Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Metafora Panggung Teatrikal: Kritik Seni Ekspresivistik pada Tiga Ilustrasi Sampul Novel George Orwell Karya Wulang Sunu Ferdiansyah Ferdiansyah; Suwarno Wisetrotomo; Candra Krida Mustika; I Gede Arya Sucitra
INVENSI Vol 11, No 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Graduate School of the Indonesia Institute of the Arts Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/invensi.v11i1.18900

Abstract

Buku karya George Orwell kini merupakan salah satu buku dengan cetak ulang terbanyak di Indonesia. Salah satu yang menarik adalah beberapa bukunya yang diilustrasikan Wulang Sunu menjadi buku yang menyajikan visual yang sangat autentik. Berbeda dengan buku-buku lainnya, ketiga Buku George Orwell: “Animal Farm”, “1984”, dan “Down and out in Paris and London” disajikan dan divisualkan secara ekspresif melalui elemen visual yang menggambarkan situasi panggung pertunjukan. Penggunaan elemen visual pertunjukan sendiri seolah memberikan ruang dan tafsiran tersendiri tentang relasi antara metafora visualnya dengan konteks dalam bukunya. Penelitian ini menganalisis lebih jauh bagaimana relevansi antara metafora panggung pertunjukan dan konteks dari bukunya sehingga metafora tersebut menghasilkan keautentikan dan keunikan gagasan dari sang ilustrator dengan menggunakan pendekatan kritik seni ekspresivistik. Hasil dari penelitian menunjukkan pentingnya ilustrator Wulang Sunu menghadirkan keautentikan dan keunikan melaui metafora panggung dengan terkonsep, melalui itu karya ilustrasinya memiliki kedalaman gagasan, emosi dan keunikan. Penelitian ini diharapkan dapat memperluas wawasan pendekatan kritik seni terhadap ilustrasi kontemporer, sekaligus menegaskan posisi ilustrator sebagai subjek yang sah dalam medan seni rupa terapan. Theatrical Stage Metaphor: Expressivist Art Criticism in Three Novel Cover Illustrations of George Orwell by Wulang Sunu ABSTRACT George Orwell's book is now one of the most reprinted books in Indonesia. One of the interesting things is that some of his books illustrated by Wulang Sunu are books that present very authentic visuals. Unlike other books, George Orwell's 3 books: "Animal Farm", "1984", and "Down and out in Paris and London" are presented and visualized expressively through visual elements that depict the stage situation. The use of visual entertainment elements itself seems to provide its own space and interpretation of the relationship between his visual metaphor and the context in his book. This study further analyzes how the relevance between the stage metaphor and the context of his book so that the metaphor produces authenticity and uniqueness of the illustrator's ideas using an expressionist art criticism approach. The results of the study show the importance of illustrator Wulang Sunu presenting authenticity and uniqueness through a conceptual stage metaphor, through which his illustrations have depth of ideas, emotions and are unique. This study is expected to broaden the horizons of the art criticism approach to contemporary illustration, while at the same time emphasizing the position of the illustrator as a legitimate subject in the field of applied Art.
Makna dalam Ketidakjelasan: Kajian Kritik Atas Karya Fotografi Abstrak Daisuke Yokota Riki Maulana; Suwarno Wisetrotomo; I Gede Arya Sucitra
INVENSI Vol 10, No 2 (2025): December 2025
Publisher : Graduate School of the Indonesia Institute of the Arts Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/invensi.v10i2.15527

Abstract

Kajian kritik seni ini bertujuan untuk menelaah visual karya fotografi dari Daisuke Yokota yang melepaskan narasi, bentuk, dan visual fotografi secara konvensional. Permasalahan utama yang dikaji terdapat pada bagaimana makna dapat muncul ketika bentuk visual tidak jelas bahkan dihapuskan. Kritik ini mengarah pada penelusuran kemungkinan terwujudnya pengalaman secara perasaan, emosi, atau sikap yang bersifat individual dalam wahana visual yang bermakna ganda. Dengan menggunakan metode kritik yang menggabungkan observasi visual, interpretasi teoretis, dan refleksi kritis, kajian ini memetakan hubungan antara kekosongan visual, respons, dan intensitas emosional yang muncul terhadap karya. Kajian dilakukan pada beberapa karya visual Yokota yang direpresentasikan melalui suasana, emosi, atau kesan yang tidak jelas dan efek pada residu kimia yang digunakan sebagai medium pengganti dalam representasi. Hasil dan kesimpulan pada kajian kritik ini menunjukkan bahwa karya Daisuke Yokota tidak mewujudkan makna secara langsung, tetapi membuka peluang untuk membentuk sebuah ruang wahana yang melibatkan perasaan dan emosional penikmat karya.  Ketiadaan bentuk dan makna secara konvensional pada karya justru memberi ruang untuk melibatkan batin penonton agar dapat direfleksikan dan membentuk makna baru secara personal.Meaning in Ambiguity: A Critical Study of Daisuke Yokota's Abstract PhotographyABSTRACTThis art critique aims to examine the visual aspects of Daisuke Yokota's photographic works, which depart from conventional narratives, forms, and visual photography. The main issue explored is how meaning can emerge when visual forms are unclear or even eliminated. This critique leads to an exploration of the possibility of realizing individual experiences, emotions, or attitudes in a visual medium that has multiple meanings. Using a critical method that combines visual observation, theoretical interpretation, and critical reflection, this study maps the relationship between visual emptiness, response, and the emotional intensity that arises in relation to the work. The study was conducted on several of Yokota's visual works, which are represented through ambiguous atmospheres, emotions, or impressions and the effects of chemical residues used as a substitute medium in representation. The results and conclusions of this critical study show that Daisuke Yokota's works do not directly convey meaning but open up opportunities to create a space that involves the feelings and emotions of the viewer. The absence of conventional form and meaning in the work provides space for the viewer's inner self to be involved in reflecting on and forming new personal meanings. 
Fotografi Tanpa Fotograf sebagai Sebuah Titik Lebur Pemahaman Fotografi Radhi Nibras Thirafi; Suwarno Wisetrotomo; I Gede Arya Sucitra
INVENSI Vol 10, No 2 (2025): December 2025
Publisher : Graduate School of the Indonesia Institute of the Arts Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/invensi.v10i2.15531

