Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

Peran Masyarakat dalam Promosi Pariwisata Kota Singkawang Widha Anistya Suwarso
Jurnal PIKMA : Publikasi Ilmu Komunikasi Media Dan Cinema Vol. 3 No. 2 (2021): Maret 2021
Publisher : Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas AMIKOM Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (298.323 KB) | DOI: 10.24076/pikma.v3i2.474

Abstract

Pariwisata merupakan salah satu sektor unggulan dalam mendukung perekonomian di Indonesia. Keberadaan pariwisata di daerah selain menjadi pemasukan bagi pemerintah juga memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk berinteraksi dan bertransaksi dengan para wisatawan. Sehingga pengembangan pariwisata di daerah bukan semata tanggung jawab pemerintah, tetapi juga perlu didukung oleh masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi peran masyarakat dalam promosi pariwisata Kota Singkawang. Promosi pariwisata merupakan bentuk komunikasi pemasaran dalam pariwisata yang tujuannya untuk memengaruhi target wisatawan agar berkunjung ke daerah wisata yang dipromosikan. Tujuan dari promosi secara spesifik adalah untuk menginformasikan (to inform) dan untuk mempengaruhi (to persuade). Bentuk-bentuk promosi yang dikenal sebagai bauran promosi terdiri dari personal selling, mass selling, promosi penjualan, public relations, dan direct marketing. Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Melalui metode ini peneliti berusaha mengidentifikasi dan mendeskripsikan peran masyarakat dalam promosi pariwisata di Kota Singkawang. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan, peran masyarakat dalam promosi pariwisata Kota Singkawang dapat diidentifikasi sebagai berikut: 1) mengelola tempat wisata; 2) mengelola media informasi; 3) menciptakan dan memelihara iklim sosial yang kondusif; dan 4) melakukan promosi melalui media sosial. Untuk memaksimalkan peran masyarakat, diharapkan pemerintah lebih proaktif dalam merangkul para penggiat dan masyarakat umum yang terlibat dalam promosi pariwisata Kota Singkawang. Kata kunci: Peran Msyarakat, Promosi Pariwisata, Kota Singkawang
Persepsi Masyarakat tentang New Normal COVID-19 Widha Anistya Suwarso
Proyeksi: Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 25, No 2 (2020): PROYEKSI, Jurnal Ilmu Ilmu Sosial dan Humaniora
Publisher : FISIP Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (606.308 KB) | DOI: 10.26418/proyeksi.v25i2.2603

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi masyarakat tentang new normal COVID-19, karena persepsi berkaitan erat dengan perilaku. Banyak perubahan dalam tatanan kehidupan akibat COVID-19 terutama berkaitan dengan interaksi antarmanusia. Masyarakat mungkin menghadapi culture shock dalam menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan cara hidup di masa new normal sehingga perilaku masyarakat tidak serta merta berubah sesuai yang diharapkan pemerintah. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode deskriptif kualitatif. Subjek penelitian ini adalah masyarakat dengan berbagai background yang tersebar di beberapa wilayah Kalimantan Barat, yaitu Kota Pontianak, Kabupaten Ketapang, dan Kabupaten Sanggau. Sedangkan objek penelitian ini adalah persepsi masyarakat terhadap new normal COVID-19. Teknik pengumpulan data dalam penelitian dilakukan dengan wawancara mendalam dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan persepsi masyarakat tentang new normal COVID-19 beragam. Sebagian besar mempersepsi secara positif karena menyadari tetap tinggal di rumah tidak selamanya bisa dilakukan untuk memutus penyebaran virus. Namun di sisi lain, masih ada masyarakat yang mempersepsi new normal secara negatif karena menganggap pemerintah memiliki kepentingan tertentu. Oleh karena itu, dibutuhkan pendekatan komunikasi yang lebih baik agar terbentuknya persepsi yang seragam di masyarakat dan perubahan perilaku hidup baru sesuai protokol kesehatan di masa new normal dapat tercapai.
Strategi Komunikasi Pemasaran Sosial oleh Organisasi Non Profit Widha Anistya Suwarso
EKSPRESI DAN PERSEPSI : JURNAL ILMU KOMUNIKASI Vol 3, No 1 (2020): Januari
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (217.134 KB) | DOI: 10.33822/.v3i1.1357

