Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search
Journal : Jurnal Sylva Scienteae

DAMPAK PANDEMI COVID-19 TERHADAP PENDAPATAN PETANI KARET DI DESA AMBAWANG KECAMATAN BATU AMPAR Apriliawati Yunita Indah Sari; Muhammad Naparin; Daniel Itta
Jurnal Sylva Scienteae Vol 5, No 3 (2022): Jurnal Sylva Scienteae Vol 5 No 3 Edisi Juni 2022
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v5i3.5706

Abstract

The rubber plant (Hevea bransiliensis) is one of the plants that has a high enough economic value so that it can meet the living needs of most Indonesian people, but a virus was detected from Wuhan, China which then entered Indonesia in March 2020, which was identified as Covid-19. Pandemi of Covid-19 has an impact on various sectors in Indonesia, one of them is the economic sector. Ambawang village was the first village detected the Covid-19 virus in Tanah Laut Regency, thus causing little impact on the village. The purpose of this study is to compare farmers' income from rubber productivity before and during the Covid-19 pandemic. The method used is proportional stratified random sampling it uses 3 classes in the study and obtained a total sample of 165 as respondents. Data analysis used a statistical approach, namely the paired T-test. The results of this study indicate the average cost of each class in Ambawang village, namely for class 1 the average cost of rubber farmers is Rp.619,952, for class 2, which is Rp.1,275,124, while for class 3, it is Rp.4,356,986. Of the three classes in this study, after a parametric test using the Paired T-test showed that the Covid-19 pandemic has a significated impact on the income of rubber farmers.Tanaman karet (Hevea bransiliensis) adalah salah satu tanaman yang memiliki nilai ekomoni yang cukup tinggi sehingga dapat memenuhi kebutuhan hidup sebagian besar masyarakat Indonesia, namun terdeteksinya virus yang berasal dari Wuhan, China yang kemudian masuk ke Indonesia pada bulan Maret 2020 yang kemudian diketahui bahwa virus tersebut adalah Covid-19. Adanya Virus Covid-19 ini memberikan dampak diberbagai sektor di Indonesia salah satunya sektor ekonomi. Desa Ambawang adalah desa yang pertama kali terdeteksi adanya virus Covid-19 di Kabupaten Tanah laut, sehingga menimbulkan sedikit banyak pengaruh terhadap desa tersebut. Tujuan dari penelitian ini untuk membandingkan pendapatan petani karet dari produktivitas karet sebelum dan saat pandemi Covid-19. Metode yang digunakan yaitu proportionate stratified random sampling dalam pengambilan sampelnya karena meggunakan 3 kelas dalam penelitian dan didapat sampel keseluruhan 165 sebagai resoponden. Analisis data menggunakan pendekatan statistik yaitu uji parametik T-berpasangan. Hasil penelitian ini menunjukkan biaya rata-rata setiap kelas di Desa Ambawang yaitu untuk kelas 1 rata-rata biaya petani karet sebesar Rp.619.952, untuk kelas 2 yaitu sebesar Rp.1.275.124, sedangkan untuk kelas 3 yaitu sebesar Rp.4.356.986. Dari ketiga kelas dalam penelitian ini setelah dilakukan uji parametik menggunakan Uji T-Berpasangan menunjukkan hasil bahwa adanya pandemic Covid-19 memberikan dampak atau pengaruh yang signifikan terhadap pendapatan petani karet
KEARIFAN LOKAL PETANI DALAM UPAYA PENCEGAHAN KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN DI DESA ALIMUKIM KECAMATAN PENGARON KEBUPATEN BANJAR Gazali Rahman; Fonny Rianawati; Muhammad Naparin
Jurnal Sylva Scienteae Vol 3, No 6 (2020): Jurnal Sylva Scienteae Volume 3 No 6 Edisi Desember 2020
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (855.916 KB) | DOI: 10.20527/jss.v3i6.4718

