Claim Missing Document
Check
Articles

Found 31 Documents
Search

Artificial Intelligence (AI) in Nursing Services: A Literature Review Moh Heri Kurniawan; Hanny Handiyani; Tuti Nuraini; Rr Tutik Sri Hariyati
Faletehan Health Journal Vol 10 No 01 (2023): Faletehan Health Journal, Maret 2023
Publisher : Universitas Faletehan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33746/fhj.v10i01.556

Abstract

Penelitian tentang artificial intelligence (AI) dalam layanan kesehatan telah meningkat dalam beberapa dekade terakhir. Hal ini menunjukkan potensi besar dalam meningkatkan kualitas perawatan. Namun, penerapan AI dalam keperawatan menimbulkan kekhawatiran terkait bias data dan dampak potensial bagi pasien. Selain itu penelitian terkait AI dan manfaatnya dalam keperawatan masih terbatas. Tujuan penelitian ini untuk menjabarkan hasil penelitian terkait teknologi AI dalam pelayanan keperawatan. Metode penelitian yang digunakan ialah literature review. Pencarian terhadap studi-studi yang relevan dilakukan di beberapa database yaitu PUBMED, Scopus dan Google Scholar dengan kata kunci serta istilah yang terkait dengan keperawatan, artificial intelligence, dan machine learning dalam rentang tahun 2012-2022. Kriteria inklusi meliputi penelitian pengembangan atau validasi teknologi berbasis AI yang digunakan dalam layanan keperawatan dan desain studi, termasuk eksperimental atau observasional dengan menggunakan pendekatan kualitatif, kuantitatif, atau gabungan keduanya. Sedangkan kriteria ekslusi yaitu artikel yang tidak relevan dengan keperawatan, non-eksperimental, non-observasional, atau artikel tinjauan literatur. Hasil penelitian menunjukkan dari total 3713 paper yang ditemukan hanya 10 paper yang masuk dalam kriteria. Penggunaan AI dalam pelayanan keperawatan dapat memberikan banyak manfaat tetapi juga memerlukan pertimbangan yang matang. Oleh karena itu, lebih banyak penelitian diperlukan untuk mengatasi tantangan yang dihadapi dan untuk memaksimalkan potensi AI dalam meningkatkan kualitas pelayanan keperawatan.
Implementasi Hipnoterapi Lima Jari terhadap Penurunan Kecemasan Pasien Kanker Serviks yang Menjalani Kemoterapi Isran Isran; Tuti Nuraini; Yati Afiyanti; Agung Waluyo
Journal of Telenursing (JOTING) Vol 5 No 2 (2023): Journal of Telenursing (JOTING)
Publisher : Institut Penelitian Matematika, Komputer, Keperawatan, Pendidikan dan Ekonomi (IPM2KPE)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31539/joting.v5i2.6960

Abstract

This study aims to determine the effect of five-finger hypnotherapy on cervical cancer patients undergoing chemotherapy. The method used is a systematic review of several databases such as Scopus, PubMed, ProQuest, and EBSCOHost to search for relevant articles. The results of the study show that a total of 10 pieces have been analyzed where there are several interventions in reducing anxiety in patients, one of which is using five-finger hypnotherapy, which has proven effective in reducing anxiety levels. In conclusion, giving a finger hypnotherapy intervention can reduce anxiety in cervical cancer patients before and after chemotherapy. Keywords: Five Finger Hypnotherapy, Cervical Cancer, Anxiety, Chemotherapy
Terapi Musik terhadap Efikasi Diri pada Pasien Kanker Indah Susilowati; Dewi Gayatri; Tuti Nuraini
Jurnal Keperawatan Silampari Vol 6 No 2 (2023): Jurnal Keperawatan Silampari
Publisher : Institut Penelitian Matematika, Komputer, Keperawatan, Pendidikan dan Ekonomi (IPM2KPE)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (281.443 KB) | DOI: 10.31539/jks.v6i2.5661

