Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

KOLESTASIS EKTRAHEPATIK ET CAUSA ATRESIA BILIER PADA SEORANG BAYI Mawardi, Merry; Warouw, Sarah M.; Salendu, Praevilia M.
Jurnal Biomedik : JBM Vol 3, No 2 (2011): JURNAL BIOMEDIK : JBM
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.3.2.2011.868

Abstract

Abstract: Cholestasis in babies is an obstruction of the flow of bile and other materials excreted by liver, resulting in an increase of direct bilirubin and an accumulation of bile salts. This condition is found in 1:25,000 of live births. One of the causes of cholestasis is biliar atresia that can occur in every part of the extrahepatic bile ducts. In this condition, an inflammatory necrosis destroys the extrahepatic bile duct and ends with an obliteration of the duct. The main causes reported were an immunological process, viral infections (mostly retrovirus type 3), toxic bile acids, and genetic disorders. Biliar atresia is found in 1:15,000 births. Diagnosis of biliar atresia is based on  abdominal ultrasonography (USG) to eliminate a choledochus cyst as the cause of obstruction. A liver biopsy has to be carried out to find out the possibility of intrahepatic cholestasis. If the diagnosis of biliar atresia is still difficult to be confirmed, a cholangiography has to be performed. Management of extrahepatic biliar atresia is a surgical intervention of the extrahepatic bile duct (Kasai portoenterostomy technique) and/or a liver transplant. Key words: cholestasis, biliar atresia, complications, management.     Abstrak: Kolestasis pada bayi adalah hambatan aliran empedu dan bahan-bahan yang harus diekskresikan oleh hati, yang menghasilkan terjadinya peningkatan bilirubin direk dan penumpukan garam empedu. Kolestatis pada bayi terjadi pada 1:25.000 kelahiran hidup. Atresia bilier dapat terjadi pada semua bagian saluran empedu ekstrahepatik dan merupakan kelainan nekrosis inflamatorik yang menyebabkan kerusakan dan akhirnya obliterasi saluran empedu ekstrahepatik. Penyebab utama yang pernah dilaporkan adalah proses imunologis, infeksi virus terutama , Reo virus tipe 3, asam empedu yang toksik, kelainan genetik. Atresia bilier ditemukan pada 1 dari 15.000 kelahiran. Diagnosis dari atresia bilier ditegakkan berdasarkan pemeriksaan ultrasonografi (USG) abdomen untuk menyingkirkan adanya kista koledokus sebagai penyebab obstruksi. Biopsi hati merupakan pemeriksaan yang penting dilakukan untuk membedakan dengan intrahepatik kolestasis. Jika diagnosis dari atresia bilier tidak bisa ditegakkan dengan pemeriksaan biopsi hati maka pemeriksaan cholangiography sebaiknya dilakukan. Penanggulangan atresia bilier ekstrahepatik terutama dengan pembedahan saluran empedu ekstrahepatik yaitu portoenterostomi teknik Kasai, dan  transplantasi hati. Kata Kunci: kolestasis, atresia bilier, komplikasi, penanganan.
PENGARUH PENYULUHAN CARA MENYIKAT GIGI TERHADAP INDEKS PLAK GIGI PADA SISWA SD INPRES LAPANGAN Pantow, Claudiette Brigita; Warouw, Sarah M.; Gunawan, Paulina N.
e-GiGi Vol 2, No 2 (2014): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.2.2.2014.6341

