Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

PERANCANGAN BOARD GAME SEBAGAI MEDIA BANTU EDUKASI UNTUK ANAK USIA 4-5 TAHUN Sellya Shafariya; Hendy Yuliansyah; Agus Triyadi
Wacadesain Vol 1 No 2 (2020): Jurnal Wacadesain
Publisher : LPPM Universitas Adhirajasa Sanjaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (645.38 KB) | DOI: 10.51977/wacadesain.v1i2.451

Abstract

Kesulitan belajar tetap dimiliki anak-anak meskipun telah didampingi pendidikan formal. Beberapa kesulitan belajar yang dialami anak adalah kurang fasih membaca, menulis angka secara terbalik, kurang konsentrasi dan jenuh. Pada usia 4-6 tahun anak-anak berada pasa masa emas. Pada masa ini perkembangan anak berada dalam kondisi terbaik sehingga anak dengan mudah menyerap informasi. Anak usia 4-6 tahun susunan koneksi sarafnya sudah berfungsi dengan baik sehingga dapat mengkoordinasikan otak dan gerak dengan baik. Pendidikan baik formal maupun non formal seperti TK atau sederajat dibutuhkan untuk membantu perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. TK berfungsi sebagai jembatan untuk memudahkan periode transisi antara masa bayi dan masa kanak-kanak serta mengajarkan budaya dan dunia yang lebih luas. Penelitian dilakukan secara kualitatif deskriptif dengan melakukan wawancara serta observasi pada RA Anak Kreatif. Strategi yang digunakan sebagai media bantu edukasi adalah board game. Komponen yang terdapat pada board game­ dapat disesuaikan dengan pendidikan yang sesuai pada anak usia 4-6 tahun. Diharapkan dengan ada board game sebagai media bantu dapat membantu anak melampaui kesulitan belajar, berkomunikasi dengan baik serta dapat menanamkan pemikiran bahwa belajar itu menyenangkan.
Kajian Struktur Tanda Dalam Film Horor Indonesia: Film Jelangkung Hendy Yuliansyah; Acep Iwan Saidi; Intan Rizky Mutiaz
Prosiding Seminar Nasional Unimus Vol 5 (2022): Inovasi Riset dan Pengabdian Masyarakat Guna Menunjang Pencapaian Sustainable Developm
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Fenomena horor di tanah air, mengukir prestasi dengan larisnya film bergenre horor karya anak bangsa dengan penghargaan yang diraih baik di dalam negeri maupun luar negeri. Revitalisasi konsep horor, membuat Film “Jelangkung” berhasil mengundang 1,5 juta penonton pada tahun 2001. Film “Jelangkung” melakukan perubahan pada aktor dan aktrisnya, pemilihan lokasi syuting, karakter fisik hantu, termasuk tujuan atau motivasi hantu, sekaligus merancang alur cerita yang berbeda, menghadirkan visualisasi yang segar, adanya kebaruan serta cara pandang yang berbeda dalam genre horor film nasional. Dengan patung atau boneka jelangkung sebagai tokoh utama dalam film ini, yang menampilkan beberapa sosok hantu yang berbeda. Kreativitas tidak hanya pada sosok hantu, tetapi juga pemilihan karakter pemain film yang disesuaikan dengan konsep remaja, yang harus berhubungan dengan dunia hantu. Namun bagaimanakah dengan desain scene yang menampilkan kekuatan Film “Jelangkung.” Kekuatan sekaliguskebaruan, antara remaja dengan tema horor yang secara tidak langsung mengubah kebiasaan masyarakat tentang horor yang menciptakan wawasan baru tentang hubungan antara pemain dengan hantu. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif, melalui kajian Teori Semiotika - Roland Barthe, penelitian ini bermaksud untuk mengungkap desain visual yang terdapat pada scene terpilih, dengan mempertimbangkan adanya makna yang khusus atau inti tentang horor dalam perspektif masyarakat,yang dijelaskan melalui pengertian signifikansi, denotasi-konotasi, dan pengungkapan mitos terhadap visual-visual film.Kata Kunci : film, horor, scene, semiotik, tanda.
STASIUN CIPEUNDEUY KABUPATEN GARUT DALAM PERSPEKTIF VIDEO AERIAL Perdana, Bayu Bambang; Yuliansyah, Hendy; Adityawan, Oki; Valentino, Dion Eko
Wacadesain Vol 5 No 1 (2024): Jurnal Wacadesain
Publisher : LPPM Universitas Adhirajasa Sanjaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51977/wacadesain.v5i1.1649

