Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

SIMULASI PENGARUH PERFORMA REAKTOR ESTERIFIKASI METIL ASETAT TERHADAP NILAI FOULING FACTOR PREHEATER KOLOM DISTILASI Pratama, Bintang Aditya; Wibowo, Agung Ari
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 6 No. 2 (2020): August 2020
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v6i2.81

Abstract

Produksi metil asetat dapat dilakukan melalui reaksi esterifikasi. Reaksi yang terjadi antara asam asetat dan methanol akan menghasilkan metil asetat dan air sebagai produk samping. Pada penelitian ini digunakan simulasi reaktor equilibrium menggunakan software ChemCAD. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh nilai fouling factor terhadap efisiensi kinerja heat exchanger dengan melakukan variasi konversi reaksi pada reactor equilibrium dengan menggunakan software ChemCAD. Sedangkan hasil efisiensi kinerja heat exchanger terbaik terjadi pada konversi reaksi 0.9 dengan fouling factor yaitu 0.00768 Btu/jam.ft2.F sehingga semakin tinggi nilai konversi reaksi akan mempengaruhi jumlah fouling factor yang didapatkan dimana semakin kecil nilai fouling factor yang didapatkan maka efisiensi kinerja heat exchanger akan semakin tinggi.
STUDI PENGARUH RATIO UMPAN REAKSI ESTERIFIKASI TERHADAP FOULING FACTOR PREHEATER KOLOM DESTILASI PEMURNIAN PRODUK METIL ASETAT Alfianingrum, Dinda; Wibowo, Agung Ari
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 6 No. 2 (2020): August 2020
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v6i2.70

Abstract

Heat exchanger adalah alat penukar panas yang sangat penting pada produksi metil asetat (MeAc). Pembuatan metil asetat dilakukan dengan menggunakan reaksi esterifikasi. Reaksi ini terjadi antara asam asetat dan metanol yang akan menghasilkan metil asetat dan air sebagai produk samping. Tujuan dari penelitian ini untuk menentukan desain heat exchanger yang efisien pada produksi metil asetat dengan melakukan perubahan pada rasio bahan antara metanol dengan asam asetat yang dilakukan menggunakan simulasi pada software ChemCAD. Pada penelitian ini didapatkan hasil bahwa nilai Clean Overall Heat Transfer Coefficient (Uc), Dirty Overall Heat Transfer Coefficient (Ud), dan Fouling factor (Rd) dipengaruhi oleh komposisi bahan yang melewati heat exchanger, dimana kenaikan jumlah metanol pada umpan akan menurunkan nilai Rd.
OPTIMASI PEMURNIAN ETANOL DENGAN DISTILASI EKSTRAKTIF MENGGUNAKAN CHEMCAD Suharto, Muhammad; Wibowo, Agung Ari; Suharti, Profiyanti Hermien
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 6 No. 1 (2020): February 2020
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v6i1.53

Abstract

Etanol pada beberapa dekade ini menjadi suatu bahan yang banyak diproduksi karena berbagai fungsinya. Pemisahan etanol-air tidak dapat dilakukan dengan distilasi konvensional karena adanya titk azeotrop. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah menggunakan distilasi ekstraktif. Distilasi ekstraktif merupakan proses pemisahan campuran yang terkendala titik azeotrop dengan menambahkan zat ketiga yang bersifat non-volatile dan biasanya disebut sebagai solvent atau entrainer. Optimasi kolom konvensional dalam penelitian ini menggunakan kolom dengan 12 tray buble cap, sedangkan untuk optimasi kolom distilasi ekstraktif menggunakan solvent etilen glikol : DMSO (Dimetil Sulfoksida) 1:1 dengan suhu solvent 77⁰C dan kolom beroperasi pada tekanan 1 atmosfer. Hasil optimasi kolom distilasi konvensional mendapatkan kadar distilat sebesar 79,3148% mol pada kondisi suhu preheater 50⁰C, reflux ratio 3, bottom temperature 97⁰C, dan konsentrasi umpan 20%v/v. Berbeda dengan hasil optimasi kolom konvensional, hasil optimasidistilasi ekstraktif menghasilkan kadar distilat terbaik sebesar 99,9632% mol pada kondisi stage pelarut 6, rasio solvent:umpan 3.
BIODIESEL SEBAGAI SUMBER ENERGI TERBARUKAN: PROSES DAN TEKNOLOGI TERKINI Jazuli, Muhammad; Wibowo, Agung Ari
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 6 No. 2 (2020): August 2020
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v6i2.154

