Laksmi Widajanti
Bagian Gizi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro, Semarang|Universitas Diponegoro

Published : 25 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

PERBEDAAN PERUBAHAN STATUS GIZI ANTARA ANAK USIA 7-24 BULAN YANG DIBERI MAKANAN PENDAMPING ASI LOKAL BUATAN PEDAKANG KAKI LIMA DAN BUATAN RUMAH DI KOTA SEMARANG Hayuningtyas, Asti; Widajanti, Laksmi; Suyatno, Suyatno
Jurnal Kesehatan Masyarakat (Undip) Vol 8, No 4 (2020): JULI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (196.165 KB) | DOI: 10.14710/jkm.v8i4.27350

Abstract

Pada tahun 2017-2018 terjadi peningkatan kasus gizi buruk dan gizi kurang pada balita di Kota Semarang. Salah satu penyebab utamanya adalah kurangnya pemenuhan asupan gizi dari Makanan Pendamping ASI (MP ASI). Di Kota Semarang muncul MP-ASI lokal buatan Pedagang Kaki Lima (PKL). Penelitian ini bertujuan menganalisis perbedaan perubahan status gizi pada anak usia 7-24 bulan antara yang diberi MP-ASI buatan PKL dan buatan rumah. Penelitian analitik ini dilakukan dengan disain kohort selama 1 bulan. Total sampling diterapkan pada anak yang diberi MP-ASI buatan PKL (17 anak) dan sebagai pembanding dipilih 17 anak yang diberi MP-ASI buatan rumah. Data dikumpulkan dengan wawancara menggunakan kuesioner terstruktur, recall konsumsi 2x24, penimbangan berat badan menggunakan timbangan digital. Analisis data dengan uji Wilcoxon dan Mann-Whitney. Setelah drop out, data dari 13 anak dari tiap kelompok dianalisis. Tidak ada perbedaan Skor Z BB/U awal (p=0,555), akhir (p=0,521) dan perubahan skor Z BB/U (p=0,396) antara kedua kelompok. Rerata asupan energi/ hari dari MP ASI PKL adalah 53 kkal (usia 7-11 bulan) dan 63 kkal (usia 12-24 bulan), sedangkan dari MP ASI buatan rumah 277 kkal (usia 7-11 bulan) dan 385 kkal (usia 12-24 bulan). Hasil uji beda antara status gizi awal dan akhir menunjukkan bahwa pada kelompok MP-ASI buatan PKL terjadi penurunan (p=0,023) skor Z BB/U dari -0,5724±0.5539 menjadi -0,6814±0,5840, sedangkan pada kelompok MP-ASI buatan rumah tidak berubah (p=0,507) dari -0,5933±1,5499  menjadi -0,6936±1,7876. Disimpulkan bahwa MP-ASI buatan rumah memberikan sumbangan energi dan berdampak pada skor Z BB/U lebih baik daripada MP ASI buatan PKL setelah 1 bulan pengamatan.
Studi Keamanan Pangan Kimiawi dari Logam Berat Timbal pada Euthynnus Sp , di Perairan Semarang. Widajanti, Laksmi; Girsang, Rohdearni; Pradigdo, Siti Fatimah
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 3, No 2 (2004): OKTOBER 2004
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.3.2.66 - 68

Abstract

ABSTRACT Background: One of the impact of industrial development is the decreasing water quality that may cause pollution of living resources,especially the fish. The objective of this research is to determine the consentration of lead (Pb) Euthynnus sp. and to analize its  chemical safety in the coast  Semarang.  Methods:  This study  is a descriptif research with a cross sectional approach. The 30 samples of Euthynnus   was taken from the markets in Semarang City, including  Jatingaleh, Peterongan, Bulu, Johar, dan Rejomulyo market. Results:  The finding of this research showed that the highest  Lead consentration in Euthynnus Sp was 2,51 ppm and the lowest was  0 ppm  with the average of  0,81 ppm  and the standard deviation was  0,91 ppm.   There was 33,3 % sample which has the concentration of Lead  more than the maximum standard. Conclusion: It was suggested to choose the fresh fish to consumed by considering the site of fish catching. It is also suggested to  the government and  the related institution in semarang City to make a regulation and policy to protect the consumer from the toxic effect of heavy metal in fish.   Key word : Euthynnus sp., heavy metal (Lead),  Coast of Semarang
Hubungan Asupan Sarapan dan Kecukupan Gizi dengan Kejadian Obesitas pada Mahasiswa di Jawa Tengah Soedwiwahjono, Widyayu Kurniasari; Widajanti, Laksmi; Lisnawati, Naintina
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 20, No 3 (2021): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkmi.20.3.185-192

