Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

DESAIN LOGO KERUPUK MIE “KEMBANG MATAHARI” SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN CITRA Purnengsih, Iis; Rukiah, Yayah; Pratama, Dendi; Dawami, Angga Kusuma
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 3, No 1 (2019): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v3i1.3461

Abstract

Kerupuk Mie merek “Kembang Matahari” adalah salah satu produk unggulan daerah di Kabupaten Bogor yang berdiri sejak tahun 1977. Pemasaran yang kurang maksimal membuat Kerupuk Mie “Kembang Matahari” banyak ditiru, dan akhirnya menurunkan penjualannya. Perusahaan Kerupuk Mie “Kembang Matahari” harus bekerja keras untuk meningkatkan omzet penjualan. Dalam hal ini, salah satu upaya untuk meningkatkan omzet penjualan adalah dengan membuat desain logo yang menarik. Dan perusahaan Kerupuk Mie “Kembang Matahari” harus semaksimal mungkin untuk membentuk sebuah identitas yang kuat pada desain kemasan. Dengan adanya identitas yang kuat tersebut, sebuah perusahaan akan menjadi lebih dikenal oleh konsumen. Tujuan dari perancangan desain kemasan Kerupuk Mie”Kembang Matahari” adalah untuk menghasilkan desain kemasan dan logo Kerupuk Mie “Kembang Matahari”. Perancangan akan dilaksanakan dengan metode penelitian kualitatif secara deskriptif dengan melakukan observasi, wawancara, dokumentasi, studi literature dan studi kompetitor untuk mendapatkan data sebagai konsep perancangan desain kemasan Kerupuk Mie “Kembang Matahari”. Analisis data dengan menggunakan beberapa tahapan yaitu reduksi data, penyajian data, dan verifikasi kesimpulan. Setelah menganalisis data, ditemukan sebuah kata kunci “Asli” untuk perancangan desain logo . Konsep “Asli” dalam perancangan desain logo ini bermakna sesuatu yang bisa dipercaya. Hasil dari perancangan desain logo ini adalah upaya untuk meningkatkan citra dari logo Kerupuk Mie “Kembang Matahari”. The "Kembang Matahari" brand of Noodle Crackers is one of many flagship regional products in Bogor Regency which was established in 1977. Inadequate marketing of "Kembang Matahari" Noodle Crackers opened doors for imitation products, and ultimately reduced sales. "Kembang Matahari" Noodle Crackers Company must work hard to increase sales turnover. In this case, one of the efforts to increase sales turnover is by coming up with an attractive logo design and "Kembang Matahari" Noodle Crackers company must do its best to form a strong identity on packaging design. With this strong identity, the company will become better known by consumers. The purpose of designing "Kembang Matahari" Noodle Crackers packaging design is to produce both the "Kembang Matahari" Noodle Crackers packaging and logo design. The design will be carried out using descriptive qualitative research method by conducting observations, interviews, documentation, literature studies and competitor studies to obtain data as a design concept for the "Kembang Matahari" Noodle Crackers packaging design. Data analysis was conducted through several stages, from data reduction, data presentation, to verification of conclusions. After analyzing the data, the keyword "Original" was used for designing the logo. The concept of "Original" in the design of this logo means that it can be trusted. The result of this logo design is an effort to improve the image of the "Kembang Matahari" Noodle Cracker logo.
The Art Form of Wedha’s Pop Art Portrait (WPAP) Angga Kusuma Dawami; Martinus Dwi Marianto; Suwarno Wisetrotomo
IJCAS (International Journal of Creative and Arts Studies) Vol 8, No 1 (2021): June 2021
Publisher : Graduate School of Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ijcas.v8i1.5375

