Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

KETAHANAN DAN KERENTANAN KOTA TERHADAP BENCANA Anggia Riani Nurmaningtyas
Jurnal MEDIAN Arsitektur dan Planologi Vol 2 No 02 (2012): Jurnal Median
Publisher : Universitas Sains dan Teknologi Jayapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (923.53 KB)

Abstract

Kota adalah sistem yang kompleks dan sangat rentan terhadap ancaman dari bencana alam dan non-alam. Komprehensif strategi mitigasi bencana perkotaan ditujukan pada penciptaan berketahanan kota, mampu menahan kedua jenis ancaman bencana. Artikel ini meninjau hubungan antara ketahanan dan kerentanan dari kota bencana, tindakan antisipatif terhadap bencana dengan menerapkan prinsip-prinsip merancang sebuah kota yang berketahanan. Belajar dari pengalaman bencana di masa lalu, seperti halnya Jepang memimpin negara bangsa yang tahan terhadap bencana yang sering terjadi. Meminimalkan jumlah korban jiwa dan harta benda, dampak sosial dan ekonomi pasca-bencana tidak bisa lepas dari peran pemerintah dan masyarakat untuk mengambil tindakan dan reaktif antisipasif. Salah satu tindakan antisipasif adalah untuk merancang sebuah kota bertenaga tinggi terhadap gempa bumi dan tsunami sebagai bagian dari langkah-langkah mitigasi bencana.
REDESAIN RUSUNAWA UNIVERSITAS SAINS DAN TEKNOLOGI JAYAPURA DENGAN PENDEKATAN KONSEP SMART BUILDING Cakra Putra Pamungkas; Anggia Riani Nurmaningtyas; Indah Sari Zulfiana
Jurnal MEDIAN Arsitektur dan Planologi Vol 13 No 1 (2023): Jurnal Median
Publisher : Universitas Sains dan Teknologi Jayapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58839/jmap.v13i1.1227

Abstract

Setiap perumahan termasuk rusunawa membutuhkan kenyamanan yang terdiri dari beberapa kategori, yaitu: kenyamanan visual, kenyamanan termal, kenyamanan spasial, dan kenyamanan lingkungan. Kenyamanan tempat tinggal bisa didapatkan melalui sistem smart building yaitu sebuah integrasi teknologi dengan instalasi bangunan yang memungkinkan seluruh perangkat fasilitas gedung dapat dirancang dan diprogram sesuai kebutuhan, keinginan, dan kontrol otomatis terpusat. Rusunawa USTJ di Perumahan Dosen USTJ, Organda, Padang Bulan, berada dalam kondisi yang kurang nyaman, mulai dari penghawaan, keamanan, serta utilitas dalam bangunan sehingga redesain gedung diperlukan agar bangunan mampu memberikan kelayakan bagi penghuninya. Redesain Rusunawa USTJ dengan konsep bangunan pintar adalah usaha menciptakan bangunan hunian yang mampu memberikan kenyamanan dan kemudahan bagi penghuninya dari segi penghawaan, keamanan, dan utilitas dengan menggunakan teknologi aktif maupun pasif.
Sosialisasi Dokumen Pendukung Perencanaan Partisipatif di Kabupaten Tolikara Yannice Luma Marnala Sitorus; Normalia Ode Yanthy; Syamsudin Usman; Anggia Riani Nurmaningtyas
E-Dimas: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol 14, No 2 (2023): E-DIMAS
Publisher : Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/e-dimas.v14i2.12139