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis Stasiun Cipeundeuy dari perspektif video udara atau aerial video dengan menggunakan drone sebagai media penangkap video yang dikaitkan dalam konteks geografi, arsitektur dan interaksi sosial. Metode penelitian yang digunakan adalah metodologi penelitian kualitatif deskriptif, dengan fokus pada pengamatan langsung dan wawancara dengan pihak terkait, serta analisis konten visual dari rekaman video udara. Data-data yang terkumpul akan dianalisis menggunakan pendekatan deskriptif dan interpretatif untuk memahami karakteristik fisik stasiun, pola pergerakan, serta dinamika interaksi sosial yang terjadi di sekitar stasiun Cipeundeuy dengan output akhir adalah penayangan pada media streaming Youtube. Temuan pada penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang peran penting Stasiun Cipeundeuy dalam aspek keselamatan perjalanan kereta api dan aktifitas sosial dalam konteks lokalnya, serta potensi pemanfaatan teknologi video udara dengan menggunakan drone aerial.
Mengungkap Identitas Sosial Iklan Komersial Bank Panin Dan Iklan Religius Dompet Dhuafa Yuliansyah, Hendy
PANTUN: Jurnal Ilmiah Seni Budaya Vol 1, No 1 (2016): Pra Modern, Modern, Post Modern
Publisher : Pascasarjana ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (529.475 KB) | DOI: 10.26742/pantun.v1i1.743

Abstract

Advertising as it faces a state of society, can be understood as an easy way to get to know in brief social identity. With a variety of a!ributes imposed in an ad, then the level of maturity, life style as well as the vision of a society can be portrayed. Commercial advertising Panin Bank offers ease in all types of banking transactions, which raises the need for new base. While advertisement designed by DompetDhuafa offers the easy way how to do the belief in Islam, and this is the ultimate key of all religious advertising of Dompet Dhuafa. So that the vision in all advertisement of Dompet Dhuafa is how to increase awareness of Moslem in Islamic teaching with zakat or shadaqah.Keywords: advertise, commercial, religious
Revealing the Visual Structure of the 1981 and 2019 Versions of Ratu Ilmu Hitam Film Posters yuliansyah, hendy
PANTUN: Jurnal Ilmiah Seni Budaya Vol 9, No 1 (2024): Interdisciplinary Explorations in Cultural Expression: From Traditional Arts to
Publisher : Pascasarjana ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/pantun.v9i1.3316

Abstract

The horror film Queen of Black Magic, which is a remake of the film with the same title, was released in 1981 and 2019. This film was released with the same title, but with different characters. The 1981 version features Suzzanna as the horror queen as the main character, while the 2019 version does not feature Suzzanna and the main character is not famous. This film with the title black magic has become an iconic film, because it emphasizes the word science for horror stories. The word black, which is synonymous with magic, is juxtaposed with the word science, thus forming a paradoxical word relationship. The queen is a figure and incarnation of a ghost, which directly places the ghost in a noble and respected position. The posters for the two films have different designs because of the strength of the ideas, social and cultural atmosphere that exist in the two posters with the large distance between the years of release. This research aims to determine the differences in design concepts between two film poster designs. This analysis is based on Levi Strausss version of structuralism theory which reveals that the 1981 version of the Queen of Black Magic poster emphasizes the importance of Suzzanna as a figure or queen of horror who attracts public attention, while the 2019 version of the Queen of Black Magic poster emphasizes the exploration of the formation of visual elements that lead to the meaning of black magic.
Simbol Diskursif dan Presentasional dalam Iklan “Indonesia Milik Siapa ?” Hendy Yuliansyah
PANGGUNG Vol 28 No 2 (2018): Dinamika Keilmuan Seni Budaya dalam Inovasi Bentuk dan Fungsi
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v28i2.541