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk menganalisis karya seniman Akiq Aw dalam pameran After Ça-a-été sebagai respons terhadap redefinisi medium fotografi melalui pendekatan konseptual “fotografis”. Berangkat dari gagasan Roland Barthes tentang ça-a-été sebagai bukti ontologis keberadaan dalam fotografi, karya-karya Akiq Aw justru menunjukkan pembalikan terhadap representasi visual konvensional. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan semiotik dan kritik visual terhadap empat karya utama yang menghilangkan elemen-elemen mendasar fotografi: ikon, objek, subjek, dan fotograf itu sendiri. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pendekatan “fotografis” berupaya membebaskan praktik pencitraan dari batasan teknis, menggeser makna fotografi sebagai media menuju sifat konseptual. Hasil ini memperlihatkan bahwa batas-batas medium dalam seni kontemporer semakin cair dan menuntut pendekatan pemaknaan yang lebih kontekstual dan interaktif. Kajian ini diharapkan memberi kontribusi terhadap pemahaman mengenai transformasi epistemologis dalam praktik seni visual kontemporer Indonesia.Photography Without Photograph as a Melting Point of Understanding Photography ABSTRACTThis study aims to analyze the works of artist Akik AW featured in the After Ça-a-été exhibition as a response to the redefinition of photography through the conceptual approach of the “photographic.” Building on Roland Barthes’ idea of ça-a-été as ontological proof in photography, Akik AW’s works invert conventional representational logic. This research applies a qualitative descriptive method with semiotic and visual critique approaches to four primary works that remove fundamental photographic elements: icon, object, subject, and the photograph itself. The findings indicate that the “photographic” approach seeks to liberate the image-making process from technical constraints, shifting the understanding of photography from a medium to a conceptual quality. These results suggest that medium boundaries in contemporary art are increasingly fluid and require contextual and interactive interpretative frameworks. This study contributes to the understanding of epistemological transformation within contemporary Indonesian visual art practices. 
'Jalan Pembebasan' Edi Sunaryo Suwarno Wisetrotomo
Ars: Jurnal Seni Rupa dan Desain No.1 TH.1 April 2004
Publisher : Ars: Jurnal Seni Rupa dan Desain

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ars.v1i1.237

Abstract

Melacak jejak proses kreatif pelukisEdi Sunaryo (lahir di Banyuwangi, JawaTimur, 4 September 1951), sejak iamenapakkan pilihan profesinya menjadipelukis sekitar tahun 1970-an, akanditemukan fase-fase yang menarik. Di awaikarier, karya-karyanya bersandar padakekuatan dan kemampuannya menyusungaris, bidang, warna, dan tekstur, hinggamencapai kutuhan harmoni. Dalam fase itu,ia menggulirkan semacam tema yangdicitrakan sebagai 'citra primitif; yangmengisyaratkan bagaimana gubahan tatarupa itu berdasarkan atas spirit dari duniaseni (rupa) yang arkhaik. Fase ini dilaluicukup panjang (hingga akhir 1990-an). EdiSunaryo seperti terperangkap dalam jaringjaringtata rupa yang dibangunnya sendiri.
MENAFSIR PAGAR, MENGGUGAT KUASA: CRUSH ME#2 OLEH ENTANG WIHARSO MELALUI ANALISIS FORMAL Usmanto Usmanto; Suwarno Wisetrotomo; I Gede Arya Sucitra
Journal of Contemporary Indonesian Art Vol 11, No 2 (2025)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jocia.v11i2.15540

Abstract

Tulisan ini mengkaji karya instalasi yang berjudul Crush Me#2 karya Entang Wiharso sebagai representasi visual atas realitas kuasa dan identitas dalam konteks sosial-politik di indonesia. Melalui pendekatan kritik seni formalistik, penelitian menganalisis bentuk visual, struktur teknis, serta kontuksi simbolik pagar sebagai metafora kompleks. Karya dibedah dari aspek komposisi, ekplorasi material, arsitektur domestik sebagai simbol kekuasaan serta ikonografi tubuh. Temuan menunjukan bahwa pagar dimetaforkan sebagai narasi hegemonik, domestifikasi kekuasaan dan memori simbolik atas kekerasan simbolik. Penempatan karya dalam ruang pamer bersekala nasional menunjukan bahwa institusi negara turut serta dalam membaca kritik institusional terhadap wacana representasi dan legetimasi dalam senirupa kontemporer. penelitian dapat disimpulkan kartya tersebut merefleksikan strategi visual dalam membongkar ulang narasi kekuasaan melalui bentuk simbolik yang multi sematik dan berlapis.