Dwi Basuki Wibowo
Departemen Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro, Jl. Prof. Soedarto, SH, Tembalang, Semarang, Jawa Tengah, 50275

Published : 35 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

STUDI POLA KERUSAKAN INNER PARTS TURBIN GAS DI PLTGU TAMBAK LOROK SEMARANG KARENA PENGARUH UDARA DI SEKITAR OUTFALL Wibowo, Dwi Basuki
ROTASI Volume 12, Nomor 1, Januari 2010
Publisher : Departemen Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (164.909 KB) | DOI: 10.14710/rotasi.12.1.31-34

Abstract

Dalam analisis perawatan dan perbaikan komponen-komponen HGP (Hot Gas Path) Turbin Gas yang dilakukan oleh PLTGU Tambak Lorok dan rekanan PT. GE NUSANTARA TURBINE SERVICES ditemukan bahwa penyebab kerusakan komponen terutama terjadi akibat korosi dan erosi. Kondisi ini sering dijumpai pada unit GTG 1.1 yang paling dekat dengan outfall dan GTG 2.3 yang paling dekat dengan jalan Arteri Utara. Hasil studi juga menunjukkan bahwa PLTGU Tambak Lorok terpaksa harus mereskedul jadwal inspeksinya sehingga sering menyimpang dari skedul inspeksi yang direncanakan sendiri maupun skedul yang direkomendasikan oleh General Electric (GE). Dari inspeksi perawatan unit-unit GTG diperoleh data interval waktu inspeksi rata-rata sebesar 5333 jam, jauh di bawah dari jadwal yang direkomendasikan oleh GE. Meski tidak terbukti secara langsung kontribusi udara di sekitar outfall namun dari hasil studi ini memperlihatkan umur komponen GTG 1.1 yang lebih pendek 20% - 50% dibanding GTG yang lainnya.
PENGARUH PERLAKUAN PANAS AUSTEMPER DUA TAHAP PADA SIFAT MEKANIK MATERIAL BAJA ST-90 Wibowo, Dwi Basuki; Setiawan, Sutopo
ROTASI Volume 9, Nomor 4, Oktober 2007
Publisher : Departemen Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (315.751 KB) | DOI: 10.14710/rotasi.9.4.36-39

Abstract

Dalam beberapa tahun terakhir ini, baja telah menjadi salah satu material yang cukup penting dalam bidang keteknikan, karena sifat mekaniknya yang cukup baik. Sifat mekanik baja bias diubah sesuai dengan sifat mekanik yang dibutuhkan, dengan cara diheat treatment. Dalam penelitian ini, material baja karbon sedang ST-90, diheat treatment dengan proses austemper dua tahap.Pertama-tama spesimen diaustenisasi pada temperatur 850º C selama 2 jam. Selanjutnya diquenching selama 5 menit di salt bath pada temperatur austemper tahap pertama. Temperatur austemper tahap pertama tersebut antara lain 350º C, 400º C, 450º C dan 500º C. Selanjutnya spesimen tersebut diaustemper selama 2 jam pada temperatur austemper tahap kedua. Temperatur austemper tahap kedua tersebu antara lain dengan peningkatan 25º C, 50º C dan 100º C dari masing-masing temperatur austemper tahap pertama. Dan akhirnya spesimen tersebut dinormalizing pada temperatur ruang.Pengaruh dari variasi rentang temperatur austemper tahap pertama dan austemper tahap kedua pada struktur mikro dan sifat mekanik (kekerasan) diuji. Hasil pengujian menunjukan bahwa dengan rentang temperatur yang semakin besar maka akan dihasilkan nilai kekerasan yang semakin besar.
KEGAGALAN FUNGSI PENGEREMAN BIS DAN TRUK AKIBAT RUSAKNYA KOMPONEN RAKITAN KAMPAS REM Wibowo, Dwi Basuki; Haryanto, Ismoyo
ROTASI Vol 17, No 1 (2015): VOLUME 17, NOMOR 1, JANUARI 2015
Publisher : Departemen Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (904.269 KB) | DOI: 10.14710/rotasi.17.1.19-28