Abstract

ABSTRACTDifferent perspectives can be used to criticize an art as an object into a focus of discussion. When combining art objects used in the advertisement, there is a dualism in values and paradigms, where visualization of ads show the authenticity of the form and its influence on advertising messages. Advertising as a media for communication is already known to the public, and it can be addressed through another viewpoint. The commercial or community services as well as an advertising management facilitate the public receipts of advertising messages into a specific discussion about the ads. In this research, an advertisement for “Indonesia Milik Siapa?” uses discursive and representational symbols. By paying attention to the influence of advertising in the message as well as its visualization, the study of differences between discursive and presentational symbols enriches the art communication existing in this ad. By using a descriptive qualitative research method, and analyzing its advertising messages, the ads designed by Dompet Dhuafa uses presentational symbols with particular visual and communicative messages.Keywords: design, discursive, advertisements, presentational, symbolABSTRAKBerbagai sudut pandang dapat digunakan untuk mengkritisi suatu objek seni ke dalam satu fokus bahasan. Ketika pembauran objek seni digunakan dalam format iklan, maka terjadi dualisme nilai dan dua paradigma, ketika visualisasi iklan menunjukkan keotentikan bentuk dan pengaruhnya terhadap pesan iklan. Iklan sebagai media komunikasi yang sudah dikenal masyarakat, dapat dibahas melalui sudut pandang yang berbeda. Bidang komersial atau layanan masyarakat serta manajemen periklanan dapat mempermudah masyarakat dalam menerima pesan iklan menjadi bahasan khusus tentang iklan. Pada penelitian ini, iklan “Indonesia Milik Siapa?” menegaskan penggunaan simbol diskursif dan presentasional. Dengan tidak mengesampingkan pengaruh iklan dalam pesan serta visualisasinya, terdapat perbedaan antara simbol diskursif dan presentasional, sebagai kajian untuk memperkaya khasanah komunikasi seni yang terjalin dalam format iklan ini. Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif, serta analisis pesan iklannya, dapat dijelaskan bahwa iklan yang dirancang oleh tim desain Dompet Dhuafa ini menggunakan simbol presentasional sebagai objek seni dengan visual khususnya dan pesan yang komunikatif.Kata kunci: desain, diskursif, iklan, presentasional, simbol
Meretas Spiritualitas Desain Angklung Hendy Yuliansyah
PANGGUNG Vol 31 No 2 (2021): Estetika Dalam Keberagaman Fungsi, Makna, dan Nilai Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v31i2.1586

Abstract

Angklung salah satu alat musik kebanggan Indonesia yang mempunyai nada, irama dan cara memainkan yang khas. Angklung, refleksi budaya dan jiwa yang memiliki makna yang dalam. Keunikan angklung pada karakter desain, cara memainkan dan fleksibelitas dengan karakter budaya dan musik modern, sebagai bukti kekuatan nilai tradisi yang kuat yang terwujud dengan komitmen yang kuat. Nilai kebendaan angklung melahirkan nilai non kebendaan, dan itu adalah spiritualitas. Dengan menggunakan menggunakan metode penelitian deskriptif analisis, dengan pendekatan antropologi, nilai spiritualitas itu ditemukan melalui kolaborasi antar pemain yang menggunakan hati dan jiwa mereka agar dapat bekerja sama secara optimal. maka spiritualitas dalam angklung tercipta melalui konsep berpikir keingintahuan dan rasional.Kata kunci: Angklung, Desain, Irama, Nada, Spiritualitas
Revealing the Visual Structure of the 1981 and 2019 Versions of Ratu Ilmu Hitam Film Posters yuliansyah, hendy
PANTUN: Jurnal Ilmiah Seni Budaya Vol. 9 No. 1 (2024): Interdisciplinary Explorations in Cultural Expression: From Traditional Arts to
Publisher : Postgraduate Program of Institut Seni Budaya Indonesia Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/pantun.v9i1.3316