Abstract

Latar belakang: Obesitas merupakan kondisi akumulasi lemak berlebih yang diakibatkan konsumsi makanan yang melebihi kebutuhan dan berdampak buruk bagi kesehatan seperti resistensi insulin dan kematian. Prevalensi obesitas di Indonesia sebesar 21,8% dengan persentase obesitas di Jawa Tengah masih berada di atas capaian yaitu sebesar 6,32%. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan kebiasaan sarapan dengan kejadian obesitas.Metode: Penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif dengan jenis penelitian observasional dengan desain cross sectional. Pengambilan sampel dilakukan secara daring melalui sosial media meliputi instagram, twitter dan whatsapp dengan perhitungan sampel didapatkan 100 mahasiswa aktif tingkat sarjana. Variabel pada penelitian ini meliputi frekuensi sarapan, tingkat kecukupan energi, keragaman jenis pangan, dan obesitas. Penelitian ini menggunakan analisis univariat dan bivariat dengan menggunakan uji chi-square dan fisher exact test. Hasil: Tingkat kecukupan gizi pada mahasiswa didapatkan tingkat kecukupan karbohidrat, lemak dan protein yang lebih sebesar 58%, 71% dan 89%. Sedangkan tingkat kecukupan serat mahasiswa yang cukup sebesar 50%. Hasil penelitian ini menggambarkan mahasiswa dengan tingkat kecukupan energi saat sarapan yang lebih cenderung tidak obesitas dibandingkan mahasiswa dengan tingkat kecukupan energi saat sarapan yang cukup.Simpulan: Penelitian ini menyimpulkan terdapat hubungan tingkat kecukupan energi dengan kejadian obesitas yang berarti semakin besar tingkat kecukupan energi sarapan maka mahasiswa cenderung tidak obesitasKata kunci: asupan sarapan, obesitas, mahasiswa ABSTRACTTitle: Correlation of Breakfast Intake on Adequacy of Nutrition and Incidence of Obesity in Students in Central JavaBackground: Obesity is a condition of excess fat accumulation caused by food consumption that exceeds needs and has a negative impact on health such as insulin resistance and death. The prevalence of obesity in Indonesia is 21.8% with the percentage of obesity in Central Java still above the achievement of 6.32%. This study aims to analyze the relationship between breakfast habits and the incidence of obesity.Methods: This study uses quantitative research with the type of observational research with a cross sectional design. Sampling was carried out online through social media including Instagram, Twitter and WhatsApp with a sample calculation of 100 active undergraduate students. The variables in this study include the frequency of breakfast, the level of energy adequacy, the diversity of food types, and obesity. This study used univariate and bivariate analysis using the chi-square test and fisher's exact test.Results: The level of nutritional adequacy in students obtained levels of carbohydrate, fat and protein adequacy more than 58%, 71% and 89%. Meanwhile, the adequacy level of student fiber is 50%. The results of this study illustrate that students with sufficient energy levels at breakfast are more likely to be less obese than students with sufficient energy levels at breakfast.Conclusion: This study concludes that there is a relationship between the level of energy adequacy and the incidence of obesity, which means that the greater the level of energy adequacy for breakfast, the students tend not to be obese.Keywords: breakfast intake, obesity, college students
Hubungan Citra Tubuh dan Pengetahuan Gizi Seimbang dengan Pemilihan Makanan Remaja Putri Usia 15-19 Tahun di Kota Semarang Putri, Rachel Novelia; Widajanti, Laksmi; Nugraheni, Sri Achadi
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 20, No 3 (2021): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkmi.20.3.193-199