Abstract

Federal Motor Vehicle Safety Standard (FMVSS) mengklasifikasikan kendaraan bis dan truk (trailer dan container) sebagai heavy duty vehicle dimana rem, kopling, dan ban adalah komponen-komponen yang harus diperiksa secara rutin karena berkaitan dengan keamanan dan umur pemakaiannya yang relatif pendek. Sebagai komponen utama material gesek kampas rem memang harus bagus dan harus lolos serangkaian test sebagaimana diatur dalam berbagai standard yaitu SNI 09-0143-1987, ASTM G0115-04, ASTM D3359-02. Tetapi menurut The American Public Transportation Association (APTA BTS-SS-RP-003-07), kinerja sistim pengereman bis dan truk tidak semata-mata ditentukan oleh kualitas material kampas rem saja tetapi juga oleh kondisi brake shoe dan prosedur pemasangan (rebuild) kampas pada brake shoe. Dari hasil survey banyak pengusaha transportasi bis di Indonesia yang mengabaikan prosedur rebuild kampas rem yang telah distandarkan oleh APTA BTS-SS-RP-003-07 tersebut. Akibatnya kampas rem cepat aus, rem terkunci, dan yang paling parah adalah rem blong (rem tidak berfungsi). Fokus utama penelitian ini adalah mengkaji kemungkinan kerusakan brake shoe assembly (komponen rakitan kampas rem) saat pengereman yang berpotensi menyebabkan terjadinya kegagalan fungsi pengereman pada bis/truk.
The relationship between heel pad compressibility index, age, body mass index and foot area contact in calcanea spur patients Wibowo, Dwi Basuki; Suprihanto, Agus; Haryadi, Gunawan Dwi
ROTASI Vol 22, No 3 (2020): VOLUME 22, NOMOR 3, JULI 2020
Publisher : Departemen Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/rotasi.22.3.188-193

Abstract

This study was performed to investigate the relationship between heel pad compressibility index (HPCI), age, body mass index (BMI) and (FAC) for calcanea/heel spur patients. Thirteen patients with a symptomatic heel spur (3 males and 10 females) participated in this study. The HPCI increased with age and HPCI of the elderly is greater than the adult. The HPCI increased with pain minimum compressive pressure (PMCP) indicated HPCI are all significantly greater in patients with plantar heel pain than in normal subjects. The BMI increased with FAC is caused by BMI and FAC of males is greater than females. The PMCP decreased with BMI indicated that patient with excessive body mass will make experience more pain. The result of pain measurement showed that there are 7 patients who indicated the abnormality (the PMCP value is lower than 2 kg/cm2). From this study, it can be concluded that the quantitatively pain level is worst when PMCP< 2.0 kg/cm2, it is severe when 3.0> PMCP ≥ 2.0 kg/cm2 and it is moderate when PMCP≥3.0 kg/cm2
Karakterisasi Kekuatan Lelah Siklus Rendah Besi Cor Kelabu: Characterization of Low Cycle Fatigue Strength of Gray Cast Iron Agus Suprihanto; Dwi Basuki Wibowo; Djoeli Satrijo
Jurnal Metalurgi dan Material Indonesia Vol. 2 No. 3 (2019): Desember
Publisher : Badan Kerja Sama Pendidikan Metalurgi dan Material (BKPMM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Low cycle fatigue testing has been carried out on gray cast iron. 60 specimens made of three FC200 gray cast iron alloys with Cr (0.23%, 0.32% & 0.47% wt) and Cu (0.6% -0.7%) were tested using a servo pulse machine. Specimen dimensions refer to ASTM E739 standard. Low cycle fatigue testing used strain amplitudes between 0.15 to 0.5%. The fatigue behavior is characterized using Downing and Fash method. The analysis shows that the coefficient of fatigue strength (A) is between 2.336 –2.896 and the exponent of fatigue strength is between -0.251 to –0.266.
PERANCANGAN INTI CASING DAN IMPELLER POMPA AIR MENGGUNAKAN MATERIAL RESIN POLYESTER DENGAN CETAKAN SILIKON RUBBER RTV 497 Agus Suprihanto; Tomy Satya; Dwi Basuki Wibowo
TRAKSI Vol 19, No 2 (2019): TRAKSI
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (723.233 KB) | DOI: 10.26714/traksi.19.2.2019.87-94