Abstract

This study aims to determine music therapy intervention's role in cancer patient's self-efficacy. The research method used was a systematic review of several journals reporting music therapy's effects on cancer patients' self-efficacy. A total of 9 studies met the requirements for consideration, including 9 designs, namely quasi-experimental (3 studies), randomized control trials (2 studies), non-randomized control (1 study), and cross-sectional (1 study). The results showed 671 respondents from the nine studies analyzed in this systematic review. We found the effect of music therapy intervention on cancer patient's self-efficacy. In conclusion, this review provides strong evidence regarding the impact of music therapy, namely increasing self-education. Music therapy intervention can be carried out with active and passive music therapy, which affects patient self-efficacy, especially in cancer patients. Keywords: Self-Efficacy, Cancer Patients, Music Therapy
Artificial Intelligence (AI) in Nursing Services: A Literature Review Moh Heri Kurniawan; Hanny Handiyani; Tuti Nuraini; Rr Tutik Sri Hariyati
Faletehan Health Journal Vol 10 No 01 (2023): Faletehan Health Journal, Maret 2023
Publisher : Universitas Faletehan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33746/fhj.v10i01.556

Abstract

Penelitian tentang artificial intelligence (AI) dalam layanan kesehatan telah meningkat dalam beberapa dekade terakhir. Hal ini menunjukkan potensi besar dalam meningkatkan kualitas perawatan. Namun, penerapan AI dalam keperawatan menimbulkan kekhawatiran terkait bias data dan dampak potensial bagi pasien. Selain itu penelitian terkait AI dan manfaatnya dalam keperawatan masih terbatas. Tujuan penelitian ini untuk menjabarkan hasil penelitian terkait teknologi AI dalam pelayanan keperawatan. Metode penelitian yang digunakan ialah literature review. Pencarian terhadap studi-studi yang relevan dilakukan di beberapa database yaitu PUBMED, Scopus dan Google Scholar dengan kata kunci serta istilah yang terkait dengan keperawatan, artificial intelligence, dan machine learning dalam rentang tahun 2012-2022. Kriteria inklusi meliputi penelitian pengembangan atau validasi teknologi berbasis AI yang digunakan dalam layanan keperawatan dan desain studi, termasuk eksperimental atau observasional dengan menggunakan pendekatan kualitatif, kuantitatif, atau gabungan keduanya. Sedangkan kriteria ekslusi yaitu artikel yang tidak relevan dengan keperawatan, non-eksperimental, non-observasional, atau artikel tinjauan literatur. Hasil penelitian menunjukkan dari total 3713 paper yang ditemukan hanya 10 paper yang masuk dalam kriteria. Penggunaan AI dalam pelayanan keperawatan dapat memberikan banyak manfaat tetapi juga memerlukan pertimbangan yang matang. Oleh karena itu, lebih banyak penelitian diperlukan untuk mengatasi tantangan yang dihadapi dan untuk memaksimalkan potensi AI dalam meningkatkan kualitas pelayanan keperawatan.
Pengaruh Pemberdayaan terhadap Self-Efficacy pada Pasien Kanker Payudara: Systematic Review Purnomo Purnomo; Tuti Nuraini; Yossie Susanti Eka Putri; Riri Maria
Faletehan Health Journal Vol 12 No 01 (2025): Faletehan Health Journal, Maret 2025
Publisher : Universitas Faletehan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33746/fhj.v12i01.794

Abstract

Breast cancer is the second most prevalent type of cancer and one of the leading causes of mortality. Efforts to reduce mortality rates can be achieved by empowering patients to manage symptoms caused by cancer and the side effects of treatment therapies. This study aimed to evaluate the effectiveness of empowerment education in increasing self-efficacy in breast cancer patients. The study employed a systematic review of eight articles sourced from various databases, including ProQuest, SpringerLink, ScienceDirect, Sage Journal, Google Scholar, and PubMed. A total of 8,693 articles were retrieved from seven databases. After screening based on inclusion criteria, 638 articles were deemed eligible. Based on the selection of titles, abstracts, and full texts, 22 articles were chosen, and after duplicate elimination, 10 articles were analyzed using the Joanna Briggs Institute (JBI) quality assessment tool. The analysis results indicated that the empowerment approach is effective in improving self-efficacy and quality of life in breast cancer patients. By utilizing empowerment education, healthcare professionals can provide holistic support to patients, improve therapeutic outcomes, and reduce breast cancer mortality rates. This study recommended the integration of empowerment education as an essential component of breast cancer management in various healthcare facilities.
Faktor psikososial yang memengaruhi post-traumatic growth pada pasien kanker payudara: Sebuah tinjauan literatur sistematis Maria Elisabeth Peni Tukan; Tuti Nuraini; Giur Hargiana
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 1 (2026): Volume 20 Nomor 1
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i1.2196