Abstract

Kebutuhan akan bahan bakar fosil sedang melonjak naik akibat permintaan pasar dunia yang terlalu banyak. Oleh karena itu solusinya dengan mencari sumber energi alternatif baru pengganti bahan bakar fosil tersebut, salah satunya pengolahan biodiesel. Biodiesel dapat diproduksi dengan kelapa sawit, jarak pagar, kelapa, dan lain-lain. Bahan-bahan tersebut dapat diproses dan diolah sedemikian rupa hingga menghasilkan biodiesel. Disamping itu, banyak sekali macam-macam teknologi proses dan pengolahan yang diterapkan pada biodiesel ini, diantaranya proses esterifikasi-transesterifikasi, teknologi pengunaan membran, teknologi superkritis dan sebagainya. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji pentingnya terobosan energi terbarukan khususnya biodiesel di dalam aspek kehidupan.
TEKNOLOGI ENKAPSULASI: TEKNIK DAN APLIKASINYA Agustin, Dini Asri; Wibowo, Agung Ari
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 7 No. 2 (2021): August 2021
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v7i2.210

Abstract

Enkapsulasi adalah suatu proses yang mampu mempertahankan sifat fisik, kimia, dan biologis dari suatu senyawa aktif atau bahan inti dengan cara melapisinya di dalam suatu bahan penyalut. Selain itu enkapsulasi juga menawarkan solusi untuk mempermudah penanganan bahan dengan mengonversi bentuk bahan dari cairan menjadi solid serta memberikan manfaat control-release. Dengan demikian penggunaan suatu bahan dapat diperluas dan dimaksimalkan. Saat ini terdapat banyak pilihan proses enkapsulasi yang bisa digunakan seperti: koaservasi, ko-kristalisasi, spray drying, spray cooling, ekstrusi, dan lain sebagainya. Teknologi enkapsulasi sudah banyak dimanfaatkan di banyak bidang, diantaranya pada bidang industri makanan dan minuman, bidang pertanian, dan bidang farmasi. Artikel ini bertujuan untuk membahas tentang enkapsulasi, teknik-teknik enkapsulasi yang bisa digunakan, serta penerapannya di berbagai bidang yang berbeda. Dari studi literatur yang dilakukan, didapatkan bahwa tidak semua teknik enkapsulasi bisa digunakan untuk suatu tujuan yang sama. Pemilihan teknologi enkapsulasi perlu mempertimbangkan jenis substansi yang akan dienkapsulasi dan tujuan penerapannya.
STUDI OPTIMASI PRESSURE SWING DISTILLATION PADA PEMURNIAN ETANOL MENGGUNAKAN CHEMCAD Ferdinal, Moch Farhein; Wibowo, Agung Ari
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 7 No. 2 (2021): August 2021
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v7i2.217

