Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

Sosial Ekonomi Keluarga dengan Balita Stunting di Depok Jansen, Susiana; Ardhiyanti, Lusyta Puri; Setiyawati, Marina Ery
Jurnal Keperawatan Widya Gantari Indonesia Vol 9 No 2 (2025): JURNAL KEPERAWATAN WIDYA GANTARI INDONESIA (JKWGI)
Publisher : Nursing Department, Faculty of Health, Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Stunting merupakan ancaman utama terhadap kualitas manusia Indonesia, juga ancaman terhadap kemampuan daya saing bangsa. Stunting yang merupakan masalah kurang gizi kronis ini disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama, sehingga mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak. Anak yang mengalami gizi kronis ditandai dengan tinggi badan yang lebih rendah atau pendek (kerdil) dari standar usianya. Indonesia menempati urutan kedua di Asia Tenggara dan keempat dunia dengan beban anak yang mengalami stunting. Tujuan penelitian ini adalah Di ketahuinya hubungan sosial ekonomi dengan kejadian stunting pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Tugu. Penelitian ini dilaksanakan Di Wilayah Kerja Puskesmas Tugu mulai tanggal 8 november sampai dengan 8 november 2023. Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 49 responden yaitu orang tua balita yang mengalami stunting. Hubungan pendidikan ibu dengan kejadian stunting. Berdasarkan nilai hasil uji Chi-Square maka diketahui bahwa nilai p = 0.003 dimana p <α 0.05. Maka disimpulkan bahwa terdapat hubungan Pendidikan ibu dengan Tinggi badan balita usia 2-5 tahun Hubungan penghasilan orang tua dengan kejadian stunting. Hubungan penghasilan dan kejadian stunting, Berdasarkan nilai hasil uji Chi-Square maka diketahui bahwa nilai p = 0.024 dimana p <α 0.05. maka disimpulkan bahwa terdapat hubungan Penghasilan orang tua dengan Tinggi badan balita usia 2-5 tahun. Kesimpulan meningkatnya pendapatan akan meningkatkan peluang untuk membeli pangan dengan kualitas dan kuantitas yang lebih baik, sebaliknya penurunan pendapatan akan menyebabkan menurunnya daya beli pangan yang baik secara kualitas maupun kuantitas. Kurangnya pengetahuan ibu tentang gizi berakibat pada rendahnya anggaran untuk belanja pangan dan mutu serta keanekaragaman makanan yang kurang. Keluarga lebih banyak membeli barang karena pengaruh kebiasaan, iklan, dan lingkungan. Selain itu, gangguan gizi juga disebabkan karena kurangnya kemampuan ibu menerapkan informasi tentang gizi dalam kehidupan sehari-hari.Apabila penghasilan keluarga meningkat, penyediaan lauk pauk akan meningkat mutunya. Sebaliknya, penghasilan yang rendah menyebabkan daya beli yang rendah pula, sehingga tidak mampu membeli pangan dalam jumlah yang diperlukan.
Hubungan Kematangan Emosi dengan Gejala Psikosomatis pada Santri yang Tinggal di Pondok Pesantren Cendekia Amanah, Depok, Jawa Barat Ardhiyanti, Lusyta Puri
Hamalatul Qur'an : Jurnal Ilmu Ilmu Alqur'an Vol. 4 No. 2 (2023): December 2023
Publisher : Pondok Pesantren Hamalatul Qur'an Jogoroto Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37985/hq.v4i2.63

Abstract

The phenomenon of psychosomatic tendencies is also experienced by adolescents, where adolescence is considered a period of "storm and stress"—a period during which emotional tension increases due to physical and glandular changes (Hurlock, 1980: 212). The aim of this research is to determine the relationship between emotional maturity and psychosomatic symptoms in students residing at the Cendekia Amanah Islamic boarding school in Depok, West Java. This research adopts a correlational quantitative approach, employing data collection techniques through the Emotional Maturity Scale and Psychosomatic Tendency Scale.The research subjects include 86 students selected from the total of 430 students at the Cendekia Amanah Islamic Boarding School in Depok, West Java, utilizing the simple random sampling method for data collection. Product moment analysis, with a significance level of 0.05, is employed as the data analysis technique. The research findings indicate a significant relationship between emotional maturity and psychosomatic tendencies among students in Islamic boarding schools at the Cendekia Amanah Islamic Boarding School, Depok, West Java, with a significance value of 0.001 < 0.05. In the correlation table, the correlation coefficient value is -0.343, signifying that higher emotional maturity corresponds to lower psychosomatic symptoms. Conversely, lower emotional maturity is associated with higher psychosomatic symptoms.
PENINGKATAN PENGETAHUAN MENGENAI KESEHATAN REPRODUKSI DI DEPOK Hanifah, Laily; Apriningsih, Apriningsih; Ardhiyanti, Lusyta Puri; Ismail, Rita; Purbasari, Ayu Anggraeni Dyah; Angraeni, Fitri
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 9, No 6 (2025): Desember
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v9i6.35623