Abstract

Background: Breast cancer is often perceived as a traumatic event that demands adaptive capacity to survive and find new meaning after a difficult process. One adaptive mechanism is post-traumatic growth (PTG), which is positive psychological growth after experiencing trauma. The level of PTG in breast cancer patients varies and is influenced by multifactorial and complex psychosocial factors, including both internal and external factors. Purpose: To synthesize scientific evidence regarding psychosocial factors associated with post-traumatic growth in breast cancer patients. Method: This systematic literature review was conducted in accordance with PRISMA guidelines and the methodological framework of the Joanna Briggs Institute (JBI). A comprehensive literature search was conducted in five electronic databases: ScienceDirect, PubMed, SpringerLink, Google Scholar, and Sage Journals. English-language research articles published within the last 10 years were selected based on predetermined inclusion criteria. Data were systematically extracted and synthesized using a narrative approach. Results: Ten studies were selected from 1,081 articles identified initially, involving a total of 2,464 breast cancer patients. Post-traumatic growth in breast cancer patients is influenced by the interaction between internal psychological factors and external social factors. Psychological factors associated with PTG include resilience, optimism, self-efficacy, locus of control, perceived stress, and coping strategies, while perceived social support emerged as the most significant external factor. Conclusion: PTG in breast cancer patients is formed through a psychosocial adaptation process influenced by both psychological factors and social support. These findings emphasize the importance of evidence-based nursing and psychosocial interventions to support psychological growth and quality of life in patients.   Keywords: Breast Cancer; Post-Traumatic Growth; Psychosocial Factors; Resilience; Social Support.   Pendahuluan: Kanker payudara sering dipersepsikan sebagai peristiwa traumatis yang menuntut kapasitas adaptif untuk bertahan hidup dan menemukan makna baru setelah menjalani proses yang sulit. Salah satu mekanisme adaptif adalah post-traumatic growth (PTG), yaitu pertumbuhan psikologis positif setelah mengalami trauma. Tingkat PTG pada pasien kanker payudara bervariasi dan dipengaruhi oleh faktor psikososial yang multifaktorial dan kompleks, mencakup faktor internal maupun eksternal. Tujuan: Untuk mensintesis bukti ilmiah mengenai faktor-faktor psikososial yang berhubungan dengan post-traumatic growth pada pasien kanker payudara. Metode: Tinjauan literatur sistematis ini dilakukan sesuai dengan pedoman PRISMA dan kerangka metodologis dari Joanna Briggs Institute (JBI). Penelusuran literatur secara komprehensif dilakukan pada 5 basis data elektronik, yaitu ScienceDirect, PubMed, SpringerLink, Google Scholar, dan Sage Journals. Artikel penelitian berbahasa Inggris yang diterbitkan dalam 10 tahun terakhir dipilih berdasarkan kriteria inklusi yang telah ditetapkan. Data diekstraksi secara sistematis dan disintesis menggunakan pendekatan naratif. Hasil: Sebanyak 10 studi terpilih dari 1,081 artikel yang teridentifikasi pada tahap awal, dengan total 2,464 pasien kanker payudara. Post-traumatic growth pada pasien kanker payudara dipengaruhi oleh interaksi antara faktor psikologis internal dan faktor sosial eksternal. Faktor psikologis yang berhubungan dengan PTG meliputi resiliensi, optimisme, efikasi diri, locus of control, persepsi stres, dan strategi koping, sedangkan dukungan sosial yang dirasakan muncul sebagai faktor eksternal yang paling signifikan. Simpulan: PTG pada pasien kanker payudara terbentuk melalui proses adaptasi psikososial yang dipengaruhi oleh faktor psikologis dan dukungan sosial. Temuan ini menegaskan pentingnya intervensi keperawatan dan psikososial berbasis bukti untuk mendukung pertumbuhan psikologis dan kualitas hidup pasien.   Kata Kunci: Dukungan Sosial; Faktor Psikososial; Kanker Payudara; Post-Traumatic Growth; Resiliensi.
Stres Kerja Memicu Sindrom Kelelahan Pada Perawat Manajer di Masa Pandemi Covid-19 Lia Dwi Jayanti; Hanny Handiyani; Tuti Nuraini; La Ode A. Rahman; Prayetni Prayetni
Jurnal Kepemimpinan dan Manajemen Keperawatan Vol. 5 No. 2 (2022)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32584/jkmk.v5i2.1549

