Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

STRUKTUR TANDA NASIONALISME DALAM FILM NASIONAL Analisis Semiotika terhadap Film “Tanah Surga, Katanya" Pietyasafira, Hayati; Bajari, Atwar; Zein, Duddy
PROSIDING KOMUNIKASI PROSIDING : AKSELERSI PEMBANGUNAN MASYARAKAT LOKAL MELALUI KOMUNIKASI DAN TEKNOLOGI INFORMASI (BUKU
Publisher : PROSIDING KOMUNIKASI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (575.151 KB)

Abstract

Nasionalisme adalah nilai yang harus ditanamkan kepada semua lapisan masyarakat untuk menjaga integritas dan reputasi bangsa.Film memiliki kemampuan untuk membangun rasa cinta tanah tanah air. Melalui dialog antar tokoh, jalan ceritra, ilustrasi musik dan pengambilan gambar, film memiliki kemampuan berceritra kepada penonton mengenai nasionalisme. Namun demikian, untuk mengukur sebuah film memiliki kemampuan menjalankan fungsi tersebut harus dibedah dan direkontruksi secara mendalam. Semiotika melalui cara berpikir dialektik struktura memiliki kemampuan menganalisis media film dengan asumsi bahwa media memiliki kepentingan iedologi pada isi pesan melalui seperangkat tanda yang ditampilkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui makna tentang struktur, tanda dan melalui kajian mitos atau ideologi dengan menggunakan Semiotika Struktural. Objek penelitian adalah film “Tanah Surga, Katanya” yang berceritra tentang nasionalisme. Hasil penelitian menunjukan, bahwa; secara denotatif nasionalisme dalam film “Tanah Surga, Katanya” ditampilkan melalui berbagai gambaran visual pada seluruh adegan film. Gambaran upacara bendera, baju lusuh dan berbagai ekspresi verbal dan non-verbal menjadi alat eksplorasi yang menonjolkan penderitaan ketertinggalan adalah bahasa nasionalisme secara ideologis. Namun demikian, secara konotatif, makna yang dikembangkan dalam mengungkapkan nasionalisme kepada penonton, dengan menyebut sebuah negara lain sebagai pembanding, telah menumbuhkan makna dengan cara merendahkan melalui peminggiran bangsa lain. Hal ini memunculkan kesan, bahwa film tersebut membangun nasionalisme dengan cara yang sempit. Kata kunci: Film, Ideologi,Mitos, Nasionalisme, Semiotika, dan Roland Barthes.
PEMERTAHANAN BAHASA SUNDA SEBAGAI ALAT KOMUNIKASI OLEH PENUTUR SUNDA DI KOMPLEKS PERUMAHAN DI KABUPATEN BANDUNG Wagiati, NFN; Zein, Duddy
SUAR BETANG Vol 12, No 1 (2017): Suar Betang, Vol. 12, Nomor 1, Juni 2017
Publisher : Balai Bahasa Kalimantan Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/surbet.v12i1.14

Abstract

This study describes the maintenance of the Sundanese language as a means of communication by speakers living in residences in Bandung Regency. The method used is qualitative method with descriptive data analysis. The analysis is divided into six domains of communication, namely kinship, neighborhood, intimacy, education, transaction, and government. The result of the research shows that (1) Sundanese is often used by Sundanese speakers in residential complex in Bandung in four communication domains, namely kinship, intimacy, neighborhood, and transaction. It means that the maintenance of Sundanese language in all four domains is still quite strong. In the realm of education and government, the maintenance of Sundanese language is very weak. (2) The interlocutor factor is crucial to the decision of the use of Sundanese language in the realm of communication. In the realm of education, there are non-Sundanese students who still maintain their mother tongue. This condition continues to grow until finally the number of students speaking Sundanese as their mother tongue decrease in number. In the realm of transaction, the interlocutor factor is also crucial. Sundanese is used by Sundanese speakers if the interlocutor is clearly identified as Sundanese. If it is not recognized, the Indonesian language will be used. Younger speakers also use Indonesian more when dealing with officials in government offices, including village head offices, some of whom are Sundanese and speak one
KALIMAT INVERSI DENGAN SUBJEK KOMPLEKS DALAM BAHASA INDONESIA RAGAM JURNALISTIK Wagiati, NFN; Zein, Duddy
SUAR BETANG Vol 13, No 1 (2018): Suar Bétang, Vol.13, No.1, Edisi Juni, 2018
Publisher : Balai Bahasa Kalimantan Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/surbet.v13i1.70

