Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Hubungan Kematangan Emosi dengan Gejala Psikosomatis pada Santri yang Tinggal di Pondok Pesantren Cendekia Amanah, Depok, Jawa Barat Ardhiyanti, Lusyta Puri
Hamalatul Qur'an : Jurnal Ilmu Ilmu Alqur'an Vol. 4 No. 2 (2023): December 2023
Publisher : Pondok Pesantren Hamalatul Qur'an Jogoroto Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37985/hq.v4i2.63

Abstract

The phenomenon of psychosomatic tendencies is also experienced by adolescents, where adolescence is considered a period of "storm and stress"—a period during which emotional tension increases due to physical and glandular changes (Hurlock, 1980: 212). The aim of this research is to determine the relationship between emotional maturity and psychosomatic symptoms in students residing at the Cendekia Amanah Islamic boarding school in Depok, West Java. This research adopts a correlational quantitative approach, employing data collection techniques through the Emotional Maturity Scale and Psychosomatic Tendency Scale.The research subjects include 86 students selected from the total of 430 students at the Cendekia Amanah Islamic Boarding School in Depok, West Java, utilizing the simple random sampling method for data collection. Product moment analysis, with a significance level of 0.05, is employed as the data analysis technique. The research findings indicate a significant relationship between emotional maturity and psychosomatic tendencies among students in Islamic boarding schools at the Cendekia Amanah Islamic Boarding School, Depok, West Java, with a significance value of 0.001 < 0.05. In the correlation table, the correlation coefficient value is -0.343, signifying that higher emotional maturity corresponds to lower psychosomatic symptoms. Conversely, lower emotional maturity is associated with higher psychosomatic symptoms.
PENGUATAN PERAN KOMUNITAS MELALUI FISOTERAPI DENGAN PENDEKATAN TERAPI KELOMPOK BERSAMA ANAK DENGAN DOWN SYNDROME Oktarina, Mona; Sirada, Andy; Ardhiyanti, Lusyta Puri; Jansen, Susiana; Agathy, Ghyffara; Kadaristiana, Agustina
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 10, No 1 (2026): Februari
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v10i1.36861

Abstract

Abstrak: Down Syndrome (DS) adalah kondisi genetik yang disebabkan oleh salinan ekstra kromosom 21, yang memengaruhi perkembangan fisik, kognitif, dan sosial anak. Di Indonesia, anak-anak dengan DS menghadapi tantangan seperti stigma sosial dan kurangnya pemahaman orang tua mengenai stimulasi yang tepat, yang berdampak pada kualitas hidup mereka. Program pengabdian masyarakat ini bertujuan meningkatkan perkembangan motorik, sensorik, dan sosial-emosional anak usia 2–6 tahun dengan DS, sekaligus memberdayakan orang tua dan komunitas melalui terapi kelompok yang dipandu oleh fisioterapis anak. Program dilaksanakan bekerja sama dengan Persatuan Orang Tua Anak dengan Down Syndrome (POTADS) dari September hingga November sejumlah 25 anak DS beserta pendamping, dengan dua sesi bulanan. Setiap sesi selama 60 menit mencakup pemanasan, aktivitas motorik dan sensorik terstruktur, bonding orang tua-anak, dan permainan kelompok. Evaluasi dilakukan melalui observasi langsung dan pre-test/post-test pada orang tua. Hasil menunjukkan peningkatan pemahaman orang tua secara signifikan, dengan skor rata-rata pre-test 85% meningkat menjadi 100% post-test. Observasi anak menunjukkan peningkatan kemampuan motorik kasar, interaksi sosial, dan partisipasi dalam kegiatan kelompok. Program ini efektif membangun lingkungan komunitas yang suportif, mengurangi stigma sosial, dan memperkuat kapasitas orang tua dalam stimulasi di rumah, sehingga mendukung perkembangan dan kualitas hidup anak dengan DS.Abstract: Down Syndrome (DS) is a genetic condition caused by an extra copy of chromosome 21, affecting children’s physical, cognitive, and social development. In Indonesia, children with DS face challenges such as social stigma and limited parental knowledge on appropriate stimulation, which impact their quality of life. This community service program aimed to enhance motor, sensory, and socio-emotional development in children aged 2–6 years with DS, while empowering parents and the community through group therapy led by pediatric physiotherapists. The program was implemented in collaboration with the Association of Parents of Children with Down Syndrome (POTADS) from September to November, with two monthly sessions. Each 60-minute session included warm-up, structured motor and sensory activities, parent-child bonding exercises, and group play. Evaluation was conducted through direct observation and pre-test/post-test assessments of parents. Results showed a significant increase in parental understanding, with average pre-test scores improving from 85% to 100% post-test. Observations indicated improvements in children’s gross motor skills, social interaction, and participation in group activities. The program effectively fostered a supportive community environment, reduced social stigma, and strengthened parental capacity for home-based stimulation, supporting the development and quality of life of children with DS.
Faktor risiko anemia pada remaja putri Andini, Widya; Apriningsih, Apriningsih; Wasir, Riswandy; Ardhiyanti, Lusyta Puri
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 12 (2026): Volume 19 Nomor 12
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i12.2021

