Claim Missing Document
Check
Articles

Found 39 Documents
Search

Karakteristik Biodegradable Film Berbasis Selulosa Bungkil Inti Sawit (BIS) dengan Variasi Konsentrasi Plasticizer Gliserol dan Filler Glukomanan Jessica, Dinda Dwi; -, Zulferiyenni; Nurainy, Fibra; Nawansih, Otik
Jurnal Agroindustri Berkelanjutan Vol. 3 No. 2 (2024)
Publisher : Jurusan Teknologi Hasil Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jab.v3i2.9298

Abstract

Biodegradable film berbasis selulosa berpotensi sebagai bioplastik yang dapat terurai oleh mikroorganisme di dalam tanah. Bungkil inti sawit memiliki kandungan selulosa sebesar 23,36%.Penelitian ini bertujuan untukmengetahui pengaruh penambahan gliserol dan glukomanan terhadap karakteristik biodegradable film berbasis selulosa bungkil inti sawit, serta mengetahui pengaruh interaksi antara gliserol dan glukomanan terhadap karakteristik biodegradable film berbasis selulosa bungkil inti sawit. Penelitian inidisusundalamRancanganAcakKelompokLengkap(RAKL)dengan dua faktor dan tiga ulangan. Faktor pertama adalah konsentrasi gliserol dengan kode (G) yang terdiri dari tiga konsentrasi (0%, 0,2% dan 0,4%) (v/v). Faktor kedua adalah konsentrasi glukomanan denngan kode (L) yang terdiri dari tiga konsentrasi (1%, 2% dan 3%) (b/v). Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh yang berbeda terhadap karakteristik biodegradable film berbasis selulosa bungkil inti sawit.Karakteristik biodegradable film menghasilkan nilai kuat tarik dan laju transmisi uap air yang sudah memenuhi standar JIS 1975, dapat terdegradasi selama 3 minggu dan memiliki ketahanan suhu ruang selama 3 minggu. Namun nilai persen pemanjangan dan ketebalan belum memenuhi standar JIS 1975. A cellulose-based biodegradable film has the potential to be used as bioplastic that can decompose by microorganisms in the soil. Palm kernel expeller contains 23.36% cellulose. This research aims to determine the effect of adding glycerol and glucomannan on the characteristics of cellulose-based biodegradable film from palm kernel cake, as well as to understand the interaction effects between glycerol and glucomannan on these characteristics. The study was designed using a Completely Randomized Block Design (CRBD) with two factors and three replications. The first factor is the concentration of glycerol coded (G), which consists of three concentrations (0%, 0.2%, and 0.4%) (v/v). The second factor is the concentration of glucomannan coded (L), which consists of three concentrations (1%, 2%, and 3%) (b/v). The research results showed significant differences in the characteristics of the cellulose-based biodegradable film from palm kernel expeller. The characteristics of the biodegradable film produced tensile strength and water vapor transmission rate values that met the JIS 1975 standard, could degrade within 3 weeks, and maintained room temperature stability for 3 weeks. However, the elongation percentage and thickness values did not meet the JIS 1975 standard. CHARACTERISTICS OF BIODEGRADABLE FILM BASED ON PALM KERNEL CELLULOSE (BIS) WITH VARIED CONCENTRATIONS OF GLYCEROL PLASTICIZER AND GLUCOMANNAN FILLER
PENGARUH KONSENTRASI PATI SAGU (Metroxylon sago Rottb) DAN KITOSAN TERHADAP KARAKTERISTIK BIODEGRADABLE FILM BERBASIS SABUT KELAPA MUDA Wardatul Jannah, Irkhamna Annisa; Zulferiyenni, Zulferiyenni; Hidayati, Sri; Nawansih, Otik
Jurnal Agroindustri Berkelanjutan Vol. 3 No. 2 (2024)
Publisher : Jurusan Teknologi Hasil Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jab.v3i2.9507