Abstract

Wedha's Pop Art Portrait (WPAP) has become one of the most popular visual arts in Indonesia since Wedha Abdul Rasyid decided on this style in 2010. A decade later, WPAP became part of visual arts in Indonesia, used by many millennial designers, sheltered by the chapter community in regions; Jakarta chapter, Jogjakarta chapter, Surabaya chapter, etc. Visual arts-based on faces is a strong characteristic of WPAP. Only a few have achieved the WPAP form in accordance with the art form that Wedha first brought up. Economic motives became the biggest influence on the change in orientation from WPAP art to commodity. Therefore, the art form in WPAP tends to follow market trends. This paper tries to define the existing art in WPAP, with the formulation of the problem: what is the art form in WPAP in Indonesia? The formal approach to art is an important part of knowing art in WPAP. Through descriptive-analytic, an explanation of the art form in WPAP according to the Wedha’s experience is presented in this paper. The analysis is using an analysis of interactions between members of the WPAP community in several chapters which already have a "chapter" community. The art form in WPAP has almost the same characteristics as Wedha's work in the early appearance of WPAP. Wedha had a past that grapples with artwork; making illustrations, making magazine covers, making comics, and so on. The makers of WPAP in the WPAP community also have an art form in WPAP that is the same in pattern, because it is based on WPAP that was initiated by Wedha at the beginning of its appearance. The art form in WPAP has characteristics in color and line drawing. Bentuk Seni dari Wedha’s Pop Art Portrait (WPAP) Abstrak Wedha's Pop Art Portrait (WPAP) menjadi salah satu seni visual yang banyak digemari sejak Wedha Abdul Rasyid memutuskan gaya ini pada tahun 2010. Satu dekade berikutnya, WPAP menjadi bagian dari seni visual di Indonesia, digunakan oleh banyak desainer milenial, dinaungi oleh komunitas chapter yang ada di wilayah-wilayah; chapter Jakarta, chapter Jogjakarta, chapter Surabaya, dll. Seni visual berbasis pada wajah, menjadi ciri khas yang kuat pada WPAP. Hanya sedikit yang mencapai bentuk WPAP yang sesuai dengan bentuk seni yang Wedha munculkan pertama kali. Motif ekonomi menjadi pengaruh terbesar pada perubahan orientasi dari seni WPAP menjadi komoditi. Sehingga bentuk seni dalam WPAP cenderung untuk mengikuti tren pasar. Tulisan ini mencoba untuk mendefinisikan seni yang ada dalam WPAP, dengan rumusan masalah: Bagaimana bentuk seni dalam WPAP menurut komunitasnya di Indonesia? Pendekatan formal seni menjadi bagian penting untuk mengetahui seni dalam WPAP. Melalui diskriptif-analitik, penjelasan tentang bentuk seni dalam WPAP menurut komunitasnya disajikan dalam tulisan ini. Analisis yang digunakan adalah analisis interaksi antar anggota komunitas WPAP di beberapa chapter yang telah memiliki komunitas “chapter”. Bentuk seni dalam WPAP memiliki ciri khas yang hampir sama dengan karya Wedha pada awal-awal kemunculan WPAP pertama kali. Wedha memiliki masa lalu yang bergulat dengan pekerjaan seni; membuat ilustrasi, membuat cover majalah, membuat komik, dan lain sebagainya. Pembuat WPAP di komunitas WPAP juga memiliki bentuk seni dalam WPAP yang sama secara pola, karena memang berbasis pada WPAP yang dicetuskan oleh Wedha pada awal kemunculannya. Bentuk seni dalam WPAP memiliki ciri khas dalam warna, tarikan garis, pemilihan pallet, konstruksi wajah.
PERUBAHAN LOGO HARIAN SINGGALANG Yayah Rukiah; Nurulfatmi Amzy; Angga Kusuma Dawami
Jurnal Dimensi DKV Seni Rupa dan Desain Vol. 4 No. 1 (2019): Jurnal Dimensi DKV Seni Rupa dan Desain
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (420.937 KB) | DOI: 10.25105/jdd.v4i1.4562