Abstract

Sistem pemompaan merupakan salah satu elemen terpenting dalam proses perindustrian, pertanian, perumahan dan lainnya yang berhubungan dengan pengairan, hal ini menjadikan pompa merupakan mesin yang dipakai dalam  kuantitas besar, sehingga menuntut pengadaan pompa yang berkualitas dan dalam harga yang relatif terjangkau bagi kebutuhan industri, pertanian dan lainnya. Menginggat kebutuhan akan pompa dalam jumlah besar, maka dewasa ini  banyak berdiri industri untuk memproduksi pompa, sebahagian besar metode yang dipakai industri untuk memproduksi pompa adalah dengan metode pengecoran. Pompa terdiri dari beberapa bahagian seperti rumah pompa, inpeller, mechanical seal, poros dan lainnya, rumah pompa merupakan bahagian terbesar dari sebuah pompa sehingga proses produksi sangat mempengaruhi harga produksi pompa secara keseluruhan. Rumah pompa diproduksi dalam jumlah yang banyak dengan metode pengecoran dikarenakan bentuknya yang rumit dan dimensinya yang relatif besar. 
PERBAIKAN SIFAT MEKANIS BESI COR KELABU DENGAN PENAMBAHAN UNSUR CROM DAN TEMBAGA Agus Suprihanto; Yusuf Umardani; Dwi Basuki Wibowo
Media Mesin: Majalah Teknik Mesin Vol 6, No 1 (2005)
Publisher : Program Studi Teknik Mesin, Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/mesin.v6i1.3146

Abstract

Sifat mekanis besi cor kelabu dipengaruhi oleh laju pendinginan, tebal coran,perlakuan panas, perlakuan saat cairan dan penambahan unsur paduan.Beberapa penggunaan material ini membutuhkan kekuatan yang tinggi. Untukmemperbaiki kekuatannya dapat dilakukan dengan penambahan unsur paduanyang bersifat penggalak karbida seperti Cr dan Cu.Dalam penelitian ini pengaruh penambahan Cr dan Cu pada sifat mekanis besicor kelagu telah diteliti. Material dasar FC20 yang ditambah dengan Cr Cr0,23 %, 0, 32% dan 0,47% serta Cu antara 0,6% to 0,7% telah diuji. Pengujianmetalografi dan tarik telah dilakukan untuk mengetahui pengaruh penambahanCr dan Cu terhadap sifat mekanis besi cor kelabu.Hasil pengujian tarik terlihat terdapat peningkatan kekuatan tarik sebesar 20%yaitu dari 191MPa menjadi 232MPa. Meskipun demikian hasil metalografimenunjukkan bahwa kesemua spesimen uji memiliki struktur mikro matrik perlitdengan grafit serpih tipe VII, distribusi A dan berukuran 3-5.
PENGARUH VARIASI KETINGGIAN HAK SEPATU TERHADAP PENGURANGAN TEKANAN DI TELAPAK KAKI BELAKANG Azhar Azzyumardi Pasha; Dwi Basuki Wibowo; Yusuf Umardani
JURNAL TEKNIK MESIN Vol 10, No 2 (2022): VOLUME 10, NOMOR 2, APRIL 2022
Publisher : Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sepatu hak tinggi adalah jenis sepatu dimana tinggi bagian tumit sepatu lebih tinggi dari pada bagian jari kaki. Salah satu ketidaknyamanan ketika memakai sepatu hak tinggi adalah gaya benturan yang dihasilkan pada saat tumit menghentak landasan (heel strike), benturan tersebut tidak hanya berdampak pada telapak kaki (plantar) namun merambat ke seluruh area kaki hingga tulang belakang. Proses tekanan pada plantar dapat di pindai dengan sistem pemindaian (scanning). Untuk mengetahui perubahan distribusi beban di telapak kaki pada berbagai variasi ketinggian hak sepatu dapat dilakukan dengan cara memasang 9 sensor Force Sensing Resistor (FSR 400 produk Interlink Electronics) pada mika berbentuk mengikuti pola alas sepatu bagian depan (metatarsal) dan belakang (heel) lalu diletakkan di atas permukaan alas sepatu hak tinggi. Pengujian dilakukan terhadap 4 subjek dengan berdiri di atas wedges yang terpasang sensor dan memiliki varisai ketinggian hak yaitu 2 cm, 4 cm dan 6 cm.  Penurunan tekanan terbesar terdapat di area heel pada subjek 4 ketika dilakukan pengujian di variasi ketinggan hak 6 cm pada sensor 1 sebesar 262.09 Pa dan kenaikan tekanan terbesar terdapat di area metatarsal pada subjek 4 di variasi ketinggian hak 6 cm pada sensor 6 sebesar 100.19 Pa. Hasil distribusi tekanan tersebut dapat digunakan untuk mengidentifikasi karakteristik fungsi dari kaki manusia.
RANCANG BANGUN SISTEM KONTROL SEQUENCE PADA MEKANISME PENGGANTI CD PLAYER SECARA OTOMATIS BERBASIS MIKROKONTROLER ATMEGA 328P Venesa Bagus Anandya; Dwi Basuki Wibowo
JURNAL TEKNIK MESIN Vol 2, No 2 (2014): VOLUME 2, NOMOR 2, APRIL 2014
Publisher : Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1201.287 KB)