Abstract

Biodegradable film berbasis selulosa memiliki potensi dijadikan bioplastik yang mudah terdegradasi di alam yang dibuat dari berbagai bahan terbarukan (renewable sources). Sabut kelapa muda mengandung selulosa sebesar 43,4%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi pati sagu dan kitosan terhadap karakteristik biodegradable fillm dari selulosa sabut kelapa muda, serta mengetahui interaksi konsentrasi pati sagu dan kitosan dengan karakteristik terbaik sesuai SNI 7818 : 2014. Penelitian ini disusun dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan dua faktor dan dua ulangan. Faktor pertama adalah konsentrasi pati sagu dengan kode (P) yang terdiri dari empat konsentrasi (0%, 1,5%, 3% dan 4,5%) (b/v). Faktor kedua adalah konsentrasi kitosan denngan kode (K) yang terdiri dari tiga konsentrasi (0%, 1% dan 2%) (b/v). Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh yang berbeda terhadap karakteristik biodegradable fillm berbasis selulosa sabut kelapa muda. Semua karakteristik, kecuali nilai persen pemanjangan dari biodegradable fillm yang dihasilkan yang sudah memenuhi standar SNI 7818 : 2014, dapat terdegradasi selama 3 minggu dan memiliki ketahanan suhu ruang selama 3 minggu
PENGARUH KONSENTRASI NaOH DAN GLISEROL TERHADAP KARAKTERISTIK BIOPLASTIK BERBASIS SELULOSA DAUN PANDAN WANGI (Pandanus amaryllifolius Roxb.) EFFECT OF NaOH AND GLYCEROL CONCENTRATIONS ON THE CHARACTERISTICS OF CELLULOSE-BASED BIOPLASTICS FROM FRAGRANT PANDAN LEAVES (Pandanus amaryllifolius Roxb.) Islami, Zuyyina Isnaini; -, Zulferiyenni; -, Susilawati; Hidayati, Sri; Utomo, Tanto Pratondo; Nur, Muhammad
Jurnal Agroindustri Berkelanjutan Vol. 3 No. 2 (2024)
Publisher : Jurusan Teknologi Hasil Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jab.v3i2.10073

Abstract

Fragrant pandan leaves have the potential to be used as biodegradable bioplastics that can be broken down by microorganisms in the soil. Fragrant pandan leaves contain a relatively high amount of cellulose, specifically 48.79%. This study aims to determine the effect of NaOH and glycerol concentrations on the characteristics of cellulose-based bioplastics made from fragrant pandan leaves, as well as to investigate the interaction effects between NaOH and glycerol on these bioplastic characteristics. This research arranged by using Design Random Group Complete (RAKL) with two factors and three replications. The first factor is the NaOH concentration, coded as (N), which includes three concentrations (2.5%, 5%, and 7.5%) (b/v). The second factor is the glycerol concentration, coded as (G), with three concentrations (0.5%, 1%, and 1.5%) (b/v). The research results indicate different effects on the characteristics of cellulose-based bioplastics from pandan leaves. All characteristics, except for the percentage elongation value of the produced bioplastics, met JIS 1975 standards, were degradable within 7 days, and had room temperature resistance for 2 weeks.
KARAKTERISTIK KEMASAN BIOPLASTIK BERBASIS DAUN PANDAN (Pandanus amaryllifolius Roxb.) DENGAN PENAMBAHAN TAPIOKA DAN MINYAK SAWIT Julieta, Kensa; Zulferiyenni, Zulferiyenni; Nurainy, Fibra; Hidayati, Sri
Jurnal Agroindustri Berkelanjutan Vol. 4 No. 1 (2025)
Publisher : Jurusan Teknologi Hasil Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jab.v4i1.10840

Abstract

Daun pandan wangi memiliki potensi tinggi untuk digunakan dalam pembuatan bioplastik. Daun pandan mengandung komponen selulosa 30-40% dan lignin 18-22% serta mudah terdegradasi oleh mikroorganisme di dalam tanah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi tapioka dan minyak sawit terhadap karakteristik bioplastik berbasis daun pandan serta mengetahui pengaruh interaksi antara tapioka dan minyak sawit terhadap karakteristik bioplastik berbasis daun pandan wangi. Penelitian ini disusun secara faktorial menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan dua faktor dan tiga ulangan. Faktor pertama adalah konsentrasi tapioka dengan kode (T) yang terdiri dari tiga konsentrasi (1%, 1,5%, dan 2%) (b/v). Faktor kedua adalah konsentrasi minyak sawit dengan kode (M) yang terdiri dari tiga konsentrasi (0%, 0,3% dan 0,6%) (b/v). Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan terdapat pengaruh yang berbeda terhadap karakteristik bioplastik berbasis daun pandan. Semua karakteristik, kecuali nilai persen pemanjangan dari bioplastik yang dihasilkan sudah memenuhi standar JIS 1975, dapat terdegradasi selama 7 hari dan memiliki ketahanan suhu ruang selama 2 minggu.
Pengaruh Penambahan Karagenan dan Minyak Jelantah Terhadap Karakteristik Kemasan Bioplastik Berbasis Selulosa Ampas Kelapa Etika, Delya; Zulferiyenni, Zulferiyenni; Nurainy, Fibra; Hidayati, Sri
Jurnal Agroindustri Berkelanjutan Vol. 4 No. 2 (2025)
Publisher : Jurusan Teknologi Hasil Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jab.v4i2.11227