Abstract

AbstractThe Changes of Singgalang Newspaper Logo. Logo becomes an inseparable identity in introducing a brand to society in general. The construction of the shape represents the identity in itself to show the entity and become a characteristic that is finally known to the target audience. Changes to the logo are based on the need for the entity to always make a new appearance to be better known and to imprint the meaning of theentity in the minds of consumers. As one of the National newspapers, the Singgalang daily also changed its logo from the beginning of its publication in 1969. Changes in form that corresponded to Singgalang’s identity brought a different perception between one logo and another. The shapes differ from the first logo to the online media logo, indicating that Singgalang has special characteristics to show himself to the generalpublic. This article discusses the development of the Singgalang Daily logo that was published for the first time, until the logo is displayed in online media. The results of this study used the semiotic-Sumbo Tinarbuko approach, to see logos as symbols that exist and continue to make changes over time. By using semiotic analysis, the results ofthis study show that logos are important for re-branding to get into the community in general.AbstrakPerubahan Logo Harian Singgalang. Logo merupakan salah satu identitas yang tidak terpisahkan dalam mengenalkan sebuah merek kepada masyarakat secara umum. Konstruksi bentuk merepresentasikan identitas dalam dirinya untuk menunjukkan entitasnya dan menjadi ciri khas yang akhirnya dikenal kepada target pembacanya. Perubahan logo didasari pada kebutuhan entitas untuk selalu membuat tampilan baru agar lebih dikenal dan lebih menancapkan makna bentuk entitasnya di benak konsumen. Sebagai salah satu koran nasional, Harian Singgalang juga melakukan perubahan logo dari awal terbitnya di 1969. Perubahan bentuk yang sesuai dengan identitas Singgalang membawa persepsi yang berbeda antar satu logo dengan logo yang lain. Bentukbentuknyayang berbeda dari logo pertama sampai logo media daringnya, menandakan Singgalang memiliki ciri khusus untuk menunjukkan dirinya kepada masyarakat umum.Tulisan ini membahas tentang perkembangan logo Harian Singgalang yang terbit pertama kali, sampai logo yang ditampilkan di media daring. Hasil penelitian ini menggunakan pendekatan semiotika-Sumbo Tinarbuko, untuk melihat logo sebagaisebuah simbol yang ada dan terus dilakukan perubahan dari waktu ke waktu. Dengan menggunakan analisis semiotika, hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa logo menjadi penting untuk dilakukan desain ulang (re-branding) untuk dapat masuk ke masyarakat secara umum.
Fenomenologi Desain: Pengungkapan Pengalaman Desainer dalam Desain Komunikasi Visual Angga Kusuma Dawami; Muhammad Rifqi
Human Narratives Vol 2, No 2 (2021): Human Narratives
Publisher : Universitas Indraprasta PGRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30998/hnr.v2i2.968

Abstract

Pada dasarnya, akar dari desain, khususnya desain komunikasi visual, adalah seni rupa. Dengan pendekatan fenomenologi, tulisan ini mendiskusikan pengungkapan pengalaman desainer di ranah seni rupa melalui penciptaan karya desain komunikasi visual. Proses penciptaan desainer ini menarik untuk ditelaah, karena dapat menjadi jendela untuk mengakses pengetahuan autentik desainer agar dapat diketahui oleh khalayak. Tulisan ini menggunakan fenomenologi Martin Heidegger sebagai pisau analitis untuk memahami tahapan-tahapan metodis yang dijalani seorang desainer komunikasi visual, sehingga didapatkan pengetahuan yang berbasis pada genetik karya, yakni proses dalam mana karya tersebut dilahirkan oleh sang desainer.
Perancangan Desain Kemasan pada UMKM Qyu Sweet and Savoury Angga Kusuma Dawami; Laurent Zahra Assyafir; Zahra Nisa Auliadst
Cipta Vol 1, No 1 (2022): Cipta
Publisher : Universitas Indraprasta PGRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1143.392 KB) | DOI: 10.30998/cpt.v1i1.1160

