Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

IDENTIFIKASI PENYEBAB KONVERSI LAHAN UNTUK REVITALISASI PERKEBUNAN KAKAO DI KABUPATEN ACEH SELATAN Yasar, Muhammad; Mustaqimah, Mustaqimah; Agustina, Raida; Nufus, Hayatun; Handayani, Sri
AGROTEKSOS, Jurnal Ilmiah Ilmu Pertanian Vol 34 No 3 (2024): Jurnal Agroteksos Desember 2024
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/agroteksos.v34i3.1290

Abstract

Kakao (Theobroma cacao L.) adalah salah satu komoditas unggulan di Indonesia yang memiliki kontribusi signifikan terhadap perekonomian melalui ekspor dan industri pengolahan. Namun, produksi kakao mengalami penurunan akibat konversi lahan. Aceh Selatan, sebagai salah satu daerah penghasil kakao di Aceh, juga terdampak oleh konversi lahan serta masalah dalam pengelolaan tanaman kakao. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi konversi lahan kakao di Kabupaten Aceh Selatan. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini menggabungkan metode kualitatif dan kuantitatif, yang memungkinkan penelitian untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif tentang fenomena konversi lahan dari segi sosial, ekonomi, dan lingkungan. Metode kualitatif dilakukan melalui wawancara mendalam dengan petani kakao, pengusaha perkebunan kelapa sawit, dan pihak pemerintah setempat untuk menyusun gambaran tentang faktor-faktor konversi lahan yang bersifat lokal dan subjektif. Sementara itu, metode kuantitatif dilakukan dengan menyebarkan kuesioner kepada petani kakao di Aceh Selatan untuk mengukur pengaruh berbagai faktor dalam keputusan konversi lahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penurunan produksi kakao disebabkan oleh konversi lahan untuk sektor pertanian lain sebesar 83,5 % dan sisanya 16,5 % penggunaan lahan untuk keperluan non-pertanian. Penyebab utama konversi lahan dari sektor pertanian adalah ekspansi perkebunan kelapa sawit yang mencapai 73,3 %, sementara konversi non-pertanian lebih disebabkan oleh kebutuhan untuk pengembangan perumahan sebesar 55,7 %. Tingginya serangan hama dan penyakit menjadi faktor utama yang mendorong petani untuk mengkonversi lahan kakao mereka yaitu 44,3 %. Faktor yang dibutuhkan untuk pengembangan kakao adalah adanya jaminan harga/pasar yang menguntungkan (54,0 %) dan akses permodalan (24,4 %) untuk mendukung pembiayaan usaha petani. Kendala utama yang harus diatasi adalah penyediaan bibit unggul yang tahan terhadap perubahan iklim, hama, penyakit, serta memiliki produktivitas yang tinggi. Penelitian ini diharapkan memberikan pandangan yang berguna bagi pemerintah daerah dan petani dalam merumuskan kebijakan yang dapat mendukung revitalisasi dan pengelolaan kakao yang berkelanjutan.
Aplikasi Photovoltaic Light Trap (PLT) Dalam Pengendalian Insekta Pengganggu Untuk Meningkatkan Produktivitas Bawang Merah (Allium cepa L. var. aggregatum) Yasar, Muhammad; Hafsah, Siti; Juliaviani, Noratun; Agustina, Raida
JURNAL PENGABDIAN PEMBANGUNAN PERTANIAN DAN LINGKUNGAN (JP3L) Vol 1 No 1 (2023): JURNAL PENGABDIAN PEMBANGUNAN PERTANIAN DAN LINGKUNGAN (JP3L): Volume 1 Nomor 1,
Publisher : LEMBAGA KAJIAN PEMBANGUNAN PERTANIAN DAN LINGKUNGAN (LKPPL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62671/jp3l.v1i1.3