Abstract

Bioplastik dapat  menggantikan polimer plastik sintetik dan bersifat lebih ramah lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan konsentrasi karagenan dan minyak jelantah terhadap karakteristik bioplastik berbasis selulosa ampas kelapa serta mengetahui pengaruh interaksi antara konsentrasi penambahan karagenan dan minyak jelantah berbasis selulosa ampas kelapa. Penelitian in dilakukan menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) faktorial dengan 2 faktor dan 3 kali ulangan. Faktor pertama adalah, konsentrasi karagenan (K) yang terdiri dari 3 taraf, yaitu 0,6%, 0,8%, 1% (b/v), faktor kedua yaitu konsentrasi minyak jelantah terdiri dari 3 taraf, yaitu 0%, 0,3%, 0,6% (b/v). Penambahan karagenan berpengaruh terhadap nilai kuat tarik, persen pemanjangan, ketebalan, laju transmisi uap air, ketahanan suhu ruang dan biodegradabilitas bioplastik berbahan dasar selulosa ampas kelapa, penambahan minyak jelantah berpengaruh terhadap nilai kuat tarik, persen pemanjangan, ketebalan, laju transmisi uap air bioplastik berbahan dasar selulosa ampas kelapa, interaksi antara karagenan dan minyak jelantah berbasis selulosa ampas kelapa berpengaruh terhadap nilai kuat tarik yaitu sebesar 3,01 MPa, persen pemanjangan sebesar 14,85%, ketebalan 0,20 mm, laju transmisi uap air sebesar 0,30 g/m2/hari ketahanan terhadap suhu ruang selama 3 minggu dan biodegradabitas selama 2 minggu.
KARAKTERISTIK BIODEGRADABLE FILM DARI KOMBINASI BEKATUL BERAS DAN SELULOSA SEKAM PADI Fiqinanti, Ningrum; Zulferiyenni, Zulferiyenni; Susilawati, Susilawati; Nurainy, Fibra
Jurnal Agroindustri Berkelanjutan Vol. 1 No. 2 (2022)
Publisher : Jurusan Teknologi Hasil Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jab.v1i2.6382

Abstract

Plastik biodegradable adalah plastik ramah lingkungan yang dapat dibuat dari pati dan selulosa. Sekam padi mengandung 59,2% selulosa dan bekatul beras mengandung 39,8-48,1% pati. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh bekatul beras dan selulosa sekam padi terhadap karakteristik biodegradable film yang dihasilkan dan untuk mendapatkan perlakuan terbaik sesuai dengan Japanese Industrial Standard (JIS). Penelitian ini disusun dalam RAKL dengan tiga ulangan. Perlakuan dalam penelitian ini adalah P01 (10 g bekatul beras), P02 (10 g selulosa sekam padi), P1 (3 g bekatul beras : 7 g selulosa sekam padi), P2 (4 g bekatul beras : 6 g selulosa sekam padi) , P3 (5 g bekatul beras : 5 g selulosa sekam padi), P4 (6 g bekatul beras : 4 g selulosa sekam padi), P5 (7 g bekatul beras: 3 g selulosa sekam padi). Sekam padi dihaluskan dan disaring kemudian direndam dengan NaOH 2,5% dan dihidrolisis menggunakan H2O2 2%, kemudian dicampur dengan bahan lainnya. Data kuat tarik, persen pemanjangan dan lajutransmisi uap air diuji kesamaan ragamnya dengan uji Bartletts dan kenambahan data diuji dengan uji Tuckey. Data kemudian dilakukan analisis sidik ragam dan diolah lebih lanjut menggunakan uji beda nyata jujur (BNJ) pada taraf 5%. Hasil terbaik diperoleh pada 6 g bekatul beras : 4 g selulosa sekam padi dengan niali kuat tarik 11,505 MPa, persen pemanjangani 28,392%, dan laju transmisi uap air 6,548 g/m2/jam. Film biodegradable terurai 14 hari dengan uji biodegradabilitas
PENYULUHAN PEMBUATAN REMPAH FUNGSIONAL DI TAMAN KANAK-KANAK TASKA, BUKIT KEMILING PERMAI, KECAMATAN KEMILING, BANDAR LAMPUNG Susilawati Susilawati; Zulferiyenni Zulferiyenni; Muhammad Nur; Tanto Pratondo Utomo
Jurnal Pengabdian Fakultas Pertanian Universitas Lampung Vol. 5 No. 1 (2026): Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat FP Unila, Edisi Maret 2026
Publisher : Agriculture Faculty, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jpfp.v5i1.12688