Abstract

Rendahnya tingkat partisipasi masyarakat Kabupaten Tolikara dalam perencanaan pembangunan dan belum tercapainya tujuan beberapa program pembangunan mendorong pihak pemerintah setempat berinisiatif untuk mengubah strategi perencanaan pembangunan di sana, yaitu diawali dengan pendataan kebutuhan dasar masyarakat kampung dan permasalahan layanan publik yang ada oleh pihak ketiga, dalam hal ini dilaksanakan oleh LSM Ilalang. Langkah tersebut dilakukan mengingat masih minimnya data dasar yang diperlukan pihak pemerintah dalam rangka membina para pimpinan distrik dan kampung pada penyusunan program pembangunan di wilayahnya masing-masing. Keterbatasan sarana prasarana layanan dasar penduduk, seperti transportasi, dan rendahnya kualitas sumber daya manusia, menjadi faktor utama penyumbang rendahnya tingkat partisipasi warga di sana. Lewat sosialisasi dokumen pendukung dan strategi program pembangunan pada pemerintah distrik, diharapkan ada perluasan informasi dasar pada kepala-kepala kampung sehingga meningkatkan partisipasi masyarakat dalam memberikan usulan-usulan program pembangunan di setiap kampung. Sosialisasi tersebut berupa pemaparan susunan dokumen pendukung yang mudah diakses dan usulan program pembangunan setelah menganalisis dokumen pendukung tadi. Setiap kepala distrik diharapkan dapat mendampingi pemerintah kampung saat mengakses dokumen pendukung dan menyusun sendiri program pembangunan mereka yang lebih detail disesuaikan dengan kondisi yang ada di setiap kampung.
PELATIHAN PENGGUNAAN TEKNOLOGI INFORMASI DI KAMPUNG YOKA KOTA JAYAPURA N. O. Yanthy; A. R. Nurmaningtyas; S. Usman; Y L MARNALA SITORUS
JURNAL ABDIMAS DINAMIS : JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT Vol 1 No 1 (2020): Jurnal Abdimas Dinamis
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat USTJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Many development programs have been carried out since the implementation of special autonomyin Papua, including the community driven development that was implemented in village. Thedevelopment activities in the village increased after the Village Fund transfer from the centralgovernment. However, there are not every village in Papua can take advantage of this opportunityproperly. For example, because the villagers could not make a report of responsibility for thedevelopment funds that they received, the funds were disbursed at a later stage by the government.To overcome this, the Head of Yoka Village then asked for help from higher education institutions.After take a pre-survey to Yoka Village, the institution then provides an initial solution by providingtraining in the use of information technology to the villagers. The training team consists of lecturerswho train in accordance with the abilities of each citizen. The training was conducted at the VillageOffice Hall and one participant received one trainer along with a computer facility during thepractice. Only a small number of participants attended because most villagers preferred farming. Itis different if the participants are given money, for example in lieu of transportation costs. The levelof participation of residents of Yoka Village is still in the category of participation due to materialincentives. However, for the few residents who were willing.
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MELALUI PEMANFAATAN SEPTIC TANK KOMUNAL BERKELANJUTAN DIKAMPUNG IFAR BESAR DISTRIK SENTANI KABUPATEN JAYAPURA Haurissa, Ryan; Rani, Ajeng Dewi; Nurmaningtyas, Anggia R; Anggraeni, Dewi
JURNAL ABDIMAS DINAMIS : JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT Vol 5 No 2 Juni (2024): Abdimas Dinamis
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat USTJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58839/jad.v5i2.1376

Abstract

Kampung Ifar Besar merupakan salah satu kampung yang terletak di Kabupaten Jayapura dengan luas wilayah + 5,23 ha. Jumlah penduduk kampung Ifar Besar sebanyak 723 Jiwa dan 215 kepala keluarga. Mayoritas mata pencahariaan masyarakat disini ialah nelayan dan berternak. Saat ini terdapat 50 septic tank berbahan fiberglass bantuan pemerintah daerah yang dimiliki oleh warga. Namun hingga kini fasilitas tersebut belum sepenuhnya dirasakan oleh masyarakat. Faktor utama disebabkan oleh kejadian septictank fiberglass yang pernah dipasang sebelumnya mengalami kebocoran, mengeluarkan bau tak sedap, dan ketidaktahuan dalam mengolah tinja pada septictank. Pengabdian kepada masyarakat ini memiliki target capaian yakni tumbuhnya kesadaran dan pemahaman masyarakat Kampung Ifar Besar akan manfaat dan kemudahan dalam pengelolaan penggunaan septictank fiberglass, bertambahnya pengetahuan masyarakat akan opsi penerapan jenis septictank yang sesuai dengan wilayah masyarakat, dan Meningkatnya nilai estetika, kebersihan, kesehatan, dan kenyamanan masyarakat. Tahapan dalam pengabdian ini dimulai dengan mengadakan sosialisasi kepada aparat kampung dan masyarakat, pendampingan pengadaan material, bahan, serta pemasangan dan pengelolaan septictank fiberglass di salah satu rumah warga. Rangkaian kegiatan pendampingan pemasangan dan pengolahan septictank fiberglass lengkap dengan Rincian Anggaran Biaya (RAB) serta adanya video animasi yang dibuat, membuat terbukanya wawasan, pemahaman, dan dijadikan pedoman masyarakat setempat untuk instalasi berikutnya secara mandiri sesuai standar.
PENATAAN KAWASAN WISATA KAMPUNG TABLANUSU , DISTRIK DEPAPRE, KABUPATEN JAYAPURA Rumawak, Sarah Agustina; Nurmaningtyas, Anggia Riani; Suhartawan, Bambang; Rani, Ajeng Dewi; Sapari, Sapari
JURNAL ABDIMAS DINAMIS : JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT Vol 6 No 1 Januari (2025): Abdimas Dinamis
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat USTJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58839/jad.v6i1.1467