Abstract

Abstract: Dental health education conducted to the elementary school students is one of promotive effort to increase oral and dental health. The aim of this study was to know the influence of dental health education about tooth-brushing method toward dental plaque index in the elementary school students of Inpres Lapangan. Research was done in Inpres Lapangan elementary school using quasy experimental method. Samples were taken using total sampling method in a total of 50 respondents. This research used Wilcoxon statistical analysis test. The result showed that before dental health education conducted to the students dental plaque index was moderate category after dental health education conducted, dental plaque index increased to good category. Wilcoxon analysis test showed value of significance p<0,001. This statistical analysis concluded that there was influence of dental health education about tooth brushing method toward dental plaque index of the elementary students in Inpres LapanganKeywords: dental health education,tooth brushing method,plaque indexAbstrak: Penyuluhan cara menyikat gigi pada siswa sekolah dasar merupakan salah satu upaya promotif dalam meningkatkan kesehatan gigi dan mulut anak. Tujuan penelitian ini ialah untuk mengetahui pengaruh penyuluhan cara menyikat gigi terhadap indeks plak gigi pada siswa SD Inpres Lapangan. Penelitian dilakukan di SD Inpres Lapangan, dengan menggunakan metode penelitian quasy eksperimental. Jumlah sampel yang diambil sebanyak 50 siswa dengan teknik pengambilan sampel yaitu total sampling. Penelitian ini menggunakan uji analisis statistik Wilcoxon. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum dilakukan penyuluhan cara menyikat gigi indeks plak awal ialah kategori sedang dan setelah dilakukan penyuluhan cara menyikat gigi indeks plak akhir ialah kategori baik. Hasil uji analisis statistik Wilcoxon ini menunjukkan p<0,001. Hasil analisis ini menunjukan ada pengaruh yang bermakna dari penyuluhan cara menyikat gigi terhadap indeks plak gigi pada siswa SD Inpres Lapangan.Kata kunci: penyuluhan kesehatan gigi, cara menyikat gigi, indeks plak
HUBUNGAN STATUS GIZI DENGAN TEKANAN DARAH PADA SISWA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA NEGERI 1 KOTA BITUNG Andalangi, Jenifer; Warouw, Sarah M.; Umboh, Adrian
e-Biomedik Vol 1, No 1 (2013): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v1i1.4566

Abstract

Abstract: According to Riskesdas in 2010, the prevalences of nutritional status based on BMI at age group 13-15 in North Sulawesi were 0.7% very skinny; 5.3% thin; 90, 5% normal; and 3.4% obese. In Indonesia, the incidences of hypertension in adolescents varies from 3.11% to 4.6%. BMI has a strong relationship with blood pressure; BMI >95th percentile was strongly associated with increased blood pressure >90th percentile. This study aimed to determine the relationship of the nutritional status and blood pressure. The study was conducted in SMPN 1 Bitung. This was an analytic obsevational study with a cross-sectional design. Samples were 105 students aged 11-14 years, obtained by using simple random sampling. The nutritional status was defined as independent variables and the blood pressure as the dependent variable. Data were analyzed by using a chi-square test. The results showed that the nutritional status of students were underweight 10.5%, normal 71.4%, overweight 13.3%, and obese 4.8%. The normal blood pressure were found in 89.5%; high normal blood pressure 8.6%; and hypertension 1.9%. The chi-square test results showed a significant relationship between the nutritional status and the blood pressure (P = 0.001). Conclusion: There was a significant relationship between the nutritional status and the  blood pressure  among the junior high school students in Bitung. Keywords: blood pressure; nutritional status.     Abstrak: Berdasarkan laporan Riskesdas tahun 2010, prevalensi status gizi berdasarkan IMT pada kelompok usia 13-15 tahun di Provinsi Sulawesi Utara menunjukkan angka 0,7% sangat kurus, 5,3% kurus, 90,5% normal, dan 3,4% gemuk. Di Indonesia, angka kejadian hipertensi pada remaja bervariasi dari 3,11% sampai 4,6%. IMT mempunyai hubungan yang kuat dengan tekanan darah, yaitu IMT >persentil 95 berhubungan kuat dengan peningkatan tekanan darah >persentil 90. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan status gizi dan tekanan darah. Penelitian dilakukan di SMP N 1 Bitung. Penelitian ini menggunakan metode survei analitik observasional dengan desain potong lintang, dengan jumlah sampel 105 siswa berusia 11-14 tahun, yang diambil dengan simple random sampling. Status gizi ditetapkan sebagai variabel independen dan tekanan darah sebagai variabel dependen. Uji statistik yang digunakan ialah chi-square. Untuk status gizi di dapat underweight 10,5%, normal 71,4%, overweight 13,3%, dan obes 4,8%. Untuk tekanan  darah didapatkan tekanan darah normal 89,5%, normal tinggi 8,6%, dan hipertensi 1,9%. Hasil uji chi-square menyatakan adanya hubungan bermakna antara status gizi dan tekanan darah (P = 0,001). Simpulan: Terdapat hubungan bermakna antara status gizi dan tekanan darah. Kata kunci: status gizi, tekanan darah.
Perubahan status gizi pada anak dengan leukemia limfoblastik akut selama pengobatan Wolley, Nikmatiah G.A.; Gunawan, Stefanus .; Warouw, Sarah M.
e-CliniC Vol 4, No 1 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v4i1.11693