Abstract

Latar belakang: Citra tubuh negatif dapat menjadi pendorong seseorang melakukan perilaku mengendalikan berat badan dengan cara yang tidak sehat dan muncul kecenderungan eating disorder yang akan mengakibatkan perubahan status gizi. Pengetahuan remaja tentang pedoman gizi seimbang berperan penting dalam memilih dan mengonsumsi makanan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan citra tubuh dan pengetahuan gizi seimbang terhadap pemilihan makanan.Metode: Penelitian observasional analitik dengan pendekatan waktu cross sectional. Populasi yang digunakan dalam penelitian adalah remaja putri usia 15-19 tahun yang bertempat tinggal di Kota Semarang. Jumlah sampel minimal yang digunakan sebanyak 132 remaja putri dan sampel diambil dengan teknik quota sampling. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah citra tubuh dan pengetahuan gizi seimbang, sedangkan variabel terikat adalah pemilihan makanan. Data primer yang digunakan adalah hasil pengisian kuesioner oleh remaja putri. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner yang berisi pertanyaan tertutup. Uji normalitas sebaran data variable penelitian menggunakan Kolmogorov-Smirnov dan analisis data dilakukan dengan uji korelasi Chi-square; χ2.Hasil: Remaja putri di Kota Semarang memiliki pemilihan makanan yang baik dengan persentase sebesar 54,8%. Sebanyak 50,8% remaja menunjukkan citra tubuh positif, sedangkan 50,3% remaja putri memiliki pengetahuan gizi seimbang yang baik. Terdapat hubungan yang signifikan antara citra tubuh dengan pemilihan makanan (p-value = 0,013) dan terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan gizi seimbang dengan pemilihan makanan (p-value = 0,001)Simpulan: Citra tubuh remaja putri yang positif akan membawa remaja putri memiliki pemilihan makanan yang baik, demikian juga dengan pengetahuan gizi seimbang yang baik akan membawa remaja putri dapat memilih makanan dengan baik.Kata kunci: Citra tubuh, pengetahuan gizi seimbang, pemilihan makanan, remaja putri ABSTRACT Title: Association of Body Image and Nutrition Balance Knowledge on Food Selection Behavior of Adolescent Girl Ages 15-19 years in The City of SemarangBackground: The nutritional needs of adolescent girls for growth and development are met through a good diet. A negative body image can encourage someone to control their weight in an unhealthy way and there is a tendency for eating disorders that will lead to changes in nutritional status. Adolescent's knowledge of balanced nutrition guidelines plays an important role in choosing and consuming food. The purpose of this study was to see the relationship between body image and knowledge of balanced nutrition on food selection.Method: Analytical observational research with cross-sectional design. The population used in the study was adolescent girls aged 15-19 years who live in the city of Semarang. The number of samples used was 132 young women and the sample was taken using a quota sampling technique. The research instrument used a questionnaire form. Body image is categorized into positive and negative body image, while balanced knowledge and food selection are categorized into good and poor. The normality test of the data distribution of the research variables used the Kolmogorov-Smirnov and data analysis was carried out by the Chi-square test; χ2Result: Adolescent girls aged 15-19 years in Semarang City have good food choices with a percentage of 54.8%. 50.8% of the body image of girls aged 15-19 shows a positive body image, while 50.3% of girls aged 15-19 indicate that they have good knowledge of balanced nutrition. There is a significant relationship between body image and food selection (p-value = 0.013) and there is a significant relationship between knowledge of balanced nutrition and food selection (p-value = 0.001)Conclusion: A positive body image of adolescent girls will lead young women to have good food choices, as well as knowledge of well-balanced nutrition will lead young women to choose foods well.Keywords: Body image, nutrition balance, food choice, the adolescent girl
Evaluation on Integrated Health Post Cadres Training Management in Paruga Primary Healthcare Centers at Bima City Nusa Tenggara Barat Province Rostinah Rostinah; Laksmi Widajanti; Lucia Ratna Kartika Wulan
Jurnal Manajemen Kesehatan Indonesia Vol 3, No 3 (2015): Desember 2015
Publisher : Magister Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (497.373 KB) | DOI: 10.14710/jmki.3.3.2015.%p