Abstract

Tablanusu adalah salah satu kampung di Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura, Papua, Indonesia. Berjarak sekitar 60 km dari Kota Jayapura atau 2 jam perjalanan dengan mengendarai mobil. Kampung Tablanusu memiliki Luas Wilayah + 230 ha. Jumlah penduduk kampung Tablanusu dihuni sekitar 500 kepala keluarga (KK) dan telah tertata rapi administratif kampungnya. Meskipun hanya kampung kecil dan berada jauh di pelosok, kampung ini sudah tertata secara baik. Misalnya, di kampung adat ini sudah ada RT dan RW. Dan, bahkan setiap gang yang terdapat di kampung tersebut sudah ada namanya. Kampung Tablanusu terletak pada 2°-3° Lintang Selatan dan 139°-140° Bujur Timur. Dari pengamatan secara langsung di lapangan letak Kampung Tablanusu yang kurang strategis karna terlalu jauh untuk di jangkau dari akses dari jalan raya dan letaknya cukup jauh dengan bandara udara, atm, pertokoan, dan tempat umum lainnya. Untuk fasilitas seperti jalan, sekolah, puskesmas, dan posyandu semuanya cukup baik. Mayoritas mata pencahariaan masyarakat Kampung Tablanusu ialah nelayan dan berternak. Kampung Tablanusu, Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura, Papua memiliki potensi wisata. Dengan kekayaan alam serta tersedianya homestay bisa memberikan manfaat ekonomi. Dikutip dari kantor berita Antara, bantuan bahan bangunan pondok wisata diberikan Dewan Perwakilan Rakyat Papua (DPRP) kepada warga kampung. Tujuannya adalah membantu mengembangkan objek wisata di daerah itu. Salah satu pengelola pondok wisata penerima bantuan mengatakan pihaknya akan memanfaatkan bantuan tersebut untuk pengembangan objek wisata di tempatnya. Dengan penataan kawasan wisata pantai disana, diharapkan akan lebih banyak pengunjung yang berkunjung ke Depapre. Khususnya ke Kampung Tablanusu.
KAJIAN PERUBAHAN PERMUKIMAN SUKU BAJO BERDASARKAN KONSEP TRANSFORMASI KEBUDAYAAN IGNAS KLEDEN Salipu, Muhammad Amir; Mulyati, Ahda; Nurmaningtyas, Anggia Riani; Santoso, Imam
Mintakat: Jurnal Arsitektur Vol. 23 No. 2 (2022): September 2022
Publisher : Architecture Department University of Merdeka Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26905/jam.v23i2.7830

