Claim Missing Document
Check
Articles

FROM PREPAREDNESS TO ACTION: STRENGTHENING EMPLOYEE EMERGENCY RESPONSE TROUGH FIRST AID TRAINING Mokh Sujarwadi; Agustini Fitriyah; Gawan Srengenge; Mukhammad Toha; Ida Zuhroidah; Dimas Hadi Prayoga; Nadia Rohmatul Laili; Fatimah Zahra
Jurnal Pengabdian Masyarakat Dalam Kesehatan Vol. 8 No. 1 (2026): APRIL 2026
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jpmk.v8i1.78441

Abstract

Introduction: Workplace accidents are a serious problem in industrial settings, particularly in high-risk production sectors such as pharmaceutical manufacturing. This community service activity aims to improve employee knowledge and skills in providing First Aid through theory-based and practical training. Methods: The training was conducted at a pharmaceutical company in East Java on August 28, 2025, and lasted 6 hours. Participants consisted of 25 employees purposively selected by company management to represent various divisions. The method used was a one-group pre-test and post-test design, utilizing a closed-ended questionnaire containing 15 multiple-choice questions to assess first aid knowledge, as well as a practical assessment to evaluate participants’ skills. The training covered basic first aid principles and focused on three core skills: basic life support, bandaging, and casualty transportation, delivered through interactive lectures and hands-on simulations using standard first aid equipment. Results: A significant improvement in both participants’ knowledge and practical skills after the training. The mean knowledge score increased from 12.36 (pre-test) to 14.27 (post-test), representing an increase of 1.95 points. Conclusion: First aid training was effective in improving both the knowledge and practical skills of employees. A notable increase in knowledge scores, along with enhanced competencies in basic life support, bandaging, and casualty transportation, indicates that the training successfully strengthened participants’ preparedness and ability to respond to emergency situations. These findings highlight the importance of integrating structured first aid training programs in the workplace to improve emergency response capacity. KEYWORDS employees; first aid; occupational safety; training; work accidents
Implementation Of The Tell-Show-Do Method In The Development Of Holistic Learning: Optimizing The Achievements Of 3 Learning Domains (Cognitive, Affective, Psychomotor) Ida zuhroidah; Mokh. Sujarwadi; Mukhammad Toha; Dimas Hadi Prayoga
PROFESSIONAL HEALTH JOURNAL Vol. 6 No. 2 (2025): June
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (PPPM) STIKES Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54832/phj.v6i2.1460

Abstract

Introduction: Comprehensive competency, the integration of three learning domains (cognitive, affective, and psychomotor), is the primary target for graduates in nursing education. In reality, these three learning domains are often not achieved through conventional learning methods. The Tell-Show-Do method is expected to provide an effective solution for achieving holistic learning simultaneously. The purpose of this study is to analyze the effectiveness of the Tell-Show-Do method in optimizing holistic learning outcomes (cognitive, affective, and psychomotor). Methods: This quasi-experimental study, with a pre-test, post-test, and control group design, involved 122 D3 Nursing students from the Pasuruan City Campus, divided into two groups: treatment (n=61) and control (n=61). Data were analyzed using the Paired Sample T-Test, Independent Sample T-Test, and Mann-Whitney U test, with a significance level of α=0.05. Results: The TSD method showed convincing significance in all three domains: Cognitive (Δ=+7.77, p<0.001, d=2.76), Affective (Δ=+9.72, p<0.001, d=3.47), and Psychomotor (Δ=+10.26, p<0.001, d=3.80). The control group did not show any significant improvement (p>0.05). Conclusions: The Tell-Show-Do method has a significant impact on all three domains of learning outcomes, particularly psychomotor skills. Recommendation: Integrate TSD into the nursing education curriculum.
Program DESA FAST: Pemberdayaan Kader Posyandu dan PKK sebagai Edukator Kesehatan Keluarga dalam Deteksi Dini Stroke Ida Zuhroidah; Mokh Sujarwadi; Mukhammad Toha; Nadia Rohmatul Laili; Dimas Hadi Prayoga; Fatimah Zahra; Nurfika Asmaningrum
DEDIKASI SAINTEK Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 2 (2026): Agustus 2026
Publisher : Al-Hijrah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58545/djpm.v5i2.931