Abstract

Bioetanol merupakan salah satu bahan yang memiliki prospek yang besar sebagai sumber energi. Bedasarkan proses pemisahannya, etanol dan air membentuk azeotrop pada komposisi 87,2% mol dengan tekanan sebesar 1 atm. Standar minimum bioetanol layak digunakan sebagai bahan bakar adalah 99,5% mol etanol. Destilasi Pressure Swing merupakan salah satu proses pemisahan yang dapat menaikkan kadar etanol hingga 99,5% mol. Destilasi pressure swing dimana memiliki mekanisme dimana proses tersebut etanol dimurnikan menggunakan 2 kolom destilasi dengan tekanan proses yang berbeda. Proses destilasi ini menggunakan kolom fraksinasi. Tekanan kolom divariasikan pada kolom LP (low pressure) menggunakan tekanan 1; 1,5; dan 2 atm, untuk kolom HP (high pressure) menggunakan tekanan 10 dan 15 atm. Hasil optimasi kolom destilasi didapatkan bahwa kadar distilat terbaik sebesar 99,5% mol dimana pada prosesnya pada kondisi operasi tekanan kolom LP sebesar 1 atm dan kolom HP sebesar 15 atm. Proses memiliki akumulasi beban kondensor dan beban reboiler sebesar 67.017,6 MJ dan 68.521,1 MJ.
EFEK RASIO FEED / SOLVENT PADA DISTILASI EKSTRAKTIF ISOPROPIL ALKOHOL : STUDI SIMULASI CHEMCAD Aini, Sri Indah Nur; Wibowo, Agung Ari
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 7 No. 2 (2021): August 2021
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v7i2.223

Abstract

Isopropil alkohol merupakan bahan kimia yang banyak digunakan di industri salah satunya sebagai bahan baku antiseptic di hand sanitizer. Berdasarkan proses pemisahan isopropil alkohol-air terhalang oleh titik azeotrop sehingga tidak dapat dipisahkan menggunakan distilasi konvensional. Distilasi yang tepat untuk pemisahan campuran isopropil alkohol-air yaitu distilasi ekstraktif dengan bantuan gliserol sebagai solvent. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbandingan penambahan gliserol-isopropil alkohol terhadap kemurnian produk, beban reboiler, dan beban kondensor. Simulasi ini difokuskan pada variasi penambahan gliserol-isopropil alkohol dengan perbandingan 5:5 hingga 50:5, kemudian dilanjutkan dengan perbandingan 5:10 hingga 50:10. Hasil yang didapatkan bahwa semakin banyak penambahan isopropil alkohol akan menghasilkan kemurnian produk yang lebih tinggi. Kemurnian produk yang dihasilkan sebesar 96% mol dengan massa gliserol sebesar 1.728,6350 kg/jam dan massa isopropil alkohol sebesar 291,7360 kg/jam. Kemudian, semakin tinggi stage umpan solvent yang digunakan beban kondensor dan reboiler yang dihasilkan semakin tinggi yaitu sebesar 1.418,65 MJ/jam dan 2.249,42 MJ/jam.
ANALISA PENGGUNAAN TANAH LIAT DAN TANAH LEMPUNG DALAM PEMBUATAN SUBSTRAT SOIL UNTUK AQUATIC PLANT Kusuma, Anggi Wahyu; Wibowo, Agung Ari
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 8 No. 2 (2022): June 2022
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v8i2.360

