Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

PENGGUNAAN SIX SIGMA SEBAGAI EVALUASI KONTROL KUALITAS PADA HEMATOLOGY ANALYZER SYSMEX XN-1000 Eva Ayu Maharani; Rika Erviani; Rizana Fajruni'mah; Dewi Astuti
JURNAL RISET KESEHATAN POLTEKKES DEPKES BANDUNG, Online ISSN 2579-8103 Vol 14 No 2 (2022): Jurnal Riset Kesehatan Poltekkes Depkes Bandung
Publisher : Poltekkes Kemenkes Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34011/juriskesbdg.v14i2.2106

Abstract

Saat ini metode otomatisasi menggunakan hematology analyzer banyak dipilih dibandingkan metode manual dengan keutamaan mempunyai presisi yang lebih baik. Kontrol kualitas pada hematology analyzer umumnya hanya menggunakan aturan Westgard, dan belum digunakannya analisis six sigma di laboratorium RSUD Budhi Asih, walaupun analisis six sigma juga diperlukan untuk melihat tingkat akurasi dan presisi suatu metode. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penggunaan six sigma sebagai evaluasi kontrol kualitas hematology analyzer Sysmex XN-1000 di laboratorium klinik RSUD Budhi Asih pada parameter HGB, RBC, WBC, HCT dan PLT. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif menggunakan data hasil kontrol kualitas internal laboratorium klinik RSUD Budhi Asih periode Januari s/d Februari 2022 dengan bahan kontrol level low, normal dan high. Analisis six sigma melibatkan CV dan bias. Perhitungan CV dibandingkan dengan nilai target kit insert dan nilai bias dibandingkan dengan standar Rico’s biological variation. Hasil menunjukkan, bahan kontrol masuk dalam kategori ‘in control’, nilai CV di bawah batas yang ditetapkan dan nilai bias umumnya berada di bawah standar, kecuali parameter HCT. Nilai sigma berada pada kategori world class performance sampai marginal performance. Kesimpulan penelitian ini analisis kontrol kualitas cukup digunakan dua level bahan kontrol setiap hari, yang disertai dengan analisis kurva Levey Jenning’s melalui aturan Westgard. Kata kunci: Kontrol Kualitas, Six Sigma, CV, Bias
Perbandingan Metode RT-PCR dan Tes Rapid Antibodi untuk Deteksi COVID-19 Anita Suswanti Agustina; Rizana Fajrunni'mah
Jurnal Kesehatan Manarang Vol 6 No Khusus (2020): Oktober 2020
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes Mamuju

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33490/jkm.v6iKhusus.317

Abstract

COVID-19 is caused by SARS-CoV-2, which can spread rapidly from human to human. There are several laboratory tests to detect COVID-19, including the Reverse Transcription-Polymerase Chain Reaction (RT-PCR) method and a rapid test antibody test to detect antibody reactions to SARS-CoV-2. Both methods have advantages and disadvantages of each, while the literature study comparing the two methods is currently limited. The type of research used is library research. Research materials have been collected from various journals, books, and guidelines, in line with the research topic, to obtain 24 library sources. The results of the literature study indicate that the target genes that can be used to detect COVID-19 RT-PCR methods include the N, E, RdRp, and ORF1a/b genes. The sensitivity of rapid antibody tests is known to range from 68−89%, while the specificity of rapid antibody tests ranges from 91−100%. RT-PCR has the advantage of being able to detect low-concentration antigens, but RT-PCR has weaknesses such as requiring expensive equipment and inspection fees, specially trained laboratory personnel, long working time, and high risk of exposure. Rapid antibody testing has advantages, including ease of sampling, lower testing costs, reduced risk of exposure to officers, does not require special equipment and space, but has the potential for cross-reactivity with other coronaviruses. Both the RT-PCR method and the rapid antibody test have their advantages and disadvantages, but rapid antibody testing with RT-PCR can improve the diagnosis of COVID-19. The results of this literature study are expected to be continued as a basis for further research on RT-PCR examination and antibody rapid test for COVID-19 detection in Indonesia, accompanied by information on onset time and time-testing with a large sample of research.
Hubungan Kadar Interleukin-6 (IL-6) Dengan Neutrophil Lymphocyte Ratio (NLR) Pada Pasien COVID- 19 Sriyanto Sriyato; Lyana Setiawan; Rizana Fajrunni’mah; Farida Murtiani
The Indonesian Journal of Infectious Diseases Vol. 8 No. 1 (2022): The Indonesian Journal of Infectious Disease
Publisher : Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof Dr. Sulianti Saroso