Abstract

Abstract: Acute lymphoblastic leukemia (ALL) is the most common malignancy diagnosed in children. Study of malnutrition prevalence in children with cancer is determined by nutritional status in the early diagnosis. This is important because it can affect patient’s progress before the treatment begins. This study aimed to determine the nutritional status alteration in children with ALL during treatment. This was a descriptive analytical study with a cohort-restrospective design in ALL patients during treatment at Pediatric Department of Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado during period January 2006 to August 2013. Data were obtained from medical records of Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado. There were 31 respondents suffered from ALL at the age of 1 to 11 years old; males were more frquent than females. There were 17 respondents at standard risk while 14 respondents were at high risk. The results result of paired t-test showed that t-value < table value. Conclusion: There was a significant increase of nutritional status in children with acute lymphoblastic leukemia during treatment Keywords: acute lymphoblastic leukemia, standard risk, high risk, nutritional status Abstrak: Leukemia Limfoblastik Akut (LLA) merupakan keganasan yang paling sering didiagnosis pada anak-anak. Studi prevalensi malnutrisi pada anak-anak dengan kanker ditentukan oleh status gizi pada awal diagnosis. Hal ini penting karena dapat berpengaruh pada perkembangan pasien sebelum pengobatan dimulai. Penelitina ini bertujuan untuk mengetahui perubahan status gizi pada anak dengan LLA selama pengobatan. Jenis penelitian ini deskriptif analitik dengan metode studi kohort-retrospektif terhadap pasien LLA selama pengobatan di Bagian Ilmu Kesehatan Anak RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado selama periode Januari 2006 – Agustus 2013. Sumber data didapatkan dari rekam medik di RSUP Prof. dr. R. D. Kandou Manado. Didapatkan 31 sampel yang menderita LLA pada usia 1-11 tahun, laki-laki lebih banyak menderita LLA. Terdapat 17 sampel dengan risiko standar dan 14 sampel dengan risiko tinggi. Hasil analisis t-berpasangan menunjukan nilai t-hitung<nilai tabel. Simpulan: Terdapat peningkatan status gizi secara bermakna pada anak dengan leukemia limfoblastik akut selama pengobatan.Kata kunci: leukemia limfoblastik akut, risiko standar, risiko tinggi, status gizi
Gambaran prevalensi malaria pada anak SD YAPIS 2 di Desa Maro Kecamatan Merauke Kabupaten Merauke Papua Daysema, Sharky D.; Warouw, Sarah M.; Rompis, Johnny
e-CliniC Vol 4, No 1 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v4i1.10830

Abstract

Abstract: Malaria is an infectious disease caused by Plasmodia which invade erythrocytes and is diagnosed by the asexual forms in blood. WHO estimated 3,4 billion people were at risk of malaria and 207 million cases of malaria occurred globally in 2012 and 627.000 deaths. Papua Province is one of the provinces in Indonesia that has high malaria rate. This study aimed to determine the prevalence of malaria parasites in students of SD Yapis 2, Merauke, Papua. This was a descriptive observational study with a cross-sectional approach. Samples were obtained by using simple random sampling associated with active detection by using microscopic examination and the Rapid Diagnostic test. There were 100 children aged between 6-13 years old. The results showed that SD Yapis 2 was categorized as a prevalent medium area with a PR 15%. There were 15% children infected by P. falciparum species. Conclusion: SD Yapis 2 was categorized as a medium prevalent area with Plasmodium falciparum species.Keywords: malaria, plasmodium falciparum, microscopic examination, rapid diagnostic testsAbstrak: Malaria adalah penyakit infeksi parasit yang disebabkan oleh Plasmodium yang menyerang eritrosit dan ditandai dengan ditemukannya bentuk aseksual dalam darah. WHO memperkirakan 3,4 milliar orang beresiko terkena malaria dan 207 juta kasus terjadi pada tahun 2012 dan 627.000 kematian. Provinsi Papua merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki angka kasus malaria cukup tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi parasit malaria pada anak SD Yapis 2, Merauke, Papua. Penelitian ini menggunakan metode observasional deskriptif dengan pendekatan potong lintang. Sampel diperoleh dengan metode simple random sampling serta dilakukan secara active detection dengan pemeriksaan mikroskopik dan penggunaan Rapid Diagnostic Tests. Sampel diperoleh sebanyak 100 anak usia 6-13 tahun. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa SD Yapis 2 termasuk medium prevalent area dengan PR 15%. Jenis Plasmodium yang ditemukan yaitu P. falciparum menginfeksi anak-anak sebesar 15%. Simpulan: SD Yapis 2 dapat di kategorikan daerah prevalensi sedang (medium prevalent area) dengan spesies malaria P. falciparum.Kata kunci: malaria, plasmodium falciparum, pemeriksaan mikroskopis, tes diagnosis cepat
Hubungan antara kadar kolesterol total dengan tekanan darah pada remaja obes Rupang, Jason G.; Warouw, Sarah M.; Masloman, Nurhayati
e-CliniC Vol 4, No 2 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.4.2.2016.14727