Abstract

ABSTRAKPelatihan Kader Posyandu di Puskesmas Paruga Kota Bima belum meningkatkan kompetensi kader Posyandu karena penimbangan bayi dan balita di Posyandu hanya mencapai 70%, lebih rendah dari target SPM yaitu 80%. Tujuan penelitian adalah melakukan evaluasi terhadap pelatihan kader Posyandu dan menganalisis hasil evaluasi untuk perbaikan pelaksanaan pelatihan kader Posyandu di Puskesmas Rasanae Timur. Pelaksanaan Penelitian dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif. Evaluasi pelaksanaan pelatihan dilakukan secara kualitatif dengan wawancara mendalam di Puskesmas Paruga Kota Bima. Informan utama adalah Tim Pelaksana Pelatihan kader Posyandu. Analisis kualitatif dilakukan dengan analisis isi. Evaluasi uji coba Informan metode pelatihan dilakukan secara kuantitatif di Puskesmas Rasanae Timur dengan membandingkan dua kelompok sasaran dengan menggunakan metode konvensional dan Belajar Berdasarkan Masalah (BBM). Subjek penelitian adalah Tim Pelaksana Pelatihan dan kader Posyandu sejumlah 28 orang pada kelompok konvensional dan 38 orang pada kelompok Belajar Berdasarkan Masalah (BBM). Analisis data dilakukan dengan analisis bivariat uji Paired t-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas SDM masih rendah dan tidak memiliki pedoman pelatihan dalam manajemen pelatihan kader. Perencanaan tidak melibatkan kader, pelaksanaan pelatihan tidak sesuai dengan tujuan pelatihan dan evaluasi belum dilakukan pada pelatihan. Pelatihan kader dengan metode Belajar Berdasarkan Masalah dan konvensional meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader. Metode BBM meningkatkan kompetensi dan kepuasan kader Posyandu lebih tinggi daripada metode konvensional. Perencanaan pelatihan seharusnya melibatkan kader Posyandu, dilakukan penyusunan pedoman pelatihan dan dilaksanakan sesuai tujuan serta dilakukan evaluasi. Pelatihan dengan metode Belajar Berdasarkan Masalah meningkatkan kompetensi kader lebih baik daripada metode konvensional.Kata kunci : Evaluasi, Manajemen Pelatihan, Kader Posyandu, Belajar Berdasarkan MasalahABSTRACTTraining of posyandu (integrated service post) cadres in Paruga primary healthcare center (puskesmas) Bima city did not improve the posyandu cadres’ competency. It was indicated by only 70% infants and under-five children weighed their bodyweight in the posyandu; this was below the SPM (80%). Objective of this study was to evaluate training of posyandu cadres, and to analyze the evaluation results to improve the implementation of posyandu cadre trainings in East Rasanae primary healthcare centers. This was a qualitative and quantitative study. Evaluation of the training implementation was done qualitatively by conducting in-depth interview at Paruga primary healthcare center, Bima city Main informant was task force team for posyandu cadre training. Content analysis was applied in the qualitative analysis. Evaluation of a pilot testing on training method was done quantitatively in the East Rasanae puskesmas. Two target groups, one with conventional method and the other with problem based learning (BBM) method, were compared. Study subjects were training taskforce, 28 posyandu cadres in the conventional method group, and 38 cadres in the problem based learning method group. Paired t-test was applied in the bivariate analysis. Results of the study showed that human resource quality was inadequate, and no standard guidelines for cadre training management. Cadres were not involved in the planning, implementation of training did not match with the training purposes, and training evaluation was not conducted. Cadre training with problem based learning and conventional methods improved knowledge and skill of the cadres. The improvement of knowledge and skill of cadres was higher in the BBM method group than in the conventional method group. Similarly, cadre satisfaction was higher in the BBM method group than in the conventional method group. Training plan should involve posyandu cadres; training guidelines should be made; training implementation should be done according to the training purposes, and evaluation should be conducted. Training with BBM method is better in increasing cadre competence than conventional method.Keywords : evaluation, training management, posyandu cadre, problem-based learning
The Effect of Training by Simulation Method on Cadres to the Successfulness of Diversity Food Application (a Study in Kecamatan Trawas Kabupaten Mojokerto) Shinta Ayu Retnawati; Laksmi Widajanti; Sri Achadi Nugrahaeni
Jurnal Manajemen Kesehatan Indonesia Vol 2, No 3 (2014): Desember 2014
Publisher : Magister Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (460.499 KB) | DOI: 10.14710/jmki.2.3.2014.%p

