitat characteristics in determining the stability of megabenthic communities. Keywords: megabenthos, coral reefs, community, benthos belt transect, Bahoi Village   Abstrak Megabentos merupakan kelompok organisme yang hidup di dasar laut dan berukuran lebih dari 1 cm yang sensitif terhadap perubahan lingkungan. Informasi mengenai megabentos di Desa Bahoi hingga kini belum dipublikasikan sehingga penelitian ini dilakukan untuk mengisi kesenjangan data terkait struktur komunitas bentik di wilayah tersebut. Pengumpulan data dilakukan pada tiga stasiun yang mewakili perbedaan tingkat tekanan ekologis menggunakan metode Benthos Belt Transect sepanjang 70 m dengan lebar pengamatan 2 m sehingga total area pengamatan 140 m² per stasiun. Megabentos target yang ditemukan meliputi Diadema spp., Linckia laevigata, Tridacninae, dan Drupella cornus. Berdasarkan analisis data, Stasiun 1 (dekat permukiman & non-DPL) memiliki kepadatan Diadema spp. sebesar 2,11 ind/m², Linckia laevigata sebesar 0,04 ind/m², Tridacninae sebesar 0,03 ind/m² dan Drupella cornus sebesar 0,07 ind/m² dengan H’=0,29, C=0,88, dan E=0,2. Stasiun 2 (DPL) memiliki kepadatan Diadema spp. sebesar 0,007 ind/m², Linckia laevigata sebesar 0,029 ind/m², Tridacninae sebesar 0,014 ind/m² dan Drupella cornus sebesar 0,014 ind/m² dengan H’=1,27, C=0,3 dan E=0,9. Stasiun 3 (jauh dari permukiman & non-DPL) memiliki kepadatan Linckia laevigata sebesar 0,19 ind/m² serta Diadema spp. sebesar 0,07 ind/m² dengan H’=0,58, C=0,61 dan E=0,8. Pola indeks ekologi menunjukkan hubungan kuat antara tingkat tekanan intervensi manusia dan karakteristik habitat terhadap stabilitas komunitas megabentos. Kata kunci: megabentos, terumbu karang, komunitas, benthos belt transect, Desa Bahoi