Abstract

The purpose of this study is to identify farmers' local wisdom in land preparation and preparation activities in efforts to control and prevent forest and land fires. The data collected consists of primary data and secondary data. Primary data obtained from direct interviews with observations or directly see the activities of farmers in the field who live in Alimukim Village. Secondary data collected was obtained through Alimukim Village profile data. Interviews using a questionnaire were used to collect data about the characteristics of respondents, direct interaction with farmers, respondents 'knowledge and attitudes related to local farmers' wisdom. The results of this study are the manufacture of firebreaks by Alimukim Village farmers with a width of 1 to 2 meters, land management carried out by slash and burn systems, traditional equipment or modified equipment that is often used when preparing land such as hand spayers, machetes , hoes, axes and rakesTujuan dari penelitian ini untuk mengidentifikasi kearifan lokal petani pada kegiatan pengolahan dan persiapan lahan dalam upaya pengendalian dan pencegahan kebakaran hutan dan lahan. Data yang dikumpulkan terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari wawancara langsung dengan observasi atau melihat langsung aktifitas petani di lapangan yang bertempat tinggal di Desa Alimukim. Data sekunder yang dikumpulkan diperoleh melalui data profil Desa Alimukim. Wawancara menggunakan kuesioner digunakan untuk mengumpulkan data tentang informasi karakteristik responden, interaksi langsung dengan petani, pengetahuan dan sikap responden terkait kearifan lokal petani. Hasil dari penelitian ini adalah pembuatan sekat bakar oleh petani Desa Alimukim dengan lebar 1 s.d 2 meter, pengolahan lahan dilakukan dengan cara sistem tebas bakar, peralatan sederahana (tradisonal) atau alat yang sudah dimodifikasi yang sering digunakan pada saat penyiapan lahan seperti hand spayer, parang, cangkul, kapak dan garu
KONTRIBUSI SISTEM AGROFORESTRI TERHADAP PENDAPATAN PETANI HUTAN KEMASYARAKATAN (HKm) SUKA MAJU DI DESA TEBING SIRING KABUPATEN TANAH LAUT Yulia Fitriani; Mahrus Aryadi; Muhammad Naparin
Jurnal Sylva Scienteae Vol 2, No 5 (2019): Jurnal Sylva Scienteae Vol 2 No 5, Edisi Oktober 2019
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (400.534 KB) | DOI: 10.20527/jss.v2i5.1889

Abstract

Community Forestry  is a state forest whose utilization is primarily aimed at empowering communities in and around forest areas as well as providing access to local communities in managing forests sustainably in order to ensure the availability of jobs for the local community. The form of sustainable forest management, namely with agroforestry activities. Agroforestry can improve the welfare of farmers with contributions given both  farmers and  outcome of farming results. The purpose of this study was to find out the results of income and production of rice and jengkol in the agroforestry system, knowing the amount of income contribution from the agroforestry system and knowing the problems and expectations of the community. This research was conducted in Tebing Siring Village, Bajuin District, Tanah Laut Regency. The method used in this study is descriptive method with in-depth interview techniques and field observations. The results showed that the annual agroforestry business income was Rp.17,000,000 and the smallest was Rp.600,000 while the average production of rice and Jengkol was 440 liters and 18 belek. The difference in annual agroforestry business income is very far, this is due to the lack of interest of farmers in running agroforestry businesses and ignorance of the magnitude of the profits obtained if the agroforestry business they run is successful, this results in low contributions. The highest contribution of rice and jengkol agroforestry systems was 32% and the smallest contribution was 2.4%. The average contribution was 15%. The problem faced by farmers is the presence of rat and beruk (bangkui) which causes the production and income from agroforestry decreace..Keywords : Community Forestry; Agroforestry; Contribution
PENDAPATAN MASYARAKAT DESA MANDIANGIN BARAT DARI HASIL HUTAN BUKAN KAYU (HHBK) DI KHDTK UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT Muhammad Dedi; Muhammad Naparin; Arfa Agustina Rezekiah
Jurnal Sylva Scienteae Vol 4, No 6 (2021): Jurnal Sylva Scienteae Volume 4 No 6 Edisi Desember 2021
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (262.372 KB) | DOI: 10.20527/jss.v4i6.4610