Abstract

The horror film Queen of Black Magic, which is a remake of the film with the same title, was released in 1981 and 2019. This film was released with the same title, but with different characters. The 1981 version features Suzzanna as the horror queen as the main character, while the 2019 version does not feature Suzzanna and the main character is not famous. This film with the title black magic has become an iconic film, because it emphasizes the word science for horror stories. The word black, which is synonymous with magic, is juxtaposed with the word science, thus forming a paradoxical word relationship. The queen is a figure and incarnation of a ghost, which directly places the ghost in a noble and respected position. The posters for the two films have different designs because of the strength of the ideas, social and cultural atmosphere that exist in the two posters with the large distance between the years of release. This research aims to determine the differences in design concepts between two film poster designs. This analysis is based on Levi Strauss’s version of structuralism theory which reveals that the 1981 version of the Queen of Black Magic poster emphasizes the importance of Suzzanna as a figure or queen of horror who attracts public attention, while the 2019 version of the Queen of Black Magic poster emphasizes the exploration of the formation of visual elements that lead to the meaning of black magic.
MEMVISUALISASIKAN YANG SAKRAL: SIMBOLISME KEAGAMAAN DALAM REPRESENTASI HANTU DALAM FILM HOROR INDONESIA Yuliansyah, Hendy; Saidi, Acep Iwan; Mutiaz, Intan Rizky; Sulistyaningtyas, Tri
Offscreen Vol 4, No 1 (2025): Offscreen: Journal Of Film and Television (January-June 2025)
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/os.v4i1.5858

Abstract

Artikel ini mengkaji simbolisme keagamaan yang tertanam dalam representasi visual dan naratif hantu dalam film horor Indonesia. Dengan menggunakan kerangka studi semiotik dan budaya, penelitian ini mengeksplorasi bagaimana penggambaran sinematik tentang hal-hal gaib terkait erat dengan kepercayaan Islam, animisme, dan sinkretik yang membentuk lanskap spiritual Indonesia. Melalui pembacaan cermat terhadap film-film terpilih—termasuk Pengabdi Setan (2017) dan Lisa(1971)—analisis ini mengungkap bagaimana sosok hantu tidak hanya menjadi wahana ketakutan, tetapi juga agen simbolis yang melaluinya pesan-pesan moral, keadilan ilahi, dan kecemasan spiritual dinegosiasikan. Elemen estetika kostum, pencahayaan, desain suara, dan komposisi spasial berkontribusi untuk membangun rezim visual sakral di mana hantu menjadi mediator antara manusia dan yang transenden. Artikel ini berpendapat bahwa hantu-hantu sinematik ini beroperasi sebagai penanda budaya pengabdian, pelanggaran, dan penebusan agama, yang mencerminkan ketegangan yang lebih dalam dalam modernitas agama Indonesia. Dengan menyoroti bagaimana citra keagamaan digunakan kembali dalam sinema horor, penelitian ini menunjukkan bahwa representasi hantu menawarkan wadah yang kaya untuk memahami interaksi antara spiritualitas, identitas nasional, dan media populer dalam budaya Indonesia kontemporer
STASIUN CIPEUNDEUY KABUPATEN GARUT DALAM PERSPEKTIF VIDEO AERIAL Perdana, Bayu Bambang; Yuliansyah, Hendy; Adityawan, Oki; Valentino, Dion Eko
Wacadesain Vol. 5 No. 1 (2024): Jurnal Wacadesain
Publisher : LPPM Universitas Adhirajasa Sanjaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51977/wacadesain.v5i1.1649

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis Stasiun Cipeundeuy dari perspektif video udara atau aerial video dengan menggunakan drone sebagai media penangkap video yang dikaitkan dalam konteks geografi, arsitektur dan interaksi sosial. Metode penelitian yang digunakan adalah metodologi penelitian kualitatif deskriptif, dengan fokus pada pengamatan langsung dan wawancara dengan pihak terkait, serta analisis konten visual dari rekaman video udara. Data-data yang terkumpul akan dianalisis menggunakan pendekatan deskriptif dan interpretatif untuk memahami karakteristik fisik stasiun, pola pergerakan, serta dinamika interaksi sosial yang terjadi di sekitar stasiun Cipeundeuy dengan output akhir adalah penayangan pada media streaming Youtube. Temuan pada penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang peran penting Stasiun Cipeundeuy dalam aspek keselamatan perjalanan kereta api dan aktifitas sosial dalam konteks lokalnya, serta potensi pemanfaatan teknologi video udara dengan menggunakan drone aerial.