Abstract

Permukiman suku Bajo yang dikenal dengan permukiman di atas laut tersebar di beberapa wilayah perairan di Indonesia, salah satunya di wilayah pantai BajoE, Kabupaten Bone Sulawesi Selatan. Awalnya mereka tinggal di atas perahu, kemudian mengalami perubahan, mulai membuat rumah di atas alr, lalu berangsur-angsur bergeser membangun rumah di daratan. Perubahan permukiman dari laut ke daratan merupakan proses yang cukup lama dan dipengaruhi oleh lingkungan sekitar baik faktor fisik (alam) maupun non fisik (kebudayaan). Menurut Kleden, (1987), perubahan kebudayaan sebagai sebuah proses merupakan gerakan tiga langkah sesuai arah pandang perubahan yang dapat disebut sebagai proses transformasi kebudayaan. Transformasi kebudayaan, adalah perubahan pada sistem nilai (value system), kerangka pengetahuan dan makna (system meaning), tingkah laku, interaksi dan pelembagaan bentuk-bentuk interaksi. Konsep transformasi kebudayaan tersebut dapat dipergunakan untuk mengkaji transformasi permukiman suku Bajo di BajoE dari arah pandang perubahan fisik permukiman, sosial dan ekonomi. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kepustakaan, wawancara dan tinjauan lapangan untuk mendeskripsikan perubahan yang terjadi baik fisik maupun non fisik dari permukiman suku Bajo. Metode kepustakaan dipergunakan karena data yang berkaitan dengan masa lalu tidak dapat diamati secara empiris seperti pemahaman terhadap peristiwa masa lalu yang berkaitan dengan sejarah, persepsi dan sistem nilai budaya.  Berdasakan hasil penelitian diperoleh kesimpulan bahwa konsep trasnformasi kebudayaan Ignas Kleden dapat menjelaskan proses transformasi permukiman suku Bajo yang terdiri atas tiga langkah yaitu: integrasi, desintegrasi, reintegrasi (value system) dan orientasi, disorientasi, reorientasi (system of meaning). Di samping itu, perubahan kebudayaan akan merubah: Tingkah laku dari penerimaan pola, adakalanya melalui penolakan pola menjadi penerimaan pola-pola baru. Orang yang berinteraksi dari sosilisasi, melalui disosialisasi menjadi resosialisasi. Serta pemantapan bentuk-bentuk interaksi dari organisasi, melalui disorganisasi menjadi reorganisasi. Dampak dari perubahan lokasi tersebut terhadap aspek fisik adalah terjadinya perubahan pada: lokasi rumah (di atas laut ke daratan), bentuk, luas, dan tampilan rumah. Dampak pada aspek non fisik yaitu peningkatan aspek sosial ekonomi masyarakat suku Bajo di BajoE Kabupaten Bone.---------------------------------------------------------------------------The settlements of the Bajo tribe, which are known as settlements on the sea, are scattered in several water areas in Indonesia, one of which is in the BajoE coastal area, Bone Regency, South Sulawesi. At first they lived on a boat, then underwent changes, began to build houses on the river, then gradually shifted to building houses on land. Changes in settlements from sea to land is a long process and is influenced by the surrounding environment, both physical (natural) and non-physical (cultural) factors. According to Kleden, (1987), cultural change as a process is a three-step movement according to the direction of change which can be called a process of cultural transformation. Cultural transformation, is a change in the value system, the framework of knowledge and meaning (system meaning), behavior, interaction and institutionalization of forms of interaction. The concept of cultural transformation can be used to examine the transformation of Bajo tribal settlements in BajoE from the perspective of physical, social and economic changes in settlements. This research was conducted using literature, interviews and field reviews to describe changes that occurred both physically and non-physically from the Bajo tribal settlements. The library method is used because data related to the past cannot be observed empirically such as understanding past events related to history, perceptions and cultural value systems. Based on the results of the study, it was concluded that the concept of cultural transformation of Ignas Kleden can explain the transformation process of the Bajo tribal settlements which consists of three steps, namely: integration, disintegration, reintegration (value system) and orientation, disorientation, reorientation (system of meaning). In addition, cultural change will change: Behavior from acceptance of patterns, sometimes through rejection of patterns to acceptance of new patterns. People who interact from socialization, through being socialized into resocialization. As well as strengthening the forms of interaction from the organization, through disorganization into reorganization. The impact of the change in location on the physical aspect is a change in: the location of the house (above the sea to the mainland), the shape, area, and appearance of the house. The impact on non-physical aspects is an increase in the socio-economic aspects of the Bajo tribal community in BajoE, Bone Regency.
Study of Theory Based on Security at Silimo Settlement in The Baliem Valley of Papua Salipu, Muhammad Amir; Nurmaningtyas, Anggia Riani; Zebua, Mercyana Trianne; Santoso, Imam
Local Wisdom Jurnal Ilmiah Kajian Kearifan Lokal Vol. 14 No. 2 (2022): July 2022
Publisher : University of Merdeka Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26905/lw.v14i2.7594