Abstract

Forest is a unity of ecosystems on a wide expanse of land containing biological natural resources. Non-timber forest products called HHBK are products sourced from forests other than wood in the form of vegetable objects such as rattan, nipah, sago, bamboo, sap-sap, grains, leaves, medicines and others as well as animals such as wildlife and parts of the wildlife (horns, skins, etc.). Special Purpose Forest Area (KHDTK) is a forest area intended for research and development, education and training, as well as local religious and cultural interests in accordance with the mandate of Decree No. 16. Document Number 41 Year 1999 without changing the function of the region. This research was conducted in KHDTK ULM West Mandiangin Village, Karang Intan District, Banjar Regency. The purpose of this study is to identify the type, analyze the income and its contribution to the income of the community from the utilization of HHBK in KHDTK ULM. This study uses descriptive analysis. The results of identification of HHBK utilization by the community are rubber, jengkol, betel leaves, hazelnuts and kupang fruit. With the amount of revenue sourced from HHBK is Rp. 285.440.000 / year, and in addition to HHBK Rp.379.320.000 / year.  With a breakdown of contributions sourced from HHBK of 42.94%, and in addition to HHBK of 57.06% to public incomeHutan merupakan suatu kesatuan ekosistem di atas lahan luas yang mengandung banyak sumber daya alam. Hasil hutan bukan kayu yang disebut HHBK yaitu hasil berupa hasil nabati di hutan selain kayu, seperti rotan, pinang, sagu, bambu, getah, biji-bijian, daun, obat-obatan, dan lain-lain, serta produk dalam berupa hewan, misalnya hewan liar dan lokasinya (tanduk, kulit, dll). Kawasan hutan tujuan khusus (KHDTK) yaitu kawasan hutan yang diperuntukkan bagi penelitian, pengembangan, pendidikan dan pelatihan, serta kepentingan agama dan budaya daerah sesuai dengan amanat Peraturan Presiden Nomor 249. 16. Dokumen No. 41 tahun 1999 tidak mengubah peraturan perundang-undangan. Penelitian ini dilaksanakan di KHDTK ULM Desa Mandiangin Barat Kecamatan Karang Intan Kabupaten Banjar. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi jenis, menganalisis pendapatan dan kontribusinya terhadap pendapatan masyarakat dari pemanfaatan HHBK di KHDTK ULM oleh masyarakat. Penelitian ini menggunakan analisis deskriptif. Hasil identifikasi pemanfaatan HHBK oleh masyarakat adalah karet, jengkol, daun sirih, kemiri dan buah kupang. Dengan besarnya pendapatan yang bersumber dari HHBK adalah Rp.285.440.000 / tahun dan selain HHBK Rp.379.320.000/ tahun.  Dengan rincian kontribusi yang bersumber dari HHBK sebesar 42,94%, dan selain HHBK sebesar 57,06% terhadap pendapatan masyarakat.
ANALISIS PRODUKSI BIOMASSA PERMUKAAN TANAH DI BERBAGAI PENUTUPAN LAHAN KHDTK MANDIANGIN Muhammad Dedi; Muhammad Naparin; Arfa Agustina Rezekiah
Jurnal Sylva Scienteae Vol 2, No 2 (2019): Jurnal Sylva Scienteae Vol 2 No 2, Edisi April 2019
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v2i2.1076

Abstract

ABSTRACT Borneo forests have a variety of land cover, one located in South Borneo precisely in Mandiangin Education forest, where it’s based on land cover map that has a wide variety of land cover.  Stand density that varies on each land cover will trigger existing different biomass in surface soils.  Aboveground biomass is an energy that produced from all organic plants, such as roots, trunk, branches, flowers, fruits, seeds and leaves that have fallen.  Aboveground biomass is a very important research, because the plants require a lot of nutrients, for life and growth.  The purpose of this study is to determine the number of aboveground biomass production in various Mandiangin KHDTK land cover.  The research methods is to sampling the litter and undergrowth up process in a laboratory oven.  The data that being analysed is using Biomass Formula.  The highest litter biomass production are land cover old coppice with production of 0, 333 tons/ha and biomass production smallest litter found on open land and shrubs that do not have a litter biomass production of 0,000 tons/ha.  The lower biomass production plant is located on land cover bush and open land with biomass production amounted to 0,619 tons/ha and 0,468 tons/ha, the production of plant biomass under the smallest are in the old coppice land cover with a production of 0,046 tons/ha.  Keywords: Land Cover; Ground Biomass Production; litter and undergrowth.  ABSTRAK. Hutan kalimantan memiliki berbagai tutupan lahan yang bervariasi, salah satunya terdapat di Kalimantan selatan tepatnya pada hutan Pendidikan mandiangin, dimana di hutan Pendidikan mandiangin berdasarkan peta tutupan lahan mempunyai berbagai atau ragam variasi tutupan lahan. Kerapatan tegakan yang bervariasi pada setiap tutupan lahan akan memicu variasi biomassa yang ada di permukaan tanah. Biomassa permukaan tanah merupakan suatu energi yang dihasilkan dari semua bahan organik dari tumbuhan, mulai dari akar, batang, cabang, bunga, buah, biji dan daun yang telah gugur. Biomassa permukaan tanah ini sangat penting untuk dilakukan penelitian, karena tumbuhan memerlukan banyak unsur hara, untuk hidup dan pertumbuhannya. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui seberapa besar produksi biomassa permukaan tanah diberbagai tutupan lahan KHDTK Mandiangin. Metode penelitian yang dilakukan yaitu pengambilan sampel seresah dan tumbuhan bawah sampai proses pengovenan di laboratorium. Analisis data yang digunakan yaitu menggunakan Rumus Biomassa. Produksi biomassa seresah terbesar terdapat pada tutupan lahan belukar tua dengan produksi sebesar 0, 333 ton/ha dan produksi biomassa seresah terkecil terkecil terdapat pada lahan terbuka dan semak yang tidak mempunyai produksi biomassa seresah 0,000 ton/ha. Produksi biomassa tumbuhan bawah terbesar berada pada tutupan lahan semak dan lahan terbuka dengan produksi biomassa sebesar 0,619 ton/ha dan 0,468 ton/ha, produksi biomassa tumbuhan bawah terkecil berada pada tutupan lahan belukar tua dengan produksi sebesar 0,046 ton/ha.   Kata Kunci: Tutupan Lahan; Produksi Biomassa Permukaan Tanah; Seresah dan Tumbuhan Bawah
PENGARUH EKOWISATA TERHADAP PENDAPATAN MASYARAKAT SEKITAR GOA LOWO DESA TEGALREJO KECAMATAN KELUMPANG HILIR KABUPATEN KOTABARU Dewi Mira Sari; Daniel Itta; Muhammad Naparin
Jurnal Sylva Scienteae Vol 5, No 5 (2022): Jurnal Sylva Scienteae Vol 5 No 5 Edisi Oktober 2022
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v5i5.6704