Abstract

Background: Anaemia is a significant nutritional issue among adolescent girls, affecting growth, concentration in learning, and future reproductive health. Socioeconomic factors, dietary habits, and food quality significantly influence the prevalence of anemia.  Purpose: To determine the risk factors for anemia among adolescent girls. Method: This research was conducted at State Senior High School 1 Majalaya Karawang using an observational analytical framework. Sample comprised 230 female adolescent students, selected through purposive sampling.  Data was gathered via surveys. The investigation included the chi-square test and Cox regression to identify the primary factors affecting the prevalence of anemia. Results: The research findings indicate that factors significantly correlated with the incidence of anaemia encompass paternal education, maternal education, paternal occupation, maternal occupation, paternal income, maternal income, nutritional literacy, iron supplement consumption, nutritional status, and the quality index of nutritional intake. The primary determinant is the mother's occupation, with an odds ratio of 0.029 (p = 0.000), signifying that employed moms have a reduced chance of getting anaemia relative to their non-working counterparts. Socioeconomic and nutritional behavioral factors significantly influence the prevalence of anemia in teenage females.  Conclusion: Factors contributing to anemia in adolescent girls include father's education, mother's education, father's occupation, mother's occupation, father's income, mother's income, nutritional literacy, iron supplement consumption, nutritional status, and nutritional intake quality index. The main determinant is mother's employment status, indicated by an odds ratio of 0.029 (p = 0.000), meaning that employed mothers have a lower risk of anemia compared to unemployed mothers. These findings underscore the importance of women's economic empowerment and improving family nutritional knowledge as methods to reduce the prevalence of anemia in the community.   Keywords: Anaemia; Adolescent Girls; Nutrition Literacy; Nutritional Status; Quality of Nutrient Intake.   Pendahuluan: Anemia adalah masalah gizi yang signifikan di kalangan remaja putri, memengaruhi pertumbuhan, konsentrasi dalam belajar, dan kesehatan reproduksi di masa depan. Faktor sosial ekonomi, kebiasaan makan, dan kualitas makanan secara signifikan memengaruhi prevalensi anemia. Tujuan: Untuk mengetahui faktor risiko anemia pada remaja putri. Metode: Penelitian ini dilakukan di SMA N 1 Majalaya Karawang dengan menggunakan kerangka analitis observasional. Sampel penelitian terdiri dari 230 siswa remaja perempuan yang dipilih melalui pengambilan sampel, data dikumpulkan melalui survei. Penyelidikan ini mencakup uji chi-kuadrat dan regresi Cox untuk mengidentifikasi faktor utama yang memengaruhi prevalensi anemia. Hasil: Faktor-faktor yang berkorelasi signifikan dengan kejadian anemia meliputi pendidikan ayah, pendidikan ibu, pekerjaan ayah, pekerjaan ibu, pendapatan ayah, pendapatan ibu, literasi gizi, konsumsi suplemen zat besi, status gizi, dan indeks kualitas asupan gizi. Penentu utama adalah pekerjaan ibu, dengan rasio odds 0.029 (p = 0.000), yang menunjukkan bahwa ibu yang bekerja memiliki peluang lebih kecil untuk menderita anemia dibandingkan dengan rekan mereka yang tidak bekerja. Faktor perilaku sosial ekonomi dan gizi secara signifikan memengaruhi prevalensi anemia pada remaja putri. Simpulan: Faktor anemia pada remaja putri meliputi pendidikan ayah, pendidikan ibu, pekerjaan ayah, pekerjaan ibu, pendapatan ayah, pendapatan ibu, literasi gizi, konsumsi suplemen zat besi, status gizi, dan indeks kualitas asupan gizi. Penentu utamanya adalah status pekerjaan ibu, yang ditunjukkan oleh rasio odds sebesar 0.029 (p = 0.000), yang berarti bahwa ibu yang bekerja memiliki risiko anemia lebih rendah dibandingkan dengan ibu yang tidak bekerja. Temuan ini menggarisbawahi pentingnya pemberdayaan ekonomi perempuan dan peningkatan pengetahuan gizi keluarga sebagai metode untuk mengurangi prevalensi anemia dalam masyarakat.   Kata Kunci: Anemia; Literasi Gizi; Mutu Asupan Gizi; Remaja Putri; Status Gizi.