Abstract

Sindrom kelelahan menjadi masalah kesehatan akibat stres kerja yang dialami oleh semua manajer keperawatan di masa pandemi Covid-19. Perawat manajer rentan mengalami kelelahan karena beban kerja yang tinggi dan kurang waktu istirahat dalam melakukan peran dan fungsinya sebagai manajer. Peningkatan stres kerja akan menimbulkan kelelahan psikis dan fisik perawat manajer. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi stres kerja sebagai faktor yang berhubungan dengan sindrom kelelahan perawat manajer di masa pandemi Covid-19.Desain penelitian menggunakan korelasi deskriptif dengan pendekatan cross sectional yang dilakukan terhadap 147 responden. Teknik pengambilan sampel dengan menggunakan estimasi proporsi. Analisis yang digunakan analisis univariat dan analisis bivariat dengan menggunakan uji korelasi pearson. Sindrom kelelahan perawat manajer di masa pandemi Covid-19 sebesar 42,04%. Stres kerja perawat manajer di rumah sakit selama pandemi Covid-19 sebesar 57,71%. Terdapat hubungan yang signifikan antara stres kerja dengan sindrom kelelahan (p=0,000). Stres kerja dapat memicu sindrom kelelahan perawat manajer di masa pandemi Covid-19. Penelitian ini merekomendasikan agar pimpinan rumah sakit mengadakan pelatihan manajemen diri, membangun lingkungan kerja yang kondusif, dan meningkatkan kesejahteraan dengan pemberian insentif, gaji, serta penghargaan yang sesuai di masa pandemi. Dukungan organisasi untuk perawat manajer dengan pemberian waktu istirahat yang cukup, makanan sehat, program spiritual, dan olahraga di masa pandemi Covid-19.
Peningkatan Kemampuan Timbang Terima Pasien Melalui Budaya Komunikasi SITUATION, BACKGROUND, ASSESSMENT, RECOMMENDATION (SBAR) DI RS DI BEKASI Dian Anggraini; Enie Novieastari; Tuti Nuraini
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 4, No 2 (2019)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (339.532 KB) | DOI: 10.32419/jppni.v4i2.182