Abstract

Keluarga Sadar Gizi tercermin dari pola konsumsi pangan yang beraneka ragam dan bermutu gizi seimbang. Perlunya makan beraneka ragam agar tercukupi semua kebutuhan zat gizi yang diperlukan oleh tubuh. Hasil dari pemetaan Kadarzi terhadap 288 keluarga di Kecamatan Trawas terutama makan beraneka ragam masih rendah sekali yaitu 30,9%, dengan diberikan pelatihan agar tercapai kompetensi kader pendamping. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pelatihan metode simulasi terhadap keberhasilan penerapan makan beraneka ragam oleh kader pendamping. Jenis penelitian ini adalah quasi experimental dengan rancangan penelitian Non Randomized with pretest and postest group. Jumlah Populasi 146 kader pendamping dan sampel 60 kader pendamping. Variabel bebas penelitian adalah pelatihan dengan metode simulasi dan metode konvensional serta variabel terikatnya adalah pengetahuan, sikap dan keterampilan kader pendamping. Data dianalisis dengan menggunakan analisis univariat dan bivariat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan pelatihan simulasi kepada kader pendamping dapat meningkatkan skor pengetahuan 16 poin dan metode konvensional 5 poin tetapi tidak bermakna dengan nilai p=0,127. Peningkatan skor sikap sebesar 11 poin untuk metode simulasi dan 19 poin untuk metode konvensional, terjadi perbedaan secara bermakna dengan nilai p=0,000 sedangkan peningkatan skor keterampilan 12 poin untuk metode simulasi dan 10 poin untuk metode konvensional tetapi tidak bermakna dengan nilai p=0,102. Disimpulkan untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan keterampilan kader pendamping dapat diberikan pelatihan dengan mengkombinasikan antara metode simulasi dan metode konvensional. Diharapkan bagi dinas Kesehatan Kabupaten Mojokerto dalam peningkatan kompetensi kader pendamping bisa diberikan pelatihan dengan menggunakan metode simulasi dan metode konvensional dengan memperpanjang waktu pelatihan minimal 3 hari. Nutrition-aware family was reflected from their variety of food consumption pattern and equal nutritional quality. Eating variety of food was needed to fulfill all nutrition needed by human body. Results of Kadarzi mapping on 288 families in Trawas district showed that eating variety of food was still low namely 30.9%. Training to cadres to improve their competence was needed. Objective of this study was to know the influence of training using simulation method on the success of eating variety of food application by cadres. This was a quasy experimental study using non-randomized with pretest and posttest group design. Study population was 146 cadres. Samples were 60 cadres. Independent variables consisted of training with simulation method and with conventional method. Dependent variable was knowledge, attitude, and skills of cadres. Univariate and bivariate analysis were applied in the data analysis. Results of the study showed that no difference in score change on knowledge and skills between simulation method and conventional method groups (p> 0.05). The increase of mean value for knowledge was 15 points for simulation method group and 9 points for conventional method group. The increase of score (median value) for skill was 12 points for simulation method group and 10 points for conventional method group. Score change difference on attitude between simulation method group and conventional group was identified (p< 0.05). The increase of score for simulation method group was 9 points and for conventional method group was 19 points. In conclusion, a training that combines simulation method and conventional method is able to improve knowledge, attitude and skill of cadres. Mojokerto district health office is expected to improve cadres’ competence by giving trainings using simulation and conventional methods, and to provide longer time for training.
PERBANDINGAN POLA ASUH DAN STATUS GIZI ANAK USIA 7-59 BULAN ANTARA ORANG TUA TUNGGAL DAN BUKAN ORANG TUA TUNGGAL (Studi di Kecamatan Pati Kabupaten Pati Provinsi Jawa Tengah Tahun 2019) Hanna Ela Monnica; Laksmi Widajanti; Suyatno Suyatno
Jurnal Kesehatan Masyarakat (Undip) Vol 8, No 3 (2020): MEI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (223.807 KB) | DOI: 10.14710/jkm.v8i3.26354