Abstract

Kebutuhan konsumsi bawang merah sehari-hari terus meningkat dari waktu ke waktu, sedangkan keberadaan dan perannya tidak dapat ditukar dengan jenis tanaman yang lain. Hal ini menyebabkan tingkat ketergantungan terhadap bawang merah sangat tinggi apalagi ketersediaannya tidak seimbang dengan kebutuhan yang ada. Oleh sebab itu bawang merah termasuk jenis komoditas yang memerlukan perhatian ekstra baik oleh pemerintah maupun masyarakat tani. Kelompok tani mitra merupakan diantara kelompok masyarakat yang peduli terhadap pemenuhan kebutuhan bawang merah lokal. Meskipun tidak memiliki pengetahuan dan teknologi yang memadai, kelompok tani ini terus berjuang memenuhi kebutuhan pangan masyarakat. Namun seringnya tanaman yang dibudidayakan terserang oleh hama dan penyakit telah menyebabkan terjadinya penurunan semangat atau animo masyarakat dalam menggeluti tanaman bawang merah ini. Untuk mengantisipasi permasalahan tersebut, Tim Pengabdi berupaya untuk melakukan pendampingan terhadap kelompok tani tersebut agar senantiasa konsisten dalam mengupayakan pembudidayaan tanaman bawang merah di lahan yang mereka miliki atau usahakan. Bentuk kegiatan pengabdian yang ditawarkan dan sekaligus menjadi solusi terhadap permasalahan yang sedang dihadapi masyarakat adalah melalui pengaplikasian inovasi teknologi mekanis Photovoltaic Light Trap (PLT). Inovasi ini tergolong sederhana dan mudah untuk digunakan, tidak memerlukan biaya yang terlalu tinggi, serta yang paling penting adalah bersifat ramah lingkungan (green energy). Aplikasi inovasi teknologi tepat guna ini diharapkan dapat mengatasi inang dari insekta perusak yang sering meninggalkan telur dan larvanya pada tanaman bawang merah. Melalui rangsangan sinar lampu yang dipancarkan dengan teknologi energi surya, insekta penggangu tersebut akan diperangkap sehingga tidak lagi mengganggu tanaman. Selanjutnya insekta yang terperangkap dapat dengan mudah dimusnahkan secara mekanis. Dengan demikian tanaman bawang merah dapat terhindar dari serangan hama dan penyakit sehingga dapat meningkatkan produktivitas dan pendapatan petani.
Domestikasi Tumbuhan Bemban (Donax Canniformis) Untuk Keberlanjutan Usaha Kerajinan Bili Di Desa Lampanah Tunong, Aceh Besar Yasar, Muhammad; Hafsah, Siti; Juliaviani, Noratun
DCS: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 1 No. 2 (2024): DCS: Jurnal Pengabdian Masyarakat, Volume 1 Nomor 2, Desember 2024
Publisher : LEMBAGA KAJIAN PEMBANGUNAN PERTANIAN DAN LINGKUNGAN (LKPPL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62671/dcs.v1i2.26

Abstract

The bemban plant (Donax canniformis) has important meaning for the community in Lampanah Tunong Village, Indrapuri District, Aceh Besar Regency. Together with 4 (four) other villages around it, this village has become a center for woven bemban crafts with production products that are typical superior products for Aceh Besar Regency. Apart from supporting the development of the tourism sector and creative industry, this woven bemban craft product has been able to improve the economy and welfare of the local community. The lack of implementation of the concept of sustainable development (sustainable development) has resulted in vulnerability to the continuity of this highly prospective business. The provision of raw materials that completely relies on availability in nature has resulted in the increasingly extinct population of burden plants. The rate of handicraft production which is not commensurate with the ability of natural plant reproduction has caused the community to have to bring in raw materials from outside the village. This of course has an impact on increasing production costs and reducing opportunities for profits. Without systematic and strategic efforts, it is feared that availability from outside the village will also threaten its sustainability. To overcome this, the Service Team offers a concrete solution in the form of domestication efforts by transforming wild bemban plants into cultivated bemban plants through the introduction of cultivation techniques, nurseries and cultivation demonstration plots as well as improving and developing marketing techniques through product diversification and the use of digital marketing. The methods used include: counseling/tutorials and direct practice in the field with stages consisting of: preparation, coordination, implementation, coaching, and trials/evaluation. Through this service activity, it is hoped that the sustainability of the bemban woven craft business will be realized (SDGs 11), increase economic growth (SDGs 8), reduce poverty (SDGs 1) and improve the welfare (SDGs 3) of the community, especially partner craftsmen (SDGs 17).
Penerapan Teknologi Tepat Guna Dalam Pengolahan Janeng (Dioscorea hispida Dennst) Di Desa Riting Kecamatan Indrapuri Kabupaten Aceh Besar Yasar, Muhammad; Mustaqimah, Mustaqimah; Agustina, Raida; Khairi, Khairi; Zulham, Zulham; Lina, Eka Chandra
DCS: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 2 No. 1 (2025): DCS: Jurnal Pengabdian Masyarakat, Volume 2 Nomor 1, Juni 2025
Publisher : LEMBAGA KAJIAN PEMBANGUNAN PERTANIAN DAN LINGKUNGAN (LKPPL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62671/dcs.v2i1.120