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: Komunikasi tidak efektif dalam timbang terima dapat meningkatkan kejadian medication error, membahayakan pasien, memperpanjang proses perawatan, menurunkan kepuasan pasien, memperpanjang hari rawat pasien yang akan berdampak pada kurangnya mutu asuhan keperawatan yang diberikan pada pasien. Upaya meningkatkan mutu pelayanan salah satunya dengan menerapkan komunikasi Situation, Background, Assessment, Recommendation (SBAR). Komunikasi SBAR sudah mulai diterapkan pada kebijakan akreditasi rumah sakit, di beberapa rumah sakit masih ada yang belum menerapkan komunikasi SBAR. Tujuan: penelitian ini bertujuan mengidentifikasi perbedaan pengetahuan dan kemampuan perawat setelah pelatihan SBAR. Metode: pre-eksperiment dengan pre-post tanpa kelompok kontrol, sampel penelitian seluruh Perawat Primer dan Penanggung Jawab shift (n= 17). Pengukuran pengetahuan dengan melakukan tes tertulis sebelum dan sesudah pelatihan, dan untuk data kemampuan perawat timbang terima dengan komunikasi SBAR dilakukan pengamatan timbang terima sebelum dan sesudah pelatihan dengan menggunakan lembar observasi. Analisis data dengan uji t berpasangan dan uji Wilcoxon. Hasil: ada perbedaan yang bermakna rerata pengetahuan sebelum dan sesudah pelatihan (p-value <0,001), ada perbedaan yang bermakna rerata kemampuan perawat sebelum dan sesudah pelatihan komunikasi SBAR dalam timbang terima pasien antar shift (p-value <0,001). Kesimpulan: komunikasi SBAR efektif untuk meningkatkan sosialisasi, motivasi, mentoring, supervisi, serta pengembangan pendidikan yang berkelanjutan.Kata Kunci: Komunikasi, pengetahuan, SBAR, timbang terimaImprovement of the Handover Ability Through Situation, Background, Assessment, Recommendation (Sbar) Communication Culture in Hospital at Bekasi City ABSTRACTBackground: Ineffective communication in the handover can increase the incidence of medication errors, endanger the patient, prolong the treatment process, reduce patient satisfaction, extend patient care days which will have an impact on the lack of quality nursing care provided to patients. To improve quality of service, one of them is to apply SBAR communication. SBAR communication is already implemented in accreditation policy at hospital. Meanwhile, there are some hospital not yet implement it. Objective: this study was to identify differences in nurses’ knowledge and abilities after training. Methods: pre-experiment with pre-post without a control group, a sample of all Primary Nurse and Shift Guidance (n = 17), Measurement of knowledge by conducting a written test before and after training, and measurement of the ability to handover nurses with SBAR communication conducted handover observations before and after training using observation sheets. Data analysis by paired t-test and Wilcoxon test. Results: there were significant differences in the mean of knowledge before and after training (p-value <0.001), there were significant differences in the mean ability of nurses before and after SBAR communication training in the handover of patients between shifts (p-value <0.001). Discussion: SBAR communication must become a culture, its implementation needs managerial support and nurse commitment. Conclusion: communication with SBAR could improve effectively socialization, motivation, mentoring, supervision, and continuing education development.Keywords: Communication, knowledge, SBAR, handover
ANALISIS KEBUTUHAN KADER KESEHATAN DALAM MENGATASI PENYAKIT TIDAK MENULAR SAAT PANDEMI COVID-19 DI BANTEN Tuti Nuraini; Nani Asna Dewi; Retno Lestari; Ice Yulia Wardani; Poppy Fitriani; Shanti Farida Rachmi
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 6, No 1 (2021)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v6i1.255