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32667/ijid.v8i1.132

Abstract

Latar belakang: COVID-19 menjadi masalah kesehatan di dunia. Penanda inflamasi yang dapat digunakan sebagai predictor prognosis COVID-19 salah satunya Interlukin-6 (IL-6) dan Neutrofil Lymphocyte Ratio (NLR). Tujuan penelitian: mengetahui hubungan kadar IL-6 dengan NLR pada pasien COVID-19. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional. Data yang dikumpulkan dari rekam medik pasien COVID-19 di RS Kanker Dharmais periode Januari-Juli 2021. Jumlah sampel sebanyak 70 pasien yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Analisa data dilakukan secara univariat dan bivariat dengan korelasi spearman. Hasil: Dari 70 pasien COVID-19 sebagian besar berusia dalam kategori lansia akhir (56-65 Tahun) 17 (24,3%) dan jenis kelamin sebagian besar laki-laki yaitu 42 (60%). Rata-rata kadar IL-6 43,34 pg/ml dan rata-rata NLR 12,73. Ada korelasi antara kadar IL-6 dengan NLR pada pasien COVID-19 (P Value=0,000; nilai r 0.563). Kesimpulan:  Adanya korelasi positif IL-6 dengan NLR. IL-6 adalah salah satu biomarker yang digunakan untuk memprediksi prognosis COVID-19 karena pemeriksaannya yg kompleks, tidak dapat memprosesnya di lab yg sederhana. Sebagai gantinya, kami menyimpulkan pemeriksaan NLR dapat menjadi biomarker alternatif. 
Korelasi Antara Kadar Ferritin Serum dengan Procalcitonin Pada Pasien COVID-19 Mita Puspita Sari; Rizana Fajrunni’mah; Dewi Astuti; Kunti Wijiarti; Farida Murtiani
The Indonesian Journal of Infectious Diseases Vol. 8 No. 2 (2022): The Indonesian Journal of Infectious Disease
Publisher : Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof Dr. Sulianti Saroso

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32667/ijid.v8i2.151

Abstract

Latar Belakang: Wabah Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) disebabkan oleh Severe Acute Respiratory Syndrome-Coronavirus-2 (SARS-CoV-2). Temuan laboratorium pada pasien COVID-19 yang parah melibatkan penanda inflamasi yang meningkat, termasuk feritin. Feritin adalah mediator kunci dari disregulasi imun, terutama di bawah hiperferitinemia ekstrim. Pasien COVID-19 dengan hiperferitinemia memiliki tingkat penanda inflamasi yang jauh lebih tinggi, salah satunya adalah prokalsitonin (PCT). Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kadar feritin serum dengan PCT pada pasien COVID-19. Metode: Metode penelitian ini adalah analitik korelatif. Sampel adalah data rekam medik sebanyak 463 pasien COVID-19 di RS Persahabatan periode Januari – Desember 2021. Hubungan antara kadar feritin serum dengan kadar PCT dianalisis secara statistik menggunakan uji Spearman. Hasil: Hasil penelitian ini diperoleh 240 (51,8%) pasien laki-laki dengan kelompok umur tertinggi 46-59 tahun sebanyak 160 (34,6%) pasien dan 60 tahun sebanyak 163 (35,0%) pasien. Rerata kadar feritin serum adalah 995.218 µg/L dengan kadar minimum 11,3 µg/L dan kadar maksimum 22.612,7 µg/L, sedangkan rerata kadar PCT adalah 0,3892 ng/mL dengan kadar minimum 0 ,00 ng/mL dan kadar maksimum 50,73 ng/mL. Hasil uji korelasi Spearman diperoleh nilai p 0,000 dan rho 0,573. Kesimpulan: Rumah sakit atau institusi pelayanan dapat menerapkan hasil penelitian ini dengan melakukan salah satu pemeriksaan kadar feritin serum atau PCT sambil memantau co-diagnosis pasien.
Penyuluhan dan Pemeriksaan Tekanan Darah Pada Lansia Di RW 06 Jatiwarna Pondok Melati Bekasi Angki Purwanti; Rizana Fajrunni’mah; Michael Alfian Grey
Genitri: Jurnal Pengabdian Masyarakat Bidang Kesehatan Vol 2 No 2 (2023): Desember
Publisher : Politeknik Kesehatan Kartini Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36049/genitri.v2i2.153