Abstract

The problem of instability in the family is increasing, one of which is a single parent, especially those carried by the mother. The mother's status as a single parent can indirectly affect the care patterns given to children due to different load borne, lack of partner support, as well as economic conditions that will impact on the nutritional status of children. The purpose of the study was to see whether there were differences in the characteristics of the mother, child and family, differences in parenting, the level of nutritional adequacy, the frequency of child infections, and the nutritional status of the child from the mother as a single parent and not as a single parent. The research method uses a comparative study with a cross sectional approach with a purposive sampling technique. The total sample of 50 mothers as single parents and 50 mothers not as single parents. The normality test uses the Kolmogorov Smirnov test. Data analysis used independent sample test, Mann Whitney test, and Chi-square test for different tests, and Rank Spearman test for relationship test. The results showed different characteristics of mothers as single parents and not as single parents were occupational status and income per capita (p <0.05). Characteristics that did not differ were maternal age, education, number of family members, number of children, sex and age of the child (p <0.05). The different parenting patterns between the two groups were attitudes and practices (p <0.05) while knowledge did not differ (p≥0.05). The levels of nutritional adequacy that differed between the two groups were Energy Adequacy Level and Protein Adequacy Level (p <0.05). The nutritional status of children who differed between the two groups was the nutritional status based on the BB/U index (p <0.05) while based on the TB/U index and the BB/U did not differ (p≥0.05). Mother characteristics related to parenting are age, education, employment status and income per capita (p <0.05). There is a relationship between parenting and the level of nutritional adequacy and infection (p <0.05). There is a relationship between infection and nutritional adequacy level with the nutritional status of children (p <0.05).
PERBEDAAAN KETERSEDIAAN PANGAN PANTI, TINGKAT KECUKUPAN ENERGI-PROTEIN DAN STATUS GIZI LANSIA PEREMPUAN ANTARA PANTI WREDHA NEGERI DAN SWASTA (Studi di Unit Rehabilitasi Sosial Pucang Gading Provinsi Jawa Tengah dan Panti Wredha Harapan Ibu Kota Semarang) Yulinar Tri Pamungkas; Laksmi Widajanti; Sri Achadi Nugraheni; M. Zen Rahfiluddin
Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 7, No 4 (2019): OKTOBER
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (233.625 KB) | DOI: 10.14710/jkm.v7i4.24616

Abstract

ABSTRACTPrevious studies found nutritional status in the underweight category of Homecare compared with elderly living in non-homecare dominated by women.7Purpose of the study was to analyze differences between National Homecare (NH) and Private Homecare (PH) of the food availability, Energy-Protein Sufficiency Level(ESL-PSL) and nutritional status of elderly women. The research method uses a cross sectional approach. The sampling technique use Stratified sampling method with the inclusion and exclusion criteria of elderly women in NH and PH for 30 and 32 subjects. Data analysis used different tests: Chi Square, Mann Whitney U and Independent Sample T-Test. The results showed that there isdifference of food availability between NH and PH (p=0,001) with average food availability of NH (84,5) hinger then NH (65). There is a difference in the ESL of elderly women (p = 0.001) between NH and PH with ESL average NH (75,74±5,32) hinger then PH (61,11±7,20). There is a difference of elderly women PSL (p = 0.001) between NH and PH with (83,167±4,82) hinger then PH (72,14±6,44). And there is no difference in the nutritional status of elderly women based on Body Mass Index (BMI) (p = 0.125) between NH and PH with average of NH (20,01±3,86) lower then PH (22,99±4,65). There was no difference in nutritional status based on the circumference of the elderly abdominal women (p = 0.359) between NH and PH with average (61,11±7,30) lower then NH (75,74±5,32).. It can be concluded that there are differences in the variables of food availability, the ESL,-PSL in elderly women and there is no difference in nutritional status based on BMI and the stomach circumference of elderly women between NH and PH.
Pengaruh Paparan Media Video Gangguan Akibat Kekurangan Iodium (GAKI) Terhadap Kompetensi Gizi Siswa SD di Wilayah Replete GAKI Faqihatin Afifa; Laksmi Widajanti; Sri Achadi Nugraheni
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 19, No 2 (2020): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkmi.19.2.165-169