Abstract

Ecotourism can provide economic value for community and magnitude of economic impact that can be felt by community depends on success and fluency in optimizing the tourist attractions themselves. The purpose of study was to compare income of community before the Goa Lowo Ecotourism and after the Goa Lowo Ecotourism. The method of taking research samples using purposive sampling technique with a sample determined based on certain considerations with a total sample of 73 respondents. Data analysis used a statistical approach with paired T-parametric test. The results of this study can be seen that community's income before existence of ecotourism has an influence with after the existence of ecotourism after the Paired T-Sample parametric test is carried out where a fairly large influence is felt by community because of addition of income since the development of Goa Lowo Ecotourism.Ekowisata dapat memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat dan besarnya dampak ekonomi yang dapat dirasakan oleh masyarakat tergantung dari kesuksesan dan kelancaran dalam mengoptimalkan tempat wisata itu sendiri. Tujuan penelitian untuk membandingkan pendapatan masyarakat sebelum adanya Ekowisata Goa Lowo dan sesudah adanya Ekowisata Goa Lowo. Metode dalam pengambilan sampel penelitian menggunakan teknik purposive sampling dengan sampel yang ditentukan berdasarkan pertimbangan tertentu dengan jumlah sampel sebanyak 73 responden. Analisis data menggunakan pendekatan statistik dengan uji parametrik T-berpasangan. Hasil dari penelitian ini dapat dilihat bahwa pendapatan masyarakat sebelum adanya ekowisata terdapat pengaruh dengan sesudah adanya ekowisata setelah dilakukan uji parametrik T-Sampel Berpasangan dimana pengaruh yang cukup besar yang dirasakan oleh masyarakat karena adanya penambahan pendapatan semejak dikembangkannya Ekowisata Goa Lowo.
DAMPAK PENGEMBANGAN PANTAI TANJUNG DEWA TERHADAP PENDAPATAN MASYARAKAT Shofiah Shofiah; Muhammad Naparin; Fonny Rianawati
Jurnal Sylva Scienteae Vol 6, No 6 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 6 Edisi Desember 2023
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v6i6.11037