Abstract

Penyakit tidak menular (PTM) merupakan komorbid yang akan memperberat kondisi kesehatan seseorang saat terserang COVID-19. Kader kesehatan berperan penting dalam meminimalkan dampak tersebut namun masih sedikit informasi yang tersedia mengenai kebutuhan kader untuk dapat mengoptimalkan peran tersebut.  Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kebutuhan kader untuk membantu masyarakat dengan PTM di wilayah Banten saat pandemi COVID-19 di daerah yang berpotensi bencana. Metode: Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan melakukan Focus Group Discussions (FGD) pada 43 orang kader dari dua desa. Pengumpulan data dilakukan masing-masing tiga kali, sepanjang bulan November 2019 dan 2020, di dua desa.  Data dianalisis dengan metode konten analisis. Hasil: Didapatkan 3 tema kebutuhan kader, yaitu: (1) Kader butuh dukungan dari keluarga, tokoh masyarakat, dan tenaga kesehatan; (2) Masyarakat kurang sadar kesehatan; (3) Masyarakat lebih percaya pengobatan tradisional dan belum memiliki Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). Diskusi: Kader adalah orang pilihan yang bersedia membantu tetangganya tanpa pamrih. Namun, tidak mudah agar dapat dipercaya masyarakat. Pembekalan kader dengan ilmu keperawatan diperlukan untuk peningkatan kesehatan masyarakat. Kesimpulan: Kader perlu dukungan berbagai pihak agar dapat melakukan perannya dengan baik. Pengetahuan dari mulai deteksi dini sampai penanganan dengan pendekatan budaya merupakan bekal yang penting untuk kader dalam mengatasi PTM di masa pandemi COVID-19. Hal ini merupakan salah satu strategi untuk mencegah risiko terjadinya dan akibat dari PTM dan terpapar COVID-19. Keterlibatan tokoh masyarakat, persepsi positif dan pengetahuan tentang PTM dan pandemi COVID-19 menjadi penentu keberhasilan program pemerintah dalam pengendalian PTM di masa Pandemi ini.Kata kunci: bencana, COVID-19, kader kesehatan, pengetahuan, penyakit tidak menular.Analysis of the Need for Health Cadres in Overcoming Non-Communicable Diseases During the Covid-19 Pandemic in Banten ABSTRACTNon-communicable diseases (NCDs) are comorbidities that will worsen a person's health condition when they are attacked by the COVID-19. Health cadres play an important role in minimizing such impact, but little information is available regarding the needs of cadres to optimize this role. Objective: This research aims to identify the needs of cadres to assist communities with NCDs in Banten region during the COVID-19 pandemic in areas with potential disasters. Methods: The research is qualitative by conducting Focus Group Discussions (FGD) on 43 cadres from two villages. Data were collected three times each, in November 2019 and November 2020, in two villages. Data were analyzed by using content analysis method. Results: There were 3 themes of cadre needs, namely: (1) Cadres need support from families, community leaders, and health workers; (2) People were less aware of health; (3) People believed more in traditional medicine and did not have health insurance from the Social Security Administering Agency (BPJS). Discussion: Cadres were chosen people who are willing to help their neighbors selflessly. However, it is not easy to be trusted by the community. It is necessary to provide cadres with nursing knowledge to improve public health. Conclusion: Cadres need support from various parties to play their roles well. Knowledge from early detection to handling with a cultural approach is important in overcoming NCDs during the COVID-19 pandemic. This is one of the strategies to prevent the risk of incidence and consequences of NCDs and exposure to COVID-19. The involvement of community leaders, positive perceptions and knowledge about NCDs and the COVID-19 pandemic are the determinants of the success of government programs in controlling NCDs during this Pandemic.Keywords: disaster, COVID-19, health cadres, knowledge, non-communicable diseases.  
Systematic Review: The use of Propolis Mouthwash in Reducing Mucositis in Cancer Patients Undergoing Chemotherapy and Radiation Therapy Ngolu Siregar; Tuti Nuraini; Riri Maria; Yossie Susanti Eka Putri
Indonesian Journal of Global Health Research Vol 7 No 4 (2025): Indonesian Journal of Global Health Research
Publisher : GLOBAL HEALTH SCIENCE GROUP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/ijghr.v7i4.6490

Abstract

A systematic review of randomized clinical trials in cancer patients on the effectiveness of propolis mouthwash use in post-chemo and radiation cancer patients. Oral mucositis (OM) is a common and highly symptomatic complication of cancer therapy that affects function, quality of life. Chemotherapy and radiation are the most widely used interventions in cancer treatment. The prevalence of oral mucositis side effects among HNC patients is 93.9%. Research on the management of OM is still ongoing. This study aims to analyze a systematic review of the use of propolis in preventing and reducing the severity of oral mucositis in cancer patients undergoing chemo- and radiation therapy. Four databases through article searches tailored to the formulation of PICO questions consisting of ScienceDirect, Pubmed, ProQuest, Sage journals and EBSCO, A total of 2,252 articles were identified, and 8 articles were included in the final analysis. Of the ten articles selected, there were 6 articles that were suitable for oral mucositis treatment interventions that showed the effectiveness of using propolis mouthwash to treat ral mucositis with a Randomized Controlled Trial (RCT) design. The use of propolis mouthwash for oral mucositis can be done to overcome and prevent oral mucositis in cancer patients undergoing chemo and radiation therapy.