Abstract

Latar Belakang: Gangguan Akibat Kekurangan Iodium (GAKI) merupakan masaIah gizi yang berdampak terhadap tingkat kecerdasan  dan gangguan mentaI yang faktor resikonya pada anak SD. Wilayah yang pernah menjadi endemis GAKI kemudian telah membaik dikatakan sebagai wilayah replete GAKI. Kompetensi seorang anak dinilai dari 3 aspek yaitu kompetensi pengetahuan, sikap serta keterampilan/praktik. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis pengaruh paparan  media Video GAKI terhadap Kompetensi gizi siswa SD di wilayah Replete.Metode: Jenis penelitian ini merupakan Quashy Eksperimental dengan rancangan pretest-posttest one group design dan pengambilan sampel menggunakan stratified random sampling . populasi yang diteliti ada 1 sekolah dasar dengan jumlah siswa 141 yang ada di wilayah replete GAKI dan sampel yang diambil adalah 33 siswa kelas IV dan V.Hasil: Hasil uji statistik menunjukkan terdapat perubahan skor pengetahuan dan sikap sebesar 15,38, perubahan skor untuk praktik konsumsi iodium sebesar 23,03 sedangkan perubahan skor untuk kompetensi gizi yang meliputi pengetahuan sikap dan praktik konsumsi iodium sebesar 17,81. Perbedaan antara pengetahuan, sikap, praktik konsumsi iodium serta kompetensi gizi siswa sebelum dan sesudah intervensi (p<0,05) menunjukkan terdapat perbedaan. Analisis data menggunakan paired t-test dan Wilcoxon signed rank test. Simpulan: Kesimpulan dari penelitian ini adalah pendidikan kesehatan melalui video berpengaruh pada pengetahuan, sikap, praktik konsumsi iodium serta kompetensi gizi siswa.Kata kunci: GAKI, Video, Kompetensi gizi, Siswa SD ABSTRACT Title: The Effect Of Video Disturbances Due To Iodine Deficiency To The Nutritional Competency Of Students To The Replete Area Of The District Magelang  (Study of Students of Bumiharjo Elementary School in Magelang District in 2019) Background: Iodine Deficiency Disorders (IDD) is a nutritional period that has an impact on the level of intelligence and mental disorders which are risk factors for elementary school children. Regions that were once endemic to IDD then have improved as the replete GAKI region. The competency of a child is assessed from 3 aspects, namely competence in knowledge, attitude and skills / practice. The purpose of this study was to analyze the effect of GAKI Video media exposure on the nutrition competency of elementary students in the Replete area. Method: This type of research is an experimental quashy with one group design pretest-posttest design and sampling using stratified random sampling. the population studied was 1 elementary school with 141 students in the replete GAKI region and the samples taken were 33 grade IV and V students.Result: The results of statistical tests showed that there were changes in knowledge and attitude scores of 15.38, changes in scores for iodine consumption practices amounting to 23.03 while changes in scores for nutritional competencies which included knowledge of attitudes and iodine consumption practices were 17.81. The difference between knowledge, attitudes, iodine consumption practices and student nutritional competencies before and after the intervention (p <0.05) showed differences. Data analysis used paired t-test and Wilcoxon signed rank test. Conclusion: The conclusion of this study is that health education through video influences knowledge, attitudes, iodine consumption practices and student nutritional competencies.Keywords: IDD, Video, Competency of Nutrition, Elementary School Students
Hubungan Asupan Gizi dan Aktivitas Fisik dengan Status Gizi (Skor z IMT/U) Anak Usia 7-12 Tahun Penyandang Disabilitas Intelektual di Kota Semarang Annisa Fadillah; Laksmi Widajanti; Sri Achadi Nugraheni
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 19, No 2 (2020): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkmi.19.2.108-115