Abstract

Abstract: Obesity is a disorder or disease that characterized by excessive accumulation of adipose tissue. Obesity is a world health problem and increasingly common in various countries. The most common causes of obesity are genetic factors, physical inactivity, and unhealthy diet. Obesity and high total cholesterol level in adolescent cause various chronic diseases, such as diabetes mellitus, coronary heart disease, and cerebrovascular disease. The aim of this study is to investigate the correlation between total cholesterol level and blood pressure in obese adolescents. This is an analytical observational study, using cross sectional design. Samples were chose using consecutive sampling technique in two junior high schools and senior high schools in Tomohon Tengah district, Tomohon City. Samples are adolescent age 13-15 years old, which was selected through anthropometric examination, blood pressure measurement, and blood sample collection. The result from 38 samples showed that there is no correlation between total cholesterol level with blood pressure, both systolic blood pressure (p=0.867) and diastolic blood pressure (p=0.627). Conclusion: There is no correlation between total blood cholesterol and blood pressure (both systolic and diastolic). Parents should pay more attention to the children’s health and diet to prevent a prolonged obesity.Keywords: obesity, total cholesterol, blood pressure, adolescent Abstrak: Obesitas atau kegemukan adalah suatu kelaianan atau penyakit yang di tandai oleh penimbunan jaringan lemak dalam tubuh secara berlebihan. Obesitas merupakan masalah kesehatan dunia yang semakin sering ditemukan di berbagai Negara. Penyebab paling sering menyebabkan obesitas adalah faktor genetik, kurangnya aktifitas fisik dan pola makan yang tidak sehat. Obesitas dan kolesterol total yang berlebih pada remaja merupakan penyebab terjadinya berbagai penyakit kronik termasuk hipertensi, diabetes melitus, penyakit jantung koroner, dan penyakit serebrovaskular. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kadar kolesterol total dengan tekanan darah pada remaja obes. Jenis penelitian ialah analitik observasional dengan rancangan potong lintang dengan teknik consecutive sampling pada dua SMP dan dua SMA di Kecamatan Tomohon Tengah, Kota Tomohon pada bulan September hingga November 2016. Sampel pada penelitian adalah remaja yang berusia 13-15 tahun. Data yang diambil melalui pemeriksaan antropometri, pemeriksaan tekanan darah, dan pengambilan sampel darah. Hasil penelitian dari masing - masing 38 sampel menunjukkan tidak terdapat hubungan antara kadar kolesterol total dengan tekanan darah sistolik (p=0.867) dan tekanan darah diastolik (p=0.627).Simpulan: Tidak terdapat hubungan antara kadar kolesterol total dengan tekanan darah (TDS&TDD). Orang tua diharapkan lebih memperhatikan kesehatan dan pola makan untuk mencegah terjadinya obesitas yang berkepanjangan. Kata kunci: obesitas, kolesterol total, tds, tdd, remaja
PENGARUH PEMBERIAN SAGU DIBANDING NASI TERHADAP BERAT BADAN TIKUS WISTAR Watumlawar, Eny A.; Warouw, Sarah M.; Gunawan, Stefanus
e-CliniC Vol 3, No 2 (2015): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v3i2.8545