Abstract

Snack menjadi kudapan yang tidak terpisahkan dalam pelbagai acara formal maupun infromal di Indonesia. Kemasan snack yang kemudian disebut sebagai snackbox, memiliki ciri khas sesuai identitas penyedia snack. Snackbox menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam masyarakat urban. Salah satu UMKM penyedia snack dan catering yang berkembang saat ini adalah Qyu Sweet and Savoury. Produk-produk Qyu Sweet and Savoury memiliki produk andalan yang sudah teruji rasa dan ciri khasnya, yaitu Cheese & Chicken Risoles. Dua produk ini menjadi Unique Selling Position dalam brand Qyu Sweet and Savoury. Tulisan ini mendiskripsikan proses perancangan kemasan dengan menggunakan metode kualitatif, melalui pendekatan visual branding dari wilayah kemasan. Metode yang digunakan adalah metode penciptaan karya desain kemasan. Teknik pengumpulan data dalam perancangan ini melalui wawancara mendalam, studi komparasi produk, brainstroming, dan diakhiri tawaran perancangan kemasan. Hasil yang didapatkan adalah (1) key concept Qyu, yakni bersahabat dan praktis, maka desain untuk packaging dibuat sepraktis mungkin masih memberi kesan bersahabat; (2) warna yang digunakan mendekati warna-warna pastel yang sesuai dengan target marketnya; (3) pengembangan kemasan primer dan sekunder disesuaikan dengan target market yang telah dibidik oleh Qyu.
PEMBUATAN JENAMA GERAKAN “HALO SAYA DISABILITAS” Susanti, Dewi Indah; Hadiprawiro, Yulianto; Hidayati, Atiek Nur; Dawami, Angga Kusuma; Saptodewo, Febrianto
Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Bangun Cipta, Rasa, & Karsa Vol 2, No 4 (2023): Jurnal PKM Batasa
Publisher : Universitas Indraprasta PGRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30998/pkmbatasa.v2i4.2140

Abstract

Jenama merupakan bagian penting dalam pembentukan konstruksi pemikiran tentang sebuah kampanye. Dosen dan mahasiswa berkolaborasi untuk mendukung kegiatan pembuatan jenama dalam program MBKM. Tujuannya jelas untuk menerapkan ilmu yang telah diajarkan dalam kelas. Kegiatan ini berbentuk kegiatan pembelajaran kreatif dengan studi kasus pembuatan sebuah gerakan “Halo Saya Disabilitas” yang bekerjasama dengan SDS IT Nurul Yaqin dan EPIC School of Autistics. Metode  kegiatan dalam PkM ini menggunakn metode yang dilakukan secara bertahap yaitu diawali dengan merencanakan kegiatan. Pembentukan tim kreatif ada pada tahap ini, berikutnya, tahap  pelaksanaan  guna membentuk jenama dan film animasi,  dan  tahap  terakhir adalah perbaikan melalui FGD serta rencana tindak lanjut. Adapun kegiatan yang dilakukan dalam pengabdian ini yaitu ada tiga kegiatan, yaitu mendefinisikan masalah dengan menggunakan creative brief, membantu proses kreatif dalam mengeksplorasi gerakan ini, dan membantu membuat karya desain yang berbasis pada teknologi. Hasil analisis pelaksanaan pengabdian ini adalah terbentuknya rencana aplikasi desain yang berbasis pada komunikasi, ide, serta penyebarannya.
Pembuatan Karakter Animasi “Halo Saya Disabilitas” untuk Memperkuat Isu Disabilitas pada Sektor Pendidikan Hadiprawiro, Yulianto; Susanti, Dewi Indah; Hidayati, Atiek Nur; Saptodewo, Febrianto; Dawami, Angga Kusuma
Presisi Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 2 No. 2 (2023): 2023
Publisher : PT. Lancar Media Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The issue of disability in the education sector still has not had much influence on changing the stigma towards Children with Special Needs (ABK) with disabilities in the education sector. Through the animated characters in the service "Hello I am disabled" it is an effort to understand the personal character of people with disabilities in the school education sector. This paper uses a descriptive-qualitative perspective on the process of creating animated characters for the animation "Hello I'm Disabled". The result of this paper is a process of dedication to the form of animated characters that have a strong identity in displaying visual constructions with depictions of disabilities.    
Analisis Karya Lukis Berjudul “Kakak dan Adik” Berdasarkan Sudut Pandang De Witt H. Parker Ricky, Yusnita Nur; Dawami, Angga Kusuma
Brikolase : Jurnal Kajian Teori, Praktik dan Wacana Seni Budaya Rupa Vol. 15 No. 1 (2023)
Publisher : Institut Seni Indoensia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/brikolase.v15i1.3737