Abstract

Berbagai rempah yang ada di Indonsia telah lama digunakan masyarakat Indonesia sebagai minuman yang diyakini mempunyai beragam khasiat kesehatan.  Salah satu konsumen potensial pengguna minuman fungsional berbahan baku rempah adalah anak-anak usia Taman Kanak-Kanak (TK) karena minuman fungsional rempah dapat menunjang kesehatan pada masa pertumbuhan usia dini.  Berdasarkan hal ini maka Tim Pengabdian pada Masyarakat Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung (Tim PPM THP FP Unila) melakukan pengenalan dan pembiasaan anak usia TK di TK Taska pada siswa-siswi, para guru, dan wali murid sehingga dapat membuat minuman fungsional rempah dan memahami pentingnya minuman fungsional ini agar anak-anak usia TK dapat tumbuh sehat dan optimal.  Berdasarkan hasil kegiatan pengabdian pada masyarakat ini disimpulkan bahwa para responden, yaitu guru dan orang tua murid Taman Kanak-Kanak Tiska, mengerti, memahami, dan dapat membuat minuman rempah fungsional dan mengerti tentang kegunaannya.
PENGARUH KONSENTRASI KITOSAN PADA EDIBLE COATING TERHADAP MASA SIMPAN BUAH PIR (Pyrus bretschneideri Rehd.) TEROLAH MINIMAL Susilawati; Likia Salsa Billa; Zulferiyenni Zulferiyenni; Dewi Sartika
Jurnal Agroindustri Berkelanjutan Vol. 5 No. 1 (2026): Vol. 5 No. 1 Tahun 2026
Publisher : Jurusan Teknologi Hasil Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jab.v5i1.12881

Abstract

After being cut, pears tend to undergo quality degradation and damage such as enzymatic browning, moisture loss, and textural changes. The use of chitosan concentration in edible coating solutions is an innovation that can be applied to minimally processed (fresh-cut) pears to inhibit the rate of such degradation. This study aims to determine the effect of chitosan concentration in edible coatings on the shelf life of minimally processed pears (Pyrus bretschneideri Rehd.) and to identify the optimal chitosan concentration capable of extending their shelf life according to the star method. The research was structured using a non-factorial Completely Randomized Design (CRD) based on different chitosan concentrations. The study consisted of six treatment levels: CK as the control, C1 (polyvinyl alcohol + 0.5% chitosan), C2 (polyvinyl alcohol + 1% chitosan), C3 (polyvinyl alcohol + 1.5% chitosan), C4 (polyvinyl alcohol + 2% chitosan), and C5 (polyvinyl alcohol + 2.5% chitosan), with four replications each. The results showed that the concentration of chitosan in the edible coating solution significantly affected the parameters of moisture content, weight loss, firmness, total soluble solids (TSS), and color. Based on the star method, the chitosan concentration that best maintained the freshness of the pears was treatment C4 (2% chitosan), with the following characteristics: moisture content of 84.60%, weight loss of 1.68%, firmness of 874.60 gf, total soluble solids of 14.35°Brix, and a lightness (L*) value of 70.03. Additionally, the Vitamin C content test for the best treatment (C4) yielded 0.634 mg/g on day 8 of storage.
Changes in Total Phenolic Content Due to Changes in Storage Temperature, Crown Pruning, and Pineapple Fruit Coating Chandra, David; Widodo, Soesiladi Esti; Kamal, Muhammad; Waluyo, Sri; Zulferiyenni, Zulferiyenni; Yosilia, Rani
ORGANISMS: JOURNAL OF BIOSCIENCES Vol. 6 No. 1 (2026): Organisms: Journal of Biosciences
Publisher : Pusat HKI, Paten, dan Publikasi Ilmiah Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/pgm3nt91

Abstract

Phenolic compounds are substrates for the internal browning (IB) reaction in pineapple fruit, and their accumulation increases at high temperatures. However, the effect of temperature changes after prolonged cold storage on total phenolic content (TPC) remains unclear. This study evaluated the effects of storage temperature, crown pruning, and fruit coating on TPC and its correlations with IB incidence and severity, and vitamin C. GP3 and MD2 pineapple clones were arranged in a three-factor randomized block design with storage temperature (7 and 7+16 °C), crown treatment (intact crown and crown pruning), and fruit coating (50 mg L-1 ABA, 1% chitosan, ABA + chitosan, and H2O). The results showed that changing the storage temperature to room temperature for 2 days and pruning the crown at day 30 increased TPC and fruit color darkness. The interaction of changes in storage temperature and crown pruning was the treatment that produced the highest TPC. The application of fruit coating had no significant effect on TPC. The incidence and severity of IB were not affected by TPC, but were negatively correlated to the vitamin C content in pineapple. It is concluded that the presence of high enough vitamin C can suppress IB, even though the TPC content is quite high in pineapple.