Abstract

Penelitian ini berjudul “Kalimat Inversi dengan Subjek Kompleks dalam Bahasa Indonesia Ragam Jurnalistik”.  Tujuan penelitian ini adalah (1) mengkaji konstruksi predikat dan konstruksi subjek pada kalimat inversi dengan subjek kompleks dan (2) mengkaji perubahan struktur dari predikat-subjek menjadi subjek-predikat pada kalimat inversi dengan subjek kompleks. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam bahasa Indonesia ragam jurnalistik banyak ditemukan kalimat inversi dengan subjek kompleks. Bentuk verba yang menjadi predikat pada umumnya berupa verba pasif berawalan {ter-} atau {di-}. Konstituen pengisi predikatnya ada yang berupa kata, yakni verba saja, dan ada pula yang berupa verba + adverbia dan membentuk frasa verbal. Subjek kompleks berdasarkan konstruksinya dapat berupa frasa dan dapat pula berupa klausa. Perubahan struktur dari predikat-subjek menjadi subjek-predikat pada kalimat inversi dengan subjek kompleks pada umumnya bergantung pada konstituen pengisi predikat. Jika predikat berupa verba saja, pembalikan struktur dari predikat-subjek menjadi subjek-predikat akan menghasilkan kalimat yang kurang lazim. Namun, jika predikat berupa verba + adverbia sehingga membentuk frasa verbal, pembalikan struktur dari predikat-subjek menjadi subjek-predikat akan menghasilkan kalimat yang lazim(Inversion Sentences with Complex Subject in Indonesian Language of Journalistic Variety)This research titled “Inversion Sentences with Complex Subjects in Journalistic Style-Indonesian Language.” The purposes of this study are (1) to study the construction of predicate and subject construction in inversion sentences with a complex subject, and (2) to study the change of structure of predicate-subject to subject-predicate in inversion sentence with a complex subject. The result of the research shows that sentences inversion with the complex subject is found frequently used in Journalistic Style-Indonesian Language. The form of verbs that become the predicate is generally a passive verb which beginning with {ter-} or {di-}. The constituents of predicate filler are found in the form of a word, which is verb only and also found in the form of verb + adverbs which forms verbal phrases. The complex subject based on the construction can be whether a phrase or a clause. The structural changes from predicate-subject to subject-predicate in inversion sentences with complex subjects generally depend on the constituents of predicate filler. If the predicate is only a verb, the reversal of the structure from predicate- subject to subject-predicate will form less common sentences. However, if the predicate form is verb + adverbial and creates a verbal phrase, the reversal of the structure from subject-predicate to subject-predicate will form a common sentence
REPRESENTASI HAK PEREMPUAN ATAS KEHAMILAN TIDAK DIRENCANAKAN DALAM AKUN INSTAGRAM @PERKUMPULAN.SAMSARA Ghazala, Abida; Wahyudin, Uud; Zein, Duddy
Jurnal Publisitas Vol 6 No 1 (2019): Oktober
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM), Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (STISIPOL) Candradimuka Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (420.738 KB) | DOI: 10.37858/publisitas.v6i1.19

Abstract

The objectives of this research are: (1) to find out the denotative meaning on the digital poster titled #PerempuanPunyaPilihan which uploaded by the Instagram account of @perkumpulan.samsara, (2) to find out the connotative meaning on the digital poster titled #PerempuanPunyaPilihan which uploaded by the Instagram account of @perumpulan.samsara, and (3) find out the myth on the digital poster titled #PerempuanPunyaPilihan which uploaded by the Instagram account of @perkumpulan.samsara. The results of this research found that the denotation meaning of digital poster titled #PerempuanPunyaPilihan which was uploaded by the Instagram account of @perkumpulan.samsara contained the issue of unplanned pregnancies, how to overcome them, and the viewpoint caused regarding reproductive health rights especially for women. The connotations meaning expressed in the Instagram account of @perkumpulan.samsara is a form of Samsara's support for any women's choice for their reproductive health rights. The myths in @perkumpulan.samsara’s uploaded digital poster are the need for insight into reproductive health and equality of women's rights in Indonesia as well as removing the negative stigmas about unplanned pregnancy.
PERILAKU KOMUNIKASI DAN MAKNA SAMAWA PADA PASANGAN MENIKAH MELALUI TA’ARUF Kholistiani Puspadina Hapsa; Uud Wahyudin; Duddy Zein
Jurnal Riset Komunikasi Vol 2 No 1 (2019): Februari 2019
Publisher : Asosiasi Pendidikan Tinggi Ilmu Komuniasi (ASPIKOM) Wilayah Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24329/jurkom.v2i1.48