Abstract

In the Baliem Valley, Papua, the tradition of tribal wars in the culture of the Hubula tribe in the past is related to the concept of site selection, spatial planning, and building form in the Silimo settlement. The problem in this study is how the selection of location, spatial planning, building form, and territoriality become the concept of security in a traditional settlement. The purpose of the study was to determine the security concept in traditional Silimo settlement that consists of site selection, spatial planning, building form, and territoriality based on security theory in settlements. In answering the problem of this research, the researchers use qualitative research methods. The researchers also use a phenomenological approach to explain or reveal the meaning of concepts or phenomena of experience based on the awareness that occurs in several individuals related to security in the Silimo settlement. The theories used in this research are the security theory in crime prevention and the theory of defensible space. The result of this research is that security theory can explain that the selection of location, spatial planning, and building form in the Silimo settlement of the Hubula Tribe in the Baliem Jayawijaya Valley was built based on the traditional conception of security. The concept of security in the Silimo settlement can be realized by: 1) The concept of territory as a defense space and territory as a territory of power; 2) The concept of space as a personal space and a public space: 3) The concept of Kinship, confederation, norms, customary rituals, which become the Patterns and Concepts of Space and Building Forms and Constructions are forms of Social Relations, Natural Relations and Ancestral Relations, to actualize a security system in Silimo settlement.
Pendampingan Perencanaan Terminal Singgah di Kampung Waiya Distrik Depapre Kabupaten Jayapura Haurissa, Ryan; Sembor, Thelly SH; Nurmaningtyas, Anggia R; Anggraeni, Dewi
JURNAL ABDIMAS DINAMIS : JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT Vol 6 No 2 Juni (2025): Abdimas Dinamis
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat USTJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58839/jad.v6i2.1527

Abstract

Kampung Waiya terletak di Distrik Depapre Kabupaten Jayapura yang merupakan salah satu kampung yang menjadi lokasi pengabdian kepada masyarakat. Kampung Waiya merupakan pusat pemerintahan,pasar, sekolah dan infrastruktur dasar lainnya. Dari hasil pengamatan lapangan masih banyak terdapat kekurangan dalam berbagai hal. Salah satunya Infrastruktur terminal, yang jauh dari standar terminal. Oleh sebab itu diperlukan perencanaan ulang terminal pada lokasi yang sama karena lahan yang tersedia memadai. Metode perencanaan terdiri dari beberapa tahapan , yaitu: survey pendahuluan, wawancara, pengukuran serta perencanaan detail hingga gambar rencana. Akhir dari hasil perencanaan ini disosialisasikan ke masyarakat dan aparat kampung guna melengkapi beberapa hal dari sisi kebutuhan teknis. Produk yang telah disetujui akan diserahkan kepada Aparat kampung yang bisa dipakai sebagai bahan referensi dalam Musrengbang di tingkat Kampung, Distrik bahkan sampai tingkat Kabupaten dengan harapan dapat terealisasi dalam berbagai program yang sumber dananya juga bisa mencukupi
PERANCANGAN KONSERVATORI DAN LABORATORIUM ANGGREK BERBASIS ARSITEKTUR BERKELANJUTAN DI JAYAPURA Rumayomi, Djenny M.S; Nurmaningtyas, Anggia Riani; Utomo, Sugito
Jurnal MEDIAN Arsitektur dan Planologi Vol 15 No 01 (2025): Jurnal Median
Publisher : Universitas Sains dan Teknologi Jayapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58839/jmap.v15i01.1536

Abstract

Konservasi anggrek sebagai tanaman endemik Papua membutuhkan dukungan infrastruktur arsitektur yang responsif terhadap iklim, ekologis, dan berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan merancang konservatori dan laboratorium anggrek yang terintegrasi dengan fungsi edukatif dan ilmiah di Distrik Waibu, Kabupaten Jayapura. Metode pendekatan yang digunakan adalah studi tapak, analisis iklim, serta integrasi prinsip arsitektur berkelanjutan. Hasil perancangan menunjukkan bahwa pemanfaatan panel surya, sistem rainwater harvesting, ventilasi silang, dan pemilihan material lokal mampu menciptakan sistem bangunan yang efisien dan kontekstual. Selain itu, zonasi fungsi ruang yang terdiri dari ruang kultur jaringan, nursery, aklimatisasi, dan ruang edukasi publik menjadi inovasi utama dalam mendukung siklus hidup anggrek secara menyeluruh. Konservatori ini tidak hanya berfungsi sebagai fasilitas pelestarian tanaman, tetapi juga sebagai laboratorium terbuka yang mendukung pembelajaran lingkungan dan pemberdayaan masyarakat. Integrasi antara desain arsitektural dan strategi konservasi menjadikan proyek ini sebagai model konservasi tropis berkelanjutan yang dapat direplikasi di wilayah lain dengan karakter serupa.