Claim Missing Document
Check
Articles

Found 38 Documents
Search

PENERAPAN PRODUKSI BERSIH PADA INDUSTRI PULP DAN KERTAS Reno Fitriyanti
Jurnal Redoks Vol 1, No 2 (2016): Redoks Juli - Desember
Publisher : Universitass PGRI Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (412.485 KB) | DOI: 10.31851/redoks.v1i2.2025

Abstract

ABSTRAKKegiatan industri perlu memadukan tiga pilar pembangunan berkelanjutan yang mencakup aspek ekonomi, lingkungan dan sosial. Industri pulp dan kertas merupakan salah satu industri yang dapat menunjang perekonomian nasional. Kegiatan utama dalam industri pulp dan kertas adalah  proses pulping (proses pembuatan bubur kertas) dan proses bleaching (proses pemutihan bubur kertas). Penggunaan klorin sebagai pemutih telah menjadi persoalan yang serius dan merupakan titik berat permasalahan dalam industri pulp dan kertas. Dampak negatif yang ditimbulkannya adalah dihasilkannya limbah berbahaya berupa senyawa kloro organik, seperti dioksin, yang merupakan bahan berbahaya terhadap lingkungan. Teknologi bersih menawarkan solusi yang optimal bagi dampak lingkungan yang disebabkan oleh proses-poses industri. Disamping memberikan keuntungan  yang lebih terhadap lingkungan juga dapat memberikan keuntungan ekonomi. Industri pulp dan kertas mempunyai peluang untuk melakukan  tindakan produksi bersih melalui  beberapa hal yaitu modifikasi produk (product modification), penggantian  material input (input substitution), modifikasi  teknologi (technology modification) , penerapan operasi yang baik (good house keeping)  serta daur ulang didalam industri (on site recycling).  Dengan melaksanaan konsep produksi bersih diharapkan proses pada Industri pulp dan kertas bisa berjalan dengan efektivitas tinggi, menghasilkan produk yang lebih banyak dan berkualitas serta berdaya saing. Kata Kunci : produksi bersih, pulp dan kertas
PEMBUATAN SARINGAN CEPAT (RAPID FILTER) (Penggunaan Pipa PVC Dengan Sistem Pencuci Balik (Backwash) Di SMAN 1 Jejawi OKI) Muhrinsyah Fatimura; Muhammad Bakrie; Reno Fitriyanti; Aan Sefentry; Rully Masriatini; Husnah; Nurlela; Agus Wahyudi
Randang Tana - Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 5 No 2 (2022): Randang Tana - Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Unika Santu Paulus Ruteng

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36928/jrt.v5i2.1070

Abstract

Air adalah kebutuhan pokok setiap makhluk hidup terutama manusia, hewan serta tumbuhan. Tanpa air, mahluk hidup tidak akan bisa hidup. Kecamatan Jejawi merupakan wilayah Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) Provinsi Sumatera Selatan dengan jumlah penduduk 38.098 jiwa. Masyarakat Kecamatan Jejawi mendapatkan air untuk kebutuhan sehari-hari yang berasal dari air sungai dan air sumur. Pemanfaatan sumber air dengan kualitas yang rendah berpotensi menyebabkan penyakit diare yang merupakan penyakit endemis potensial dan merupakan Kejadian Luar Biasa (KLB) yang dapat menyebabkan kematian. Prevalensi diare pada balita di Kabupaten OKI mencapai 11, 35 % yang mana Kecamatan Jejawi menempati urutan kelima kecamatan yang memiliki kasus tertinggi, yaitu sebanyak 1.328 kasus diare. Mengingat pentingnya fungsi air tersebut maka sebagai salah satu program studi di Universitas PGRI Palembang, program studi teknik kimia berkomitmen untuk berkontribusi dalam pengelolaan lingkungan terutama di daerah Sumatera Selatan yang salah satunya tentang air. Beberapa mata kuliah yang tercantum pada kurikulum di program studi teknik kimia mempelajari tentang pengolahan air termasuk peralatan yang digunakan dalam pengelolaan air, seperti filter air atau penyaring air. Penyaring air merupakan alat yang dapat digunakan untuk menyaring serta meniadakan pengotor di dalam air dengan menggunakan penghalang atau sarana, baik secara proses kimia, fisika ataupun biologi. Filter air berguna secara meluas pada pengairan, air minum, akuarium serta kolam renang. Salah satu jenis filter yang umum digunakan yaitu filter air saringan cepat (Rapid Filter) dengan sistem pencuci balik (Back Wash). Oleh karena itu, sebagai penerapan hasil pembelajaran di prodi teknik kimia Universitas PGRI Palembang, serta membantu permasalahan yang dihadapi masyarakat Kecamatan Jejawi, khususnya civitas akademika SMAN 1 Jejawi, dalam hal pengolahan air bersih, dilakukan pelatihan pembuatan Filter air saringan cepat (Rapid Filter) dengan sistem pencuci balik (Back Wash).
PENGARUH LAJU ALIR ABSORBEN DAN WAKTU KONTAK K2CO3 TERHADAP PENYERAPAN CO2 YANG TERKANDUNG DALAM GAS ALAM Muhrinsyah Fatimura; Rully Masriatini; Reno Fitriyanti
Jurnal Inovasi Teknik Kimia Vol 6, No 2 (2021)
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Wahid Hasyim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31942/inteka.v6i2.5506