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui motif, pengalaman dan perilaku komunikasi, serta makna sakinah, mawaddah, warahmah pada pasangan yang menikah melalui proses ta’aruf. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat empat hal yang menjadi motif seseorang menikah melalui ta’aruf. (1) Pengaruh lingkungan sekitar, (2) tidak ingin terkena dampak buruk berpacaran, (3) ingin memperoleh kebaikan, (4) ingin mendapatkan keberkahan pernikahan. Sebelum menikah, komunikasi antara laki-laki dan perempuan yang berta’aruf didampingi oleh mediator. Setelah menikah, komunikasi dilakukan untuk menghidupkan suasana dalam rumah tangga serta untuk mengatasi konflik. Sakinah dimaknai sebagai ketenangan yang muncul dari rasa saling percaya, saling mengingatkan, saat berkumpul dengan keluarga dan kondisi dimana keimanan meningkat. Mawaddah diartikan sebagai bentuk pembuktian, usaha memberikan yang terbaik, perasaan yang hanya diberikan untuk Allah, pengorbanan, serta kebersamaan. Sedangkan warahmah dimaknai sebagai upaya menjauhkan keluarga dari neraka, bentuk perhatian, rasa nyaman, serta mau menerima apa adanya.
PEMERTAHANAN BAHASA SUNDA SEBAGAI ALAT KOMUNIKASI OLEH PENUTUR SUNDA DI KOMPLEKS PERUMAHAN DI KABUPATEN BANDUNG NFN Wagiati; Duddy Zein
SUAR BETANG Vol 12, No 1 (2017): Juni 2017
Publisher : Balai Bahasa Kalimantan Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/surbet.v12i1.14

Abstract

This study describes the maintenance of the Sundanese language as a means of communication by speakers living in residences in Bandung Regency. The method used is qualitative method with descriptive data analysis. The analysis is divided into six domains of communication, namely kinship, neighborhood, intimacy, education, transaction, and government. The result of the research shows that (1) Sundanese is often used by Sundanese speakers in residential complex in Bandung in four communication domains, namely kinship, intimacy, neighborhood, and transaction. It means that the maintenance of Sundanese language in all four domains is still quite strong. In the realm of education and government, the maintenance of Sundanese language is very weak. (2) The interlocutor factor is crucial to the decision of the use of Sundanese language in the realm of communication. In the realm of education, there are non-Sundanese students who still maintain their mother tongue. This condition continues to grow until finally the number of students speaking Sundanese as their mother tongue decrease in number. In the realm of transaction, the interlocutor factor is also crucial. Sundanese is used by Sundanese speakers if the interlocutor is clearly identified as Sundanese. If it is not recognized, the Indonesian language will be used. Younger speakers also use Indonesian more when dealing with officials in government offices, including village head offices, some of whom are Sundanese and speak one
KALIMAT INVERSI DENGAN SUBJEK KOMPLEKS DALAM BAHASA INDONESIA RAGAM JURNALISTIK NFN Wagiati; Duddy Zein
SUAR BETANG Vol 13, No 1 (2018): Juni 2018
Publisher : Balai Bahasa Kalimantan Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/surbet.v13i1.70