Abstract

Hipertensi merupakan penyakit tidak menular yang banyak diderita lansia, kondisi hipertensi yang tidak terkendali dapat memunculkan berbagai komplikasi. Pengetahuan yang baik diperlukan agar lansia mampu melakukan tindakan pengendalian hipertensi Tujuan pengabdian adalah untuk meningkatkan pengetahuan tentang hipertensi dan melakukan pemeriksaan kesehatan berupa pengukuran tekanan darah lansia. Peningkatan pengetahuan melalui kegiatan penyuluhan dan tekanan darah diukur menggunakan alat tensimeter. Peserta pengabdian sebanyak 54 orang lansia yang berumur (55 – 90) tahun. Hasil pre test lansia yang memperoleh nilai dengan kategori ”kurang” ”cukup” dan ”baik” adalah 18 (33,3)% orang, 22 (40,7%) orang dan 14 (25,9%) orang. Hasil post test lansia yang memperoleh nilai dengan kategori ”kurang” ”cukup” dan ”baik” adalah sebanyak 4 (7,4%) orang, 10 (18,5%) orang dan 40 (74,1%) orang. Hasil pemeriksaan tekanan darah lansia diperoleh 26 (48,14%) orang dengan tekanan darah normal, 9 (16,67%) orang pre hipertensi, 9 (16,67%) orang termasuk dalam hipertensi I dan 10 (18,52%) orang tergolong dalam kategori hipertensi II. Setelah kegiatan penyuluhan terjadi peningkatan pengetahuan lansia peserta pengabdian tentang hipertensi. Kegiatan penyuluhan dan pemeriksaan kesehatan pada lansia di wilayah pengabdian hendaknya dilakukan secara rutin dan berkesinambungan serta melibatkan lebih banyak lagi lansia.
Korelasi Kadar Prokalsitonin (PCT) Dengan Rasio Neutrofil Limfosit (RNL) Pada Pasien COVID-19 Apriliani, Isnawati; Fajrunni’mah, Rizana; Djajaningrat, Husjain; Widiantari, Aninda Dinar; Murtiani, Farida
Medica Hospitalia : Journal of Clinical Medicine Vol. 10 No. 1 (2023): Med Hosp
Publisher : RSUP Dr. Kariadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36408/mhjcm.v10i1.855

Abstract

BACKGROUND: Covid-19 treatment should be done early before the disease progress. Inflammatory biomarker is needed to ascertain the severity of disease as soon as possible.  Neutrophil-to-lymphocyte ratio (NLR) and Procalcitonin (PCT) are two of biomarker that are clinically used around the world. NLR is simpler, can routinely be done and available in peripheral region while PCT is more effective to describe inflammation. PURPOSE: This study aims to determine the correlation of procalcitonin (PCT) levels with neutrophil lymphocyte ratio (NLR) in COVID-19 patients. METHOD: This study is an analytic observational with a cross sectional design. We extracted data from medical record. Samples were 415 COVID-19 patients undergoing inpatient care at the Budhi Asih Hospital, East Jakarta for January - December 2021. RESULTS: Prevalence of male patients more than ≥60 years were 78 patients (18,8%) while female patients were 68 patients (16,4%). Average of PCT level was 1,93 ng/mL (0,02-200 ng/mL). Average of NLR was 5,09 cells/mm3 (0,22-31 cells/mm3). Spearman test proved there was a significant correlation between PCT and NLR levels in COVID-19 patients (p value = 0,0001). CONCLUSION: The higher the PCT level, the higher the NLR value in COVID-19 patients.
Hubungan Antara Lama Penggunaan Kontrasepsi Suntik Depo Medroxy Progesteron Acetate (DMPA) dengan Kadar Kolesterol Total pada Akseptor KB Prasetyorini, Tri; Islami, Yasyavia Hatifah; Fajrunni’mah, Rizana; Karningsih, Karningsih
Muhammadiyah Journal of Midwifery Vol 1, No 2 (2020): Muhammadiyah Journal of Midwifery (MyJM)
Publisher : Faculty of Medicine and Health Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (271.728 KB) | DOI: 10.24853/myjm.1.2.37-44