Abstract

Gas CO2 atau gas asam (sour gas) merupakan salah satu kandungan dari gas alam yang sifatnya sebagai kontaminan. Adanya kandungan gas CO2 yang tinggi didalam gas alam perlu dilakukan treatment khusus dalam menghilangan kandungan gas asam (sour gas) tersebut dari gas alam dimana proses penghilangan gas asam dari gas alam disebut proses Sweetening. Proses Absorspi gas CO2 merupakan metode yang sering dilakukan. Penelitian ini bertujuan  mengetahui pengaruh laju alir absorben dan waktu kontak terhadap konsentrasi CO2 yang di serap. Metode yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu dengan perancangan alat yang bisa menunujukan proses absorpsi CO2. Variabel penelitian yang digunakan memvariasikan  laju alir absorben 4,95 ml/s, 7,26 ml/s, 10,75 ml/s serta waktu kontak 2,4,6,8 menit dengan menggunakan absorben K2CO3 dan   Gas alam yang digunakan compress Natural Gas CNG.  Dari hasil penelitan laju alir Absorbenyang paling baik didapat pada  10,75 ml/s dengan penyerapan  CO2 sebesar  69,45 %. Waktu kontak  pada setiap waktu   tidak berpengaruh banyak  terhadap konsentarsi CO2 yang terserap .  Kata kunci: absorben, Sour gas, gas alam, laju alir  AbstractCO2 gas or acid gas (sour gas) is one of the contents of natural gas which is a contaminant. The presence of high CO2 gas content in natural gas requires special treatment to remove the sour gas content from natural gas where the process of removing acid gas from natural gas is called the Sweetening process. The CO2 gas absorption process is a method that is often used. This study aims to determine the effect of absorbent flow rate and contact time on the absorbed CO2 concentration. The method used in this research is to design a tool that can show the CO2 absorption process. The research variables used varied the absorbent flow rate of 4.95 ml/s, 7.26 ml/s, 10.75 ml/s and a contact time of 2,4,6,8 minutes using K2CO3 absorbent and natural gas used compressed Natural CNG gas. From the research results, the best absorbent flow rate was obtained at 10.75 ml/s with CO2 absorption of 69.45%. Contact time at any time did not have much effect on the concentration of CO2 absorbed. Keywords: absorbent, sour gas, natural gas, flow rate
Study of the Utilization of Carbon Electrodes to Reduce Dissolved Ions from Coal Stockpile Wastewater Andi Arif Setiawan; Reno Fitriyanti
Sriwijaya Journal of Environment Vol 6, No 3 (2021): Environmental Health and Safety
Publisher : Program Pascasarjana Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (861.709 KB) | DOI: 10.22135/sje.2021.6.3.107-113

Abstract

The advancement of science and technology plays a very important role in encouraging industrial progress. In addition to having a positive impact on the economy, industrial progress, on the other hand, has a negative impact in the form of pollution. One of the industrial activities is the coal mining industry. Various ways to deal with pollution include the electrolysis method, in which the liquid waste is flowed by a direct electric current through the electrode media. The purpose of this study was to examine the length of electrolysis and the amount of electric current used to reduce dissolved ions and total dissolved solids from coal stockpile wastewater. The method used is a survey in the form of sampling followed by waste treatment using electrolysis. The results showed that the combination of electrolysis time of 120 minutes and electric current of 3 A showed that the highest dissolved ions decreased by an average of 1,692.3 µs / cm from the initial pre-treatment of 1772 µs / cm. The highest mean decrease in total dissolved solids was 660.67 ppm from the beginning before treatment of 909 ppm.
Analisis Kandungan Timbal (Pb) pada Udang Putih (Penaeus merguiensis) sebagai Kontribusi Perhitungan Ocean Health Index (OHI) Yunita Panca Putri; Reno Fitriyanti; Ita Emilia
Sainsmat : Jurnal Ilmiah Ilmu Pengetahuan Alam Vol 8, No 2 (2019): September
Publisher : Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35580/sainsmat82107202019