Abstract

Stroke masih menjadi salah satu penyebab utama kematian dan kecacatan di Indonesia. Keterlambatan mengenali tanda awal stroke menyebabkan banyak penderita tidak memperoleh penanganan pada masa emas sehingga meningkatkan risiko kecacatan maupun kematian. Keluarga merupakan pihak pertama yang menyaksikan munculnya gejala stroke, namun pengetahuan yang masih terbatas sering kali menyebabkan keterlambatan dalam mencari pertolongan medis. Kader Posyandu dan anggota PKK memiliki posisi strategis sebagai penggerak kesehatan masyarakat karena berinteraksi langsung dengan keluarga. Program pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan kapasitas kader Posyandu dan PKK sebagai health educator keluarga melalui Program DESA FAST. Kegiatan dilaksanakan di Desa Mojoparon dengan melibatkan 50 peserta yang terdiri atas kader Posyandu dan anggota PKK. Metode kegiatan meliputi identifikasi kebutuhan, pretest, penyuluhan interaktif, demonstrasi, simulasi metode FAST (Face drooping, Arm weakness, Speech difficulty, Time to call emergency services), pendampingan praktik edukasi keluarga, serta evaluasi melalui posttest. Peserta juga dilatih menggunakan media edukasi sebagai sarana untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan dan keterampilan peserta dalam mengenali gejala stroke, memberikan respons awal yang tepat, serta menyampaikan edukasi kepada keluarga dengan lebih percaya diri. Skor pengetahuan peserta meningkat dari 63,20 menjadi 89,40, atau meningkat sebesar 41,46%, dan hasil uji Wilcoxon Signed-Rank Test menunjukkan perbedaan yang signifikan (p=0,001). Program DESA FAST menjadi salah satu strategi pemberdayaan masyarakat dalam memperkuat deteksi dini stroke melalui peningkatan kapasitas kader kesehatan sehingga diharapkan mampu mempercepat pengambilan keputusan keluarga untuk segera membawa pasien ke fasilitas pelayanan kesehatan.
Program DESA FAST: Pemberdayaan Kader Posyandu dan PKK sebagai Edukator Kesehatan Keluarga dalam Deteksi Dini Stroke Ida Zuhroidah; Mokh Sujarwadi; Mukhammad Toha; Nadia Rohmatul Laili; Dimas Hadi Prayoga; Fatimah Zahra; Nurfika Asmaningrum
DEDIKASI SAINTEK Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 2 (2026): Agustus 2026
Publisher : Al-Hijrah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58545/djpm.v5i2.931

Abstract

Stroke masih menjadi salah satu penyebab utama kematian dan kecacatan di Indonesia. Keterlambatan mengenali tanda awal stroke menyebabkan banyak penderita tidak memperoleh penanganan pada masa emas sehingga meningkatkan risiko kecacatan maupun kematian. Keluarga merupakan pihak pertama yang menyaksikan munculnya gejala stroke, namun pengetahuan yang masih terbatas sering kali menyebabkan keterlambatan dalam mencari pertolongan medis. Kader Posyandu dan anggota PKK memiliki posisi strategis sebagai penggerak kesehatan masyarakat karena berinteraksi langsung dengan keluarga. Program pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan kapasitas kader Posyandu dan PKK sebagai health educator keluarga melalui Program DESA FAST. Kegiatan dilaksanakan di Desa Mojoparon dengan melibatkan 50 peserta yang terdiri atas kader Posyandu dan anggota PKK. Metode kegiatan meliputi identifikasi kebutuhan, pretest, penyuluhan interaktif, demonstrasi, simulasi metode FAST (Face drooping, Arm weakness, Speech difficulty, Time to call emergency services), pendampingan praktik edukasi keluarga, serta evaluasi melalui posttest. Peserta juga dilatih menggunakan media edukasi sebagai sarana untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan dan keterampilan peserta dalam mengenali gejala stroke, memberikan respons awal yang tepat, serta menyampaikan edukasi kepada keluarga dengan lebih percaya diri. Skor pengetahuan peserta meningkat dari 63,20 menjadi 89,40, atau meningkat sebesar 41,46%, dan hasil uji Wilcoxon Signed-Rank Test menunjukkan perbedaan yang signifikan (p=0,001). Program DESA FAST menjadi salah satu strategi pemberdayaan masyarakat dalam memperkuat deteksi dini stroke melalui peningkatan kapasitas kader kesehatan sehingga diharapkan mampu mempercepat pengambilan keputusan keluarga untuk segera membawa pasien ke fasilitas pelayanan kesehatan.