Abstract

Latar belakang: jumlah penduduk terbanyak di dunia posisi ke-4 adalah Indonesia. Upaya untuk menekan jumlah pertumbuhan penduduk yaitu dengan program Keluarga Berencana (KB). Secara nasional pengguna KB yang paling banyak adalah KB suntik Depo Medroxy Progesteron Acetate (DMPA) yaitu lebih dari 50% dari jumlah peserta KB aktif. DMPA yang mengandung hormon Progesteron dapat mempengaruhi metabolisme lemak, khususnya lipoprotein. Lama pemakaian kontrasepsi suntik lebih dari 1 tahun akan mengakibatkan ketidak seimbangan hormon estrogen dan progesteron yang berakibat penurunan HDL dan peningkatan LDL sehingga akan meningkatkan kadar kolesterol total. Tujuan: diketahuinya hubungan antara lama penggunaan kontrasepsi suntik DMPA dengan kadar kolesterol total pada akseptor KB DMPA. Metode: jenis penelitian yang digunakan observasional analitik cross sectional dengan jumlah sampel sebanyak 35 responden. Uji statistik yang digunakan adalah uji chi-square dengan tingkat kepercayaan 95%.  Hasil: menunjukan bahwa nilai p sebesar 0,011 (p0,05). Hal ini berarti bahwa terdapat hubungan antara lama penggunaan kontrasepsi suntik Depo Medroxy Progesteron Acetate (DMPA) dengan kadar kolesterol total pada akseptor KB. Sehingga semakin lama penggunaan kontrasepsi DMPA maka semakin meningkatkan kadar kolesterol. Kesimpulan: terdapat hubungan antara lama penggunaan kontrasepsi suntik DMPA dengan kadar kolesterol total.
IMMUNOLOGICAL AND HEMATOLOGICAL STATUS PROFILE IN TUBERCULOSIS-HUMAN IMMUNODEFICIENCY VIRUS COINFECTED PATIENTS Fajrunni'mah, Rizana; Febriyana, Niniek Dwi
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol. 32 No. 4 (2022): MEDIA PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KESEHATAN
Publisher : Poltekkes Kemenkes Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34011/jmp2k.v32i4.1864

Abstract

Infeksi oleh Human Immunodeficiency Virus (HIV) merupakan masalah di seluruh dunia termasuk Indonesia. Tuberkulosis (TB) adalah infeksi oportunistik tersering pada penderita AIDS. Status imun pada penderita terinfeksi HIV dapat dinilai melalui pemeriksaan jumlah absolut limfosit T CD4+, dan ini merupakan standar untuk menilai dan menentukan derajat imunodefisiensi. Penurunan progresif limfosit T CD4+ berhubungan dengan progresifitas penyakit. Penelitian ini bertujuan mengetahui profil status imunologis yang dilihat dari jumlah CD4 dan hematologi yang dilihat dari jumlah leukosit, hitung jenisnya, hemoglobin, laju endap darah, dan trombosit. Penelitian ini menggunakan rancangan kuantitatif dengan desain analitik observasional (cross sectional).Jumlah data yang diambil sebanyak 45 data. Data dianalisis menggunakan analisis korelasi. Jumlah CD4+ pasien ko-infeksi TB-HIV terbanyak menunjukkan  imunodefisiensi berat (jumlah CD4+ <200 sel/ mm3) yaitu 73,3% pasien dengan rerata 118,4 sel/ mm3. Terdapat 86,5% mengalami anemia. Hitung jumlah dan jenis leukosit terbanyak yaitu jumlah leukosit normal sebanyak 59,5%, sebanyak 61,5% mengalami neutrofilia, sebanyak 65,4% mengalami limfopenia, monosit dalam rentang normal yaitu sebesar 57,7%. Sebanyak 73,7% mengalami peningkatan dengan rerata laju endap darah pasien mencapai 46,58 mm/jam. Jumlah trombosit terbanyak dalam rentang normal yaitu sebesar 68,6%. Terdapat korelasi yang signifikan antara kadar hemoglobin, hitung jumlah neutrofil, limfosit, dan monosit dengan hitung jumlah CD4+ dengan nilai p berturut-turut yaitu 0,001; 0,000; 0,000; 0,012. Status imunologis dan hematologi pasien koinfeksi TB-HIV mengalami penurunan, dan terdapat korelasi yang signifikan antara kedua profil tersebut, sehingga perlu meningkatkan pemeriksaan laboratorium secara menyeluruh.
KADAR ANTIBODI IgG SARS COV-2 SETELAH VAKSINASI COVID-19 DOSIS LANJUTAN Fajrunni'mah, Rizana; Purwanti , Angki; Setiawan, Budi
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol. 33 No. 2 (2023): MEDIA PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KESEHATAN
Publisher : Poltekkes Kemenkes Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34011/jmp2k.v33i2.1865