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas perairan Sungsang Kabupaten Banyuasin Provinsi Sumatera Selatan berdasarkan beberapa parameter kualitas air dan mengetahui tingkat  akumulasi  logam berat timbal (Pb)  dalam jaringan udang putih (Penaeus merguiensis)  terhadap lingkungan abiotik (air dan sedimen) berdasarkan nilai  Bioconcentration Factor (BCF). Penelitian ini diharapkan dapat  memberikan kontribusi terhadap perhitungan Ocean Health Index (OHI) sebagai  indikator penting untuk penilaian kesehatan laut secara berkelanjutan yang mampu dijadikan sebagai basis data dalam membuat kebijakan kelautan. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh hasil kandungan logam berat Pb pada air dan sedimen di perairan Sungsang belum melebihi baku mutu yang ditetapkan berdasarkan Peraturan Gubernur Sumsel No. 16 Tahun 2005 dan berdasarkan standar sediment quality guideline values for metals and associated levels of concern to be used in doing assessment of sediment quality tahun 2003 dan menurut IACD/CEDA (International Association of Draging Companies/Central Dreging Association) tahun 1997. Konsentrasi logam timbal  yang terkandung pada udang putih yang dihasilkan dari tiga lokasi  telah melebihi  batas yang ditetapkan oleh Kepala BPOM RI No HK.00.06.1.52.4011 tahun 2009. Berdasarkan nilai Bioconcentration Factor (BCF), penyerapan  Pb  dalam jaringan  udang putih  (Penaeus merguiensis)  terhadap lingkungan abiotiknya pada ketiga lokasi penelitian di perairan Sungsang Kabupaten Banyuasin Provinsi Sumatera Selatan menunjukkan  tingkat akumulatif rendah.
Pirolisis Katalitik Minyak Pelumas Bekas Menjadi Bahan Bakar Cair Menggunakan Zeolit Alam Reno Fitriyanti; Muhrinsyah Fatimura; Rully Masriatini
Journal of Chemical Process Engineering Vol 7, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33536/jcpe.v7i2.973

Abstract

Minyak pelumas bekas merupakan limbah yang dihasilkan kendaraan bermotor yang  jumlah buangannya sangat besar terutama dikota besar. Apabila terpapar akan membahayakan dan menyebabkan masalah dalam lingkungan.. Berbagai metode pengolahan minyak pelumas bekas diantaranya acid-clay, Distilasi Thin Film Evaporation–Hydrofinishin dan Pirolisi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui  konversi minyak pelumas bekas  menjadi minyak  serta mengetahui karekteristik produk cair yang dihasilkan. Penelitian ini menggunakan proses pirolisis dengan memanaskan minyak pelumas sampai temperatur 2500C dengan banyak umpan 125ml dengan variasi ratio antara umpan dan zeolit alam 1:0 , 1:0.25, 1:0,5, 1:0.75 yang berupa batuan kecil yang telah dihaluskan sebesar 40 mesh.. Sebelum digunakan. Zeolit  alam terlebih dahulu di aktivasi menggunakan NaOH 10%(w/w). Cairan minyak yang dihasilkan kemudian di analisa berupa Initial Boilling Point (IBP), densitas, viskositas, flash point  dan four point, specific gravity . Hasil penelitian didapat produk cair yang dihasilkan sebanyak 43,7 ml,65 ml, 77 ml dan 108,3ml. Penggunaan ration katalis 1:0.75 memberikan hasil yang maksimal yaitu sebanyak 108,3 ml produk cair atau  87%. Dengan karakteristsik minyak yang didapat Initial Boilling Point 185oC, berat  jenis .835 kg/m3, viskositas 02.58 m 30 C ; 02.58 m 40 C, flash point 550C dan pour point. 0 oC specific gravity 0.835. Dapat disimpulkan Pirolisis katalitik  minyak pelumas bekas dengan  zeolit alam menghasilkan produk cair yang bernilai sebagai bahan bakar. Dari analisa karakteristik  minyak yang dihasilkan  mendekati minyak solar.
PENGARUH PELARUT TERHADAP MUTU EKSTRAKSI ELEORESIN KAYU MANIS Nurlela .; Fadhil Liyaldi; Reno Fitriyanti
Jurnal Redoks Vol. 8 No. 1 (2023): REDOKS JANUARI-JUNI
Publisher : Universitass PGRI Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31851/redoks.v8i1.11374

