Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

EFEK PEMANASAN MENGGUNAKAN API DAN SINAR MATAHARI TERHADAP KETAHANAN GRANUL MEDIA TANAM UNTUK TANAMAN AIR Prianggoro, Kukuh Whisnu; Wibowo, Agung Ari
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 8 No. 2 (2022): June 2022
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v8i2.374

Abstract

Substrate atau media tanam aquascape adalah lapisan paling atas yang bersentuhan langsung dengan akar tanaman. Substrate Soil telah dilengkapi dengan nutrisi dalam merangsang pertumbuhan tanaman secara optimum. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan metode pemanasan menggunakan api dan sinar matahari terhadap ketahanan granul media tanam tanaman air. Dalam penelitian ini menggunakan metode basah dan metode kering dengan bahan pembantu yaitu arang. Dari hasil yang didapatkan menunjukkan bahwa pemanasan metode api lebih baik dibandingkan dengan metode sinar matahari. Hal ini dibuktikan dengan hasil perendaman substrate soil di dalam air menunjukkan bahwa soil dengan pemanasan api lebih tahan dari pemanasan sinar matahari. Hasil Analisa TDS pemanasan metode api memiliki nilai yang lebih rendah dibandingkan pemanasan metode sinar matahari yaitu sebesar 210 – 340 mg/l untuk pemanasan metode api dan 300 – 410 mg/l untuk pemanasan metode sinar matahari. Berdasarkan hasil menunjukkan bahwa pemanasan metode api memiliki hasil analisa yang sesuai untuk keberlangsungan ekosistem aquascape.
PENGARUH PENGGUNAAN KAPUR DAN LAMA WAKTU PENGERINGAN TERHADAP KETAHANAN GRANULA MEDIA TANAM UNTUK TANAMAN AIR Sukmawati, Aldila Maysela; Wibowo, Agung Ari
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 8 No. 2 (2022): June 2022
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v8i2.371

Abstract

Aquascape saat ini mempunyai ketertarikan besar terhadap tanaman air. Tujuan utama untuk menciptakan visibilitas bawah air yang bagus di akuarium dan membuatnya terlihat lebih menarik secara visual, dengan mempertimbangkan aspek perawatan tanaman air. Untuk membuat aquascape salah satu hal penting yaitu substrate soil. Dalam pembuatan substrate soil menggunakan bahan baku berupa tanah humus dan tanah taman. Karena substrate soil ini mudah hancur pada saat didasar air maka diperlukan bahan tambahan berupa perekat yaitu kapur organik. Kapur organik ini berfungsi sebagai perekat karena kapur organik mempunyai sifat plastis yaitu bisa mengeras dengan cepat sehingga memberi kekuatan pengikat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa lama ketahanan granula dalam dasar air dan mengetahui pH air yang diperoleh. Proses pembuatan substrate soil diawali dengan pencampuran bahan baku tanah humus dan tanah taman kemudian dicampur dengan bahan tambahan perekat berupa kapur dan di seprai dengan air lalu proses granulasi dalam bak. Variabel untuk jumlah perekat kapur organik menggunakan perbandingan 10%, 15%, dan 20% dari total berat bahan baku. Kemudian granula yang sudah terbentuk akan disangrai menggunakan api kompor hingga kandungan airnya berkurang. Variabel pengeringan terdiri dari 30 detik, 60 detik, dan 90 detik. Dari data hasil analisis yang diperoleh, dapat disimpulkan bahwa semakin banyak kandungan kapur maka semakin kuat ketahanan bentuk granula, selain itu juga semakin stabil pH yang diperoleh.
ANALISA EKONOMI PRA RANCANGAN PABRIK KIMIA SOIL SUBSTRATE UNTUK AQUATIC PLANT DENGAN KAPASITAS 500 TON/TAHUN Bramasto, Aldi Prastyo; Wibowo, Agung Ari
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 8 No. 4 (2022): December 2022
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v8i4.420

Abstract

Soil substrate adalah bagian dasar dari aquascape yang merupakan media tanam dan bersentuhan langsung dengan akar tanaman. Agar tidak mempengaruhi kualitas air dan biota air lainya, soil yang digunakan dalam aquascape sudah melalui pengolahan secara detail. Analisa ekonomi ini berfungsi untuk menunjukkan kelayakan didirikan pabrik dan juga dapat mengetahui keuntungan pabrik. Pertama yang harus dilakukan yaitu melakukan riset mengenai produksi, impor, dan ekspor dari Pupuk Organik. Selanjutnya yaitu tahap perhitungan kapasitas pabrik dan membentuk sistem manajemen pabrik. Terakhir yang dilakukan analisa ekonomi pabrik. Pabrik Soil substrate yang didirikan memiliki kapasitas 500 ton/tahun sehingga mampu memenuhi kebutuhan pasar. Besar nilai Break Even Point (BEP) (63,81)%/tahun, besar nilai Return On Investment (ROI) sebelum pajak (33,49)%/tahun dan besar nilai setelah pajak (20,09)%/tahun, besar nilai Pay Out Time (POT) setelah pajak 4,97 tahun dan besar nilai Shut Down Point (SDP) (46,95)%.Berdasarkan nilai analisa ekonomi menunjukkan bahwa pabrik Soil Substrate untuk Aquatic Plant layak untuk didirikan.
PENGARUH RASIO MOLASES DAN BAHAN BAKU PADA KETAHANAN BENTUK GRANULA MEDIA TANAM UNTUK TANAMAN AIR Damayanti, Putri Dyah; Wibowo, Agung Ari
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 8 No. 2 (2022): June 2022
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v8i2.369