Abstract

COVID-19 is a problem throughout the world, including Indonesia. One of the efforts to overcome the COVID-19 pandemic is vaccination. A follow-up or booster dose was needed to increase individual protection because there was a decrease in antibodies 6 months after receiving vaccination. This study aimed to determine SARS-CoV-2 IgG antibody levels before and after 8 months of the third booster vaccination. This research method was observational with a longitudinal, cohort approach to 27 samples using a consecutive sampling technique at the Health Polytechnic of the Ministry of Health, Jakarta III in April-November 2022. The data collection techniques used questionnaires and venous blood sampling to examine quantitative Anti-SARS CoV-2 Ig G levels using the CMIA (Chemiluminescent microparticle immunoassay) method with the Architect tool which was carried out twice, namely before administration and 8 months after the third booster vaccination with a heterologous vaccine. Data were analyzed using a statistical test of the difference between the means of two groups. Based on the research results, although statistically there was no significant difference between before and 8 months after vaccination (p=0.055), there was a decrease in the mean quantitative Anti-SARS CoV-2 IgG level of 5301.24 AU/mL. As many as 63% of subjects experienced a decrease in antibody levels 8 months after vaccination compared to before the third booster vaccination. Longitudinal studies are needed to determine protective antibody levels.
Perbandingan Metode RT-PCR dan Tes Rapid Antibodi untuk Deteksi COVID-19 Anita Suswanti Agustina; Rizana Fajrunni'mah
Jurnal Kesehatan Manarang Vol 6 No Khusus (2020): Oktober 2020
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes Mamuju

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33490/jkm.v6iKhusus.317

Abstract

COVID-19 is caused by SARS-CoV-2, which can spread rapidly from human to human. There are several laboratory tests to detect COVID-19, including the Reverse Transcription-Polymerase Chain Reaction (RT-PCR) method and a rapid test antibody test to detect antibody reactions to SARS-CoV-2. Both methods have advantages and disadvantages of each, while the literature study comparing the two methods is currently limited. The type of research used is library research. Research materials have been collected from various journals, books, and guidelines, in line with the research topic, to obtain 24 library sources. The results of the literature study indicate that the target genes that can be used to detect COVID-19 RT-PCR methods include the N, E, RdRp, and ORF1a/b genes. The sensitivity of rapid antibody tests is known to range from 68−89%, while the specificity of rapid antibody tests ranges from 91−100%. RT-PCR has the advantage of being able to detect low-concentration antigens, but RT-PCR has weaknesses such as requiring expensive equipment and inspection fees, specially trained laboratory personnel, long working time, and high risk of exposure. Rapid antibody testing has advantages, including ease of sampling, lower testing costs, reduced risk of exposure to officers, does not require special equipment and space, but has the potential for cross-reactivity with other coronaviruses. Both the RT-PCR method and the rapid antibody test have their advantages and disadvantages, but rapid antibody testing with RT-PCR can improve the diagnosis of COVID-19. The results of this literature study are expected to be continued as a basis for further research on RT-PCR examination and antibody rapid test for COVID-19 detection in Indonesia, accompanied by information on onset time and time-testing with a large sample of research.