Abstract

The sector that has the potential for development as an economic driver and development for coastal communities is tourism. One of the tourist destinations in Tanjung Dewa Beach, South Kalimantan Province, Indonesia is unique and different from general tourism due to its distinctive natural scenery such as Pulau Datu, a religious tourism site. This study aims to analyze the economic income of the community around Tanjung Dewa Beach and compare the income of the community before and after the tourism activities at Tanjung Dewa Beach. Data collection was carried out using a purposive sampling method through interviews with 90 respondents from the community of Tanjung Dewa Village using a questionnaire, and data were analyzed quantitatively using the Likert Scale method and scaling from 1-5. The result of the study shows that the community's income has increased due to the development of Tanjung Dewa Beach, which provides employment opportunities and business opportunities, thus increasing the income or earnings of the surrounding community. The development of tourism in Tanjung Dewa Beach has a significant impact on the community's income as shown by the Paired-Sample T-Test. The impact of tourism development has led to an increase in the income of the community.Sektor yang mempunyai potensi untuk dilakukan pengembangan yang menjadi penggerak ekonomi maupun pembangunan terhadap masyarakat pesisir yaitu pariwisata. Daerah di Indonesia yang mempunyai pesisir pantai salah satunya terdapat di Pantai Tajung Dewa Provinsi Kalimantan Selatan yang unik serta berbeda dari wisata pada umumnya karena memiliki pemandangan alam yang khas seperti Pulau Datu yang merupakan wisata religi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pendapatan ekonomi masyarakat disekitar Pantai Tanjung Dewa dan membandingkan pendapatan masyarakat sebelum dan sesudah adanya aktifitas pariwisata di Pantai Tanjung Dewa. Pengambilan data dilakukan dengan metode purposive sampling secara wawancara menggunakan kuisioner kepada 90 responden masyarakat Desa Tanjung Dewa dan observasi dan analisis data menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode Skala Likert dan penskalaan 1-5. Hasil dari penelitian yaitu Pendapatan masyarakat dengan adanya pengembangan Pantai Tanjung Dewa memberikan pengaruh terhadap meningkatnya pendapatan masyarakat, seperti terbukanya lapangan pekerjaan dan peluang untuk berusaha sehingga memberikan penambahan pendapatan atau penghasilan masyarakat sekitar. Pengembangan wisata Pantai Tanjung Dewa terhadap pendapatan masyarakat yang telah dilakukan Uji Parametrik T - sampel Berpasangan bahwa adanya pengaruh yang sangat nyata terhadap pendapatan masyarakat. Pengaruh adanya pengembangan wisata ini membuat pendapatan masyarakat menjadi meningkat.
PENGARUH PROGRAM HUTAN KEMASYARAKATAN (HKM) TERHADAP KESEJAHTERAAN MASYARAKAT KELOMPOK TANI HUTAN DI DESA BATUAH KECAMATAN PAMUKAN BARAT Nofiantura Yosafat Goa; Muhammad Naparin; Muhammad Helmi
Jurnal Sylva Scienteae Vol 7, No 1 (2024): Jurnal Sylva Scienteae Vol 7 No 1 Edisi Februari 2024
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v7i1.8313

Abstract

Desa Batuah merupakan salah satu desa yang masyarakatnya terlibat dalam program HKm dan memiliki potensi sumber daya alam, sumber daya manusia, serta belum pernah ada penelitian terkait pengaruh program HKm terhadap kesejahteraan masyarakat kelompok tani hutan di Desa Batuah. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh program hutan kemasyarakatan terhadap kesejahteraan masyarakat kelompok tani hutan di Desa Batuah Kecamatan Pamukan Barat. Analisis data menggunakan teknik analisis PLS-SEM dengan software Smart-PLS3 untuk uji validitas, pengukuran model struktural, dan goodness of fit. Hasil dari penelitian adalah program Hutan Kemasyarakatan berpengaruh signifikan terhadap kesejahteraan kelompok tani hutan di Desa Batuah. Hal ini ditunjukan dengan nilai T value (2,953) dan nilai P value (0,003). Artinya Semakin baik program semakin baik pengaruhnya terhadap kesejahteraan masyarakat kelompok tani hutan, serta berdasarkan uji validitas indikator yang mengukur variabel program hutan kemasyarakatan, dimana dari 4 indikator pengukur terdapat 3 indikator yang tidak valid yaitu, penyuluhan, pengadaan bibit, dan kemampuan SDM sehingga yang menjadi pengukur HKm satu-satunya adalah kecukupan dana. Hal ini berarti faktor penyuluhan, pengadaan bibit, dan kemampuan sdm tidak dapat menjadi pengukur keberhasilan HKm. Hal ini berimplikasi pada fenomena di lapangan bahwa ketiga faktor tersebut tidak memberikan pengaruh terhadap keberhasilan HKm, oleh karena itu fenomena ini dapat menjadi koreksi bagi pelaksana pendampingan program HKm di Desa Batuah, untuk perbaikan dan peningkatan kualitas pendampingan karena dari hasil penelitian ini satu-satunya faktor pendorong keberhasilan program hkm adalah semata-mata kecukupan dana.
Analisis Program Hutan Kemasyarakatan Di KTH Batu Kura dan KTH Pinang Muda Kabupaten Tanah Laut Muhammad Adieb Rasyadi; Muhammad Naparin; Hafizianor Hafizianor
Jurnal Sylva Scienteae Vol 7, No 4 (2024): Jurnal Sylva Scienteae Vol 7 No 4 Edisi Agustus 2024
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v7i4.9631