Abstract

Soil substrate merupakan media tanam sebagai media tanam dan bersentuhan langsung dengan akar tanaman air. Bentuk yang umum adalah granula, karena lebih mudah ditaburkan dan meresap ke tanaman. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui hasil optimal rasio perekat molases dan bahan baku yang tepat untuk mendapatkan granula media tanam yang tidak mudah hancur saat pengaplikasian di air dan perubahan nilai pH air. Proses yang digunakan yaitu granulasi basah, dilakukan dengan mencampurkan bahan baku serbuk dengan perekat kemudian dilakukan pengeringan dan pengayakan. Variasi rasio tanah humus dan tanah tanam yaitu 1:3, 2:3 dan 3:4. Variasi rasio molases dan air yaitu 20 mL:400 mL, 30 mL:400 mL dan 40 mL:400 mL. Hasil optimal menggunakan perekat molases 20 mL pada rasio bahan 1:3 dan 2:3 mampu mempertahankan bentuk 7 hari. Pada molases 30 mL dan rasio bahan 1:3 mampu bertahan 2 hari. Dan pada molases 40 mL dengan rasio bahan 1:3 mampu bertahan 2 hari, namun rasio bahan 2:3 mampu bertahan 7 hari. Kualitas fisik optimal yang dihasilkan yaitu dengan perekat molases 20 mL pada rasio bahan 1:3 dan 2:3, dan perekat molases 40 mL dengan rasio bahan 2:3. Nilai pH mengalami penurunan dalam 5 hari pertama, namun meningkat pada hari ke 6 dan 7 dikarenakan konsentrasi CO2 dan suhu air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rasio air dan perekat yang digunakan, rasio bahan baku yang digunakan sangat mempengaruhi ketahanan soil substrate dan pH air yang dihasilkan saat diaplikasikan di dalam air.
GREEN DIESEL: BAHAN BAKAR CAIR TERBARUKAN PENGGANTI BIODIESEL Yudhistira, Fidelia Helga; Wibowo, Agung Ari
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 8 No. 4 (2022): December 2022
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v8i4.486

Abstract

Penggunaan bahan bakar yang berasal dari fosil hingga saat ini masih meningkat. Hal ini dikhawatirkan akan menyebabkan kelangkaan dan ketersediaannya di lapangan semakin menipis. untuk itu, perlu adanya sebuah inovasi yaitu produksi energi alternatif. Green diesel adalah solusi untuk mengatasi kebutuhan bakan bakar diesel yang terus meningkat. Green diesel juga sering disebut sebagai biofuel yang dianggap sebagai diesel terbarukan yang berasal dari minyak nabati. Diesel jenis ini memiliki beberapa keunggulan jika dibandingkan dengan diesel yang memiliki bahan baku dari fosil karena ramah lingkungan dan tidak menimbulkan akumulasi karbon dioksida (CO₂) di atmosfer. Saat ini terdapat beberapa proses yang dapat digunakan untuk menghasilkan green diesel seperti: hydroprocess trigliserida dan pirolisis bahan lignoselulosa yang berasal dari bahan yang mengandung karbohidrat. Pada setiap proses dibahas kondisi operasi untuk hasil produksi maksimum. Selain itu penggunaan katalis yang sesuai juga mempengaruhi hasil produksi. Artikel ini bertujuan untuk membahas tentang green diesel serta teknik produksi yang digunakan. Berdasarkan studi literatur yang dilakukan, didapatkan bahwa tidak semua teknologi produksi menggunakan bahan serta katalis yang sama. Perlu adanya pertimbangan pemilihan teknologi produksi sesuai dengan tujuan dan penerapannya.
STUDI DESAIN TANGKI MASERASI PADA PROSES PEMBUATAN BIOPESTISIDA DARI KULIT BAWANG MERAH KAPASITAS 15.000 TON/TAHUN Hidayat, Dimas Ficky; Wibowo, Agung Ari
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 9 No. 4 (2023): December 2023
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v9i4.4207