Abstract

Abstrak: Masa remaja merupakan periode transisi yang ditandai dengan perubahan fisik, psikologis, dan sosial, sehingga remaja membutuhkan pemahaman yang baik mengenai kesehatan reproduksi. Namun, masih banyak remaja dan ibu kader yang memiliki pengetahuan terbatas terkait isu kesehatan reproduksi. Oleh karena itu, kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan remaja dan ibu kader mengenai kesehatan reproduksi. Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilakukan pada kelompok remaja dan kader di Kecamatan Cilodong, dengan total 18 responden sebagai peserta. Metode edukasi yang digunakan adalah ceramah dengan penyampaian materi interaktif. Evaluasi dilakukan menggunakan pre-test dan post-test yang terdiri dari 10 soal, kemudian dianalisis dengan uji Wilcoxon. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rata-rata pre-test adalah 5,72 dan meningkat menjadi 9,78 pada post-test dengan nilai p=0,000 (p<0,05). Terdapat peningkatan pengetahuan sebesar 71% setelah diberikan edukasi. Dengan demikian, kegiatan ini efektif dalam meningkatkan pengetahuan remaja dan ibu kader mengenai kesehatan reproduksi.Abstract: Adolescence is a transitional period marked by physical, psychological, and social changes, during which adequate understanding of reproductive health is essential. However, many adolescents and community health cadres still have limited knowledge regarding reproductive health issues. Therefore, this community service activity aimed to improve the knowledge of adolescents and health cadres about reproductive health. This community service activity was carried out among youth groups and cadres in Cilodong Subdistrict, with a total of 18 respondents participating. The educational method applied was a lecture with interactive material delivery. Evaluation was conducted using pre-test and post-test questionnaires consisting of 10 questions, and data were analyzed using the Wilcoxon test. The results showed that the average pre-test score was 5.72, which increased to 9.78 in the post-test with a p-value of 0.000 (p<0.05). There was a 71% improvement in knowledge after the educational intervention. Thus, this activity was effective in enhancing the knowledge of adolescents and health cadres regarding reproductive health.
PELATIHAN KADER DAN KARANG TARUNA DALAM MENGOLAH MPASI PENCEGAH STUNTING BERBAHAN DASAR DAUN KELOR (MORINGA OLEIFERA) MENJADI OLAHAN PUDING Ardhiyanti, Lusyta Puri; Setiyawati, Marina Ery; Angraeni, Fitri
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 9, No 6 (2025): Desember
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v9i6.35361