Abstract

Tumbuhan Janeng (Dioscorea hispida Dennst) memiliki arti penting bagi masyarakat Desa Riting, Kecamatan Indrapuri, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh, terutama sebagai sumber bahan pangan alternatif yang telah dikonsumsi sejak lama. Selama ini masyarakat setempat mengolah jenis umbi beracun ini dengan pengetahuan dan teknologi seadanya yang berbasis indigenous knowledge sehingga potensi alam yang besar ini belum mampu dimanfaatkan sepenuhnya untuk kepentingan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Kegiatan Pengabdian Masyarakat Kolaborasi Indonesia (PMKI) ini bertujuan untuk membantu masyarakat setempat dalam memperbaiki teknologi pengolahan janeng melalui penerapan Teknologi Tepat Guna (TTG) agar memiliki nilai ekonomi dan produksi yang tinggi. Pelaksanaan Program dilakukan melalui metode Tutorial/Penyuluhan dan Implementasi/Praktek Langsung di Lapangan. Tutorial/Penyuluhan dilakukan melalui pertemuan tatap muka antara tim pengabdi dengan mitra dan masyarakat penerima manfaat. Sedangkan Implementasi/praktek langsung di lapangan dilakukan melalui penerapan Teknologi Tepat Guna (TTG) yang disampaikan pada saat tatap muka dengan cara pembuatan alat TTG di lahan/bangunan yang telah disediakan oleh Pemerintah Gampong/Desa. Tahapan pelaksanaan kegiatan terdiri-dari fase persiapan, fase koordinasi, fase pelaksanaan, fase pembinaan dan pendampingan, dan fase evaluasi kegiatan. Teknologi Tepat Guna (TTG) yang diterapkan terdiri-dari Alat TTG Pengupas Kulit Janeng, Alat TTG Perajang/Pengiris Umbi Janeng, Alat TTG Penghilang Racun Janeng, Alat TTG Pengering Janeng, dan Alat TTG Pembuat Tepung Janeng. Diharapkan melalui kegiatan ini dapat mewujudkan desa industri pengolahan janeng yang berkelanjutan guna mendukung program ketahanan pangan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Pengolahan Manisan Belimbing Wuluh Sebagai Upaya Diversifikasi Pangan Sehat Agustina, Raida; Yasar, Muhammad; Ferijal, T; Hartuti, Sri; Zikri, Irfan
JURNAL PENGABDIAN PEMBANGUNAN PERTANIAN DAN LINGKUNGAN (JP3L) Vol 1 No 2 (2024): JURNAL PENGABDIAN PEMBANGUNAN PERTANIAN DAN LINGKUNGAN (JP3L): Volume 1 Nomor 2,
Publisher : LEMBAGA KAJIAN PEMBANGUNAN PERTANIAN DAN LINGKUNGAN (LKPPL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62671/jp3l.v1i2.21

Abstract

Pemanfaatan dan pengembangan buah belimbing wuluh belum dilakukan secara optimal, karena nilai jual buah yang masih rendah dan tidak diimbangi dengan potensi yang dimiliki buah belimbing wuluh. Beberapa cara pengolahan yang dapat memperpanjang masa simpan belimbing wuluh segar adalah manisan belimbing wuluh. Selama ini masyarakat di Gampong Cucum Kecamatan Kuta Baro hanya mengolah belimbing wuluh tersebut untuk dijadikan asam sunti saja. Oleh karena itu perlu dilakukan diseminasi mengenai produk olahan lain yang berbahan baku dari belimbing wuluh, jika tidak maka dapat dipastikan buah belimbing tersebut akan terbuang sia-sia. Kegiatan ini bertujuan untuk menghasilkan produk yang bernilai ekonomis tinggi karena proses produksinya menggunakan teknologi yang dapat digunakan langsung oleh masyarakat seperti mengatasi permasalahan pengolahan belimbing wuluh segar menjadi produk yang memiliki masa simpan relatif lama. Selain itu, meningkatkan pengetahuan dan minat masyarakat Gampong Cucum dalam memproduksi manisan belimbing wuluh yang bermutu dan mempunyai harga tinggi di pasaran yang pada akhirnya akan dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat di Gampong Cucum serta terrciptanya home industry berbahan baku belimbing wuluh. Strategi pengembangan yang dapat direkomendasikan antara lain: 1) melakukan diversifikasi, promosi, dan inovasi; 2) meningkatkan kapasitas SDM melalui pembinaan dan pelatihan berkelanjutan; 3) menjalin kerjasama antara tim pengabdi dengan mitra; 4) melakukan penguatan pasar lokal dan nasional
Pemanfaatan Tumbuhan Bemban Sebagai Bahan Kerajinan Di Desa Lampanah Tunong, Aceh Besar Yasar, Muhammad; Hafsah, Siti; Juliaviani, Noratun; Khalil, Munawar; Jayanti, Dewi Sri; Agustina, Raida; Anwar, Khairul
JURNAL PENGABDIAN PEMBANGUNAN PERTANIAN DAN LINGKUNGAN (JP3L) Vol 1 No 2 (2024): JURNAL PENGABDIAN PEMBANGUNAN PERTANIAN DAN LINGKUNGAN (JP3L): Volume 1 Nomor 2,
Publisher : LEMBAGA KAJIAN PEMBANGUNAN PERTANIAN DAN LINGKUNGAN (LKPPL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62671/jp3l.v1i2.45

