Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Falsafah Kembar Mayang Dalam Membentuk Keluarga Sakinah Hijriyah; Katimin; Wahyu Wiji Utomo
Young Journal of Social Sciences and Humanities Vol. 1 No. 4 (2025): Young Journal of Social Sciences and Humanities
Publisher : Yayasan Bayt Shufiya Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to explore the philosophical meaning of kembar mayang within the Javanese migrant community in Tanah Jawa, Simalungun Regency, and to examine its relevance for nurturing a sakinah family. Employing a qualitative phenomenological approach, the research collects data through observation, documentation, and interviews with traditional wedding specialists (dukun manten) and members of the local Javanese community. These findings are further supported by a literature review consisting of books, theses, dissertations, and scholarly articles addressing the symbolism of kembar mayang. Data analysis follows the stages of data reduction, data display, and conclusion drawing, interpreted through Paul Ricoeur’s philosophy of symbols to unveil the deeper layers of meaning embodied in the ritual practices and material components of kembar mayang. The results reveal that kembar mayang is preserved in its original form within the wedding practices of Javanese communities in the diaspora and continues to function as an ethical–spiritual foundation for cultivating a sakinah family. The interpretation of its materials, structure, and ceremonial use demonstrates that this tradition encapsulates philosophical teachings on relational harmony, steadfast intention, and the unification of two lives within an ordered and balanced framework.
A Political Semiotic Analysis of the One Piece Flag: A Comparative Study of Demonstration Movements in Indonesia and Nepal Utomo, Wahyu Wiji
Jurnal Ilmiah Muqoddimah: Jurnal Ilmu Sosial, Politik dan Hummaniora Vol 10, No 1 (2026): Februari 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jim.v10i1.2026.326-336

Abstract

Latar belakang penelitian ini menyoroti bagaimana lanskap politik global telah mengalami transformasi melalui masuknya budaya populer ke dalam bahasa perlawanan. Simbol-simbol yang berasal dari anime dan budaya pop, khususnya Bendera Bajak Laut Topi Jerami dari serial One Piece, telah direkontekstualisasi menjadi alat semiotik politik dalam demonstrasi di Indonesia dan Nepal. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan analisis semiotik Roland Barthes yang dikombinasikan dengan desain studi kasus komparatif. Kerangka metodologis ini memungkinkan interpretasi mendalam terhadap tanda-tanda visual dan proses pembentukan mitos yang mengubah simbol fiksi menjadi narasi politik perlawanan. Temuan utama mengungkap bahwa di Indonesia, Bendera Topi Jerami merepresentasikan perlawanan terhadap ketidakadilan ekonomi dan kekerasan negara, sedangkan di Nepal, simbol tersebut menandakan penentangan terhadap korupsi, nepotisme, dan sensor digital. Makna-makna ini berpadu menjadi bentuk perlawanan glokal yang menunjukkan bagaimana simbol budaya populer transnasional berfungsi sebagai infrastruktur solidaritas kolektif lintas negara. Kontribusi penelitian ini terletak pada perluasan kajian Semiotika Politik melalui konsep cultural hybrid resistance, yang memperlihatkan bagaimana simbol global memperoleh makna politik baru dalam konteks sosial-politik yang beragam. Implikasinya menunjukkan bahwa simbol-simbol budaya semacam ini seharusnya dibaca sebagai indikator kesadaran politik generasi muda, bukan sekadar ekspresi budaya populer semata.