Abstract

Abstrak: Stunting masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang menghambat pertumbuhan dan perkembangan anak-anak serta kualitas sumber daya manusia di masa depan. Intervensi pencegahan dapat dilakukan melalui pendidikan gizi dengan memanfaatkan makanan lokal yang tersedia, seperti daun kelor (Moringa oleifera), yang kaya akan nutrisi penting. Pemilihan daun kelor didasarkan pada kandungan gizinya yang tinggi dan sebanding dengan sumber pangan bergizi lainnya, namun relatif mudah diperoleh, berbiaya rendah, serta dapat ditanam di berbagai kondisi lingkungan. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman terkait manfaat daun kelor dalam pencegahan stunting, sekaligus memperkenalkan produk olahan, termasuk puding daun kelor, sebagai alternatif makanan pendamping ASI (MPASI). Metode edukasi yang digunakan adalah ceramah dengan penyampaian materi interaktif, yang melibatkan 11 peserta yang terdiri atas tokoh masyarakat, pemuda karang taruna, dan kader kesehatan. Evaluasi dilakukan dengan menggunakan kuesioner pre-test dan post-test. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman peserta sebesar 24,4% mengenai manfaat daun kelor dalam pencegahan stunting. Sebagai langkah keberlanjutan, kegiatan ditutup dengan penanaman pohon kelor di kantor kecamatan dan lingkungan RW. Upaya ini diharapkan mampu mendukung kemandirian masyarakat dalam memperoleh bahan baku lokal untuk diolah menjadi berbagai variasi makanan pendamping ASI (MPASI) berbahan dasar kelor. Dengan demikian, keluarga yang memiliki balita dapat secara berkelanjutan memanfaatkan kelor sebagai sumber gizi tambahan dalam upaya pencegahan stunting di lingkungannya.Abstract: Stunting remains a public health problem that hinders the growth and development of children and the quality of human resources in the future. Preventive interventions can be carried out through nutrition education by utilizing locally available foods, such as moringa leaves (Moringa oleifera), which are rich in essential nutrients. Moringa oleifera were chosen because they are highly nutritious and comparable to other nutritious food sources, yet relatively easy to obtain, inexpensive, and can be grown in a variety of environmental conditions. This community service activity aims to increase understanding of the benefits of moringa leaves in preventing stunting, while also introducing processed products, including moringa leaf pudding, as an alternative complementary food to breast milk (MPASI). The educational method used was a lecture with interactive material delivery, involving 11 participants consisting of community leaders, Karang Taruna youth, and health workers. Evaluation was conducted using pre-test and post-test questionnaires.The results of the activity showed a 24.4% increase in participants' understanding of the benefits of moringa leaves in preventing stunting. As a sustainable measure, the activity concluded with the planting of moringa trees at the sub-district office and in the neighborhood. This effort is expected to support the community's independence in obtaining local raw materials to be processed into various types of moringa-based complementary foods for infants. Thus, families with toddlers can continuously utilize moringa as an additional source of nutrition in their efforts to prevent stunting in their neighborhood.
PENGUATAN PERAN KOMUNITAS MELALUI FISOTERAPI DENGAN PENDEKATAN TERAPI KELOMPOK BERSAMA ANAK DENGAN DOWN SYNDROME Oktarina, Mona; Sirada, Andy; Ardhiyanti, Lusyta Puri; Jansen, Susiana; Agathy, Ghyffara; Kadaristiana, Agustina
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 10, No 1 (2026): Februari
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v10i1.36861

Abstract

Abstrak: Down Syndrome (DS) adalah kondisi genetik yang disebabkan oleh salinan ekstra kromosom 21, yang memengaruhi perkembangan fisik, kognitif, dan sosial anak. Di Indonesia, anak-anak dengan DS menghadapi tantangan seperti stigma sosial dan kurangnya pemahaman orang tua mengenai stimulasi yang tepat, yang berdampak pada kualitas hidup mereka. Program pengabdian masyarakat ini bertujuan meningkatkan perkembangan motorik, sensorik, dan sosial-emosional anak usia 2–6 tahun dengan DS, sekaligus memberdayakan orang tua dan komunitas melalui terapi kelompok yang dipandu oleh fisioterapis anak. Program dilaksanakan bekerja sama dengan Persatuan Orang Tua Anak dengan Down Syndrome (POTADS) dari September hingga November sejumlah 25 anak DS beserta pendamping, dengan dua sesi bulanan. Setiap sesi selama 60 menit mencakup pemanasan, aktivitas motorik dan sensorik terstruktur, bonding orang tua-anak, dan permainan kelompok. Evaluasi dilakukan melalui observasi langsung dan pre-test/post-test pada orang tua. Hasil menunjukkan peningkatan pemahaman orang tua secara signifikan, dengan skor rata-rata pre-test 85% meningkat menjadi 100% post-test. Observasi anak menunjukkan peningkatan kemampuan motorik kasar, interaksi sosial, dan partisipasi dalam kegiatan kelompok. Program ini efektif membangun lingkungan komunitas yang suportif, mengurangi stigma sosial, dan memperkuat kapasitas orang tua dalam stimulasi di rumah, sehingga mendukung perkembangan dan kualitas hidup anak dengan DS.Abstract: Down Syndrome (DS) is a genetic condition caused by an extra copy of chromosome 21, affecting children’s physical, cognitive, and social development. In Indonesia, children with DS face challenges such as social stigma and limited parental knowledge on appropriate stimulation, which impact their quality of life. This community service program aimed to enhance motor, sensory, and socio-emotional development in children aged 2–6 years with DS, while empowering parents and the community through group therapy led by pediatric physiotherapists. The program was implemented in collaboration with the Association of Parents of Children with Down Syndrome (POTADS) from September to November, with two monthly sessions. Each 60-minute session included warm-up, structured motor and sensory activities, parent-child bonding exercises, and group play. Evaluation was conducted through direct observation and pre-test/post-test assessments of parents. Results showed a significant increase in parental understanding, with average pre-test scores improving from 85% to 100% post-test. Observations indicated improvements in children’s gross motor skills, social interaction, and participation in group activities. The program effectively fostered a supportive community environment, reduced social stigma, and strengthened parental capacity for home-based stimulation, supporting the development and quality of life of children with DS.
Faktor risiko anemia pada remaja putri Andini, Widya; Apriningsih, Apriningsih; Wasir, Riswandy; Ardhiyanti, Lusyta Puri
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 12 (2026): Volume 19 Nomor 12
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i12.2021