Abstract

Tangki merupakan peralatan utama yang harus tersedia di industri dan memiliki berbagai kegunaan seperti sebagai wadah penyimpanan. Tangki juga dapat digunakan sebagai maserator untuk membuat produk biopestisida dari limbah kulit bawang merah agar produk tetap terjaga ketersediaannya. Namun, proses maserasi membutuhkan waktu yang lama dalam menghasilkan ekstrak. sehingga diperlukan perancangan tangki yang dapat membuat proses maserasi lebih cepat dengan diberikannya pengaduk dan pemanas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dimensi tangki yang sesuai untuk proses maserasi limbah kulit bawang merah menjadi biopestisida dengan kapasitas produksi 15.000 ton/tahun dengan pemberian pengaduk dan pemanas. Metode pada penelitian ini menggunakan metode studi literatur dan perancanaan. Proses maserasi limbah kulit bawang merah memerlukan waktu 0,5 jam dengan suhu operasi 50°C. Berdasarkan hasil perhitungan didapatkan ketebalan tangki sebesar 0.0098 m, tinggi tangki 1,98 m, diameter tangki 1,05 m, penambahan jaket pemanas dan pengaduk type six blade open turbin dapat dilakukan pada tangki maserasi.
PENGARUH JENIS PELARUT DAN JUMLAH PELARUT PADA EKSTRAKSI MASERASI LIMBAH KULIT BAWANG MERAH TERHADAP BIOPESTISIDA YANG DIHASILKAN Elinaningtyas, Risky; Wibowo, Agung Ari
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 10 No. 1 (2024): March 2024
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v10i1.4884

Abstract

Pestisida adalah bahan yang dibutuhkan untuk menghentikan hama agar para petani dapat panen. Para petani banyak menggunakan pestisida sintesis tanpa mengetahui efek samping yang ditimbulkan dari penggunaan pestisida sintesis, sehingga dibutuhkannya pestisida tanpa memiliki efek samping terhadap lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pestisida yang lebih aman pada lingkungan yaitu dengan biopestisida dari kulit bawang merah dengan menggunakan proses ekstraksi maserasi. Biopestisida yang baik dapat ditinjau dari hasil yield yang dihasilkan pada proses maserasi, hasil yield yang dihasilkan dapat bergantung pada jenis pelarut dan perbandingan bahan dengan pelarut, sehingga pada penelitian ini memiliki variabel pada penelitian ini yaitu jenis pelarut dan jumlah pelarut pada saat proses ekstraksi maserasi. Jenis pelarut yang digunakan adalah metanol dan aquades sedangkan jumlah pelarut yang digunakan yaitu 1:10; 1:20; dan 1:30 (b/v). Berdasarkan hasil penelitian jenis pelarut dan perbandingan massa bahan dan volume pelarut yang menghasilkan yield tertinggi adalah jenis pelarut aquades dengan perbandingan 1:30 (b/v) dengan nilai yield yang didapatkan 10,15
ANALISIS EKONOMI PRA RANCANGAN PABRIK KIMIA BIOPESTISIDA DARI LIMBAH KULIT BAWANG MERAH DENGAN KAPASITAS 15.000 TON/TAHUN Noviana, Kharisma Yogi; Wibowo, Agung Ari
DISTILAT: Jurnal Teknologi Separasi Vol. 10 No. 1 (2024): March 2024
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/distilat.v10i1.4886

Abstract

Pestisida merupakan campuran senyawa kimia untuk mengurangi organisme yang bertanggungjawab terhadap masalah di bidang pertanian. Penggunaan pestisida dapat berakibat buruk pada kesehatan manusia dan penggunaannya cukup tinggi di Indonesia. Biopestisida merupakan alternatif untuk mengurangi penggunaan pestisida kimia dengan menggunakan jenis biopestisida botani. Alternatif tanaman yang dapat digunakan sebagai bahan biopestisida adalah limbah kulit bawang merah yang memiliki aktivitas antibakteri yang baik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan kelayakan pendirian sebuah pabrik sehingga dapat meminimalisir terjadinya kerugian dalam investasi. Tahap analisis ekonomi dimulai dengan analisis riset pasar, penentuan kapasitas pabrik dan melakukan penaksiran modal industri dan penentuan biaya produksi total untuk melihat total pendapatan serta keuntungan (profit). Pabrik biopestisida dari limbah kulit bawang merah memiliki kapasitas 15.000 ton/tahun yang diharapkan mampu menjadi alternatif pengganti penggunaan pestisida. Evaluasi ekonomi perlu dilakukan sebelum mendirikan pabrik untuk melihat apakah pabrik menghasilkan keuntungan sehingga layak untuk didirikan. Berdasarkan analisis ekonomi pabrik didapatkan Break Event Point sebesar 36%/tahun, Return On Investment sebelum pajak 31,457% dan setelah pajak sebesar 22,42% dari modal investasi, besar nilai Pay Out Time  sebelum pajak 3,08 tahun dan sesudah pajak 4,33 tahun, dan besar nilai Shut Down Point 3%. Dari hasil analisis ekonomi menunjukkan bahwa pabrik biopestisida ini layak untuk didirikan.