Abstract

Substrate soil merupakan media tanam yang ada didalam aquascape yang mengandung unsur organik serta mineral yang penting bagi tumbuhan air. Bahan baku utama dari substrate soil bermacam-macam bisa dari pasir maupun tanah, tetapi penggunaan tanah dalam pembuatan substrate soil dinilai lebih efektif dibandingkan dengan pasir dikarenakan tanah memiliki sifat yang berat serta melekat dan mampu mengikat akar tanaman dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan penggunaan bahan baku tanah liat dan tanah lempung pada pembuatan substrate soil terhadap ketahanan soil yang dihasilkan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kering dengan bahan utama yaitu tanah liat dan tanah lempung sebanyak 500 gram, kotoran kambing dan arang sebanyak 50 gram. Dari hasil yang didapatkan menunjukkan bahwa bahan baku tanah liat memiliki tingkat ketahanan bahan baku tanah liat lebih baik dibandingkan dengan bahan baku tanah lempung yang dibuktikan dengan hasil perendaman substrate soil di dalam air menunjukkan bahwa selama 7 hari substrate soil masih tahan terhadap air. Sedangkan untuk analisa pH penggunaan bahan baku tanah liat memiliki memiliki nilai pH yang sesuai yaitu sebesar 6,2 dihari pertama dan dihari ke tujuh pH air sebesar 7. Hasil dari analisa TDS bahan baku tanah liat memiliki nilai yang lebih rendah dibandingkan dengan penggunaan bahan baku tanah lempung yaitu dengan rentang 200-320 mg/l untuk tanah liat dan 298-400 mg/l untuk tanah lempung. Berdasarkan hasil menunjukkan bahwa penggunaan bahan baku tanah liat memiliki hasil analisa yang sesuai standar untuk kehidupan organisme akuatik.
PENGARUH PENGGUNAAN MOLASE DAN ARANG TERHADAP KETAHANAN DAN PH AIR SERTA KEJERNIHAN GRANULA PADA PEMBUATAN SOIL SUBSTRATE Amalia, Rizqi Putri; Wibowo, Agung Ari
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 8 No. 2 (2022): June 2022
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v8i2.372

Abstract

Soil substrate adalah media tanam aquascape yang merupakan bagian dasar dari aquascape yang bersentuhan langsung dengan akar tanaman. Fungsi dari soil susbstrat selain untuk media tanam yaitu untuk menutrisi tumbuhan. Pembuatan soil substrate menggunakan bahan baku tanah dan humus. Untuk meningkatkan ketahanan bentuk granula soil substrate, pada penelitian ini digunakan molasses sebagai perekat. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengetahui pengunaan molase dan arang terhadap kejernihan dan pH air serta ketahanan granula pada pembuatan soil substrate. Proses pembuatan substrate soil diawali dengan pencampuran bahan baku tanah humus dan tanah taman kemudian dicampur dengan bahan tambahan perekat berupa molase yang dispreykan. Variabel yang digunakan yaitu molase 10 mL, 20 mL dan 30 mL dengan pengenceran dengan air 1 : 10 dengan variasi persen arang 5%, 10% dan 15% dengan metode wet granulation. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa semakin banyak kadar molase memiliki ketahanan bentuk granula yang lebih baik dibandingkan dengan sampel blangko. Semakin banyak arang maka kejernihan air dalam aquascape semakin jernih walaupun granula dalam keadaan hancur.
PENGARUH PENGGUNAAN KOTORAN SAPI DAN SUHU PENGERINGAN TERHADAP SIFAT FISIK SUBSTRAT SOIL UNTUK AQUASCAPE Azizah, Avana Zulfi; Wibowo, Agung Ari
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 8 No. 4 (2022): December 2022
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v8i4.465

Abstract

Aquascape belakangan ini sangat digemari oleh kalangan masyarakat. Akan tetapi banyak masyarakat yang kesulitan dalam penanaman tanaman hidup pada aquascape dikarenakan media tumbuh yang susah. Substrat soil adalah media tanam yang dapat digunakan sebagai media tanam pada tanaman air. Substrat soil terbuat dari tanah yang dibentuk menjadi granul. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh konsentrasi kotoran sapi dan suhu operasi pada sifat fisik substrat soil untuk aquascape. Variabel dari penelitian ini adalah konsentasi kotoran sapi dengan jumlah rasio perbandingan bahan antara kotoran sapi dan tanah humus. Rasio perbandingan 5% (b/b) kotoran sapi : 95% (b/b) tanah humus dari jumlah massa total sampel, 10% : 90%, 15% : 85%, 20% : 80% dan 25% : 75%. dan suhu pengeringan yaitu low heat temperature (30°C), medium heat temperature (60°C), dan high heat temperature (120°C). Hasil terbaik dalam penelitian ini adalah pada perbandingan kotoran sapi dengan tanah humus 5% (b/b) : 95% (b/b) dari jumlah massa total sampel pada suhu pengeringan terbaik high heat temperature (120°C).