Abstract

Latar belakang: Malnutrisi dan disabilitas merupakan masalah utama kesehatan global. Prevalensi anak disabilitas intelektual di Indonesia meningkat dari 0,92 % menjadi 2,45 %. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada hubungan asupan gizi dan aktivitas fisik dengan status gizi anak disabilitas intelektual di Kota Semarang.Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross sectional. Pengambilan sampel menggunakan total sampling dan dilakukan di SLB Negeri Kota Semarang. Sampel terdiri dari siswa SDLB kelas 1-6 yang berumur 7-12 tahun. Jumlah sampel yang digunakan adalah sebanyak 46 orang.Hasil: Berdasarkan hasil penelitian diketahui status gizi anak disabilitas intelektual tergolong normal (56,5 %). Anak disabilitas intelektual mengalami defisit energi, karbohidrat, lemak, besi, seng, kalsium, iodium, dan vitamin C. Dan memiliki asupan gizi kategori baik untuk asupan protein dan vitamin A. Hasil uji statistik Rank Spearman menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara asupan karbohidrat, besi, seng, kalsium, iodium, vitamin A, vitamin C dan aktivitas fisik dengan status gizi (skor z IMT/U) (p>0,05). Ada hubungan asupan energi dan protein dengan status gizi (skor z IMT/U) (p=0,005, r=0,40;  p=0,001, r=0,53) dengan korelasi sedang dan arah positif. Ada hubungan asupan lemak dengan status gizi (skor z IMT/U) (p=0,001, r=-0,4) dengan korelasi sedang dan arah negatif.Simpulan: Ada hubungan antara tingkat kecukupan energi, protein dan lemak dengan status gizi anak penyandang disabilitas intelektual dan tidak terdapat hubungan antara tingkat kecukupan karbohidrat, besi, seng, iodium, kalsium, vitamin A, vitamin C dan aktivitas fisik dengan status gizi anak disabilitas intelektual di Kota Semarang. Kata kunci: Asupan Gizi, Aktivitas Fisik, Status Gizi, Disabilitas Intelektual. ABSTRACT Title: Relationship of nutritional intake and physical activities with nutritional status (score z imt/u ) children age 7-12 years of intellectual disability in semarang city Background: Malnutrition and disability are the main problems of global health. The prevalence of children with intellectual disabilities in Indonesia increased from 0.92% to 2.45%. This study aimed to determine the relationship between nutritional intake and physical activity with the nutritional status of children with intellectual disabilities in the city of Semarang.Method: This was cross sectional research and conducted in Semarang State SLB. The sample consisted of SDLB students in grades 1-6 who were 7-12 years old. The number of samples used was 46 people. Result: Based on the results of the study, it was found that the nutritional status of children with intellectual disabilities was classified as normal (56.5%). Intellectual disability children have deficits in energy, carbohydrate, fat, iron, zinc, calcium, iodine, and vitamin C and have good nutrition for the intake of protein and vitamin A. The results of the Spearman Rank statistical test sowed that there was no relationship between carbohydrate intake, iron, zinc, calcium, iodine, vitamin A, vitamin C and physical activity with nutritional status (BMI/U z score) (p> 0.05). There was correlation between energy and protein intake with nutritional status (IMT / U z score) (p = 0.005, r = 0.40; p = 0.001, r = 0.53) with moderate correlation and positive direction. There was a correlation between fat intake and nutritional status (IMT / U z score) (p = 0.001, r = -0.4) with moderate correlation and negative direction.Conclusion: There is a relationship between the level of adequacy of energy, protein and fat with the nutritional status of children with intellectual disabilities and there is no relationship between the level of adequacy of carbohydrates, iron, zinc, iodine, calcium, vitamin A, vitamin C and physical activity with the nutritional status of children with intellectual disabilities in the City Semarang. Keywords: nutritional intake, physical activity, nutritional status, intellectual disability