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan serta menganalisis strategi komunikasi pemasaran sosial Indonesia AIDS Coalition (IAC) dalam kampanye ODHA Berhak Sehat (OBS). Kampanye merupakan bentuk pemasaran ide dan gagasan tentang perubahan sosial, sehingga pendekatan pemasaran sosial dapat digunakan dalam konteks kampanye sosial. Strategi yang dimaksud terbagi menjadi downstream strategy dan upstream strategy. Melalui downstream strategy, IAC membangun strategi komunikasi pemasaran kampanye dengan menjadikan masyarakat sebagai target kampanye. Sedangkan upstream strategy merupakan strategi komunikasi pemasaran sosial yang mengacu pada upaya IAC untuk mempengaruhi kebijakan dengan menggalang dukungan dan mempromosikan isu atau persoalan tertentu yang berkaitan dengan HIV/AIDS. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif, dimana peneliti berusaha menggambarkan fenomena kampanye sosial yang dilakukan dengan menggunakan pendekatan pemasaran sosial. Adapun tahap analisis data kualitatif dilakukan mulai dari pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, hingga penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi komunikasi yang diterapkan oleh IAC dalam kampanye OBS baik downstream strategy maupun upstream strategy belum cukup maksimal dalam mencapai tujuan kampanye. Masih dibutuhkan upaya-upaya untuk mengoptimalkan pengelolaan kampanye, terutama dengan melakukan evaluasi dan pengembangan terhadap aplikasi mobile AIDS Digital yang sebenarnya sangat potensial dalam mendukung kegiatan kampanye OBS.
DISONANSI KOGNITIF MASYARAKAT KALIMANTAN BARAT AKIBAT BANJIR INFORMASI COVID-19 Aliyah Nur'aini Hanum; Dewi Utami; Widha Anistya Suwarso
EKSPRESI DAN PERSEPSI : JURNAL ILMU KOMUNIKASI Vol 5, No 1 (2022): Januari
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33822/jep.v5i1.3454

Abstract

Sumber informasi yang terlalu banyak mengakibatkan arus informasi yang beredar tidak lagi dapat dikontrol, sehingga banjir informasi pun tidak dapat dicegah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana disonansi kognitif yang dialami masyarakat Kalimantan Barat akibat banjir informasi Pandemi COVID-19. Proses disonansi yang diawali persepsi masyarakat yang berkelanjutan hingga perubahan sikap bahkan perilaku menjadi perhatian dalam penelitian ini. Fenomena tersebut akan dikaji dari perspektif proses persepsi dan teori pertimbangan sosial. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksploratif dengan pendekatan kualitatif. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Adapun subjek penelitian ini terdiri dari masyarakat di beberapa Kabupaten/Kota di Kalimantan Barat, unsur pemerintah daerah, pihak media, psikolog, pakar sosiologi, dan pakar komunikasi. Hasil penelitian menunjukkan masyarakat yang mempersepsikan informasi mengenai pandemi COVID-19 sebagai hal yang bertentangan dengan kepercayaannya berada dalam rentang penolakan informasi, dan mengalami disonansi kognitif yang bervariasi tingkatannya sesuai dengan latar belakang dirinya dan nilai-nilai yang dia anut. Adanya disonansi kognitif mengenai pandemi COVID-19 didorong oleh kemampuan adaptasi nilai ke dalam sikap dan perilaku yang berbeda pada setiap orang. Kebingungan akibat banjir informasi dan keterbatasan pengetahuan yang dimiliki membuat kelompok-kelompok dalam masyarakat melakukan rasionalisasi informasi pandemi COVID-19 yang dianggap sesuai dengan kepercayaan pribadinya.disonansi kognitif, banjir informasi, proses persepsi, teori pertimbangan sosial
Model Strategi Diplomasi Budaya di Masa Covid-19 : Studi Kasus Festival Cap Go Meh di Kota Singkawang Nurfitri Nugrahaningsih; Widha Anistya Suwarso
Intermestic: Journal of International Studies Vol 6 No 1 (2021)
Publisher : Departemen Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (490.414 KB) | DOI: 10.24198/intermestic.v6n1.6

Abstract

This study aims to identify the cultural diplomacy strategy carried out by Singkawang City Government during Covid-19 pandemic. Singkawang has a Cap Go Meh festival which is held every year which attracts the attention of domestic and foreign tourists. The Covid-19 pandemic has spread over the world since the end of 2019 and gave impacts on many sectors, including the number of tourist visits to Cap Go Meh in Singkawang City, West Kalimantan in 2021. This research was conducted through a qualitative approach with an exploratory method and refers to cultural diplomacy and digital diplomacy concept. The results of this study indicate that there are models of cultural diplomacy during pandemic: (1) The cooperation and commitment from government and non-government actors to support and promote cultural diplomacy, (2) The implementation of e-diplomacy, and (3) There are strict regulations related to the Covid-19 pandemic; however, still provide space for cultural diplomacy. Keywords: Cap Go Meh, Covid-19, cultural diplomacy, digital diplomacy
The Patterns of Early Childhood Media Consumption in the Digital Television Era Suci Lukitowati; Widha Anistya Suwarso; Dea Varanida
KOMUNIKA: Jurnal Dakwah dan Komunikasi Vol. 16 No. 2 (2022)
Publisher : Fakultas Dakwah UIN Saizu Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/komunika.v16i2.6853