Abstract

Abstrak Kayu manis merupakan salah satu komuditas ekspor Indonesia yang kulit, dahan, serta batangnya digunakan untuk membuat rempah-rempah. Oleoresin merupakan salah satu produk olahan dari kayu manis yang bernilai jual lebih tinggi dibandingkan kayu manis tanpa di olah. Oleoresin dari kayu manis banyak digunakan dalam industri makanan, minuman, farmasi, favor (tembaga rokok) , pewarna dan lain-lain. Berkembangnya industri bumbu-bumbu instan siap pakai seperti jahe dan minuman hangat lainnya. Hal ini dapat menjadi angin segar bagi perkembangan industri oleoresin di Indonesia. Tujuan dari penelitian ini peneliti ingin mengetahui bagaimana Pengaruh Pelarut Terhadap Mutu Ekstraksi Eleoresin Kayu Manis dengan cara meningkatkan kandungan cinnamic aldehyde di dalam oleoresin. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan cara untuk meningkatkan kandungan cinnamic aldeheyde didalam oleoresin, yaitu menggunakan pelarut etanol dan mengikis kayu manis. Kata kunci : kayu manis, Oleoresin, cinnamic aldehyde
BIO BRIKET DARI ARANG SEKAM PADI Rully Masriatini Ully; Reno Fitriyanti; Bagus Famella
Jurnal Redoks Vol. 6 No. 2 (2021): REDOKS JULI - DESEMBER
Publisher : Universitass PGRI Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31851/redoks.v6i2.13479

Abstract

Berkurangnya energi fosil terutama migas, mendorong Pemerintah untuk meningkatkan peran energi baru terbarukan, salah satu jenis energi baru terbarukan adalah bioenergi, salah satu bioenergi adalah biomassa. Biomassa adalah suatu limbah padat yang dapat dimanfaatkan menjadi sumber bahan bakar. Salah satu potensi biomassa adalah limbah arang sekam padi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis dan komposisi perekat pada karakteristik dari briket arang sekam padi yang dihasilkan. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen di laboratorium Teknik Kimia Universitas PGRI Palembang. Proses pembuatan briket dengan 3 jenis perekat yaitu tepung tapioca, beras dan ketan dengan komposisi 7:3, 8:2 dan 9:1. Analisa briket sekam padi ini menggunakan metode proximate yang meliputi analisa kadar air, kadar abu, kadar zat terbang, kadar karbon terikat dan nilai kalor. Dari hasil analisa ini jenis perekat terbaik untuk briket arang sekam padi menggunakan perekat ketan dengan komposisi 7:3 dan nilai kalor dari jenis dan komposisi ini adalah 3892 kkal/g.
Pengeringan Kerupuk Kemplang Menggunakan Alat Efek Rumah Kaca Di Desa Jejawi Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) Muhrinsyah Fatimura; Muhammad Bakrie; Rully Masriatini; Reno Fitriyanti; Husnah; Aan Sefentry; Nurlela; Agus Wahyudi
Randang Tana - Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 6 No 3 (2023): Randang Tana - Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Unika Santu Paulus Ruteng

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36928/jrt.v6i3.1773

Abstract

Kemplang crackers are a traditional food that is very popular with Indonesian people. In the process of making it, it requires proper drying process so that when frying it produces crispy kemplang crackers when eaten. The problem in society is that the drying process is not optimal due to weather factors resulting in a reduced production process or product quality not as desired. For this reason, the Chemical Engineering Study Program held PKM in Jejawi village. By designing a kemplang cracker dryer by utilizing the greenhouse effect it is designed to overcome the existing problems. From the results of direct testing in the field in Jejawi village, the water content can be separated up to 6.95%.
Effect of EDTA Addition on Acidizing Treatment Process Fitriyanti, Reno; Pandjaitan, M.M. Lanny W.; Lukas, Lukas; Harlis, Gilang Bagaskara; Wahyudi, Agus; Fatimura, Muhrinsyah
CHEESA: Chemical Engineering Research Articles Vol. 6 No. 2 (2023)
Publisher : Universitas PGRI Madiun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25273/cheesa.v6i2.15647.95-104

Abstract

Acidizing treatment is commonly used to solve scale problem on production equipment. In this process, Hydrochloric acid (HCl) is often used to treat CaCO3 scale, posing the risk of pipe corrosion due to its high corrosive characteristics. Thus, the purpose of this study was to determine the impact of adding EDTA additive into HCl solution during the acidifying treatment procedure. The methodology included various stages such as scale identification, chemical scale removal test using 7.5% and 15% HCL solution, 15% HCl solution test with EDTA as an additive, and corrosion determination using corrosion coupon. The results showed that 15% HCl solution was very effective in removing CaCO3 scale but had a high corrosion rate of 186.255 mpy. Furthermore, the addition of 10 mL EDTA solution as an additive removed scale and reduced corrosion rate by approximately 85%.