Abstract

The object of this research is the painting entitled “Kakak dan Adik” by Basuki Abdullah. To obtain theoretical results, the analysis is carried out by applying an aesthetic approach using the aesthetic form theory proposed by DeWitt H. Parker. This analysis is carried out with the aim of knowing the concepts or ideas and meanings that shape the beauty of the object used, the color chosen, and overall messages to be conveyed through this painting. These beauty can be seen through six principles regarding aesthetic forms in works of art, namely: The principle of Organic unity, the priciple of theme, the principle of thematic variation, the principle of balance, the principle of evolution, and the principle of hierarchy. Then from the use of these six principles, it was found that every element in the painting “Kakak dan Adik” indeed contains the values of beauty. That things can be seen from how these elements need each other in explaining the overall meaning of empathy for compassion and humanity. This feeling emerged when the painter was in a frenzy of social change which was the impact of changes in the nation’s economis system at that time.
Peran Logo dalam Membangun Identitas Visual Dawami, Angga Kusuma
CITRAWIRA : Journal of Advertising and Visual Communication Vol. 6 No. 1 (2025)
Publisher : ISI Press Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/citrawira.v6i1.7021

Abstract

Logo memainkan peran krusial dalam membentuk identitas visual sebuah perusahaan atau organisasi. Sebagai simbol yang merepresentasikan entitas, logo lebih dari sekadar gambar—ia adalah alat komunikasi visual yang membangun asosiasi kuat antara merek dan konsumen. Proses desain logo tidak hanya berfokus pada estetika, tetapi juga pemahaman yang mendalam tentang visi, misi, dan tujuan entitas yang diwakili. Artikel ini menggunakan metode analisis deskriptif kualitatif, dengan mengkaji literatur tentang fungsi logo, tipe-tipe logo, dan pengaruhnya terhadap persepsi konsumen. Logo yang dirancang dengan baik dapat memperkuat identitas visual korporat dan meningkatkan daya ingat konsumen terhadap merek. Desain logo yang efektif mampu menciptakan asosiasi emosional yang mendalam, memperkuat citra merek, dan memengaruhi keputusan pembelian, sehingga penting bagi perusahaan untuk memastikan logo mereka mencerminkan nilai-nilai inti dan relevansi dengan audiens yang ditargetkan.
Zine art and deaf identity in Indonesia: a practice-led phenomenological exploration of inclusive visual expression Imam, Chairol; Dawami, Angga Kusuma; Marwanto, Aris Budi
Dewa Ruci: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol. 20 No. 1 (2025)
Publisher : Pascasarjana Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/dewaruci.v20i1.6405

Abstract

Deaf individuals primarily rely on visual modes of communication such as sign language, which also function as powerful expressions of cultural identity. Despite this, their representation within the arts remains limited, particularly in Indonesia, where access and inclusion are still developing. This study explores how visual art, specifically zine-making, can serve as an inclusive and culturally grounded creative space for the Deaf community, emphasizing the interaction between Deaf identity, sign language, and visual expression. Rooted in a constructivist epistemology, this research is grounded in the belief that knowledge is actively constructed through interaction, experience, and meaning-making. To support this philosophical stance, the study employs three interrelated methodologies: Practice-Led Research to guide the artistic process and creative exploration; Aesthetic Phenomenology to examine the lived and embodied experiences of visual creation and reception; and Actor-Network Theory (ANT) to analyze the relational dynamics among human and non-human actors involved in the zine-making process. Through collaborative artistic engagement with Deaf individuals and reflective documentation of their interactions, the study reveals that zines function not only as artistic outcomes but also as inclusive communication tools that bridge the Deaf and hearing worlds. Visual elements inspired by BISINDO (Indonesian Sign Language) operate as symbolic markers of Deaf identity, while the integration of grapyak, a Javanese cultural value emphasizing hospitality, supports the formation of inclusive aesthetics rooted in local traditions. This research contributes to the field of disability arts by demonstrating how zine-making can serve as a site of cultural dialogue, visual empowerment, and artistic inclusion. It also provides a model for integrating local cultural values into inclusive visual practices.