Abstract

Abstract: Weight is one measure that gives description of the tissue mass including body fluids. Weight change is nfluenced by nutriment consumption. Sago contains high carbohydrates that can increase body weight. This study aimed to obtain the effect of sago compared to rice to body weight of wistar rats. This was a random laboratory experimental pre-post test with control group design. Subjects were male wistar rats, aged 5-6 months. The rats were divided in two groups: rice group as control and sago group. Sago was cooked in papeda form as much as 75 g of dried sago and 300 mL water. The rats were fed for 2 weeks. Data were analyzed by using the Wilcoxon test. The results showed that the sago group showed an increase of body weight significantly (p=0,001) meanwhile the rice group lose body weight significantly (p=0,001). Conclusion: Sago can increase body weight of wistar rats significantly.Keywords: body weight, sago, riceAbstrak: Berat badan merupakan salah satu ukuran yang memberikan gambaran massa jaringan termasuk cairan tubuh. Salah satu yang memengaruhi berat badan yaitu dengan mengonsumsi makanan bergizi. Sagu memiliki kandungan karbohidrat (pati) yang besar dan dapat meningkatkan berat badan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian sagu terhadap berat badan dibanding nasi pada tikus wistar. Desain penelitian ini ialah eksperimental laboratorium acak pre-post test with control group design. Subjek penelitian ialah tikus wistar jantan berusia 5-6 bulan dibagi atas 2 kelompok: kelompok nasi (kontrol) dan kelompok sagu. Sagu dimasak dalam bentuk papeda sebanyak 75 g sagu kering dan 300 mL air. Tikus diperlihara selama 2 minggu. Berat badan diukur dengan menggunakan timbangan. Data dianalisis dengan uji Wilcoxon. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian sagu sebanyak 2 cc setiap hari selama seminggu mampu meningkatkan berat badan secara bermakna (p = 0,001) sedangkan pemberian nasi menurunkan berat badan (p=0,001). Simpulan: Pemberian sagu dapat meningkatkan berat badan tikus wistar secara bermakna.Kata kunci: berat badan, sagu, nasi
PENGARUH LINGKUNGAN DAN TEMPAT TINGGAL PADA PENYAKIT ANAK UMUR 5 – 14 TAHUN DI KOTA BIAK TAHUN 2013 Kaidel, Grace A. D.; Warouw, Sarah M.; Gunawan, Stefanus
e-CliniC Vol 3, No 1 (2015): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v3i1.6427

Abstract

Abstract: Malaria is a disease of the symptoms of acute or chronic infection caused by Plasmodium, characterized by recurrent fever, chills, sweating, anemia and hepatosplenomegali. In Indonesia, malaria is still a major infectious disease, especially the East part. The most frequently found plasmodia are Plasmodium falciparum and Plasmodium malaria vivax. Risk factors are malnutrition, the state of the neighborhood around the bush, rice fields, ditches or gutters with puddle air. According to the Biak Health Department in January-December 2012 there were 3608 cases of malaria in 190 villages and the most commonly found was Plasmodium vivax. This was a descriptive observational study using cross-sectional study design. This study was done once in every neighborhood with diagnosed malaria patients. Samples were children aged 5-14 years who were diagnosed with malaria in public hospitals and health centers in Biak during October to December 2013, and the parents approved the form of a questionnaire study. Conclusion: In Biak, boys aged 5-7 years had the highest percentage of malaria. Environmental factors that affected might be the condition of house ventilation, not using repellent or mosquito nets, opened water reservoirs, puddle areas, bushes, and landfills around the houses.Keywords: malaria, children, environmentAbstrak: Malaria adalah penyakit infeksi akut atau kronis yang disebabkan oleh Plasmodium, ditandai dengan gejala demam rekuren, menggigil, berkeringat, anemia dan hepatosplenomegali. Di Indonesia, malaria masih merupakan penyakit infeksi utama khususnya dibagian Timur. Di kawasan Indonesia Timur plasmodia yang sering ditemukan ialah plasmodia falciparum dan vivax. Faktor risiko terkena malaria yaitu kekurangan gizi, keadaan lingkungan tempat tinggal disekitar semak belukar, persawahan, dan parit atau selokan dengan genangan air. Menurut Laporan Dinas Kesehatan Kota Biak penyakit malaria pada Januari-Desember tahun 2012 berjumlah 3608 kasus dengan jumlah 190 desa yang tertular. Malaria yang sering ditemukan yaitu plasmodium vivax. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lingkungan dan tempat tinggal pada penyakit malaria anak di Kota Biak, dengan rancangan potong lintang. Penelitian hanya dilakukan satu kali pada setiap lingkungan dan tempat tinggal pasien yang terdiagnosis malaria. Sampel ialah anak umur 5-14 tahun yang terdiagnosis malaria di RSU dan Puskesmas di Kota Biak selama bulan Oktober – Desember 2013 dan orang tua menyetujui penelitian berupa kuesioner. Simpulan: Di kota Biak, anak laki – laki berumur 5 – 7 tahun yang terbanyak terkena penyakit malaria. Hal ini mungkin disebabkan oleh faktor lingkungan antara lain ventilasi rumah yang tidak menggunakan kawat kasa, adanya genangan air dan terdapat semak- semak disekitar rumah, tidak memakai kelambu dan obat nyamuk saat tidur, tempat penampungan air yang tidak tertutup, dan tempat pembuangan sampah disekitar rumah.Kata kunci: malaria, anak, lingkugan
HUBUNGAN POLA MAKAN DENGAN STATUS GIZI PADA ANAK USIA 3-5 TAHUN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS TOMPASO KECAMATAN TOMPASO Waladow, Geiby; Warouw, Sarah M.; Rottie, Julia V.
JURNAL KEPERAWATAN Vol 1, No 1 (1): E-Jurnal Keperawatan
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jkp.v1i1.2184

