Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Pengaruh Komunikasi Nonverbal dalam Meningkatkan Efektivitas Interaksi antar Budaya Alwan, Muhammad; Ashaf, A Firman; Trenggono, Nanang
Arus Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 4 No 3: Desember (2024)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajsh.v4i3.664

Abstract

Jurnal ini membahas peran penting komunikasi nonverbal dalam interaksi antar budaya. Komunikasi nonverbal, melalui gerak-gerik, ekspresi wajah, dan bahasa tubuh, memungkinkan ekspresi emosi dan pemahaman yang mendalam tanpa menggunakan kata-kata. Dalam konteks antarbudaya, di mana bahasa verbal sering kali tidak mencukupi untuk menyampaikan nuansa budaya, komunikasi nonverbal menjadi kunci untuk membangun kepercayaan, mengurangi kesalahpahaman, dan menyesuaikan diri dengan norma budaya setempat. Studi ini mengamati bahwa kesadaran terhadap perilaku nonverbal dalam budaya target dapat memfasilitasi integrasi lintas budaya yang lebih baik, mengurangi konflik, dan meningkatkan efektivitas komunikasi secara keseluruhan.
Dialektika tokoh agama dalam menjaga kerukunan Hasanah, Rika Khusnul; Aryanti, Nina Yudha; Agustina, Anna; Trenggono, Nanang
Bricolage : Jurnal Magister Ilmu Komunikasi Vol 9, No 1 (2023): Accredited by Kemenristekdikti RI SK No.152/E/KPT/2023
Publisher : Universitas Bunda Mulia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30813/bricolage.v9i1.3793

Abstract

Penelitian ini tentang komunikasi Forum Kerukunan Umat beragama dan tokoh agama yang memiliki peran dalam menjaga sebuah kerukunan umatnya. Kuala Tungkal dikenal sebagai kota yang heterogen memiliki umat yang berbagai macam ras, suku, adat dan agama . Untuk itu, maka tujuan dari penelitian ini untuk mengidentifikasi dan mendeskripsikan bagaimana komunikasi forum kerukunan umat beragama (FKUB) dan peran tokoh agama dalam menjaga kerukunan antar umat beragama di Kuala Tungkal. Tokoh agama sangat penting di setiap daerah, tokoh agama menjadi figure yang baik dan penengah disetiap permasalahan. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan metode pendekatan fenomenologi. Teori komunikasi organisasi sistem sosial Katz Kahn. Pengumpulan data diperoleh dari sumber data primer dan sekunder, teknik pengumpulan data berupa reduksi data, penyajian data, verifikasi dan terakhir kesimpulan. Hasil dari penelittian ini bahwa FKUB Kuala tungkal menggunakan komunikasi Interpersonal, komunikasi kelompok dan komunikasi massa. Adapun peran tokoh agama yang dijalankan oleh tokoh agama Islam, Kristen, Budha dan Hindu demi membangun toleransi masyarakat dan menjaganya agar tercipta kehidupan yang harmonis merupakan sumbangsih besar dari para tokoh agama dan masyarakat untuk kuala Tungkal. Peran itu meliputi pertama, peran dalam menjaga tradisi keagamaan, kedua peran dalam mencapai tujuan antar umat, ketiga peran dalam menjaga interaksi sosial dan, keempat peran memelihara hubungan antar tokoh dan antar umat.
Peran Media Sosial dalam Pembentukan Identitas : Perspektif Cultural Studies Sari, Reka Purnama; Trenggono, Nanang; Aryanti, Nina Yudha; Ashaf, Abdul Firman; Kartika, Tina
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 5 No. 4 (2025): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v5i4.19486