Abstract

This study aims to analyze consumption patterns of children's programs on digital media in Indonesia. The research uses a qualitative approach with the uses and gratification theory as a theoretical framework—collecting research data through in-depth interviews with respondents. The research respondents were ten informants aged at least 21 years with children ranging in age from 2 to 6 years. The respondents were interviewed in-depth to get answers regarding the pattern of watching children's entertainment media shows in their respective homes. The study results reveal that parents choose television and YouTube as entertainment media for their early childhood. Parents give these two media because YouTube has three elements: interactivity, demassification, and asynchronous, while television is considered a counterbalance to smartphone addiction in children. The media consumption patterns of each family are remarkably diverse but have identical motives. The primary reason parents provide children's entertainment. Digital television has not been popular as an entertainment media option for early childhood.
Edukasi Proses Reintegrasi Bagi Korban Perdagangan Manusia di Kecamatan Sajingan Besar Kabupaten Sambas Hardi Alunaza; Sri Maryuni; Widha Anistya Suwarso; Rusdiono; Pardi Pardi; Annisa Umniyah; Suci Cantika
I-Com: Indonesian Community Journal Vol 3 No 1 (2023): I-Com: Indonesian Community Journal (Maret 2023)
Publisher : Fakultas Sains Dan Teknologi, Universitas Raden Rahmat Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (341.674 KB) | DOI: 10.33379/icom.v3i1.2136

Abstract

Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan di Kecamatan Sajingan Besar mengusung tema proses reintegrasi bagi bagi korban perdagangan orang. Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan mulai dari September hingga Oktober dengan bentuk pelaksanaan kegiatan terdiri dari ceramah penyampaian materi, sosialisasi, diskusi dengar pendapat. Sementara evaluasi yang dilakukan dalam kegiatan PKM  berbentuk analisis hasil pelaksanaan dalam bentuk analisis kuantitatif dari diskusi dengar pendapat. Berdasarkan kegiatan pengabdian yang dilaksanakan di Desa Sebunga Kecamatan Sajingan Besar, dapat disimpulkan bahwa masyarakat masih belum mengetahui dan memiliki pemahaman yang baik mengenai proses reintegrasi yang seharusnya diterima oleh korban perdagangan manusia. Namun, sosialisasi dan edukasi yang diberikan oleh tim pengabdian dapat membantu masyarakat dalam memahami bentuk perlindungan terhadap kejahatan perdagangan orang. Masyarakat juga mendapatkan edukasi yang baik terkait identifikasi korban, proses recovery, rehabilitasi sosial hingga proses reintegrasi secara komprehensif.
RECEPTION ANALYSIS OF PONTIANAK YOUTH TO ‘NGONDEK’ MALE IN MS.QUEEN VARIETY SHOW Widha Anistya Suwarso; Dewi Utami; Rikka Anggraini maulida
Proyeksi: Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 27, No 2 (2022): PROYEKSI, Jurnal Ilmu Ilmu Sosial dan Humaniora
Publisher : FISIP Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/proyeksi.v27i2.3397

Abstract

The emergence of micro-celebrities and their competition in attracting followers requires them to have a certain persona. Ngondek is one of the personalities that many celebrities choose in providing personal branding for themselves. The popularity of micro-celebrity is fostered by the media by inviting these celebrities to appear on television shows. This phenomenon gives the impression that gondek is a shortcut to becoming viral and famous. It is feared that children and adolescents, as well as adults with limited literacy skills, will imitate this. Through this research, the researcher tries to find out the audience's reception of content that promotes gondek behavior. The results of the study show that informants tend to gravitate toward preferred reading for representation of professional entertainers. The informants are in a negotiated reading position for representation of femininity. Men performing feminine are cute and entertaining because they are supported by several determining factors such as the script and the actor's natural abilities. The informant is in an oppositional reading position for the representation of the object of the joke, remembering morally, making someone the object of a joke is not an act that can be justified. Regarding the representation of LGBT in the research text, informants who hold a negotiated reading position believe that there are many men with feminine performances who are physically fit but do not try to promote LGBT to their audiences.