Abstract

Abstract : Based on the data, there is a lack of nutritional status in children aged 3-5 years in districh health centers Tompaso. Diet is an efforts to improve/increase the nutritional status by fulfill the needs of a child’s nutritional status. The purpose on this study, to determine the relationship of diet and nutritional status in children aged 3-5 yers in districh health centers Tompaso. The study design is a cross sectional it is a study where the diet (type of food, frequency of meals, and method) as an independent variable and nutritional status as the dependent variable at once in the same time. The population is all the children aged 3-5 years, who live in Tompaso area with 150 respondent as the samples. The data was collected by questionnaire and calculation of nutritional status as measured by weight/age (W/A). Data analysis using SPSS programe by using the chi-square at a significance level of α = 0,05. The result of the study are 51 respondents who have a good diet with good nutritional status, 4 respondents have a good diet with less nutritional status, 8 respondents did not have a good diet with good nutritional status, and 87 respondents did not have a good diet with less nutritional status. The conclusion there is a strong between the diet and nutritional status on children 3-5 years old with p (0,000). Keywords : diet, nutritional status, children 3-5 years old. Abstrak : Berdasarkan data yang diperoleh, masih banyak terdapat status gizi kurang pada anak usia 3-5 tahun di wilayah kerja Puskesmas Tompaso. Pola makan merupakan salah satu upaya perbaikan/peningkatan status gizi dengan memenuhi kebutuhan status gizi anak. Tujuan penelitian ini, untuk mengetahui hubungan pola makan dengan status gizi pada anak usia 3-5 tahun di wilayah kerja Puskesmas Tompaso. Desain penelitian yang digunakan adalah penelitian cross sectional yaitu suatu penelitian dimana pola makan (jenis makanan, frekuensi makan dan cara pemberian makanan) sebagai variabel independen dan status gizi sebagai variabel dependen diobservasi sekaligus dalam waktu yang bersamaan. Populasi yang diambil adalah semua anak usia 3-5 tahun yang berdomisili diwilayah kerja Puskesmas Tompaso dengan sampel sebanyak 150 responden. Pengumpulan data dilakukan dengan bantuan kuesioner dan perhitungan status gizi yang diukur menurut berat badan/umur (BB/U). Analisis data menggunakan program SPSS dengan menggunakan chi-square pada tingkat kemaknaan α = 0,05. Hasil penelitian yaitu 51 responden yang mempunyai pola makan baik dengan status gizi baik, 4 responden mempunyai pola makan baik dengan status gizi kurang, 8 responden mempunyai pola makan tidak baik dengan status gizi baik, dan 87 responden mempunyai pola makan tidak baik dengan status gizi kurang. Kesimpulan ada hubungan yang kuat antara pola makan dengan status gizi pada anak usia 3-5 tahun, dengan p (0,000). Kata kunci : Pola makan, Status gizi, Anak usia 3-5 tahun