Abstract

Penelitian ini berjudul “Kalimat Inversi dengan Subjek Kompleks dalam Bahasa Indonesia Ragam Jurnalistik”.  Tujuan penelitian ini adalah (1) mengkaji konstruksi predikat dan konstruksi subjek pada kalimat inversi dengan subjek kompleks dan (2) mengkaji perubahan struktur dari predikat-subjek menjadi subjek-predikat pada kalimat inversi dengan subjek kompleks. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam bahasa Indonesia ragam jurnalistik banyak ditemukan kalimat inversi dengan subjek kompleks. Bentuk verba yang menjadi predikat pada umumnya berupa verba pasif berawalan {ter-} atau {di-}. Konstituen pengisi predikatnya ada yang berupa kata, yakni verba saja, dan ada pula yang berupa verba + adverbia dan membentuk frasa verbal. Subjek kompleks berdasarkan konstruksinya dapat berupa frasa dan dapat pula berupa klausa. Perubahan struktur dari predikat-subjek menjadi subjek-predikat pada kalimat inversi dengan subjek kompleks pada umumnya bergantung pada konstituen pengisi predikat. Jika predikat berupa verba saja, pembalikan struktur dari predikat-subjek menjadi subjek-predikat akan menghasilkan kalimat yang kurang lazim. Namun, jika predikat berupa verba + adverbia sehingga membentuk frasa verbal, pembalikan struktur dari predikat-subjek menjadi subjek-predikat akan menghasilkan kalimat yang lazim(Inversion Sentences with Complex Subject in Indonesian Language of Journalistic Variety)This research titled “Inversion Sentences with Complex Subjects in Journalistic Style-Indonesian Language.” The purposes of this study are (1) to study the construction of predicate and subject construction in inversion sentences with a complex subject, and (2) to study the change of structure of predicate-subject to subject-predicate in inversion sentence with a complex subject. The result of the research shows that sentences inversion with the complex subject is found frequently used in Journalistic Style-Indonesian Language. The form of verbs that become the predicate is generally a passive verb which beginning with {ter-} or {di-}. The constituents of predicate filler are found in the form of a word, which is verb only and also found in the form of verb + adverbs which forms verbal phrases. The complex subject based on the construction can be whether a phrase or a clause. The structural changes from predicate-subject to subject-predicate in inversion sentences with complex subjects generally depend on the constituents of predicate filler. If the predicate is only a verb, the reversal of the structure from predicate- subject to subject-predicate will form less common sentences. However, if the predicate form is verb + adverbial and creates a verbal phrase, the reversal of the structure from subject-predicate to subject-predicate will form a common sentence
EVALUASI MODEL KOMUNIKASI PEMASARAN KOPERASI DALAM UPAYA PENGUATAN KELEMBAGAAN EKONOMI MASYARAKAT Studi Kasus Pengembangan Model Komunikasi Pemasaran Koperasi Petani Cabai di Kabupaten Garut Provinsi Jawa Barat Ilham Gemiharto; Duddy Zein; Kismiyati El Karimah
Manajemen Komunikasi Vol 1, No 1 (2016): Jurnal Manajemen Komunikasi Vol. 1 No.1 Otober 2016
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (825.705 KB) | DOI: 10.24198/jmk.v1i1.10062

Abstract

Tulisan ini membahas hasil penelitian mengenai pengembangan model komunikasi pemasaran bagi koperasi sebagai upaya penguatan kelembagaan ekonomi masyarakat dengan mengambil studi kasus pengembangan model komunikasi pemasaran koperasi petani cabai di Kabupaten Garut Provinsi Jawa Barat. Tulisan ini bertujuan untuk menunjukkan bagaimana evaluasi model komunikasi pemasaran yang dilakukan terhadap lembaga ekonomi masyarakat seperti koperasi dapat memberikan solusi alternatif yang lebih baik dalam upaya penguatan kelembagaan ekonomi masyarakat.Sektor pemasaran bagi lembaga koperasi yang memiliki usaha produksi dalam bidang pertanian merupakan  sektor yang vital untuk dapat terus berkembang. Dari hasil evaluasi yang dilakukan ditemukan beberapa faktor yang menyebabkan tertinggalnya badan usaha koperasi dibandingkan perusahaan lainnya jika dilihat dari aspek pemasarannya. Diantaranya adalah biaya pengolahan bahan baku yang relatif tinggi sedangkan harga penjualan rendah, kualitas barang produksi yang dihasilkan masih rendah, barang hasil produksi kurang dikenal pasar karena kurangnya promosi,  rendahnya pemahaman pengurus koperasi dalam informasi pasar,  belum menerapkan teknik pemasaran yang efektif, dan daerah pemasarannya masih bersifat lokal dan belum mampu bersaing di pasar regional atau nasional.Penelitian ini mencoba mengevaluasi model komunikasi pemasaran yang selama ini dijalankan oleh koperasi sebagai suatu lembaga ekonomi masyarakat.  Dengan mengambil studi kasus dari koperasi petani cabai di Kabupaten Garut, melalui penelitian ini dikembangkan suatu model komunikasi pemasaran yang lebih memadai bagi koperasi yang bergerak dalam usaha produksi pertanian dan mengandalkan kemajuan usahanya dalam bidang pemasaran hasil produksi.Kata kunci: komunikasi pemasaran, model komunikasi pemasaran, koperasi produksi, penguatan lembaga ekonomi, Kabupaten Garut.     
BAHASA GAUL KAUM MUDA SEBAGAI KREATIVITAS LINGUISTIS PENUTURNYA PADA MEDIA SOSIAL DI ERA TEKNOLOGI KOMUNIKASI DAN INFORMASI Duddy Zein; Wagiati Wagiati
Jurnal Sosioteknologi Vol. 17 No. 2 (2018)
Publisher : Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/sostek.itbj.2018.17.2.6