Abstract

Sistem otomasi merupakan suatu teknologi yang berkaitan dengan aplikasi mekanik, elektronik dan sistem yang berbasis komputer (mikroprosesor, PLC atau mikro). Semuanya bergabung menjadi satu untuk memberikan fungsi terhadap manipulator (mekanik) sehingga akan memiliki fungsi tertentu. Adapun beberapa perangkat otomasi yaitu mikroprosesor, mikrokontroler dan PLC. Pada penelitian ini CD Changer menggunakan perangkat mikrokontroler. Mikrokontroler adalah suatu IC (Integrated Circuit) dengan kepadatan yang sangat tinggi, dimana semua bagian yang diperlukan untuk suatu kontroler sudah dikemas dalam satu keping, yang terdiri dari : CPU, RAM, ROM, Input/Output Serial dan Parallel, Timer, dan Interupt Controller. CD Changger adalah sebuah alat pengganti CD secara otomatis yang bekerja secara bertahap yang didukung oleh rangkaian komponen elektronik yang dilengkapi dengan sensor photoelektrik, motor DC dan motor servo. Kontrol yang digunakan berbasis mikrokontroler ATMega 328P, dimana mikrokontroler ini mengendalikan sistem sesuai dengan program yang diinginkan dan sudah terprogram didalamnya. Perangkat lunak didalam sistem ini dibuat menggunakan bahasa ARDUINO dengan compiler ARDUINO IDE 1.5.4. Hasil analisa diperoleh bahwa dengan penambahan osilator kristal 16MHZ kecepatan mencapai 16 MIPS (Millions of Instructions Per Second) memiliki akurasi dan stabilitas yang tinggi, sehingga pada pengujian mekanisme pada setiap step dan pengujian kehandalan sistem tidak terjadi kesalahan.
MAMPU BENTUK PLASTIK PADA PROSES VACUUM FORMING DENGAN VARIASI TEKANAN 0.979 bar, 0.959 bar, 0.929 bar, 0.909 bar PADA TEMPERATUR 200 ºC Abdul Ghani K; Eflita Yohana; Dwi Basuki Wibowo
JURNAL TEKNIK MESIN Vol 2, No 2 (2014): VOLUME 2, NOMOR 2, APRIL 2014
Publisher : Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (706.498 KB)

Abstract

Plastik saat ini telah banyak menggantikan perlengkapan-perlengkapan manusia yang terbuat dari bahan logam, gelas dan kayu. Ini karena plastik mempunyai beberapa kenggulan antara lain sifatnya yang mudah dibentuk, ringan, kuat, tahan karat, sebagai isolator listrik yang baik dan tentunya mempunyai nilai ekonomis yang tinggi. Pada proses pengerjaannya ada beberapa metode yang digunakan, tetapi yang sering digunakan adalah metode thermo forming. Salah satu dari metode thermo forming  yang sederhana adalah vacuum forming. Pada dasarnya metode ini dilakukan dengan memberikan perlakuan panas pada lembaran plastik hingga plastik menjadi lunak (tidak mencapai titik leleh) kemudian dibentuk pada cetakan sesuai yang dikehendaki dengan memberikan tekanan vakum.Ada beberapa parameter yang menentukan kualitas dari hasil cetakan plastik pada proses vacuum forming antara lain, jenis plastik dan ketebalan plastik yang digunakan, temperatur pemanasan dan tekanan vakum yang digunakan. Pada penelitian kali ini sebagai bahan uji digunakan lembaran plastik dengan jenis polyethylene  terephthalate (PET) berukuran 30 cm x 34 cm dengan ketebalan 0,25 mm dan 0,35 mm. Untuk temperatur pemanasan diset pada temperatur konstan sebesar 200 . Dan untuk mencetak plastik dengan kualitas tebaik digunakan tekanan vakum yang divariasikan menjadi 4 variasi tekanan vakum yaitu; 0,979 bar, 0,959 bar, 0,929 bar dan 0,909 bar. Dari hasil penelitian diperoleh tekanan vakum terbaik untuk mencetak plastik dengan tebal 0,25 mm adalah 0,909 bar dan hasil yang sama juga di peroleh untuk plastik dengan ketebalan 0,35 mm yaitu untuk tekanan terbaiknya adalah 0,909 bar.