Abstract

Tumbuhan bemban (Donax canniformis) memiliki arti penting bagi masyarakat di Desa Lampanah Tunong, Kecamatan Indrapuri, Kabupaten Aceh Besar. Bersama 4 (empat) desa lain disekitarnya, desa ini telah menjadi sentra kerajinan anyaman bemban dengan hasil produksi yang menjadi produk unggulan khas bagi Kabupaten Aceh Besar. Selain mendukung pengembangan sektor pariwisata dan industri kreatif, produk kerajinan anyaman bemban ini telah mampu meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat setempat. Kegiatan pengabdian kepada Masyarakat ini ditujukan untuk membantu dan membina masyarakat kelompok pengrajin dalam pemanfaatan tumbuhan bemban secara berkelanjutan sehingga dapat meningkatkan pendapatan ekonomi dan menjamin kesejahteraan masyarakat. Kegiatan ini meliputi tahap persiapan, koordinasi, pelaksanaan dan evaluasi. Pada tahap persiapan dilakukan proses identifikasi dan inventarisasi masalah yang dihadapi pengrajin. Lalu permasalahan tersebut dikoordinasikan dengan pihak-pihak terkait untuk dicarikan solusinya dan diterapkan dalam tahap pelaksanaan. Untuk memastikan tingkat keberhasilan program, dilakukan proses evaluasi yang hasilnya dijadikan sebagai dasar perbaikan dan rekomendasi tindak lanjut. Hasil kegiatan pengabdian masyarakat ini menunjukkan tingkat antusiasme masyarakat pengrajin dalam mengikuti program sangat tinggi. Para pengrajin mampu meningkatkan produksi dan produktivitasnya melalui diversifikasi produk kerajinan dengan baik. Diharapkan paska kegiatan, masyarakat dapat mengembangkan usahanya secara berkelanjutan.
DEVELOPMENT OF ENVIRONMENTALLY FRIENDLY VEGETABLE INSECTICIDES BASED ON GADUNG BARK NANOEMULSION (DIOSCOREA HISPIDA DENNST) FOR COMMUNITY EMPOWERMENT IN RITING VILLAGE, ACEH BESAR Lina, Eka Candra; Yasar, Muhammad; Zulham, Zulham; Mustaqimah, Mustaqimah; Agustina, Raida; Khairi, Khairi
Jurnal Hilirisasi IPTEKS Vol. 8 No. 4 (2025)
Publisher : LPPM Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jhi.v8i4.889

Abstract

The peel of gadung tuber (Dioscorea hispida Dennst), abundantly found in Riting Village, Aceh Besar, represents a local natural resource with potential use as an environmentally friendly botanical insecticide. Until now, gadung peel has been treated merely as waste from tuber processing and has no economic value, even though it contains bioactive compounds such as diosgenin and saponin, which are known to be toxic to insects. This community service program aimed to produce a nanoemulsion-based botanical insecticide sample derived from gadung peel extract, evaluate its effectiveness against Crocidolomia pavonana larvae, and enhance local community knowledge and skills in utilizing gadung peel waste as a raw material for botanical insecticide production. The program was carried out in two stages: (1) sample preparation and bioassay testing, and (2) knowledge transfer and hands-on training through workshops. The results showed that gadung peel extract significantly affected larval mortality, with LC₅₀ and LC₉₅ values of 0.682% and 1.469%, respectively. The workshops successfully improved participants’ understanding of gadung’s potential as a natural insecticide source, technical skills in handling raw materials, and the ability to formulate and apply simple botanical insecticides using local ingredients. Outputs of the activity included a training module, a technical guideline, and prototype products for further development. Overall, this program positively contributed to enhancing community capacity in sustainable agricultural innovation and promoting the utilization of local natural resources with economic and environmental benefits.