Abstract

Salah satu praktik berbahasa yang menjadi dampak perkembangan teknologi komunikasi dan informasi adalah munculnya kreativitas linguistis, khususnya di kalangan kaum muda. Kreativitas linguistis pada praktiknya telah menimbulkan adanya divergensi bahasa sehingga menimbulkan disparitas komunikasi antara kaum muda dengan kaum tua di tengah masyarakat. Tulisan ini mengangkat tiga hal utama, yaitu (1) bagaimanakah gejala lingual di kalangan kaum muda yang disebut sebagai bahasa gaul, (2) bagaimana bentuk-bentuk kreativitas linguistis di kalangan kaum muda, dan (3) faktor apa saja yang mendorong terjadinya proses kreativitas linguistis. Penelitian ini menggunakan pendekatan sosiolinguistik . Data penelitian diambil dari jejaring media sosial twitter pada tahun 2018. Hasil kajian memperlihatkan beberapa hal yaitu, (1) bahasa gaul di kalangan kaum muda pada dasarnya dipahami sebagai subragam informal bahasa Indonesia; (2) bahasa gaul di kalangan kaum muda memiliki identitas leksikal yang menjadi ciri utamanya, yaitu adanya reduksionisme, penyingkatan kata, dan akronimisasi; (3) faktor yang melatarbelakangi munculnya kreativitas linguistis di kalangan kaum muda, yaitu efisiensi berbahasa, sosialpsikologis, anutan berbahasa, kemajuan teknologi, dan keinginan untuk menciptakan varian (bahasa Indonesia) baru.
PEMERTAHANAN BAHASA SUNDA DALAM UPACARA PERNIKAHAN TRADISIONAL DI KABUPATEN BANDUNG Wagiati Wagiati; Duddy Zein
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 3 No. 2 (2018)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v3i2.1031

Abstract

The aim of this research is to explain the methods for maintaining the use of Sundanese language in the Sundanese Traditional Wedding Ceremony in Bandung Regency and to describe the factors that influence them. The method used in this reasearch was a descriptive-qualitative method. The data sources were the Sundanese traditional wedding ceremony in Kabupaten Bandung. The results show that the methods for maintaining the use of Sundanese language in the Sundanese traditional wedding Ceremony in Kabupaten Bandung include the traditional welcoming ceremony for bride and groom by lengser, saweran, ngaleupaskeun japati, door opening, and sungkem. The factors that influence the insistence of maintaining the usage of Sundanese language in the Sundanese Traditional Wedding Ceremony are to preserve the cultural identity and the cultural background of the bride and groom’s family.  AbstrakTujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan bentuk-bentuk pemertahanan bahasa Sunda dalam upacara pernikahan adat Sunda di Kabupaten Bandung dan menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Metode yang digunakan adalah metode kualitatifdeskriptif. Sumber datanya adalah upacara pernikahan adat Sunda di Kabupaten Bandung. Berdasarkan data tersebut dilakukan analisis terhadapnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk pemertahanan bahasa Sunda pada upacara pernikahan adat Sunda di Kabupaten Bandung, Jawa Barat meliputi bentuk penjemputan oleh lengser, saweran inti, ngaleupaskeun japati, buka pintu, dan sungkem. Faktor yang menyebabkan terjadinya pemertahanan bahasa Sunda pada upacara pernikahan adat Sunda adalah mempertahankan identitas kultural dan latar belakang kultural keluarga yang melangsungkan upacara pernikahan tersebut.