Abstract

Background: Anaemia is a significant nutritional issue among adolescent girls, affecting growth, concentration in learning, and future reproductive health. Socioeconomic factors, dietary habits, and food quality significantly influence the prevalence of anemia.  Purpose: To determine the risk factors for anemia among adolescent girls. Method: This research was conducted at State Senior High School 1 Majalaya Karawang using an observational analytical framework. Sample comprised 230 female adolescent students, selected through purposive sampling.  Data was gathered via surveys. The investigation included the chi-square test and Cox regression to identify the primary factors affecting the prevalence of anemia. Results: The research findings indicate that factors significantly correlated with the incidence of anaemia encompass paternal education, maternal education, paternal occupation, maternal occupation, paternal income, maternal income, nutritional literacy, iron supplement consumption, nutritional status, and the quality index of nutritional intake. The primary determinant is the mother's occupation, with an odds ratio of 0.029 (p = 0.000), signifying that employed moms have a reduced chance of getting anaemia relative to their non-working counterparts. Socioeconomic and nutritional behavioral factors significantly influence the prevalence of anemia in teenage females.  Conclusion: Factors contributing to anemia in adolescent girls include father's education, mother's education, father's occupation, mother's occupation, father's income, mother's income, nutritional literacy, iron supplement consumption, nutritional status, and nutritional intake quality index. The main determinant is mother's employment status, indicated by an odds ratio of 0.029 (p = 0.000), meaning that employed mothers have a lower risk of anemia compared to unemployed mothers. These findings underscore the importance of women's economic empowerment and improving family nutritional knowledge as methods to reduce the prevalence of anemia in the community.   Keywords: Anaemia; Adolescent Girls; Nutrition Literacy; Nutritional Status; Quality of Nutrient Intake.   Pendahuluan: Anemia adalah masalah gizi yang signifikan di kalangan remaja putri, memengaruhi pertumbuhan, konsentrasi dalam belajar, dan kesehatan reproduksi di masa depan. Faktor sosial ekonomi, kebiasaan makan, dan kualitas makanan secara signifikan memengaruhi prevalensi anemia. Tujuan: Untuk mengetahui faktor risiko anemia pada remaja putri. Metode: Penelitian ini dilakukan di SMA N 1 Majalaya Karawang dengan menggunakan kerangka analitis observasional. Sampel penelitian terdiri dari 230 siswa remaja perempuan yang dipilih melalui pengambilan sampel, data dikumpulkan melalui survei. Penyelidikan ini mencakup uji chi-kuadrat dan regresi Cox untuk mengidentifikasi faktor utama yang memengaruhi prevalensi anemia. Hasil: Faktor-faktor yang berkorelasi signifikan dengan kejadian anemia meliputi pendidikan ayah, pendidikan ibu, pekerjaan ayah, pekerjaan ibu, pendapatan ayah, pendapatan ibu, literasi gizi, konsumsi suplemen zat besi, status gizi, dan indeks kualitas asupan gizi. Penentu utama adalah pekerjaan ibu, dengan rasio odds 0.029 (p = 0.000), yang menunjukkan bahwa ibu yang bekerja memiliki peluang lebih kecil untuk menderita anemia dibandingkan dengan rekan mereka yang tidak bekerja. Faktor perilaku sosial ekonomi dan gizi secara signifikan memengaruhi prevalensi anemia pada remaja putri. Simpulan: Faktor anemia pada remaja putri meliputi pendidikan ayah, pendidikan ibu, pekerjaan ayah, pekerjaan ibu, pendapatan ayah, pendapatan ibu, literasi gizi, konsumsi suplemen zat besi, status gizi, dan indeks kualitas asupan gizi. Penentu utamanya adalah status pekerjaan ibu, yang ditunjukkan oleh rasio odds sebesar 0.029 (p = 0.000), yang berarti bahwa ibu yang bekerja memiliki risiko anemia lebih rendah dibandingkan dengan ibu yang tidak bekerja. Temuan ini menggarisbawahi pentingnya pemberdayaan ekonomi perempuan dan peningkatan pengetahuan gizi keluarga sebagai metode untuk mengurangi prevalensi anemia dalam masyarakat.   Kata Kunci: Anemia; Literasi Gizi; Mutu Asupan Gizi; Remaja Putri; Status Gizi.