Abstract

The social forestry program has been running since 2014 until now. The social forestry program has 5 schemes, one of which is community forestry which invites the community to intervene in implementing the social forestry program. The purpose of this research is to analyze the implementation of community forestry programs through institutional, technical, economic and ecological aspects. The respondents of this study were members of the Batu Kura and Pinang Muda forest farmer groups. The results obtained were tested through SPSS with an unpaired t test. The results of the analysis obtained sig 0.091 which has a not significant different meaningProgram perhutanan sosial berjalan semenjak tahun 2014 hingga sekarang. Program perhutanan sosial memiliki 5 skema salah satunya adalah hutan kemasyarakatan yang mengajak masyarakat untuk ikut campur tangan dalam melaksanakan program perhutanan sosial. Tujuan penelitian ini ada untuk menganalisa pelaksanaan program hutan kemasyarakatan melalui aspek kelembagaan, teknis, ekonomi dan ekologi. Responden dari penelitian ini merupakan anggota kelompok tani hutan Batu Kura dan Pinang Muda. Hasil yang didapatkan dilakukan pengujian melalui SPSS dengan pengujian uji t tidak berpasangan. Hasil Analisa didapatkan sig 0.091 yang memiliki arti berbeda tidak signifikan
Pengaruh Program Hutan Kemasyarakatan (HKm) Terhadap Kesejahteraan Masyarakat Kelompook Tani Hutan Batu Kura di Desa Galam Kceamatan Bajuin Menggunakan Metode Partial Least Square (PLS) Ayu Yunita Lolo; Muhammad Naparin; Syam'ani Syam'ani
Jurnal Sylva Scienteae Vol 7, No 4 (2024): Jurnal Sylva Scienteae Vol 7 No 4 Edisi Agustus 2024
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v7i4.9400

Abstract

ABSTRACT, An ecosystem with vast expanses of land where the dominant natural resources are composed of interconnected trees that are inseparable from their environment is called a forest. Forests are regulated by the government to provide positive impacts on sustainable forest management to ensure their continued utilization. Forests also play a role as managers of various cycles and providers of various natural resources needed by humans. The social forestry program has been implemented throughout the archipelago, including in South Kalimantan. Galam Village, located in the Bajuin District of Tanah Laut Regency, is one of the villages that has developed a social forestry program under the Community Forest (HKm) scheme and formed the Batu Kura Forest Farmers Group. Since the issuance of the Community Forest management permit by the Ministry of Environment and Forestry, the Batu Kura Forest Farmers Group has been engaged in HKm activities, focusing on the production of non-timber forest products, specifically candlenut fruit, which has been actively produced since 2019.ABSTRAK.  Ekosistem yang memiliki hamparan lahan yang luas dimana dominasi sumber daya alam hayati yang tersusun di dalamnya berupa pepohonan yang memiliki hubungan dengan alam lingkungannya dan tidak bisa dipisahkan merupakan hutan. Hutan diatur oleh pemerintah untuk menyediakan dampak positif terhadap pengelolaan hutan secara lestari agar tetap dapat dimanfaatkan hasilnya. Hutan juga berperan sebagai pengelola berbagai siklus sekaligus penyedia berbagai kebutuhan sumber daya alam yang dibutuhkan oleh manusia. Program dari perhutanan sosial telah dilaksanakan di seluruh Nusantara termasuk di Kalimantan Selatan. Desa Galam Kecamatan Bajuin yang berada dalam wilayah Kabupaten Tanah Laut merupakan salah satu dari Desa yang telah mengembangkan program dari perhutanan sosial dengan skema Hutan Kemasyarakatan (HKm) dan membentuk Kelompok Tani Hutan Batu Kura. Sejak penerbitan SK izin pengelolaan Hutan Kemasyarakatan dikeluarkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, KTH Batu Kura memulai kegiatan HKm dengan memproduksi hasil hutan bukan kayu berupa buah kemiri yang aktif diproduksi sejak tahun 2019.