Abstract

This study addresses the central issue of how social media plays a role in the process of identity formation amid the currents of globalization and digitalization. The main objective of this research is to understand how social media influences the identity formation process and to examine how Cultural Studies theory explains the relationship between social media, representation, and identity construction. This study employs a qualitative method with a Cultural Studies perspective to provide a deeper understanding of the dynamics of identity formation in the digital era. The findings indicate that social media in the digital age has become a new cultural space that plays a significant role in the identity formation process. Beyond functioning as a communication tool, social media serves as a site of representation, expression, and the ongoing construction of identity meaning. It can be seen as a contested arena of cultural identity for individuals on one hand, a medium for self expression and affirmation, and on the other, a force that potentially homogenizes identity through global popular culture and the logic of the digital marketplace.
CULTURAL COMMUNICATION IN THE DIGITAL ERA: : (Challenges, Strategies, And Social Implications) Gautama, Sidartha Adi; Trenggono, Nanang; Kartika, Tina; Firman Ashaf , Abdul
NIVEDANA : Jurnal Komunikasi dan Bahasa Vol. 6 No. 4 (2025): NIVEDANA : Jurnal Komunikasi dan Bahasa
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Buddha Negeri Raden Wijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53565/nivedana.v6i4.1936

Abstract

This study discusses the transformation of cultural communication in the digital age, which is characterised by rapid developments in information technology, social media, and globalisation. Using qualitative methods and literature review, this study identifies fundamental changes in the form, process, and impact of cultural communication on society. The findings reveal that the digital age has erased geographical boundaries, accelerated cultural exchange, and expanded social networks. However, challenges such as miscommunication, cultural polarisation caused by social media algorithms, and the spread of misinformation and hate speech have also increased. Proposed strategies include enhancing digital and cultural literacy, multicultural education, cross-sector collaboration, and innovation in cultural preservation through digitalisation. The social implications identified include strengthened social solidarity, the formation of hybrid identities, cultural economic opportunities, and the risk of identity crises and social conflicts. This study recommends collective cross-sector efforts to build a healthy, adaptive, and inclusive cultural communication ecosystem in the digital age.
DINAMIKA KOMUNIKASI PUBLIK: CANCEL CULTURE DAN FIGUR AGAMA DI MEDIA SOSIAL Alanudin, Rifki; Trenggono, Nanang; Besar, Ibrahim; Ashaf, Abdul Firman; Putra, Purwanto
ORASI: Jurnal Dakwah dan Komunikasi Vol 16, No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/orasi.v16i2.22342

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memahami dinamika komunikasi dalam praktik cancel culture terhadap tokoh agama, dengan fokus pada bagaimana wacana publik terbentuk, disebarkan, dan dimaknai dalam konteks media sosial. Kasus viral Gus Miftah digunakan sebagai contoh untuk melihat bagaimana komentar, tagar, dan narasi publik menciptakan tekanan moral yang memengaruhi persepsi terhadap otoritas religius di ruang digital. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, penelitian ini menerapkan Analisis Wacana Kritis (AWK) Fairclough serta teori mediatisasi agama dan konvergensi simbolik. Data dikumpulkan melalui observasi daring pada twitter/X, tikTok, instagram, dan portal berita, dengan 100 item digital sebagai sumber analisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cancel culture bekerja melalui lima kategori wacana utama: kritik moral, seruan boikot, satire, delegitimasi simbolik, dan komentar netral. Bahasa yang digunakan publik mencerminkan afeksi kolektif yang membentuk solidaritas moral baru, sementara algoritma platform memperkuat wacana dominan melalui visibilitas dan viralitas. Temuan menegaskan adanya pergeseran legitimasi dari institusi religius menuju komunitas digital yang lebih partisipatif. Implikasi penelitian menunjukkan bahwa tokoh agama semakin bergantung pada logika media dan persepsi publik dalam menjaga kredibilitas. Studi ini berkontribusi pada bidang komunikasi dan kajian media digital, terutama pada pemahaman mengenai transformasi otoritas moral di era digital. Penelitian menyimpulkan bahwa cancel culture merupakan mekanisme kontrol sosial baru yang berpotensi memperkuat atau melemahkan posisi simbolik tokoh agama.